Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Jumat, 17 Januari 2020

#Mungkin Aku Yang Baper 11 - 13 (end) +

#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian : 11, by Sumarni
POV Wahyuni

"Las, ibu mau pulang aja ke rumah ibu. Ibu nggak betah di sini, suamimu galak."
"Maafin Lasmi ya, Bu. Lasmi tidak berdaya di depan Mas Irwan. Ibu kan tau semua yang aku punya ini dari Mas Irwan. Lasmi hanya takut di ceraiin Mas Irwan."
"Iya, ibu ngerti. Makannya ibu juga diam saja saat Irwan memarahi ibu. Ibu takut dia marah dan menceraikanmu, ibu nggak ingin kamu jadi janda."

"Ini uang buat ibu, semoga cukup untuk kehidupan ibu seminggu ke depan. Tapi jangan bilang-bilang Mas Irwan, Bu. Kalau dia tau pasti dia marah." Lasmi menyerahkan lima lembar uang berwarna merah.
"Makasih ya, Las. Ibu pulang dulu."
💔💔💔💔💔💔💔
Sampah mulai berserakan, lantai pun penuh dengan debu. Biasanya setiap pagi rumah ini sudah bersih. Lilis rajin membersihkan rumah ini, kini dia telah pergi.
"Ahh, aku nggak boleh lemah. Dia itu turunannya Sasmita. Orang yang paling kubenci," ucapku menghalau kerinduanku pada Lilis.
Biasanya Zio bermain di sini, dan Ozi selalu tersenyum melihatku. Cucu-cucuku mbah sangat rindu padamu.
Kini semua telah pergi, tinggal aku sendiri, berteman dengan sepi, anakku sendiri dia juga pergi ke Jambi.
Huhhhhhf
Kuhela nafas panjang.
"Becak!"
"Iya, Mbah Yun. Mau kemana?"
"Antarkan saya ke pasar, Mang."
"Siap, tumben Mbah Yun ke pasar si Lilis teh kemana?" tanya Mang Tarjo dia sudah lama menjadi pengemudi becak, usianya lebih tua dua tahun dariku, asalnya dari sunda.
"Si Lilis sama Arka ke Jambi, Mang."
"Ngapain?"
"Ada kerjaan di sana," jawabku berbohong.

Lama kami terdiam, akhirnya kami sampai juga di pasar. Pagi ini pasarnya cukup ramai.
"Ini uangnya, Mang."
"Aduh Mbah belum ada kembaliannya."
"Terus gimana dong, Mang?"
"Biar saya saja yang bayar!" Sambil menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan.
"Sasmita!"
Dia tersenyum padaku. Aku berlalu pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan terima kasih.
Brughhh, tak sengaja aku menabrak seorang lelaki.
"Yusrizal!" Tiba-tiba dadaku berdegub kencang.
"Wahyuni!"
"Ma-maaf, Yus. Aku nggak sengaja."
"Nggak papa, Yun."

"Lama nggak bertemu denganmu. Terakhir ketemu di rumah sakit saat Lilis lahiran itu pun hanya sebentar."
"Iya, Yus," jawabku lirih.
"Tatapanmu masih sama seperti dulu, Yus. Tatapan teduh, senyummu pun masih sama bahkan aku pun tak pernah lupa," bisikku dalam hati.
"Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan sejak lama denganmu, Yun."
"Apa itu, Yus."
"Kita duduk di sana saja." Yusrizal mengajakku duduk di sebuah warung wedang ronde.
"Kamu masih marah ya, Yun sama Sasmita?"
"Nggak!"
"Kamu nggak usah bohong, Yun."
"Aku itu sudah mengenalmu sejak dulu. Yun, Maafkan aku yang dulu tak bisa membalas cintamu. Maafkan aku juga yang tak memilihmu, itu karena rasa sayangku kepadamu hanya sebagai teman. Hatiku tidak dapat kupaksakan, kalau aku lebih mencintai Sasmita. Yun, aku mohon berhentilah dendam kepada kami. Kita ini sudah tua. Semua juga sudah berlalu, tapi kenapa kamu masih memendam rasa itu."

Aku hanya bisa tertunduk.
"Sasmita tidak salah, Yun. Akulah yang salah, dulu Sasmita menolakku karena dia tau kamu mencintaiku. Tapi, aku yang nekad ingin menikahinya. Aku tak menyangka jika akibat perbuatanku dulu, kamu membenci anak dan cucuku begitu dalam. Mereka tidak tau apa-apa, Yun."
Yusrizal menghela nafas sejenak.
"Jadi kumohon berhentilah menyiksa dirimu dengan dendam. Aku mohon berhentilah membenci Sasmita dan anakku serta cucu-cucu kita.
"Ma-maafkan aku, Yus. Tapi semua telah terjadi Arka dan Lilis sudah pergi."
"Arka pergi kemana, Yun?"
"Ke Jambi menyusul Lilis."
"Ya sudah ya, Yun. Aku pergi dulu jaga dirimu baik-baik."
"Iya, Yus."
Kulanjutkan rencanaku untuk berbelanja, setelah selesai aku pun pulang.
Rumah ini sekarang sangat sepi, padahal dulu rumah ini selalu di hiasi suara Zio dan Ozi. Cucu yang kubenci, tapi kini aku merindukan mereka seperti aku merindukan Arka.
Kuraba pelan-pelan mesin jahit Lilis yang mulai berdebu, dulu Lilis sering tertidur di tempat ini, hingga pagi.
Arka, Lilis, Ozi, Zio maafkan Mbah. Padahal baru beberapa hari kalian pergi, tapi ternyata mbah tidak bisa membohongi hati ini.
BERSAMBUNG....

-----

 #Mungkin Aku Yang Baper
Bagian : 12
Penulis : Sumarni.

"Zio kok nggak main sama teman-teman Zio?" tanya Aji pada anak didiknya itu.
Zio menggeleng
"Zio sedang gambar apa?"
Aji melihat selembar gambar Zio, yang terlukis tiga orang saling bergandengan dan dua orang saling memisah.
"Ini ibu, ini adek, ini Zio, ini ayah, dan ini nenek." Zio menunjuk satu persatu gambar yang ia maksud.
"Kok gambar ayahnya Zio di pisah, memangnya ayah Zio kemana?" tanya Aji penasaran.
"Ayah Zio di Banyu Wangi ikut mbah. Ayah dan ibu marahan, jadi ibu mengajak kami ngumpet ke sini."
Aji memanggut-manggut tanda mengerti.

*****

"Lis ada yang ingin aku bicarakan denganmu ini soal Zio."
"Memangnya Zio kenapa, Ji? Apa dia bikin masalah?"
"Nggak, Lis. Tapi Zio sepertinya berbeda dengan anak-anak lain dalam perkembangannya "
"Berbeda gimana, Ji?" tanya Lilis antusias.
"Gini Lis, Zio seperti enggan bersosialisasi dengan anak lain, dia juga lebih suka menyendiri, dia juga sering murung."
"Apa Zio pernah mengalami sesuatu yang secara tidak disadari menguncang jiwanya?"
Lama Lilis terdiam.
"Gini, Ji. Sejak kecil Mbahnya Zio selalu membedakan Zio dengan saudara sepupunya, dia juga selalu dibanding-bandingkan dengan saudara sepupunya. Ayahnya pun juga tidak begitu peduli dengannya. Apa itu mempengaruhi perkembangan Zio, Ji?"

"Owh, pantas. Tentu sangat berpengaruh pada kondisi psikis Zio, Lis."
"Jadi langkah apa yang harus aku lakukan, Ji?"
"Kita harus memotivasinya, dan membuat dia percaya diri. Dukungan dari kital ah yang bisa membuatnya melawan rasa mindernya.
"Ini semua salahku, Ji. Aku telah menciptkan neraka untuk anakku sendiri. Hanya untuk memperoleh surga dari suamiku."
"Lis, apa rumah tanggamu bermasalah?"
Lilis terdiam,
"Maafin aku, Lis aku tak bermaksud ikut campur dalam urusan rumah tanggamu."
"Aku sudah bercerai dengan Mas Arka, Ji."
"Sepuluh tahun aku hidup bersamanya tapi dia masih sama selalu menomor satukan ibunya, tapi melalaikan kewajibannya sebagai suami. Dia tidak bisa memposisikan dirinya sebagai suami. Dia tidak bisa adil terhadap aku dan ibunya. Maaf, Ji. Aku malah curhat."
"Emtt....,nggak papa, Lis. Bicaralah jika itu bisa membuatmu lega."
Untuk beberapa saat mereka terdiam sejenak.
"Ibu! Adek!" teriak Zio yang baru keluar dari kelasnya.
"Zio sayang, gimana belajarmu, Nak?"
"Zio senang, Bu. Hari ini Zio dapat nilai seratus."
"Anak ibu memang pintar. Nanti ibu belikan es krim buat hadiah Zio karena Zio sudah dapat nilai seratus."

"Bener, Bu?"
Lilis mengangguk.
"Horeee!"
"Sudah sekarang kita pulang, kasian adik Ozi dari tadi kepanasan."
"Lis, ijinkan aku mengantar kalian pulang," tawar Aji.
"Sebelumnya terima kasih, Ji. Tapi aku ini kan seorang janda apa kata orang nanti jika aku pulang bersama laki-laki yang bukan mahramku."
"Ya, sudah, Lis. Aku mengerti. Kalian hati-hati di jalan ya."
"O, iya. Ini buat Zio." Aji merogoh sesuatu dari sakunya, dan menyerahkan sebungkus coklat untuk Zio.
"Terima kasih, Pak Guru."
"Sama-sama anak ganteng." Aji mencubit lembut pipi Zio yang gembil.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Pak," ucap Lilis pada Aji.
Aji mengangguk.
Lilis mengayuh sepedanya menjauhi sekolah Zio.

******

Jam menunjukkan pukul dua malam, namun Lilis masih berkutat dengan mesin jahitnya. Berkali-kali bibir merahnya menguap, pertanda matanya ingin segera dipejamkan. Namun sekuat tenaga ia melawan rasa kantuk, baju-baju ini harus selesai esok pagi, karena sang empunya akan mengambilnya. Uang sekolah Zio juga harus segera dibayarkan karena ini sudah lewat tanggal yang ditentukan.
Diliriknya Zio yang tidur di sampingnya dan Ozi yang sudah tertidur kembali dalam gendongannya. Diletakannya Ozi secara perlahan-lahan di sebelah Zio. Diciumnya kedua kening anaknya itu dengan penuh kasih sayang.

"Apapun akan ibu lakukan demi kalian. Walaupun ibu harus bertaruh nyawa sekalipun."
Secangkir kopi dibuat Lilis, untuk menghangatkan tubuhnya. Dia mulai mengigat kehidupannya sebagai seorang janda yang selalu dipandang negatif, dan tak sedikit yang mencibirnya. Namun ia hanya menganggapnya angin lalu. Biarlah waktu yang akan membuktikan siapa sebenarnya dirinya.

💔💔💔💔💔💔💔

Sementara itu Arka hidup terlunta-lunta di jalan, harta bendanya telah dicuri orang saat ia tertidur di dalam bis. Mencari Lilis di kota Jambi seperti mancari jarum dalam tumpukan jerami. Sangat kecil kemungkinan menemukannya, di kota Jambi yang sangat luas ini.
Setiap langkahnya menyiratkan penyesalan masa lalunya. Karena ia tidak bisa memposisikan sebagai suami. Dia terlalu lemah sebagai laki-laki. Kini dia mulai frustasi karena tak kunjung menemukan tambatan hati.
Direbahkan tubuhnya disebuah rumah warga, pakaiannya tak karuan, dengan rambut yang mulai gimbal.
Seorang pemuda yang melihatnya merasa iba. Diserahkannya sebungkus nasi padang yang ia beli untuk makan malamnya.
"Ini buat, Bapak." Diulurkannya sebungkus nasi itu kepada Arka.

Arka segera memakan nasi itu dengan sangat cepat, sudah tiga hari dirinya tidak makan.
Aji yang melihat itu tersenyum, dan pergi meninggalkan Arka. Biarlah malam ini dia tidak jadi makan asal orang lain merasa kenyang karena pemberiannya.
Aji melajukan langkahnya meninggalkan laki-laki itu. Jiwanya masih terbayang dengan obrolannya denga Lilis tadi siang.
"Mungkinkah ini jawaban Tuhan atas semua doa-doaku selama ini. Doa agar dijodohkan dengan Lilis cinta pertamaku saat SMP, " batinnya.
Teringat dua belas tahun yang lalu....
Dirinya jatuh cinta pada gadis SMP teman satu sekolahnya. Berkali-kali ia mengirimkan surat namun satupun tak ada yang dibalas.

Untukmu gadis pujaanku,
Ijinkan aku mengungkapkan rasa padamu,
Aku tau kita masih terlalu dini untuk mengenal cinta,
Tapi ijinkan aku merajut rasa ini bersamamu,
Hingga dipelaminan nanti.

Dari
Orang yang jatuh hati padamu
Aji


Setiap pagi Aji selalu menaruh surat itu di meja Lilis. Surat cinta berwarna merah muda, yang ia semprot parfum sebelumnya.
Setiap pagi ia berharap mendapat balasan dari surat itu, setelah Lilis membacanya, namun lagi-lagi hasilnya nihil. Lilis sedikitpun tak bergeming.
Hingga akhirnya mereka lulus, Aji melanjutkan pendidikannya ke SMA. Berbeda dengan Lilis yang melanjutkan kehidupannya sebagai petani.
Lama tak terdengar kabarnya. Aji dengar Lilis telah menikah. Surat ke seratus yang ia tulis kini tak ada artinya. Disobeknya surat itu tepat didepan rumah Lilis.
Tak ingin semakin terpuruk, dia menerima tawaran menjadi guru di provinsi Jambi. Berharap bisa melupakan Lilis. Namun kini dia malah dipertemukan kembali dengan Lilis, dengan status yang berbeda.
"Kali ini aku tak ingin kehilangan harapan kembali, aku akan segera melamar Lilis untuk menjadi istri," janjinya dalam hati.

#BERSAMBUNG.....

-----

#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian : 13 ( ENDING)
Penulis : Sumarni

"Zio sini!"
"Ada apa, Pak Guru?"
"Zio mau nggak, kalau Pak Guru jadi ayahnya Zio?"
Zio berfikir sejenak, tersenyum lalu mengangguk.
"Zio mau bantuin, Pak Guru?"
Zio kembali mengangguk.
Aji membisikkan sesuatu pada Zio, lalu mereka berdua tos penuh keyakinan.

💖💖💖💖💖💖

Hari ini hari Senin, kesempatan buat Aji untuk melamar Lilis selesai upacara nanti, dengan disaksikan oleh para penghuni sekolah. Semua perlengkapan sudah disiapkan, dari mulai pengiring musik sampai aksesoris yang diperlukan.
Balon berbentuk hati juga di pasang di sana-sini. Ditengah-tengah halaman ada bunga yang di bentuk membentuk hati.
"Upacara telah usai, para siswa dimohon jangan membubarkan diri dulu." Begitu siaran yang Lilis dengar dari kepala sekolah.
Zio memang menyuruh Lilis menungguinya di luar gerbang sekolah.
"Kepada saudari Lilis ibundanya Zio dipersilahkan maju kedepan."
Satpam membukakan gerbang.
"Silahkan Bu Lilis masuk ke dalam," ucap satpam dengan sopan.
Jantung Lilis saat itu berdegub sangat kencang. Hatinya terus bertanya-tanya apa Zio membuat masalah.

Perlahan-lahan dia maju ke depan tepat di tengah-tengah bunga yang dibentuk hati.
Musik mulai di alunkan, para siswa kelas enam mulai menyanyi bersama-sama.

Dengarkanlah wanita pujaanku
Pagi ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini

Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Dengarkanlah wanita impianku
Pagi ini akan kusampaikan
Janji suci satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini

Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Akulah yang terbaik untukmu?

"Lilis ini ke seratus kalinya aku memohon kepadamu kali ini bukan lewat tinta namun aku akan memintanya langsung kepadamu.
"Lis,mau kah kamu menjadi istriku?" Aji mulai berjongkok di depan Lilis sambil mengulurkan sebuah kotak berisi cincin.
Lilis terdiam membisu. Hatinya kaku, binggung sekaligus malu, jantungnya berdegub semakin tak menentu.
"Terima!"
"Terima!"
"Terima!" Begitu teriakan para guru dan siswa dari kelas satu sampai kelas enam.
Zio maju ke depan mempersatukan telapak tangan Ibunya dan gurunya.
"Ibu Zio mohon jadikan Pak Guru ayahnya zio."
Lilis terdiam menatap Aji dan Zio bergantian.
Lalu ia mengangguk.
Aji lalu memakaikan cincin di jari manis Lilis dan langsung memeluk Lilis.
"Ciyeeee!" sorak sorai para siswa membuat Aji malu dan melepaskan pelukannya.
"Terima kasih ya Allah setelah dua belas tahun Engkau mengabulkan doaku," ucap Aji lalu ia bersujud.
Diciuminya Zio berkali-kali, dan mereka berdua tos.

💖💖💖💖💖💖

Lilis dan Aji mengemasi barang-barang mereka untuk di bawa kembali ke Banyuwangi. Mereka akan melangsungkan pernikahannya di sana.
"Zio senang, Bu. Akhirnya Pak Guru akan jadi ayahnya Zio."
Lilis tersenyum.
"Iya, sayang."

💖💖💖💖💖💖💖

Persiapan pernikahan sudah hampir rampung. Aji dan Lilis memilih pernikahan yang sederhana.
Pagi ini hari dimana Aji akan mengucapkan janji sucinya kepada Lilis.
Lilis mematut dirinya didepan cermin. Kebaya putih menambah keanggunannya.
"Kamu sangat cantik, Nduk," puji calon mertuanya Lilis.
"Terima kasih, Bu. Lilis mohon do'a restunya."
"Tentu kami merestui kalian berdua."
Pukul 08.00
"Saudara Aji bin Santoso saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Lilis binti Yusrizal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar tujuh belas juta seratus dua puluh ribu rupiah dibayar tunai!
"Saya terima nikah dan kawinya Lilis binti Yusrizal dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai!
"Bagaimana saksi, SAH?!" tanya penghulu.
"SAH!" jawab para hadirin serempak.
Lilis mencium punggung tangan Aji, dan Aji mengecup kening lilis. Kini mereka berdua sah sebagai sepasang suami istri.
Selanjutnya mereka melakukan sungkeman kepada orang tua mereka berdua.
"Jadilah keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahma," ucap kedua orang tua mereka.
Rencananya Aji dan Lilis akan menetap kembali di Banyuwangi. Aji juga telah mengurus berkas kepindahannya ke Banyu Wangi saat mereka masih di Jambi.
Kebetulan di Banyuwangi juga ada lowongan sebagai pengajar di salah satu sekolah dasar swasta.

💖💖💖💖💖

Orang tua Aji sangat menyayangi Zio dan Ozi, mereka telah mengaggapnya sebagai cucu sendiri, serta menganggap Lilis seperti anak sendiri.
Kini surga itu telah diraih Lilis setelah menikah dengan Aji. Semua tampak larut dalam kebahagiannya, begitu juga Zio yang senang memiliki ayah baru.
Namun tugas Lilis dan Aji belum selesai, mereka harus bisa mengembalikan kepercayaan diri Zio yang telah lama hilang.

TAMAT

Kenapa saya memilih latar sekolah dalam part ini, ini adalah satire tentang dunia pendidikan kita.
Terimakasih buat semuanya utamanya buat mimin yang selalu mengaprove tulisan receh saya. Buat reader yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya, para komentator bagaimanapun isi komennya pokoknya aku bilang terimakasih. Tanpa kalian anak bau kencur ini bukanlah apa-apa.
Buat para penerbit yang mau meminang karya saya. Walaupun karena satu dan lain hal saya tidak membukukan karya saya ini.
Sampai ketemu dicerbung lainnya.
Salam sayang dari Author baby face sepanjang masa.
See you next time.
Karanganyar
Januari 2020

-----

#Mungkin Aku Yang Baper
Ekstra part 1
Penulis : Sumarni.

Sebelum kita lanjut ke cerita, saya ingin menyampaikan sedikit hal.
Kenapa saya memilih latar sekolah SD saat lamarannya Lilis. Sebenarnya itu sengaja saya buat untuk menyindir mirisnya dunia pendidikan kita, dimana anak-anak lebih hafal lagu dewasa dari pada lagu Garuda Pancasila, dimana anak-anak sekarang yang masih kecil sudah mengenal apa itu cinta, dan dimana anak-anak sekarang dibiarkan untuk menonton adegan orang dewasa diberbagai media.
Dan setelah saya cari tau memang seorang istri bisa tetap mengajukan gugatan perceraian tanpa tanda tangan suami, dan itu prosesnya memang lebih cepat apalagi kalau kedua belah pihak tidak hadir, dibandingkan kalau suami yang mengajukannya.
Oke sekarang kita lanjutkan ke ekstra part.

=================================

"Maaf, Mas. Lilis belum bisa memenuhi kewajiban Lilis sebagai seorang Istri. Lilis butuh waktu, Mas, " jelas Lilis malam itu.
"Aku mengerti, Lis. Kamu menikah hanya ingin membahagiakan Zio. Aku akan menunggu sampai kamu siap, Lis. Aku pun tidak memaksamu untuk melakukannya seksarang."!

******

Kini Arka menjadi pengamen di jalanan mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk ongkosnya kembali ke Banyuwangi. Setelah mencari tambatan hatinya yang ternyata hasilnya Nihil.
Kini tabungannya telah cukup hari ini juga dia akan kembali ke Banyuwangi, untuk bertemu ibunya yang terkasih.

******

Tok
Tok
Tok
Diketuknya pintu rumah ibunya.
"Ya, tunggu sebentar!" Seorang wanita berteriak dari dalam.
"Mbak Lasmi kok ada di sini?"
"Iya Mbak Lasmi sekarang tinggal di sini. Mas Irwan selingkuh dan menikah lagi, dan mbak diusir dari rumahnya.
"Ibu mana, Mbak?"
"Ibu mengalami dementia sudah seminggu tidak pulang mbak cari kemana-mana tapi tidak ketemu."
"Ya Allah, Mbak." Arka tak percaya.
"Ini semua salah mbak.Mbak sudah lalai dalam menjaga ibu."
Sekarang kita cari ibu sampai ketemu.
"Kamu sendiri kenapa jadi begitu?"
"Ceritanya panjang mbak. Nanti Arka ceritakan kalau waktunya sudah longgar."
"O, iya Ka. Kamu sudah tau belum, mbak dengar Lilis sudah menikah lagi dengan seorang guru."
"Mbak nggak salah dengar, Kan?"
"Nggak, Ka."

****

"Yun kamu makan dulu ya?" Sasmita mengambilkan sepiring nasi untuk sahabatnya itu.
Tiga hari yang lalu Sasmita menemukan Wahyuni di pinggir jalan dalam keadaan kebingungan. Mau diantarkan pulang tapi ia tidak mau. Kondisinya sungguh mengenaskan. Dia dilempari batu oleh anak-anak kecil karena dianggap orang gila.
Dengan sabar Sasmita menyuapi sahabatnya itu.

"Asalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam. Lilis, Aji masuk, Nak."
"Ibu Wahyuni!" Lilis tak percaya jika yang di depannya ini adalah mantan ibu mertuanya. Penampilannya sungguh jauh berbeda dari sebelumnya.
"Lilis!" Ternyata Wahyuni masih mengenali Lilis.
Dengan perlahan-lahan dia memeluk Lilis dan mulai menangis.
" Maafkan sikap ibu selama ini, Lis."
"Lilis sudah maafin ibu , maafin Lilis juga karena belum bisa jadi istri yang baik buat Mas Arka, dan belum bisa menjadi menantu yang baik untuk ibu, maafin Lilis juga karena waktu itu Lilis pergi diam-diam."

"Lis, ibu mohon kembalilah pada anak ibu. Jadilah menantu ibu lagi." Ibu Wahyuni memohon pada Lilis.
"Lilis!" Tiba-tiba suara Arka mengagetkan mereka semua.
Tanpa babibu Arka langsung memukuli Aji berkali-kali.
"Mas Arka stop!" Teriak Lilis.
Sementara itu Aji menelfon polisi.
"Lilis kita itu masih sah sebagai suami istri. Jadi kamu tidak bisa menikah dengan siapapun!" Bentak Arka.
"Siapa bilang! Perceraian kita tetap sah di mata hukum karena aku sudah mengajukan gugatan ke pengadilan dan surat keputusan sudah keluar!"
"Tetap tidak sah! Karena kamu memalsukan tanda tanganku! Dan sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!"
"Kalau begitu kita ke pengadlilan sekarang, kita buktikan semuanya.

*****

"Maaf saudara Arka keputusan pengadilan tetap sah ada ataupun tidak ada tanda tangan Pak Arka karena selama dua belas tahun Pak Arka tidak menafkahi ibu Lilis secara lahir maupun batin, dan karena Bu Lilis tidak ridho maka pengadilan memutuskan kalian sah bercerai," ucap petugas pengadilan.
"Ini tidak mungkin!"
Dua orang polisi kemudian datang.
"Saudara Arka anda kami tahan karena anda telah melakukan penganiayaan terhadap saudara Aji.
"Saya tidak bersalah, Pak! Dia yang bersalah karena telah menikah dengan istri saya."
"Semua bisa anda jelaskan di kantor polisi." Dua orang polisi itu membawa Arka ke kantor polisi.
Nantikan ekstra part 2.

----

#Mungkin Aku Yang Baper
Ekstra part 2
Penulis: Sumarni

"Lis, mas mohon keluarin mas dari sini, dan mas mohon kembalilah sama mas. Demi anak-anak kita."
"Anak-anak yang mana, Mas?! Memangnya kamu peduli dengan anak-anak kita. Sampai Zio terganggu psikisnya saja kamu itu tidak peduli, Mas!Maaf, Mas semua sudah terlambat."
"Aku mohon, Lis," ucap Arka penuh mengiba.
"Sepuluh tahun, Mas! Sepuluh tahun aku kasih kamu waktu untuk berubah tapi apa hasilnya! Kamu sedikitpun tidak berubah! Aku sudah muak mas! Sabarku pun ada batasnya!"
Lilis menghela nafas sejenak, menahan air matanya yang hendak menetes.
"Mengeluarkanmu dari sini aku pun juga tidak bisa karena ini semua wewenang Mas Aji. Kalau Mas Aji bilang tidak, maka akupun tidak bisa membantahnya."
"Maaf mas aku harus pulang, permisi!"
Arka hanya bisa tertunduk lesu, menyesali semua perbutannya di dalam jeruji besi.

💖💖💖💖💖💖💖

"Jadi kamu dan Aji sudah menikah, Lis?" tanya Wahyuni kala Lilis menyisir rambut mantan ibu mertuanya itu.
"Iya, Bu."
"Ini semua salah ibu! Ibu yang membuat kamu dan Arka bercerai."
"Sudahlah, Bu. Semua sudah terjadi, tak perlu disesali."
"Kan sekarng rambut ibu sudah rapi. Ibu terlihat cantik." Lilis menyodorkan cermin pada Ibu Wahyuni.
Wahyuni menatap cerrmin dan tersenyum.
"Sekarang Lilis ambilkan sarapan untuk ibu dulu, ya. Kebetulan tadi ibu Sasmita sudah masak Opor Ayam."
Lilis hendak ke dapur, dan hampir saja ia terpleset.

"Air apa ini?" Lilis mengecek air yang mengenang di lantai rumahnya.
"Pasti ini air kencing Bu Wahyuni." Segera Lilis mengambil kain kering untuk mengelapnya, tak lupa dia juga mengepelnya.
Begitu dia balik ke kamar Ibu Wahyuni, dilihatnya Bu Wahyuni sedang melepas pakaiannya.
"Ibu kenapa dilepas bajunya?"
"Ibu nggak mau pakai ini. Ini bukan baju ibu!"
"Ini baju ibu, lihat gambarnya bagus kan. Sekarang ibu pakai kembali ya."
"Apa iya, ini baju ibu"
Lilis mengangguk.
Wahyuni kemudian kembali memakai pakaiannya dengan bantuan Lilis.
"Sekarang ibu sarapan dulu biar Lilis suapi." Dengan telaten Lilis menyuapi Wahyuni.
Lilis tidak sedikitpun dendam pada Ibu Wahyuni, dia bahkan sudah menganggapnya sebagai ibu sendiri. Walaupun Arka kini telah menjadi mantan suami, tapi tidak dengan Wahyuni dia akan tetap menjadi ibu mertuanya Lilis. Kata orang ada namanya mantan suami tapi tidak ada namanya mantan mertua.

💖💖💖💖💖

Kriiiiiiiinggg
"Halo, selamat pagi."
"Selamat pagi juga, Mbak. Gini saya tetangga ibu Lasmi. Ibu Lasmi tadi dibawa ke rumah sakit karena tadi pagi ia terpleset di kamar mandi."
"Terima kasih ya, Mas informasinya. Tolong kasih tau saya Mbak lasmi di bawa ke rumah sakit mana."
Setelah tau ke rumah sakit mana Mbak Lasmi di bawa, Lilis , dan orang tuanya pergi ke rumah sakit.
"Maaf, Bu. Mbak Lasmi mengalami kelumpuhan." Begitu penjelasan dokter.
Lasmi tampak shok, dan tidak terima dengan kondisinya saat ini.
"Maafin aku, Lis. Mungkin ini karma buat mbak karena sudah jahat sama ibu mbak sendiri dan sama kamu Lis."
"Mbak harus kuat, ini semua cobaan dari Yang Maha Kuasa. Jadi mbak harus sabar ya." Lillis berusaha menenangkan mantan iparnya itu.
Lasmi mengangguk dan mengusap air matanya.
"Untuk sementara waktu Lasmi titip ibu di rumahmu ya, Lis."
"Iya, Mbak."

💖💖💖💖💖

"Ayo, Mas! Kita raih surga dunia kita."
"Apa maksudmu, Lis." Aji bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Lilis sudah siap menjadi istri mas seutuhnya."
"Kamu serius, Lis?"Aji tersenyum penuh keyakinan.
Lilis mengangguk.
"Ehh, tunggu dulu, Lis. Mas belum pamit sama para reader.
"Buat para reader terima kasih ya sudah mendukung Aji berjodoh dengan Lilis. Cinta pertama Aji, tanpa kalian pasti Author nggak akan menjodohkan kami berdua. Doakan juga agar kami segera punya dedek bayi."
Selamat bertemu di ekstrapart ke 3 nanti. Dadaaaa.

-----

Mungkin Aku Yang Baper
#MAYB
Ekstra part: 3
Penulis : Sumarni.

"Ini mas, kopinya?" Lilis meletakkan secangkir kopi dihadapan Aji.

Hueeek.
Hueeeek.
Hueeeeek.

"Kamu kenapa, Lis?" tanya ibunya Mas Aji.

"Nggak tau, Bu. Dari kemarin Lilis mual terus." Sambil membasuh mukaku dengan air.

"Jangan-jangan kamu hamil, Lis?"

"Apa, Lilis hamil?! Mas Aji langsung berdiri dan mendekataiku.

"Belum tau, Mas.".

"Ya sudah, kalau begitu kamu duduk disini dulu. Biar mas ke apotik membeli test pack untukmu.";

Lima belas menit kemudian......

"Ini Lis, cepat kamu tes. Mas nggak sabar nunggu hasilnya."

Aku lalu mengambil test pack dari Mas Aji dan ke kamar mandi. Mencelupkan benda pipih itu ke dalam urin.

Dua garis merah menyala terang.

"Alhamdulillah," ucapku lirih.

Kubuka pintu kamar mandi. Ibu dan Mas Aji sudah tak sabar menanti.

"Aku hamil, Mas."

"Apa kamu hamil, Lis? Sebentar lagi ibu akan punya cucu lagi."

"Jaga baik-baik kandunganmu ya, Lis. Jangan capek-capek pekerjaan rumah biar ibu yang mengerjakan," ucap ibu mertuaku semangat.

"Selamat ya, Lis. Sebentar lagi kita akan punya buah hati lagi. Adeknya Zio dan Ozi," ucap Mas Aji.

"Kita hari ini ke rumah Ibu Sasmita ya, Mas. Untuk memberitahukan kabar bahagia ini."

"Iya, Lis."

💖💖💖💖💖💖💖

"Asalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam. Mas Arka kamu sudah bebas?"

"Iya, Lis. Aku kesini mau jemput ibu. O, iya selamat ya aku dengar kamu hamil."

"Iya makasih, Mas. Ibu ada di kamarnya."

Aku mengantarkan Mas Arka ke kamar Ibu Wahyuni.

"Ibu, ibu sekarang ikut Arka ya kita pulang ke rumah ibu. Kita tinggal sama Mbak Lasmi dan juga Kenzie."

"Tapi ibu lebih suka disini, Ka."

"Ibu Arka mohon ibu pulang, ya."

"Ya, sudah kalau begitu."

Mas Arka menuntun Ibu Wahyuni keluar dari kamarnya, sedangkan aku membereskan semua baju-baju Ibu Wahyuni.

"Terima kasih ya, Lis. Kamu sudah merawat ibu saat aku nggak ada."

"Iya sama-sama, Mas."

Bu Wahyuni berpamitan pada kami semua.

"Zio, Ozi mbah pulang dulu ya." Diciuminya cucunya itu berkali-kali.

"Iya, Mbah," jawab Zio.

Ozi sekarang juga sudah mulai merangkak dia semakin aktif saja.

"Ozi, mbah pulang dulu, ya." Diciumnya Ozi sekali lagi.

💖💖💖💖💖💖

"Lis, ibu kan sudah bilang kamu jangan capek-capek," ucap mertuaku yang sedang mengendong Ozi.

"Capek gimana, Bu. Lilis kan cuma nyapu."

"Bu, Lilis ini kalau nggak ada kegiatan badan Lilis malah sakit semua."

"Ya, sudah. Tapi ingat lho jangan capek-capek. Ibu sudah belikan buah-buahan dan vitamin buat kandunganmu ini. Jangan lupa dimakan, susu hamilnya jangan lupa diminum juga.

"Iya, ibuku sayang." Kucubit pipi mertuaku itu dengan lembut.

💖💖💖💖💖

"Aduh mas perutku!"

"Kamu kenapa, Lis."

"Sepertinya Lilis mau melahirkan," jawabku sambil menahan sakit.

"Ya, sudah mas antar kamu ke rumah sakit."

Mas Aji menemaniku lahiran di ruang bersalin. Dia mengenggam erat tangannku."

"Kamu pasti bisa sayang."

Lahirlah seorang putri yang cantik. Mas Aji menciumiku berkali-kali, dan mengadzani anak kami.

Tak berapa lama orang tuaku dan orang tua Mas Aji masuk dan memberikan selamat kepada kami.

Putri yang sangat cantik, putih, hidungnya mancung, matanya sipit sangat mirip dengan Mas Aji yang kami beri nama Zia.

Terima kasih para reader yang sudah mendokan kami, akhirnya kami memiliki buah hati adiknya Zio dan Ozi.

Om, tante Zio pamit dulu ya, sekarang Zio bisa makan es krim yang banyak. Ayah Zio baik banget.

          TAMAT

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dalam cerita ini, ambil baiknya buang buruknya.

Terimakasih buat semuanya utamanya buat mimin yang selalu mengaprove tulisan receh saya. Buat reader yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya, para komentator bagaimanapun isi komennya pokoknya aku bilang terimakasih. Tanpa kalian anak bau kencur ini bukanlah apa-apa.

Sampai ketemu dicerbung lainnya.

Salam sayang dari Author baby face sepanjang masa
See you next time.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar