Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Kamis, 16 Januari 2020

#Pernikahan_Rahasia 11- 15 (end)

Part 11
#Pernikahan_Rahasia, by Ummuna Fatharani
#Fiksi

Dengan gontai aku langkahkan kakiku menuju rooftop. Setidaknya tidak ada orang disana, itu pikirku. Ingin rasanya aku pergi sejauh mungkin, tapi kemana? Kalau aku sekarang di Jakarta, sudah pasti ada tempat yang akan aku tuju. Tempat dimana sekarang Ribby tinggal adalah tempat yang menjadi favoritku jika lagi dirundung masalah. Tapi sekarang, bukan masalah yang datang namun serasa bencana yang menghantamku bulat-bulat.
“Aaaaaaaaaa….,” teriakku sekuat-kuatnya berharap beban yang aku rasakan sedikit berkurang. Karena keegoisanku, dulu aku bersikeras hendak menikahi Maya. Seutuhnya aku ingin dia jadi milikku, setelah itu aku dapatkan justru kini Maya yang tidak mengharapkanku. Dikarenakan……ah tak sanggup lagi rasanya menyebutkan masalah serius yang ada padaku.
Berulang kali aku mondar-mandir memikirkan jalan terbaik yang harus aku lakukan. Kubuang nafas dengan kasar, kuacak-acak muka dan rambutku. Berteriak lagi, saat otak rasanya tak bisa diajak kompromi kali ini.
Sejenak aku berhenti dari kegiatan mondar-mandirku, kutarik nafas den membuang lewat mulut berharap gemuruh didada sedikit berkurang, tak lupa kalimat istighfar aku bisikkan, takut setan kembali menguasai diriku.
Setelah hatiku terasa tenang, aku selonjoran sambil bersandar didinding pagar pembatas. Kuambil hp yang tadi masih sempat aku bawa. Ku pilih satu nomor yang sebenar nya tidak ingin aku hubungi selama ini. Tersambung, tak lama ada suara dari ujung sana. Setelah aku utarakan maksud dan tujuanku, dia pun mau menemuiku lusa setelah aku kembali ke Jakarta, Rafless kafe adalah tempat janjian yang aku pilih.
“Hufft….,” kubuang nafas sembari menata hatiku kembali berharap ini adalah jalan dan solusi terbaik yang aku ambil. Setelah memastikan emosiku stabil dan detak jantung kembali normal, kulangkahkan kaki meninggalkan tempat yang bersyukur hanya ada aku sendiri.
Ku buka pintu kamar, ditempat yang sama kulihat Maya masih duduk diam. Tapi kulihatnya wajahnya basah oleh air mata. Segera aku dekati Maya sambil menyampirkan selimut ditubuhnya yang nyaris…. Entahlah karena aku pun sudah tak ingin melihatnya.
“Mas..,” terdengar suara Maya bergetar menegurku sembari melirikku.
“Kamu akan masuk angin dengan hanya memakai itu,” jawabku pendek.
“Mas aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu,” kulihat air matanya kembali mengalir.
“Sudahlah, gak ada yang perlu dimaafkan. Karena memang begitu adanya diriku,” jawabku berjalan menjauh darinya.
“Mas,…..,” kata-katanya tertelan oleh tangisnya yang kembali pecah. Aku mulai memahami perasaannya, mungkin selama ini Maya tertekan menikah denganku. Sekalinya berusaha mengambil hatiku kembali, tanpa sengaja kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Biarlah, tanpa dia minta maaf pun aku sudah memaafkannya.
“Sudahlah, tak ada yang perlu ditangisi. Sekarang aku sadar, sungguh berat bagimu untuk menjadi istriku selama ini. Jadi untuk membebaskanmu...,” kutarik nafas sejenak untuk kembali memantapkan hati. “Aku jatuhkan talak padamu dan sekarang kamu bukan istriku lagi,” dengan tenang kata-kata talakku aku ucapkan setelah memikirkannya masak-masak.
“Mas…,” Maya menggeleng diantara isak tangisnya yang masih terdengar “Jangan lakukan itu mas, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf,” kali ini Maya yang terlihat histeris dengan ucapanku.
“Untuk apa lagi kita pertahankan pernikahan ini, kalau aku sebagai suamimu sama sekali tidak diinginkan. Aku tidak tahu apakah selama ini aku berdosa telah memaksakan pernikahan ini, dan membuatmu tersiksa didalamnya,” dengan tenang kata-kata itu keluar seolah ada yang menuntutku untuk mengucapkannya.
“Tapi mas aku….,” tak satu pun perkataan Maya selesai dia ucapkan, tapi aku senang bisa menyelesaikan apa yang ingin aku sampaikan.
“Besok pagi baliklah ke Jakarta, tunggu aku dirumah biar aku yang menjelaskan semua pada Papa dan Mama juga pada orang tuamu,” kubereskan semua perlengkapanku dalam satu koper. “Sekarang tidurlah di kamar ini, aku akan ambil kamar lain, lusa setelah pekerjaanku selesai aku akan menemuimu dirumah,” kutarik koperku keluar kamar, tak ada bantahan lagi dari Maya, kecuali raungan tangisnya yang ku dengar.
Kulepaskan semua derita dari pernikahan karena keegoisanku selama ini, kuharap emosi dan kesakitan yang terjadi dikamar ini tidak ikut kembali ke Jakarta. Semoga hanya kebahagiaan yang akan menunggu kami berdua setelah ini.
*****
“Bisma apa benar yang Maya katakan?,” Papa menodongku dengan pertanyaan saat kakiku baru melangkah melewati pintu. Disana sudah berkumpul kedua orang tua kami, juga Maya yang terlihat menunduk dan tak berani menatap kedatanganku. Sejenak aku tarik nafas dalam dan membuang perlahan.
“Mungkin itu yang terbaik buat kami Pah ,”
“Apa sebenarnya masalah yang terjadi diantara kalian?,” Tanya Papa lagi mengharapkan jawaban yang jelas dariku.
“Tidak hanya Maya, siapa pun orangnya mungkin akan sulit menerima kondisiku Pah, jadi lebih baik seperti ini,” jawabanku langsung dimengerti Papa juga yang lain, tampak wajah pias dari mereka masing-masing, satu pun tak ada yang berani berkomentar lagi, mungkin takut menyinggung perasaanku. Perlahan Mama mendekat dan mengelus pelan lenganku. Kutatap wanita tangguhku selama ini, kelemparkan senyuman menyiratkan kalau aku baik-baik saja.
“Tapi kamu bilang kamu mencintai Maya?,” Papa berkomentar seakan bertanya apa benar ini keputusan yang tepat untukku.
“Karena aku mencintainya makanya aku pilih jalan ini. Berpisah adalah jalan satu-satunya Pah,” kutarik nafas sejenak. “Seharusnya dari awal aku tidak bersikeras pada Papa untuk menikah dengan Maya, sampai Papa harus menjadikan Maya syarat untuk membantu perusahaan Om Danu,” semua membelalakkan mata, kaget mendengar penuturanku. Mungkin mereka tidak tahu kalau aku sudah mengetahuinya sejak satu bulan pernikahanku dengan Maya.
“Mas..,” kembali hanya itu yang bisa Maya ucapkan, mungkin sadar kenapa dia tidak mau jujur dari awal padaku.
“Sudahlah, aku mohon semuanya bisa menerima keputusannku,” kataku masih dengan posisi berdiri menatap semua yang hanya bisa menunduk.
“Dengan aku berpisah dengan Maya, mungkin Maya akan bahagia bersama laki-laki yang dia cintai,” kataku berbalik kearah pintu. “Irgi masuk,” panggilku pada Irgi yang aku ajak sekalian setelah pertemuan kami tadi di rafless café.
Untuk kedua kalinya mereka kaget dengan kata-kata yang aku lontarkan. Terutama Maya, dia sampai berdiri saking kagetnya saat aku menyebut nama Irgi.
“Mas, dari mana kamu tahu tentang aku dan Irgi?,” kali ini kalimat Maya terucap sempurna.
“Tak terlalu sulit bagiku mencari tahu semuanya Maya. Kalau kamu mencintai Irgi, dan tidak mencintaiku lagi untuk apa kamu mau menikah denganku? Bodoh,” kataku kembali membuat Maya tertunduk saat Irgi sudah berdiri disampingku.
“Kembalilah pada Irgi, dia masih mencintaimu dan masih menunggumu sampai sekarang,” kataku membuat Maya menatapku tidak percaya. Begitu juga dengan kedua orang tua kami.
“Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu Maya, dan untuk Papa aku mohon jangan tarik lagi dana yang Papa berikan pada Om Danu. Lakukanlah dengan ikhlas sekarang Pah, tanpa syarat apapun,” tanpa menunggu komentar aku berlalu berniat segera kekamar.
“Mas…,” panggil Maya membuatku berhenti dan berbalik, kulihat dia mendekat kearahku.
“Terimakasih Mas,” katanya dengan wajah terharu sambil mencium tanganku, terlihat dari sorot matanya bahwa ini kebahagian yang dia cari selama ini.
“Berbahagialah mulai sekarang,” jawabku menyambut tangannya sambil mengacak pelan rambutnya.
“Gi, bahagiakan Maya untukku ya,” selorohku, Irgi yang dari tadi berdiri dan banyak diam juga mendekat dan menyalamiku sembari mengucapkan terimakasih.
Setelah aku melanjutkan langkahku, kudengar pembicaraan kecil antara Papa dan Om Danu, tapi sudah tidak aku perdulikan lagi. Tak lama Maya dan keluarganya pun pergi.
Paginya, seperti biasa aku kembali menjalani rutinitasku seperti semula. Tidak terlalu membekas dihatiku dengan tidak adanya lagi Maya di rumah ini. Urusan perceraian semua sudah aku serahkan pada pengacara. Orang kepercayaan Papa yang selama ini mengurus segala sesuatu yang menyangkut hukum, baik urusan keluarga maupun perusahaan.
Dengan wajah ceria aku turun kebawah untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor. Disana sudah menunggu Papa juga Mama. Sejak kemaren mereka tidak banyak komentar melihatku.
“Apa kamu benar baik-baik saja nak,” Tanya Mama setelah aku duduk dikursi yang ada didepan Mama.
“Iya Mama, aku baik-baik saja, Mama gak usah khawatir ya,” jawabku sambil tersenyum.
“Apa yang membuat pikiranmu berubah drastis begitu, Bisma?,” Papa ikut-ikutan seolah mencemaskanku.
“Karena aku rasa ini yang terbaik Pah? Terimakasih Papa udah berusaha memberikan yang terbaik untukku, tapi maafkan aku karena sudah mengacaukan semuanya,” jawabku menatap Papa, kulihat Papa hanya menarik nafas berat. Tak mau berlama-lama aku putuskan berangkat duluan, meninggalkan Mama dan Papa yang masih tidak percaya melihatku anteng-anteng saja setelah bercerai dengan wanita yang mereka tahu sangat aku cintai.
*****
Aku lajukan mobilku sepulang kantor menuju ke tempat istri dari pernikahan rahasiaku. Sudah hampir dua minggu lebih aku tidak bertemu dengannya. Hanya kerinduan yang menjadi modal untukku segera menemuinya. Suasana senja yang mulai menyapa menemani perjalananku menuju salah satu rumah dibawah kaki gunung salak itu.
“Apa aku harus memberi tahu Ribby tentang pernikahan dan perceraianku dengan Maya?,” aku bergumam sambari terus fokus menyetir.
“Tapi bagaimana kalau nanti dia marah, aku menikah dan tidak memberi tahunya,” kembali bathinku bertanya-tanya.
“Atau aku diamkan saja tak usah memberi tahunya,”?
“Ribby juga belum tahu kondisiku yang sebenarnya, kalau aku beri tahu apa dia masih mau menerimaku sebagai suaminya?,” selesai permasalahan dengan Maya , kini hatiku kembali dipenuhi dengan kekhawatiran baru.
Kuparkir mobil saat adzan maghrib akan berkumandang, dari depan rumah berdiri Ribby menatap kedatanganku dengan senyum. Mbok Irah yang hendak mengunci pintu urung dia lakukan. Dengan mukena lengkap, aku tahu sepertinya mereka akan sholat maghrib dimesjid. Kulangkahkan kaki mendekati mereka sambil senyum menghias bibir.
“Mas, kok kesini gak bilang-bilang,” meski kaget namun Ribby tak bisa menyembunyikan rasa senangnya akan kedatanganku.
“Mendadak pengen datang,” jawabku berbohong, malu rasanya jujur bilang kangen padanya dihadapan Si Mbok. “Mau ke masjid ya?,” tanyaku kemudian.
“Iya mas, yuk sekalian Mas,” ajak Mbok Irah.
“Aduh Mbok aku belum bersih-bersih, Mbok ama Ribby aja deh, biar aku yang dirumah,” tolakku mengingat aku yang dari kantor langsung meluncur kesini.
“Ya udah kalo begitu, yuk Neng,” ajak Mbok Irah dan diikuti Ribby setelah pamit padaku.
Selesai mandi dan sholat, terasa perut mulai meronta ingin diisi. Kulihat lemari tempat biasa Mbok menyimpan makanan, kosong. Kubuka kulkas, penuh, tapi malas rasanya memasak dulu saat perut sudah tak bisa diajak kompromi.
Kukunci pintu hendak membeli makan malam, sengaja aku lewat masjid kalau-kalau nanti Ribby dan Mbok Irah sudah mau pulang, kan kunci rumah ada padaku. Syukur-syukur mereka mau ikut nanti, kataku sendiri setelah mulai mengarahkan mobilku kejalanan masjid.
Setengah jalan, dari jauh aku melihat Ribby dan Si Mbok berjalan beriringan. Dengan senyum aku berhenti dan menurunkan kaca mobil agar mereka melihat keberadaanku.
“Mas Bisma mau kemana?,” Tanya si Mbok dari seberang jalan.
“Hehe..mau cari makan Mbok, lapar,” jawabku nyengir, kulihat Ribby ikut tertawa melihat tingkahku. “Ya udah yuk, ikut aku. Kita cari makan bareng,” ajakku agar mereka menyeberang jalan.
“Gak usah mas, ini aku udah beliin sate kesukaan Mas,” jawab Ribby sambil mengangkat tentengan yang dari tadi tersembunyi di balik mukenanya.
“Waaah, kalo begitu kita balik aja lagi, yuk,” kataku bersyukur, karena Ribby paling tahu apa yang aku mau.
Sebungkus sate kambing dengan cepat berpindah tempat ke perutku, membuat cacing-cacing disana berhenti meronta. Ditemani Ribby dan Mbok Irah membuat makan malam makin terasa sempurna.
Mbok Irah sudah masuk kamar, entah mau tidur atau emang sengaja meninggalkan aku dan Ribby berdua diruang tamu. Sadar kami tinggal berdua membuat Ribby sedikit gugup, aku pun bingung mau bahas apa sampai akhirnya Ribby izin untuk tidur.
Ku acak-acak rambutku yang mendadak bego, susah rasanya mencari alasan agar dia mau menemaniku ngobrol lebih lama. Sambil mengutuk diri sendiri, akupun masuk kamar. Namun bukannya tidur aku mondar-mandir gak karuan, bingung mencari alasan lain agar Ribby kembali menemaniku.
Kuambil gawaiku yang dari maghrib tidak aku sentuh, kukirim pesan pada Ribby menanyakan apa dia sudah tidur atau belum. Geli rasanya mengingat dia hanya berada dikamar sebelah. Saat dia menjawab belum, aku pun minta tolong untuk dibikinin kopi padanya.
Saat dia mengantarkannya kekamarku, kuminta dia kembali menemaniku saat aku bilang mataku belum bisa tidur. Dengan senang hati dia ikut duduk dipinggir kasur denganku.
“Terimakasih masih mau menemani Mas,”
“Ada apa Mas?,” jawab Ribby tersenyum, kali ini tidak ada lagi gurat ketakutan diwajahnya.
“Ada yang mau mas omongin sama kamu,”
“Bicaralah, aku dengarkan…,” balasnya dengan senyuman masih menghias wajahnya.
“Sebelumnya Mas mau minta maaf, karena tidak memberi tahumu dari dulu, tapi sebenarnya…,” perlahan kembali ada keraguan dihatiku untuk memberi tahunya tentang pernikahanku dengan Maya.
“Sebenarnya Mas sudah menikah, Mbak Maya, wanita yang Mas katakan waktu itu padaku. Itukan yang mau Mas bilang,” aku tersentak kaget, dari mana Ribby tahu tentang Maya, namun lebih kaget lagi karena tidak ada kesedihan dimatanya. Senyum manisnya membuatku melongo tanpa bisa berkata-kata.
“Ya Tuhan, makhluk apa yang sebenarnya didepanku ini,” kembali aku mengagungkan nama Tuhan melihat begitu polos dan ikhlasnya dia.
“Meskipun terlambat, tapi selamat ya Mas,” dia kembali tersenyum seolah ikut merasakan kebahagian dan memaknai dari sebuah kata pernikahan. Kembali aku dibuat bingung olehnya, tak ada kecewa apalagi marah.
“Terimakasih,” jawabku dingin, kontras dari wajahnya yang sumringah ,”Tapi kini kami sudah bercerai,” Ribby melotot dengan mulut menganga, seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Kok? Kenapa mas?,” tanyanya penasaran dengan wajah ikut sendu.
“Ada satu lagi yang aku rahasiakan padamu Ribby, dan mungkin setelah ini kamu juga akan menolakku,”
“Mas ngomong apa sih, aku gak ngerti?,”
“Perceraian terjadi karena aku tidak bisa memberikannya keturunan,”
“Maksudnya Mas….,” Ribby tak melanjutkan ucapannya, mungkin takut aku tersinggung.
“Ya kata dokter aku….,” tak kulanjutkan perkataanku saat kulihat Ribby mengelus perut datarnya. Baru aku ingat ini sudah hampir sepuluh bulan sejak pertemuan kami, tapi tidak terjadi apa-apa pada Ribby. Membuatku makin yakin dengan kondisiku.
“Kamu hamil?,” tanyaku memastikan. Ribby menggeleng dengan wajah sendu.
“apa kamu masih mau menjadi istriku?,” kulihat Ribby menghela nafas, diamnya Ribby membuat ada sedikit kekhawatiran diwajahku.
“Gak ada alasan untukku mengorbankan pernikahan kita Mas, aku seorang istri. Istri sahmu dihadapan Allah. Kalau memang sekarang Mas sakit, udah sewajarnya aku sebagai istri mendukungmu. Aku tidak mau meninggalkan mas, meskipun mas dalam kondisi seperti sekarang. tapi sangat aku sesalkan mengapa perceraian harus terjadi antara Mas dan Mbak Maya?,”
“Maya, tidak sekuat dan setegar kamu Ribby. Sulit baginya menerima kekurangan Mas,”
“Yang sabar ya Mas, Mas gak boleh patah semangat. Kalau Tuhan sudah berkehendak apapun bisa terjadi Mas ,“
“Terimakasih Ribby, sudah mau menerima kekurangan suamimu ini,” kuraih kepala Ribby dan membawanya kedalam pelukanku. Aku bahagia tidak ada penolakan dari Ribby. Perkataan Ribby seolah mengembalikan semangat dan kepercayaan diriku. Tak akan aku sia-siakan lagi kamu, wahai istriku, tekadku dalam hati.

❄️❄️❄️❄️
Bersambung…
Part 12
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi
PoV Ribby.
Melihat Mas Bisma tergugup sekaligus kaget, aku tahu kalau tebakanku benar tentang apa yang ingin dia beri tahukan padaku. Tapi meskipun begitu sama sekali aku tidak sakit hati dengan pernikahannya. Aku turut bahagia untuknya. Aku berpikir untuk seorang pebisnis sukses seperti Mas Bisma tidak mungkin tidak mempunyai seorang pendamping.
Dari akun fb Mas Bisma jugalah aku tahu tentang Mbak Maya, karena kekepoanku, aku mencoba iseng menstalking postingan Mas Bisma beberapa tahun lalu. Saat aku melihat mereka tertawa bersama diatap sebuah gedung, saling berpose mesra dihiasi kerlip cahaya lampu taman, tentu disaat mereka sama-sama diluar negeri, aku tahu inilah wanita yang dimaksud Mas Bisma sebelum bersedia menikahiku.
Mbak Maya yang cantik dan tampil mempesona, membuatku yakin akan membuat Mas Bisma memperjuangkan cintanya. Teringat diingatanku bagaimana sorot tajamnya Mas Bisma memberitahuku kalau ada wanita yang sangat ingin dia nikahi. Entah mengapa tidak ada kecemburuan dalam hatiku melihat foto kebersamaan mereka.
Tahu tentang Mbak Maya membuat jiwa kepoku makin besar, ku intip lagi fb Mbak Maya yang sama sekali tidak diprivasi. Dipotret terakhirnya yang aku lihat sudah beberapa bulan lalu, aku melihat seseorang nyempil berkomentar memberikan selamat atas pernikahannya. Dari sinilah aku tahu dan menebak pernikahan mereka, namun aku masih penasaran mengapa tidak ada satupun dari mereka yang memposting photo moment bahagia itu.
Aku sempat kecewa mendengar penuturan Mas Bisma kalo sekarang mereka sudah berpisah. Namun penasaranku terjawab saat Mas Bisma memberitahukan rahasia lain. Rahasia yang sudah pasti akan membuat siapa saja putus asa. Sejenak aku mengelus perutku yang ternyata bukti nyata akan kondisi Mas Bisma.
Apa aku ingin meninggalkan Mas Bisma? Tidak. Sedikitpun tidak terpikirkan olehku. Meskipun hanya pernikahan siri diantara kami, tapi aku tetap seorang istri. Kewajiban seorang istrilah untuk mendukung suami bagaimanapun keadaannya. Teringat olehku bagaimana ibu terus mendukung dan menyemangati Ayah, saat dulu Ayah dihina habis-habisan oleh saudaranya. Saat Ayah terpuruk dan merasa berdosa telah membawa ibu masuk ke keluarganya, membuat Ibu sama sekali tidak kehilangan cintanya pada Ayah. Ya…hanya Ibu dan Ayahlah yang menjadi motivasi hidupku selama ini.
Nyaman, senyaman-nyamannya saat kini Mas Bisma memelukku. Aku pun bahagia melihatnya tersenyum bersyukur sambil memelukku. Kurasakan untuk pertama kali pelukannya sebagai seorang suami. Detak jantungku terasa berdetak cepat saat dalam dekapan dadanya, Mas Bisma merenggangkan pelukan dan menyentuh daguku. Ditahannya daguku saat kulihat wajah Mas Bisma mendekat kearahku, kutolehkan wajahku menghindari Mas Bisma. Sejenak dia terdiam terpaku, namun aku tatap kembali matanya.
"Mas kita sholat dulu yuk, baru setelah itu...," tak kulanjutkan kata-kataku saat kurasakan pipiku memerah karena malu. Mas Bisma yang tadi terdiam, mendadak tersenyum dan memilih untuk mengecup keningku.
*****
Aku dibuat sedikit kaget saat berselisih jumpa dengan Mbok Irah yang bangun untuk sholat Shubuh diruang makan. Melihat pagi-pagi aku sudah mandi dengan handuk melilit dikepalaku membuatku sungguh malu. Senyum malu-malu Mbok Irah membuatku berlari kekamar takut godaan lain dilontarkan oleh Si Mbok.
Jangan ditanya ada kejadian apa semalam, cukup di bayangin aja ya.
Tapi aku sangat bahagia membayangkannya kali ini. Selesai menata rambut dan memasang khimar, kembali aku ke kamar Mas Bisma yang masih terlelap. Dengan lembut ku tiup kupingnya untuk membangunkannya. Mendapat perlakuan begitu dariku membuat Mas Bisma kaget dan tersenyum padaku. Saat dia masih mengumpulkan kesadarannya, dia masih sempat menarik tanganku hingga jatuh dalam pelukannya.
Tiba-tiba terdengar nada dering dari ponsel Mas Bisma, ada rasa enggan kulihat tapi tetap diraihnya benda pipih yang berada diatas meja samping tempat tidur.
"Ssstt...," Mas Bisma menatapku sambil meletakkan telunjuk dibibirnya setelah melihat layar terang itu.
"Ya Mah, ada apa Mah, kok udah nelpon pagi-pagi?, " akhirnya aku mengerti mengapa Mas Bisma menyuruhku diam.
" [....], "
"Aku nginap di hotel Mah,"
"[.....], "
"Aku baik-baik aja kok, Mama gak usah khawatir ya, "
" [.....], "
"Iya, ntar sore aku pulang. Udah dulu ya Mah, Assallammu’alaikum, " Mas bisma kembali menarok hpnya, dan beralih padaku.
"Ishh, kok bohong sih Mas sama Mama sendiri?,"
"Lha trus Mas mau bilang apa? Mama kan belum tahu tentang kita, " katanya sambil mencapit hidungku.
Aku tercenung sesaat kalau ucapan Mas Bisma memang benar “Mas buruan mandi gih sana, ntar lagi Shubuh lho, " aku mendelik sambil melepaskan jepitan tangannya di hidungku.
*****
Tidak terasa empat bulan pun berlalu, sejak hari itu hubunganku dan Mas Bisma makin intim. Tak lagi sebulan sekali Mas Bisma mampir mengunjungiku, tapi bisa sekali bahkan dua kali seminggu. itensitas saling telpon dan mengirim pesan pun bisa dibilang hampir setiap hari sekarang.
"Mbok doain, semoga cinta kalian selalu diberkahi yang Kuasa, bahagia selalu ya Neng, " masih terngiang jelas kata-kata Si Mbok sejak terakhir kami melepas keberangkatan Mas Bisma beberapa bulan lalu. Sama seperti Mbok Irah, aku pun berharap kebahagian manantiku.
Kini aku dan Mas Bisma pun sudah satu kamar. Kamar yang biasa Mas Bisma tempati, telah di dekor ulang oleh Mas Bisma. Semua perabotannya pun sudah diganti baru, mulai dari ranjang, kasur, lemari bahkan satu set meja rias untukku juga terpajang cantik disudut dekat jendela. Aku di buat heran awalnya, namun saat Mas Bisma mengutarakan maksud tak ingin kenangan buruk yang membekas tidak terlintas di pikiranku membuatku setuju pada akhirnya. Mas Bisma berharap dengan mendekorasi ulang bisa menciptakan kenangan baru untukku dikamar ini.
Malam ini setelah sholat Isya Mas Bisma sedikit sibuk dengan laptopnya, tak ingin mengganggu aku pun mencoba mengasyikkan diri dengan berselancar di dunia maya. Keisenganku muncul saat ada hasrat untuk kembali mengkepoin akun Mbak Maya. Baru saja aku mengklik namanya, postingan baru muncul. Mbak Maya yang cantik berpose mesra dengan pria yang juga tampan. Beberapa photo dengan caption ‘prewedding’ terpampang dengan elegannya.
“Ternyata Mbak Maya udah mau nikah lagi,” bisikku dalam hati. Ku scroll terus kebawah, tapi aku sudah tidak lagi menemukan photo-photonya bersama Mas Bisma.
“Bee, kamu lagi ngapain sih?,” Mas Bisma mengagetkanku. Ya akhir-akhir ini Mas Bisma makin bersikap lembut padaku, panggilan yang katanya panggilan sayangnya padaku sempat membuatku geli, tapi akhhirnya aku tak mempermasalahkan karena masih terdengar seperti namaku. sesekali dia pun sudah tidak sungkan untuk bersikap mesra padaku di depan Si Mbok .
“Liat ini Mas,” jawabku sambil menyodorkan layar padanya. Kulihat Mas Bisma hanya ber’o’, tanpa ada komentar lain. Entah apa yang Mas Bisma pikirkan.
“Mas gak di undang Mbak Maya?,” tanyaku penasaran sambil sedikit mengganggunya yang kembali fokus dengan laptop dipangkuannya.
“Diundang kok, acaranya minggu depan,” jawab Mas Bisma santai.
“Mas mau datang?,”
“Gak, biar Mama dan Papa aja,” jawabannya kali ini membuat dahiku berkerut.
“Kenapa?,”
“Kalau kamu mau ikut dampingi Mas, Mas mau deh datang,” jawabnya dengan kerlingan mata menggoda dan merubah posisi menghadapku. Kali ini aku yang dibuat gugup, kekhawatiran tentang bagaimana tanggapan keluarga Mas Bisma padaku nanti, langsung hadir dibenakku.
“Kalo gitu gak usah datang deh,” jawabku pelan.
“Kenapa bee?, kamu gak mau ya temani Mas,”
“Kenapa tiba-tiba Mas ingin ajak aku keluar dari sini?,”
“Sayang, Mas minta maaf udah meminta pernikahan kita dirahasiakan sebelumnya. Sekarang udah satu tahun lebih lho, kamu gak ingin orang tahu kalau kamu itu sekarang nyonya Bisma Mahesa Shairendra,” tampak Mas Bisma bangga mengucapkannya.
“Tapi aku udah nyaman disini Mas, aku bahagia disini,” jawabku membuat tatapan bangga Mas Bisma langsung menghilang.
“Udah Mas, udah malam yuk kita tidur,” ajakku sambil merebahkan tubuhku, meninggalkannya yang masih dirundung tanda tanya oleh sikapku.
*****
POV Author
Bisma membiarkan Ribby untuk tidur, sama sekali tidak diganggunya lagi. Meskipun pertanyaan mengisi hatinya, tapi urung dia utarakan. Bisma tidak ingin suasana hati Ribby makin buruk dengan dia mendesaknya. Biarlah nanti dia tunggu saja sampai Ribby mau bercerita padanya, Bisma membathin.
Kembali Bisma fokus pada laptop yang ada dihadapannya, karena sedikit lagi kelar, sayang kalau tidak segera diselesaikan mengingat banyak pekerjaan lain yang menunggunya. Tak sampai setengah jam, Bisma menutup laptop tanda pekerjaannya selesai. Setelah menyimpannya, Bisma berbalik menatap Ribby yang kini terlelap pulas. Dengan lembut Bisma membelai kepala Ribby, sambil terus mengelus rambutnya Bisma mengecup kening Ribby, seraya membisikkan doa untuk kebahagiaan Ribby dihatinya.
Belum ada rasa kantuk membuat Bisma melangkah menuju pintu, berniat keluar untuk minum. Saat melewati meja makan, Bisma dibikin sedikit terkejut dengan Mbok Irah yang berbalut mukena sedang duduk bersimpuh memegang Alquran dibawah lampu sudut ruangan.
“Belum tidur Mas?,” Mbok Irah menyapa Bisma begitu sadar dengan kehadiran Bisma.
“Belum Mbok,” jawab Bisma sambil meneruskan niatnya mengambil segelas air.
“Mbok sendiri kok belum tidur?,” Tanya Bisma setelah meneguk setengah dari isi gelas yang dipegangnya.
“Tadi udah rebahan sebentar Mas, ingat belum sholat Isya mbok bangun lagi. Menunggu ngantuk datang, jadinya Mbok baca ini,” jawab Mbok Irah sambil mengangkat Alquran sebesar map lalu mendekapnya didada.
“Mbok, Mbok senang gak hubunganku dengan Ribby mulai membaik sekarang?,” Bisma memulai percakapan dengan Mbok Irah. Syukur-syukur Mbok Irah tahu jawaban dari pertanyaannya tadi.
“Senang dong Mas, senang banget malah,” jawab Mbok Irah sambil menatap bisma yang kini duduk bersila disamping Mbok Irah.
“Mbok ingat gak permintaanku dulu, untuk merahasiakan pernikahanku dengan Ribby,” Mbok Irah mengangguk dengan masih menatap wajah bisma yang mulai terlihat muram.
“Sekarang aku ingin semua orang tahu Mbok, bahkan aku berniat mengenalkan Ribby pada Mama juga Papa, tapi keliatannya Ribby keberatan. Mbok tahu gak kenapa?,” mendengar penuturan Bisma kini wajah Mbok Irah yang tiba-tiba berubah murung.
“Kenapa Mbok? Apa Ribby ada cerita sesuatu pada Mbok, sesuatu yang gak aku tahu?,” Bisma mendesak Mbok Irah memberitahunya jika memang itu ada.
“Ini kemungkinan ya Mas, Mbok juga gak tahu pasti. Dulu Neng Ribby pernah cerita sedikit masa lalunya sama Si Mbok. Si Neng pernah cerita kalau dulu pernikahan orang tuanya tidak begitu diterima oleh keluarga Ayahnya. Bagaimana dia sekeluarga dihina dikarenakan Ibunya yang seorang yatim piatu, yang tidak tahu asal-usulnya. Bahkan dia datang ke Jakarta karena diusir oleh keluarga Ayahnya Mas. Begitu mas, mungkin kini Neng Ribby merasa di posisi ibunya, tapi untuk pastinya lebih baik Mas tanya langsung pada Neng Ribby,” kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Mbok Irah membuat Bisma ternganga mendengarnya.
Ada kabut penyesalan diwajah Bisma, kenapa dia baru tahu sekarang, masalah demi masalah yang dia hadapi dengan Maya membuat dia lupa mencari tahu tentang Ribby. Senyuman Ribby yang kembali membuat hatinya hangat membuat dia berpikir wanita ceria dan polos itu tak memiliki beban sama sekali. Tapi tidak tahunya,…Bisma menghela nafas seolah ikut merasakan beratnya kehidupan Ribby sebelumnya.
“Terimakasih ya Mbok, kalau Mbok gak cerita aku gak akan tahu,”
“Iya Mas, Mbok selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian,”
Bisma kembali ke kamar dan berjalan mendekati Ribby, dengan sendu Bisma melihat wanitanya yang kini tertidur pulas. Bisma merasa kebahagian yang sudah dia berikan pada Ribby saat ini, rasanya belum cukup untuk membayar penderitaan masa lalu dan kesalahannya yang lalu.
“Aku mencintaimu Ribby, aku akan buktikan itu. Aku akan mencari cara supaya kamu diterima dengan tangan terbuka dikeluargaku tanpa harus dibayang-bayangi ketakutan masa lalu,” Bisma bertekad dalam hati.
♥️♥️♥️♥️♥️
Bersambung….
----

Part 13
#Pernikahan_Rahasia

Di teras rumah, terlihat Citra sedang duduk menunggu Rendra sembari membolak-balik sebuah majalah. Bagaimana pun Citra melarang, Rendra sepertinya belum juga bisa meninggalkan hobinya yang katanya hanya sekali seminggu itu.
Dengan senyum lebar, Citra berdiri setelah melihat Rendra sudah melewati di gerbang rumahnya. Begitu Rendra berada di hadapannya, Citra pun segera mengajak Rendra untuk sarapan yang sudah tersaji dari tadi.
Sarapan berdua tanpa Bisma, membuat Citra merasa sangat kehilangan. Ini sudah jalan enam bulan sejak perceraian Bisma dan Maya, sejak itu pula Citra dan Rendra terbiasa makan berdua.
"Pah, Papa merhatiin gak sih akhir-akhir ini Bisma sering banget pergi, pake acara nginap lagi. Sebenarnya dia kemana sih Pah," Citra mulai khawatir dengan perubahan Bisma yang mulai jarang ada dirumah.
"Iya, tapi biarin ajalah Mah, lagian gak ada perubahan negatif juga kan dari Bisma. Ngantornya rajin, kerjaannya beres, yang pasti gak uring-uringgan kayak dulu lagi. Liat dia yang kayak gitu, Papa yang stres dibuatnya, "
"Iya juga sih Pah, tapi Mama kasihan tau Pah sama Bisma. Malang banget nasib anak kita Pah. Kalo gak ada lagi perempuan yang mau ama Bisma gimana Pah?," ada gurat sedih diwajah Citra.
"Mama yang sabar, kasih terus dia dukungan. Lagian ya Mah, asal Mama tahu, diam-diam dia lakuin pengobatan dan terapi lho Mah. Dr. Harry yang nelpon Papa ngasih tau. Mama doain aja, meski peluangnya kecil bahkan nyaris nol. Papa pun senang melihatnya masih semangat untuk usaha. Padahal dulu dia sempat nolak juga kan.?,"
"Beneran pah? Bagus lah, doa Mama selalu untuk anak kita Pah. Makanya Papa cariin jodoh buat Bisma, apa gak ada anak teman Papa gitu, paling tidak dia punya seorang pendamping yang mau mendukungnya Pah, "
"Papa sempat kepikiran sih Mah, tapi banyak pertimbangan juga yang mesti kita pikirin. Takut perempuan itu juga kecewa nantinya sama seperti maya. Ujung-ujungnya apa, pisahkan. Papa gak mau Mah, nanti jadi beban mental lagi buat Bisma,"
"Trus gimana Pah? Dimana kita bisa nemuin perempuan yang bisa nerima Bisma apa adanya?,"
"Entahlah, Papa juga gak tahu. Tapi lebih baik biar Bisma aja yang nyari, kita cukup merestui mereka aja. Papa janji, gak akan pake syarat - syarat aneh lagi deh. Yang penting Bisma bahagia, dah itu aja, "mendengar penuturan Rendra ada segurat rasa syukur diwajahnya, mengingat bagaimana kerasnya Rendra terhadap Bisma selama ini.
*****
"Mbok kok aku tiba-tiba kangen ketemu Mas Bisma ya Mbok?, " Ribby dengan manja berkata pada Mbok yang lagi baca Alquranul Karim lepas sholat Isya.
"Neng ini, biasanya kan juga gitu Neng. Bukannya hampir tiap hari Neng juga bilangnya kangen Mas Bisma?," Mbok Irah menggoda Ribby yang kini tidur dipangkuannya. Dengan lembut Mbok Irah, membelai kepala Ribby yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
"Iya, tapi sekarang kangen banget Mbok," balas Ribby dengan suara manja.
"Kalo gitu, gih Neng telpon mas Bismanya suruh datang,"MboK Irah memberi saran.
"Tapi kemaren Mas Bisma udah bilang kalo lagi gak bisa di ganggu sampai lusa Mbok,"
"Ya sudah kalo gitu telponan aja, biar kangennya berkurang, " bujuk si Mbok lembut.
"Tapi aku kangennya ketemu bukan telponan Mbok, " Ribby merajuk tidak setuju dengan usul Mbok Irah.
"Lha trus gimana dong Neng?," Mbok Irah dibuat bingung karenanya.
"Haa, gimana kalo kita ke Jakarta Mbok, kita susulin mas Bismanya, gimana Mbok?, "
"Tapi katanya Neng Mas Bismanya gak bisa diganggu sampai lusa," si Mbok tambak bingung dengan usul Ribby.
"Nengok wajahnya dari jauh juga gak apa-apa deh Mbok, ya Mbok ya, " Rengek Ribby, Mbok Irah hanya bisa diam dan menatap Ribby yang kini sudah dengan posisi duduk menghadapnya.
"Ada apa ya? Kok tiba-tiba Neng Ribby pengen nyusul ke Jakarta," kata Mbok dalam hati.
"Ya udah deh besok pagi kita pergi, tapi apa gak sebaiknya telpon Mas Bisma dulu Neng ngasih tahu kalo kita mau kesana,"
"Gak usah Mbok, ntar malah mengganggu. Aku pengen liat wajahnya aja sebentar, habis itu kita balik lagi," jawab Ribby sumringah.
"Ya sudah, sekarang Neng tidur, istirahat gih," pinta Mbok Irah dan diiyakan Ribby dengan anggukan, tak lupa senyum kegirangan karena Mbok Irah mau menenaninya.
Menatap punggung Ribby yang melangkah pergi meninggalkannya membuat si Mbok kembali bertanya-tanya.
Tumben Neng Ribby minta yang aneh-aneh, katanya kangen tapi telponan gak mau. Maunya liat langsung, udah tu gak apa-apa balik lagi. Apa jangan-jangan neng ribby ngidam ya? Kalo iya berarti neng rybby...," ada secercah cahaya bahagia diwajah Si Mbok kalau apa yang dia pikirkan benar.
"Huuft…Tapi semoga keputusanku menemani Neng Ribby gak salah?," si Mbok membathin.
*****
"Sekarang kita mau kemana Neng? udah sejam kita duduk disini," Mbok Irah mulai khawatir karena Bisma yang Ribby kira akan bertemu rekan bisnisnya di restoran ini gak kunjung datang.
"Aku juga gak tau Mbok, kemaren kata mas Bisma akan ketemuan disini Mbok aku pun sempat menuliskannya kok kamaren Mbok," Ribby tampak kembali melihat draf memo di ponselnya.
"Atau kalo gak kita kita cari penginapan dulu aja yuk Neng, lagian Mbok liat Neng sedikit pucat deh, biar Neng bisa istirahat dulu sebentar," mendengar kata Mbok Irah Ribby tampak meraba-raba wajahnya.
"Gak apa-apa Mbok, aku baik-baik aja," jawab Ribby ngeyel.
"Mbok telpon mas Bisma aja ya Neng, " kembali Mbok Irah memberi usul.
"Jangan Mbok, ya udah kita cari hotel aja dulu," ada sedikit kekecewaan yang terlihat diwajahnya.
Baru saja Ribby berniat berdiri seseorang menubruknya dari belakang. Entah orang itu yang menubruk terlalu keras, atau memang Ribby yang sudah oleng duluan. Mbok Irah tampak sedikit berteriak saat melihat Ribby jatuh pingsan ke lantai.
Kaget karena ulahnya, laki-laki yang menubruk Ribby langsung menghambur untuk menolong Ribby. Karena Ribby gak kunjung sadar membuat si lelaki menyarankan membawa kerumah sakit. Mbok Irah yang takut terjadi apa-apa dengan Ribby hanya bisa mengiyakan perkataan laki-laki didepannya.
Menggunakan mobil laki-laki itu, Mbok Irah duduk dikursi belakang sambil mengusap-usap kepala Ribby yang kini ada di pangkuannya. Selama perjalanan ke rumah sakit pun belum ada tanda-tanda Ribby akan sadar membuat Mbok Irah makin khawatir. Dengan dibantu oleh dua orang perawat Ribby dipindahkan ke brankar dan langsung dibawa ke ruang pemeriksaan.
Mbok Irah bingung mengapa dua orang perawat tadi begitu patuh dengan perintah sang lelaki yang tadi bersamanya. Bergegas si lelaki menyampirkan jaket putih dan segera memeriksa Ribby yang kini berada di balik tirai.
"Ternyata dia Dokter toh, Dr. Harry Hendrawan," Mbok Irah membaca papan nama yang ada didepannya. Ditemani dan dibantu perawat akhirnya Ribby siuman, dengan izin dokter kini Mbok sudah berdiri disamping Ribby yang tampak terbaring lemah.
"Neng, Mbok khawatir. Seharusnya kita dirumah saja. Gak usah datang kesini segala Neng," kata Mbok Irah dengan wajah kusut membuat Ribby merasa bersalah.
"Maafin aku ya Mbok, tapi sekarang aku udah gak pa-pa kok Mbok,"
"Benar Buk, putri ibuk gak apa-apa jadi gak usah khwatir lagi," sadar dokter dibelakangnya Mbok Irah mundur, agar sang dokter bisa lewat seandainya masih ada yang mau dicek pada Ribby.
"Sebenarnya anak saya kenapa Pak Dokter," tanya Mbok sopan namun hanya dibalas senyum oleh Dr. Harry.
"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah menabrak kamu tadi," kata Dr.Harry menatap Ribby.
"Iya dok, gak papa," jawab Ribby pelan
"Setelah kamu merasa baikan kamu boleh pulang, gak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja jangan sampai terlalu capek. Kasian janin yang ada didalam kandunganmu, " tidak hanya Ribby, si Mbok ikut kaget dibuatnya.
"Saya hamil dok?, kata Ribby tak percaya.
“Alhamdulillah," Mbok Irah langsung mengucap syukur, karena sudah curiga dari awal.
" Kenapa? mau sekalian USG biar kamu yakin?," saran Dr.Harry namun terlihat Ribby diam dan sedikit ragu.
"Kamu jangan takut, nanti kamu akan dibantu oleh Dr. Gita," jawab Dr.Harry akhirnya saat melihat keraguaan Ribby. “Sekarang saya permisi dulu, perawat didepan akan membantumu nanti," kata Dr. Harry kemudian beranjak pergi.
Terima kasih dokter, " jawab Ribby pada Dr.Harry yang masih dengan senyum syukurnya.
“Mbok…, " Ribby menatap Mbok Irah yang tak kalah bahagia darinya.
"Selamat ya Neng," ada butiran bening di sudut mata si Mbok saat mengelus punggung tangan Ribby.
"Jangan bilang-bilang Mas Bisma dulu ya Mbok, biar aku yang beri tahu dia nanti, ingin beri kejutan buat dia,"
"Iya Neng, Mbok turut bahagia untuk Neng,"
"Terimakasih Mbok, "
Kembali dibantu sang perawat, Dr. Gita yang cantik dengan hijab ungunya menempelkan alat USG diperut Ribby.
"Kamu liat yang ini," Dr.Gita menunjuk layar yang masih berbentuk titik putih dilayar gelap itu.
"Iya Dok, " melihat layar yang kata Dr.Gita adalah janin yang akan berkembang nantinya membuat Ribby kembali mengucap rasa syukur dengan bulir bening disudut matanya.
"Wah..., " kata Dokter terhenti sambil masih menganti-ganti posisi alat ditangannya.
"Kenapa Dok? , " Mbok Irah khawatir dengan perkataan dokter yang mengantung.
"Selamat ya, sepertinya kamu akan dianugerahi dua bayi sekali gus,"
“Maksud Dokter kembar?,” senyum bahagia kembali terukir dibibir Ribby saat Dr.Gita mengangguk, bahkan senyum itu masih menghias saat dokter menyelesaikan pengecekannya.
"Sudah jalan lima minggu usia kehamilannya," senyum syukur menghias wajah Ribby juga Mbok Irah, membuat sang dokter ikut tersenyum bahagia.
"Ini saya tuliskan resep vitamin kehamilan untuk kamu, bisa ditebus nanti di apotik depan," Mbok Irah menerima selembar kertas dari Dr. Gita.
"Silahkan istirahat dulu nanti kalo udah baikan, panggil aja perawat yang di depan dia akan membantu. Itu pesan Dr.Harry tadi, kalau begitu saya permisi, " Dr.Gita mengakhiri sambil mengulum senyum ikut bahagia.
"Sekali lagi terimaksih Dok, "
Setelah merasa sanggup berdiri Ribby minta untuk pulang pada Mbok Irah.
"Beneran Neng udah gak papa, " Si Mbok membantu Ribby duduk.
"Iya gak apa-apa Mbok," jawab Ribby mencoba bangun dan berdiri.
"Neng tunggu sini dulu ya, Mbok tebus resep yang dikasih dokter tadi dulu," kata Mbok Irah setelah keluar dari ruangan Dr.Harry.
Sepeninggal Mbok Irah, Ribby masih senyum,-senyum sendiri sambil mengelus-elus perut yang kini berisi buah cintanya dengan Bisma. Rasa syukur tak henti-hentinya Ribby bisikkan.
"Dengar ya Mas, aku pengen hamil, aku pengen punya bayi, kok kamu gak ngerti juga sih, " tiba-tiba sepasang suami istri berdebat dekat Ribby. Merasa terusik Ribby pun menoleh mulai memperhatikannya. Ribby melotot sambil mengernyitkan dahi melihat mereka.
"Bukan kamu aja tapi Mas juga mau, tapi mau gimana lagi, Tuhan belum ngasih trus kita bisa apa? ," jawab sang suami. Bukan maksud menguping tapi pembicaraan mereka yang nyaris didepan Ribby, otomatis Ribby menyimak dengan jelas.
“Bodo," jawab si wanita sambil menjatuhkan tubuhnya dibangku samping Ribby.
Melihat istrinya merajuk si suami membuang nafas kesal sambil berkacak pinggang.
"Lha trus kamu maunya apa sekarang?, semua yang kamu mau udah mas turutin, program kehamilan bahkan cek kesuburan pun udah mas lakuin jadi apalagi?,"
"Aku cuma mau hamil Mas," kembali si pria membuang nafas dengan kasar, perlahan mulai mengatur nafas agar kembali normal, menata emosi karena sadar ini tempat umum. Sang laki-laki mulai duduk disamping istri sambil memegang tangannya untuk mengambil hati si istri lagi.
"Sayang, kamu yang sabar ya, toh kita sama gak ada masalah. Mungkin karena itensitas kita bertemu kurang jadi pemicunya. Lagian ini baru beberapa bulan pernikahan kita. Kita usaha lagi dan berdoa ya, " si istri terlihat melunak dan mengangguk.
"Ya sudah, kamu tunggu sini mas tebus obat ini dulu, " suami meninggalkan wanitanya duduk yang masih tampak kecewa. Sadar ada Ribby disampingnya membuatnya mulai tampak canggung merasa diperhatikan dari tadi.
"Mbak, " sapa Ribby sambil tersenyum dan dibalas senyung tipis olehnya.
Tak lama berselang sang suami pun datang dan meninggalkan Ribby dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Kok Si Mbok lama ya?, " bisik Ribby mencari-cari Mbok Irah.
"Bee…," Ribby dibuat kaget dengan kedatangan Bisma dengan wajah penuh kekhawatiran. Dibelakang Bisma juga tampak Mbok Irah mengikuti.
"Lho kok Mas ada disini?,"
"Harusnya Mas yang nanya kamu ngapain kesini? Napa gak nelpon dulu? Trus gimana keadaan kamu sekarang?," Ribby ditodong berbagai pertanyaan dari Bisma.
"Aku minta maaf Mas, tapi aku udah gak apa-apa kok,” jawab Ribby mengulum senyum berharap kecemasan Bisma berkurang
"Coba kalo Si Mbok gak nelpon Mas, apa kamu kuat balik lagi kerumah?," tak ada jawaban dari Ribby seolah tahu kalo dia memang salah.
"Ya sudah kamu tunggu sini, Mas mau nelpon sebentar, " Bisma menjauh dari Ribby, dan memencet nomor Citra, Mamanya.
"Tumben kamu nelpon Mama siang-siang?,”
“Mah aku mau minta tolong boleh gak Mah?,”
"Minta tolong apa?,” jawab Citra sedikit bingung.
"Mama ingat gak Mbok Irah yang pernah Bisma ceritain dulu, sekarang dia di Jakarta anaknya lagi sakit. Boleh gak dia nginap di rumah dulu, Bisma belum bisa ngantar dia balik Mah, boleh ya Mah,”
"Oo…kirain apaan, boleh antar aja kerumah Mama tungguin,"
“Terimakasih ya Mah," telpon diputus dengan senyum merekah dibibir Bisma.
"Yes ini kesempatan Gue, " Bisma kegirangan.
*****
Dengan suka cita Citra menyambut kedatangan Ribby dan Mbok Irah. Meskipun awalnya Ribby menolak ajakan Bisma, namun setelah dibujuk dengan berbagai rupa akhirnya Ribby bersedia dengan syarat lusa sampai kerjaan Bisma selesai Bisma akan membawanya lagi pulang kerumah.
Setelah Bisma menitipkan Ribby dan Mbok Irah pada Citra Bisma pun segera balik ke kantor.
"Mbok, Ribby jangan sungkan ya, kalo butuh apa-apa panggil aja saya kalo gak ada Mbok Tini dibelakang, " ujar Citra saat memperlihatkan kamar yang akan ditempati Ribby dan Si Mbok.
"Terimakasih Buk, maaf merepotkan, " jawab Ribby ramah
"Gak kok, " jawab Citra dengan seulas senyuman dan berlalu agar Ribby dan Mbok segera bisa istIrahat.
"Mbok belum bilang sama mas Bisma kan?, " tanya Ribby saat mereka tinggal berdua.
"Belum Neng, tapi Mbok beryukur sekarang kita disini. Kalo gak Mbok belum tenang Neng, gimana kalo terjadi apa-apa sama Neng,"
"Iya tapi ini rumah orang tuanya mas Bisma Mbok, "
"Gak papa Neng, lagian mamanya juga ramah kan?, " jawab si Mbok lembut untuk menghalau pikiran buruk Ribby.
" Iya sih Mbok, "jawab Ribby pelan.
*****
Makan malam kini terasa ramai di rumah keluarga Rendra, meskipun hanya ditambah Ribby dan mboh Irah tapi terlihat begitu meriah. Obrolan demi obrolan mewarnai makan malam pertama Ribby di rumah ini. Sama seperti Citra, Rendra pun tampak welcome dengan kehadiran Mbok Irah dan Ribby yang kini bergabung makan malam dengannya.
Sesekali tawa menggema diruang makan mewarnai, Ribby pun dengan mudah masuk dalam obrolan mereka. Setelah selesai makan Bisma kembali ke kamar begitu juga Ribby juga kembali ke kamarnya. Sementara Citra, Rendra juga Mbok Irah terlibat percakapan kecil diruang depan.
Ting... Notif pesan masuk ke ponsel Ribby.
"[Bee, Mas kangen, Mas kekamar kamu ya],"
"[Jangan Mas, kan ada si Mbok malu tau], "
"[Ya udah kalo gitu kamu yang ke kamar Mas, Mas tunggu dekat ditangga,]," layaknya orang backstreet ya... begitulah tingkah Ribby dan Bisma sekarang. Kucing-kucingan gak jelas.
"[Gak ah, takut ketauan sama orang tuanya Mas]," membaca balasan dari Ribby membuat Bisma frustasi, dengan sedikit kesal Bisma keluar kamar berniat dengan berani ke kamar Ribby.
Saat menuruni tangga, Bisma mengendap-ngendap takut ada Mama atau Papanya. Saat Bisma melongo ke ruang depan Mama dan Mbok Irah masih asyik bercengkrama dengan obrolan mereka.
Secepat kilat Bisma berlari menuju kamar Ribby, membuat Ribby yang mondar-mandir di dekat jendela menunggu balasan pesan dari Bisma nampak kaget.
"Mas ngapain? Kok Mas nekat sih?," Ribby melotot melihat sosok Bisma yang kini berada dikamarnya. Tanpa menghiraukan perkataan Ribby Bisma langsung mendekati Ribby dan memeluknya.
"Mas kangen tau, " kata Bisma dengan Ribby kini berada dalam pelukannya.
"Iya tapi Mas...," Ribby masih khawatir mengingat dimana mereka sekarang.
"Ssstt...biarkan Mas seperti ini dulu sebentar, " jawab Bisma melepaskan kerinduannya dengan memeluk Ribby.
*****
"Mbok sepertinya anak saya Bisma dan Ribby saling suka deh Mbok, "
"Kok Ibuk bisa ngomong gitu?," jawab Mbok Irah sopan.
"Kenapa Mah? Jangan-jangan Mama mau jodohin Bisma sama Ribby ya?, " Rendra menimpali perkataan Citra.
"Ishh Si Papa gak merhatiin sih, emang papa gak liat mereka kayak curi-curi pandang begitu. Selama makan malam tadi entah berapa kali Bisma lirik-lirik Ribby?,"
"Masa sih?, " jawab Rendra ragu.
"Gini deh Mbok, kalau kami lamar Ribby untuk Bisma Mbok restui gak?, "
"Kalau saya gimana Ribby nya aja Buk," jawab si Mbok mengulum senyum.
"Kalo menurut Papa gimana Pah? Papa setuju gak?, " tanya Citra semangat seperti menemukan obat penyemangat untuk anaknya Bisma.
"Setuju setuju aja, kalau memang Bismanya suka, "
"Ya udah Mbok, kita ke kamar Ribby, kita tanya Ribby," kata Citra sambil menarik tangan Mbok Irah menuju kamarnya. Tanpa perlawanan Mbok Irah manut karena bagaimana pun juga memang ini yang diharapkan selama ini.
Kleek,... Terdengar handle pintu dibuka.
Bisma dan Ribby yang masih berpelukan terlihat kaget. Dan lebih kaget lagi Citra yang berdiri dipintu melihat pemandangan di dalam kamar.
"Bisma Ribby ngapain kalian, " teriak Citra dengan mata melotot.

Bersambung….
-----
Part 14

#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi
Pov Bisma
Ribby tersentak kaget saat terdengar handle pintu tampak bergerak dari luar, tanda seseorang akan masuk. Dia pun hendak merenggangkan pelukan, namun aku tahan, aku merasa ini kesempatanku untuk mengungkap keberadaan Ribby pada orang tuaku. Masa bodoh siapa di luar sana, aku tidak peduli.
"Mas, " tubuh Ribby kurasakan bergetar, namun kembali ku peluk untuk menenangkannya.
"Bisma, Ribby ngapain kalian?," suara lantang Mama membuat Ribby makin ketakutan, aku pun tak kuasa menahan sedikit dorongan tangannya didadaku, kulihat dia mundur dengan wajah menunduk. Nyaris hatiku manangis melihatnya yang begitu ketakutan untuk sesuatu yang gak salah dia lakukan.
"Apa akan aku biarkan rahasia ini menghantuinya?, "
"Tidak...," kataku dalam hati, segera aku raih tangan Ribby yang kini sudah berjarak satu langkah dariku. Kugenggam tangannya kuat-kuat saat dia enggan menerima uluran tanganku.
"Mama?," sapaku pada Mama yang kini mendekat ke arahku.
"Bisma, ngapain kamu disini dan kamu Ribby kenapa kamu mengizinkan Bisma masuk kamar ini? Apa kalian mau...,"
"Mah, Ribby adalah istriku Mah," aku memotong ucapan Mama sebelum Mama berpikir yang tidak-tidak, dan tentu saja itu membuat Mama melongo tak percaya.
"Ngomong apa kamu Bisma..?,"
"Ribby istri Bisma Mah, sudah satu tahun lebih kami menikah,"
"Satu tahun gimana? Kamu aja pisah sama Maya baru enam bulan?,"
"Mbok titip Ribby bentar ya, aku mau bicara sama Mama," kataku pada Mbok Irah, lalu menarik tangan Mama keluar dari sana.
"Baik mas, " jawab Mbok Irah sambil mendekati Ribby dan memeluknya.
Aku kembali membawa Mama ke ruang depan yang disana masih ada Papa lagi duduk asyik dengan gawainya.
"Gimana Mah? ," tanya Papa tanpa tahu apa yang sudah terjadi.
"Tunggu dulu Pah," Mama menghiraukan pertanyaan Papa dan kembali menatapku.
"Nah Bisma kamu jelasin pada Mama juga Papa ada apa ini sebenarnya? ,"
"Ada apa sih Mah?," Papa ikut nimbrung di perdebatan antara aku dan Mama.
"Ini Pah, masa Bisma bilang Ribby itu istrinya udah setahun lebih pula, kan Papa tahu pisah ama maya aja baru enam bulan,"
"Ya berarti nikahnya sebelum dengan Maya," jawab Papa tersenyum, sumpah aku suka gaya Papa menanggapi ini. Ada sedikit perasaan lega dihatiku.
"Iih Papa. Mama lagi serius ini," Mama menghentakkan kaki kesal saat papa masih senpat bercanda disaat begini.
"Maaf, Papa minta maaf, lagian Mama ini aneh, tadi mau jodohin sekarang kenyataan mereka udah nikah malah mencak-mencak, " aku terpana menyaksikan Papa menanggapi sesuatu yang sekarang terjadi padaku dengan begitu santainya. Mama pun dibuat melongo mendengar komentar papa.
"Ya udah Bisma jelasin sama Mama dan Papa semuanya, Papa yakin kamu punya alasan yang kuat melakukan ini semuanya," kutarik nafas dan membuangnya lewat mulut, berharap semoga Papa menerima keputusanku.
"Sebenarnya ini terjadi karena kesalahanku Pah, itu semua terjadi saat pernikahan aku dan Maya dibatalkan, malam itu aku mabuk dan aku khilaf Pah, "
"Astagfirullah, " ku dengar Mama sedikit terpekik saat paham apa yang aku maksud.
"Taubat nak taubat," Mama memukul-mukul lenganku, namun tak sanggup ku hindari. Mengingat kesalahan masa lalu sungguh membuatku malu pada diriku sendiri.
"Aku minta maaf Mah, sejak itu aku putuskan menikah dengan Ribby Mah, meskipun hanya nikah siri tapi Ribby masih berterimakasih padaku karena mau menikahinya Pah, tak kusangka dia masih mau memaafkanku," kujelaskan semua dengan wajah tertunduk.
"Lalu kenapa kamu masih ngotot menikahi Maya?, " hanya Mama yang bersuara, sementara Papa hanya terlihat diam meresapi semua yang aku sampaikan.
"Aku lakukan hanya untuk menebus kesalahanku Mah. Gak ada cinta sama sekali, sampai akhirnya penolakan demi penolakan yang aku terima dari Maya membuat aku mulai memperhatikan Ribby Mah, sosoknya yang lembut selalu menyemangatiku sehingga membuatku kembali semangat menjalani hidup Mah, sampai kahirnya aku benar-benar jaruh cinta padanya, " penjelasanku hanya bisa membuat Mama melongo tak tahu harus bilang apa, sementara Papa nampak berpikir dan menarik nafas.
"Menurut Papa kamu tepat untuk menikahinya saat itu, sebagai laki-laki harus berani tanggung jawab, tapi sudahlah gak usah difikirkan yang sudah berlalu, Papa maafkan kamu Bisma, dan Papa senang kalau Ribby memang sudah jadi istrimu, Papa juga Mama dengan senang hati merestui kalian berdua," Papa menepuk-nepuk pundakku, kurasakan kasih sayang yang berbeda dari Papa saat ini.
"Mah, apa Mama marah?, " tanyaku beralih pada Mama yang masih diam terpaku. Sejenak kulihat Mama menghela nafas lembut dan tersenyum.
"Sayang, untuk apa mama marah untuk tindakan yang halal kalian lakukan," senyuman mama kini seolah membuyarkan ketakutakan yang selama ini Ribby, istriku rasakan.
"Terimaksih Mah, Pah, " kataku mengucap syukur sambil menatap mereka bergantian.
"Ya sudah Mama akan segera atur pernikahan kalian, rencana yang dari tadi sudah Mama pikirkan," jawab Mama sambil tersenyum.
" Maksud Mama?, "
"Iya Mamamu berniat menjodohkan kamu sama Ribby, gak taunya..., " Papa tertawa membuat Mama mesam-mesem.
Untuk kesekian kalinya selama aku hidup aku bersyukur memiliki orang tua seperti mereka. Ku akui memang mereka selalu memberikan yang terbaik untukku.
"Ya sudah kamu panggil Rib...,"
"Mas, Mas, Neng Ribby pingsan lagi Mas," kata-kata Mama kepotong dengan teriakan Si Mbok yang berlari dari kamar dengan wajah cemas.
"Pingsan," tanya papa kaget.
Aku langsung berlari ke kamar dan mendapati Ribby tergeletak di lantai, kulihat wajahnya tampak sedikit pucat.
"Bee, Bee, bangun sayang, " kuraih kepalanya dalam dekapanku dan mencoba mengelus-ngelus pipinya berharap dia segera sadar
Kulihat Mama pun mulai mengosok-gosok tangan Ribby. Namun gak ada respon sedikitpun, jantungku berdetak cepat takut terjadi apa-apa dengannya.
"Ayo Mas kita bawa kerumah sakit, Mbok takut kehamilan Neng Ribby kenapa-napa, " kata-kata si Mbok membuat aku Mama juga Papa terlonjak kaget.
"Apa Mbok? Hamil?, " kataku mengharapkan jawaban yang lebih jelas dari Mbok Irah.
"Iya, Neng Ribby lagi hamil Mas, " ada perasaan bersalah diwajah Si Mbok.
"Astaghfirullah mbok, kenapa gak ada yang beri tahu aku?, "
"Maaf Mas, tadi Neng Ribby ngelarang untuk kasih tahu dulu,"
"Udah Mbok, gak aapa-pa, ayo sekarang kita kerumah sakit, " kata Mama bijaksana.
Segera aku angkat tubuh lemah itu, ke mobil yang sudah disuruh siapkan Papa pada Pak Eko, supir Papa. Disupiri Pak Eko aku menuju rumah sakit dengan Ribby masih tak sadarkan diri. Sementara Papa Mama dan Mbok Irah menyusul dengan mobilku.
Selama perjalanan tak henti-henti aku berusaha agar Ribby sadar, ingin mendengar sendiri dari mulutnya kalau kini dia benar-benar mengandung benihku, buah cint kami.
"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Ribbyku, dan calon bayiku, " bisiskku, entah kenapa rumah sakit terasa begitu jauh saat ini.
Saat aku minta bantuan pada perawat, aku segera meminta untuk membawanya ke ruangan Dr. Harry, dokter kepercayaan keluargaku selama ini.
"Tapi pak jadwal praktek Dr.Harry sudah berakhir Pak, " kata salah seorang perawat.
" aku gak mau tahu, aku mau dengan Dr. Harry, " teriakku frustrasi saat aku dilarang mendekat keruangan yang sudah sangat aku kenal.
"Tapi pak..., " perkataan sang perawat terhenti saat sang dokter yang aku maksud keluar dari dalam bermaksud untuk pulang.
"Bisma? Ada apa ini?, " tanya Dr.Harry kaget melihat wajahku yang kusut.
"dok, tolongin istri saya dok, " pintaku
"Ribby, jadi Ribby ini istri kamu? ya sudah masuklah, " jawab Dr. Harry tak percaya, tanpa komando Dr. Harry mempersilahkan kami masuk.
Setelah beberapa saat, Papa,Mama juga Mbok Irah datang bertepatan dengan Dokter dan perawat selesai mengecek Ribby.
"Bagaimana Dok?," tanyaku dengan perasaan gelisah.
"Gak apa-apa mungkin karena shock, cuma usahain jangan sampai terjadi lagi, kalau bisa dia istrihat yang cukup dan jangan sampai stress, " aku bersyukur kalau Ribby baik-baik saja.
"Apa harus nginap Dok?," tanyaku masih sedikit cemas.
"Gak, biar dia istirahat sebentar sudah itu udah boleh pulang lagi, "
"Syukurlah, " bisik Mama, perlahan Mama dan Mbok Irah berjalan menghampiri Ribby. Kuikuti langkah mereka dan menatap lekat istriku yang masih terbaring lemah.
"Dok, bagaimana ini bisa terjadi Dok?, Bukannya Dokter bilang peluangku untuk punya keturunan gak ada?," kembali aku duduk didepan Dokter dan disamping Papa. Mendengar pertanyaanku kulihat Dr. Harry sedikit tersenyum.
"Saya bilang bukan gak ada, tapi 1 banding sekian. Bisa jadi ini yang 1 itu,kita bisa apa. Kalau ini sudah kehendak Tuhan bagaimana pun saya bilang tidak tetap akan terjadi" jawab Dr.Harry membuat rasa syukurku kembali terucap. Aku bersyukur Tuhan mendengar doaku, dan usaha pengobatanku tidak sia-sia.
"Apa kondisi ini pernah terjadi pada yang lain Harr?, " tanya Papa yang duduk disampingku.
"Pernah Mas tapi gak banyak, tapi kamu beruntung Bisma dapat 1 kesempatan namun kamu langsung dapat 2," kata Dr.Harry sumringah.
"Maksud dokter?, " aku bingung.
"Kamu belum tahu kalau Ribby hamil bayi kembar?, "
"Masyaallah, " suara Mama terdengar sedikit keras, yang dari tadi juga menyimak percakapan kami.
"Alhamdulillah, " aku juga papa mengucap bersyukur, langsung aku mendekati Ribby dan mencium keningnya. Perlahan kulihat dia mulai membuka mata.
"Mas?, " dengan suara lemah dia memanggilku.
"Ya sayang, " jawabku membelai pipinya.
"Aku minta maaf Mas, Mama mas marah ya pada kita?, " kusadari begitu takutnya Ribby sampai membuatnya pingsan seperti ini.
"Gak sayang, mama gak marah sama kamu, " Mama membungkuk disampingku agar terlihat oleh Ribby.
"Ibuk...," Ribby kaget melihat mama.
"Jangan panggil Ibuk, tapi panggil Mama juga Papa ya, kamu anak kami juga sekarang, " kini kulihat wajah kaget tadi berubah dengan wajah senyum dengan penuh rasa syukur.
Akhirnya Mama Papa juga Si Mbok pulang duluan bersama Pak Eko, setelah aku meyakinkan akan menjaga Ribby dan akan membawanya pulang saat dia sudah baikan. Berbagai pesan dan nasehat mereka sampaikan padaku meskipun sudah di mobil.
"Jaga menantu Mama baik-baik, "
"Jaga cucu-cucu Papa dengan benar, “ mengingatnya membuatku geli sendiri.
Sebelum mobil itu melaju aku kembali mencium tangan Mbok Irah.
“Terimakasih ya Mbok, Mbok udah jaga Ribby untuk aku selama ini,” mata tua itu kini dipenuhi air mata menatapku, tak bisa aku bayangkan kalau tidak ada Si Mbok yang membantuku.
“Mbok selalu berdoa yang terbaik untuk kalian berdua, bagaimana pun juga kalian anak-anak Mbok,” Mbok Irah mengelus lenganku dan menatapku dengan wajah sendu, wajah ibu kedua bagiku.
*****
Pov Ribby
Hidupku sekarang berubah seratus delapan puluh derajat. Kehidupanku beberapa tahun lalu yang dikelilingi dengan orang-orang yang sulit menerima kehadiranku dan selalu mendapatkan nyinyiran menyakitkan, kini dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayangiku.
Tuhan mendengar doa-doaku selama ini kesakitan dan ketakutan masa lalu pun kini hilang lenyap. Kini yang ada hanya kebahagian. Rasa syukur pun tak bisa putus aku ucapkan saat keluarga baruku akan segera hadir, bayi-bayi lucu yang akan dititipkan Tuhan padaku. oh... sungguh aku gak sabar, membayangkannya saja sungguh sudah membuatku bahagia.
Dua hari setelah aku pulang dari rumah sakit malam itu, Mama mulai gencar mempersiapkan pernikahan resmi untukku dan Mas Bisma.
"Biar Mama yang urus semuanya, kamu istirahat saja, " begitu kata mama saat aku berniat membantu.
Begitu besar perhatian dan kasih sayang yang aku dapat dikeluarga ini. Sedikitpun aku tidak diperbolehkan bekerja, membantu pekerjaan rumah kini tak lagi aku lakukan. Begitu besar harapan yang kulihat dari wajah mama dan papa untuk cucu yang begitu meraka nantikan.
"Lamunin apa Bee?, " tiba-tiba Mas Bisma sudah berada disampingku yang lagi duduk-duduk dibalkon kamar Mas Bisma sore ini. Ya... Kini kamar ini jadi kamar kami, setelah Mas Bisma kembali mendekor ulang semua. Hanya butuh satu hari semua sudah tampil baru. Alasannya, karena semua adalah bekas dipakai saat Mas Bisma dan Mbak Maya menikah dulu. Huuuft... Terlalu berlebihan menurutku, tapi begitu mau Mas Bisma aku bisa apa.
"Mmmhh... Gak ada mas, " jawabku senyum menatapnya.
"Serius, Mas gak mau kamu sampe stress ya," jawabnya sambil mengelus perutku, mengisyaratkan kalau sebenarnya tidak ingin bayinya kenapa-kenapa.
“Aku Cuma bosan Mas, seharian gak ngapa-ngapain, " aku jujur kali ini, aku yang biasa bergerak mengerjakan apa aja waktu bersama Mbok Irah merasa canggung kalau kini hanya duduk-duduk saja.
"Lha trus kamu mau ngapain lagi ?," tanya Mas Bisma menatapku sambil mengangkat bahu.
"Gimana kalo aku bantuin kerjaan Mas aja, palingan duduk di depan komputer aja kan?," usulku dengan tawa ceria namun menghasilkan kerutan kening Mas Bisma.
"Emang kamu bisa?, " tanya Mas Bisma ragu.
"Dikit-Dikit bisa mas, gini-gini aku pernah kerja juga lho mas," jawabku bangga, namun hanya dibalas mangut-mangut oleh mas bisma membuatku sedikit kesal dan mendorong lengannya. Berhasil membuatku kesal, mas bisma malah tertawa menggodaku.
"Iya iya, tapi jangan dipaksain ya. Kalo capek, istirahat oke sayang, " aku bahagia Mas Bisma mau menuruti keinginanku.
Seminggu berlalu, perlahan aku mulai suka mengerjakan pekerjaan yang diajarkan Mas Bisma.
Setelah mobil Mas Bisma yang mau ke kantor menghilang dibalik gerbang, aku pun segera balik lagi kedalam rumah. Diruang tengah Mama lagi mendengarkan Infotaiment ditemani secangkir teh. Ditangan mama masih ada katalog model baju pengantin yang akan aku pakai bulan depan. Meskipun aku sudah bilang untuk pakai baju seadanya Mama tetap ngotot. Takut mama kecewa aku pun mengikuti kemauan Mama. Di meja juga terletak berbagai model undangan.
Dengan sopan aku ikut bergabung duduk disamping Mama. Gak ada yang nyangkakan aku dan Mama bisa akrab secepat ini. Bahkan tak jarang Mama membelaku saat terjadi perdebatan kecil antara aku dan Mas Bisma.
“Ribby sini, kamu suka yang mana? Yang ini atau yang ini,” Mama memperlihatkan dua model rancangan baju yang menurutku sama-sama bagus. Bingung mau jawab apa aku hanya tersenyum dan menyerahkan semuanya pada Mama. Apa pilihan Mama akan aku pakai kataku, membuat Mama tampak senang.
Ting tong…Ting tong. Terdengar suara bel dari.
“Siapa yang pagi-pagi udah namu?,” bisik Mama, meskipun berbisik namun masih terdengar jelas ditelingaku.
“Biar Ribby lihat Mah,” aku berdiri hendak membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Sayang, kamu duduk aja, ada Mbok Tini yang akan bukain, " kata Mama menahan tanganku, melihat Mbok Tini sedikit berlari membuatku kembali duduk.
"Ribby, kamu lebih suka mana? Yang ini atau yang ini...?," kali ini mama mendekat memperlihatkan model dua undangan kepadaku.
"Selamat pagi Mah," suara perempuan terdengar membuatku urung menjawab pertanyaan Mama. Kulihat mama sedikit melongo melihat sosok yang kini berjalan kearah kami.
"Maya? Tumben kamu pagi-pagi kesini," jawab Mama dengan wajah kurang suka.
"Tadi aku kebetulan lewat, jadi aku putusin untuk mampir Mah, " Mbak Maya cipika- cipiki dengan Mama, sedangkan aku hanya diam memperhatikan setelah aku bergeser duduk dari samping Mama.
"Ada apa ya Mbak Maya tiba-tiba datang kesini?," bathinku bertanya-tanya.
“Mas Bisma mana Mah?,” Tanya Mbak Maya dengan sedikit celingak-celinguk melihat kearah tangga dan ruang makan.
“Kamu pikir sekarang jam berapa? Sudah pasti Bisma udah berangkat ke kantorlah,” jawab mama kembali focus dengan undangan yang dari tadi masih ditangan Mama. Kuperhatikan Mbak maya mangut-mangut mendengar jawaban Mama.
"Mama lagi liat apa?, " tanya Mbak Maya mengintip katalog yang masih terpampang di pangkuan mama.
"Oh ini, Bisma kan mau menikah jadi tante lagi liat-liat baju pengantin dan undanganya," jawab Mama, namun aku dibikin heran dengan sapaan tante dalam kalimat mama.
"Kenapa ya? Apa mama gak suka Mbak Maya masih memanggilnya Mama?," aku sibuk dengan pikiranku mendengar percakapan mereka.
"Mas Bisma mau menikah Mah? Sama siapa?, " tanya Mbak Maya terkejut.
"Ribby, tuh orangnya," jawab mama menunjuk kearahku sontak mbak maya menoleh kearahku.
"Pagi Mbak," sapaku sambil melempar senyum, kulihat dahinya berkerut sambil memikirkan sesuatu.
"Kamu? kamu yang waktu itu dirumah sakitkan?," tanya mbak maya begitu mulai mengingatku. Ya...suami istri yang berdebat didepanku dirumah sakit waktu itu adalah Mbak Maya dan suaminya.
"Iya Mbak, ternyata Mbak masih ingat," jawabku masih dengan senyuman.
“Mah serius Mas Bisma mau menikah dengan perempuan ini?,” aku bingung kenapa Mbak Maya tampak tidak suka denganku.
“Iya,emang kenapa?,” Tanya mama datar tanpa ekspresi.
"Waktu itu aku liat dia lagi di spesialis kandungan Mah? Aku yakin dia lagi hamil mah. Eh kamu lagi hamil ya?, " aku gak menyangka akan menerima pertanyaan seperti ini dari Mbak Maya.
"Iya dia lagi hamil, Ribby lagi mengandung anaknya Bisma sekarang," Mama langsung menjawab karena terlihat aku terdiam, belum siap dilontarkan pertanyaan seperti itu.
"Apa? kok bisa Mah? Mama yakin yang dalam kandungannya itu anak Mas Bisma, kan kita sama-sama tahu Mas Bi...,"
"CUKUP Maya, Tante udah sabar ya menerima penghinaan yang kamu tujukan pada Bisma dari dulu. Sekarang kalau kamu disini hanya untuk bikin rusuh lebih baik kamu pergi dari sini, terserah Bisma mau menikah dengan siapa, kamu gak ada hak untuk lagi ikut campur," aku kaget mendengar mama membentak Mbak Maya, dan lebih kaget lagi Mbak Maya yang gak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari Mama. Dengan berat muka kulihat Mbak Maya pergi meninggalkan kami dengan berlari meninggalkan rumah tanpa pamit.
Ada perasaan kasihan yang muncul dari lubuk hatiku pada Mbak Maya, terlebih mengingat perdebatannya dengan suaminya waktu itu.
“Kamu jangan ambil hati ucapan maya ya,” kata Mama menatap ke arahku. Aku mengangguk sambil tersenyum pada Mama.
*****

“Bisma tadi maya kesini lho,” mama buka suara saat kami baru akan menyantap makan malam, membuat Mas Bisma dan Papa saling pandang.
“Maya Mah? Tumben?,” tanya mas Bisma kembali menyantap makanannya.
“Iya, mama tadi juga kaget, kenapa dia tiba-tiba datang, Cuma…,” Mama tak melanjutkan kata-katanya dan menatap kearahku.
“Cuma apa Mah,” papa ikut dibuat penasaran.
“Cuma dia sempat kaget ribby yang akan menikah dengan kamu, katanya dia sempat ketemu dengan Ribby di rumah sakit,” jelas Mama.
“Benaran Bee kamu ketemu Maya?,” kini Mas Bisma beralih menatapku, aku hanya mengangguk.
“kapan Neng?,” Mbok irah ikut-ikutan karena gak pernah tahu aku bertemu dengan Mbak Maya.
“Waktu Mbok ke apotik, tapi cuma tegur sekilas kok, gak nyangka mbak Maya mengingat aku,” jawabku sungkan karena semua menatap kearahku.
*****
“Bee serius kamu jumpa Maya kemaren?,” dikamar saat aku dan Mas Bisma bersiap untuk tidur, Mas Bisma kembali mengusik tentang Mbak Maya. Aku dibuat bingung kenapa itu begitu menarik perhatian Mas Bisma.
Aku hanya mengangguk menegaskan sekali lagi.
“Kok kamu gak ada cerita sama Mas?,” aku kembali terdiam harus menjawab apa.
“Apa aku harus menceritakan perdebatan yang begitu jelas terdengar olehku antara Mbak Maya dan suaminya. Perdebatan yang terjadi karena Mbak Maya yang begitu menginginkan keturunan namun gak kunjung hamil. Hal yang juga menjadi alasan kalian bercerai beberapa bulan yang lalu. Apa aku harus menceritanya Mas?,” aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

🦋🦋🦋🦋
Bersambung…

Part 15
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi

"Bee kok malah bengong sih, " Bisma menatap Ribby yang masih tercenung mendengar pertanyaannya.
"Mmmh...hah...maaf Mas aku lupa cerita, apalagi setelah berbagai kejadian seminggu ini membuatku benar-bebar lupa," jawab Ribby berbohong.
"Ya sudah gak apa-apa, yuk sekarang kita tidur Bee, " ajak Bisma karena tak ingin istrinya stres, Bisma membawa Ribby dalam dekapannya, mereka tidur sambil berpelukan.
02.00 dini hari.
"Mas... Mas bangun," Ribby menggoyang-goyang tubuh Bisma.
"Mmmmh...," Bisma menyipitkan matanya karena silau cahaya lampu yang sudah dinyalakan Ribby.
"Mas, aku mau makan soto medan Mas," bisik Ribby pada Bisma yang masih setengah bangun.
"Hah? soto medan?, " Bisma terkaget bahkan langsung bangun dan duduk. .
"Iya Mas," jawab Ribby tanpa dosa sambil mengelus-elus perutnya. Bisma pun terlihat lesu saat melihat jam dinding masih menunjukkan pukul dua pagi.
"Aduuh Bee, kemana mau Mas cari soto medan jam segini," jawab Bisma putus asa.
"Tapi aku mau mas, " jawab Ribby manja.
"Ya udah deh Mas cariin," jawab Bisma bangkit dan bersiap-siap.
"Tungguin Papa ya sayang, Papa akan cariin apa yang kalian mau, " Bisma mengelus perut Ribby dan mengecupnya, sementara Ribby tersenyum melihat kelakuan suaminya.
"Gak apa-apa ya Bee lamaan dikit, Mas belum tahu nih mau cari kemana," kata Bisma sambil menyampirkan jaket di tubuhnya. Ribby mengangguk sambil menatap punggung suaminya menghilang di balik pintu.
Bisma malajukan mobilnya di malam yang dingin, sambil berpikir kemana tempat yang harus dia tuju. 10 menit berkeliling namun tak kunjung menemukan apa yang dia cari, dan itu membuat Bisma frustasi.
"Aku harus kemana lagi nih? Yang aku tahu itu biasanya menu sarapan, kemana harus aku cari tengah malam begini?, " Bisma bicara sendiri, namun akhirnya sebuah senyuman menghias wajahnya, segera Bisma pinggirkan mobil dan mengambil gawainya.
"Bodoh, kok gak kepikiran dari tadi," Bisma membuka aplikasi pesan makanan online, mencari menu soto medan, namun semua gerainya masih tutup. Mata Bisma tertuju pada satu nama warung yang buka sejak jam 4 shubuh sampai jam 9 pagi. Namun terlihat lokasinya cukup jauh dari tempatnya sekarang.
"Aduuh...Gimana nih? Kalo aku pergi kira-kira Ribby masih bisa nunggu gak ya?," Bisma menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan. "Tapi kalau aku pergi sekarang bisa jadi nyampe sana udah buka," akhirnya Bisma melajukan mobilnya ke lokasi yang sudah dia putuskan.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya Bisma sampai ditempat yang dimaksud. Masih sepi, namun sudah terlihat beberapa karyawan yang mulai merapikan tempat dagangannya.
"Mbak, pesan soto medannya satu?," dengan berani Bisma menyela seorang wanita yang lagi merapikan meja dan menata perlengkapan makan diatasnya.
"Tapi kami belum buka Mas," si wanita terlihat kaget dengan kehadiran Bisma yang tiba-tiba.
"Tolonglah Mbak, jauh-jauh saya kesini karena istri saya ngidam Mbak, " jawab Bisma dengan wajah memelas.
"Aduuh gimana ya Mas," Si Mbak nampak ragu.
"Ada apa Tih?," seorang ibu paruh baya menegur si wanita yang terlihat bersama Bisma.
"Ini Buk, Mas ini mau pesan soto medan, istrinya ngidam katanya Buk, " jawabnya sopan.
"Ngidam? Ya sudah biar saya yang bungkusin, kamu lanjutin biar kita bisa segera buka. Sebentar ya Mas, " Dengan senyum bahagia Bisma mengangguk pada si ibu, yang notabene adalah pemilik warung.
"Mas ini sotonya," setelah menunggu beberapa menit, Si ibu mengulurkan seporsi soto yang sudah terbungkus rapi.
"Terimakasih banyak buk," sambut Bisma sambil balik mengulurkan uang sesuai harga yang dia lihat di aplikasi.
"Iya sama-sama Mas, semoga ibu dan bayinya selalu sehat, " jawab si ibu menerima uang dari Bisma.
"Amiin, terimakasih Buk, saya permisi dulu, " Bisma berlalu dan segara melajukan mobilnya kembali kerumah.
*****
"Neng.? Neng ngapain disini sendirian?," Mbok Irah yang mau bersiap sholat shubuh kaget mendapati Ribby duduk sendirian di ruang tengah.
"Aku lagian nungguin Mas Bisma Mbok, "
"Lha emang Mas Bisma kemana Neng,?, "
"Nyari soto medan Mbok, " jawab Ribby tersenyum namun membuat Si Mbok mengernyit kening.
"Nyari soto medan? Pagi-pagi begini? Neng ngidam ya?," tanya Si Mbok bingung dan dengan polosnya Ribby mengangguk.
Mbok Irah masih berdiri didekat Ribby dengan tatapan kasihan dan lebih kasihan lagi memikirkan Bisma yang entah kemana mencari soto dipagi buta begini.
Tak lama kemudian terdengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah, dan itu membuay Ribby senang.
"Sepertinya Mas Bisma udah pulang Mbok," dengan senyum Ribby berdiri.
"Ini Bee, Mas bawain soto medannya," kata Bisma dengan nafas ngos-ngosan yang berlari dari luar rumah.
"Syukurlah, sebentar Mbok ambilin mangkoknya ya," Mbok Irah berbalik menuju dapur dan dikuti Bisma dan Ribby menuju meja makan.
Bisma masih ngos-ngosan dan berusaha mengatur nafasnya disamping Ribby. Ribby seolah mengabaikannya dan hanya fokus pada soto yang sudah dibantu Si Mbok menyajikannya. Bisma hanya bisa melongo melihat kebahagian Ribby yang bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Namun diujung suapan pertama Ribby, Bisma ikut tersenyum bahagia bisa memenuhi ngidamnya sang istri. Satu, dua sampai lima suapan Bisma masih menatap Ribby dengan seksama.
"Udah Mas, " ujar Ribby polos sambil mendorong mangkok yang masih berisi soto bahkan nyaris belum berkurang.
"Segitu doang?, " Bisma melotot yang melihat Ribby yang hanya tersenyum seperti anak kecil. "Tapi ini masih banyak Bee, kamu habisin ya, " Ribby menggeleng membuat bisma kecewa mengingat bagaimana dia mendapatkan soto itu.
09.00
"Mas berangkat dulu Bee, kamu baik-baik dirumah ya, " Bisma mengecup kening Ribby sebelum masuk mobil.
"Iya Mas, " jawab ribby memejamkan mata menerima kecupan Bisma.
Setelah mobil suaminya hilang dari pandangan, Ribby berbalik masuk rumah.
*****
Saat Bisma membuka pintu ruangannya, Bisma dikagetkan dengan sosok Maya yang sudah duduk manis di sofa depan meja kerjanya. Sorot mata Bisma menyiratkan tanda tanya setelah dari tadi malam namanya kembali disebut-sebut mama dan Ribby dirumah. Sebuah senyuman Bisma lemparkan pada Maya yang kini menatapnya.
"Hai May? Apa kabar?, " dengan sopan Bisma menyapa Maya sambil duduk dikursi kerjanya.
"Ya seperti yang Mas liat, " jawab Maya santai.
"Ada apa nih tumben kamu mampir kesini?," Bisma ingin tahu maksud dan tujuan Maya datang menemuinya.
"Gak ada Mas, pengen datang aja. Kemaren aku juga kerumah lho, tapi kayaknya Mama mulai kurang suka denganku, jadinya aku cuma mampir sebentar ,"
"Oh ya? Masa sih mama kayak gitu?, "
"Iya Mas, malahan Mama sampai hati bentak aku juga kemaren, kaget aku dibuatnya, "
"Maafin Mama ya, mungkin Mama gak sengaja lakuinnya, "
"Sebenarnya gak masalah sih Mama ngebentak aku, cuma aku sedikit jengkel Mama ngebela perempuan yang katanya akan jadi istrimu Mas, " mata Bisma melotot mendengar ucapan Maya.
"Memang kenapa dengan Ribby?, " Bisma mulai gak suka Maya menyingung Ribby.
"Itu dia yang ingin aku tanyain sama kamu, maaf kalo aku kepo. Aku tahu dia lagi hamil sekarang padahal kalian baru akan menikah, maksudnya gimana Mas?, "
"Oh itu, kami udah nikah siri sebelumnya dan pernikahan yang dimaksud Mama adalah meresmikan pernikahan kami, "
"Nikah siri? Sejak kapan?, " Maya mulai tampak berdiri dan mendekati meja kerja Bisma. Bisma terlihat bingung bagaimana hendak memberitahu Maya.
"Jangan bilang kamu menikahinya saat kita juga masih dalam ikatan pernikahan," Bisma terdiam, bingung untuk memberi tahu kalau pernikahan merekalah yang terjadi ditengah pernikahannya dengan Ribby.
"Jadi tiap malam kamu mau tidur, sibuk dengan ponselmu itu sebenarnya adalah dia?, " Maya begitu emosi mengingat semua yang sudah dia lewatkan. Dan makin tambah emosi saat Bisma mengangguk membenarkan.
"Sial, kenapa nasibku begitu menyedihkan," Maya menghela nafas dengan kasar dan berkacak pinggang.
"Kenapa kamu marah Maya? Aku menikahimu karena aku mencintaimu, gak ada hubungannya dengan Ribby. Dan jangan sekali-kali kamu menyalahkan Ribby penyebab perceraian kita," Bisma pun mulai berdebat dengan suara tinggi.
"Trus kalo bukan dia siapa lagi, kalo gak ada dia belum tentu kita bercerai sekarang,"
"Cukup Maya, ada apa denganmu? Kenapa sekarang kamu mempermasalahkan pernikahan yang dulu jelas-jelas tidak kamu inginkan?, dan perceraian kita semata-mata itu juga karenamu," Bisma gak bisa mengontrol emosinya lagi.
"Mas, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf," kata Maya sambil berusaha merengkuh lengan Bisma untuk dipeluknya.
"Lepasin Maya, sadar, kita sudah gak ada hubungan apa-apa lagi dan kamu sekarang wanita bersuami, gak pantas melakukan ini, " Bisma menepis tangan Maya yang makin lancang menggandeng lengannya.
 "Mas, katanya dulu kamu masih mencintaiku,"
"Hentikan, lebih baik kamu pulang tinggalkan ruanganku sekarang, " dengan emosi memuncak Bisma mengusir maya dari hadapannya.
Sadar Bisma menolaknya, dengan jengkel Maya pun angkat kaki dari sana.
Begitu Maya menutup pintu dengan kasar, Bisma menarik nafas kuat-kuat seraya mengucapkan istighfar berkali-kali. Bisma menganggap ini adalah ujian menjelang pernikahannya dengan Ribby.
Sampai di rumah Bisma masih kepikiran tentang Maya. Bisma bertanya-tanya kenapa Maya tiba-tiba muncul lagi di dekatnya. Bahkan tidak ragu untuk datang kerumah juga ke perusahaan.
Ada sedikit kecemasan dihati Bisma mengingat Ribby juga bertemu dengan Maya di rumah sakit, terlebih sepertinya Maya juga kurang suka dengan Ribby.
"Bee, gimana ceritanya kamu ketemu Maya di rumah sakit," Bisma sedikit mendesak ingin tahu. Ribby yang lagi duduk di depan meja rias berbalik menatap Bisma yang tiba-tiba membahas Maya lagi.
"Kok mas bahas Mba Maya lagi sih," ada keraguan diwajah Bisma, mengingat Ribby yang lagi hamil membuat Bisma takut kalau Ribby emosi.
"Mmm...Gak, cuma tadi dia datang ke kantor, " jawab Bisma pelan.
"Trus?," Ribby kini berjalan mendekati Bisma yang duduk di pinggir ranjang.
"Sepertinya dia gak suka gitu sama kamu Bee," pelan-pelan Bisma mengatur nada bicaranya agar Ribby tidak kaget. "Makanya Mas mau tahu emang ada apa di rumah sakit," ucap Bisma cepat melihat Ribby langsung murung dan menundukkan kepalanya.
"Kenapa Bee?," tanya Bisma lagi.
"Mas bagaimana seandainya Mbak Maya minta rujuk sama Mas, "
"Lho kok kamu ngomong gitu sih Bee?,"
"Sepertinya ada masalah di pernikahan Mbak Maya Mas, aku liat dia berdebat dengan suaminya di rumah sakit Mas," Bisma melotot mendengar penjelasan Ribby. "Sekarang Mbak Maya tiba-tiba muncul, makanya aku berpikiran begitu Mas," ujar Ribby dengan masih menunduk.
"Astaghfirullah Bee, gak mungkin dia mau rujuk sama Mas, Dia mau suami sempurna, apa yang mau dia harapin lagi dari Mas," Bisma menggenggam tangan Ribby agar prasangka buruk hilang dari pikiran Ribby.
"Tapi gimana kalo dari suaminya yang ini dia juga gak bisa dapat keturunan Mas," Bisma kembali dibuat melotot dengan ucapan Ribby.
"Bagaimana mungkin?," Bisma membathin tidak percaya.
"Bisa jadi Mbak Maya gak suka sama aku, karena dia tahu sekarang aku mengandung anaknya Mas. Makanya Mbak Maya.., " Bisma langsung memeluk Ribby gak mau Ribby menyelesaikan kata-katanya.
"Kamu jangan berpikiran yang gak-gak sayang, ingat kehamilanmu, kamu gak boleh stress. Mas mencintaimu, dan Mas gak akan ninggalin kamu," Bisma mempererat pelukannya pada Ribby agar hatinya tenang. Mungkin karena pengaruh kehamilan membuat Ribby terlalu bawa perasaan pikir Bisma.
*****
Kini Bisma berada dikampung halaman Ribby. Ditemani seorang pengacara Bisma menemui keluarga ayah Ribby. Ribby bermaksud untuk mengundang mereka dihari pernikahannya, sekali gus meminta salah seorang saudara ayah Ribby untuk menjadi wali di pernikahannya nanti.
Awalnya Bisma keberatan, mengingat cerita Si Mbok bagaimana kejamnya mereka dulu terhadap Ribby. Tapi Bisma tidak bisa menolak saat Ribby bersikukuh dengan keputusannya. Bisma pergi dengan Pak Bram kalau-kalau terjadi sesuatu diluar rencana. Bermodal informasi dari Ribby akhirnya kini Bisma sudah berdiri di depan rumah yang baru tampak direnovasi, ada bekas hitam didinding-dindingnya.
"Kalau boleh tahu mau cari siapa ya, " Linda kakak ayah Ribby menyambut kedatangan Bisma.
"Sebelumnya kenalin saya Bisma Buk, suaminya Ribby," mendengar nama Ribby nampak Linda melotot kaget.
"Suami Ribby, Alhamdulillah, " ada senyum diselingi dengan mata berkaca-kaca dari Linda, Bisma dan Pak Bram hanya saling pandang.
"Kenapa Buk,?, " tanya Bisma penasaran.
"Sudah lama saya mencari keberadaan Ribby, saya mau minta maaf padanya, sungguh kami menyesal sudah memperlakukannya dengan hina selama dia disini, " dari cerita Linda, Bisma tahu semenjak Ribby diusir dan pergi dari kampung ini, kehidupan Linda dan keluarga adik-adiknya tak berhenti dirundung masalah dan bencana. Rusdi adik laki-lakinya kena stroke, Reni mengalami kecelakaan, Irwan yang punya bisnis ayam petelur bangkrut dan rumah yang kini dia datangi juga kebakaran beberapa bulan yang lalu.
"Kami sadar ini terjadi karena kami telah menzdolimi Ribby, terlebih dia yatim piatu, jadi tolong sampaikan maaf kami semua pada Ribby ya Nak Bisma" Linda kini banjir air mata.
"Pasti buk, ibuk pasti tahu Ribby wanita sholeha pasti dengan hati terbuka mau memaafkan ibu sekeluarga disini, saya kesini pun karena permintaan Ribby buk, "
"Ada apa?, " Linda mulai menguasai emosinya.
"Sebelumya kami hanya nikah siri Buk, jadi Ribby bermaksud mengundang ibu sekeluarga di pernikahan kami sekaligus untuk jadi wali Ribby Buk," mendengar penjelasan Bisma menbuat Linda tampak sedikit kebingungan.
"Kenapa Buk? Ibu sekeluarga bersedia datang kan?, "
"Bagaimana ya Nak Bisma, jujur saya pribadi ikut bahagia dengan pernikahannya Ribby, cuma itu...untuk jadi wali, Nak Bisma sendiri tau, adek saya Rusdi lagi stroke, dan Irwan... Dia juga gak bisa mas, sejak ternak ayamnya bangkrut dia jadi gampang marah dan emosian, jadi saya takut nanti malah mengacaukan acaranya, jadi lebih baik kami gak usah datang, yang pasti kami merestui kalian berdua, " penjelasan Linda sudah lebih dari cukup untuk Pak Bram membuat surat kuasa untuk melimpahkannya pada wali hakim, dan Linda pun setuju dengan keputusan itu.
Diantar Linda kerumah istri Rusdi, akhirnya surat kuasa itu pun di tanda tangani membuat Bisma lega semua memberi restu atas pernikahannya dengan Ribby.
"Kalo boleh tahu kenapa gak Ribby yang datang kesini naN Bisma? , " tanya Linda saat akan melepas keberangkatan Bisma untuk kembali ke Jakarta.
"Oh maaf Buk, saya sampai lupa. Sekarang Ribby lagi hamil jadi susah buat dia berjalan jauh, " jawab Bisma mengulum senyum
"Alhamdulillah," rona bahagia dan rasa syukur tak bisa Linda sembunyikan.
"Sekali lagi tolong sampaikan maaf dan salam ibuk pada Ribby ya Nak Bisma, " Linda menggenggam erat tangan Bisma sebelum Bisma benar-benar pergi.
"Pasti saya sampaikan Buk, " Bisma menatap lekat kampung halaman istrinya, Bisma berbisik dalam hati, suatu saat nanti akan membawa Ribby untuk berkunjung lagi ke kampung kelahirannya ini.

*****
Sore itu setelah sholat Ashar penghulu dan para tamu undangan sudah datang menghadiri akad nikah Ribby dan Bisma. Mereka memutuskan memilih sore, mengingat Ribby yang sedang hamil, agar tidak kelamaan melayani para tamu.
Dengan lantang Bisma mengucapkan ikrar Ijab Qabul dihadapan saksi dan semua orang. Saat saksi menjawab sah, lantunan doapun menggema diseluruh ruangan.
Tak lama Mama dan Mbok Irah menuntun Ribby untuk duduk di samping Bisma. Baju nikah putih yang indah membuat Ribby semakin anggun, aura kecantikan Ribby makin terpancar saat berada disamping laki-laki ganteng seperti Bisma. Pasangan serasi, ibarat ratu dan raja begitu orang berbisik kala melihat mereka.
Selesai sholat Maghrib acara kembali dilanjutkan setelah Ribby istirahat beberapa saat. Dengan anggun Ribby menyalami setiap tamu undangan yang memberikan selamat dan doa atas pernikahan mereka.
Kini semua orang tahu kalau Ribby adalah istri dari Bisma. Tak ada lagi yang namanya pernikahan rahasia antara mereka. Perjalanan cinta mereka pun kini berakhir bahagia.
*****
8 bulan kemudian
Diruang tunggu rumah sakit rendra citra dan mbok irah menunggu dengan perasaan tegang. Sudah hampir satu jam namun belum ada seorang pun yang keluar dari ruang bersalin dihadapan mereka. Rendra mondar-mandir saking khawatirnya, sementara citra dan mbok irah duduk dengan wajah juga gelisah.
"Mah kok lama ya mah, "
"Yang sabar pah, memang papa pikir ngelahirin gampang apa? Nyawa lho pah taruhannya, "
"Iya papa tahu,"
"Bantu doa aja Pak, Buk, " Mbok Irah menimpali.
Tak lama akhirnya Bisma keluar, membuat mereka yang menunggu segera berhamburan mengelilingi Bisma.
"Gimana Bisma?, Apa Ribby dan bayi-bayinya baik-baik saja?," rendra menatap Bisma.
"Laki - laki apa perempuan cucu Mama," Citra ikut-ikutan bertanya, memang dari awal mereka tidak ingin tahu jenis kelaminnya, biar surprise pas lahir begitu kata Bisma saat USG bulan ke lima.
"Gimana mas lancar persalinannya?," Si Mbok gak ketinggalan.
"Alhamdulillah persalinannya lancar Mbok, Ribby dan bayinya pun selamat dan sehat, dan cucu Mama laki-laki dan perempuan, gak kurang satu apa pun," jawab Bisma dengan bangga.
"Alhamdulillah," sujud syukur Rendra lakukan seketika. Begitu juga Citra dan Si Mbok mengucap bersyukur berkali-kali.
"Udah boleh kami jenguk ke dalam?,” tanya Rendra tidak sabaran.
"Tunggu Pah, Ribby dan bayinya lagi dibersihin, kalo mau jenguk gak disini pah diruang inap aja," cegah Bisma.
Setelah menunggu beberapa lama, Ribby sudah dipindahkan ke ruang inap, bersama dengan sepasang bayi. Setelah mengucapkan selamat dan terimakasih pada Ribby semua tampak sibuk menatap bayi mungil dipojok ruangan.
Bisma dan Ribby hanya tersenyum menyaksikan kebahagiaan itu. Perlahan Bisma merengkuh tubuh Ribby dan mengecup keningnya.
"Terimakasih ya sayang, dengan hadirnya bayi-bayi mungil kita mas merasa benar-benar jadi laki-laki sempurna, " Bisik Bisma pada Ribby.
"Iya Mas," jawab Ribby dengan senyum merekah. Kembali mereka menatap adegan dihadapan mereka dengan senyum bahagia. Adegan dimana Citra dan Rendra yang rebut dan berebut memberi nama pada bayi yang baru beumur beberapa jam.
"Al-hamdulillahirabbil'alamin. Terimakasih Tuhan, telah Engkau rencanakan kebahagiaan terindah untukku," bisik Ribby dalam pelukan Bisma.

END

Happy ending…👏👏👏
Ekstra Part
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi

Pov Maya
Aku bingung dengan Mas Bisma, apakah segitunya dia memcintaiku. Setelah aku acuhkan sedemikian dingin dia masih tetap ingin menikahiku. Disamping itu aku juga betanya-tanya apa Mas Bisma tidak bisa mengkondisikan dirinya dikarenakan kondisinya yang sulit aku terima, sampai harus tetap menjadikan aku syarat atas bantuan Papanya pada orang tuaku.
Jujur aku juga masih menyayanginya, namun saat ini separuh hatiku sudah diisi oleh Irgi. Aku berharap dengan kehadiran Irgi perlahan aku bisa melupakan Mas Bisma, syukur-syukur kami bisa menikah suatu hari nanti sehingga Mas Bisma menerima kenyataan kalau kami tidak bisa lagi bersama.
Sebagai seorang wanita, akupun ingin menjadi seorang ibu. Sejak anak Mas Wisnu lahir beberapa tahun lalu sungguh aku juga ingin memiliki bayi lucu. Tidak bisa dibayangkan betapa bahagianya aku memiliki bayi perempuan yang lucu, bisa didandani bak princes negeri dongeng. Oh… senangnya.
*****
Kini aku sah jadi menjadi istri Mas Bisma, otomatis aku harus mengubur mimpiku memiliki seorang bayi. Pikiran dan hati berpadu dengan rasa kecewa, namun aku tak bisa menolak saat Papaku bergantung pada Papa Mas Bisma akan kelangsungan nasib perusahaannya, Papa juga terancam dipolisikan kalau tidak bisa menyelesaikan masalah dana yang telah digelapkan orang kepercayaannya itu.
Malam pertama kami pun dilewati dengan berbagai alasan dariku, aku hanya berpikir siapapun orangnya pasti akan bersikap sama denganku. Tak sekali dua kali aku menolak Mas Bisma yang ingin berhubungan suami istri. Tapi bagaimana pun aku menolak, dia tetap baik dan mesra kepadaku.
Sampai suatu hari setelah beberapa bulan pernikahan kami, Mas Bisma yang sudah diburu nafsu namun dihadapkan dengan aku, seorang istri yang menolak bahkan enggan disentuh olehnya membuatnya marah. Tak kuhiraukan nada bicaranya yang semakin tinggi padaku, saat dia pergi ditengah malam aku pun tak menghalanginya. Merasa bersalah? Tidak sama sekali aku merasa mulai sedikit ada ruang bernafas dengan tak adanya Mas Bisma dikamar ini.
Kini sudah hampir dua hari Mas Bisma tidak pulang, buatku bukan masalah sama sekali. Namun tidak dengan kedua mertuaku, baginya itu suatu masalah saat istri tak tahu kemana suaminya pergi. Saat Mama ingin aku mencoba lagi menghubungi Mas Bisma dan menyuruhnya pulang , tak ada lagi alasanku untuk mendiamkannya. Kuhubungi nomor Mas Bisma, tidak aktif, aku kesal dan makin emosi saat Mas Bisma mengabaikan telponku.
Tak lama saat sosok itu muncul dibalik pintu, berharap dia sudah melupakan kejadian lalu dan mulai kembali merayuku pun pupus saat dia sama sekali tidak melirikku. Bahkan mulai berkata sinis padaku.
"Ada apa dengan Mas Bisma ya?, apa aku terlalu keterlaluan,? " tanyaku dalam hati saat dia tega menghalauku dari pandangannya.
Sejak hari itu Mas Bisma mulai mengabaikanku, dia lebih asyik dengan gawainya ketimbang merayu dan membujukku yang mulai terbiasa ditelingaku. Jujur aku merasa ada sedikit kepuasan dalam diriku saat Mas Bisma begitu menghambakan cintanya padaku. Tapi kini itu tak lagi aku dengar, memang kami sekamar tapi mulai jarang bicara satu sama lain.
Terasa gak lagi dianggap aku mulai menata hati untuk kembali memahami statusku dimata Mas Bisma, seorang istri yang harus patuh pada suaminya. Aku bertekad untuk berubah dan berusaha menerima Mas Bisma apa adanya. Langkah pertama yang aku lakukan justri harus mendapatkan perhatian Mas Bisma lagi. Bangun pagi, menyiapkan sarapan aku lakukan agar Mas Bisma kembali melirikku. Aku senang saat kata-kata lembut mendayu kembali terlontar untukku. Aku merasa sukses mendapatkan hati Mas Bisma kembali, saat Mas Bisma akan mengajakku jalan sepulang dinas luar kotanya.
Waktu yang dijanjikan Mas Bisma mundur. Dia batal kembali hari ini. Dengan niat untuk memperbaiki hubungan kami, aku pun menyusul Mas Bisma ke Surabaya. Aku bertekad akan melunak kali ini, aku akan mengubah jalan pernikahan kami dengan mengurangi sedikit egoku.
Beberapa lingeri aku siapkan karena berecana menghabiskan malam yang indah dengan suamiku yang mulai aku perhatikan lagi. Aku yakin masih ada aku dihatinya, masalah Mas Bisma bisa atau tidak menitipkan benih dirahimku, akan aku pikirkan nanti bathinku.
Mas Bisma nampak kaget saat aku memberi tahu kedatanganku menyusulnya. Dengan berbagai alasan dan ancaman Mas Bisma akhirnya mau menjemputku meski sebelumnya dia menolak karena capek luar biasa.
Di mobil tak ku lepaskan dekapanku dari lengannya, aku makin senang saat Mas Bisma tampak gak keberatan sama sekali. Sesekali Mas Bisma mengelus rambutku sambil tersenyum. Sontak langsung aku merasa Mas Bisma mulai memperhatikanku kembali.
Sampai dihotel kulancarkan rencana yang sudah aku susun dari Jakarta. Menggunakan lingeri sexy aku pun mulai menggoda Mas Bisma, tak butuh waktu lama Mas Bisma jatuh dalam rayuanku. Dengan lembut kami bercumbu mesra, namun itu tak berlangsung lama saat pikiran buruk itu kembali menyeruak. Ada rasa menyakitkan saat harus membayangkan menghabiskan waktu tanpa ada kehadiran seorang anak. Spontan kata itu keluar dari mulutku, bisa aku bayangkan bagaimana sakit hati Mas Bisma mendengarnya. Aku khilaf karena tak memikirkan perasaannya, Mas Bisma pergi meninggalkanku tanpa menghiraukan teriakanku memanggilnya.
Sama sekali aku tak menyangka kalau Mas Bisma menceraikanku, tanpa bisa berkata-kata aku pasrah menerimanya meskipun ada bagian hatiku menolak keputusan ini. Aku pun kembali dibuat kaget saat Mas Bisma mambawa serta Irgi dan menyerahkan aku padanya.
"Dari mana Mas Bisma kenal Irgi? Sejak kapan Mas Bisma tahu hubunganku dengan Irgi?. Kalau Mas Bisma udah tahu kalau aku bersama Irgi kenapa Masih mau menikahiku? " berbagai pertanyaan ada dibenaku saat Irgi kini berdiri disamping Mas Bisma. Berpikir ini yang terbaik aku menerima keputusan Mas Bisma.
Seminggu setelah pertemuan terakhirku dengan Mas Bisma ada perasaan menyesal meyeruak dihatiku.
"Apa benar ini adalah keputusan terbaik?, "kataku pada diri sendiri saat ada sedikit kerinduan padanya. Namun saat rasa bersalah makin menguasai diri, aku hibur diriku sendiri dengan menyalahkan kondisi Mas Bisma.
*****
Begitu habis masa menunggu bagiku, dibulan berikutnya pernikahanku dan Irgi berlangsung, doa dan harapan baru mengiriku menuju bahtera rumah tangga. Dimalam pernikahan kami, semua berlalu dengan syahdu diseligi deru nafas saling menggoda, kuberikan dengan ikhlas apa yang selama ini aku jaga pada Mas Irgi suamiku, tanpa dibayangi pikiran buruk dan rasa takut.
Setelah menikah aku diajak Mas Irgi untuk tinggal di apartemennya. Bisa dipastikan kehidupan rumah tangga yang dulu aku rasakan dengan Mas Bisma sedikit berbeda dengan kehidupan bersama Mas Irgi. Dua hari setelah menikah Mas Irgi sudah harus masuk kerja, terbang bersama maskapainya.
"Mas kok udah kerja aja sih? Inikan baru dua hari pernikahan kita, masa kamu udah harus kerja aja sih?, " rengekku melihat Mas Irgi mempersiapkan perlengkapannya.
"Mas minta maaf ya, " jawabnya tanpa rasa bersalah sama sekali. Akhirnya aku sadar ini alasan Mas Irgi belum mau membahas bulan madu kami.
"Tapi bukannya kalo udah nikah seharusnya kamu dikantor Mas, gak harus terbang lagi?, " aku sedikit menggerutu.
"Iya sayang, tapi masih belum berlaku sampai lima bulan kedepan, setelah itu baru Mas gak pergi lagi, kamu sabar ya, setelah ini kita bahas masalah bulan madunya oke, " dengan sedikit kesal aku harus melepas keberangkatan Mas Irgi yang pergi untuk 3 sampai 4 hari kedepan.
Bosan tinggal sendiri akhirnya aku menghabiskan waktu dirumah orang tuaku, saat Mas Irgi mendarat dia akan menjemputku lagi. Saat aku baru merasakan senang Mas Irgi kembali dirumah, besokya dia akan berangkat lagi, begitu terus.
Satu bulan berlalu, tapi belum ada tanda-tanda kehamilan padaku. Begitu juga dibulan kedua siklus haidku Masih tejadi seperti bulan-bulan sebelumnya.
"Kok belum hamil juga ya?, " ada sedikit gurat kecewa saat sore itu aku dapati datang bulanku. Pikiran buruk langsung melintas dalam pikiranku.
"Mas, aku pengen hamil Mas tapi kok belum juga ya?," ku temui Mas Irgi yang kebetulan hari ini ada dirumah.
"Kamu yang sabar, ini juga baru dua bulan pernikahan kita, banyak lho pasangan diluar sana yang kosong beberapa bulan bahkan sampai satu tahun dulu, " jawab Mas Irgi santai, masih fokus dengan gawainya sambil menyeruput kopinya.
"Setahun? Aku gak mau nunggu selama itu," kataku dalam hati dengan geram.
"Kita cek ke dokter yuk Mas, " ajakku dengan manja pada Mas Irgi.
"Apa," Mas Irgi tampak kaget dengan usulku.
"Ayolah Mas, gak apa-apakan kalau kita jaga-jaga dari awal," ku atur intonasi bicaraku agar dia tidak tersinggung.
Dengan beberapa rayuan akhirnya Mas Irgi mau tes ke dokter. Syukurlah kami berdua baik-baik saja, aku senang karena masih ada harapan. Mas Irgi pun senang dan kembali menasihatiku untuk lebih banyak sabar.
"Baiklah, aku akan berusaha sabar sekarang," kuhibur diriku sendiri.
Setelah hari itu pikiran buruk kubuang jauh-jauh. Sampai dirumah aku pun gogling apa yang bisa dilakukan agar cepat mendapat momongan. Semua aku ingat dan aku terapkan mulai dari komsumsi makanan sehat, mencatat siklus haid agar tahu masa subur, bahkan menyuruh Mas Irgi minum madu penyubur.
Semua aku lakukan demi mendapat hasil yang memuaskan, marah ku memuncak saat tanggal yang baik menunjukkan untuk berhubungan, Mas Irgi malah mendadak untuk berangkat kerja.
"Mas gak bisa perginya di undur dua atau tiga hari?, " tanyaku sore itu sebelum dia berangkat besok pagi.
"Gak bisa sayang, " jawabnya santai.
" tapi Mas,
"sudahlah kamu jangan terlalu obsesi seperti itu bisa jadi perkiraanmu salah, lagian memang kita belum ditakdirkan mau gimana lagi?, " aku bosan mendengar ceramahnya tentang sabar dan takdir. Begitu terus sampai telingaku panas mendengarnya, seolah aku saja yang mau untuk punya bayi. Untuk sekian kali aku mengalah, mengizinkan Mas Irgi pergi diwaktu aku sangat butuh kehadirannya.
*****
Sepulang Mas Irgi pagi itu, aku langsung mengajaknya untuk ke dokter. Melakukan program kehamilan dengan pengawasan dokter berharap ini akan berhasil. Sebulan penuh kami melakukan semua saran dan anjuran dokter, bahkan posisi bercinta pun tak luput dari perhatian kami. Namun harapan sirna dan kekecewaan kembali menyeruak hatiku saat testpeck masih menunjukkan garis satu.
Kembali kami menemui dokter untuk konsultasi, sesuai dugaanku kami melewati masa subur yang pas untuk berhubungan.
"Bisa tidak Mas atur lagi jadwal terbangnya Mas, aku mau hamil Mas, " kataku dengan sedikit emosi begitu keluar dari ruang dokter siang itu.
Kali ini Mas Irgi juga mulai emosi menanggapi ucapanku. Tidak peduli aku lagi dimana, dengan kasar aku bantah semua perkataannya. Aku mau Mas Irgi mengalah kali ini.
Saat aku sadar ada seorang wanita yang dari tadi mendengar perdebatan kami membuat aku melunak saat Mas Irgi menggenggam tanganku. Saat Mas Irgi pergi ke apotik menebus vitamin yang tadi dokter resepkan, si wanita tersenyum ramah padaku. Saat aku menatapnya, enggan rasanya aku membalas sapaannya saat aku melihat dia meraba-raba perutnya. Tak heran memang, karena ini memang bagian ibu dan anak, tapi ada rasa iri dihatiku melihatnya. Melihat orang lain bisa sementara aku tidak.
Sesampai dirumah, enggan aku berinteraksi dengan Mas Irgi, meskipun dia tetap bersikap baik seperti tidak terjadi apa-apa aku enggan untukku menanggapi perkataannya, terlebih ingat kalau besok sore dia harus pergi lagi.
"Huuft... Kalau begini terus kapan aku bisa hamilnya?, " kuhempaskan tubuhku dikasur setelah kepergian Mas Irgi sore itu.
"Jangankan hamil, kehadirannya yang sangat aku harapkan setiap hari saja tak bisa aku rasakan. Tau begini masih enak saat jadi istri Mas Bisma dulu, " tiba-tiba aku kepikiran Mas Bisma yang tiap hari selalu perhatian dan merayuku tiap akan tidur.
"Boleh juga lah besok pagi aku mampir kesana," aku tersenyum saat datang sebuah ide.
"Tapi apa kata mereka nanti, kalau aku tiba-tiba datang, " ada keraguan dihatiku.
"Bodo ah, bagaimana nanti biar nanti aku pikirin, yang penting aku pengen ketemu Mas Bisma, " jawabku egois.
Aku di sambut Mama Mas Bisma, berlagak aku yang kebetulan lewat membuat rasa penasaran Mama sedikit berkurang. Ngobrol beberapa saat dapat aku rasakan mantan Mama mertua mulai
terganggu akan kehadiranku, terlebih saat aku menyinggung gadis... Ya gadis yang sebelumnya aku lihat dirumah sakit. Tak bisa kupungkiri dia gadis yang cantik. Gamis dan hijab yang menutup tubuhnya menjadikannya sangat anggun. Wanita sholehah, bagaimana bisa Mas Bisma menolak pesonanya pikirku.
"Dia? Calon istri Mas Bisma? Tapi dia kan lagi hamil, " bathinku setelah menetap wanita yang kini tersenyum ramah padaku.
"Bagaimana bisa sementara Mas Bisma divonis dokter...?," aku berdebat dengan fikiranku sendiri. Sontak bisikan setan menguasaiku sampai-sampai kata itu keluar lagi dari mulutku.
Mama Citra seketika emosi mendengar tuduhaku, aku langsung diusirnya. Tanpa pamit aku pergi, dengan kesal aku pukul stir berkali-kali. Kutarik rambutku kuat-kuat saat memikirkan sesuatu diluar kemampuanku.
"Aku yang baik-baik saja belum juga bisa hamil sampai saat ini, sementara Mas Bisma yang diragukan kesuburannya bisa membuahi seorang gadis?, " kulajukan mobilku sambil kembali mencerna kenyataan yang sulit aku terima. Saat teringat sesuatu aku mendadak mengerem mobilku.
" gadis? Calon istri? Hamil?, apa maksudnya?, " kembali pertanyaan itu muncul dikepalaku.
Aku kaget dengan ponsel yang tiba-tiba berbunyi.
"Halo Ma," aku menjawab telpon Mamaku.
"May, kamu dimana?, " Tanya Mama diseberang sana.
"Iya Ma, ini aku lagi dijalan mau kesana, "
"Ya udah Mama tunggu, buruan ya, "
"Kok aku lupa ada janji sama Mama, ya udah besok aja aku ke kantor Mas Bisma biar gak penasaran lagi, " kembali aku lajukan mobilku menuju rumah Mama.
*****
Aku keluar dari kantor Mas Bisma dengan mata berembun. Kembali terlintas dibenakku betapa miris jalan hidupku. Menikah diatas pernikahanya yang pertama, mendapat suami mandul, diceraikan dan sampai saat ini belum juga bisa hamil sementara Mas Bisma bisa.
"Ya Tuhan apa ini teguran untukku, karena sudah jadi istri durhaka saat Bersama Mas Bisma dulu, tak mau melayaninya meskipun aku tahu itu berdosa, " tak lagi bisa kubendung air mataku.
"Kuhina kondisinya yang tak akan menjadikanku seorang ibu, tapi sekarang justru aku yang...., " kembali air matamu tumpah memikirkan semua.
Kuhempaskan tubuhku dikasur, semua yang kualami pagi ini sungguh menguras emosiku.
Sayup-sayup kudengar adzan zduhur berkumandang, lantunan kalimat Allah serta merta menggetarkan hatiku. Seketika air mataku kembali tumpah, segera aku ambil air wudhu dan mengadu pada-Nya. Kutumpahkan semua yang membuat dadaku sesak. Shawalat, dzkir tak henti aku bisikkan hingga hati ini terasa lebih tenang.
Aku tekadkan mulai hari ini akan menjadi istri yang baik buat Mas Irgi, cukup pada Mas Bisma aku membuat kesalahan sebagai seorang istri.
Sebulan berlalu, kini Mas Irgi sudah off dan tidak akan terbang lagi. Mas Irgi yang dapat posisi dibagian kantor dapat dipastikan akan ada untukku setiap hari.
Mas Irgi sempat kaget dengan perubahanku, saat dia menyinggung tentang kehamilan, justru kini aku yang balik menasehati.
"Yang penting kita udah usaha Mas, hasilnya mau gimana kita serahkan pada yang diatas, " Mas Irgi melongo mendengar kata-kataku, tapi akhirnya dia tersenyum dan membawaku dalam pelukannya.
Hariku kini mulai terasa menyenangkan setelah pikiran yang menguras emosi aku lepaskan. Meskipun bukan jadi prioritas utama, tapi tepat hidup sehat kami lakukan dan usulan dan saran dokter kami lakukan dengan sabar.
Sampai akhirnya setelah dua bulan kesabaranku membuahkan hasil, tak terkira bagaimana bahagiaku saat tespeck dengan dua garis berada ditanganku.
"Alhamdulillah, " Mas Irgi mengucap syukur begitu aku keluar dari kamar mandi.
"Kita ke dokter ya sayang, " aku menganguk senang pada Mas Irgi.
Dokter memastikan akan kehamilanku, sudah masuk empat minggu usianya saat ini. Senyum dan senyum menghiasi wajahku. Semua saran dari dokter aku dengarkan baik-baik, demi calon bayi yang kini berada dalam rahimku.
Bulan demi bulan aku jaga janin yang kini ada dalam perutku, sampai akhirnya empat bulan kehamilanku, kepalamu tiba-tiba pusing, aku rasakan ada sesuatu yang mengalir diantara pahaku, saat aku menunduk kulihat begitu banyak darah dilantai, seketika aku peluk perutku tak ingin terjadi apa-apa pada bayiku.
“Mas, Maaas…, " teriakku memanggil Mas Irgi yang kebetulan lagi di rumah. Mas Irgi kaget dan langung menggendongku untuk ke rumah sakit.
Aku yang masih setengah sadar tak henti-hentinya berdoa semoga bayiku baik-baik saja. Setiba di rumah sakit aku diangkat keatas brankar, dan saat punggungku menyentuh permukaan brangkar samar-samar di ujung pandanganku kulihat Mas Bisma juga orang tuanya mengelilingi sebuah brankar yang diatasnya ada seorang wanita hamil dan hilang begitu aku didorong ke ruang UGD.
Tubuhku makin lemah saat dokter mengatakan kalau aku keguguran, aku menangis historis, Mas Irgi dan Mama yang sudah datang tak kuasa menenangkanku.
Satu bencana ternyata tak cukup untuk Tuhan mengujiku, saat aku dengar dokter meminta persetujuan Mas Irgi untuk melaksanakan operasi histerictomi padaku dikarenakan pendarahan hebat yang aku alami.
Langit terasa runtuh, ingin rasanya aku mati saja. Bagaimana tidak, selamanya aku tak akan bisa jadi seorang ibu. Akhirnya dokter menyuntikkan obat penenang padaku yang makin histeris.
*****
Perlahan aku mencoba membuka mataku, mengumpulkan kesadaran dan kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang kini aku hadapi. Kurasakan sakit dibawah perutku, aku tidak tahu apakah benar sudah tidak adalagi rahimku disana. Perlahan butiran bening mengalir disudut mataku.
"Sayang…, " Mas Irgi berhampur kerahku saat tahu aku sudah membuka mata. Hanya ada Mas Irgi, tak tahu dimana orang tuaku.
"Mas.. Hiks.. Hiks, " tak kuasa bagiku menahas sesak didadaku. Sakit, lebih sakit rasanya dibandingkan bekas sayatan diperutku.
"Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak," Mas Irgi berusaha menenangkanku.
"Mas, sekarang aku tidak bisa....,"
"Ssstt…Mas gak peduli, bagaimana pun kondisimu saat ini, yang pasti Mas gak akan ninggalin kamu sayang, " aku terpana mendengar kata-kata Mas Irgi.
"Kamu tunggu sebentar, Mas panggilkan dokter, " Mas Irgi keluar tak berapa lama seorang perawat masuk.
"Sus, boleh tahu kamar yang ditempati kamar istri pak Bisma, yang belum lama ini melahirkan, " ku todong perawat yang kini mencek infus yang tergantung sanpingku.
"Oh buk ribby? Kamarnya di ujung lorong ini buk, " jawabnya dengan senyum.
"terimakasih Sus. Apa persalinannya lancar"
"Alhamdulillah lancar buk, sepasang bayi kembar melengkapi kebahagian mereka, " aku tercenung mendengar ucapan sang perawat.
"Masyaallah, Tuhan membayar kesabaranmu Mas, " kataku dalam hati.
Tak selang beberapa lama dokter dan mas Irgi masuk. Mas Irgi terlihat bersyukur saat dokter memastikan kondisiku yang tak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu dokter dan perawat keluar aku bergerak untuk duduk.
"May kamu mau ngapain, kamu jangan banyak gerak dulu, " Mas Irgi kaget melihatku.
"Aku mau ke luar sebentar Mas,"
“Buat apa?, "
"Ada seseorang yang ingin aku temui,"
"Apa harus sekarang?," Aku mengangguk.
"Ya sudah Mas pinjanm kursi roda sebentar ya, "
Dibantu Mas Irgi, kini aku sudah berada didepan sebuah kamar VIP. Dari kaca kecil di pintu dapat aku melihat kebahagiaan yang terjadi didalam sana. Kembali air mataku mengalir mengingat nasibku.
"Mas maafkan aku, sekarang aku mengerti kesedihan yang kamu alami saat aku begitu lancang menghinamu. Maafkan aku Mas, tolong maafkan aku," bisikku sambil tetap menatap mantan mertuaku lagi memeluk masing-masing cucunya, dan senyum bahagia Mas Bisma memeluk istrinya.
"Ku sentuh tanngan Mas Irgi yang masih setia berdiri dibelakangku. Seorang suami yang kini sangat aku butuhkan.
"Kita masuk sayang?, " tanya Mas Irgi lembut.
"Gak usah Mas, kita balik kekamar aja, " nyaliku hilang saat tahu kondisi mereka begitu kontras dengan keadaanku yang begitu menyedihkan.
Saat Mas Irgi membelokkan kursi roda, dengan ujung mataku, aku masih melihat sosok Mas Bisma.
"Selamat Mas aku turut bahagia atas kelahiran bayi kembarmu, " bisikku dengan senyum bahagia.

🍁🍁🍁🍁🍁

Tidak ada komentar:

Posting Komentar