#Bagian6, Jumi Sho
#Fiksi
Sekembalinya ke dalam kamar, aku langsung masuk ke kamar mandi. Menyalakan shower dan menangis di bawah kucuran air.
Menangis memang tidak akan mengubah apapun, tapi setidaknya ini bisa sedikit melegakan perasaanku.
Mulai sekarang aku harus menerima, bahwa semuanya sudah berbeda. Hubunganku dengannya kini tak lebih dari sekedar cerita lama, yang tidak bermakna.
Tok. Tok. Tok.
"Nur kamu di dalam? Kamu baik-baik saja kan?" terdengar suara khawatir Om Hadi, dari luar pintu kamar mandi.
Aku hanya diam meringkuk dan membenamkan wajahku ke lutut.
Tak lama kemudian, ku dengar pintu kamar mandi terbuka dan disusul suara langkah kaki yang mendekat.
Aku mendongakkan kepalaku saat ku rasa air tak lagi menghujaniku. Mataku bertatapan dengan Om Hadi yang ternyata tengah bersandar di dinding menutupi tubuhku.
"Jika ini begitu menyakitkan untukmu, kamu bisa membaginya dengan Om," ucapnya yang membuatku terpaku.
Setelah sekian menit terdiam dalam posisi itu. Terbersit sebuah tanya di benakku. "Kenapa Om begitu baik pada Nuri? Om bisa saja membiarkan Nuri hari itu, tapi kenapa Om memilih untuk menikahi Nuri?" tanyaku.
"Karena Om tidak bisa melihat hidup seorang gadis hancur karena ulah anak Om. Terlebih gadis itu sudah Om anggap seperti anak sendiri. Setidaknya begitu sebelum akhirnya kita menikah dan --"
"Dan?" Aku menuntut Om Hadi melanjutkan ucapannya, tapi yang ditanya hanya tersenyum tipis.
"Sudah, sekarang berhenti main hujan-hujanannya," ucapnya seraya mematikan shower, lalu mengambil sebuah handuk dan membalutkannya ke tubuhku.
"Keringkan dirimu, setelah itu cepat ganti baju. Om tunggu di luar." Setelah mengatakan itu Om Hadi keluar dan menghilang dibalik pintu.
***
Setelah aku selesai berganti baju, Om Hadi mengajakku turun. Awalnya aku menolak karena mengira Romi masih ada di bawah. Namun ternyata, kata Om Hadi Romi sudah pergi sejak tadi.
"Kita mau ngapain Om ke halaman belakang?" tanyaku heran.
"Nanti juga kamu tahu," jawabnya misterius.
Aku hanya memanyunkan bibirku mendengar jawabannya.
Sesampainya di sana, aku terkejut karena halaman belakang sudah disulap sedemikian rupa. Pot bunga yang ada di halaman depan sudah berpindah dan tersusun rapi di sini. Di tengahnya ada sebuah meja dan dua buah kursi yang sepertinya untuk kami.
"Ini --"
"Iya, Om menyiapkannya untukmu. Dibantu Supir, Satpam, dan Tukang kebun. Dari pulang kuliah tadi kamu belum makan kan?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk. Tak menyangka Om Hadi melakukan ini untukku.
Setelah mempersilahkan aku duduk. Om Hadi menepuk tangannya dan tak lama kemudian Bik Sum dan Lala datang menyajikan makanan.
Asap masih mengepul di atas piring. Tanda makanan itu baru saja selesai dimasak.
"Silahkan menikmati Tuan, Nyonya," ucapnya.
"Iya makasih ya Bik, La," sahutku.
"Sama-sama. Kalau begitu kami permisi."
"Iya, silahkan."
Aku mengernyit sembari memperhatikan semua makanan yang terhidang di meja. "Kok Om bisa tahu semua makanan favorit Nuri?" tanyaku heran.
"Dari orang tuamu. Kemarin Om menelpon mereka dan menanyakan beberapa hal tentangmu."
"Untuk apa?" tanyaku lagi.
"Tentu saja agar lebih mengenalmu. Bukankah Om sudah bilang cinta itu bisa diusahakan?"
"Ah, i-iya." Aku tergagap. Apa itu artinya Om Hadi sedang berusaha mencintaiku atau --
"Oke, sudah ngobrolnya. Mari kita makan," ajaknya.
"Iya, Om."
***
Tak cukup dengan perlakuan manisnya tadi sore. Malam ini Om Hadi kembali membuatku heran. Saat tiba-tiba saja dia datang, membawakan segelas coklat hangat untukku yang sedang membaca buku pelajaran.
"Silahkan diminum Tuan putri," ucapnya manis.
"Eh, makasih Om. Kok repot-repot sih, kan ada Lala?" tanyaku.
"Gak repot kok, cuma coklat hangat. Oh iya tadi siang Om belum sempat tanya, kenapa kamu menangis sepulang kuliah?"
"Itu ... Beberapa orang mengatakan hal buruk tentang Nuri. Mereka menuduh kalau dari awal Nuri memang ingin menjadi istri Om dan hanya menjadikan Romi sebagai batu lompatan saja. Seolah-olah Nuri ini gila harta," ungkapku sedih.
"Hmm begitu, sudah jangan sedih dan tidak usah difikirkan. Toh, kenyataannya tidak seperti itu. Ini semua kan karena ulah Romi. Om juga sudah menghukumnya tadi. Mulai sekarang dia akan berusaha sendiri untuk hidupnya. Om sudah menarik semua fasilitas yang selama ini Om berikan padanya."
"Iya," sahutku lemah.
"Apa gak sebaiknya kamu mengikuti saran Om saja, untuk pindah kuliah?" tanyanya lagi.
"Untuk saat ini Nuri masih ingin kuliah di situ Om, tapi kalau keadaan tidak berubah. Ya, tidak ada pilihan lain, selain pindah."
"Ya sudah, kalau itu mau mu, tapi pulang-pulang jangan nangis lagi nanti," ucapnya meledekku.
"E-enggak kok," sahutku cemberut.
Om Hadi terkekeh melihat ekspresi sebalku.
"Ya sudah, cepat habiskan coklat hangatmu. Setelah itu tidur. Hari ini kamu sudah melewati banyak hal yang melelahkan."
"Iya, Om."
***
Paginya saat aku terbangun, Om Hadi sudah tidak ada di sampingku. Selama ini, dia memang selalu lebih dulu bangun daripada aku.
Setelah merapikan tempat tidur, mencuci muka dan menggosok gigi. Aku pergi ke balkon berniat menghirup udara segar dan melakukan peregangan. Namun sesampainya di sana, aku malah melihat Om Hadi yang tengah berenang sambil bertelanjang dada.
Aku mengerjabkan mataku beberapa kali. Selama menikah Om Hadi belum pernah, tidak memakai baju di depanku. Bahkan saat tidur dia masih memakai baju kaus.
Sialnya, saat hendak berbalik Om Hadi lebih dulu melihatku dan memberi kode untuk turun ke bawah. Terpaksa aku menurutinya.
Sesampainya di bawah, ku lihat Om Hadi tengah duduk menungguku di pinggiran kolam.
"Om gak dingin apa berenang pagi-pagi?" tanyaku heran.
"Tidak kok. Coba saja," ajaknya.
"Enggak ah. Nuri gak kuat dingin. Ini kan masih jam setengah tujuh pagi," tolakku.
"Ayolah! Coba saja dulu. Nanti kalau sudah masuk air tidak dingin lagi kok," bujuknya.
Aku menggeleng. "Nggak mau, Om saja yang berenang. Nuri temenin di sini aja," kekeuhku.
Namun baru saja berkata begitu, tanpa aba-aba Om Hadi langsung menariku ke dalam kolam.
"Om... Nuri gak bisa berenang!" pekikku histeris seraya memeluk tubuhnya erat. Takut tenggelam.
Brrr. Brrr.
Tubuhku menggetar dan gigiku bergemelatuk karena kedinginan. Sementara Om Hadi masih memandangiku dengan wajah cengo.
"Kamu serius tidak bisa berenang?" tanyanya kemudian.
Aku menundukkan wajahku malu. "Iya," jawabku pelan.
"Hahahaha. Terus kamu liburan ke pantai ngapain aja dong?" ledeknya.
Aku mencubit pinggangnya kuat hingga dia mengaduh.
"Auch! Iya maaf, tapi kolam ini tidak dalam kok. Cuma seleher orang dewasa. Coba kamu berdiri tegak," pintanya.
Aku menurut dan melepaskan peganganku lalu berdiri tegak. Ternyata benar hanya sampai leherku saja.
"Benar kan?"
"Iya, tapi Nuri mau naik aja. Gak tahan, dingin banget Om," rengekku.
"Om punya cara supaya kamu gak kedinginan lagi," ucapnya tiba-tiba.
"Gimana?" tanyaku penasaran.
"Sini," pintanya sembari menarik pinggangku mendekat.
Jantungku tiba-tiba berdebar kencang, merasakan tubuh kami yang saling bersentuhan di dalam air.
Sebelah tangannya lagi meraih tengkukku dan tak lama kemudian ku rasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirku. Namun itu tak lama, karena aku kembali mendorong Om Hadi, setelah mendengar suara teriakan.
"Papa!" Suara itu begitu nyaring dan melengking. Aku sontak menengok dan melihat Romi yang berjalan cepat ke arah kami. Wajahnya merah padam seolah tengah memergoki perselingkuhan istrinya sendiri.
Aku dan Om Hadi segera keluar dari kolam dan sekarang berdiri berhadapan dengan Romi.
"Apa yang kalian lakukan barusan?" tanyanya marah.
"Kenapa? Ada masalah?" sahut Om Hadi.
"Tentu saja Pa. Nuri itu pacar Romi," sentaknya cepat seraya menarikku ke sisinya.
"Mantan pacar lebih tepatnya. Karena kamu sudah meninggalkannya," balas Om Hadi yang kembali menarikku ke sampingnya.
Aku layaknya mainan yang diperebutkan oleh Bapak dan anak ini.
"Tapi itu bukan berarti Papa bisa menciumnya seenaknya dan kamu juga Nur!" tunjuknya padaku. "Aku gak nyangka kamu semurahan ini!"
Plak!
Bukan aku yang menamparnya tapi Om Hadi.
"Harusnya dari kemarin Papa melakukan ini. Anak tidak tahu diri. Sudah bikin malu orang tua, sekarang mencaci orang seenaknya."
Aku sendiri sebenarnya juga kesal dengan kata-katanya, tapi baru saja hendak mengangkat tanganku, Om Hadi sudah lebih dulu menamparnya.
"Dengarkan ini baik-baik. Papa dan Nuri adalah suami istri. Kami menikah tepat di hari kamu meninggalkannya," ucap Om Hadi tegas.
Sementara Romi melongo dengan tampang syok yang begitu kentara.
Tak lama kemudian dia tertawa sumbang. "Hahaha. Ini gak lucu! Papa bercanda kan?" tanyanya tak percaya.
"Nur, katakan sesuatu, ini lelucon kan?"
Aku menggeleng dan menunjukkan jariku manisku yang kini dilingkari cincin pernikahan.
"I-itu cincin yang kita beli untuk pernikahan kita," tunjuknya.
"Iya, tapi sayangnya bukan kamu yang memasangkannya, melainkan papamu," ucapku.
"Gak, aku gak percaya! Ini pasti bohong! Kalian hanya ingin membalasku kan?!"
"Terserah kamu ingin percaya atau tidak, tapi yang jelas Nuri adalah istri Papa. Jadi mulai sekarang sebaiknya jauhi dia," ucap Om Hadi seraya menggandengku masuk ke dalam. Meninggalkan Romi yang masih termangu tak percaya.
Bersambung.....
#Suami_Dadakan
#Bagian7
#Fiksi
"Sepertinya kita perlu liburan," ucap Om Hadi tiba-tiba. Kami baru saja selesai sarapan dan sekarang tengah bersantai di ruang tamu. Sedangkan Romi entah kemana perginya, saat kami turun dia sudah tidak ada.
"Untuk apa Om?" tanyaku bingung.
"Tentu saja agar tidak ada yang mengganggu kita lagi. Kemarin Bibik hari ini Romi, besok entah siapa lagi. Kalau begini terus, bagaimana kita bisa belajar untuk saling mencintai. Ciuman saja gagal terus," keluhnya.
Aku memalingkan wajahku yang memanas, mendengar ucapannya yang begitu frontal. Aku sempat berfikir bahwa kejadian saat di kamar, hanya karena terbawa suasana. Tetapi saat di kolam tadi berbeda, aku tahu Om Hadi memang menginginkannya .
"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanyanya lagi.
"Eh, kalau sekarang gak bisa Om. Nuri kan baru aja ngambil cuti nikah seminggu," sahutku.
"Hmm begitu ya. Ya sudah, nanti saja," ucapnya lemah.
"Om, gak marah kan?"
"Tidak, Om mengerti kok. Saat ini yang paling penting bagimu pasti adalah kuliah."
Aku memandangnya tak enak, tapi mau bagaimana lagi. Aku saja masih harus mengejar ketertinggalank u selama cuti. Tidak mungkin jika harus libur lagi.
***
Siangnya, begitu sampai di kampus. Aku langsung menceritakan kejadian tadi pagi pada Ria dan Aya tentunya tidak semuanya, hanya bagian pentingnya saja.
"Jadi Romi udah balik?" tanya mereka bersamaan.
"Iya," sahutku.
"Terus dia menghamili Sindy?"
"Sindy yang pernah liburan bareng kita itu?" tanya mereka lagi.
"Astaga. Iya!" jawabku kesal.
"Aku gak nyangka," ucap Ria.
"Aku lebih gak nyangka," timpal Aya.
"Tapi begitulah kenyataannya. Terus sekarang Romi gak terima aku nikah sama Papanya."
"Entah kenapa aku senang Nur, kamu nikah sama Om Hadi. Biar tahu rasa tuh Romi! Memangnya enak calon istri dinikahin Papa sendiri," ucap Ria berapi-api.
"Apaan sih Ri, yang ada hidupku jadi gak tenang tahu!" sungutku.
"Kok bisa gitu, emangnya kenapa?" tanya Aya.
"Dari tadi tuh Romi menghubungi aku terus. Sudah aku blokir, dia malah ganti pakai nomer baru," ungkapku.
"Serius? Ya udah mana sini, biar aku yang ngomong sama dia!" tanya Ria.
"Gak usahlah abaikan saja! Nanti dia malah besar kepala kalau diladeni," tolakku.
"Aku setuju, orang kayak Romi tuh emang bagusnya dicuekin aja," sahut Aya.
"Ya udah masuk kelas yuk, bentar lagi kuliah mulai nih," ajakku pada mereka.
"Yuk!"
***
Sore harinya, setelah selesai kuliah aku tak langsung pulang ke rumah, melainkan mampir ke rumah sepupuku, Mba Lani. Ada hal yang ingin aku ceritakan padanya. Tentunya yang tidak bisa aku ceritakan pada Ria dan Aya tadi.
"Assalamualaiku m, Mba," panggilku dari luar pintu rumahnya yang terbuka.
"Waalaikumsalam . Eh kamu Nur, mari masuk," ajaknya.
"Iya, Mba."
"Tunggu sebentar ya, Mba ambilin minum dulu."
"Oke, Mbak," jawabku seraya mengacungkan jempol ke arahnya.
Tak lama kemudian Mba Lani kembali dengan setoples cookies dan dua gelas es milo kesukaanku.
"Silahkan diminum Nur," ucapnya.
"Iya Mba makasih," jawabku sembari menyeruput es milo buatannya.
"Jadi, ada apa nih pengantin baru? Tumben ke sini?" tanyanya.
"Nuri mau cerita Mba."
"Cerita apa?"
"Tentang Romi. Dia sudah kembali Mba," ucapku lesu.
"Hah, serius Nur?" Mba Lani tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Terus gimana, apa alasan dia ninggalin kamu?" tanyanya penasaran.
"Dia menghamili gadis lain," jawabku datar.
"Astaghfirullah , yang benar? Untung saja kamu gak jadi nikah sama dia Nur." Mba Lani nampak mengelus-elus dadanya.
"Iya, tapi masalahnya dia itu kayak gak bisa nerima kenyataan Mba. Kalau aku sudah nikah sama papanya. Terus ini ...," Aku menyodorkan handphoneku pada Mba Lani dan meminta dia melihat sendiri isi pesannya Romi.
"Masyaallah. Ini orang tidak tahu malu ya. Sudah dia yang ninggalin kenapa dia yang marah-marah."
"Itulah Mba, makanya Nuri jadi kesal. Nuri juga gak enak mau kasih tahu Om Hadi. Takut dibilang mengadu domba mereka nanti."
"Iya Mba ngerti, yang kamu lakukan ini sudah benar kok. Kalau menurut Mba dia cuma kaget, nanti juga lama-lama dia pasti bisa menerima hubunganmu dengan Papanya."
"Ya, tapi sampai kapan coba Mba. Nuri udah gerah dibuatnya," ucapku sembari mencomot cookies di toples lalu mengunyahnya.
"Kenapa kamu gak kasih dia adik saja? Mba yakin seratus persen setelah itu dia pasti gak akan gangguin kamu lagi."
"Uhuk!" Aku tiba-tiba tersedak, mendengar saran dari Mba Lani.
"Aduh! Pelan-pelan dong Nur makannya, jadi tersedak gitu kan. Nih, minum dulu," ucapnya seraya menyodorkan segelas es padaku.
"Uhuk! Minta air putih dong Mba," rengekku.
"Iya, tunggu sebentar."
Tak lama kemudian dia kembali dan memberikan segelas air putih padaku.
Setelah menandaskan separuh dari isinya, akhirnya tenggorokanku lega juga. Walau masih terasa sakit sih.
"Mba nih kelewatan! Nuri lagi makan kok bahasnya gituan," dumelku padanya.
"Hehehe. Maaf Nur, lagian kamu juga lagaknya kaya anak perawan aja," tukasnya.
"Memang kok," sahutku cepat.
"Hah! Kamu belum malam pertama-an sama suami?" tanyanya terbelalak.
Aku menunduk malu. "Belum," jawabku pelan.
"Ya ampun. Kamu gak tahu apa nolak suami itu dosa tahu."
"Nuri gak pernah nolak kok. Memang Om Hadinya gak pernah minta."
"Serius? Mba rasanya gak percaya. Aneh aja gitu. Sudah hampir dua minggu kalian nikah, masa dia belum juga nyentuh kamu juga. Jangan-jangan ...," Wajah Mba Lani nampak menduga-duga.
"Ish, Om Hadi masih normal kok Mbak," sungutku.
"Tahu dari mana?"
"Ya tahulah. Kalau gak normal gak mungkin dia cium Nuri, apalagi sampai ngajak liburan berdua," ucapku keceplosan.
"Cie, cie, udah ciuman nih ye," ledeknya.
"Mba ih, Nuri itu ke sini mau minta saran bukannya diledekin."
"Iya, iya maaf. Terus apa masalahnya, pergi aja liburan terus bikinin adik untuk Romi. Beres deh masalah kamu," sahutnya.
"Haduh, Mba ini gak ada saran lain apa. Nuri itu belum mau punya anak Mba. Dari awal nikah sama Romi juga kan kesepakatannya begitu. Kami akad dulu, terus kalau sudah wisuda, baru resepsi. Setelah itu baru deh mikirin mau punya anak."
"Hmm, jadi liburan itu kamu tolak?"
"Iya, kenapa?"
"Memangnya kamu gak khawatir apa? Gimana kalau suami kamu kecewa, terus berpaling ke lain hati nantinya."
"Ya enggaklah Mba, Om Hadi gak gitu kok orangnya," sanggahku.
"Jangan terlalu yakin. Dulu juga kamu berfikir begitu kan tentang Romi. Terus hasilnya apa? Realistis aja. Dia itu sudah lama menduda. Kalau kamu tolak, dia bisa saja cari yang lain kan?"
Aku terdiam, mulai ragu dengan keyakinanku.
"Nur, kalau kamu belum siap untuk punya anak gak apa-apa, tapi menjalankan kewajiban sebagai istri itu wajib hukumnya. Kan gak mesti liburan, kalian bisa ke hotel atau penginapan pas weekend."
"Gitu ya Mba?"
"Iya, gitu."
"Ya udah deh Mba, nanti Nuri fikirin lagi. Sekarang Nuri pamit yah, udah sore nih."
"Iya, hati-hati di jalan."
***
Malamnya aku berniat membicarakan ide Mba Lani pada Om Hadi, namun sampai jam delapan malam Om Hadi belum juga pulang.
Akhirnya ku putuskan untuk menelponenya. "Halo, Om," sapaku ketika panggilan tersambung.
"Iya, ada apa Nur?"
"Om kok belum pulang?" tanyaku.
"Ah, iya maaf Om lupa ngabarin. Malam ini Om lembur, kamu tidur duluan saja tidak usah menunggu Om, oke?"
"Oh gitu. Ya udah deh Om."
Panggilan terputus. Entah mengapa rasanya ada yang berbeda malam ini. Aku sudah terbiasa melihat Om Hadi yang tertidur di sampingku.
***
Entah jam berapa Om Hadi pulang semalam, tapi yang jelas ketika membuka mataku pagi ini. Dia sudah berada di sampingku. Tertidur dengan sangat lelap.
Jujur, baru kali ini aku memperhatikan wajahnya saat dia sedang tertidur. Dia terlihat tampan. Hidungnya mancung, alisnya tebal dan bulu tipis di bawah dagunya menambah kesan macho dalam dirinya. Bahkan tanpa sadar tanganku sudah bergerak memegang pipinya.
"Engh. Sudah bangun Nur?" tanyanya tiba-tiba membuka mata. Aku yang kaget dengan cepat menarik tanganku dan tersenyum malu.
"Eh, iya Om."
"Jam berapa ini?" tanyanya.
Aku melirik jam di dinding. "Jam tujuh lewat Om."
"Apa? Astaga Om kesiangan. Kok gak bangunin dari tadi? Om ada rapat hari ini," ucapnya seraya bergegas bangun.
"Maaf Om. Nuri gak tahu," sesalku.
"Iya tidak apa-apa. Tolong siapkan pakaian Om yah. Om mau mandi dulu."
"Iya."
Setelah Om Hadi masuk ke kamar mandi, aku bergegas membuka lemari. Mengambil celana panjang berwarna hitam, kemeja biru navy, dan sebuah dasi tanpa motif, lalu ku letakkan di atas kasur.
Kalau dipikir-pikir selama menikah baru hari ini aku melayani Om Hadi. Ah, sepertinya mulai besok aku harus belajar bangun pagi dan menyiapkan semua keperluan Om Hadi.
Sepuluh menit kemudian Om Hadi keluar dari kamar mandi dan bergegas memakai pakaiannya.
"Nur kamu bisa pasangkan dasi tidak?" tanyanya sembari menyisir rambut di depan cermin.
"Eh, Nuri lupa Om caranya. Terakhir pakai dasi kan pas SMA," jawabku tak enak.
"Oh, ya sudah. Om pakai sendiri saja."
Aduh! Kok rasanya aku jadi istri yang gak berguna ya.
"Maaf ya Om. Nanti Nuri belajar lagi cara masang dasi."
"Hmm, tidak apa-apa. Ya sudah, mari kita turun sarapan," ajaknya.
Aku mengangguk dan mengikutinya turun ke bawah.
Di tengah-tengah sarapan tiba-tiba Bik Sum datang.
"Maaf Tuan saya ganggu, di luar ada sekretaris Tuan. Katanya mau mengembalikan jas."
"Oh, iya suruh ke sini aja Bik. Ajak sarapan sekalian," sahut Om Hadi.
"Kok jas Om bisa ada sama dia?" tanyaku tak bisa menahan rasa penasaran.
"Oh itu kemarin bajunya ketumpahan kopi, jadi Om pinjamin jas untuk nutupin nodanya."
Jujur aku kurang suka mendengarnya.
Tak lama kemudian datang seorang wanita cantik. Dari wajahnya, ku perkirakan usianya dua puluh delapan tahun. Memakai rok hitam di atas lutut dan blazer ketat berwarna senada.
"Maaf ya Pak, saya ganggu," ucapnya tak enak.
"Iya gak apa-apa Nin. Mari silahkan duduk, kita sarapan," ajak Om Hadi.
"Oh iya, terimakasih Pak," jawabnya dengan senyum manis.
Duh, kenapa rasanya aku kesal ya. Selera makanku pun langsung hilang seketika, melihat interaksi mereka.
Wanita itu melempar senyum manis ke arahku dan hanya ku balas dengan senyuman tipis.
Ganggu orang sarapan aja! Gerutuku dalam hati.
Seolah tak cukup kekesalanku tadi pagi. Tak lama setelah Om Hadi dan sekretarisnya pergi ke kantor. Romi datang dengan sebuah koper di tangannya.
"Selamat pagi," ucapnya sok manis.
"Mau apa kamu ke sini?" tanyaku sinis.
"Ow, santai Nur. Kamu lupa ya, ini kan rumah aku juga. Mulai sekarang aku akan kembali tinggal di sini," ucapnya santai.
Aku melotot mendengar ucapannya. Serumah dengan Romi? Oh No! Ini namanya musibah.
Bersambung....
Ditunggu ya kritik dan sarannya, agar tulisan saya lebih bagus lagi 🙏
Note : Umur Om Hadi 40 tahun
Romi : 20 tahun
Nuri : 19 tahun
#Suami_Dadakan
#Bagian8
"Sebenarnya apa sih mau kamu Rom?!" bentakku marah.
"Kamu mau tahu?" Romi bergerak mendekatiku. "Aku menginginkanmu, " bisiknya.
Aku memundurkan tubuhku, tak nyaman dengan posisi kami. "Jangan gila kamu! Apa kamu lupa, aku ini sudah jadi istri papamu dan kamu sendiri juga kan sudah punya istri!" sentakku.
"Aku dan Sindy hanya menikah siri. Dari awal dia juga sudah tahu kalau aku tidak pernah mencintainya, jadi tidak akan ada masalah. Aku hanya perlu merebutmu kembali dari papa," sahutnya.
"Aku tidak menyangka ternyata pikiran kamu sepicik ini. Kamu pikir pernikahan itu sebuah permainan? Yang bisa kamu tinggalkan dan kamu mainkan seenaknya. Enggak Rom, pernikahan itu sesuatu yang serius!" tegasku.
"Aku tahu. Aku tahu itu! tapi pernikahan juga harus berlandaskan cinta kan? Aku gak mencintai Sindy dan aku juga yakin kamu tidak mencintai papaku. Oleh karena itu aku memintamu untuk kembali padaku. Aku berjanji akan membahagiakan kamu dan menebus semua kesalahanku."
"Aku tidak mau! Memang benar aku belum mencintaimu papamu, tapi ada seseorang yang berkata padaku, bahwa cinta itu bisa diusahakan bersama, dan aku mau berusaha untuk mencintai papamu. Jadi kuharap kamu juga begitu. Kamu sudah memilih meninggalkanku waktu itu, maka jangan lagi mengingatku. Jalani pilihanmu dan aku juga akan berjalan di pilihanku."
Setelah mengatakan itu, aku masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Romi yang masih berdiri mematung.
***
"Haaah!" Sebulir tetes bening jatuh dari pelupuk mataku. Kenapa? Kenapa setelah apa yang dia lakukan padaku, dia masih saja menggangguku! Apa belum cukup dia menyakitiku.
Tok. Tok. Tok.
"Nur, buka pintunya! Aku mau bicara." Romi tiba-tiba mengetuk pintu kamarku.
"Pergilah Rom! Aku gak mau bicara sama kamu," jawabku dari balik pintu. Untung saja tadi aku kepikiran untuk menguncinya. Jika tidak, mungkin Romi sudah nekat untuk masuk ke dalam.
"Please Nur, sebentar saja," mohonnya.
"Aku nggak mau! Tolong Rom jangan ganggu aku lagi. Apa kamu masih belum puas menyakiti aku?" tanyaku parau.
"Aku minta maaf Nur. Maaf karena sudah meninggalkanmu, tapi kuharap kamu mau mengerti. Saat itu aku benar-benar tidak punya pilihan lain."
"Aku tidak bisa memaafkanmu. Tidak, setelah apa yang kamu lakukan padaku dan juga orang tuaku. Kamu tidak tahu kan, betapa malunya kami. Saat pernikahan harus tertunda karena mempelai prianya tidak ada. Kamu juga tidak tahu kan, betapa panik dan sedihnya aku memikirkan keberadaanmu. Aku bahkan hampir bunuh diri, kalau tidak dicegah oleh papamu."
Suasana mendadak hening. Romi tiba-tiba terdiam.
"Jika kamu memang benar mencintaiku, tolong biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang Rom. Kita lanjutkan hidup kita masing-masing," ujarku lagi.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf Nur. Aku memang egois, aku jahat, tapi sungguh aku benar-benar mencintaimu. Aku akui yang terjadi memang karena kesalahanku. Aku pun sangat menyesali kejadian malam itu. Harusnya saat itu aku pergi menyusulmu dan meminta maaf. Bukannya malah minum-minum. Sekali lagi aku minta maaf untuk rasa sakit dan rasa malu yang aku torehkan. Besok aku akan datang ke rumah orang tuamu dan meminta maaf pada mereka." Ucapan Romi terdengar tulus.
Aku hanya terdiam dan menyenderkan tubuhku di belakang pintu.
"Maukah kamu memberikan satu kesempatan lagi untukku?" tanyanya lirih.
Aku tersentak dan mencoba menenangkan debaran jantungku yang bertalu. Hatiku tidak bisa berbohong, cinta itu memang masih ada walau sedikit.
"Tolong jawab aku Nur," pintanya lagi.
"A-aku tidak bisa," jawabku seraya menghapus air mata yang jatuh dengan sendirinya.
Setelah itu sepi, tidak ada yang berbicara lagi diantara kami.
***
Setelah memikirkannya matang-matang. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku. Karena sangat tidak nyaman rasanya serumah dengan Romi, saat Om Hadi tidak ada. Apalagi hari ini hari sabtu. Aku libur kuliah.
Aku mengemas beberapa keperluanku dan menaruhnya ke dalam tas kecil. Setelah semuanya siap, aku mengambil handphone dan berniat mengabari Om Hadi. Namun walau sudah beberapa kali mencoba, panggilanku tidak diangkat juga. Akhirnya ku putuskan untuk mengiriminya pesan saja.
[Om, Nuri pulang ke rumah bapak dan ibu ya.]
Setelah memastikan pesanku terkirim. Aku keluar dengan mengendap-endap , agar tak berapapasan dengan Romi. Syukurlah akhirnya aku sampai juga ke gerbang depan.
"Nyonya mau kemana?" tanya Pak Dana. Satpam rumah kami yang sedang membukakan gerbang untukku.
"Eh, Pak Dana. Saya mau pulang ke rumah orang tua saya Pak. Tolong sampaikan pada Bik Sum juga ya. Tadi saya belum sempat pamitan," jawabku.
"Oh begitu. Baik Nyonya nanti saya sampaikan pada istri saya."
"Kalau begitu saya pergi dulu Pak."
"Iya Nyonya, hati-hati di jalan."
***
Sesampainya di luar, aku segera menyetop sebuah taxi dan meminta diantarkan ke alamat orang tuaku.
Di perjalanan aku kembali mengecek handphoneku. Masih belum ada balasan dari Om Hadi. Mungkin rapatnya belum selesai, fikirku.
Kurang lebih satu jam kemudian, akhirnya aku pun sampai. Setelah membayar ongkos taxi, aku keluar dan berjalan masuk ke teras rumah.
"Assalamualaiku m. Bu, Pak, Nuri pulang!" seruku.
Tak lama kemudian ibu keluar dan membuka pintu. "Waalaikumsalam . Nur, kamu pulang nak?" Ibu menyambutku sumringah.
Aku bergegas mencium punggung tangan ibuku lalu memeluknya erat.
"Iya Bu, bapak mana?" tanyaku.
"Bapakmu lagi ke pabrik. Biasa mengawasi para pekerja."
Bapakku memang punya usaha furniture. Awalnya bapak sendiri yang mengerjakannya bersama dengan dua orang karyawannya. Namun lama-kelamaan usaha beliau semakin berkembang dan sekarang sudah memiliki hampir lima puluh orang karyawan.
"Kamu datang sendirian saja?" tanya Ibu.
"Iya Bu, memangnya mau sama siapa lagi?"
"Ya, Ibu kira sama suami kamu."
"Enggak Bu, Om Hadi lagi sibuk di kantor. Semalam aja nggak tahu pulang lembur jam berapa."
"Oh begitu, tapi kamu sudah izin kan kalau pergi ke sini."
"Iya sudah kok Bu."
"Baguslah, kalau begitu."
***
Jam dua belas siang Bapak pulang dari pabrik dan terkejut melihatku yang tengah bersantai di ruang keluarga, sambil menonton tv.
"Loh Nur, kok gak ngabarin Bapak kalau mau pulang?" tanyanya sembari duduk di sampingku.
"Hehehe. Dadakan Pak, gak direncanain juga," jawabku sembari mencium punggung tangannya.
"Hmm, begitu. Hubunganmu dengan Pak Hadi bagaimana?" Nada suara Bapak terdengar khawatir.
"Baik-baik saja kok Pak," jawabku seraya tersenyum.
"Dia memperlakukanmu dengan baik kan?"
"Iya Bapak tenang saja. Om Hadi baik kok sama Nuri."
"Syukurlah. Bapak sempat takut kalau pernikahan kalian tidak berjalan lancar."
Aku memilih untuk tidak menceritakan perihal Romi dulu pada orang tuaku. Takutnya malah merusak suasana.
Ditengah-tengah obrolan. Ibu tiba-tiba datang dan menghampiri kami.
"Loh Pak sudah pulang toh. Ayo lekas mandi! Setelah itu kita makan siang," titah Ibu.
"Kamu juga Nur, ayo ke dapur! Bantu Ibu menata makanan di meja."
Aku dan Bapak saling berpandangan, lalu serempak memberi hormat pada Ibu. "Siap Bu Komandan!"
Ibu geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah kami.
***
"Wih harum banget sup ayam buatan Ibu. Apa sih bumbu rahasianya?" tanyaku seraya menghirup aroma di atas mangkuk.
"Gak ada bumbu rahasia. Cuma bumbu biasa, yang penting takarannya pas dan matangnya juga pas," sahut ibu.
"Oh, gitu ya."
"Kamu sudah pernah masakin apa untuk suamimu?" tanya Ibu tiba-tiba.
"Hah, engh... Nuri belum pernah masakin apa-apa Bu untuk Om Hadi. Di rumahnya kan sudah ada asisten rumah tangga," jawabku takut-takut.
"Astaghfirullah .
Anak ini! Harusnya meskipun ada asisten rumah tangga, kamu kan bisa
sesekali masak untuk Pak Hadi. Jangan semua keperluan suamimu diurus
mereka."
"I-iya Bu."
"Ada apa sih ini ribut-ribut?" tanya Bapak yang baru saja selesai mandi.
"Ini loh anak Bapak. Masa sudah hampir dua minggu nikah, dia belum pernah masak untuk suaminya," adu Ibu.
"Gak apa-apa Bu. Bapak yakin, nanti pelan-pelan Nuri juga akan belajar jadi istri yang baik. Iya kan Nak?"
"Iya Pak." Inilah yang ku suka dari Bapak. Beliau tidak pernah memaksaku untuk berubah, tapi selalu percaya bahwa aku bisa berubah.
"Ya sudah Bu. Ayo kita makan! Sudah lama kita gak makan bertiga seperti ini," ajak Bapak semangat.
"Iya Pak," sahut Ibu.
Setelah membaca doa, kami semua pun mulai makan dengan lahap. Makan dengan keluarga itu memang berbeda. Selalu terasa lebih nikmat.
***
Waktu tak terasa berlalu dan sampai malam pun Om Hadi belum juga membalas pesanku. Entah sesibuk apa dia, aku juga tidak tahu. Aku juga tidak mengabarinya jika akan menginap. Nanti juga dia tahu kalau sudah pulang ke rumah.
Sementara itu, saat ini di kamar aku tengah sibuk melepas fotoku dan Romi, yang masih tertempel di dinding. Foto sejak kami bahkan masih berteman, sampai akhirnya pacaran dan terakhir foto saat dia melamarku. Setiap kali mengingat itu, selalu ada sudut hatiku yang berdenyut nyeri.
"Haaah!" Aku menghela napas panjang. Sebenarnya Romi yang ku kenal dulu, bukanlah pria brengsek yang bisa dengan mudah menodai gadis lain. Namun entah mengapa akhirnya dia jadi begini.
Tanpa sadar, karena kelelahan dan terlalu banyak pikiran aku pun tertidur. Entah berapa lama, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang tengah menyentuh wajahku.
"Engh." Aku mencoba membuka mataku yang masih mengantuk.
Ketika membuka mata, aku terkejut melihat Om Hadi yang tiba-tiba ada di kamarku.
"Om?" tanyaku seraya mengerjab-ngerj abkan mata.
Om Hadi nampak gelagapan dan dengan cepat menjauhkan tangannya dariku.
"Eh maaf ya, Om jadi bangunin kamu," ucapnya tak enak.
"Engh... iya gak apa-apa, tapi kok Om bisa ada di sini?" tanyaku bingung.
"Ya mau bagaimana lagi. Istri Om kabur dari rumah, jadi harus Om susul dong," sahutnya seraya memandangku lucu.
"Ish, Nuri gak kabur kok. Kan Nuri sudah kirim sms. Omnya aja sok sibuk, sampai gak balas pesan Nuri," sindirku.
"Maaf ya, Om memang sibuk banget akhir-akhir ini. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Om harap kamu mau mengerti," ucapnya seraya mengelus kepalaku.
"Iya. Om sudah makan?" tanyaku.
"Sudah kok, tadi sebelum ke sini," jawabnya.
"Oh iya, kamu tumben pakai baju tidur seperti ini," ucap Om Hadi seraya memperhatikan baju yang ku pakai.
Sebuah gaun tidur selutut dengan tali spageti, yang ternyata setelah ku perhatikan, talinya sudah sedikit turun ke bahu. Belum lagi bagian bawahnya yang juga sedikit tersingkap.
Aku yang tersadar, dengan cepat memperbaiki baju yang ku pakai. "Emh piyama Nuri, semuanya ada di rumah Om. Jadi Nuri pakai yang ada di lemari aja," sahutku malu.
"Kamu cantik dengan baju itu," pujinya yang membuatku tersipu.
"M-makasih Om," jawabku salah tingkah.
Om Hadi tiba-tiba mendekat, lalu berbisik pelan di telingaku. "Bolehkah, Om meminta hak Om malam ini?" tanyanya. Membuat tubuhku seketika menegang dan jantungku berdebar kencang. Apa yang harus aku katakan?
Bersambung.....
#Suami_Dadakan
#Bagian9
#Fiksi
"Engh, N-nuri belum siap Om," jawabku tertunduk.
Seketika suasana terasa hening. Om Hadi kembali menjauhkan dirinya dariku.
"Apa ini karena Romi?" tanyanya seraya memandangku lekat.
Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa.
"Tadi Bibik sudah menelpone ke kantor dan mengatakan Romi pulang ke rumah. Apa terjadi sesuatu saat Om tidak ada?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Sepertinya kamu masih mencintainya. Haruskah Om melepaskanmu," lirihnya.
Kali ini jantungku berdebar lebih cepat dibandingkan tadi. Ada rasa sedih yang menyusup mendengar ucapan Om Hadi. Bahkan tanpa ku sadari, air mataku sudah menetes membasahi pipi.
"Maaf, Om tidak bermaksud membuatmu sedih," ucapnya mengusap air mataku.
"Tidak, ini bukan salah Om. Nuri hanya --"
"Sudah, jangan dipikirkan. Lupakan saja, apa yang Om katakan tadi." Om Hadi memotong perkataanku dan membawaku ke pelukannya. Hangat dan nyaman seperti biasa.
"Om marah sama Nuri?" tanyaku hati-hati.
"Tidak, tapi maaf mungkin setelah ini kita harus sedikit menjaga jarak. Om ini pria dewasa, berdekatan denganmu tanpa bisa melakukan apa-apa, tentu cukup menyiksa."
Aku tertegun. Apa yang dikatakannya memang benar.
"Sudah malam, tidurlah." Om Hadi melepaskan pelukannya lalu merebahkanku kembali ke kasur.
"Selamat malam," ucapnya lalu berbaring membelakangiku.
Apa yang sudah ku lakukan? Aku membuatnya kecewa!
***
Kring. Kring. Kring. Alarm di atas nakas berbunyi. Ku lirik sudah jam lima pagi, aku pun bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Di rumahku peraturan tentang shalat cukup ketat. Bahkan setelah shalat jangan mimpi bisa tidur lagi. Ibu akan mengomel tiada henti.
Setelah berwudhu dan memakai mukena. Aku menghampiri Om Hadi dan membangunkannya .
"Om bangun! Sudah subuh," ucapku seraya menggoyangkan lengannya yang tertutup baju.
"Engh, iya," sahutnya seraya membuka mata.
Sembari menunggu Om Hadi berwudhu, aku menggelar sajadah untuk kami berdua.
Seusai shalat, aku mencium punggung tangannya. Namun kali ini ada yang berbeda, dia tidak mencium keningku seperti biasanya.
Apa dia marah? Aku melirik dan memperhatikan wajahnya dengan seksama. Tampak biasa-biasa saja.
"Om Nuri tinggal ya. Mau ke dapur bantuin ibu masak," pamitku.
"Iya, pergilah," sahutnya.
***
Jam setengah tujuh pagi, kami semua pun berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Jangan heran, di rumahku sarapan memang sepagi ini.
"Nur ambilkan nasi untuk suamimu dulu," tegur ibu yang melihatku hanya mengisi piringku.
"Eh, i-iya," sahutku.
Aku mengambil piring kosong di hadapan Om Hadi lalu mengisinya dengan nasi.
"Ini, Om," ucapku menyerahkan piring tadi kepadanya.
"Iya, terimakasih."
Seusai makan, Bapak dan Om Hadi bersantai di ruang tamu. Sementara aku membantu ibu membereskan sisa sarapan tadi.
Saat sudah selesai dan hendak keluar, tiba-tiba Ibu mencegahku. "Nur," panggilnya.
"Iya Bu, kenapa?" tanyaku.
"Sampai sekarang, kamu masih memanggil suamimu Om?" tanyanya.
"Iya Bu, memangnya kenapa?"
"Apanya yang kenapa? Tentu saja aneh didengarnya. Sekarang kan dia sudah jadi suamimu, jadi jangan memanggilnya Om lagi!" ucap Ibu kesal.
"Terus Nuri panggil apa dong Bu?"
"Apa saja, yang penting jangan Om. Nanti orang-orang malah mengira kamu simpanan om-om lagi!" sungutnya.
"Iya, iya. Kalau begitu Nuri panggil Mas saja deh. Gimana?"
"Iya, itu juga boleh. Ya sudah, sekarang kamu bikinkan minum untuk suami dan bapakmu. Ibu mau keluar dulu."
"Iya," sahutku.
Setelah Ibu pergi, aku segera membuatkan kopi untuk Bapak dan Om Hadi, lalu mengantarkannya keluar.
"Silahkan diminum Pak," ucapku seraya meletakkan gelas di hadapan Bapak.
"Iya, makasih ya Nak," sahut Bapak.
Lalu aku meletakkan gelas yang satu lagi di hadapan Om Hadi. "Silahkan diminum M-mas," ucapku malu. Pasalnya aku belum terbiasa memanggilnya begitu.
Om Hadi sendiri langsung tersentak dan menatapku heran. Namun tak lama kemudian dia tersenyum. "Makasih ya," ucapnya lembut.
"Sama-sama," jawabku.
Aku melirik ke arah ibu yang saat ini tengah tersenyum senang. Dari dulu aku memang tak pernah bisa melawan perintahnya. Karena aku selalu teringat cerita bapak, tentang bagaimana sulitnya proses saat ibu melahirkanku. Bahkan sangking traumanya, bapak tidak mau ibu hami lagi. Jadilah aku anak semata wayang mereka.
Saat Bapak dan Mas Hadi sedang asik mengobrol, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Ibu memberi kode padaku untuk melihatnya.
Aku pun bergegas bangun dan membuka pintu. Tak disangka tamu itu adalah Romi. Ya, aku ingat, kemarin dia memang sempat bilang ingin ke rumahku dan meminta maaf pada Ibu dan Bapak. Hanya saja, rasanya ini bukan waktu yang tepat.
"Siapa Nur? Kok tidak disuruh masuk tamunya?" tanya Bapak yang melihatku berdiri kaku di depan pintu.
"I-iya Pak," sahutku.
Aku pun segera menyingkir dari pintu dan membiarkan Romi masuk.
Suasana di ruang tamu mendadak hening. Obrolan Bapak dan Mas Hadi sontak terhenti. Ibu bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya. Terlihat dari wajahnya yang berubah masam.
Romi duduk di samping papanya. Sementara aku memilih untuk duduk di samping ibuku.
"Maaf kalau saya mengganggu. Saya datang ke sini untuk meminta maaf pada Ibu dan Bapak, atas kesalahan saya, yang telah mempermalukan Nuri dan juga kalian. Saat itu ada keadaan mendesak yang mengharuskan saya pergi di hari pernikahan," ucap Romi membuka pembicaraan.
"Ya, semalam Papamu sudah menceritakan apa yang terjadi. Sebagai bapak, sebenarnya saya tidak bisa memaafkan kamu, tapi memandang hubungan Nuri dengan papamu saat ini. Maka walau sulit, saya akan berusaha memaafkanmu. Setelah ini saya harap, kamu tidak mengganggu Nuri lagi. Biarkan anak saya bahagia," sahut Bapak.
Romi tertunduk dalam mendengar jawaban Bapak.
"Baiklah kalau begitu saya permisi," ucap Romi seraya bangkit menyalami Bapak dan Ibuku. Terakhir dia menyalami papanya dan meminta maaf.
"Maafin Romi Pa," lirihnya.
"Iya," sahut Mas Hadi seraya menepuk pelan punggung anaknya.
Setelah Romi pergi, Mas Hadi akhirnya buka suara. "Sebagai papanya Romi, sekali lagi saya meminta maaf Pak, Bu," ucap Mas Hadi nampak tak enak.
"Tidak apa-apa Di. Saya dan istri saya tidak pernah menyalahkan kamu. Apa yang terjadi itu murni karena kesalahan Romi," sahut bapak bijak, yang diangguki juga oleh ibu.
Setelah pembicaraan selesai. Aku dan Mas Hadi berpamitan pulang pada ibu dan bapak. Karena besok aku sudah masuk kuliah dan Mas Hadi juga harus ke kantor.
***
Sesampainya di rumah. Aku dan Mas Hadi langsung masuk ke kamar dan berganti baju. Melihat Mas Hadi yang diam saja sejak tadi. Aku sontak diliputi perasaan bersalah. Ini pasti karena kejadian semalam. Ah, aku jadi menyesal karena menolaknya tanpa berpikir panjang.
Lalu sebuah ide terbesit di benakku. Aku pun turun dan menghampiri Bik Sum.
"Bik," panggilku pada Bik Sum yang tengah menyapu.
"Iya Nyonya ada apa?" sahutnya.
"Bibik tahu tidak kue kesukaan Mas Hadi?" tanyaku.
"Tahu Nyonya. Tuan itu sukanya kue basah," jawab Bik Sum.
"Emh, kalau begitu bantuin Nuri dong Bik. Nuri mau bikinin kue untuk Mas Hadi," pintaku.
"Boleh Nyonya. Ayo sekarang kita ke dapur!" ajaknya.
Aku tersenyum dan mengikuti Bik Sum.
Empat puluh lima menit kemudian, kue putri ayu buatanku pun matang.
"Alhamdulillah, jadi juga. Makasih ya Bik sudah bantuin saya," ucapku senang.
"Sama-sama Nyonya. Saya juga senang bisa membantu. Dulu saat almarhumah Nyonya Salma masih hidup, beliau juga suka bikinin kue untuk Pak Hadi."
"Ya sudah, kalau begitu Nuri ke atas dulu ya Bik. Mau mengantar kue sama teh ini untuk Mas Hadi," pamitku.
"Iya Nyonya, silahkan."
***
Aku membuka pintu perlahan dan melihat Mas Hadi tengah sibuk dengan laptopnya.
"Mas, ini Nuri bikinkan teh sama kue," ucapku seraya meletakkan nampan di atas nakas.
"Eh, iya makasih," jawabnya seraya mengalihkan perhatiannya padaku. "Oh iya kok tiba-tiba sekarang memanggil Mas," tanyanya ingin tahu.
"Eh, itu ibu yang suruh. Mas tidak suka?" tanyaku.
"Siapa bilang? Mas suka kok. Kedengarannya lebih mesra," ucapnya tersenyum.
Melihatnya yang tersenyum seperti itu, aku memberanikan diri untuk bicara. "Maaf ya Mas untuk yang semalam. Nuri salah karena sudah menolak, tapi malam ini Nuri janji akan menjalankan kewajiban sebagai seorang istri," ucapku yakin.
"Kamu yakin?" tanyanya seraya memandangku lekat.
Aku menganggukkan kepalaku mantap. Setelah kedatangan Romi tadi pagi. Aku merasa sebuah beban besar di hatiku terangkat. Kini aku tidak ragu lagi untuk menjalani hidupku bersama Mas Hadi.
"Kalau begitu, bisakah kita tidak menunggu sampai malam?" tanyanya penuh arti.
"M-maksudnya ... sekarang?" tanyaku gelagapan.
Tanpa menjawab pertanyaanku. Mas Hadi bergegas berjalan ke arah pintu lalu menguncinya rapat.
Setelah itu dia kembali menghampiriku yang masih berdiri kaku di tempat tadi.
"Mari kita mulai," ajaknya tiba-tiba menggendongku ke atas ranjang.
Aku memejamkan mata dan mencoba memasrahkan diriku pada suamiku.
Skip.
"Terimakasih Sayang, karena menjadikan Mas pria pertama yang menyentuhmu." Mas Hadi menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi.
Aku mengangguk malu dengan pipi yang memanas. "Iya, Mas."
"Kamu tidak menyesal kan?" tanyanya seraya mengelus rambutku yang berantakan.
Aku menggeleng pelan. "Tidak kok," jawabku.
Bagaimana mungkin aku menyesal, saat dia memperlakukan dengan begitu lembut. Terlebih melihat wajahnya yang begitu bahagia. Rasanya ada kebanggaan tersendiri bagiku.
"Mas Nuri mau mandi. Gerah nih," rengekku pada Mas Hadi yang sejak tadi masih betah memelukku.
"Sebentar lagi," sahutnya.
"Dari tadi sebentar terus," sindirku.
Mas Hadi terkekeh dan malah semakin mengeratkan pelukannya. Namun tak lama, tiba-tiba handphonenya yang ditaruh di atas nakas terdengar berbunyi.
"Mas ada yang nelpon tuh," ucapku.
"Biarkan saja," jawabnya.
"Angkat dulu Mas, siapa tahu penting."
"Ck, iya, iya." Mas Hadi bergerak malas dan mengangkat telponnya.
Entah siapa yang menelpon, tapi wajah Mas Hadi tiba-tiba berubah kesal.
Bersambung....
#Suami_Dadakan
#Bagian10
#Fiksi
"Siapa Mas?" tanyaku saat telponnya sudah dimatikan.
"Pak Gunawan, ayahnya Sindy. Mas lupa kalau masalah Romi belum selesai," jawabnya seraya memijit pangkal hidungnya.
"Tadi Pak Gunawan bilang apa?"
Mas Hadi menghela napas panjang. "Dia meminta Mas ke rumahnya dan membicarakan kelanjutan hubungan Romi dan Sindy."
"Hmm, begitu. Ya sudah, pergi saja Mas," usulku.
"Iya, mau bagaimana lagi! Padahal Mas masih ingin melanjutkan yang tadi," ucapnya seraya memandangku penuh arti.
"Apaan sih Mas." Aku memalingkan wajahku yang merona.
Mas Hadi tersenyum dan kembali mendekatiku.
"Mas, mau ngapain? Ingat loh sudah ditunggu Pak Gunawan," ingatku.
"Mas tahu kok. Orang Mas cuma mau menggendong kamu ke kamar mandi. Kamu nih suudzon aja sama suami ," ucapnya seraya memandangku geli. Aku jadi malu sendiri.
Setelah menurunkanku di kamar mandi, dia kembali menggodaku. "Mau Mas temanin tidak?"
"Enggak! Nuri mau mandi sendiri!" sergahku cepat.
"Hahaha. Ya, sudah kalau begitu Mas mandi di kamar Romi saja," ucapnya seraya keluar dari kamar mandi.
***
Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku duduk di pinggiran ranjang. Memperhatikan Mas Hadi yang sedang memakai kemejanya dengan tergesa.
"Ck, timpang lagi," decaknya kesal, karena harus mengulang lagi dari awal.
Aku tersenyum lucu. Seperti bukan Om Hadi saja, fikirku.
"Kenapa sih Mas buru-buru banget? Tadi aja pas ditelpon kesal," tanyaku heran.
"Mas itu mau cepat-cepat menyelesaikan masalah Romi. Biar bisa cepat pulang ke rumah," jawabnya cepat.
"Memangnya Mas mau ngapain di rumah?"
"Ah, kamu kayak gak paham aja," ucapnya seraya menaik-turunkan alisnya.
"Oh, kerjaan Mas tadi belum kelar ya," tebakku. Pasalnya saat aku masuk ke kamar tadi Mas Hadi sedang sibuk dengan laptopnya.
"Ck, bukan itu. Sini Mas bisikin," ucapnya seraya mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"..........."
Setelah Mas Hadi menjauhkan tubuhnya, aku menunduk dengan wajah yang sangat malu. Namun tak lama aku tersentak karena teringat sesuatu.
"Mas, N-nuri belum mau punya anak," ucapku takut-takut.
Mas Hadi nampak terkejut.
"Kamu serius?" tanyanya tak percaya.
"Iya," jawabku seraya mengangguk mantap.
"Tapi kenapa?"
"Nuri belum siap untuk menjadi ibu Mas. Selain karena umur yang masih muda. Kuliah Nuri juga masih panjang."
"Lalu kapan kamu siap?"
"Setelah wisuda. Nuri harap, kali ini Mas mau mengerti."
"Oke, tapi kamu berjanji kan, setelah wisuda kamu siap untuk memiliki anak?"
"I-iya."
"Mas hanya tidak mau kamu membuat alasan baru, dengan mengatakan ingin bekerja nanti," ucapnya tegas.
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan ucapannya.
"Umur Mas sudah tidak muda lagi. Karena itu Mas sangat ingin memiliki anak dalam waktu dekat, tapi kalau kamu memang belum siap. Mas tidak bisa memaksa."
"Iya, makasih Mas atas pengertiannya," sahutku pelan.
"Ya sudah, kalau begitu Mas pergi dulu," pamitnya seraya mengecup keningku.
"Iya, Nuri antarin ya ke bawah," ucapku seraya hendak berdiri.
"Tidak usah, kamu di sini saja. Istirahat. Lagipula jalan kayak pinguin gitu kapan sampainya," ledeknya padaku.
"Mas!" Aku melemparkan sebuah bantal ke arahnya. Kesal dengan ledekannya. Memang benar sih, tadi saat keluar dari kamar mandi, aku berjalan seperti pinguin, tapi itu karena ulah siapa coba!
"Maaf, Mas cuma bercanda," ucapnya seraya mengembalikan bantal yang ku lempar tadi.
"Jangan cemberut, nanti cantikmu hilang," ucapnya seraya menjawil daguku.
Tiba-tiba handphone di kantongnya kembali berbunyi.
"Ya ampun! Mas lupa kalau sudah ditunggu. Mas berangkat sekarang ya."
"Iya hati-hati di jalan."
Huft. Sepertinya setelah ini, masih banyak lagi hal yang akan kami perdebatkan.
Setelah Mas Hadi pergi, aku mengambil laptopku yang berada di atas rak buku dan melanjutkan tugasku yang kemarin belum selesai.
Aku mengambil kuliah jurusan ekonomi management atas keinginan bapak. Beliau sangat ingin melihatku diwisuda dan menyandang gelar Sarjana. Sebagai anak satu-satunya sebisa mungkin aku berusaha untuk mewujudkan impiannya.
***
Sekitar jam satu siang, samar-samar aku mendengar suara deru mobil memasuki halaman. Aku menengok ke arah jendela, benar saja itu mobil Mas Hadi.
Aku mencoba melangkah pelan dan menuruni tangga satu persatu. Ketika sampai di bawah aku dibuat terkejut, karena bukan hanya Mas Hadi yang datang, tapi juga ada Romi, Tante Helma dan Sindy! Wanita itu menggandeng lengan Romi mesra.
Tidak tahu malu! Rutukku dalam hati. Aku jadi menyesali keputusanku untuk turun. Kalau tahu begini, lebih baik aku tetap di kamar.
Mas Hadi menghampiriku yang masih berdiri di bawah tangga. "Hey, ngapain turun? Memangnya sudah tidak sakit?" tanyanya perhatian.
Aku memaksakan sebuah senyum. "Masih," ringisku pelan.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita bersantai di halaman belakang saja dulu ya."
"Terus mereka bagaimana?" tanyaku melirik ke arah Romi dan yang lain.
"Ya ditinggal saja. Lagipula sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kok. Yuk! Kita pamit dulu pada mereka," ajaknya.
Aku mengangguk dan mengikuti Mas Hadi menghampiri mereka.
"Hel, Mas tinggal dulu ya. Kalau kamu mau istirahat, langsung saja ke kamar tamu di atas. Kamu juga Rom, bawa Sindy ke kamar kalian, siapa tahu dia lelah," ucap Mas Hadi pada Tante Helma dan Romi.
"Iya, Mas."
"Iya, Pa." Jawab mereka hampir bersamaan.
Setelah itu Mas Hadi menggandengku pergi ke halaman belakang.
***
"Maaf ya, mulai sekarang Sindy akan tinggal bersama kita," ucapnya saat kami sudah duduk di teras belakang.
Aku diam saja, karena walau tidak suka, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu marah sama Mas?" tanyanya seraya menggenggam tanganku.
Aku menggeleng pelan. "Enggak," jawabku pelan.
"Terus kenapa diam, hmm?"
"Nuri gak tahu harus ngomong apa," jawabku jujur.
"Kamu tenang saja. Ini tidak akan lama kok. Nanti kalau Romi sudah bisa mandiri, mereka akan pindah ke rumah sendiri," ucapnya menenangkanku.
"Iya."
"Kalau tidak, begini saja. Kita pindah ke kamar bawah. Jadi kamar kita tidak perlu berdekatan dengan mereka," tawarnya.
Aku berpikir dan teringat tentang kamar yang dimaksud Mas Hadi. Itu adalah kamarnya dengan almarhumah istri pertamanya dulu.
"Memangnya tidak apa-apa, Nuri menempati kamar itu?" tanyaku ragu.
"Tidak apa-apa kok. Kalau kamu setuju, Mas akan minta Bik Sum dan Lala untuk membersihkan kamar itu sekarang."
"Baiklah, Nuri setuju."
"Oke, kalau begitu Mas tinggal dulu ya."
"Iya."
Jujur, sebenarnya aku merasa tidak enak menempati kamar itu. Namun karena situasinya seperti ini, aku juga tidak punya pilihan lain kan.
***
Saat sedang menunggu Mas Hadi. Aku dikejutkan dengan kedatangan Tante Helma yang tiba-tiba duduk di sebelahku.
"Hebat ya kamu," ucapnya dengan nada menyindirku.
"Hebat kenapa ya Tan?" tanyaku tak mengerti.
"Hebat dalam mengambil hati laki-laki. Tidak Romi, tidak Mas Hadi. Keduanya dengan mudah kamu kuasai."
"Maksud Tante apa? Kenapa tiba-tiba menuduh saya seperti itu?" tanyaku mulai tersulut emosi.
"Tidak usah berpura-pura polos lah. Belum lama menjadi istrinya Mas Hadi saja kamu sudah berani menempati kamar almarhumah Kakakku. Setelah ini apa? Kamu ingin balik nama rumah ini juga?" tuduhnya sadis.
Astaghfirullah hal'adzhiim. Aku mengucap istighfar di dalam hati.
"Maaf ya Tan, tapi saya gak ada niat tuh untuk menguasai rumah ini. Lagipula Mas Hadi sendiri yang mengusulkan untuk pindah ke kamar itu," sahutku kesal.
"Cih, kamu pikir saya tidak tahu. Mas Hadi melakukan itu juga pasti karena bujukanmu. Ternyata benar dugaan saya, kamu mau dinikahi Mas Hadi pasti karena hartanya kan."
"Cukup!" teriakku keras. "Tante jangan menuduh sembarangan. Saya tidak pernah menginginkan hartanya Mas Hadi. Orang tua saya juga orang yang mampu kok," jelasku berapi-api.
"Kalau begitu tinggalkan Mas Hadi! Buktikan kalau kamu memang tidak tertarik pada hartanya," ucapnya seraya menatap mataku tajam.
Belum sempat aku menjawab perkataannya. Mas Hadi tiba-tiba datang dan lebih dulu menyela. "Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya seraya menatap kami bergantian.
"Tidak ada apa-apa kok Mas. Aku hanya menyapa Nuri. Waktu itu saat ke sini, aku kan belum sempat bicara dengannya," jawabnya tiba-tiba berubah ramah.
Dasar Rubah! cibirku dalam hati.
"Benar begitu Nur?" tanya Mas Hadi padaku.
"Tidak," jawabku seraya menggelengkan kepala. Wajah Tante Helma nampak terkejut mendengar jawabanku. Kalau dia berfikir aku akan diam saja dan menerima semua hinaannya, dia salah besar. Aku Nurinda Syahila tidak pernah diajarkan begitu. Selagi aku benar, aku tidak boleh takut. Itulah yang selalu dikatakan bapak padaku.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Mas Hadi nampak tak sabar.
"Tante Helma, menuduh Nuri ingin menguasai rumah ini dan juga harta Mas," ungkapku kesal.
Mas Hadi langsung melirik tajam pada Tante Helma. "Benar itu Hel?" tanya Mas Hadi memastikan.
"Iya, itu benar," jawabnya lantang. "Aku tidak suka dan tidak terima, gadis ini menempati kamar Almarhumah Mbak Salma! Lagipula kamu pikir deh Mas, kenapa gadis muda seperti dia mau menjadi istri kamu, kalau bukan karena harta!" tudingnya.
"Hel, Nuri sekarang adalah istriku. Jadi dia berhak menempati kamar itu. Satu lagi, jangan menuduhnya yang tidak-tidak! Dia bukan wanita yang gila harta. Mas tahu betul itu."
"Oh ya? Memangnya sudah berapa lama Mas mengenalnya? Apa lebih lama dibandingkan aku?" tanyanya sangsi.
Mas Hadi memalingkan wajahnya dan menghembuskan napas kesal. "Cukup Hel, Mas tidak mau berdebat. Jika kamu sudah tidak ada kepentingan lagi. Silahkan pulang."
"Apa? Aku tidak salah dengar? Mas mengusirku hanya karena gadis ini!" pekiknya marah.
"Mas tidak mengusirmu, tapi jika kamu masih ingin berada di sini, perbaiki sikapmu. Terlebih pada istriku," ucap Mas Hadi tegas.
"Nur, ayo kita ke dalam. Sepertinya Bibik sudah hampir selesai membersihkan kamar kita," ajaknya seraya menggandengku.
Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam. Besok entah apa lagi yang akan terjadi di rumah ini.
Bersambung.....
#Bagian7
#Fiksi
"Sepertinya kita perlu liburan," ucap Om Hadi tiba-tiba. Kami baru saja selesai sarapan dan sekarang tengah bersantai di ruang tamu. Sedangkan Romi entah kemana perginya, saat kami turun dia sudah tidak ada.
"Untuk apa Om?" tanyaku bingung.
"Tentu saja agar tidak ada yang mengganggu kita lagi. Kemarin Bibik hari ini Romi, besok entah siapa lagi. Kalau begini terus, bagaimana kita bisa belajar untuk saling mencintai. Ciuman saja gagal terus," keluhnya.
Aku memalingkan wajahku yang memanas, mendengar ucapannya yang begitu frontal. Aku sempat berfikir bahwa kejadian saat di kamar, hanya karena terbawa suasana. Tetapi saat di kolam tadi berbeda, aku tahu Om Hadi memang menginginkannya
"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanyanya lagi.
"Eh, kalau sekarang gak bisa Om. Nuri kan baru aja ngambil cuti nikah seminggu," sahutku.
"Hmm begitu ya. Ya sudah, nanti saja," ucapnya lemah.
"Om, gak marah kan?"
"Tidak, Om mengerti kok. Saat ini yang paling penting bagimu pasti adalah kuliah."
Aku memandangnya tak enak, tapi mau bagaimana lagi. Aku saja masih harus mengejar ketertinggalank
***
Siangnya, begitu sampai di kampus. Aku langsung menceritakan kejadian tadi pagi pada Ria dan Aya tentunya tidak semuanya, hanya bagian pentingnya saja.
"Jadi Romi udah balik?" tanya mereka bersamaan.
"Iya," sahutku.
"Terus dia menghamili Sindy?"
"Sindy yang pernah liburan bareng kita itu?" tanya mereka lagi.
"Astaga. Iya!" jawabku kesal.
"Aku gak nyangka," ucap Ria.
"Aku lebih gak nyangka," timpal Aya.
"Tapi begitulah kenyataannya. Terus sekarang Romi gak terima aku nikah sama Papanya."
"Entah kenapa aku senang Nur, kamu nikah sama Om Hadi. Biar tahu rasa tuh Romi! Memangnya enak calon istri dinikahin Papa sendiri," ucap Ria berapi-api.
"Apaan sih Ri, yang ada hidupku jadi gak tenang tahu!" sungutku.
"Kok bisa gitu, emangnya kenapa?" tanya Aya.
"Dari tadi tuh Romi menghubungi aku terus. Sudah aku blokir, dia malah ganti pakai nomer baru," ungkapku.
"Serius? Ya udah mana sini, biar aku yang ngomong sama dia!" tanya Ria.
"Gak usahlah abaikan saja! Nanti dia malah besar kepala kalau diladeni," tolakku.
"Aku setuju, orang kayak Romi tuh emang bagusnya dicuekin aja," sahut Aya.
"Ya udah masuk kelas yuk, bentar lagi kuliah mulai nih," ajakku pada mereka.
"Yuk!"
***
Sore harinya, setelah selesai kuliah aku tak langsung pulang ke rumah, melainkan mampir ke rumah sepupuku, Mba Lani. Ada hal yang ingin aku ceritakan padanya. Tentunya yang tidak bisa aku ceritakan pada Ria dan Aya tadi.
"Assalamualaiku
"Waalaikumsalam
"Iya, Mba."
"Tunggu sebentar ya, Mba ambilin minum dulu."
"Oke, Mbak," jawabku seraya mengacungkan jempol ke arahnya.
Tak lama kemudian Mba Lani kembali dengan setoples cookies dan dua gelas es milo kesukaanku.
"Silahkan diminum Nur," ucapnya.
"Iya Mba makasih," jawabku sembari menyeruput es milo buatannya.
"Jadi, ada apa nih pengantin baru? Tumben ke sini?" tanyanya.
"Nuri mau cerita Mba."
"Cerita apa?"
"Tentang Romi. Dia sudah kembali Mba," ucapku lesu.
"Hah, serius Nur?" Mba Lani tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Terus gimana, apa alasan dia ninggalin kamu?" tanyanya penasaran.
"Dia menghamili gadis lain," jawabku datar.
"Astaghfirullah
"Iya, tapi masalahnya dia itu kayak gak bisa nerima kenyataan Mba. Kalau aku sudah nikah sama papanya. Terus ini ...," Aku menyodorkan handphoneku pada Mba Lani dan meminta dia melihat sendiri isi pesannya Romi.
"Masyaallah. Ini orang tidak tahu malu ya. Sudah dia yang ninggalin kenapa dia yang marah-marah."
"Itulah Mba, makanya Nuri jadi kesal. Nuri juga gak enak mau kasih tahu Om Hadi. Takut dibilang mengadu domba mereka nanti."
"Iya Mba ngerti, yang kamu lakukan ini sudah benar kok. Kalau menurut Mba dia cuma kaget, nanti juga lama-lama dia pasti bisa menerima hubunganmu dengan Papanya."
"Ya, tapi sampai kapan coba Mba. Nuri udah gerah dibuatnya," ucapku sembari mencomot cookies di toples lalu mengunyahnya.
"Kenapa kamu gak kasih dia adik saja? Mba yakin seratus persen setelah itu dia pasti gak akan gangguin kamu lagi."
"Uhuk!" Aku tiba-tiba tersedak, mendengar saran dari Mba Lani.
"Aduh! Pelan-pelan dong Nur makannya, jadi tersedak gitu kan. Nih, minum dulu," ucapnya seraya menyodorkan segelas es padaku.
"Uhuk! Minta air putih dong Mba," rengekku.
"Iya, tunggu sebentar."
Tak lama kemudian dia kembali dan memberikan segelas air putih padaku.
Setelah menandaskan separuh dari isinya, akhirnya tenggorokanku lega juga. Walau masih terasa sakit sih.
"Mba nih kelewatan! Nuri lagi makan kok bahasnya gituan," dumelku padanya.
"Hehehe. Maaf Nur, lagian kamu juga lagaknya kaya anak perawan aja," tukasnya.
"Memang kok," sahutku cepat.
"Hah! Kamu belum malam pertama-an sama suami?" tanyanya terbelalak.
Aku menunduk malu. "Belum," jawabku pelan.
"Ya ampun. Kamu gak tahu apa nolak suami itu dosa tahu."
"Nuri gak pernah nolak kok. Memang Om Hadinya gak pernah minta."
"Serius? Mba rasanya gak percaya. Aneh aja gitu. Sudah hampir dua minggu kalian nikah, masa dia belum juga nyentuh kamu juga. Jangan-jangan ...," Wajah Mba Lani nampak menduga-duga.
"Ish, Om Hadi masih normal kok Mbak," sungutku.
"Tahu dari mana?"
"Ya tahulah. Kalau gak normal gak mungkin dia cium Nuri, apalagi sampai ngajak liburan berdua," ucapku keceplosan.
"Cie, cie, udah ciuman nih ye," ledeknya.
"Mba ih, Nuri itu ke sini mau minta saran bukannya diledekin."
"Iya, iya maaf. Terus apa masalahnya, pergi aja liburan terus bikinin adik untuk Romi. Beres deh masalah kamu," sahutnya.
"Haduh, Mba ini gak ada saran lain apa. Nuri itu belum mau punya anak Mba. Dari awal nikah sama Romi juga kan kesepakatannya begitu. Kami akad dulu, terus kalau sudah wisuda, baru resepsi. Setelah itu baru deh mikirin mau punya anak."
"Hmm, jadi liburan itu kamu tolak?"
"Iya, kenapa?"
"Memangnya kamu gak khawatir apa? Gimana kalau suami kamu kecewa, terus berpaling ke lain hati nantinya."
"Ya enggaklah Mba, Om Hadi gak gitu kok orangnya," sanggahku.
"Jangan terlalu yakin. Dulu juga kamu berfikir begitu kan tentang Romi. Terus hasilnya apa? Realistis aja. Dia itu sudah lama menduda. Kalau kamu tolak, dia bisa saja cari yang lain kan?"
Aku terdiam, mulai ragu dengan keyakinanku.
"Nur, kalau kamu belum siap untuk punya anak gak apa-apa, tapi menjalankan kewajiban sebagai istri itu wajib hukumnya. Kan gak mesti liburan, kalian bisa ke hotel atau penginapan pas weekend."
"Gitu ya Mba?"
"Iya, gitu."
"Ya udah deh Mba, nanti Nuri fikirin lagi. Sekarang Nuri pamit yah, udah sore nih."
"Iya, hati-hati di jalan."
***
Malamnya aku berniat membicarakan ide Mba Lani pada Om Hadi, namun sampai jam delapan malam Om Hadi belum juga pulang.
Akhirnya ku putuskan untuk menelponenya. "Halo, Om," sapaku ketika panggilan tersambung.
"Iya, ada apa Nur?"
"Om kok belum pulang?" tanyaku.
"Ah, iya maaf Om lupa ngabarin. Malam ini Om lembur, kamu tidur duluan saja tidak usah menunggu Om, oke?"
"Oh gitu. Ya udah deh Om."
Panggilan terputus. Entah mengapa rasanya ada yang berbeda malam ini. Aku sudah terbiasa melihat Om Hadi yang tertidur di sampingku.
***
Entah jam berapa Om Hadi pulang semalam, tapi yang jelas ketika membuka mataku pagi ini. Dia sudah berada di sampingku. Tertidur dengan sangat lelap.
Jujur, baru kali ini aku memperhatikan wajahnya saat dia sedang tertidur. Dia terlihat tampan. Hidungnya mancung, alisnya tebal dan bulu tipis di bawah dagunya menambah kesan macho dalam dirinya. Bahkan tanpa sadar tanganku sudah bergerak memegang pipinya.
"Engh. Sudah bangun Nur?" tanyanya tiba-tiba membuka mata. Aku yang kaget dengan cepat menarik tanganku dan tersenyum malu.
"Eh, iya Om."
"Jam berapa ini?" tanyanya.
Aku melirik jam di dinding. "Jam tujuh lewat Om."
"Apa? Astaga Om kesiangan. Kok gak bangunin dari tadi? Om ada rapat hari ini," ucapnya seraya bergegas bangun.
"Maaf Om. Nuri gak tahu," sesalku.
"Iya tidak apa-apa. Tolong siapkan pakaian Om yah. Om mau mandi dulu."
"Iya."
Setelah Om Hadi masuk ke kamar mandi, aku bergegas membuka lemari. Mengambil celana panjang berwarna hitam, kemeja biru navy, dan sebuah dasi tanpa motif, lalu ku letakkan di atas kasur.
Kalau dipikir-pikir selama menikah baru hari ini aku melayani Om Hadi. Ah, sepertinya mulai besok aku harus belajar bangun pagi dan menyiapkan semua keperluan Om Hadi.
Sepuluh menit kemudian Om Hadi keluar dari kamar mandi dan bergegas memakai pakaiannya.
"Nur kamu bisa pasangkan dasi tidak?" tanyanya sembari menyisir rambut di depan cermin.
"Eh, Nuri lupa Om caranya. Terakhir pakai dasi kan pas SMA," jawabku tak enak.
"Oh, ya sudah. Om pakai sendiri saja."
Aduh! Kok rasanya aku jadi istri yang gak berguna ya.
"Maaf ya Om. Nanti Nuri belajar lagi cara masang dasi."
"Hmm, tidak apa-apa. Ya sudah, mari kita turun sarapan," ajaknya.
Aku mengangguk dan mengikutinya turun ke bawah.
Di tengah-tengah sarapan tiba-tiba Bik Sum datang.
"Maaf Tuan saya ganggu, di luar ada sekretaris Tuan. Katanya mau mengembalikan jas."
"Oh, iya suruh ke sini aja Bik. Ajak sarapan sekalian," sahut Om Hadi.
"Kok jas Om bisa ada sama dia?" tanyaku tak bisa menahan rasa penasaran.
"Oh itu kemarin bajunya ketumpahan kopi, jadi Om pinjamin jas untuk nutupin nodanya."
Jujur aku kurang suka mendengarnya.
Tak lama kemudian datang seorang wanita cantik. Dari wajahnya, ku perkirakan usianya dua puluh delapan tahun. Memakai rok hitam di atas lutut dan blazer ketat berwarna senada.
"Maaf ya Pak, saya ganggu," ucapnya tak enak.
"Iya gak apa-apa Nin. Mari silahkan duduk, kita sarapan," ajak Om Hadi.
"Oh iya, terimakasih Pak," jawabnya dengan senyum manis.
Duh, kenapa rasanya aku kesal ya. Selera makanku pun langsung hilang seketika, melihat interaksi mereka.
Wanita itu melempar senyum manis ke arahku dan hanya ku balas dengan senyuman tipis.
Ganggu orang sarapan aja! Gerutuku dalam hati.
Seolah tak cukup kekesalanku tadi pagi. Tak lama setelah Om Hadi dan sekretarisnya pergi ke kantor. Romi datang dengan sebuah koper di tangannya.
"Selamat pagi," ucapnya sok manis.
"Mau apa kamu ke sini?" tanyaku sinis.
"Ow, santai Nur. Kamu lupa ya, ini kan rumah aku juga. Mulai sekarang aku akan kembali tinggal di sini," ucapnya santai.
Aku melotot mendengar ucapannya. Serumah dengan Romi? Oh No! Ini namanya musibah.
Bersambung....
Ditunggu ya kritik dan sarannya, agar tulisan saya lebih bagus lagi 🙏
Note : Umur Om Hadi 40 tahun
Romi : 20 tahun
Nuri : 19 tahun
#Suami_Dadakan
#Bagian8
"Sebenarnya apa sih mau kamu Rom?!" bentakku marah.
"Kamu mau tahu?" Romi bergerak mendekatiku. "Aku menginginkanmu,
Aku memundurkan tubuhku, tak nyaman dengan posisi kami. "Jangan gila kamu! Apa kamu lupa, aku ini sudah jadi istri papamu dan kamu sendiri juga kan sudah punya istri!" sentakku.
"Aku dan Sindy hanya menikah siri. Dari awal dia juga sudah tahu kalau aku tidak pernah mencintainya, jadi tidak akan ada masalah. Aku hanya perlu merebutmu kembali dari papa," sahutnya.
"Aku tidak menyangka ternyata pikiran kamu sepicik ini. Kamu pikir pernikahan itu sebuah permainan? Yang bisa kamu tinggalkan dan kamu mainkan seenaknya. Enggak Rom, pernikahan itu sesuatu yang serius!" tegasku.
"Aku tahu. Aku tahu itu! tapi pernikahan juga harus berlandaskan cinta kan? Aku gak mencintai Sindy dan aku juga yakin kamu tidak mencintai papaku. Oleh karena itu aku memintamu untuk kembali padaku. Aku berjanji akan membahagiakan kamu dan menebus semua kesalahanku."
"Aku tidak mau! Memang benar aku belum mencintaimu papamu, tapi ada seseorang yang berkata padaku, bahwa cinta itu bisa diusahakan bersama, dan aku mau berusaha untuk mencintai papamu. Jadi kuharap kamu juga begitu. Kamu sudah memilih meninggalkanku waktu itu, maka jangan lagi mengingatku. Jalani pilihanmu dan aku juga akan berjalan di pilihanku."
Setelah mengatakan itu, aku masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Romi yang masih berdiri mematung.
***
"Haaah!" Sebulir tetes bening jatuh dari pelupuk mataku. Kenapa? Kenapa setelah apa yang dia lakukan padaku, dia masih saja menggangguku! Apa belum cukup dia menyakitiku.
Tok. Tok. Tok.
"Nur, buka pintunya! Aku mau bicara." Romi tiba-tiba mengetuk pintu kamarku.
"Pergilah Rom! Aku gak mau bicara sama kamu," jawabku dari balik pintu. Untung saja tadi aku kepikiran untuk menguncinya. Jika tidak, mungkin Romi sudah nekat untuk masuk ke dalam.
"Please Nur, sebentar saja," mohonnya.
"Aku nggak mau! Tolong Rom jangan ganggu aku lagi. Apa kamu masih belum puas menyakiti aku?" tanyaku parau.
"Aku minta maaf Nur. Maaf karena sudah meninggalkanmu,
"Aku tidak bisa memaafkanmu. Tidak, setelah apa yang kamu lakukan padaku dan juga orang tuaku. Kamu tidak tahu kan, betapa malunya kami. Saat pernikahan harus tertunda karena mempelai prianya tidak ada. Kamu juga tidak tahu kan, betapa panik dan sedihnya aku memikirkan keberadaanmu. Aku bahkan hampir bunuh diri, kalau tidak dicegah oleh papamu."
Suasana mendadak hening. Romi tiba-tiba terdiam.
"Jika kamu memang benar mencintaiku, tolong biarkan aku menjalani hidupku dengan tenang Rom. Kita lanjutkan hidup kita masing-masing,"
"Maaf, aku benar-benar minta maaf Nur. Aku memang egois, aku jahat, tapi sungguh aku benar-benar mencintaimu. Aku akui yang terjadi memang karena kesalahanku. Aku pun sangat menyesali kejadian malam itu. Harusnya saat itu aku pergi menyusulmu dan meminta maaf. Bukannya malah minum-minum. Sekali lagi aku minta maaf untuk rasa sakit dan rasa malu yang aku torehkan. Besok aku akan datang ke rumah orang tuamu dan meminta maaf pada mereka." Ucapan Romi terdengar tulus.
Aku hanya terdiam dan menyenderkan tubuhku di belakang pintu.
"Maukah kamu memberikan satu kesempatan lagi untukku?" tanyanya lirih.
Aku tersentak dan mencoba menenangkan debaran jantungku yang bertalu. Hatiku tidak bisa berbohong, cinta itu memang masih ada walau sedikit.
"Tolong jawab aku Nur," pintanya lagi.
"A-aku tidak bisa," jawabku seraya menghapus air mata yang jatuh dengan sendirinya.
Setelah itu sepi, tidak ada yang berbicara lagi diantara kami.
***
Setelah memikirkannya matang-matang. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku. Karena sangat tidak nyaman rasanya serumah dengan Romi, saat Om Hadi tidak ada. Apalagi hari ini hari sabtu. Aku libur kuliah.
Aku mengemas beberapa keperluanku dan menaruhnya ke dalam tas kecil. Setelah semuanya siap, aku mengambil handphone dan berniat mengabari Om Hadi. Namun walau sudah beberapa kali mencoba, panggilanku tidak diangkat juga. Akhirnya ku putuskan untuk mengiriminya pesan saja.
[Om, Nuri pulang ke rumah bapak dan ibu ya.]
Setelah memastikan pesanku terkirim. Aku keluar dengan mengendap-endap
"Nyonya mau kemana?" tanya Pak Dana. Satpam rumah kami yang sedang membukakan gerbang untukku.
"Eh, Pak Dana. Saya mau pulang ke rumah orang tua saya Pak. Tolong sampaikan pada Bik Sum juga ya. Tadi saya belum sempat pamitan," jawabku.
"Oh begitu. Baik Nyonya nanti saya sampaikan pada istri saya."
"Kalau begitu saya pergi dulu Pak."
"Iya Nyonya, hati-hati di jalan."
***
Sesampainya di luar, aku segera menyetop sebuah taxi dan meminta diantarkan ke alamat orang tuaku.
Di perjalanan aku kembali mengecek handphoneku. Masih belum ada balasan dari Om Hadi. Mungkin rapatnya belum selesai, fikirku.
Kurang lebih satu jam kemudian, akhirnya aku pun sampai. Setelah membayar ongkos taxi, aku keluar dan berjalan masuk ke teras rumah.
"Assalamualaiku
Tak lama kemudian ibu keluar dan membuka pintu. "Waalaikumsalam
Aku bergegas mencium punggung tangan ibuku lalu memeluknya erat.
"Iya Bu, bapak mana?" tanyaku.
"Bapakmu lagi ke pabrik. Biasa mengawasi para pekerja."
Bapakku memang punya usaha furniture. Awalnya bapak sendiri yang mengerjakannya bersama dengan dua orang karyawannya. Namun lama-kelamaan usaha beliau semakin berkembang dan sekarang sudah memiliki hampir lima puluh orang karyawan.
"Kamu datang sendirian saja?" tanya Ibu.
"Iya Bu, memangnya mau sama siapa lagi?"
"Ya, Ibu kira sama suami kamu."
"Enggak Bu, Om Hadi lagi sibuk di kantor. Semalam aja nggak tahu pulang lembur jam berapa."
"Oh begitu, tapi kamu sudah izin kan kalau pergi ke sini."
"Iya sudah kok Bu."
"Baguslah, kalau begitu."
***
Jam dua belas siang Bapak pulang dari pabrik dan terkejut melihatku yang tengah bersantai di ruang keluarga, sambil menonton tv.
"Loh Nur, kok gak ngabarin Bapak kalau mau pulang?" tanyanya sembari duduk di sampingku.
"Hehehe. Dadakan Pak, gak direncanain juga," jawabku sembari mencium punggung tangannya.
"Hmm, begitu. Hubunganmu dengan Pak Hadi bagaimana?" Nada suara Bapak terdengar khawatir.
"Baik-baik saja kok Pak," jawabku seraya tersenyum.
"Dia memperlakukanmu
"Iya Bapak tenang saja. Om Hadi baik kok sama Nuri."
"Syukurlah. Bapak sempat takut kalau pernikahan kalian tidak berjalan lancar."
Aku memilih untuk tidak menceritakan perihal Romi dulu pada orang tuaku. Takutnya malah merusak suasana.
Ditengah-tengah
"Loh Pak sudah pulang toh. Ayo lekas mandi! Setelah itu kita makan siang," titah Ibu.
"Kamu juga Nur, ayo ke dapur! Bantu Ibu menata makanan di meja."
Aku dan Bapak saling berpandangan, lalu serempak memberi hormat pada Ibu. "Siap Bu Komandan!"
Ibu geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah kami.
***
"Wih harum banget sup ayam buatan Ibu. Apa sih bumbu rahasianya?" tanyaku seraya menghirup aroma di atas mangkuk.
"Gak ada bumbu rahasia. Cuma bumbu biasa, yang penting takarannya pas dan matangnya juga pas," sahut ibu.
"Oh, gitu ya."
"Kamu sudah pernah masakin apa untuk suamimu?" tanya Ibu tiba-tiba.
"Hah, engh... Nuri belum pernah masakin apa-apa Bu untuk Om Hadi. Di rumahnya kan sudah ada asisten rumah tangga," jawabku takut-takut.
"Astaghfirullah
"I-iya Bu."
"Ada apa sih ini ribut-ribut?" tanya Bapak yang baru saja selesai mandi.
"Ini loh anak Bapak. Masa sudah hampir dua minggu nikah, dia belum pernah masak untuk suaminya," adu Ibu.
"Gak apa-apa Bu. Bapak yakin, nanti pelan-pelan Nuri juga akan belajar jadi istri yang baik. Iya kan Nak?"
"Iya Pak." Inilah yang ku suka dari Bapak. Beliau tidak pernah memaksaku untuk berubah, tapi selalu percaya bahwa aku bisa berubah.
"Ya sudah Bu. Ayo kita makan! Sudah lama kita gak makan bertiga seperti ini," ajak Bapak semangat.
"Iya Pak," sahut Ibu.
Setelah membaca doa, kami semua pun mulai makan dengan lahap. Makan dengan keluarga itu memang berbeda. Selalu terasa lebih nikmat.
***
Waktu tak terasa berlalu dan sampai malam pun Om Hadi belum juga membalas pesanku. Entah sesibuk apa dia, aku juga tidak tahu. Aku juga tidak mengabarinya jika akan menginap. Nanti juga dia tahu kalau sudah pulang ke rumah.
Sementara itu, saat ini di kamar aku tengah sibuk melepas fotoku dan Romi, yang masih tertempel di dinding. Foto sejak kami bahkan masih berteman, sampai akhirnya pacaran dan terakhir foto saat dia melamarku. Setiap kali mengingat itu, selalu ada sudut hatiku yang berdenyut nyeri.
"Haaah!" Aku menghela napas panjang. Sebenarnya Romi yang ku kenal dulu, bukanlah pria brengsek yang bisa dengan mudah menodai gadis lain. Namun entah mengapa akhirnya dia jadi begini.
Tanpa sadar, karena kelelahan dan terlalu banyak pikiran aku pun tertidur. Entah berapa lama, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang tengah menyentuh wajahku.
"Engh." Aku mencoba membuka mataku yang masih mengantuk.
Ketika membuka mata, aku terkejut melihat Om Hadi yang tiba-tiba ada di kamarku.
"Om?" tanyaku seraya mengerjab-ngerj
Om Hadi nampak gelagapan dan dengan cepat menjauhkan tangannya dariku.
"Eh maaf ya, Om jadi bangunin kamu," ucapnya tak enak.
"Engh... iya gak apa-apa, tapi kok Om bisa ada di sini?" tanyaku bingung.
"Ya mau bagaimana lagi. Istri Om kabur dari rumah, jadi harus Om susul dong," sahutnya seraya memandangku lucu.
"Ish, Nuri gak kabur kok. Kan Nuri sudah kirim sms. Omnya aja sok sibuk, sampai gak balas pesan Nuri," sindirku.
"Maaf ya, Om memang sibuk banget akhir-akhir ini. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Om harap kamu mau mengerti," ucapnya seraya mengelus kepalaku.
"Iya. Om sudah makan?" tanyaku.
"Sudah kok, tadi sebelum ke sini," jawabnya.
"Oh iya, kamu tumben pakai baju tidur seperti ini," ucap Om Hadi seraya memperhatikan baju yang ku pakai.
Sebuah gaun tidur selutut dengan tali spageti, yang ternyata setelah ku perhatikan, talinya sudah sedikit turun ke bahu. Belum lagi bagian bawahnya yang juga sedikit tersingkap.
Aku yang tersadar, dengan cepat memperbaiki baju yang ku pakai. "Emh piyama Nuri, semuanya ada di rumah Om. Jadi Nuri pakai yang ada di lemari aja," sahutku malu.
"Kamu cantik dengan baju itu," pujinya yang membuatku tersipu.
"M-makasih Om," jawabku salah tingkah.
Om Hadi tiba-tiba mendekat, lalu berbisik pelan di telingaku. "Bolehkah, Om meminta hak Om malam ini?" tanyanya. Membuat tubuhku seketika menegang dan jantungku berdebar kencang. Apa yang harus aku katakan?
Bersambung.....
#Suami_Dadakan
#Bagian9
#Fiksi
"Engh, N-nuri belum siap Om," jawabku tertunduk.
Seketika suasana terasa hening. Om Hadi kembali menjauhkan dirinya dariku.
"Apa ini karena Romi?" tanyanya seraya memandangku lekat.
Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa.
"Tadi Bibik sudah menelpone ke kantor dan mengatakan Romi pulang ke rumah. Apa terjadi sesuatu saat Om tidak ada?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Sepertinya kamu masih mencintainya. Haruskah Om melepaskanmu," lirihnya.
Kali ini jantungku berdebar lebih cepat dibandingkan tadi. Ada rasa sedih yang menyusup mendengar ucapan Om Hadi. Bahkan tanpa ku sadari, air mataku sudah menetes membasahi pipi.
"Maaf, Om tidak bermaksud membuatmu sedih," ucapnya mengusap air mataku.
"Tidak, ini bukan salah Om. Nuri hanya --"
"Sudah, jangan dipikirkan. Lupakan saja, apa yang Om katakan tadi." Om Hadi memotong perkataanku dan membawaku ke pelukannya. Hangat dan nyaman seperti biasa.
"Om marah sama Nuri?" tanyaku hati-hati.
"Tidak, tapi maaf mungkin setelah ini kita harus sedikit menjaga jarak. Om ini pria dewasa, berdekatan denganmu tanpa bisa melakukan apa-apa, tentu cukup menyiksa."
Aku tertegun. Apa yang dikatakannya memang benar.
"Sudah malam, tidurlah." Om Hadi melepaskan pelukannya lalu merebahkanku kembali ke kasur.
"Selamat malam," ucapnya lalu berbaring membelakangiku.
Apa yang sudah ku lakukan? Aku membuatnya kecewa!
***
Kring. Kring. Kring. Alarm di atas nakas berbunyi. Ku lirik sudah jam lima pagi, aku pun bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Di rumahku peraturan tentang shalat cukup ketat. Bahkan setelah shalat jangan mimpi bisa tidur lagi. Ibu akan mengomel tiada henti.
Setelah berwudhu dan memakai mukena. Aku menghampiri Om Hadi dan membangunkannya
"Om bangun! Sudah subuh," ucapku seraya menggoyangkan lengannya yang tertutup baju.
"Engh, iya," sahutnya seraya membuka mata.
Sembari menunggu Om Hadi berwudhu, aku menggelar sajadah untuk kami berdua.
Seusai shalat, aku mencium punggung tangannya. Namun kali ini ada yang berbeda, dia tidak mencium keningku seperti biasanya.
Apa dia marah? Aku melirik dan memperhatikan wajahnya dengan seksama. Tampak biasa-biasa saja.
"Om Nuri tinggal ya. Mau ke dapur bantuin ibu masak," pamitku.
"Iya, pergilah," sahutnya.
***
Jam setengah tujuh pagi, kami semua pun berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Jangan heran, di rumahku sarapan memang sepagi ini.
"Nur ambilkan nasi untuk suamimu dulu," tegur ibu yang melihatku hanya mengisi piringku.
"Eh, i-iya," sahutku.
Aku mengambil piring kosong di hadapan Om Hadi lalu mengisinya dengan nasi.
"Ini, Om," ucapku menyerahkan piring tadi kepadanya.
"Iya, terimakasih."
Seusai makan, Bapak dan Om Hadi bersantai di ruang tamu. Sementara aku membantu ibu membereskan sisa sarapan tadi.
Saat sudah selesai dan hendak keluar, tiba-tiba Ibu mencegahku. "Nur," panggilnya.
"Iya Bu, kenapa?" tanyaku.
"Sampai sekarang, kamu masih memanggil suamimu Om?" tanyanya.
"Iya Bu, memangnya kenapa?"
"Apanya yang kenapa? Tentu saja aneh didengarnya. Sekarang kan dia sudah jadi suamimu, jadi jangan memanggilnya Om lagi!" ucap Ibu kesal.
"Terus Nuri panggil apa dong Bu?"
"Apa saja, yang penting jangan Om. Nanti orang-orang malah mengira kamu simpanan om-om lagi!" sungutnya.
"Iya, iya. Kalau begitu Nuri panggil Mas saja deh. Gimana?"
"Iya, itu juga boleh. Ya sudah, sekarang kamu bikinkan minum untuk suami dan bapakmu. Ibu mau keluar dulu."
"Iya," sahutku.
Setelah Ibu pergi, aku segera membuatkan kopi untuk Bapak dan Om Hadi, lalu mengantarkannya
"Silahkan diminum Pak," ucapku seraya meletakkan gelas di hadapan Bapak.
"Iya, makasih ya Nak," sahut Bapak.
Lalu aku meletakkan gelas yang satu lagi di hadapan Om Hadi. "Silahkan diminum M-mas," ucapku malu. Pasalnya aku belum terbiasa memanggilnya begitu.
Om Hadi sendiri langsung tersentak dan menatapku heran. Namun tak lama kemudian dia tersenyum. "Makasih ya," ucapnya lembut.
"Sama-sama," jawabku.
Aku melirik ke arah ibu yang saat ini tengah tersenyum senang. Dari dulu aku memang tak pernah bisa melawan perintahnya. Karena aku selalu teringat cerita bapak, tentang bagaimana sulitnya proses saat ibu melahirkanku. Bahkan sangking traumanya, bapak tidak mau ibu hami lagi. Jadilah aku anak semata wayang mereka.
Saat Bapak dan Mas Hadi sedang asik mengobrol, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Ibu memberi kode padaku untuk melihatnya.
Aku pun bergegas bangun dan membuka pintu. Tak disangka tamu itu adalah Romi. Ya, aku ingat, kemarin dia memang sempat bilang ingin ke rumahku dan meminta maaf pada Ibu dan Bapak. Hanya saja, rasanya ini bukan waktu yang tepat.
"Siapa Nur? Kok tidak disuruh masuk tamunya?" tanya Bapak yang melihatku berdiri kaku di depan pintu.
"I-iya Pak," sahutku.
Aku pun segera menyingkir dari pintu dan membiarkan Romi masuk.
Suasana di ruang tamu mendadak hening. Obrolan Bapak dan Mas Hadi sontak terhenti. Ibu bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya. Terlihat dari wajahnya yang berubah masam.
Romi duduk di samping papanya. Sementara aku memilih untuk duduk di samping ibuku.
"Maaf kalau saya mengganggu. Saya datang ke sini untuk meminta maaf pada Ibu dan Bapak, atas kesalahan saya, yang telah mempermalukan Nuri dan juga kalian. Saat itu ada keadaan mendesak yang mengharuskan saya pergi di hari pernikahan," ucap Romi membuka pembicaraan.
"Ya, semalam Papamu sudah menceritakan apa yang terjadi. Sebagai bapak, sebenarnya saya tidak bisa memaafkan kamu, tapi memandang hubungan Nuri dengan papamu saat ini. Maka walau sulit, saya akan berusaha memaafkanmu. Setelah ini saya harap, kamu tidak mengganggu Nuri lagi. Biarkan anak saya bahagia," sahut Bapak.
Romi tertunduk dalam mendengar jawaban Bapak.
"Baiklah kalau begitu saya permisi," ucap Romi seraya bangkit menyalami Bapak dan Ibuku. Terakhir dia menyalami papanya dan meminta maaf.
"Maafin Romi Pa," lirihnya.
"Iya," sahut Mas Hadi seraya menepuk pelan punggung anaknya.
Setelah Romi pergi, Mas Hadi akhirnya buka suara. "Sebagai papanya Romi, sekali lagi saya meminta maaf Pak, Bu," ucap Mas Hadi nampak tak enak.
"Tidak apa-apa Di. Saya dan istri saya tidak pernah menyalahkan kamu. Apa yang terjadi itu murni karena kesalahan Romi," sahut bapak bijak, yang diangguki juga oleh ibu.
Setelah pembicaraan selesai. Aku dan Mas Hadi berpamitan pulang pada ibu dan bapak. Karena besok aku sudah masuk kuliah dan Mas Hadi juga harus ke kantor.
***
Sesampainya di rumah. Aku dan Mas Hadi langsung masuk ke kamar dan berganti baju. Melihat Mas Hadi yang diam saja sejak tadi. Aku sontak diliputi perasaan bersalah. Ini pasti karena kejadian semalam. Ah, aku jadi menyesal karena menolaknya tanpa berpikir panjang.
Lalu sebuah ide terbesit di benakku. Aku pun turun dan menghampiri Bik Sum.
"Bik," panggilku pada Bik Sum yang tengah menyapu.
"Iya Nyonya ada apa?" sahutnya.
"Bibik tahu tidak kue kesukaan Mas Hadi?" tanyaku.
"Tahu Nyonya. Tuan itu sukanya kue basah," jawab Bik Sum.
"Emh, kalau begitu bantuin Nuri dong Bik. Nuri mau bikinin kue untuk Mas Hadi," pintaku.
"Boleh Nyonya. Ayo sekarang kita ke dapur!" ajaknya.
Aku tersenyum dan mengikuti Bik Sum.
Empat puluh lima menit kemudian, kue putri ayu buatanku pun matang.
"Alhamdulillah,
"Sama-sama Nyonya. Saya juga senang bisa membantu. Dulu saat almarhumah Nyonya Salma masih hidup, beliau juga suka bikinin kue untuk Pak Hadi."
"Ya sudah, kalau begitu Nuri ke atas dulu ya Bik. Mau mengantar kue sama teh ini untuk Mas Hadi," pamitku.
"Iya Nyonya, silahkan."
***
Aku membuka pintu perlahan dan melihat Mas Hadi tengah sibuk dengan laptopnya.
"Mas, ini Nuri bikinkan teh sama kue," ucapku seraya meletakkan nampan di atas nakas.
"Eh, iya makasih," jawabnya seraya mengalihkan perhatiannya padaku. "Oh iya kok tiba-tiba sekarang memanggil Mas," tanyanya ingin tahu.
"Eh, itu ibu yang suruh. Mas tidak suka?" tanyaku.
"Siapa bilang? Mas suka kok. Kedengarannya lebih mesra," ucapnya tersenyum.
Melihatnya yang tersenyum seperti itu, aku memberanikan diri untuk bicara. "Maaf ya Mas untuk yang semalam. Nuri salah karena sudah menolak, tapi malam ini Nuri janji akan menjalankan kewajiban sebagai seorang istri," ucapku yakin.
"Kamu yakin?" tanyanya seraya memandangku lekat.
Aku menganggukkan kepalaku mantap. Setelah kedatangan Romi tadi pagi. Aku merasa sebuah beban besar di hatiku terangkat. Kini aku tidak ragu lagi untuk menjalani hidupku bersama Mas Hadi.
"Kalau begitu, bisakah kita tidak menunggu sampai malam?" tanyanya penuh arti.
"M-maksudnya ... sekarang?" tanyaku gelagapan.
Tanpa menjawab pertanyaanku. Mas Hadi bergegas berjalan ke arah pintu lalu menguncinya rapat.
Setelah itu dia kembali menghampiriku yang masih berdiri kaku di tempat tadi.
"Mari kita mulai," ajaknya tiba-tiba menggendongku ke atas ranjang.
Aku memejamkan mata dan mencoba memasrahkan diriku pada suamiku.
Skip.
"Terimakasih Sayang, karena menjadikan Mas pria pertama yang menyentuhmu." Mas Hadi menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi.
Aku mengangguk malu dengan pipi yang memanas. "Iya, Mas."
"Kamu tidak menyesal kan?" tanyanya seraya mengelus rambutku yang berantakan.
Aku menggeleng pelan. "Tidak kok," jawabku.
Bagaimana mungkin aku menyesal, saat dia memperlakukan dengan begitu lembut. Terlebih melihat wajahnya yang begitu bahagia. Rasanya ada kebanggaan tersendiri bagiku.
"Mas Nuri mau mandi. Gerah nih," rengekku pada Mas Hadi yang sejak tadi masih betah memelukku.
"Sebentar lagi," sahutnya.
"Dari tadi sebentar terus," sindirku.
Mas Hadi terkekeh dan malah semakin mengeratkan pelukannya. Namun tak lama, tiba-tiba handphonenya yang ditaruh di atas nakas terdengar berbunyi.
"Mas ada yang nelpon tuh," ucapku.
"Biarkan saja," jawabnya.
"Angkat dulu Mas, siapa tahu penting."
"Ck, iya, iya." Mas Hadi bergerak malas dan mengangkat telponnya.
Entah siapa yang menelpon, tapi wajah Mas Hadi tiba-tiba berubah kesal.
Bersambung....
#Suami_Dadakan
#Bagian10
#Fiksi
"Siapa Mas?" tanyaku saat telponnya sudah dimatikan.
"Pak Gunawan, ayahnya Sindy. Mas lupa kalau masalah Romi belum selesai," jawabnya seraya memijit pangkal hidungnya.
"Tadi Pak Gunawan bilang apa?"
Mas Hadi menghela napas panjang. "Dia meminta Mas ke rumahnya dan membicarakan kelanjutan hubungan Romi dan Sindy."
"Hmm, begitu. Ya sudah, pergi saja Mas," usulku.
"Iya, mau bagaimana lagi! Padahal Mas masih ingin melanjutkan yang tadi," ucapnya seraya memandangku penuh arti.
"Apaan sih Mas." Aku memalingkan wajahku yang merona.
Mas Hadi tersenyum dan kembali mendekatiku.
"Mas, mau ngapain? Ingat loh sudah ditunggu Pak Gunawan," ingatku.
"Mas tahu kok. Orang Mas cuma mau menggendong kamu ke kamar mandi. Kamu nih suudzon aja sama suami ," ucapnya seraya memandangku geli. Aku jadi malu sendiri.
Setelah menurunkanku di kamar mandi, dia kembali menggodaku. "Mau Mas temanin tidak?"
"Enggak! Nuri mau mandi sendiri!" sergahku cepat.
"Hahaha. Ya, sudah kalau begitu Mas mandi di kamar Romi saja," ucapnya seraya keluar dari kamar mandi.
***
Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku duduk di pinggiran ranjang. Memperhatikan Mas Hadi yang sedang memakai kemejanya dengan tergesa.
"Ck, timpang lagi," decaknya kesal, karena harus mengulang lagi dari awal.
Aku tersenyum lucu. Seperti bukan Om Hadi saja, fikirku.
"Kenapa sih Mas buru-buru banget? Tadi aja pas ditelpon kesal," tanyaku heran.
"Mas itu mau cepat-cepat menyelesaikan masalah Romi. Biar bisa cepat pulang ke rumah," jawabnya cepat.
"Memangnya Mas mau ngapain di rumah?"
"Ah, kamu kayak gak paham aja," ucapnya seraya menaik-turunkan
"Oh, kerjaan Mas tadi belum kelar ya," tebakku. Pasalnya saat aku masuk ke kamar tadi Mas Hadi sedang sibuk dengan laptopnya.
"Ck, bukan itu. Sini Mas bisikin," ucapnya seraya mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"..........."
Setelah Mas Hadi menjauhkan tubuhnya, aku menunduk dengan wajah yang sangat malu. Namun tak lama aku tersentak karena teringat sesuatu.
"Mas, N-nuri belum mau punya anak," ucapku takut-takut.
Mas Hadi nampak terkejut.
"Kamu serius?" tanyanya tak percaya.
"Iya," jawabku seraya mengangguk mantap.
"Tapi kenapa?"
"Nuri belum siap untuk menjadi ibu Mas. Selain karena umur yang masih muda. Kuliah Nuri juga masih panjang."
"Lalu kapan kamu siap?"
"Setelah wisuda. Nuri harap, kali ini Mas mau mengerti."
"Oke, tapi kamu berjanji kan, setelah wisuda kamu siap untuk memiliki anak?"
"I-iya."
"Mas hanya tidak mau kamu membuat alasan baru, dengan mengatakan ingin bekerja nanti," ucapnya tegas.
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan ucapannya.
"Umur Mas sudah tidak muda lagi. Karena itu Mas sangat ingin memiliki anak dalam waktu dekat, tapi kalau kamu memang belum siap. Mas tidak bisa memaksa."
"Iya, makasih Mas atas pengertiannya,"
"Ya sudah, kalau begitu Mas pergi dulu," pamitnya seraya mengecup keningku.
"Iya, Nuri antarin ya ke bawah," ucapku seraya hendak berdiri.
"Tidak usah, kamu di sini saja. Istirahat. Lagipula jalan kayak pinguin gitu kapan sampainya," ledeknya padaku.
"Mas!" Aku melemparkan sebuah bantal ke arahnya. Kesal dengan ledekannya. Memang benar sih, tadi saat keluar dari kamar mandi, aku berjalan seperti pinguin, tapi itu karena ulah siapa coba!
"Maaf, Mas cuma bercanda," ucapnya seraya mengembalikan bantal yang ku lempar tadi.
"Jangan cemberut, nanti cantikmu hilang," ucapnya seraya menjawil daguku.
Tiba-tiba handphone di kantongnya kembali berbunyi.
"Ya ampun! Mas lupa kalau sudah ditunggu. Mas berangkat sekarang ya."
"Iya hati-hati di jalan."
Huft. Sepertinya setelah ini, masih banyak lagi hal yang akan kami perdebatkan.
Setelah Mas Hadi pergi, aku mengambil laptopku yang berada di atas rak buku dan melanjutkan tugasku yang kemarin belum selesai.
Aku mengambil kuliah jurusan ekonomi management atas keinginan bapak. Beliau sangat ingin melihatku diwisuda dan menyandang gelar Sarjana. Sebagai anak satu-satunya sebisa mungkin aku berusaha untuk mewujudkan impiannya.
***
Sekitar jam satu siang, samar-samar aku mendengar suara deru mobil memasuki halaman. Aku menengok ke arah jendela, benar saja itu mobil Mas Hadi.
Aku mencoba melangkah pelan dan menuruni tangga satu persatu. Ketika sampai di bawah aku dibuat terkejut, karena bukan hanya Mas Hadi yang datang, tapi juga ada Romi, Tante Helma dan Sindy! Wanita itu menggandeng lengan Romi mesra.
Tidak tahu malu! Rutukku dalam hati. Aku jadi menyesali keputusanku untuk turun. Kalau tahu begini, lebih baik aku tetap di kamar.
Mas Hadi menghampiriku yang masih berdiri di bawah tangga. "Hey, ngapain turun? Memangnya sudah tidak sakit?" tanyanya perhatian.
Aku memaksakan sebuah senyum. "Masih," ringisku pelan.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita bersantai di halaman belakang saja dulu ya."
"Terus mereka bagaimana?" tanyaku melirik ke arah Romi dan yang lain.
"Ya ditinggal saja. Lagipula sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi kok. Yuk! Kita pamit dulu pada mereka," ajaknya.
Aku mengangguk dan mengikuti Mas Hadi menghampiri mereka.
"Hel, Mas tinggal dulu ya. Kalau kamu mau istirahat, langsung saja ke kamar tamu di atas. Kamu juga Rom, bawa Sindy ke kamar kalian, siapa tahu dia lelah," ucap Mas Hadi pada Tante Helma dan Romi.
"Iya, Mas."
"Iya, Pa." Jawab mereka hampir bersamaan.
Setelah itu Mas Hadi menggandengku pergi ke halaman belakang.
***
"Maaf ya, mulai sekarang Sindy akan tinggal bersama kita," ucapnya saat kami sudah duduk di teras belakang.
Aku diam saja, karena walau tidak suka, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu marah sama Mas?" tanyanya seraya menggenggam tanganku.
Aku menggeleng pelan. "Enggak," jawabku pelan.
"Terus kenapa diam, hmm?"
"Nuri gak tahu harus ngomong apa," jawabku jujur.
"Kamu tenang saja. Ini tidak akan lama kok. Nanti kalau Romi sudah bisa mandiri, mereka akan pindah ke rumah sendiri," ucapnya menenangkanku.
"Iya."
"Kalau tidak, begini saja. Kita pindah ke kamar bawah. Jadi kamar kita tidak perlu berdekatan dengan mereka," tawarnya.
Aku berpikir dan teringat tentang kamar yang dimaksud Mas Hadi. Itu adalah kamarnya dengan almarhumah istri pertamanya dulu.
"Memangnya tidak apa-apa, Nuri menempati kamar itu?" tanyaku ragu.
"Tidak apa-apa kok. Kalau kamu setuju, Mas akan minta Bik Sum dan Lala untuk membersihkan kamar itu sekarang."
"Baiklah, Nuri setuju."
"Oke, kalau begitu Mas tinggal dulu ya."
"Iya."
Jujur, sebenarnya aku merasa tidak enak menempati kamar itu. Namun karena situasinya seperti ini, aku juga tidak punya pilihan lain kan.
***
Saat sedang menunggu Mas Hadi. Aku dikejutkan dengan kedatangan Tante Helma yang tiba-tiba duduk di sebelahku.
"Hebat ya kamu," ucapnya dengan nada menyindirku.
"Hebat kenapa ya Tan?" tanyaku tak mengerti.
"Hebat dalam mengambil hati laki-laki. Tidak Romi, tidak Mas Hadi. Keduanya dengan mudah kamu kuasai."
"Maksud Tante apa? Kenapa tiba-tiba menuduh saya seperti itu?" tanyaku mulai tersulut emosi.
"Tidak usah berpura-pura polos lah. Belum lama menjadi istrinya Mas Hadi saja kamu sudah berani menempati kamar almarhumah Kakakku. Setelah ini apa? Kamu ingin balik nama rumah ini juga?" tuduhnya sadis.
Astaghfirullah hal'adzhiim. Aku mengucap istighfar di dalam hati.
"Maaf ya Tan, tapi saya gak ada niat tuh untuk menguasai rumah ini. Lagipula Mas Hadi sendiri yang mengusulkan untuk pindah ke kamar itu," sahutku kesal.
"Cih, kamu pikir saya tidak tahu. Mas Hadi melakukan itu juga pasti karena bujukanmu. Ternyata benar dugaan saya, kamu mau dinikahi Mas Hadi pasti karena hartanya kan."
"Cukup!" teriakku keras. "Tante jangan menuduh sembarangan. Saya tidak pernah menginginkan hartanya Mas Hadi. Orang tua saya juga orang yang mampu kok," jelasku berapi-api.
"Kalau begitu tinggalkan Mas Hadi! Buktikan kalau kamu memang tidak tertarik pada hartanya," ucapnya seraya menatap mataku tajam.
Belum sempat aku menjawab perkataannya. Mas Hadi tiba-tiba datang dan lebih dulu menyela. "Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya seraya menatap kami bergantian.
"Tidak ada apa-apa kok Mas. Aku hanya menyapa Nuri. Waktu itu saat ke sini, aku kan belum sempat bicara dengannya," jawabnya tiba-tiba berubah ramah.
Dasar Rubah! cibirku dalam hati.
"Benar begitu Nur?" tanya Mas Hadi padaku.
"Tidak," jawabku seraya menggelengkan kepala. Wajah Tante Helma nampak terkejut mendengar jawabanku. Kalau dia berfikir aku akan diam saja dan menerima semua hinaannya, dia salah besar. Aku Nurinda Syahila tidak pernah diajarkan begitu. Selagi aku benar, aku tidak boleh takut. Itulah yang selalu dikatakan bapak padaku.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Mas Hadi nampak tak sabar.
"Tante Helma, menuduh Nuri ingin menguasai rumah ini dan juga harta Mas," ungkapku kesal.
Mas Hadi langsung melirik tajam pada Tante Helma. "Benar itu Hel?" tanya Mas Hadi memastikan.
"Iya, itu benar," jawabnya lantang. "Aku tidak suka dan tidak terima, gadis ini menempati kamar Almarhumah Mbak Salma! Lagipula kamu pikir deh Mas, kenapa gadis muda seperti dia mau menjadi istri kamu, kalau bukan karena harta!" tudingnya.
"Hel, Nuri sekarang adalah istriku. Jadi dia berhak menempati kamar itu. Satu lagi, jangan menuduhnya yang tidak-tidak! Dia bukan wanita yang gila harta. Mas tahu betul itu."
"Oh ya? Memangnya sudah berapa lama Mas mengenalnya? Apa lebih lama dibandingkan aku?" tanyanya sangsi.
Mas Hadi memalingkan wajahnya dan menghembuskan napas kesal. "Cukup Hel, Mas tidak mau berdebat. Jika kamu sudah tidak ada kepentingan lagi. Silahkan pulang."
"Apa? Aku tidak salah dengar? Mas mengusirku hanya karena gadis ini!" pekiknya marah.
"Mas tidak mengusirmu, tapi jika kamu masih ingin berada di sini, perbaiki sikapmu. Terlebih pada istriku," ucap Mas Hadi tegas.
"Nur, ayo kita ke dalam. Sepertinya Bibik sudah hampir selesai membersihkan kamar kita," ajaknya seraya menggandengku.
Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam. Besok entah apa lagi yang akan terjadi di rumah ini.
Bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar