Part 6
#Pernikahan_Rahasia, by Ummuna Fatharani
#Fiksi
Bisma melanjutkan tidurnya setelah sholat shubuh. Berniat menenangkan pikiran membuat Bisma mengambil keputusan untuk meyendiri dirumah ini. Entah mengapa rumah ini menjadi pelarian Bisma kala ada masalah sejak beberapa tahun yang lalu. Sosok Mbok Irah yang bersahaja membuat hatinya tenang dan sejenak melupakan masalah-masalah yang dihadapinya di Jakarta. Entah itu masalah perusahaan, atau aturan-aturan Papa yang membuatnya tertekan setengah mati.
Membiarkan Bisma terlelap sebelum sarapan siap, Ribby pun membantu Mbok Irah di dapur. Karena bahan makanan di kulkas mulai berkurang, akhirnya Si Mbok memilih membuat nasi goreng dengan bahan seadanya. Begitu selesai Ribby dan Mbok sarapan duluan karena kasian untuk membangunkan Bisma yang masih terlelap pulas.
“Oh ya Mbok, makanan kesukaan Mas Bisma apa sih Mbok?,” Ribby mulai mengulik lagi tentang Bisma .
“Gado- gado Neng,” mendengar nama masakan sederhana membuat Ribby mengerutkan dahi.
“Gado-gado Mbok? Gak salah?,” Ribby kurang yakin mengingat orang kaya dan terpandang seperti Bisma masa sukanya gado-gado.
“Iya Neng. Issh… Si Neng gak percaya Mbok bilangin. Kalo ada gado-gado Mas Bisma mah makannya pasti nambah, apalagi sedikit pedas,” Si Mbok pun kembali mempromosiin tuannya sementara Ribby mangut-mangut seperti memikirkan sesuatu.
“Trus apa lagi Mbok,” Ribby belum puas dengan satu Masakan.
“Olahan daging, apapun itu pasti Mas Bisma suka. Tapi tetap… sedikit pedas,” jawab Mbok tersenyum, seolah tahu rencana Ribby yang berniat untuk memasak untuk Bisma.
“Ya udah, karena bahan dikulkas juga udah habis, biar Ribby yang kepasar ya Mbok,” tawar Ribby sambil mengelus kedua pundak Mbok Irah.
“Biar Mbok aja Neng, mendingan Neng nemenin Mas Bisma sarapan kalau dia bangun nanti,” Mbok Irah kurang setuju Ribby yang ke pasar.
“Gak pa-pa Mbok, biar Ribby aja,” balas Ribby dan segera berlalu dengan senyum merekah.
Mata Si Mbok terus menangkap bayangan Ribby sampai hilang dari pandangannya. Tak lama rasa syukur pun berbisik dari bibir Mbok Irah. Bagaimana tidak, baru kali ini Mbok Irah melihat Ribby lebih semangat dari hari-hari sebelumnya.
“Semoga kalian ditakdirkan bersama tampa kerahasiaan, wahai anak-anakku,” rona bahagia pun terlihat dari wajah Mbok Irah, karena adanya dua insan itu pulalah kebahagiaan menghampirinya.
“Mbok, ngelamun ya?,” tanpa Mbok Irah sadari Bisma sudah berdiri didepannya.
“Eh Mas, udah bangun toh. Silahkan Mas sarapan dulu,”
Bisma pun duduk di meja yang sudah terhidang sarapan untuknya, teh dengan perasan lemon pun sudah tersaji. Memang Si Mbok tidak pernah lupa minuman kesukaannya. Bisma celingak-celinguk seolah mencari sesuatu.
“Neng Ribby ke pasar Mas,” Mbok Irah menimpali seolah tahu apa yang dicari Bisma. Senyum tipis pun tersembul dari sudut bibir Mbok Irah melihat Bisma gugup ketahuan.
“Si Mbok gak sarapan?,” begitu tahu hanya ada sepiring nasi di meja.
“Mbok udah tadi Mas bareng Neng Ribby,” jawab Mbok ikut duduk di meja makan.
“Ribby ke pasar sama siapa Mbok?,” Tanya Bisma lagi dan mulai menyuap nasi gorengnya.
“Sendirian Mas, tapi palingan ntar diantar Mang Saswi, ojek langganan Si Mbok,” Bisma mangut-mangut mendengar penjelasan Mbok sambil terus menyantap sarapannya.
“Sepertinya Neng Ribby mau Masakin Mas Bisma deh,” Mbok Irah memancing reaksi Bisma dengan terus bercerita tentang Ribby.
“Masak? Emang Ribby bisa Masak Mbok?,”
“Waahh Pintar Mas, malahan lebih enak dari masakannya Si Mbok,” giliran Ribby yang di promosiin Mbok Irah pada Bisma.
“Masa? Boleh deh ntar aku cobain ntar siang,” jawab Bisma senyum, karena ternyata tanpa dia duga Ribby memperhatikannya.
Selesai makan Bisma duduk-duduk santai sambil memainkan gawainya. Namun tidak bisa dipungkiri tak henti-hentinya Bisma melirik keluar jendela yang ditutupi gorden tile tipis.
“kok belum balik-balik ya?,” bisik Bisma. Ada nada kekhawatiran terdengar.
“ishh..ngapain juga aku cemas, toh dia udah lama disini, pasti udah kenal juga daerah sini,” Bisma bicara sendiri dan mulai kembali memainkan benda pipih ditangannya.
Selang beberapa saat Bisma mendengar suara tawa dari depan rumah, Bisma bangkit dan mengintip dari balik sudut jendela. Disana terlihat Ribby lagi ngobrol dengan dua orang ibu-ibu. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti dua ibu itu tertawa lepas namun Ribby hanya mengulum senyum.
“cantik…,” bisik Bisma melihat wanita memakai tunik ungu dan dipadankan dengan rok plisket biru dongker. Khimar dengan warna senada dengan tunik membuat Bisma sedikit terpesona meskipun dilihat dari tempat yang cukup jauh.
Melihat Ribby yang mulai melangkah menuju rumah, membuat Bisma gelagapan dan buru-buru duduk ditempat semula. Tanpa dia sadari dari balik dinding ruang tengah Mbok Irah senyum-senyum melihat kelakuan Bisma lalu berbalik pergi.
Ceklekk….terdengar pintu dibuka.
“Eh Mas udah bangun?,” sapa Ribby melihat laki-laki yang sekarang suaminya duduk diruang tamu.
“Udah dari tadi,” jawab Bisma jaim sambil terus sibuk memainkan gawainya. Ribby tersenyum lalu mendekati Bisma bermaksud menyalami tangannya. Namun Bisma hanya bisa cengo tidak mengerti akan maksud Ribby.
“Oh maaf Mas, aku bau pasar ya?,” Ribby menarik lagi tangannya karena bisma tak menyambut tangannya kemudian berbalik undur diri kebelakang. Ribby berlalu menuju dapur namun sudut mata Bisma mengekor mengikuti sosok Ribby sampai hilang di balik tembok.
“Apa aku salah?,” bisik Bisma setelah sadar dari cengonya. “Aduuh…kok aku tiba-tiba bego begini ya,” Bisma menepuk jidatnya saat paham kalo Ribby mau salim padanya. Bisma bangkit dan berjalan menuju dapur. Disana tampak Ribby dan Mbok Irah merapikan belajaan Ribby.
“Ribby, kok gak nunggu Mas bangun kalo mau ke pasar. Kan repot bawa belanjaan sebanyak itu,” Bisma berusaha menyapa Ribby ramah.
“Ehm,,,,Gak apa –apa Mas. Udah biasa kok,” Ribby gugup melihat Bisma sudah berdiri di dekatnya. Mendengar Bisma sudah mau bicara ramah padanya, senyum tipis menghias wajah cantiknya.
“Mbok juga nawarin tadi Mas, kalau biar mbok aja yang kepasar. Tapi Neng Ribby yang gak mau,” Si Mbok pun ikut menimpali.
*****
“Mas makan siang udah siap, kita makan bareng yuk,” Ribby memanggil Bisma dari depan pintu kamar Bisma. Bisma dan Ribby Masih menempati kamar terpisah, Bisma dikamar depan dan Ribby di kamar tengah dekat ruang tamu, sementara Si Mbok dikamar depan ruang makan.
“Oh iya,” Bisma bangkit yang lagi selonjoran diatas kasur. Diikuti Ribby mereka menuju meja makan, disana Si Mbok terlihat masih merapikan hidangan di meja.
“Ayo Mas, ini Neng Ribby yang Masak semua lho,” Si Mbok menyambut Bisma dengan senyum merekah. Melihat makanan kesukaanya gado-gado dan dendeng balado serta beberapa Masakan lainnya terhidang dimeja, membuat senyum Bisma gak kalah lebar.
“Mudah-mudah cocok dengan selera Mas,” Ribby tersenyum malu-malu. Setelah sama-sama duduk dikursi Ribby membantu mengambilkan nasi untuk Bisma dan Mbok Irah.
“Sedikit aja, Mas mau makan gado-gado lagi nanti,” jawab Bisma karena melihat bahan gado-gado terhidang lengkap dimeja yang belum dibumbui saos kacang.
“mmmhhh….enak, lebih enak dari dendeng rumah makan padang,” Bisma memuji masakan Ribby yang cocok dengan seleranya. Niat hati tadi hanya makan sedikit malah Bisma minta tambah lagi. Mbok menyenggol Ribby yang duduk disebelahnya.
“Mas Bisma suka Masakan Neng,” goda Mbok Irah membuat Ribby kembali tersipu malu.
*****
Ribby bangun lebih awal pagi ini karena semalam Bisma memberi tahu kalau dia akan balik ke Jakarta lagi pagi ini. Ribby senang Bisma menyukai Masakannya, dan pagi ini Ribby pun ingin kembali menyuguhkan masakannya untuk sarapan Bisma. Sendiri, Ribby sibuk didapur, sementara Mbok Irah belum keluar kamar.
“Neng ngapain didapur pagi-pagi?,” tegur Mbok Irah yang sudah lengkap dengan mukena, Mbok Irah berniar sholat dimesjid pagi ini.
“Eh Mbok, Ribby lagi nyiapin sarapan buat Mas Bisma,” jawab Ribby tersenyum.
“Ya udah Mbok bantuin ya,”
“Eh gak usah Mbok, Biar Ribby aja lagian gak repot kok. Cuma motong-motong aja,”
“benar gak pa-pa Mbok tinggal ke Masjid nih,”
“iya Mbok, udah Mbok berangkat ntar keburu adzan lho,” Ribby menolak tawaran Mbok Irah membantunya. Karena memang gak banyak yang mesti dikerjakan. Ribby berencana bikin sop daging, karena dagingnya juga udah direbus semalam jadi tinggal nyiapin sayurannya aja lagi.
Sepeninggal Si Mbok terlihat Ribby Masih mengupas kentang juga wortel, sambil bershalawat Ribby menikmati kegiatannya di dapur pagi ini. Semenjak kedatangan Bisma kemaren rasanya perasaan Ribby selalu ceria. Larut dengan senandungnya, Ribby tidak menyadari Bisma lagi memperhatikannya dari belakang.
“Kok pagi-pagi udah Masak…,”
“astaghfirullah….aaah,” Ribby kaget membuat tanpa sengaja jarinya ke iris.
“Maaf-maaf Mas ngagetin kamu ya,” Bisma pun terloncat kaget melihat Ribby terkejut karenanya.
Tampa menjawab Ribby mendekatkan jarinya ke bibir, namun dengan cepat diraih Bisma dan menghisapnya. Ribby hanya memperhatikan apa yang dilakukan Bisma dengan diam.
Tampa menjawab Ribby mendekatkan jarinya ke bibir, namun dengan cepat diraih Bisma dan menghisapnya. Ribby hanya memperhatikan apa yang dilakukan Bisma dengan diam.
Sejenak kemudian netra mereka bertemu. Canggung itulah yang Ribby rasakan, ditambah jantungnya juga bertambah cepat membuat ribby hanya bisa diam memperhatikan. Sementara Bisma yang melihat kulit jari telunjuk kiri itu sedikit merekah dia pun segera mengambil kotak obat yang biasa Mbok tarok didalam lemari ruang tengah. Dengan sigap Bisma mengobati dan membalut jari Ribby yang Masih diam terpaku.
“Te- terimakasih Mas,” Jawab Ribby gugup
“Mas yang minta maaf karena bikin kamu kaget,” jawab Bisma tersenyum, namun senyum itu malah membuat jantung Ribby makin tidak karuan. “kamu Masak apa pagi-pagi gini,” Tanya Bisma lagi.
“mmh..ehh., sop daging Mas,” Ribby Masih tergagap.
“Wah pasti enak, Mas bantuin ya,” kata Bisma sambil melongokkan kepala ke panci di atas kompor.
“Gak usah Mas, ini juga udah mau kelar kok,” Jawab Ribby memotong wortel terakhir ditangannya.
“Udah gak pa-pa, sini Mas potongin. Tangan kamu kan sakit,” Bisma merebut pisau yang Masih Ribby pegang. Jadilah mereka memasak berdua. Sesekali mereka tertawa bersama, terlihat mulai berkurang kecanggungan diantara keduanya.
Selesai sholat shubuh Ribby menata masakannya dimeja sembari menunggu Mbok pulang dari Masjid. Sementara Bisma dikamar bersiap-siap untuk balik ke Jakarta.
“Waah wangi masakan Neng sampai ke luar,” Mbok Irah muncul dan memuji Ribby.
“ahh Mbok bisa aja. Yuk Mbok kita sarapan,” Mbok Irah mengangguk tersenyum.
Bisma pamit pada Mbok sambil mencium tangannya kemudian beralih ke Ribby. Tidak seperti sebelumnya kali ini dengan senyum Bisma membiarkan tangannya dicium Ribby meski berat Bisma pun mengelus lembut kepala Ribby. Tanpa Bisma tahu Ribby merasakan kenyamanan di bathinnya. Menatap kepergian Bisma yang mulai menjauh, Ribby berharap Bisma akan mengunjunginya lagi.
*****
“Pak, Papanya Non Maya ada di depan,” Mbok Tini memberitahukan siapa tamu yang datang pada Rendra yang lagi makan siang bersama Citra. Beberapa akhir belakangan ini Rendra banyak menghabiskan waktunya dirumah, pikirannya gak bisa fokus untuk datang ke perusahaan, pikirannya terbagi karena Bisma, sehingga Rendra pun menyerahkan semua urusan pekerjaan pada orang kepercayaannya.
“Danu? Mau apa lagi dia kesini?,” Rendra menatap kearah citra istrinya.
“Temui aja dulu pah,” saran Citra.
Rendra bangkit dari kursinya dan melangkah keruang tamu. Disana duduk sahabatnya yang batal jadi besannya. Wajahnya tampak sedikit muram jauh berbeda dari hari-hari biasa saat mereka masih sering bertemu dulu.
“Siang Dan, apa yang membawamu kesini?,” terdengar datar Rendra menyapa Danu yang duduk seorang diri.
“Siang Ren,” Danu bangkit saat tahu Rendra yang dicarinya masih mau menemuinya mengingat terakhir kali dia berteriak-teriak marah diruang tamu ini. Mereka bersalaman, meski tidak sehangat pertemuan-pertemuan mereka dulu, tapi jelas Rendra tidak menaruh dendam pada Danu karena kesalahan ada pada putranya.
“Aku mau minta tolong padamu Ren,” Danu menyampaikan maksud kedatangannya.
“Minta tolong, apa itu?,”
“Perusahaanku ada Masalah, Aku mau pinjam dana padamu. Kalau tidak…,” Danu tidak melanjutkan kata-katanya terbayang kejadian buruk yang akan menimpa perusahaan bahkan keluarganya. “Cuma kamu harapanku satu-satunya,…..,” Danu bercerita panjang lebar.
Rendra paham inti permasalahan Danu, kala Danu Masih sibuk bercerita Rendra malah diam dan sibuk dengan pikirannya. Masalah uang tidak menjadi soal untuknya. Tapi…. “Apa Aku jahat mengambil kesempatan dalam kesusahan Danu?,” Rendra membathin.” Tapi Aku juga ingin melihat Bisma bahagia, anakku satu-satunya,” Rendra Masih menimbang-nimbang dengan apa yang akan direncanakannya.
“Baiklah Aku akan membantumu, berapa pun itu. Tapi…,” akhirnya Rendra buka suara, terlihat wajah bahagia Danu. Namun saat mendengar kata tapi, senyum itu kembali hilang.
“Tapi apa ren?,” Danu kembali hilang semangat, was-was persyaratan yang diajukan Rendra sesuatu yang tidak bisa dia penuhi.
“Izinkan anakku Bisma menikah dengan anakmu. Sekarang Aku yang minta tolong padamu,” meski tidak yakin Danu mau menerima persyaratannya Rendra tetap mengatakannya. Terlihat wajah kaget Danu mendengar persyaratan Rendra, sejenak danu terdiam. Ikut menimbang-nimbang apa yang akan terjadi jika dia menolak penawaran Rendra.
“Baiklah, mungkin memang sudah ditakdirkan kita berbesanan. Aku akan merestui pernikahan anak kita,” kata-kata Danu membuat hati Rendra lega luar biasa. Setelah bersalaman menyepakati perjanjian mereka, Danu pun pamit.
“Bukannya itu mobil Om Danu Pah?,” Bisma masuk setelah digerbang rumah berselisih jalan dengan mobil Papanya Maya.
“Iya, “ jawab Rendra tersenyum yang sudah didampingi Citra di ruang tamu.
“Ngapain Om Danu kesini,” Tanya Bisma penasaran.
“Membicarakan pernikahanmu,” kata Citra melirik menggoda Bisma.
“Dengan Maya Mah?,” Tanya Bisma makin antusias.
“Iya Sayang,” jawab Citra senyum merekah, tahu anaknya akan bahagia.
“Akhirnya Papa bisa mewujudkan pernikahan impian kamu,” Rendra dengan bangga menatap Bisma.
“Yes…,” Bisma bersorak bahagia “Terimakasih ya Pah,” Bisma memeluk Papa Mamanya bergantian.
“Tapi kok bisa? Tiba-tiba lagi?,” Bisma penasaran.
“Udah kamu gak usah tahu kenapa, yang pasti secepatnya pernikahanmu dengan gadis pujaanmu akan terlaksana. Mama yang akan urus semuanya,” Rendra meyakinkan Bisma. Untuk kesekian kalinya Bisma berterimakasih pada orang tuanya.
Bersambung…
Makin penasaran gak sih..? mau Lanjut gak..?
Jangan lupa krisannya Temanku semua.
Terimakasih untuk semua yang udah like.
Terimakasih juga untuk Admin yang selalu meloloskan tulisanku. 🙏🙏🙏
----
Part 7
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi
Pov Maya.
Aku Maya. Putri pertama dan anak kedua dari seorang pengusaha tour and travel sukses di Jakarta. Mas Wisnu, Kakak laki-lakiku sudah menikah dan kini menjadi seorang dosen di Yogyakarta kota asal istrinya. Awalnya Papa tidak setuju Mas Wisnu memilih dosen sebagai profesinya, karena Papa ingin Mas Wisnu meneruskan usahanya. Dengan tegas Mas Wisnu menolak lantaran bisnis bukanlah minatnya. Papa sempat murka namun karena ada mama menengahi jadilah Papa ikhlas dengan pilihan Mas Wisnu. Tapi sejak itu Papa kurang respek semua yang berhubungan dengan Mas Wisnu, seolah selalu ada perang dingin antara mereka.
Tidak bisa mengandalkan Mas Wisnu, akulah akhirnya jadi sasaran Papa. Takut akan kemarahan Papa aku pun patuh akan kemauannya. Impianku jadi pramugari pun aku pendam meskipun untuk yang ke tiga kalinya aku gagal tes. Miris memang, karena aku tidak mau menggunakan kekuasaan Papa untuk mendapatkan apa yang aku mau.
Diumurku yang ke 27 tahun, aku dipaksa Papa kuliah bisnis di London Inggris. Ogah-ogahan aku menjalani masa belajarku disana, bahkan aku pun tidak mau tahu siapa yang seruangan denganku. sampai akhirnya aku berkenalan dengan dengan Bisma. Anaknya ganteng tinggi putih, sungguh idaman semua wanita. Dari temanku pun aku tahu kalau dia laki-laki yang sangat baik dan dermawan. Diam diam aku menaruh hati padanya. Karena dia juga, aku yang awalnya malas mengikuti perkuliahan mulai semangat, tak ingin melewatkan pertemuan perkuliahan demi untuk bisa menatap wajahnya. Kadang tak jarang aku kepergok lagi memperhatikannya. Untuk kenal lebih dekat ada rasa gengsi dihatiku, masa iya cewe maju duluan.
Siang itu bagai tersambar petir disiang bolong, Bisma tiba-tiba nembak aku. Darinya aku pun tahu kalau dia pun udah lama memperhatikan dan menaruh hati padaku. Cinta saling bersambut itulah yang terjadi antara aku dan Bisma. Sejak saat itu hari-hariku penuh cinta dengan kehadiran bisma disisiku. Bisma bahkan sangat memperlihatkan betapa dia mencintaiku, serasa aku benar-benar jadi ratu dihatinya. Oh betapa bahagianya aku.
Kami yang sama-sama punya Papa dengan watak keras membuat kami mengambil keputusan untuk merahasiakan hubungan kami, hingga tanpa terasa 2 tahun berlalu.
Suatu hari Papa mengabarkan padaku untuk segera pulang karena akan dijodohkan dengan anak sahabatnya. Tentu ada rasa dongkol dihatiku ketika tahu Papa seenaknya main jodohin tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu. Tapi mana berani aku membantah Papa.
Dengan setengah hati aku membuka foto yang dikirim Papa ke handphone ku. Namun dibayar dengan senyuman merekah saat tahu kalau potret yang terpampang jelas dilayar adalah pangeran yang kini bertahta dihatiku.
Dengan manja aku mengatakan setuju dijodohkan dengan pilihannya. Berniat mengerjai Bisma aku pun menyarankan pada Papa untuk menunda mengirimkan photoku pada keluarga bisma. Dan atas saranku juga keluargaku yang akan mandatangi rumah Bisma, karena bisma tahu persis rumahku saat dia mengantarku pulang tahun lalu, tapi tentu backstreet.
Sukses mengerjai Bisma yang tampak kaget dengan pertemuan pertama kami dengan keluarga membuatku senang. Sejak pertemuan itu hubunganku dengan Bisma makin intens, bahkan rencana pertunangan yang akan segera digelar, diburu karena orang tua menginginkan kami langsung menikah. Tak tergambarkan bagaimana bahagianya kami karena tahu semua berjalan lancar sempurna.
Benar kata orang ada aja cobaan pernikahan. Tanpa bisa membantah kemauan Papanya Bisma mengajakku untuk tes kesuburan, entahlah, aku tidak mengerti dengan aturan aneh Papanya.
Tanpa memberitahukan pada Papa, aku menjalankan tes yang kalau aku pikir-pikir bikin sedikit bergidik juga. “apa-apaan sih pakai tes ginian segala,” pikirku
Setelah tes dilaksanakan, aku pun memberitahu Mama juga Papa. Saat tahu itu adalah syarat Om Rendra untuk melanjutkan pernikahan membuat Papaku marah.
"Dia pikir dia siapa, seenaknya main perintah-perintah. Sudah, tak usah nunggu hasil-hasil itu. Papa sendiri yang akan membatalkan pernikahanmu dengan anaknya, " Papa tersinggung.
"Tapi Pah aku cinta sama Mas Bisma Pah, " aku mengejar Papa yang akan kerumah bisma untuk mengurungkan niatnya. Namun sama sekali tidak dihiraukan papa, buru-buru aku masuk mobil Papa.
Belum apa-apa Papa sudah mengamuk di rumah Mas Bisma. Om Rendra sempat bingung dengan kedatangan Papa yang langsung marah-marah. Meskipun Om Rendra sudah minta maaf karena kelancangannya, tetap tidak mampu meredakan kemarahan Papa. terlebih saat Papa melihat hasil kalau Mas Bisma… entahlah tak tega aku menghakiminya.
Tanpa komando dengan lantang Papa membatalkan pernikahan kami. Tak ada komentar dari Om Rendra yang masih mematung. Aku pun ditarik pergi dari sana, memohon pertolongan Mas Bisma pun rasanya sia-sia. Sama sekali Papa tidak bersimpati dengan permohonan Mas Bisma.
"Kamu dengar Maya, lupakan Bisma dalam hidupmu mulai sekarang, " kata Papa begitu kembali kerumah.
"Tapi Pah..., "
"Apa kamu mau tidak akan merasakan jadi ibu seumur hidup, untuk apa kamu menjalani pernikahan dengan laki-laki tidak sempurna seperti dia, " kata-kata Papa membuatku tertegun. Apa kondisi Mas Bisma separah itu, apa tidak bisa menjalani pengobatan? Aku membathin.
Tanpa berkata-kata lagi aku berlalu kekamar, ku tinggalkan Papa yang masih mendengus kesal. Dalam diam pikiranku sama sekali tidak lepas dari Mas Bisma, laki-laki yang sangat aku cintai. Sulit rasanya untuk menerima semua kenyataan ini.
Semalaman aku merenung. Sampai akhirnya ‘mundur’ jadi pilihanku. Ada benarnya juga kata Papa pikirku. Tapi untuk langsung bilang pada Mas Bisma aku tidak punya keberanian. Biarlah aku yang menghindar, berharap Mas Bisma paham mengapa aku pilih keputusan ini. Saat dia kerumah pun dengan jutek aku menolak ajakannya.
Aku diamkan semua panggilannya, pesan darinya pun hanyaku baca. Aku berharap dengan begini Mas Bisma mengerti dan melupakanku. aku berusaha untuk mulai menata hatiku kembali. Tapi untuk balik ke Inggris pun tak masuk rencanaku dalam waktu dekat. Aku senang Papa juga tidak menuntut hal itu padaku. Berselancar di dunia maya, menjadi pilihanku mengusir kebosanan.
Ting... Sebuah pesan masuk tak lama berselang.
Irgi, pria yang aku kenal saat tes pramugari empat tahun lalu dites keduaku. Dia beruntung dites pertamanya lolos menjadi pramugara. Siapa pun tahu menjadi profesi ini penampilan menjadi salah satu kriteria utama. Ya, Dia laki-laki yang tinggi putih dan tentu tampan. Kami sempat dekat dulu sebelum jam terbangnya padat setelah itu ya lost kontak.
Cerita-cerita dengan saling berkirim pesan akhirnya membuatku lupa dengan Mas Bisma. Sosoknya sangat menarik hati dan kebaikannya juga tak jauh beda dengan Mas Bisma. Diam-diam aku pun mulai jatuh hati padanya. Kalau dia lagi off sering dia menjemputku sekedar untuk jalan-jalan atau makan direstoran. Hampir tiap hari kami pergi sebelum dia sibuk dengan kerjaaanya yang terbang dengan maskapai nomor 1 di Indonesia.
Sebulan kemudian Irgi mengutarakan perasaanya padaku dan dengan suka cita aku menerimanya jadi kekasihku. Perlahan posisi Mas Bisma mulai digantikan Irgi dihatiku. Namun kini cintaku yang baru seumur jagung, kembali diuji karena keegoisan Papa. Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba Papa kembali menyuruhku untuk menikah dengan Mas Bisma.
“Apa-Apaan sih pa? kemaren Papa yang tegas menentang pernikahan kami, trus kenapa sekarang…?,” tak kulanjutkan kata-kataku karena menahan sesak didada.
“Kamu tidak perlu tahu kenapa, yang penting kamu harus menikah dengan Bisma,”
“Kenapa Papa main mutusin sendiri begitu? Kenapa gak nanya-nanya dulu sama aku?,”
“Papa gak butuh pendapatmu. Paling lama bulan depan kamu akan menikah dengan Bisma. Paham..,” dengan mata melotot Papa menatap tajam padaku. Jujur aku tidak mengerti jalan pikiran Papa. Ada apa ini sebenarnya?
“heeh,” senyum sinis melingkar dibibirku “apa Papa menjualku ke keluarga Bisma?,” aku ingat beberapa hari lalu Papa frustasi karena orang kepercayaannya membawa kabur uang jamaah yang akan berangkat umroh. Membaca situasi ini aku yakin Papa minta bantuan pada Om Rendra.
Plaaak… satu tamparan mendarat dipipiku.
“Tutup mulut mu Maya. Papa tidak serendah itu,” kata Papa dengan mata masih melotot.
“Astaghfirullah, sabar Pah…,” Mama mulai menenangkan Papa.
“punya anak dua gak pernah mau nurut apa kata orang tua,” sambil berkaca pinggang Papa mendengus kesal dan membuang muka.
Kuusap pipiku, sejenak butiran bening menggenang disudut mataku. Apa ini adalah balasan karena aku mengabaikan perasaan Mas Bisma selama ini? Dan malah menerima Irgi untuk mengkhianatinya?
Bersambung….
----
Part 8
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi
POV Author
Dikamarnya Bisma tampak begitu gembira dan ceria, senyum selalu menghiasi bibirnya. hal yang begitu dia idam-idamkan akan kesampaian tak lama lagi. Tiduran di ranjang, Bisma menatap langit-langit kamarnya, membayangkan betapa bahagianya akan segera merajut hari demi hari bersama Maya dalam naungan rumah tangga. Wanita yang sangat dicintainya. Bisma merasa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Maya dihatinya.
Sesaat kemudian kilasan wajah Ribby yang tersenyum dengan ibu-ibu kemaren terlintas dipikirannya.
"Oh iya bagaimana dengan Ribby?," Sontak Bisma terduduk cepat.
"Ah ngapain cemas. Aku kan dulu juga udah bilang padanya, dan dia tidak keberatan kalau aku akan menikah dengan siapapun, " Bisma menghibur diri sendiri. Bisma tak ingin Ribby jadi penghalang baginya untuk menjemput wanita yang dia cinta kepelaminan.
Perlahan Bisma mengambil hp yang terselip disaku celananya. Bisma berniat menghubungi Maya, berbagi sedikit kebahagiaan yang dia rasakan saat ini. Sekali,tak ada jawaban, kali kedua pun sama. Ada gurat kekecewaan dan rasa khawatir diwajahnya. Perlahan Bisma menghela nafas, berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi lagi kali ini.
Ting… pesan masuk dari Maya
“[Maaf Mas, nanti aku telpon balik ya],” membaca pesan dari Maya jelas menghapus kekhawatiran Bisma.
“[Oke, Mas tunggu],” Bisma membalas pesan Maya sambil mengulum senyum.
Maya menghela nafas berat membaca balasan dari Bisma, dikarenakan Maya lagi berada didepan Irgi. Maya mengajak Irgi bertemu disebuah kafe, memohon maaf harus mengaakhiri hubungan seperti ini karena tidak bisa menolak keputusan papanya.
“Irgi, aku mohon mengerti posisiku sekarang. Kalau aku bisa milih aku juga gak mau. Tapi mau gimana lagi kondisinya aku bukan diharuskan memilih, tapi patuh, nurut dengan kemauan Papa,” bagaimana pun Maya memelas kasihan Irgi, namun sosok tampan itu hanya diam. Bahkan wajahnya pun datar tampa ekspresi membuat Maya makin keki.
“Apa kamu benar-benar mencintaiku Maya?,” akhirnya Irgi menanggapi, namun perkataan Irgi membuat Maya memasang wajah bingung.
“Apa harus kamu menanyakan pertanyaan itu sekarang? Kalau aku tidak mencintaimu buat apa aku memohon padamu saat ini. Bisa aja aku langsung menikah tanpa memberi tahumu lebih dulu,” Maya muai kesal dengan Irgi yang tidak juga mengerti akan posisinya, dengan tatapan menghakimi kalau dia perempuan jahat. Kalau bukan penjara tantangan Papa sehingga mau memohon pada Om Rendra, Maya juga enggan rasanya kembali pada Bisma.
“Kalau memang kamu mencintaiku, buktikanlah aku menunggumu,” Irgi bangkit tanpa menghiraukan panggilan Maya Irgi tetap berlalu. Tidak mengerti akan maksud Irgi membuat Maya mengacak-acak rambutnya, tidak peduli orang disekitar mulai memperhatikannya. Maya yang seharusnya bahagia diperebutkan dua pangeran tampan kini malah terlihat kacau. Dua makhluk itu seolah bencana baginya. Maya linglung, bingung apa yang harus dia perbuat.
Sesampainya dirumah Maya menepati janjinya untuk menelpon balik Bisma. Tidak menunggu lama Bisma diseberang sana dengan cepat menjawab telpon Maya, seakan-akan Bisma sudah menunggu dari tadi.
“Halo Mas, apa kabar? Aku Minta maaf ya karena sudah mengabaikan semua telpon Mas,” tak ada pilihan lain Maya memutuskan memperbaiki hubungannya dengan Bisma. Dengan berat maya pun mengabaikan perkataan Irgi tadi di kafe.
“Halo Maya, asal kamu tahu Mas sangat merindukanmu. Gak apa-apa, Mas maklum, pasti kamu melakukan itu karena Papamu. Tapi sekarang Mas senang, karena Papa kamu sudah berubah pikiran,” jawab Bisma dengan nada bahagia yang tidak bisa disembunyikan.
“Apa mas Bisma gak tau alasan Papa berubah pikiran?,” Maya membathin seorang diri mendengar Bisma yang masih simpati dengan Papanya.
Memulai dengan obrolan-obrolan kecil membuat suasana canggung antara mereka sedikit berkurang. Saling bercandapun kembali membuat mereka tampak dekat
Sesuai konsep awal penikahan yang sudah direncanakan semua disetting lagi sekarang. Mulai undangan, baju pengantin, tema resepsi, gedung, dekorasi, semua kembali diatur Maya dan Bisma dibantu oleh Citra, Mamanya Bisma untuk memepersiapkan semua.
Hampir satu bulan mempersiapkan ulang terasa sudah lebih dari cukup. Akhirnya hari yang ditunggu Bisma pun tiba, di ballroom hotel mewah Bisma mengucapkan ikrar janji suci, ijab qabul. Dengan satu tarikan nafas kini Maya sah menjadi istrinya. Tak mau menunggu lama resepsi pun langsung digelar setelah ijab qabul dilaksanakan pagi itu.
Dua anak pengusaha sukses menikah, sudah pasti acaranya meriah juga megah. Tamu undangan yang tidak ada habisnya membuat Maya dan Bisma lelah melayaninya. Tepat jam 10 malam acara pun berakhir. Sekarang mereka sudah berada di kamar hotel yang sudah dipersiapkan untuk jadi kamar pengantin.
“Mmhfuuh…Mas capek banget sayang,” Bisma menghela nafas sambil duduk disisi ranjang. Maya yang duduk di kursi dekat jendela hanya diam tidak menjawab. Wajahnya terlihat sendu, namun saat tahu Bisma memperhatikannya sebuah senyum terukir tipis di bibirnya.
“Aku juga Mas. Ya udah aku mandi duluan ya Mas. Udah gah tahan, badan lengket semua,” kata Maya tersenyum sambil menuju ke arah kamar mandi. Dengan senyum genit Bisma membuntutinya dari belakang dan sempat membuat Maya kaget.
“Mas mau ngapain?,” Tanya Maya dengan sorot mata cemas.
“Masa kamu masih nanya sih? Mas mau…,” Bisma mengedipkan matanya agar Maya mengerti Bisma mau apa.
“Aduh mas, jangan aneh-aneh deh. Aku ribet nih dengan pakaian kayak gini susah kalo mas juga ikutan ke kamar mandi,” Maya menolak maksud Bisma dengan halus, mengingat gaun pengantin yang dia pakai ribetnya minta ampun.
“Ya udah deh,” Bisma berbalik kecewa. Lama Bisma menunggu namun Maya belum juga keluar dari kamar mandi. Bosan menunggu akhirnya Bisma mengetuk pintu memastikan Maya baik-baik saja.
“Iya Mas, ini bentar lagi selesai kok,” jawab Maya dari dalam yang malah melamun dikamar mandi.
Keluar dari kamar mandi Maya sudah berbalutkan piyama tipis dari sutra. Melihat Maya membuat Bisma begitu terpesona.
“Udah Mas, aku udah selesai. Mas mandi gih,” kata Maya berlalu menuju tempat tidur. Sama sekali tidak diperhatikannya Bisma yang melongo melihat penampilannya.
Melihat Maya yang sudah berbaring di tempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhnya membuat Bisma bingung. Tanpa bertanya Bisma pun segera membersihkan dirinya yang sebelas dua belas dengan cucian lepek, minta diguyur air dan dibalurin sabun.
Selesai mandi Bisma pun segera bergabung dengan Maya berbaring dan berbagi selimut bersama. Bisma yang masih laki-laki normal tentu tanpa dikomando langsung mendekat pada Maya serta melingkarkan tangan untuk memeluk Maya. Deru nafas yang memburu begitu jelas terdengar di telinga Maya.
“Mas aku capek banget, aku mau tidur,” Maya menolak ajakan Bisma untuk bercumbu melewati malam pertama mereka. Melihat sorot mata Maya yang sendu memohon membuat Bisma mengalah. Mengingat mereka yang seharian berdiri menyalami tamu yang mengucapkan selamat seraya menghantarkan doa pernikahan, terlebih Maya yang memakai sepatu hak tinggi.
Menjelang shubuh Bisma terbangun, diperhatikannya wajah Maya yang telah sah menjadi isrtinya. Bersyukur semua mimpinya menjadi nyata, untuk kesekian kalinya Bisma mengulum senyum. Dibelainya rambut Maya yang meringkuk memeluk guling. Sebelum berlalu ke kamar mandi, Bisma mengecup kening wanita yang begitu memenuhi ruang dihatinya.
Menunggu waktu shubuh tiba, Bisma melakukan sholat sunat dua rakaat. Di akhir sholatnya Bisma kembali mengucap syukur pada Maha Kuasa. Melihat waktu shubuh sudah semakin dekat Bisma pun bangkit berniat membangunkan Maya, mengajaknya sholat bersama.
“Sayang, ayo bangun. Kita sholat bareng yuk?,” dengan lembut Bisma mencoba membangunkan Maya. Hening, tak ada respon dari Maya. Bisma mencoba lagi namun hanya dibalas Maya dengan malas-malasan bahkan kembali memperbaiki selimutnya.
“Mas duluan aja, ntar aku sholat sendiri,” jawab Maya saat Bisma kembali mengganggu tidurnya. Ada goresan yang melukai hatinya saat Maya tak mendengarkan kata-katanya. Sejenak Bisma terdiam, kilasan Ribby kembali muncul di benaknya. Tanpa perlu diingatkan Ribby begitu ikhlas melakukan ibadahnya. Kalau dibandingkan wanita bergamis itu sangat kontras dengan penampilan Maya.
Meski berat Bisma pun melaksanakan sholat tanpa Maya yang harus diimaminya. Bisma mengusap wajahnya, mengamiinkan semua doa yang dia ucapkan. Bisma berbalik menatap Maya yang masih terlelap dikasur. Disudut hatinya Bisma berbisik, semoga dia bisa membimbing Maya yang kini sudah jadi tanggung jawabnya.
Malam ini Bisma sudah kembali kekamarnya, menginap satu malam di hotel membuat Mama dengan leluasa mendekor ulang kamarnya yang kini akan dihuni juga oleh Maya. Kasih sayang orang tua yang sungguh luar biasa. Sambil bersandar dikepala ranjang Bisma mendekati Maya yang sibuk dengan gawainya.
“Sayang, kamu mau kita bulan madu kemana?,” Tanya Bisma menatap lekat Maya.
“Aku gak mau kemana-mana Mas,” Jawab Maya menggeleng namun matanya tidak lepas dari layar benda pipih yang dipegangnya.
“Kenapa? Kita belum menikmati malam pertama kita lho, atau kita balik aja ke Inggris seperti dulu, gimana?,” tawar Bisma antusias.
“Gak ah mas, aku bosan. Daripada kamu mikirin balik ke Inggris, mending kamu balik lagi masuk ke perusahaan. Aku dengar dari Mama, kamu juga udah jarang masuk kerja beberapa bulan ini. Ingat ya mas, kita udah nikah. Jadi kamu harus kerja, jangan ngandalin Papa terus,” ujar Maya menolak rencana Bisma.
Bisma mengernyitkan dahi mendengar alasan Maya menolak tawarannya. Tapi mengingat dia sudah punya rumah tangga sendiri, ada benarnya apa yang dikatakan Maya pikir Bisma.
“Oke-oke aku akan turuti kemauan kamu, aku akan masuk kantor lagi besok. tapi sekarang…,” Bisma melingkarkan tangannya ke perut Maya. Diluar dugaan Maya menggeliat seolah risih dengan tangan Bisma yang menyentuh tubuhnya.
“Aduuh mas, udah malam aku ngantuk banget,” Maya pura-pura menguap sambil meletakkan ponselnya diatas nakas. Meninggalkan Bisma yang masih termangu dengan penolakan Maya untuk kedua kalinya. Tanpa banyak komentar Bisma pun ikut merebahkan badannya.
*****
“Udah lama ya mbok Mas Bisma gak mampir kesini lagi,” ujar Ribby suatu sore saat membantu Mbok Irah membenahi rumput di halaman belakang. Meski tak menatap wajah Ribby, Mbok Irah merasakan ada kesenduan dari perkataannya. Mbok Irah pun bingung kenapa Bisma tidak berkunjung lagi. Biasanya sebulan sekali atau dua bulan sekali Bisma gak akan lupa. Tapi ini sudah hampir empat bulan sosok Bisma tak lagi dilihatnya.
“Neng kangen Mas Bisma ya?,” bukan maksud mengoda, Mbok Irah hanya ingin turut merasakan kerinduan dihati Ribby.
Ribby tersenyum menghentikan kegiatannya yang lagi menyiram tanaman yang ada disana.
“Aku hanya kangen masakin mas Bisma Mbok. Kangen melihat wajahnya yang suka sama masakan yang aku sajikan Mbok,” Ribby berusaha menutupi perasaannya.
“Kalau Neng mau, telpon aja. Pakai hp yang ditinggalkan mas Bisma buat Si Mbok. Tapi ya itu Neng, hp jadul jadi cuma bisa nelpon,” mbok irah nyengir berharap Ribby terhibur dengan kata-katanya.
“Ah gak usah mbok, aku takut ganggu Mas Bisma. Lagian aku juga gak tahu apa Mas Bisma mengharapkan telpon dari aku,” Ribby pun menghibur dirinya sendiri. Ribby tersenyum, membahas Bisma membuat hatinya makin rindu bertemu suaminya, meskipun itu hanya sekedar menatap wajahnya yang bahagia menyantap makanan yang dia sajikan untuk Bisma.
Mbok Irah hanya bisa menatap wanita malang yang jadi korban tuannya. Sejenak pikiran mbok Irah mengira-ngira kenapa Bisma tidak datang lagi sekarang. Perasaan khawatir langsung melanda sukma Si Mbok kala mengingat kata-kata Bisma yang akan menikahi wanita yang dicintainya.
“Apa jangan-jangan…,” Mbok Irah membathin tapi diujung bisiknya berharap itu jangan terjadi. Besar harapan Mbok Irah agar Bisma merajut rumah tangga bahagia dengan Ribby saja. Sekali lagi mbok Irah menatap wanita yang masih sibuk menyirami sayuran.
“Andai ada yang bisa mbok lakukan untuk membantumu Nduk,” Mbok Irah menghela nafas. “tapi dengan menjaga dan menemanimu disini adalah pilihan terbaik,” Bathin Mbok Irah masih sibuk dengan pikirannya.
*****
“Ada apa denganmu Maya? Kenapa kamu terus saja menolak saat mas ajak…,” Bisma mulai emosi karena sudah hampir empat bulan pernikahan belum sedikit pun Bisma menenguk nikmatnya hubungan suami istri.
“Aku belum bisa Mas,” jawab Maya datar.
“Aku tahu alasanmu, meski harapannya kecil bahkan nyaris nihil aku sudah menjalani pengobatan, melakukan berbagai terapi. Semua aku lakukan hanya untuk kamu, Begitu usahaku untuk memberikan yang terbaik untuk rumah tangga kita,” Bisma mulai tidak terima Maya yang selalu menolaknya, selama ini dia sadar karena mungkin karena kondisi dirinya Maya enggan disentuh olehnya, tapi tanpa sepengetahuan Maya, Bisma tetap menjalani pengobatan meski sudah diwanti-wanti dokter kalau itu percuma.
“Aku minta maaf Mas, beri aku waktu,” jawab Maya mengiba, karena masih penolakan yang diterima Bisma membuat Bisma tak bisa menutupi kekesalannya. Bisma berbalik dan menghempaskan pintu kamar dengan keras. Tidak memperdulikan kalau nanti di dengar Mama atau Papanya.
Meskipun sudah sangat larut Bisma tetap melajukan mobilnya, berkali-kali Bisma memukul stir bukti begitu besar kekesalannya. Kesal akan kondisi yang menimpanya dan kesal dengan Maya yang selalu menolak keinginannya.
Bisma menghela nafas menatap rumah yang kini di tempati Mbok Irah dan Ribby, istri sirinya. Ada keraguan diwajahnya untuk masuk kedalam. Ada rasa malu dihatinya, bagaimana dia dan Ribby harus terikat pernikahan rahasia. ragu, takut nantinya Ribby kembali dibuatnya kecewa kalau dia memberitahukan pernikahannya dengan Maya.
“Mmmfuuish…,” Bisma menarik dan menghembuskan nafas berat, berharap sesak yang berkecamuk didadanya sedikit berkurang. Bisma mengusap-usap mukanya, lelah menghadapi keadaan yang mulai diluar kendalinya.
Pelahan Bisma melihat pintu dibuka, remang-remang lampu diteras rumah tak mengurangi kecantikan Ribby yang masih berbalut mukena putih. Kalaulah tak ada lampu pijar itu, mungkin Bisma sudah dibikin kaget melihat sosok putih berjalan mendekat kearahnya.
“Apa Mas berniat tidur di mobil lagi?,” Tanya Ribby dengan senyum merekah saat berdiri disamping jendela yang telah terbuka dan menatap Bisma yang masih duduk dibalik kemudi.
“Mas takut ganggu kamu sama Si Mbok, apalagi selarut ini,” jawab Bisma membalas senyum Ribby karena perlahan ada kehangatan dihatinya.
“Gak kok mas, aku juga lagi sholat tadi. Udah yuk masuk,” ajak Ribby dan diikuti Bisma dibelakanganya.
“Kamarnya ada, kok mas lebih milih tidur di mobil,” Ribby menggoda Bisma sambil mengunci pintu kembali. “Silahkan mas kamarnya udah aku bersihin kok,” kata Ribby sambil membuka pintu kamar depan, kamar yang biasa ditempati Bisma.
“Terimakasih,” jawab Bisma tapi tatapannya tak lepas dari wajah Ribby.
“Kenapa perempuan ini begitu tulus dan ikhlas melayaniku, meskipun kenangan buruk sudah aku ukir untuknya,” Bisma bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.
“Ya sudah, kalau Mas butuh apa-apa panggil aku ke sebelah ya,” jawab Ribby menunjuk kamarnya yang memang berada disebelah kamar Bisma. Saat Ribby akan beranjak, Bisma dengan cepat meraih tangan Ribby dari balik mukenanya.
“Ada apa Mas,” Tanya Ribby menatap tangannya yang kini dalam genggaman Bisma.
“Mas butuh sesuatu darimu,” jawab Bisma dengan terus menatap netra Ribby yang begitu teduh.
🌸🌸🌸🌸
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi
“Mas butuh apa dariku?," meskipun tak jelas terlihat, ada sedikit ketegangan dari gurat wajah Ribby. Sadar aura wajah Ribby sedikit berubah, Bisma melepaskan genggamannya lalu tersenyum tidak ingin membuat Ribby takut.
Perlahan Bisma perjalan menuju sofa yang berada tak jauh dari mereka berdiri. Ribby menatap punggung Bisma dan mengikuti langkah Bisma dengan sorot mata yang penuh tanda tanya. Bisma menepuk permukaan sofa, mengisyaratkan Ribby untuk duduk disampingnya.
"Jangan takut, Mas hanya butuh kamu jadi teman ngobrol kok, " jawab Bisma melihat Ribby yang Masih mematung didepan pintu kamar. "ayo duduk sini. Mas janji gak bakalan apa-apain kamu," Bisma kembali tersenyum untuk mengusir kecemasan yang mungkin kini Ribby rasakan.
“Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya pada gadis sebaikmu, Ribby. Aku berharap kesalahan lalu menjadi pertama dan terakhir kalinya untukku. Jika kebahagiaan tak mampu aku berikan sebagai suami, setidaknya aku tidak lagi memberimu kenangan pahit,” Bisma membathin.
"Apa yang mau Mas omongin tengah malam begini, " Ribby duduk ditempat yang Bisma mau, jantung yang tadi sempat berdegup kencang kini sudah kembali normal.
"Tentang kamu," jawab Bisma menatap lekat mata Ribby.
"a-aku? Apa aku ada bikin masalah Mas?, ", tanya Ribby sedikit tergagap.
"Enggak, cuma...,” Bisma menggantung ucapannya. “Mmm… Ribby Apa kamu benar-benar sudah memaafkan Mas atas kesalahan Mas yang dulu,?" mendengar pertanyaan Bisma tampak Ribby membuang muka, jujur Ribby enggan mengingat masalah itu.
"Ada apa?, ", tanya Bisma was-was
"Aku gak mau mengingat kejadian itu lagi Mas,"
"Maaf Mas gak bermaksud begitu," Bisma pun dibuat gugup melihat reaksi Ribby, karena dia kembali membuka luka lamanya. Bisma kembali mencoba menggenggam jemari Ribby, Bisma ingin mengetahui perasaan Ribby sebenarnya.
“Apa kamu mencintai aku?,” entah apa yang Bisma pikiran sampai pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Perlahan Ribby menarik tangannya dari genggaman Bisma, Bisma kembali dibuat bingung dengan reaksi Ribby. Lama mereka saling terdiam.
“Kalau kamu tidak punya perasaan padaku, kenapa kamu terlihat begitu perhatian padaku selama ini?,” Bisma melanjutkan kalimatnya.
“Kalau iya aku mencintai Mas, apa aku salah?,” jawab Ribby akhirnya, tapi dengan wajah menunduk. Tidak ada keberanian baginya menatap wajah Bisma.
“Bukan begitu, tapi Mas kan sudah…,” Bisma kehilangan kata-kata mengetahui perempuan yang dia hinakan karena perbuatannya, kini malah mencintainya.
“Aku udah bilang sama Mas dulu, dengan menikahiku cuma Mas keluargaku satu-satunya, lalu apa aku salah mencintai keluargaku sendiri,” dengan polos Ribby menyampaikan isi hatinya.
“Ya Tuhan, dari apa hati perempuan ini terbuat? Mengapa dengan mudahnya dia memaafkan kebiadabanku, bahkan kini mencintaiku. Cinta yang kini bahkan tidak aku peroleh dari Maya, wanita yang begitu aku perjuangkan mati-matian jadi istriku,” bathin Bisma sambil melongo mendengar kata-kata Ribby.
“Maafin Mas sudah mengaikanmu dan tidak mengetahui perasaanmu selama ini,” Bisma kembali meraih tangan Ribby dan mengecup mesra punggung tangannya.
“Apa Mas tidak marah padaku?,” Tanya Ribby yang tercenug melihat Bisma memperlakukanya lembut kali ini.
“Tidak, tidak ada yang salah untuk apa Mas marah,” Bisma tersenyum menatap netra Ribby.
“Terimakasih Mas,” Ribby ikut tersenyum, samar-samar ada semu merah dibawah matanya.
“Sekarang pergilah tidur, sudah larut. Terimakasih juga kamu sudah mau meluangkan sedikit waktumu untuk menemani Mas disini,” kata Bisma saat melihat jam dinding sudah menunjukkan hampir jam 2 dini hari. Ribby mengangguk dan meninggalkan Bisma seorang diri di ruang tamu.
*****
POV Ribby
Entah apa penilaian orang terhadapku kalau tahu aku kini menjadi istri dari orang yang telah merebut masa gadisku. Meskipun pernikahan ini dirahasiakan atas permintaan Mas Bisma, aku berpikir itu masih mending daripada mengingat entah siapa yang mau menerimaku kelak jadi istrinya.
Ada semangat baru yang menjalar dihatiku sejak permintaaku pada Mas Bisma untuk menikahiku dengan senang hati dipenuhinya. Entah ini keputusan yang tepat atau tidak, namun saat Mas Bisma mengizinkanku tinggal disini bersama Mbok Irah membuat ada rasa bahagia menelusup jantungku. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana nasibku jika aku tetap dijalanan yang tak tahu harus kemana.
Takut kalau-kalau trauma berkepanjangan makin merusak hidupku, disetiap sujudku, aku selalu memohon ampunan Maha Agung, agar diberi kesabaran menjalani hari esok yang masih menungguku. Tak ingin berlarut dengan kesedihan demi kesedihan yang aku alami selama ini membuatku ikhlas membukakan pintu maaf untuk Mas Bisma, terlebih dia kini telah jadi suamiku.
Mbok Irah juga anugerah luar biasa bagiku, ku lihat sosok ibuku dalam dirinya. terlebih dia juga sangat menyayangiku, membuatku merasa tidak sebatang kara lagi di dunia ini. Petaka membawa berkah mungkin itu yang tepat menggambarkan diriku versiku sendiri. Entahlah dengan orang lain, mungkin mereka akan menganggapku rubah betina yang mengambil keuntungan dengan memintanya menikahiku, terlebih Mas Bisma adalah orang kaya terpandang.
Huufft...miris sungguh miris jalan hidupku. Mau gak mau, suka gak suka harus dijalani. Kebahagiaan yang kini aku jalani berdua dengan Mbok Irah membuatku lupa dengan kesedihanku. Pernikahan rahasia pun tak jadi Masalah bagiku. Jika suatu saat nanti Mas Bisma mau membongkar rahasia ini, belum tentu aku mau. Lagian terlalu tinggi angan-anganku. Aku juga tidak ingin kisah ibu kembali terulang padaku, dianggap rendah oleh keluarga suami. Jujur, aku sudah nyaman dengan kehidupanku saat ini
Dari cerita-cerita Mbok Irah juga sosok Bisma yang kini jadi suamiku, mengambil sedikit demi sedikit tempat dihatiku. Mendengar kebaikan-kebaikan Mas Bisma membuatku mulai mengubah cara pandangku padanya. Senyum selalu menghiasi bibirku saat namanya disebut Mbok Irah. Tak jarang Mbok Irah menggodaku kalau wajahku bersemu merah menanggapi obrolan kami tentang Mas Bisma.
Selesai sholat pun selalu aku sematkan namanya di ujung doaku. Perlahan kekagumanku berubah jadi kerinduan. Tapi itu semua hanya menemani hari-hariku, tak ingin dia tahu tentang perasaanku. Karena aku ingat jelas kalau dia memiliki wanita yang lebih dia cintai.
Rindu yang aku rasakan sedikit terbayarkan dengan kedatangannya tiba-tiba malam itu. Angan-anganku tentangnya sebelum tidurku ingin aku lakukan terhadapnya. Menyajikan makanan untuk suami seperti istri-istri yang lain lakukan sangat menggodaku. Tak ayal semua masakan kesukaannya pun berhasil aku sajikan dihadapannya. Melihatnya yang suka dan selalu memuji masakanku membuatku bahagia. Sangat bahagia.
Kebersamaan kami didapur sebelum kepulangannya pun membuat hatiku makin berbunga-bunga. Waktu dia mengecup ujung jariku, tak bisa aku gambarkan bagaimana kencangnya degup jantungku saat itu. Entah pada siapa akan aku katakan kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya sekarang. Tapi aku sudah cukup bahagia karena rasa canggung antara kami mulai berkurang. keakraban yang dia bangun padaku sudah sedikit mengobati rinduku yang diam-diam aku rasakan.
Rasanya Tuhan mendengar doaku, saat aku membisikan namanya diujung tahajudku. Sayup=-sayup kudengar deru mobil terparkir didepan rumah. Sejenak aku menunggu kalau-kalau dia akan mengetuk pintu, namun tak kunjung aku dengar. Aku bangkit, takut dia akan tidur di mobil lagi seperti terakhir kali dia lakukan.
Dia membuntuti langkahku setelah aku mengajaknya Masuk. Ku bukakan juga pintu kamarnya untuk mempersilahkanya istirahat. Tak lupa aku ingatkan jangan sungkan memanggilku kalau butuh apa-apa. Saat aku melangkah untuk kembali ke kamar, terasa tangannya meraih tanganku. Sempat takut, namun aku bersyukur dia masih sopan terhadapku. Bahkan tanpa disangka-sangka aku mengungkapkan perasaanku padanya.
“Ya Tuhan, bagaimana ini? Kira-kira apa pandangan Mas Bisma padaku sekarang?,” Saat dikamar aku mondar-mandir sambil menutupi semu merah dipipiku yang tak kunjung hilang. Kucoba untuk tidur, namun tak bisa. Balik kiri, balik kanan seolah kantuk urung untuk mendekat. Bahkan sampai adzan shubuh berkumandang.
Usai melaksanakan dua rakaatku, aku mulai sibuk dengan Mbok Irah didapur menyiapkan sarapan. Mbok Irah terlihat senang saat aku memberitahukan kedatangan Mas Bisma tadi malam.
“Mbok, seandainya aku mulai mencintai Mas Bisma, mbok marah gak?,” pertanyaan konyol itu aku lontar sebagai pengantar untuk menceritakan kalau semalam aku mengungkapkan perasaanku pada Mas Bisma.
“Senang dong Neng. Dimana-mana suami istri itu harus saling mencintai,” aku senang Mbok Irah mendukung perasaanku, meskipun aku tahu. Toh selama ini Mbok Irah salalu menggodaku setiap menyebut nama Mas Bisma.
“Tapi kira-kira Mas Bisma suka gak ya sama aku Mbok,”
“Udah, gak usah mikirin itu sekarang. Ayo buruan kita selesain ini, biar kita cepat sarapan,” Mbok Irah mengalihkan pembicaraan bukti dia pun ragu sama sepertiku.
Sebisa mungkin aku bersikap biasa saja, saat aku sudah duduk di meja bertiga dengan Mas Bisma. Begitu pun Mas Bisma seperti tak terjadi apa-apa, dia masih menyapaku ramah. Kuikuti alur pembicaraanya dengan Si Mbok. Meskipun aku tahu sekali-sekali dia masih melirikku dengan sudut matanya.
“Ribby, Mbok kita jalan-jalan yuk,” ajak Mas Bisma siang itu saat kami lagi beberes bekas makan siang.
“Jalan-Jalan kemana Mas?,” sanggah Mbok Irah.
“Siap-Siap aja dulu pokoknya, nanti juga tahu,” jawab Mas Bisma nyengir.
“Apa gak sama Neng Ribby aja, Mbok gak usah ikut Mas,” bantah Mbok Irah lagi.
“Gak, sama Mbok juga, lagian udah lama juga kan aku gak ngajak Mbok jalan-jalan. Kamu gak keberatan kan Ribby, kalau kita ajak Si Mbok,” aku sempat bingung mengapa dia minta pendapatku seolah-olah aku yang ngajak dia jalan.
“Iya Mas, ya udah mbok kita nurut aja yuk,” aku bujuk Si Mbok untuk segera siap-siap. Jujur aku senang, bukan karena Mas Bisma ngajakin jalan, tapi senang kalau dia belum jadi balik karena tadi katanya mau balik lagi sore ini.
Kami masuk kesebuah supermall di kota B, hampir satu jam perjalanan dari rumah. Setelah turun dari mobil aku bergandengan jalan bareng Si Mbok, sementara Mas Bisma jalan sedikit didepan sebelah kiriku. Kami hanya bisa mengikuti langkah Mas Bisma yang aku sendiri tidak tahu dia mau kemana. Akhirnya kami memasuki sebuah toko handphone.
“Nah Ribby, silahkan pilih satu yang kamu mau,” kata Mas Bisma setelah kami bertiga berdiri didepan sebuah etalase panjang. Di sana berjejer ponsel keren kekinian dan canggih, mungkin lebih canggih dari punya Sinta temanku semasa Aliyah dulu.
“Mas mau beliin buat aku?,” Tanyaku gak percaya.
“Iya, tapi kalo Si Mbok juga mau boleh juga,” kata Mas Bisma menggoda Si Mbok.
“Ah Mas bisa aja, lagian siapa yang mau mbok telpon Mas. Hp yang Mas kasih dulu aja lebih sering nangkring dilemari dari pada dipake,” jawab Mbok Irah membuat aku dan Mas Bisma tertawa.
“Ayo neng, pilih satu. Jadi ntar kalo Neng kangen Mas Bisma bisa langsung ditelpon,” aku melotot mendengar ucapan Mbok Irah, kulirik Mas Bisma namun dia hanya tersenyum…entahlah aku tidak tahu apa arti senyumannya itu.
“Aku gak tahu mbok harus pilih yang mana, kalau nanti kemahalan gimana?,” bisikku pada Si Mbok. Lama menunggu tak ada jawab dariku, akhirnya Mas Bisma menunjuk satu pada sang penjaga toko dengan maksud menunjukkan padaku.
Saat aku tanya harga hp yang sudah ada diatas kaca etalase Mbak penjaga, aku dibuat keder saat mendengar harganya yang hampir sama dengan sebuah motor.
"Gak ah Mas, aku gak mau," aku menolak hp yang dipilihin Mas Bisma.
"Kenapa?, " tanya Mas Bisma dengan wajah bingung.
"kemahalan, "jawabku sedikit berbisik. Dengan yang hp masih belum aku sentuh, aku mencoba meminta tipe yang biasa-biasa saja pada penjaga dan kalo bisa gak semahal yang kini dihadapanku.
Melihat penjaga menyodorkan ponsel yang mungkin jauh dari seleranya membuat Mas Bisma ikut-ikutan nanya harga. Saat Mbak penjaga menyebutkan harga yang masih mahal menurutku, tapi membuat Mas Bisma menggeleng.
"Gak Gak, Ribby ini Mas kasih tahu ya, kalo beli hp itu yang diliat bukan harga tapi fitur didalamnya….bla..bla…," entah apa lagi penjelasan tapi sama sekali tidak menarik untukku.
“Lha… emang cara Mas nentuin pilihan sekarang bukan melihat harga?,”
“Iya, ada harga ada kualitas lho,”
Aku tetap ngotot mau ambil pilihanku saja, namun dibantah lagi olehnya. Perdebatan kecil antara kami membuat Mbok Irah dan sang penjaga mesam-mesem. Lelah berdebat akhirnya Mas Bisma meminta tipe dan harga yang ditengah-tengah, meski berat hati terpaksa aku terima.
“Terimakasih ya Mas,” kataku saat paperbag sudah ada di jinjingan tanganku, Mas Bisma menganggguk sambil tersenyum.
Setelah itu kami diajak Mas Bisma keliling Masuk ke sebuah toko baju, mungkin lebih tepatnya butik namun aku enggan masuk kesana. Karena dari yang aku tahu gak akan ada yang murah harganya disana. Dan banyak pertimbangan lain yang membuatku menolak masuk sesuai kemauan Mas Bisma.
Aku lebih memilih mengajak Si Mbok keliling di bagian luar, meski tulisan diskonan terpampang disana tapi sama sekali tidak masalah buatku, tetap bagus kok, itu menurutku.
Saling bertukar pendapat aku tertawa bareng Si Mbok memilih-milih baju, hijab juga sepatu. Sementara Mas Bisma menunggu sedikit jauh dari kami dibangku dekat eskalor, dia sedikit ngambek saat aku kembali menolak masuk ke butik pilihannya.
Puas hunting baju, jilbab untuk ku dan Si Mbok serta keperluan lainnya kini Mas Bisma menyarankan untuk membeli perlengkapan persedian isi kulkas. kali ini aku tak menolak, karena apapun itu yang berhubungan dengan makanan aku suka, tak peduli itu mahal atau murah pasti aku beli tanpa tawar-menawar.
Sampai dirumah sudah hampir maghrib, membuat tubuhku rasanya sangat lelah. Kulihat Mas Bisma pun langsung Masuk kamar, mungkin ingin rebahan sebentar sebelum adzan maghrib menggema. Selesai sholat aku dan Si Mbok membongkar barang belanjaan kami tadi dengan suka cita.
"Enak ya Neng sesekali belanja disana, bisa cuci mata, adem lagi, " Si Mbok berkomentar sambil membongkar tas-tas yang ada didepan mata. Aku hanya tersenyum, bahagia rasanya kalau Mbok juga bahagia.
Selesai sholat giliran jatah isi kulkas yang aku bongkar untuk segera aku susun kedalamnya. Si Mbok yang kecapekan mungkin langsung ketiduran, karena belum keluar kamar habis sholat maghrib.
Selesai dengan tugasku, segera ku beralih duduk di meja makan. Dengan rasa syukur segera aku ambil paperbag yang aku bawa dari toko handphone tadi siang. Satu demi satu mencoba aplikasi yang ada. Pernah melihat Sinta mengoperasikan gawainya dulu membuatku tidak terlalu canggung, apalagi aku yang punya sedikit minat dengan komputer membuat aku sedikit paham sistem operasi.
"Butuh bantuan?, " suara Mas Bisma tiba-tiba mengagetkanku.
"Mmh…gak Mas, " jawabku menatap Mas Bisma yang duduk di kursi depanku.
"Sini pinjam," kuulurkan benda pipih itu padanya
"Itu nomor Mas, kapan pun kamu mau kamu bisa hubungi Mas," Mas Bisma balik mengulurkannya padaku, kuraih dan kulihat 'suamiku ' tertulis mendampingi beberapa digit angka. Aku tersenyum membacanya, kulirik dia pun tersenyum padaku.
Paginya, selesai sarapan Mas Bisma pamit untuk balik lagi ke Jakarta, meski berat melepasnya tapi aku juga sungkan untuk menyuruhnya tinggal lebih lama. Kucium tangannya setelah dia lebih dulu menyalami Mbok Irah.
"Jangan lupa telpon Mas ya. Kalo kamu mau, Mas juga dengan senang hati datang kalo kamu yang suruh,”
Malu-malu aku mengangguk mengiyakan.
Kutatap mobil Mas Bisma yang mulai menjauh, kalau ditelisik lebih dalam kesanubari di sana ada harapan agar dia segera kembali lagi.
*****
"Apa kamu masih belum tahu Bisma pergi kemana, Maya,?" Rendra langsung menodong Maya dengan pertanyaan, bahkan Maya belum duduk dikursinya saat akan sarapan pagi itu.
"Belum Pah, Mas Bisma menon-aktifkan ponselnya," jawab Maya sambil duduk dikursinya.
"Sebenarnya ada masalah diantara kalian? Sampai istri gak tau suami pergi kemana?," ada sedikit kekesalan dalam kata-kata Rendra, namun Maya enggan menanggapi dan tetap melanjutkan sarapannya.
"Habis ini coba hubungi lagi ya sayang, " dengan lembut Citra kembali mengingatkan Maya.
"Iya Mah, " jawab Maya mengangguk.
Dikamar Maya kembali mencoba menelpon Bisma, tapi tetap tidak tersambung. Ketiga kalinya Maya mencoba masih tetap sama, Maya melempar gawainya ke kasur dengan kesal.
"Kemana sih Mas Bisma?, " Maya ngedumel sambil berkacak pinggang.
Setelah menarik nafas dan membuangnya dengan kasar, Maya kembali meraih ponselnya tadi berniat mencoba menghubungi Bisma kembali. Tersambung tapi tak kunjung dijawab Bisma. Rasa kesal kembali melanda karena untuk kesekian kalinya Bisma mengabaikan panggilan.
"Apa harus sampai segitunya Mas Bisma marah padaku?," ada sedikit kekhawatirannya diwajah Maya.
Setengah jam berselang Bisma tiba-tiba masuk kamar dan mengagetkan Maya. Dengan diam Bisma melewati Maya begitu saja, setelah meletakkan hp dan kunci mobil diatas nakas Bisma berbalik ingin mandi.
"Mas kamu dari mana aja sih? Hp gak aktif, ditelpon gak diangkat," Maya menghalangi jalan Bisma yang akan menuju kamar mandi.
"Aku pergi nenangin pikiran," jawab Bisma berusaha mengeser tubuh Maya yang menghalangi langkahnya.
“Aku belum selesai ngomong Mas, " Maya kembali kedepan Bisma.
"Apalagi? Sekarang aku dah pulang jadi mau apalagi?," Bisma balik bertanya pada Maya. Belum sempat Maya menjawab Bisma kembali menghalau Maya dari hadapannya.
"Ada apa dengan Mas Bisma? Gak sampai dua hari perlakuannya padaku berubah drastis. Kemaren-kemaren keliatan banget cintanya sampai menghamba ama aku, tapi kenapa sekarang tiba-tiba berubah ya? Apa aku sangat mengecewakannnya dan menyinggung perasaannya?, " Maya berbisik menatap pintu kamar mandi.
Beberapa hari berlalu, Bisma Masih tetap mengabaikan Maya. Bahkan pertanyaan yang berkecamuk dipikirannya satu pun belum ada yang terjawab. Bisma masih enggan menanggapi Maya, membuat tanda tanya makin besar nangkring dikepalanya.
Sementara Bisma setiap dirumah hampir setiap saat, handphone tak pernah lepas dari tangannya. Bahkan sering Maya memergoki Bisma tertawa lepas saat asyik menatap layar benda pipih itu. Rengekan dan rayuan yang biasa bisma tujukan pada Maya sebelum tidur pun kini tak lagi terdengar.
🌸🌸🌸
Part 10
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi
POV Bisma
Selama perjalanan balik ke Jakarta perasaanku terasa begitu nyaman, kekesalan karena penolakan yang aku terima dari Maya dua hari lalu seolah menghilang tanpa bekas. Kuraih ponsel milikku kunyalakan lagi, karena setelah malam kepergianku meninggalkan Maya sengaja aku nonaktifkan. Hanya ingin tahu apakah ada kekhawatirannya dengan tidak ada kabarnya dariku.
Baru beberapa detik hp itu aktif, panggilan dari Maya langsung Masuk, tapi enggan rasanya untuk menanggapi. Sekali, dua kali, bahkan yang keempat kalinya tetap tak ku jawab, sesungging senyum menghias bibirku, senang rasanya dia masih memikirkanku. Tapi lebih senang lagi saat aku melihat notif chat masuk dari Ribby.
"[Assalamualaikum, maaf ganggu sebentar Mas, cuma mau tes hp baru yang Mas belikan,"] aku tersenyum geli membaca pesannya.
"[Wa'alaikumsallam, tes aja sepuasnya. Sama sekali Mas gak keganggu. Tapi sekarang Mas masih nyetir, nanti Mas balas lagi sampai di rumah ya]," dengan masih senyum geli kubalas pesannya setelah menepi sebentar sebelum aku melajukan mobilku kembali.
Saat kubuka pintu kamar, terlihat sosok Maya yang lagi bertopang pinggang. Dapat kupastikan dia lagi kesal dengan telponnya tadi yang tidak aku angkat. Terlintas dipikiranku untuk memperlihatkan sedikit kekesalanku padanya. Dengan wajah dingin aku melewatinya, bahkan menjawab pertanyaannya pun juga sedikit ketus. Bukan bermaksud jahat, namun hanya sedikit memberi pelajaran untuk bisa menghargai aku sebagai suaminya.
Moment di kasur sebelum tidur pun kini berubah. Maya yang biasa menyibukkan diri dengan gawainya menungguku bergabung diatas ranjang kini terbalik. Aku yang lebih sering sibuk menatap layar sembari memainkan jari membalas chat demi chat dari Ribby, istri yang mulai mencuri perhatianku. Bahkan tak jarang aku tertawa membaca balasan konyol darinya. Begitu juga aku dibuat tertawa dan senyum-senyum sendiri melihat foto-foto jadul Ribby dari akun fb yang dia berikan padaku sebagai basa-basi meminta balik akun punyaku.
"Mas aku perhatiin akhir-akhir ini kamu tuh sibuk dengan hp mulu, ngapain sih?," Maya mencoba bertanya saat kami sudah duduk bersandar di ujung ranjang, hendak tidur.
"Emang kenapa? Apa kamu terganggu?," Aku mendelik menatapnya sekejap, sadar kalau Maya mulai memperhatikanku.
"Terganggu enggak sih... cuma," Maya menghentikan perkataannya.
"Cuma apa? Lagian setiap aku coba gangguin kamu, sepertinya kamu keberatan," mendengar perkataanku, Maya melengos, dengan kesal Maya tidur memunggungiku.
Beberapa saat kemudian dia kembali menatapku yang tetap asyik dengan layar masih menyala.
"Issh, gak peka banget sih," ambekan Maya makin menjadi, membuatku bingung apa maunya. Aku diam beberapa saat, berpikir apa Maya mengharapkanku untuk mencoba menggodanya lagi kali ini. Aku hanya geleng-geleng kepala, tapi enggan untuk kembali merayunya mengingat penolakan demi penolakan yang aku terima setelah hampir 6 bulan umur pernikahan kami.
Mata Masih mengantuk rasanya saat adzan Shubuh berkumandang, entah sampai jam berapa aku Whatsup-an dengan Ribby semalam. Sambil mengucek-ngucek mata agar penglihatanku kembali terang aku bangkit hendak ke kamar mandi, bersiap menjalankan ibadah wajibku pagi ini. Dengan air wudhu masih membekas di wajahku, Ku gelar sajadah hijauku.
"Tunggu Mas, " suara Maya membuatku urung melakukan takbir pertama.
"Ada apa May?, " sempat kaget saat dia sudah bangun sepagi ini.
"Aku ikut Mas, kita sholat bareng ya," meski heran aku mengangguk menyuruhnya untuk segera bersiap, seulas senyum terpampang diwajahku saat dia sedikit berlari menuju kamar mandi.
Pemandangan yang tidak biasa mungkin antara aku dan Maya. Ini kali pertama aku mengimaminya sholat. Biasanya dia enggan jika aku suruh. Tau kalau kewajibanku untuk membimbingnya, tidak sekali dua kali aku mengajaknya dengan sedikit memaksa. Tapi tetap tidak mempan, malas berdebat dengannya akhirnya aku pun mengabaikannya. Aku pun lupa, entah kapan terakhir kali aku mengajaknya.
Dengan takzim Maya memcium tanganku selesai berdoa, kuusap kepalanya seraya mendoakannya semoga perubahan Maya ini terus berlanjut.
"Mas mau sarapan apa pagi ini, biar aku masakin," dengan lembut Maya menatap mataku.
"Kamu gak usah repot-repot, kan ada Mbok Tini yang biasa nyiapin sarapan buat kita semua," jawabku sambil menggantung sarung dan baju kokoku ke dalam lemari.
"Ayolah Mas, sesekali aku juga mau masakin makanan yang Mas mau, " Maya merengek sambil bergelayut manja di lenganku. Aku bingung mau jawab apa, satu hal persamaan Maya dan Ribby yang aku tau, mereka sama-sama pintar Masak. Jadi gak usah diragukan lagi kemampuan Maya untuk memasak. Kepikiran Ribby, membuatku teringat sop daging buatan Ribby pagi kala itu.
"Sop daging deh, " jawabku saat pikiranku melayang pada Ribby.
"oke, aku akan masakin sop spesial buat Mas," dengan begitu sumringah Maya menyanggupi permintaanku.
Menunggu Maya menyiapkan sarapan untukku, aku kembali memainkan gawaiku sambil berselonjor santai dikasur. Jam 7 Maya kembali ke kamar, keringat sedikit membasahi wajahnya.
"Selesai Mas, gih turun ke bawah. Aku mau mandi dulu. Anyep, " kata Maya melakukan gerakan mencium badannya sendiri. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
"Kamu mandi aja dulu, Mas tunggu dibawah, kita sarapan bareng-bareng," dia mengangguk dan aku pun tersenyum padanya sebagai tanda terimakasihku, karena sudah berjuang melayani kemauan perutku pagi ini.
"Papa mana Mah?," tanyaku saat ku temui hanya ada Mama di ruang makan.
"Biasalah Papamu, hari Minggu begini rutinitas paginya ya.. lari pagi," mama mendelik seakan sudah bosan dengan hobi papa yang satu ini. aku hanya tersenyum menanggapi mama, sambil menarik salah satu kursi aku masih tetap memainkan benda pipih yang mulai enggan aku tinggalkan, sementara Mama kembali mengecek menu kami pagi ini apakah masih ada yang kurang. Hampir bosan manunggu akhirnya terdengar suara Papa dari pintu depan.
"Masak apa sih Mah? Enak banget baunya, kecium mpe depan tuh," sapa Papa mendekati meja makan.
"Ini menantu Papa masakin sop kesukaan Papa sama Bisma," jawab mama dengan senyum menggoda. Memang aku dan Papa sama-sama penggemar olahan daging.
"Waah, enak nih. Lha trus Maya nya mana?," tanya Papa saat sadar kalo belum ada Maya diantara kami.
"Tadi lagi mandi Pah, palingan bentar lagi juga turun," jawabku. Kulihat Mama membantu Papa mengambilkan sarapan, saat Mama berniat mengambilkan juga untukku terdengar suara Maya dari arah tangga.
"Untuk Mas Bisma biar aku aja Mah," katanya sambil berlari, kulihat Maya sudah rapi jauh beda dengan selesai masak tadi. Cantik, sesaat aku dibuatnya kembali terpesona.
“Nih Mas,” kata Maya sambil menata sajian sop dihadapanku.
“Terimakasih,” jawabku sambil tersenyum, kupandangi Maya sungguh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Setelah semua siap, kami sibuk dengan piring kami masing-masing, sebelum akhirnya papa buka suara.
"Bisma, besok kamu berangkat ya ke Surabaya untuk meninjau cabang disana," aku kaget dengan perintah Papa yang tiba-tiba.
"Lha kok aku Pah, biasanya kan juga Mas Damar yang kesana, " aku berusaha mengelak karena aku tahu untuk urusan kantor cabang paling cepat itu seminggu, padahal minggu depan aku udah janji pada Ribby untuk datang.
"Damar ada tugas lain yang mesti dia urus, kalau dia bisa Papa juga gak akan nyuruh kamu, " kalau sudah begini aku gak bisa ngebantah Papa lagi, patuh adalah jalan keluar yang terbaik. Meski itu berat, seberat rinduku pada Ribby yang harus aku tahan.
Aku meminta Maya untuk menyiapkan segala perlengkapanku saat sudah kembali kekamar. Bukannya mengerjakan apa yang aku minta, dia malah hanya mengikuti langkahku dari tadi. Sambil membuang nafas aku berbalik menatap kearahnya.
"Mas, aku ikut ya, " ujar Maya dengan gaya manja yang jadi ciri khasnya.
"Ikut?, buat apa?, " tanyaku heran.
"Ya pengen aja, lagian terakhir kali Mas mau ajak aku ke Inggris juga kan,”
"Iya, tapi Mas kesana buat kerja bukan buat jalan-jalan,"
"Tapi aku mau ikut Mas,"
"Dengar ya sayang, Mas kesana cuma beberapa hari, paling lama seminggu. Habis itu baru kita jalan-jalan gimana?," aku mencoba memberikan solusi.
"Janji ya," Maya menunjuk mukaku menuntut dengan tatapan tajam setelah beberapa saat terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Iya Mas janji, udah sana beresin perlengkapan Mas," akhirnya Maya berlalu dari hadapanku, namun tidak dari pikiranku. Masih tanda tanya bagiku, kenapa tiba-tiba Maya mulai manja lagi padaku seperti masa pacaran dulu. Apa Maya tahu tentang Ribby? Apa Maya cemburu? Aahh... Aku acak-acak rambutku tidak ingin memikirkan hal begituan.
Dalam perjalanan ke bandara aku kembali mengecek ponsel, apakah Ribby sudah membalas chatku semalam namun masih centang satu, aku telpon tapi tidak tersambung. Perlahan perasaan tidak enak menyeruak di dadaku, pilihan terakhir aku mencari nomor Mbok Irah. Tersambung tapi belum ada jawaban, lama, sampai akhirnya terdengar suara Mbok Irah di seberang sana.
[“assalamualaikum,"]
[“walaikumsallam,Mbok. Ribby mana Mbok?,"] tanyaku to the point.
[“Neng Ribby lagi di Mesjid Mas, ada acara disana, jadi neng Ribby bantu-bantu disana atas permintaan Pak Kiyai,”]
[“Dari semalam?,”] mengingat pesanku semalam masih belum dibacanya.
[“Dari kemaren malah Mas, emang kenapa Mas?,”]
[“Gak ada Mbok, aku cuma khawatir kok pesanku gak dibalas-balas sama Ribby,”]
[“oo, mungkin karena sibuk itu Mas, semalam aja pulangnya udah lewat Isya langsung tidur, tadi pagi dah pergi lagi Mas, mungkin gak sempat Mas, biar ntar Mbok sampein aja ya Mas,”]
[”Ya udah deh Mbok. Aku mau ke luar kota, jadi mungkin Minggu depan aku gak jadi kesana, tolong bilangin ama Ribby ya Mbok,”]
[“oo, baik Mas, Mas hati-hati ya,”]
[“Iya terimakasih Mbok. Oh ya satu lagi Mbok, tolong jagain Ribby baik-baik untuk aku ya Mbok,”]
[”Iya Mas pasti,”] Telepon terputus setelah si Mbok menjawab salamku, dengan begini perasaanku sedikit lebih tenang untuk pergi.
Rencana awal yang hanya seminggu ternyata di luar perkiraan. Saking banyaknya yang harus di urus mengharuskan aku untuk tinggal lebih lama.
Sesampai di kamar hotel rasanya badanku begitu capek, ingin sekali rasanya untuk istirahat barang sejenak, tapi kuurungkan mengingat waktu Maghrib masuk sebentar lagi. Selesai mandi, sholat maghrib, aku langsung rebahan berniat untuk tidur agar body dan otak kembali fresh.
Baru aja aku mencoba memejamkan mata tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada kegeraman pada diri sendiri kenapa hp tidak kurubah dulu ke mode silent atau dinonaktifkan sekalian. Kuabaikan dan terus mencoba tidur, namun nada dering yang tak berhenti berbunyi begitu sangat mengganggu.
Dengan setengah hati kuraih ponselku di atas meja disudut ruangan.
Tertera nama Maya disana.
Tertera nama Maya disana.
[“Ya May ada apa?,”] tanyaku tak semangat.
[“Kok lama banget sih Mas angkat telponnya?,”]
[“Mas capek May, mau tidur,”]
[“Iihh…, aku udah dibandara, Mas jemput aku ya sekarang,”] mendengar kata-kata Maya aku melotot tak percaya.
[“Kamu disini? Ngapain?,”] tanyaku Masih dengan nada keheranan.
[“Mas kan udah janji ama aku cuma seminggu, karena gak Mas tepati ya udah aku susulin,”]
[“Aduuh May, kamu nih ada-ada aja. Ya udah kamu cari aja hotel dekat sana. Mas capek mau tidur, besok pagi Mas jemput,”] kataku menolak.
["Aku gak mau, Mas harus jemput sekarang pokoknya,"]
["May tempat Mas ama bandara lumayan jauh lho. Atau kalau gak kamu naik taksi, ntar Mas share lokasi deh, " kataku menghiba berharap dia mengizinkanku untuk istirahat. Tapi rengekannya malah makin menjadi.
"Gak mau, masa Mas tega biarin aku jalan sendirian malam-malam begini,"
"Lha bukannya kamu dari Jakarta juga sendirian ya,"
"Udah, aku tunggu disini sampai Mas datang, kalau aku ilang Mas tanggung jawab, " klik mati.
Aku hanya dibuat terpana atas kelakuan Maya. Mau gak mau aku pun kembali bersiap untuk menjembut Maya. Maya tergolong nekat, membuatku sedikit khawatir bagaimana kalau benar dia menungguku disana sendiri.
"Aah…ganggu tidur ku aja," Ku lajukan lagi mobil membelah jalanan. Kerlap-kerlip lampu ditengah malam yang kelam membentuk keindahan tersendiri. Maya yang berada disini, namun pikiranku kembali pada Ribby. Kira-kira sedang apa dia sekarang?. Capek mengira-ngira membuatku ingin segera mendengar suaranya. Kuraba saku celanaku, kosong. Sial, karena terburu-buru aku lupa mengambil hp yang tadi aku tinggalkan di atas meja.
Dengan bantuan security aku sudah bisa menemukan Maya, bukannya salim seperti yang biasa Ribby lakukan, dia langsung bergelayut manja di lenganku. Kalau ditanya apa aku risih? Tidak terlalu, karena memang Maya yang seperti ini yang aku rindukan saat pertama menikah dulu. Dengan senyum aku mengajaknya menuju mobil, melihatnya bahagia membuatku bersyukur harapanku terkabul dengan perubahan Maya.
Sesampai di kamar, aku langsung melempar tubuhku di kasur. Tak ku hiraukan lagi dengan keberadaan Maya. Karena terlampau lelah tidak butuh lama aku sudah terlelap dengan posisi menelungkup.
Perlahan aku merasakan belaian di punggung dan berakhir di tengkukku. Saat aku berbalik Maya duduk dengan posisi menggoda di pinggir ranjang, dan tentu dengan balutan pakaian yang sangat minim.
“May…,”
“Sssttt…,” Maya memotong ucapanku sambil meletakkan jarinya dibibirku, perlahan jari itu meraba bibirku lembut.
Deru nafasnya kini berhembus sangat dekat di wajahku, dengan lembut dikecupnya bibirku. Terbawa suasana kubalas ciuman itu sambil mengangkat tubuh kecilnya. Dengan posisi aku yang kini menindihnya, dapat dengan jelas kulihat wajahnya yang terpejam merasakan kelembutan ciuman yang aku berikan.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba matanya melotot menatapku. Dengan garang dia mendorong tubuhku kasar dari atasnya, membuatku tak mengerti akan sikapnya.
“Ada apa May?,” Tanyaku bingung, tapi bukannya menjawab dia malah membuang muka. Perlahan kulihat dia menangis sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
“Aku gak bisa Mas,” jawabnya lirih.
“Tapi kenapa?,” suaraku sedikit tinggi sadar mendapat penolakan lagi darinya.
“Aku gak bisa,…hiks..hiks… aku belum bisa melepas keperawananku untuk suami mandul sepertimu Mas,” tampak Maya kaget dengan ucapannya sendiri sambil menutup mulutnya layaknya orang keceplosan bicara.
DEEGG…kata-kata Maya langsung menusuk jantungku. Tak kusangka Maya tega mengatakan itu padaku. Meski faktanya memang begitu, tapi tetap rasanya ada sembilu yang mengiris hatiku. Secepat kilat aku berbalik meraih ponsel yang tadi sempat aku lupakan. Tak ku hiraukan panggilan Maya, kubanting pintu kamar sekuat-kuatnya.
⚡️⚡️⚡️⚡️
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar