Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Kamis, 16 Januari 2020

#Pernikahan_Rahasia 1 - 5

by Ummuna Fatharani

Part 1
#Pernikahan_rahasia
#Fiksi

POV author

Terlihat seorang laki-laki menarik paksa tangan seorang perempuan keluar dari mobil di tengah hujan deras saat suara adzan Isya dari kejauhan baru saja berkumandang.

Itu adalah Bisma, anak konglomerat terpandang di kotanya. Pengusaha muda dan pewaris tunggal SBC group.

“Pak tolong biarkan saya pergi, Saya mohon,” Mohon Ribby, perempuan cantik bergamis itu memberontak. Isak tangisnya kalah dengan suara derasnya hujan dan deru angin.

Gemuruh disertai kilat menyambar juga menelan semua yang keluar dari mulutnya. Ribby tidak tahu dia berada dimana saat ini. Kala dia terus berteriak sesekali mengamati sekitar.

Layaknya perkampungan samar-samar terlihat rumah-rumah penduduk yang sedikit jauh membuat asa Ribby seketika pupus. Berharap seseorang datang menolongnya pun menjadi angan-angan.

Bagai orang yang kesetanan tangan Ribby kembali diseret oleh laki-laki didepan langkahnya. Raungan tangis Ribby sama sekali tidak dihiraukannya ketika Bisma sedikit kesusahan memasukan anak kunci ke lubang pintu.

Pintu minimalis gaya pedesaan itu terbuka, sontak dilemparnya tubuh Ribby ke sofa, tas yang dari tadi dipelukan Ribby juga terlempar tak jauh darinya.

Setelah menutup pintu dan menguncinya, Bisma menatap wanita basah kuyup itu yang masih meringkuk ketakutan disofa. Kembali tangannya yang kekar menarik tubuh itu menuju kamar. Nafsu setan sudah merasukinya, dengan satu kali tepis jilbab yang sudah awut-awutan dikepala Ribby dilemparnya ke sudut ruangan.

Tangis Ribby kembali pecah manakala membayangkan apa yang akan dialaminya.

“Pak ampun pak, jangan lakukan ini pada Saya,” tubuh Ribby yang tak sebanding tak sanggup melawan lelaki yang bertubuh tinggi dan tegap itu.

Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut lelaki itu, tapi tenaganya yang kuat membuat Ribby hanya bisa menerima pasrah apa yang diperbuat kepadanya. Hanya dengan tiga kali sentakan Ribby sudah nyaris polos tanpa sehelai benang.

“Jangan, saya moho…..aaaaa,” tangis histeris Ribby terdengar mengiba. Semua yang dia jaga selama ini direnggut oleh laki-laki biadab diatasnya. Sekuat apa Ribby pun memukul-mukul dada Bisma sudah tidak ada artinya lagi. Setelah puas menyalurkan nafsu bejatnya, lelaki itu pun tampak kelelahan dan terbaring lemah disamping Ribby.

Secepat kilat Ribby menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Perlahan Ribby pun merangkak ke sudut kamar karena terasa perih diantara dua pahanya. Sambil duduk dengan memeluk lutut Ribby kembali menangis. 24 tahun umurnya, baru kali ini Ribby merasakan dirinya sangat kotor dan hina.

Lelah menangis dan menahan rasa nyeri dibawah perutnya, akhirnya Ribby tertidur, sayup-sayup adzan shubuh membangunkan Ribby. Nyerinya masih terasa, Ribby berusaha berdiri dengan selimut masih membalut tubuhnya.

Diambilnya tas yang tadi malam terlempar di ruang tamu. Celingak-celinguk Ribby mencari kamar mandi berniat membersihkan diri dan bersiap sholat shubuh.

“Assalamu’alaikum Warahmatullah….,” Ribby menyelesaikan dua rakaatnya. Sejenak Ribby bersyalawat dan melantunkan asmaul husna. Bacaan tasbih, tahmid, dan takbir pun tidak luput dari waktu dzikirnya. Sebanyak mungkin dan berulang kali Ribby bisikkan. Memohon ampunan pun tak henti-hentinya Ribby panjatkan dalam doanya.

“Ya Allah ampunilah dosa hambamu yang hina ini. Hamba bertobat padamu Ya Allah. Hidup sebatang kara dengan cobaan seberat ini hamba takut ya Allah, Berilah hamba kekuatan untuk bertahan dan menjalani hidup ……….. Dan berikanlah hamba sedikit kebesaran hati untuk berusaha memaafkan orang yang sudah berbuat kesalahan pada hamba ya Allah,” setelah hatinya mulai tenang Ribby bangkit dan berjalan menuju ruang tamu, saat Ribby melewati pintu kamar semalam tampak lelaki yang sudah merenggut mahkotanya. Ribby menatapnya dingin, dan berlalu.

Dari balik jendela Ribby menatap kosong keluar. Perkampungan yang hijau dan asri, meskipun pintu tertutup tapi aura sejuk sudah dapat Ribby rasakan. Perlahan hati Ribby terasa nyaman, pemandangan yang di depan matanya mengingatkan Ribby akan kampung halamannya. Samar terlihat senyum menghias disudut bibirnya. Namum hilang seketika, saat Ribby menoleh kebelakang, lelaki yang tadi masih tertidur sekarang berdiri di pintu kamar sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.

“Siapa kamu?,” pertanyaan yang sukses bikin mata Ribby melotot sempurna.

“Bapak lupa sama saya?, setelah kenikmatan sekali teguk bapak dapatkan, Mahkota itu bapak rampas sekarang bapak lupa?,” kata-kata Ribby membuat sosok didepannya bingung sesekali meringis, menahan rasa pusing yang masih melanda dan berusaha mengingat kejadian tadi malam yang Ribby katakan.

“Astagfirullah….,” mata lelaki itu tidak kalah bulat mengingat kejadian tadi malam. Rasa penyesalan terlihat jelas dari raut mukanya. Melihat sang lelaki bereaksi di luar dugaan membuat Ribby jijik.

“Dasar manusia munafik,” bathin Ribby dengan sorot mata tajam.

Dengan wajah memelas Bisma berjalan perlahan mendekati Ribby dan bersimpuh memohon maaf padanya. Penuh penyesalan mata bisma tampak berkaca-kaca. Ribby mundur beberapa langkah merasa risih karenanya.

“Ada apa dengan laki-laki ini? Sosoknya berbeda jauh dengan yang aku lihat tadi malam? Matanya yang semalam merah dan garang sekarang tampak teduh. Aku yakin ini adalah ketulusan bukan kepura-puraan. Ada apa ini? Apa dia berkepribadian ganda?,” suara-suara itu berkecamuk dalam pikiran Ribby.

Bersambung…


Part 2
#Fiksi
POV Bisma

Ibarat putra mahkota begitulah kehidupanku selama hampir 35 tahun umurku. Orang tua yang menyayangiku, harta yang melimpah, kekuasaan, segalanya telah berada digenggaman tangan. Dianugrahi wajah rupawan merupakan tambahan berkah dari yang Maha Kuasa. Mirip Abimana Aryasatya begitu orang-orang kebanyakan berkomentar saat melihatku.

Semua aku nikmati sendiri lantaran hanya aku satu-satunya keturunan terakhir keluarga Shairendra. Sudah dipastikan SBC group akan jatuh kepadaku suatu hari nanti. Namun semua itu berbanding terbalik dengan kisah cintaku.

Dua tahun terakhir aku menjalin hubungan dengan seorang wanita. Dia adalah teman kuliahku di Inggris. Maya namanya, wanita cantik plus manis sesuai dengan idamanku. Kalau divisualisasikan menurutku pribadi wanitaku itu sekilas mirip Acha Septriasa. Wajahnya mengalihkan duniaku. Selama masa pendidikan MBAku bersama Maya, kami sepakat merahasiakan hubungan kami dari orang tua.

Sampai akhirnya sebulan yang lalu Papaku mengabarkan untuk menyuruhku pulang karena ingin dijodohkan dengan anak temannya. Aku bingung bagaimana harus mengatakan kepada Papa kalau aku sudah memiliki perempuan yang ingin aku persunting. Papa mempunyai sifat yang keras, pantang sekali baginya mengampuni orang yang membantah perintahnya. Jujur pada Maya pun aku tidak punya keberanian untuk menyakiti perasaannya.

Semenjak kepulanganku dua hari yang lalu, ada segurat kabut yang seolah-olah menutupi hari-hariku. Bagaimana tidak, wanita yang selalu menemani hari-hariku disana, kutinggalkan tanpa memberi kabar kepulanganku kali ini.

“Maya, betapa aku merindukanmu saat ini,” lirihku saat aku berdiri dibalkon teras kamarku yang menghadap ke taman belakang. Berbagai pikiran buruk menyeruak diotakku. Bagaimana selanjutnya, apa aku harus hidup dengan seseorang yang tidak aku cintai?

Tepukan tangan dibahu menyadarkanku dari lamunan yang aku sendiri ngeri untuk memikirkannya. Wanita yang masih terlihat cantik itu menatap netraku dengan senyum yang sungguh membuat hatiku hangat.

“Aah Mama, bikin Aku kaget aja,” jawabku membalas senyumannya. Senyum yang membuatnya semakin cantik.

“Ada apa denganmu? Mama perhatikan kamu selalu murung sejak kepulanganmu,” Perlahan Nyonya Shairendra itu mengelus lembut punggungku.

“Lalu aku harus bagaimana Ma? Pura-pura bahagia menerima keputusan Papa yang sulit aku terima,” suaraku berat untuk sedikit menguraikan sesak didada.

“Biasanya sesulit apapun keputusan Papa, kamu terima-terima saja. Ada apa sekarang? Apa ada yang wanita lain?,” tebak Mama namun langsung menusuk jantungku. Memang insting seorang Ibu lebih peka dengan perasaan anaknya. Ini yang membuat aku sangat menghormati dan menyayangi Mama, Dia lebih mengerti Aku dari pada Papa. Aku hanya bisa diam, takut perkataanku nanti menyakiti Mama.

“Cobalah untuk ikhlas dengan keputusan ini, Mama dan Papa tidak mungkin memberikan yang buruk padamu. Kamu sendirikan tahu kalau selama ini kami selalu memberikan yang terbaik untukmu,” kembali Mama mengelus punggunggu berusaha menenangkan gemuruh gejala pemberontakan dihatiku.

“Bersiap-siaplah, sebentar lagi gadis itu akan datang dengan keluarganya,” ujar Mama berlalu berjalan meninggalkan kamarku.

Langkah pelan dan tidak semangat aku ayunkan saat Mbok Tini memanggilku ke kamar memberiutahukan tamu istimewa hari ini sudah datang. Di anak tangga terakhir dengan jelas aku lihat wanita yang sedari tadi aku rindukan. Maya, wanita yang sudah mencuri seluruh hatiku duduk manis disamping Mamaku. Secepatnya aku lajukan langkahku menuju ruang tamu dimana dua keluarga bertemu. Semua mata menatapku begitu aku berdiri dibelakang sofa yang Papa duduki.

“Pah, apa itu wanita yang Papa pilihin buat aku,” bisikku membungkukkan badan pada Papa.

“Kenapa, kamu keberatan?,” balas Papa keras membuatku sedikit keki.

“Bukan begitu pah…,” jawabku nyengir kuda kayak orang bloon. Ku tatap wajah Maya mencari kalau-kalau dia juga merasakan kabut yang aku rasakan dua hari ini, namun hanya kebahagiaan yang aku lihat.

“Apa Maya sudah tahu dari awal kalo dia akan dijodohkan dengan ku,” aku membathin sambil terus tersenyum.

“Dan, sepertinya anakku menyukai anakmu,” seru Papa melihatku tersenyum tanpa berkedip menatap Maya.

Sejak hari itu kabut yang aku bawa sejak dari Negara Ratu Elizabeth, perlahan kembali disinari mentari. Hidup yang terasa pudar beberapa hari lalu pun kembali memiliki semangat untuk hidup lebih lama. Sejenak aku terdiam, merasa dewa keberuntungan selalu menaungiku. Semua begitu lancar sesuai dengan apa yang aku inginkan.

Hari demi hari, Mama dan Maya semakin akrab. Hobi mereka yang cenderung sama membuat mereka tidak kesulitan untuk saling berbagi. Memasak dan hunting kuliner baru membuat mereka terasa sulit dipisahkan, namun itu sebuah kebahagian baru buatku. Dua wanita yang aku cintai mau saling berbagi kasih bersama.

“Bisma Mama mau kamu mulai mengatur pernikahanmu dengan Maya, ini sudah hampir satu bulan, Mama rasa sudah cukup waktu untuk kalian untuk saling megenal,” Mama membuka obrolan pagi ini sambil sarapan bersama.

“Iya Mah, ini kan Bisma juga lagi mempersiap pertunangan sesuai kesepakatan keluarga kemaren,” jawabku sambil mengoleskan selai ke roti dihadapanku. Aku dan Maya sepakat untuk tetap merahasiakan hubungan kami sejak dua tahun lalu.

“Tapi kok Mama lebih suka untuk langsung menikah ya. Gak usah pakai tunangan-tunangan segala. Menurut Papa gimana Pah?,” Mama meminta pendapat Papa.

“Menikah pasti tapi tetap harus sesuai prosedur Papa,” Aku menghentikan suapanku, mendengar kata prosedur membuat Aku sedikit cemas, merasa ada sesuatu yang Papa rencanakan.

“Apa lagi ini,” bathinku.

“Papa mau sebelum kalian benar-benar mau menikah, kalian tes kesuburan terlebih dahulu,” Aku mendelik, jiwa memberontakku mulai bangkit mendengar titah Papa yang tidak bisa diterima oleh akalku.

“Maksud Papa apa?,” tanyaku dengan suara bergetar, namun pria didepanku masih bersikap tenang.

“Papa mau mastiin kalian benar-benar subur. Anak Papa cuma kamu, jadi Papa mau penerus dalam keluarga kita Bisma,” mulai terdengar ketegasan di ucapan Papa.

“Tapi bagaimana kalau keluarga Maya nanti tersinggung Pah?,” Aku mencoba menghentikan niat Papa.

“Papa yakin gak, toh mereka juga keluarga terpandang. Mereka pasti juga berpikiran sama dengan Papa,” dengan santai Papa tetap menyuap sarapannya.

“Bagaimana kalau salah satu dari kami bermasalah,” tanyaku was-was.

“Pernikahan batal,” jawab Papa dengan santai.

“Apa? Kok Papa enteng gitu sih? Kemaren Papa yang ngotot dengan perjodohan ini, sekarang saat aku nyaman Papa mau batalin gitu aja,” jawabku merasa lelah menghadapi Papa. Mendengar pertanyaanku Papa melempar sendok ditangannya hingga terdengan dentingan keras ketika beradu dengan piring.

“Bisma masalah ini penting buat Papa, jadi kamu harus nurut apa kata Papa. Papa gak mau garis keturunan kita terputus,” Papa makin emosi.

“Apa Papa gak mikirin perasaan Aku dan Maya. Bagaimana kalo aku yang bermasalah pah? Apa Papa gak akan malu?,” tantangku. Aku sangat mencintai Maya, mengingat semua aturan-aturan Papa membuatku takut.

“Bisma, kamu jangan merendahkan keluarga. Belum ada sejarahnya keluarga kita punya masalah seperti itu,” Papa terlihat tersinggung dengan kata-kataku.

“Sudah-sudah. Bisma kamu ajak aja Maya nanti ke dokter. Turuti aja apa mau Papamu,” mama menengahi perdebatan antara aku dan Papa.

“Apa-apaan ini mas? Aturan macam apa ini?,” seperti dugaanku Maya merasa terhina dengan aturan yang dibuat Papa. Siang itu aku janjian dengannya disebuah kafe.

“May, mas mohon kita ikuti aja aturan Papa. Lagian ini hanya chek biasa kok,” kataku menenangkan Maya.

“Tapi mas….,” jawab Maya ragu. Dengan susah payah aku berusaha membujuk Maya,sampai akhirnya maya bersedia. Setelah diberi tahu suster hasilnya dapat diambil besok Aku dan Maya pun pulang.

Hasil dari dokter sudah ada ditanganku. Papa meminta untuk membuka hasil nya dirumah. Ada keraguan dalam hatiku untuk membawa amplop putih disampingku pada Papa. Iya kalo hasilnya baik, kalau salah satu dari kami bermasalah tak peduli Aku atau Maya, pasti rencana pernikahanku akan kacau bahkan terancam batal.

"Ren...Redraaa," Ku dengar suara berteriak memanggil nama Papa saat aku menyodorkan amplop kehadapan Papa yang menungguku di ruang tamu.

Braak...pintu dibuka dengan kasar.

Disana berdiri Om Danu, Papanya Maya, tak jauh dibelakangnya berdiri maya dengan wajah putus asa. Ada kecemasan dihatiku melihat rona diwajahnya. Ku tebak pasti Maya memberi tahu masalah ini pada orang tuanya. Seperti ketakukanku kemaren, Papa Maya tampak tersinggung dengan keputusan Papa ini saat melihat wajah Om Danu merah padam.

"Dan, ada apa denganmu? datang pake teriak-teriak gitu," Papa hanya tercenung melihat kehadiran Om Danu yang tiba-tiba.

“Kamu yang apa-apaan Ren? Apa maksudmu dengan tes itu tanpa merundingkan dulu denganku. Apa kamu pikir keluarga kami sakit? ," kata Om Danu dengan mata menyala.

“Tenang Dan, kita bisa omongin ini baik-baik,”

"Gak perduli apapun isi amplop itu, sekarang aku yang putuskan pernikahan ini BATAL," mataku melotot mendengar kata-kata Om Danu yang menunjuk amplop yang sudah ada di tangan Papa.

“Dan kamu tenang dulu, lagian apa salahnya aku suruh mereka melakukan tes ini. Kalau keluragamu gak ada masalah harusnya ini bukan masalah kan?,” Papa masih berusaha mengambil hati Om Danu.

"Emmmfuhhhsss…..," Om Danu menarik nafas dan menghembuskannya untuk menenangkan sesak disadanya. “Secara gak langsung kamu menghina keluargaku Ren," Suaranya mulai terdengar tenang.

“Oke oke aku minta maaf, tapi apa kamu gak mau buka ini," Papa mengangkat amplop yang masih di tangannya.

"Oke, buka sekarang," titahnya.

Tik ...tik..tik...serasa detik jam berbunyi keras saat ini karena semua diam terpaku menunggu komentar Papa yang sudah melebarkan kertas berlipat dari amplop.

Reaksi Papa membuat kami makin penasaran. Tak ada jawaban ataupun komentar dari Papa. Dengan tarikan kasar Om Danu merebut kertas dari tangan Papa yang diam mematung

"Hahaha...lihat Ren. Kau hinakan keluargaku tapi justru aib itu berasal dari keluargamu. PTak usah kompromi pernikahan batal, aku juga tidak mau garis keturunanku putus. Jadi sekarang lebih baik kau obati anakmu… hahaha…. ayo Maya ," Om Danu berbalik dan menarik tangan Maya. Tawa hinaan Om Danu sama sekali tidak mampu membuat Papa bergeming. Sungguh ini bukan Papaku.

“Tapi Pah...," Maya berusaha bertahan dan balik menatapku memohon.

Aku bingung harus bagaimana, langit seakan runtuh dalam detik yang bersamaan, dua pedang serasa menusuk jantungku. Dengan membaca situasi ini pun aku tau masalah itu ada padaku. Kalau tidak tidak mungkin Om Danu semarah ini.

"Om..tolong jangan batalkan pernikahan kami...Aku mencintai Maya Om," aku berlari mengejar Maya dan berusaha menghentikan langkah Papanya.

"Cukup Bisma, lupakan Maya. Sampai kapanpun Saya pastikan tidak akan ada pernikahan antara kalian,” Om Danu melajukan mobilnya meninggal halaman rumahku.

“Papa lihatkan, ide Papa merusak semuanya. Pernikahan yang sudah aku impikan sejak tahun lalu hancur,” aku hakimi Papa yang masih mematung ditempatnya.

“Apa maksudmu?,” Tanya Papa tidak mengerti.

“Ya Aku dan Maya sudah menjalin hubungan selama dua tahun Pah, dan sekarang Papa menghancurkan segalanya. Aku benci sama Papa, aku muak dengan segala aturan-aturan Papa,” aku tumpahkan semua kekesalanku padanya.

Kutinggalkan Papa menuju kamarku, kuambil koper yang aku bawa dari inggris bulan lalu. Kubuka, disana masih rapi tersimpan dalam balutan kain botol putih bening yang ngotot disuruh bawa Sammy temanku. Vodka. Tanpa pikir panjang kuteguk minuman yang berusaha aku hindari selama ini.

Lima tegukan membuatku sedikit tenang. Dengan pikiran kosong aku beranjak dengan botol masih dalam genggamanku. Kulajukan mobilku sekencang mungkin, ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin. Pergi dari masalah yang sungguh menguras emosiku.

Kepala yang mulai kliyengan, membuatku menekan pedal rem sekuat-sekuat saat aku tidak melihat seorang perempuan menyebrang jalan.

“Sial…,” teriakku memukul stir sekuat tenaga mengekspresikan kekesalanku yang memuncak saat ini. Segera ku turun dan mendekati perempuan yang tergeletak didepan bamper mobilku.

Kulihat wanita bergamis pink dengan hijab abu-abu tergeletak tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang kuangkat tubuh itu dan mendudukkannya disamping bangku kemudi. Kulajukan lagi mobilku memasuki tol. Melihat perempuan disampingku masih belum sadar membuatku frustasi. Kembali kuteguk botol yang sedari tadi aku bawa, setengah bahkan nyaris kosong.

Sesaat kemudian aku merasa kepalaku berat. Kembaliku lirik perempuan berhijab itu, cantik. Aku terpana, kepalaku kembali oleng. Kurasakan ada sesuatu yang menjalar keseluruh tubuhku, dan diujung otakku terdengar suara berbisik menuntunku untuk meraba pahanya. Sosok itu masih diam tanpa perlawanan.

Kuhentikan mobilku didepan sebuah rumah dengan model lama. Rumah ini kubeli dari seorang temanku. Tidak seorang pun yang megetahui keberadaan rumah ini, bahkan tidak masuk daftar dari asset kekayaan SBC group.

Kembali kuraba paha dibalik gamis pink, Nikmat, itu yang kurasakan dibalik pusingnya kepalaku. Perlahan kusingkap ujung gamis namun saat ujung sampai lutut sebuah tamparan mengenai wajahku. Mendapat reaksi diluar kemauanku, nafsu setan sontak menguasai diriku.

Kutarik tangannya dengan kasar keluar dari mobil. Suasana perkampungan yang gelap ditambah hujan yang deras membuatku leluasa dan lebih berani menuntaskan bisikan setan dikepalaku. Kulempar tubuh kecilnya ke sofa ruang tamu. Melihatnya yang meringkuk ketakukan membuat rasa bangga tersendiri dihatiku. Setiap raungan dan teriakanya aku abaikan.

Kerebut hijab abu-abu itu dan kulempar sembarangan. Tidak butuh waktu lama buatku membuatnya polos. Pemandangan yang asing bagiku tapi sungguh mendatangkan gairah yang luar biasa. Kutindih tubuh kecil itu, tangisan yang memohon ampun terdengar sangat indah di telingaku.

Mencapai puncak kenikmatan dunia membuatku seketika lelah, kuhempaskan tubuhku disampingnya. Sayup-sayup masih terdengar tangisan dan rintihan darinya di ujung ruangan, sampai akhirnya aku terlelap tanpa tahu masalah baru sudah menungguku kala bangun nanti.

Bersambung….☘️☘️☘️

Part 3
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi
POV Ribby

Aku Ribby, Ribby Wulandari. Seorang gadis yang terlahir dari orang tua berbeda suku, adat dan budaya. Ibuku seorang yatim piatu,keluarga tak ada harta pun tak punya. Karena ibuku dari kecil sudah tinggal dan dibesarkan di panti asuhan.

Beranjak remaja tak seorang pun yang mau mengadopsi ibu, makanya, ibu tetap tinggal disana membatu ibu panti mengurus adik-adik panti. Ayah yang merantau ke Jakarta waktu itu ditakdirkan untuk bertemu dengan Ibu sampai menjalin kasih. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Ayah memboyong Ibu ke kampung halamannya untuk melangsungkan ijab kabul ditengah-tengah keluarganya Ayah.

Ibuku yang yatim piatu, asal usul tidak jelas membuat ibuku kurang diterima dikeluarga ayah. Hanya Nenekku yang masih mempercayai cinta suci mereka dan bersikap bijaksana. Dengan keberadaan Neneklah, Ayah dan Ibu bisa bertahan sampai Aku lahir hingga masa kanak-kanak.

Perlahan kehidupan kami jadi sedikit berat ketika Nenek dipanggil Sang Pencipta. Dengan segala cemooh dan sindiran kami terima dari Kakak Abang maupun Adek dari Ayah. Aku yang duduk dibangku kelas 5 SD mulai mengerti dengan kesusahan orang tuaku.

Orang tua hebat itulah yang Aku sematkan pada mereka. Bagaimanapun beban hidup dan cobaan mereka tetap sabar dan ikhlas. Tidak pernah mengeluh, bibir yang selalu tersenyum membuatku terharu.

Berat hidup kami rasakan, karena pembelaan dan kasih sayang dari Nenek sudah tidak ada lagi. Beberapa tahun berselang Ayahpun menyusul beliau, Aku kelas 3 Tsanawiyah kala itu. Sosok yang hangat saat memberikan nasehat dan petuah-petuah pada Aku dan Ibu kinipun telah pergi.

Ibu yang hanya menjadi buruh tani disawah warga berusaha sekuat tenaga agar Aku menyelesaikan sekolah hingga Madrasah Aliyah.

“Hanya itu yang bisa ibu wariskan padamu Nak, kelak dengan ilmu yang kamu tuntut dapat mengubah hidupmu." Begitu kata ibu saat Aku memutuskan tidak lanjut Madrasah Aliyah setelah ayah meninggal.

Hinaan dan ancaman dari 5 saudara Ayah pun tidak berhenti menghantui kami. Rumah yang kami tempati, dibangun diatas tanah pusaka keluarga nenek membuat mereka merasa berhak penuh atas tanah dan rumah itu. Ibu yang memang cuma pendatang mereka cecar sejadi-jadinya. Tapi ibu tidak bisa berbuat banyak, tidak ada tempat mengadu tidak ada tenpat untuk pergi.

Bertahan dan tulikan telinga hanya itu yang bisa kami lakukan. Memang sejauh ini memang mereka hanya menghina dengan mulut tidak main tangan atau berbuat yang lebih menakutkan. Tapi itu semua cukup memberi tekanan bathin untukku dan ibu setiap hari.

Setelah lulus Aliyah Aku yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Kasihan ibu harus banting tulang sendirian. Terlebih lagi universitas yang ada di ibukota provinsi membuatku tak tega membiarkan ibu tinggal dirumah sendiri.

Aku melamar jadi karyawan tata usaha disekolahku dulu. Melihat potensi yang Aku miliki dengan mudah Aku diterima tanpa tes. Sorenya Aku pun mengajar di MDA. Kusibukkan diriku, kuhiraukan omongan Paman dan Bibiku. Kutata kembali hidup berdua dengan Ibuku. Perlahan kami mulai bisa tersenyum setelah kepergian ayah.

Baru kemaren rasanya hidupku dipenuhi warna dan semangat menjalani hidup. Kini cobaan lain kembali mengujiku. Wanita bersahaja yang sangat Aku cintai menyusul ayah.

“Ya Tuhan mengapa bertubi-tubi ujian yang Engkau berikan," tangisku mengenang semua orang yang Aku sayangi satu per satu pergi meninggalkanku. Ku meringkuk ditempat tidur ibu berharap rasa rinduku sedikit berkurang.

"Ribby, dimana kamu?," kudengar suara Makwo Linda kakak Ayah paling tua dua hari setelah ibu dimakamkan.

"Ya Makwo," jawabku keluar dari kamar Ibu. Kulihat Makwo Linda dan Pakwo Rusdi sudah duduk di ruang tamu kecil rumahku. Memang pintu sengaja Aku buka karena sesekali masih saja ada warga yang melayat.

"Eeh gadis gak tahu diri, apa kamu masih gak punya malu tinggal dirumah ini?," tanpa basa-basi Makwo Linda langsung merongrongku dengan perkataan yang menyakitkan.

"Makwo Aku gak punya siapa-siapa lagi, hanya Pakwo dan Makwo selaku keluarga Ayah sekarang yang Aku punya. Apa gak ada sedikit kemurahan hati Pakwo dan Makwo membiarkanku tinggal disini?," Aku menghiba berharap hati saudara ayahku itu melunak.

Diluar dugaan Makwo Linda mencak-mencak. Aku hanya diam untuk kesekian kali kutulikan Telingaku. Masa bodoh apa yang Dia katakan padaku. Dalam tangis ku putuskan besok akan meninggal kampung ini.

Turun dari bus Aku melangkah tanpa arah. Kawasan yang baru membuatku bingung harus kemana terlebih dahulu. Berbekal sebuah alamat panti asuhan membuat niatku semakin kuat meninggalkan kampung Ayah. Tanpa pamit Aku pergi. Setiap detik Aku berdoa semoga di panti asuhan dulu, masih ada yang mengenal ibuku. Syukur-syukur kalo nanti ada mau membantuku.

Barang bawaan yang tidak beharga membuatku tak takut berjalan sendiri. Sebisa mungkin tempat sepi kuhindari. Terlebih sore sudah akan memeluk senja. Keramaian sungguh membuatku sangat tenang.

Sejenak Aku terdiam. Meski bukan panti asuhan yang Aku cari, tapi sebuah bangunan panti berdiri kokoh diseberang Aku berdiri. Aku berniat bertanya pada orang disana. Siapa tahu mereka tahu, jadi Aku tahu arah mana yang harus Aku telusuri.

Ku langkahkan kaki ingin menyeberang. Namun naas bagiku, sebuah mobil tiba-tiba sudah begitu dekat denganku.

BBRUUUK... gelap seketika Aku rasakan.

Saat Aku mulai sadar, terasa sesuatu meraba kakiku. Sadar tangan itu perlahan menyibak ujung gamisku langsung tanganku menampar dan mendorong tubuh seorang laki-laki asing disampingku.

Tatapannya yang garang membuatku Takut setengah mati.

"Ya Tuhan cobaan apa lagi ini? Tolong Aku ya Tuhan," kataku dalam hati. Air mata memohon bercampur takut tak mengurangi kemarahannya. Dengan mudah dia menyeret bahkan melempar tubuhku yang sudah kuyup karena hujan.

Aku meraung sejadi-jadinya, saat laki - laki itu merampas dengan kasar hal yang paling berhargaku. Sungguh Aku berharap ini hanya mimpi, tapi saat laki-laki jahanam itu terlelap kulihat bercak merah diseprai putih membuat sesak didadakku makin membuncah.

"Ya Tuhan mengapa begitu berat cobaanmu," renungku disudut ruangan dengan hanya berbalut selimut.

Suara adzan membangunkanku, segera Aku bangkit bergegas mengadu dan memohon ampun pada yang Maha Kuasa. Ingin rasanya Aku buka pintu dan lari dari rumah ini. Tapi apa itu yang terbaik, diluar sana tak seorang pun yang Aku punya. Kuputuskan untuk tenang dulu disini.

Perasaan sedikit tenang setelah Aku menyelesaikan sholat dan dzikirku. Dengan nanar kutatap lelaki yang masih terlelap dengan betelanjang dada saat melewati ruang tamu.

Kuatatap suasana luar rumah yang tenang mirip kampung halaman ayah. Lama Aku perpikir, terdiam disamping jendela.

"Ya Allah apakah Aku terlalu naif apabila bangun nanti Aku memintanya untuk menikahiku?. Apa Aku akan jadi wanita rendahan kalau meminta itu padanya?," Aku membathin saat membayangkan Aku akan memiliki keluarga baru saat dia bersedia menikahiku.

POV Author

Bisma masih bersimpuh ditempat semula, meskipun sudah berulang kali Ribby menyuruhnya bangun namun Bisma tak bergeming. Dalam hati Bisma berkata kalau dia akan berusaha mengambil hati Ribby bagaimana pun caranya, karena banyak yang harus dipertaruhkan kalau sampai kejadian ini diketahui orang banyak. Orang tua,perusahaan dan wanita yang dicintainya saat ini. Nama baik mereka akan tercoreng dan citra perusahaan pun akan rusak. Bisma tidak ingin itu semua sampai terjadi karena peristiwa memalukan ini.

“Berdirilah Pak, sudah cukup pura-pura menyesal dihadapanku. ada apa sebenarnya? Ini sungguh berbeda dengan apa yang aku alami tadi malam,” enggan rasanya Ribby untuk menyapanya ramah, namun terdengar sedikit bisikan dari dasar hatinya untuk mencoba membuka pintu maaf .

“Aku benar-benar menyesal. sekali lagi mohon ampuni aku. Aku khilaf. Aku dibawah pengaruh alkohol tadi malam. Sungguh tadi malam itu bukan diriku,” suara Bisma terdengar bergetar. Ribby hanya diam, tak ada tanggapan sedikit pun.

“Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku padamu. Katakan..! Apapun akan aku lakukan asal kau mau mengampuni kesalahanku,” Bisma memohon kembali dengan tulus. Ribby masih terdiam mendengar suara Bisma yang benar-benar menyesali perbuatannya..

“Nikahin aku,” jawab Ribby membuat kepala Bisma mendongak menatap netra Ribby yang tajam seolah menembus jantungnya.

“Apa? Menikah?,” Bisma tampak ragu.

“Kenapa? Bapak tidak mau? Tadi Bapak bilang mau melakukan apa saja,”tantang Ribby menatap Bisma, namun tidak dipungkiri ada sedikit ketakutan dalam hatinya. Mengingat betapa ganasnya laki-laki ini tadi malam.

“Ya tapi kalau menikah…,” Bisma menghela nafas berat. “Ada wanita yang juga ingin aku nikani dan aku sangat mencintainya,” jelas Bisma masih menatap mata cantik Ribby, berusaha mencari keciutan nyali Ribby untuk mengurungkan niatnya.

“Aku tidak peduli, meskipun itu hanya nikah siri. Hanya itu yang aku minta, karena hanya dengan itu aku merasa lebih baik untuk memperbaiki ibadahku pada Maha Pengambun. Setelah ini Bapak mau menikah dengan siapa pun, terserah,” Ribby mengumpulkan semua keberaniannya mengambil keputusan ini. Helaan nafas membuat dirinya sedikit tenang setelah beberapa saat menahan gemuruh didadanya.

“Baiklah aku akan menikahimu sesuai permintaanmu. Tapi aku minta jangan pernah meminta lebih dariku,” dengan terpaksa Bisma menyetujui permintaan Ribby, saat dia tak menemukan celah untuk lari dari sorot tajam mata Ribby.

Bersambung…🌸🌸🌸

Part 4
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi

Dengan ragu akhirnya Bisma berdiri. Netra mereka bertemu namun keduanya masih diam sampai akhirnya suara Mbok Irah menyadarkan Bisma juga Ribby.

“Mas Bisma? Kapan nyampe Mas? Maaf semalam Mbok terjebak hujan di Masjid, jadi Mbok nginap dirumah Nyai Haji,” terdengar suara seorang perempuan Baya berumur sekitar 60 tahun berdiri dibalik pintu yang sudah terbuka.

“Iya Mbok Gak pa-pa,” jawab Bisma tersenyum ramah, sampai Ribby pun dibuat takjub melihat keramahannya.

“Ini siapa Mas?,” Tanya Mbok Irah melihat kearah Ribby.

“Rahasia ya Mbok, ini calon Istri aku,” jawab Bisma dengan gaya lucu seolah menggoda. Ribby hanya memperhatikan dalam diam dengan kerut kening sampai tujuh.

“Serius Mas? Cantiknya… Saya Mbok Irah Neng, yang ditugasin Mas Bisma jagain rumah ini,” Mbok Irah menyapa Ribby dengan senyuman hangat, membuat Ribby ikut tersenyum melihatnya.

“Saya Ribby buk,” Jawab Ribby sembari meraih tangan Mbok irah dan menciumnya.

“Panggil Mbok saja,” balas Mbok irah mengelus kepala Ribby, sungguh mebuat Ribby nyaman.

“Kalo aku Bisma,”Bisma memotong obrolan mereka karena sadar mereka juga belum berkenalan sama sekali.

Namun dua wanita dihadapannya tampak bingung, terlebih Mbok Irah. Melihat sosok-sosok dihadapannya menatap dengan sorot tanda Tanya, Bisma kembali menarik tangannya dan berlalu berniat kekamar mandi membersihkan diri.

“Katanya calon istri, tapi kok kenalan lagi?,” bathin Mbok Irah melihat tingkah tuannya. Sekali pun begitu Mbok Irah pun tidak ambil pusing. Kehidupan orang kaya dan terpandang seperti Mas Bisma bagi Mbok Irah bukan jangkauan untuk dia ikut campur. Mbok Irah orang kecil hanya bisa patuh dan nurut apa kata tuannya.

Selesai berpakaian rapi Bisma menemui Mbok Irah didapur. Sesekali bisma melihat sekitar mencari-cari sosok perempuan yang mendadak hadir dalam hidupnya. ”Ribby,” Bisma membisikkan nama perempuan yang dia dengar saat berkenalan dengan si Mbok.

“Ribby mana Mbok?,”

“Tadi Mbok tinggalin di teras Mas,” Mbok Irah masih terus mengaduk tes manis untuk Bisma.

“Mbok ada yang mau aku omongin nih Mbok,”

“Ya ngomong aja Mas, mbok dengerin. Ini tehnya Mas,” Jawab Mbok Irah tersenyum sambil menyajikan teh manis hangat di hadapan Bisma.

“Astaghfirullah,” Mbok Irah kaget setengah mati saat Bisma tiba-tiba menarik tangan si Mbok. Lewat pintu belakang Bisma membawa Si Mbok kebawah pohon seri atau yang dikenal juga dengan pohon kersen yang berada dibelakang rumah. Meskipun kecil halaman itu tampak bersih dan terawat. Ternyata Mbok Irah benar-benar merawat rumah yang diamanatkan Bisma padanya.

“Kok mesti disini ngomongnya Mas?,” Mbok Irah mulai tampak bingung melihat Bisma yang jongkok di tanah sambil menjambak dan mengacak-acak rambutnya.

“Ada apa toh Mas? Si Mbok jadi bingung nih, Mas Bisma kenapa?” kening si Mbok berkerut melihat kelakuan tuannya. Ternyata Bisma tidak setegar kelihatannya saat tadi didepan Ribby. Buktinya saat ini Bisma terlihat kacau, bingung bagaimana cara dia untuk menikahi Ribby.

“Mbok aku berdosa Mbok, aku sudah berbuat dosa pada Ribby Mbok,”

“Astaghfirullah,” Mbok Irah kaget “Apa maksud Mas, Mas sudah melakukan…..,” Mbok Irah tidak melanjutkan kata-katanya, namun langsung dijawab dengan anggukan cepat oleh Bisma seolah Mbok Irah membaca pikirannya.

“Aku khilaf Mbok, aku mabuk semalam. Aku harus gimana sekarang Mbok?,” 180 derajat perbedaaan Bisma yang garang dengan sekarang merengek seperti anak kecil.

“Bertobat Mas, mohon ampun padaNya,” dengan bijaksana Mbok Irah mengarahkan Bisma sambil mengusap kepala dan punggung Bisma yang masih saja berjongkok.

“ Iya Mbok, tapi masalahnya sekarang Ribby mau aku menikahinya Mbok,”

“Bagus itu Mas, Mas harus bertanggung jawab atas perbuatan yang Mas lakukan. Mbok yakin orang tua Mas juga akan mengajarkan demikian,” dengan lembut Mbok Irah kembali menasehati Bisma.

“Tapi aku mencintai wanita lain Mbok, Aku ingin menikah dengannya Mbok,” Bisma masih saja merengek.

“Trus Ribby gimana Mas?,” Mbok Irah takut Bisma lari dari masalah yang dia ciptakan sendiri.

“Maka dari itu, sekarang aku mau minta tolong sama Mbok,”

“Apa yang bisa Mbok bantu Mas?,” Mbok Irah pun tidak tega melihat Bisma namun juga kasihan dengan nasib Ribby.

“Aku akan menikahi Ribby, tapi jangan sampai orang lain tahu ya Mbok. Rahasiakan pernikahan ini Mbok,”

“Tapi kenapa Mas?,” Mbok Irah bingung dengan jalan pikiran Bisma.

“Aku mohon Mbok, setelah menikah aku titip Ribby sama Mbok ya. Jaga dia untukku. Cuma dengan ini aku bisa menebus kesalahanku sekarang Mbok,” Bisma menggenggam tangan Mbok Irah agar bersedia mengikuti rencananya. Kalau tidak mengingat betapa baiknya Bisma pada Si Mbok, Mbok Irah enggan rasanya ikut campur. Tapi mau gimana lagi, sulit rasanya menolak permintaan tuan kesayangannya.

Bisma juga meminta bantuan Mbok Irah untuk menjelaskan kepada Pak Haji selaku pengurus masjid agar bersedia menikahkan Ribby dengannya. Mereka yang saling mencintai dan tidak mendapat restu orang tua menjadi alasan utama mereka. Agar terhindar dari fitnah pun tak luput dari skenario. Menjaga reputasi keluarga Bisma pun menjadi alasan yang mereka pilih mengapa pernikahan ini harus dirahasiakan.

Dengan legowo Pak Haji pun menyanggupi untuk menikahkan dua insan manusia yang katanya saling mencintai. Dalam satu tarikan nafas, Bisma mengucapkan lafaz ijab qabul untuk menghalalkan Ribby menjadi istrinya.

Pak Kiyai yang sangat paham agama, tau kalau nikah siri sangat-sangat merugikan pihak wanita akhirnya membekali Ribby dengan selembar kertas pernyataan kalau hari ini telah terjadi pernikahan antara Ribby dan Bisma. Meskipun tidak berkekuatan hukum layaknya buku nikah, Pak Kiyai berharap ini akan membantu dikemudian hari. Setelah sedikit basa-basi Bisma dan Ribby undur diri dan mengucapkan terima kasih kepada pak Kiyai.

“Mas Bisma dan Neng Ribby duluan aja ya, Mbok mau ke kedai sana dulu. Ada beberapa bahan makanan yang mau Mbok Beli,”sepertinya Mbok Irah mengerti, mungkin lebih baik Mbok menghindar dulu, mungkin mereka butuh waktu berdua dan bicara.

“Aku bantu ya Mbok,” Ribby manawarkan diri namun ditolak dengan halus oleh Mbok Irah.

Jadilah Ribby dan Bisma pulang berdua dengan mobil sementara Mbok Irah mereka tinggal. Di dalam mobil suasana tampak canggung.

“Terimakasih ya Pak, sudah mau menikahi Saya,” kata Ribby memecah kebisuan dan mencairkan suasana.

“Dimata agama aku sudah sah jadi suamimu, jadi jangan panggil Pak panggil Mas aja,” jawab Bisma lembut. Mau bagaimana pun wanita disamping ini adalah istrinya. Dan ini terjadi karena kelalaiannya. Sulit memang untuk menerima kenyataan. Tapi….Huuft Bisma menarik nafas berat.

“I-iya, terimakasih Mas,” ulang Ribby tergugu.

“Aku harap, Kamu masih ingat janjimu kan? Pernikahan yang kamu mau sudah aku penuhi, tapi setelah ini jangan berpikir aku akan membawamu kemana aku pergi,” kata Bisma cepat, khawatir kalau Ribby menuntut membawanya serta kerumah orang tuanya.

“Tenang aja Mas, aku masih ingat janjiku. Jujur, Aku baru sampai di Jakarta kemaren. Jadi aku gak tahu harus kemana. Sekarang cuma Mas satu-satunya keluargaku. Tapi biarlah, nanti akan aku pikirkan lagi aku harus kemana,” Dari perkataannya tersirat kesedihan dan kebingungan.

“Kamu bisa tinggal bersama Mbok Irah disini, segala kebutuhanmu tidak usah kamu pikirkan. Mbok irah akan mengaturnya,” Bisma memberi solusi dari masalah Ribby, setidaknya Bisma melakukan kewajibannya dan Ribby pun mendapatkan haknya.

“Terimakasih Mas,” jawab Ribby pasrah karena memang mungkin ini jalan terbaik buat dirinya dari pada luntang-lantung dijalanan. Sejenak menelisik rasa syukur dalam hati Ribby mengingat masih ada kebaikan hati Bisma pada dirinya.

“Sudahlah, aku yang seharunya berterimakasih padamu. Sekarang aku harus balik lagi ke Jakarta, banyak pekerjaan dan urusan yang harus aku selesaikan. Ini uang satu juta, mahar pernikahan yang tadi aku janjikan. Selanjutnya untuk kebutuhanmu tiap bulan akan aku kirim lewat Mbok Irah. Sekali lagi aku mohon rahasiakan pernikahan ini,” sikap dewasa Bisma membuat Ribby hanya bisa terdiam mendengarkan semua perkataan suaminya itu. Sambil menerima uang yang dibalut surat pernyataan dari Pak Kiyai Ribby mengangguk manut seolah-olah Dia telah sukses berdamai dengan hatinya.

Dengan tatapan nanar Ribby menatap kepergian Bisma yang mulai menghilang diujung jalan. Entah apa yang Ribby rasakan saat ini. Ribby bingung apa dia harus bahagia atau berkabung mengingat kejadian kelabu yang dialaminya.

“Kok masih berdiri disini Neng?, Ayo masuk,” suara Mbok Irah menyadarkan Ribby dari lamunannya. Melihat sosok tua yang akan menemaninya mulai sekarang membuat Ribby bahagia. Bagaimana tidak orang asing yang tidak pernah dia kenal mampu menerima dan bersikap baik padanya. Berbeda dengan Paman dan Bibinya, yang jelas-jelas keluarga kandung dari Ayahnya sedikitpun tidak menaruh belas kasihan padanya.

“Sini Mbok aku bantu,” Ribby tersenyum menyambut kedatangan Si Mbok dengan tentengan dua kantong berukuran sedang. Dalam senyumnya Ribby berdoa semoga mulai hari ini hidupnya akan lebih tentram meskipun peristiwa pahit yang dia alami masih membekas jelas dalam ingatanya.

* * * * *

Sesampai di Jakarta, Bisma langsung menuju rumah sakit. Bisma berniat kembali menemui dokter kemaren yang memeriksanya. Dia ingin minta penjelasan lebih mengenai hasil pemeriksaan yang sungguh menyesakkan.

“Selamat siang Dok,” Bisma menyapa saat pintu terbuka. Disana duduk Dokter yang sangat dia kenal, Dr. Harry adalah dokter kepercayaan keluarga Bisma.

“Ooh Bisma, ada yang bisa saya bantu?,” sapa Dr.Harry dari balik mejanya.

“Begini Dok, Saya mau menanyakan tentang hasil pemeriksaan kemaren Dok, apa itu hasil yang benar? Apa tidak kekeliruan atau ada kemungkinan tertukar?,” Tanya Bisma berharap hasil itu keliru.

“Saya minta maaf Bisma, jujur sebelum kamu melakukan tes itu. Pak Rendra juga sudah menghubungi Saya. Jadi saat hasilnya keluar, Saya juga kaget. Karena takut terjadi kesalahan Saya pun sudah melakukan beberapa kali tes ulang tapi hasilnya tetap sama Bisma,” jelas Dr.Harry membuat harapan Bisma pun pupus.

“Terus apa ada pengobatan yang bisa jalani Dok, agar saya punya kesempatan?,” Tanya Bisma lemah.

“Sulit mungkin Bisma,” jawab Dr. Harry mebuat Bisma makin putus asa.

“Kenapa dok?,” Bisma berpikir apa keadaannya separah itu?

“Begini, jumlah sperma laki-laki normal itu berkisar 20 juta sampai 200 juta permililiter dan jumlah yang abnormal kurang dari 20 juta, mungkin hasil yang ini bisa dilakukan serangkaian pengobatan seperti yang kamu mau. Tapi hasil punyamu sungguh jauh dibawah jumlah abnormal Bisma, Saya Minta maaf harus menyampaikan ini pada kamu,” sebisa mungkin Dr. Harry memilih kata-kata yang mudah dipahami cepat oleh Bisma yang sudah terlihat sangat terpukul.

“Jadi Saya sudah tidak punya kesempatan sama sekali berarti ya Dok?,” Tanya Bisma lirih.

“1 : 100000, tapi kita tidak tahu kuasa Tuhan Bisma. Jadi kamu jangan patah semangat begitu,” Dr. Harry berusaha menghibur namun sepertinya sulit, sesulit menerima hasil pemeriksaan Dokter.

“Ya sudah Dok, Saya permisi dulu,” Bisma menjabat tangan Dr. Harry dan segera meninggalkan ruangan serba putih itu.

Di mobil Bisma menangis dalam diam sambil membenamkan kepalanya diatas stir mobil. Dalam tangis Bisma berbisik apa kesalahannya sampai menerima ujian seperti ini. Bahkan segala yang dia punyapun tidak bisa memperbaikinya. Sejenak Bisma mulai menguasai emosinya dan teringat akan sosok Maya. Perempuan yang selalu menyemangatinya kala menghadapi berbagai masalah.

Bisma meraba saku dan mencari disekitar kabin mobil, berharap benda pipih untuk mendengar suara wanitanya itu ditemukan. Namun Bisma ingat kalau kemaren dia pergi tanpa membawanya. Tanpa pikir panjang Bisma melajukan mobilnya menuju rumah Maya, ada rasa Rindu dihatinya.

Sampai digerbang rumah Maya, Bisma turun dan melihat tukang kebun Maya lagi menyiram semua tanaman yang ada di halaman. Dipojok Rumah, di bangunan kecil semi pendopo terlihat wanita cantik menunduk yang lagi membaca sebuah majalah. Bisma menatapnya dari balik pagar, melihatnya begitu rasa rindu yang dia rasakan sedikit berkurang.

“Mang, bisa panggilin Maya? Saya mau bertemu dengannya,” ujar Bisma setelah Mang karmin yang berdiri tak jauh darinya menyadari kehadiran Bisma. Untuk masuk ada sedikit kekhawatiran dihati Bisma mengingat betapa marahnya Om Danu kemaren.

Setelah Mang Karmin memberi tahu Maya, perlahan wanita itu bnagkin dan mendekati Bisma yang masih menunggu dibalik teralis besi. Perasaan bahagia langsung terpancar dari wajah Bisma karena wanita yang dia rindukan mau menemuinya.

“Ada apa Mas?,” Tanya Maya dingin begitu berada di hadapan Bisma, sungguh bukan ini yang Bisma harapkan.

“May, Mas mau bicara denganmu. Tapi gak disini, kita keluar yuk,” ajak Bisma memasang senyum semanis mungkin. Tapi melihat gelagat Maya, Bisma yakin ini ide buruk.

“Aku gak bisa Mas, Maaf ya,” jawab Maya tanpa senyum sedikitpun.

“Baiklah kalau begitu, Mas permisi dulu,” Bisma berbalik, ada goresan dihatinya, perih.

“Ada apa dengan Maya? Apa Maya sudah tidak memperdulikanku? Apa cinta, kebersamaan dan komitmet yang kami bangun selama ini tidak berarti lagi baginya?,” Bisma bertanya-tanya sendiri saat melajukan mobil menuju rumahnya.

“Aku sangat mencintaimu Maya, sungguh aku sangat mencintaimu. Apapun halangannya, bagaimanapun caranya aku akan memilikimu,” tekad Bisma dalam hati dengan tatapan yang tajam.

* * * * *

Bisma sampai dirumah sudah gelap. Saat bisma melewati ruang makan untuk menuju kamarnya disana sudah duduk Papa juga Mamanya bersiap makan malam. Tanpa menyapa Bisma berlalu menaiki anak tangga.

“Bisma,” suara Papanya menghentikan langkah Bisma di anak tangga ke tujuh.

“Dari mana saja kamu?, pergi gitu aja, Gak ada kabar. Kamu pikir kami sebagai orang tua tidak khawatir?,” tuan rumah geram melihat anaknya yang menghilang selama hampir tiga hari.

“Oowh, Papa masih mengkhawatirkan aku,” balas bisma membuat Rendra manarik nafas berat. Sadar auranya mulai tidak nyaman Citra, Mamanya Bisma menengahi.

“Sudah, sudah. Ini waktunya makan, ngobrol nanti saja. Ayo bisma kita makan bareng, sayang,” kata Citra lembut dengan keanggunan sosok ibu idaman.

“Bisma gak lapar Ma, Bisma mau istirahat aja ya,” Bisma berlalu, bagaimanapun kesalnya Bisma tapi tidak mengurangi rasa hormatnya pada Nyonya Rendra itu.

“Pah kita kan sudah sepakat akan bicara baik-baik, jadi yang sabar ya menghadapi Bisma,” kata citra menenangkan suaminya.

“Iya aku minta maaf Mah. Tapi sepertinya Bisma marah sekali sama Papa,” jawab Rendra sendu, baru kali ini apa yand dia rencanakan balik menjadi bencana untuknya.

“Kita hadapi sama-sama ya Pah,” jawab citra sambil tersenyum mencoba memperbaiki suasana hati suaminya. Meskipun dalam hati Citra juga merasakan apa yang suaminya rasakan.

Bersambung….☘️☘️☘️
Part 5
#Pernikahan_Rahasia
#Fiksi

*****
“Neng beruntung bisa menikah dengan Mas Bisma, orangnya baik lho Neng,” Mbok Irah mempromosikan Bisma pada Ribby pada suatu malam.

“Mbok dah kenal lama dengan Mas Bisma ya?,” Tanya Ribby setelah tau kalau Si Mbok tak punya hubungan darah dengan Bisma.

“Sudah Non, Jauh sebelum Mas Bisma ke luar negeri, sekitar 4 atau 5 tahunan lah Neng,” jawab Mbok Irah sambil kembali memutar memori awal pertemuannya dengan Bisma.

“Luar negeri Mbok, ngapain Mas Bisma ke luar negeri Mbok?,” Tanya Ribby mulai penasaran dengan kehidupan Bisma.

“Waktu itu Mas Bisma pamit sama Mbok katanya mau sekolah Neng, kalau gak salah dua tahun lalu,” Mbok Irah bercerita sambil membersihkan bahan makanan yang akan dimasukkan kedalam kulkas.

“Hebat ya Mbok, sekolah sampai keluar negeri,” Ribby membandingkan dengan dirinya yang hanya tamat tingkatan SMA.

“Namanya juga orang gedongan Neng, apapun bisa asal ada duit dan niat,” jawab Mbok membuat Ribby kembali tersenyum.

“Trus gimana lagi Mbok ceritanya Mbok ketemu Mas Bisma,” Ribby kembali semangat untuk mengetahui lebih lanjut tentang Bisma.

“Dulu Mbok ketemu Mas Bisma di Jakarta Neng. Waktu itu Mbok orang susah, sebatang kara, anak satu-satunya dan suami Mbok dah meninggal lama. Mbok Tinggal dipinggir rel kereta, sehari-hari mulung, bahkan untuk ngemis pun Mbok gak malu. Ya mau gimana lagi?,” mendengar cerita Mbok Irah, Ribby teringat akan dirinya yang juga seorang diri sejak ditinggal orang tuanya. Ternyata Mbok Irah senasib dengannya.

“Suatu hari Mbok di palak Preman,” Mbok Irah melanjutkan ceritanya. “waktu itulah Mbok ketemu Mas Bisma, Mas Bisma ngebantu Mbok. Malaikat penolong begitulah julukan yang Mbok sematkan untuk Mas Bisma. Orangnya juga ramah murah senyum pula,” Mbok Irah tersenyum malu mengingat bagaimana Bisma dulu menolongnya. Melihat Mbok Irah, Ribby pun ikut tersenyum menggoda Si Mbok.

“Gak nyangka ya Mbok Mas Bisma ternyata baik juga,” Ribby menerawang membayangkan orang seperti Bisma mau peduli kepada orang kecil seperti Mbok Irah.

“Iya Neng, Setelah itu Mas Bisma menyewakan tempat tinggal untuk Mbok. Sederhana Memang untuk ukuran orang kaya seperti Mas Bisma, tapi untuk Mbok itu udah anugerah yang luar biasa Neng,” Si Mbok masih memuji-muji Bisma membuat Ribby makin antusias mendengar cerita Si Mbok.

“Neng tau kan artis yang suka bagi-bagi duit ama orang kecil dijalanan, suka ngasih kejutan buat orang kecil?,” Mbok Irah bertanya dan dijawab anggukan oleh Ribby karena itu memang sempat viral beberapa bulan lalu.

“Nah Mbok ngerasa seperti itulah Mas Bisma buat Mbok Neng, diberi tempat tinggal, uang setiap bulan juga gak pernah Mas Bisma lupa,” wajah bersyukur terlihat jelas dari wajah wanita disamping Ribby, membuat Ribby ikut tersenyum bahagia mendengar cerita Mbok Irah.

“Trus rumah ini Mbok?,” Tanya Ribby lagi.

“Nah…Beberapa bulan kemudian Mas Bisma ngajak Mbok kerumah ini. Katanya dibeli dari temannya. Sejak itu Mbok tinggal disini Neng, menjaga rumah ini untuk Mas Bisma. Mbok sih nurut aja Neng,” Ribby mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Si Mbok.

“Kalau orang tua Mas Bisma Mbok?,” Ribby kembali mengulik semua tentang Bisma. Ingin lebih mengenal sosok pria yang baru menikah dengannya.

“Dari ceritanya Mas Bisma sih Papanya pengusaha, bisnisman gitulah Neng. Mbok juga gak ngerti, yang Mbok paham mah mereka orang kaya, orang terpandang itu aja udah,” Mbok Irah nyengir.

“Karena ini mungkin Mas Bisma ingin merahasiakan pernikahannya denganku?, Menikahi orang kecil sepertiku mungkin akan membuat keluarganya malu,” Ribby membathin.

*****

Seminggu berlalu, selama itu pula Bisma uring-uringan sendiri di kamarnya. Kangen bertemu dengan wanitanya yang tidak kesampaian membuatnya frustasi. Bagaimana tidak, Maya mulai mengacuhkan Bisma. Telepon tidak diangkat, pesan yang dikirim pun sama sekali tidak digubris Maya.

“Maya ada apa denganmu? Apa semua ini karena Papamu?,” Bisma kesal dan melempar gawainya saat telepon masih tidak diangkat Maya. Dengan cepat Bisma berlalu sembari meraih kunci mobilnya. Bisma bermaksud mengunjungi rumah Maya, banyak yang ingin dia bicarakan dengan Maya. Semakin Maya menjauhinya semakin besar hasratnya untuk mengejar Maya.

“Bisma kamu mau kemana sayang,” Bisma berpapasan dengan Citra, Mamanya diruang tengah.

“Bisma mau keluar sebentar Ma,” jawab Bisma sendu.

“Bisma, Mama mohon jangan seperti ini, jangan sia-siakan hidupmu hanya karena masalah ini,” Citra mencoba membantu Bisma bangkit dari keterpurukannya.

“Nanti kita bicarakan ya Ma, Bisma buru-buru,” sebisa mungkin Bisma menghindar.

“Ya sudah, usahakan nanti makan malam dirumah. Kita ngobrol sama-sama ya,” pinta Citra pada anaknya.

“Ntar Bisma usahain Ma, ya udah Bisma pergi dulu,” Bisma berlalu setelah mencium pipi mamanya.

Dengan kecepatan diatas rata-rata, tidak butuh waktu lama bagi Bisma sampai dirumah Maya. Namun pemandangan di depannya membuat Bisma mematung sambil mengernyitkan keningnya. Maya masuk kesebuah mobil yang dibukakan oleh seorang pria, jelas bukan seseorang yang dikenal Bisma.

“Apa karena laki-laki ini kamu mengabaikan semua telponku Maya? Hubungan kita masih belum ada kepastian kamu sudah jalan dengan laki-laki lain? Tega kamu May,” Bisma kembali galau sendiri, tampa babibu lagi segera Bisma melajukan mobilnya mengikuti kemana mobil didepannya pergi. Dengan hati terbakar cemburu membuat Bisma tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.

Saat mobil itu sampai disebuah restoran mewah, Bisma kembali memperhatikan target intaiannya. Seorang laki-laki berparas tampan nan rupawan kembali membukakan pintu mobil untuk Maya. Layak ratu Maya diperlakukannya, senyum yang dulu Maya berikan pada Bisma kini terpampang jelas untuk laki-laki disana.

“Apa ini jawaban dari cinta yang aku coba pertahankan? Secepat itu kamu melupakanku Maya?,” Bisma berbicara pada dirinya sendiri yang terdengar lirih. Dengan putus asa Bisma memutar arah mobilnya, Bisma merasa tempat ini akan membuatnya makin patah hati. Kebahagian dan keberuntungan yang dia rasakan beberapa bulan lalu hilang, musnah. Kekasih yang tak dianggap, begitu yang Bisma rasakan saat ini karena memang belum ada kesepakatan putus dari mereka berdua.

Tok.. tok..tok…

Terdengar pintu kamar Bisma diketuk dari luar, sosok yang hilang semangat itu bangkit membukakan pintu kamarnya. Mama Bisma menyambutnya dengan senyuman berharap suasana hati putra semata wayangnya membaik.

“Kita makan malam sama-sama yuk Nak. Banyak hal yang ingin Mama dan Papa omongin sama kamu,”

“Aduuh Ma, Mama aja deh sama Papa. Bisma gak lapar,”

“Ayolah, kalo gak mama juga akan makan,”

“Tapi Ma…..,”

“Udah, sana cuci mukamu dulu. Mama tungguin,” tidak bisa membantah Mama, dengan terpaksa Bisma menuruti kemauan Mamanya. digandeng Mama, Bisma menuruni anak tangga menuju meja makan yang disana Papanya sudah menunggu. Tanpa menyapa Bisma langsung duduk di kursi sebelah kanan.

Dibantu Citra keluarga itu pun mulai menyantap makan malamnya. Tidak seperti biasa, makan malam kali ini dinikmati keluarga Shairendra dengan diam satu sama lain. Hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sampai pada suapan terakhir barulah sang Papa membuka suara.

“Bisma, Papa tahu kamu marah sama Papa. Papa minta maaf karena sudah jadi penyebab gagalnya pernikahan yang kamu impikan,” aneh memang tuan Rendra yang dikenal keras tiba-tiba berkata demikian namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Bisma.

“Tapi Papa mohon, hentikan mengurung diri gak jelas seperti sekarang. Banyak hal yang bisa kamu lakukan. Perusahaan juga masih menantikan kehadiranmu, atau kalau tidak kembalilah ke Inggris selesaikan kuliahmu yang masih tertunda. Lakukan apapun,asalkan tidak uring-uringan tidak jelas seperti ini,” Rendra menaruh harapan besar pada anaknya untuk kembali bersemangat menjalani hidup.

“Gak ada alasan lagi aku menuruti semua kemauan Papa. Apa yang tidak aku lakukan untuk Papa selama ini, tapi lihat sekarang aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau,” Bisma mulai berani membantah Papanya.

“Bisma, seharusnya kamu sadar. Mengapa pernikahan yang kamu mau itu tidak bisa terlaksana,” Rendra mulai sulit mengontrol emosinya.

“Jadi Papa juga menyudutkanku karena kondisiku?, terserah Papa mau bilang apa. Aku mencintai Maya, sebelum Maya bisa jadi istriku jangan harap aku mau menuruti kemauan Papa lagi,” Bisma bangkit meninggalkan Rendra yang melotot mendengar perkataan Bisma dan Nyonya Rendra hanya bisa mengelus dada melihat sikap anaknya.

Dengan perasaan dongkol Bisma bangkit dan meninggalkan orang tuanya yang kaget dengan perubahan anaknya. Rendra pun kehabisan kata-kata, dari hati yang paling dalam Rendra pun sangat menyayangi Bisma meskipun dia mendidiknya dengan keras. Melihat anaknya sekarang hilang semangat membuat rendra juga terpukul.

Hari-hari Bisma sekarang hanya habis untuk memata-matai kegiatan Maya. Bisma merasa dengan seperti ini rasa rindunya kepada Maya sedikit berkurang, meskipun nantinya Bisma terbakar cemburu dengan hadirnya seorang pria yang akhir-akhir ini memang sangat dekat dengan Maya. ura bahagia diwajah Maya saat berada disamping pria itu, membuat hatinya sakit. Meskipun begitu obsesinya untuk tetap menikahi Maya tidak berkurang sedikit pun.

Karena kalungan nafsu cinta buta itu pulalah membuat Bisma sama sekali tidak menyadari kalau jauh disana ada seorang wanita yang diam-diam mulai menunggu kedatangan Bisma. Ya Ribby, dengan perlahan mendalami karakter Bisma dari cerita-cerita Mbok Irah membuat Ribby menaruh rasa takjub pada laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.

Cerita yang mengagumkan keluar dari mulut seorang wanita yang sudah Ribby anggap ibunya membuat hati Ribby yang dulu membeku karena perbuatan Bisma mulai mencair. Ada senyum bahagia setiap Mbok Irah menggambarkan sosok tuannya dan memuji betapa baiknya laki-laki yang bernama Bisma.

Tanpa terasa dua bulan berlalu, kehidupan Ribby dan Mbok Irah pun bahagia. Ibarat ibu dan anak mereka saling menyayangi. Kepada warga kampung Mbok Irah mengenalkan kalau Ribby adalah ponakannya. Ribby yang periang dan pandai bergaul dengan mudah berbaur dengan warga desa. Sungguh kehidupan baru yang sangat Ribby idam-idamkan dari dulu.

Rutinitas biasa yang Ribby lakukan, duduk santai diteras menunggu adzan Isya berkumandang. Sambil ditemani semilir angin malam Ribby sibuk sendiri dengan pikirannya. Sejenak Ribby mengelus perutnya, sudah dua bulan berlalu namun tidak ada perubahan yang terjadi pada dirinya. Siklus haid Ribby pun masih lancar seperti biasa.

“mmmhhhhuuftt…,” Ribby menghela nafas merasa mungkin ini yang terbaik untuknya. Kedatangan Mbok Irah yang tiba-tiba membuat Ribby tersentak kaget.

“Neng ngelamunin apa?,” Tanya Mbok Irah duduk kursi di sebelah Ribby.

“Eh Mbok, gak mikirin apa-apa kok Mbok,” jawab Ribby berbohong.

“Mikirin Mas Bisma ya?,” tebak Si Mbok namun dibalas Ribby dengan gelengan kepala.

“Tapi dah lama ya Mbok Mas Bisma gak datang kesini,” Mendengar nama Bisma Ribby langsung membuka percakapan tentangnya.

“Kenapa? Neng kangen sama Mas Bisma?,” Mbok Irah menggoda Ribby, seketika membuat wajah putih Ribby merona merah.

“Gak ah Mbok, biasa aja,” jawab Ribby mengulum senyum tipis. Memang hampir setiap hari si Mbok bercerita tentang Bisma, cerita tentang kebaikan-kebaikan Bisma, bahkan tidak ada cela sedikit pun membuat hati Ribby mulai berdesir halus kalau menyebut nama Bisma.

“Gak usah malu Neng, Mbok ngerti kok perasaan Neng,” jawab si Mbok menatap lekat mata Ribby.

“Entah lah Mbok. predikat istri yang Ribby dapat dari moment menyakitkan dan seorang istri dari pernikahan yang dirahasiakan. Rasanya terlalu tinggi ya Mbok, angan-angan Ribby untuk mengharapkan Mas Bisma ,” Ribby menerawang saat tahu mulai ada Bisma dipojok hatinya.

“Mbok senang Neng sudah mau memaafkan mas Bisma. Neng yang sabar ya. Bagaimana pun juga Neng istrinya mas Bisma,” Ribby tersenyum, kehadiran dan kasih sayang Mboklah yang membuat Ribby mau membuka pintu maaf untuk Bisma.

Kumandang suara Adzan shubuh mendayu memecah kesunyian pagi ini. Dinginnya suasana pagi terasa menusuk kulit, saat air wudhu membasuh wajah ada kesejukan lain yang Ribby rasakan. nikmatnya menjalankan ibadah pagi membuat hati Ribby lebih terasa tentram. Doa dan dzikir tak henti-hentinya menghiasi bibirnya saat salam kiri kanan Ribby lakukan. Hanya pada yang Satu tempat Ribby mengadu.

Ribby bangkit dari sajadahnya berjalan keluar kamar. Mbok Irah pun mulai sibuk didapur, perlahan Ribby berjalan membuka pintu depan. Saat pintu itu terbuka terparkir mobil Bisma disana.

“Mas Bisma?,” Bisik Ribby dan berjalan mendekati mobil. Samar-samar Ribby melihat laki-laki itu terlelap dibalik stir. Perlahan Ribby mengetuk kaca mobil, setengan bangun Bisma menurunkan kaca mobil mendengar ketukan disampingnya.

“Mas Bisma, kok tidur disini?,” Tanya Ribby lembut.

“Aku nyampenya dah larut banget, takut ganggu kamu sama Si Mbok,” jawab Bisma mengusap-usap wajahnya.

“Bangunin aja kali Mas, ayo masuk,” ajak Ribby dan dengan patuh Bisma menurutinya. Kali ini Bisma yang berjalan dibelakang Ribby. Didalam rumah Si Mbok juga berpikiran sama dengan Ribby. Mengapa Bisma tidak membangunkan mereka saja, daripada harus tidur diluar. Bisma hanya tersenyum ramah pada wanita baya itu. Takut waktu shubuh terlewat Mbok Irah segera menyuruh Bisma sholat. Bisma manut pada Mbok Irah seorang ibu baginya dirumah ini.

“Neng, doaian Mas Bisma datang ya semalam?,” lagi-lagi Mbok Irah menggoda Ribby yang tidak berkedip menatap Bisma. Wajah Ribby bersemu merah ketahuan memperhatikan Bisma.

“Ng…enggak kok Mbok,” Ribby tergagap.

“Iya pun gak pa-pa kok Neng. Lagian gak baik juga suami ninggalin istri lama-lama,” Mbok mengelus lengan Ribby sebelum kembali ke dapur.

Entahlah Ribby pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Akhir-akhir ini memang ada nama Bisma dalam doanya, bahkan tidak jarang Ribby mengharapkan Bisma hadir dalam mimpinya. Tapi masih ada ketakutan dalam hatinya kalau semua itu akan menyakitinya kelak.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar