#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian 6
Penulis: Sumarni Saja
"Lis, kamu kan sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Besok ada acara
arisan keluarga di rumahnya mbakmu Lasmi. Kamu ke sana bantuin masak,
ya!" titah ibu mertuaku.
"Iya, Bu."
Kebetulan hari ini
hari minggu, Zio juga libur sekolah selepas subuh dan semua pekerjaan
telah selesai, aku dan Zio pergi ke rumahnya Mbak Lasmi.
"Ehh, Lilis! Zio! Masuk!"
Aku mengangguk.
"Kalian bantuin Mbok Jum masak ya. Aku mau tidur dulu, aku masih capek tadi malam jalan-jalan ke Mall," ucap Mbak Lasmi.
"Iya, Mbak."
Sebagai suguhan kami membuat puding Ikan Koi, Selat Solo, dan aneka snack untuk menu pembukanya.
Semua hidangan ini harus sudah selesai tepat waktu. Karena arisan di mulai pukul sepuluh pagi.
"Bu, ini namanya apa?" tanya Zio anakku.
"Ini namanya Puding Ikan Koi, Nak."
"Lucu ya, Bu. Bentuknya," ucap Zio sambil terus mengamati puding tersebut.
"Zio boleh minta nggak, Bu?"
"Nggak boleh!" bentak ibu mertuaku yang baru datang.
Zio tertunduk, aku tau hatinya sangat sedih.
"Lasmi tolong kamu jagain ini makananmu takut ada kucing yang makan,"
"Iya, Bu."
Lasmi kemudian membawa semua makanannya ke kamar lalu menguncinya.
"Zio jangan sedih, nanti kita bikin berdua di rumah, ya. Zio bisa makan
sepuasnya," ucapku pada Zio yang masih tertunduk itu, aku berjongkok
kusejajarkan tinggiku dengan tinggi Zio.
"Iya, Bu."
"Sudah Zio jangan sedih lagi. Anak ibu nggak boleh cengeng.
"Lis, kerjaannya kan sudah selesai kamu pulang gih. Cucian piring masih masih banyak!" titah ibu mertuaku.
"Ayo Zio kita pulang!" Kuajak anak lelakiku itu, kuulurkan tanganku dan kami saling bergandengan tangan.
💔💔💔💔💔💔
Hueeeeeek
Hueeeeekk
Hueeeeekkk
"Kamu kenapa, Lis?" tanya Mas Arka suamiku.
"Nggak tau nih mas, sudah beberapa hafi ini setiap pagi perutku mual," jawabku sambil membasuh mukaku dengan air kran westafel.
"Jangan-jangan kamu hamil, Lis."
Aku tercengang. Jangan-jangan aku memang hamil, ini sudah lewat tanggal haidku tapi haidku tak kunjung datang.
"Ahh, mungkin cuma masuk angin, Mas. Akhir-akhir ini aku kan sering begadang karena mengerjakan jahitan orang.
"Ya, sudah kalau begitu mas berangkat dulu." Diulurkan tangan suamiku dan aku menciumnya dengan takzim.
"Jangan lupa beli tespek untuk memastikan kamu hamil tidak. Uangnya
minta sama ibu," titah Mas Arka sebelum dia melajukan mobilnya menjauhi
rumah kami.
Kuambil uang di dompetku dan aku pun melajukan motor matic ke arah apotik. Kubeli tespek yang paling murah.
Segera aku bawa tespek itu ke kamar mandi. Jantungku bedegub tak karuan.
Kucelupkan benda pipih itu ke dalam urinku. Tak berapa lama dua garis merah terpampang nyata di hadapanku.
Kusandarkan diri ini di dinding kamar mandi. Entah harus senang atau sedih.
Sedih karena itu artinya aku harus kembali mengubur impianku untuk
mengikuti kejar paket C dan melanjutkan kuliah. Senangnya Allah kembali
memberikan rezekinya pada kami, karena di luar sana banyak orang yang
berjuang untuk memiliki keturunan.
[Mas aku hamil] kukirim pesan WA pada Mas Arka.
[Alhamdulilllah, nanti sore kita periksa ke dokter ya. Nanti aku akan
minta uang pada ibu untuk USG] tak berapa lama balasan chat dari Mas
Arka.
Aku tak membalas chat itu kembali karena aku dengar Mbak Lasmi mengetuk pintu.
Segera kubuka pintu itu dan mempersilakan Mbak Lasmi masuk.
"Ibu ada, Lis?"
"Ada di kamarnya sedang nonton TV."
Mbak Lasmi langsung menuju kamar ibu, sedangkan aku melankutkan pekerjaanku mencuci piring yang tadi sempat tertunda.
Samar-samar kudengar percakapan ibu dan Mbak Lasmi.
"Bu, Lasmi pinjem sertifikat rumah ibu, donk!"
"Buat apa, Las?"
"Lasmi mau jadikan jaminan ke bank. Mas Irwan sedang terlibat banyak
hutang. Nanti kalau urusannya sudah selesai Lasmi janji akan
mengembalika sertifikat rumah ibu."
"Tapi ....Las rumah ini harta satu-satunya yang ibu punya."
"Lasmi mohon, Bu," ucap Mbak Lasmi penuh mengiba.
"Ya, sudah sebentar ibu ambilkan."
"Ini!" Diserahkannya sertifikat rumah itu kepada Mbak Lasmi.
Senyum terpancar dari wajah Mbak Lasmi, ketika ia keluar dari kamar ibu.
BERSAMBUNG....
-----
#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian 7
Penulis : Sumarni Saja
Setiap bulan kami rutin melakukan USG alhamdulillah kedaan calon anak kami baik, perkembangannya pun bagus.
Kini kehamilanku memasuki usia empat bulan, ditandai dengan perutku yang mulai membuncit.
Aku juga masih menerima orderan jahitan namun tak sebanyak dulu.
"Ibu!"
"Ibu!"
Suara Mbak Lasmi datang segera kubukakan pintu.
"Ada apa, Las?"
"Ada yang ingin Lasmi bicarakan sama Arka.
Aku kembali ke kamar Zio untuk menemaninya belajar.
"Duduklah!"
"Emt....Bu, Lasmi boleh minta bantuan kalian? Gini, Bu gaji Mas Irwan
nggak cukup kalau untuk membayar angsuran hutang kami di bank. Jadi
maksud Lasmi ke sini mau minta bantuan kalian untuk patungan setoran
Lasmi di bank, Bu."
"Lha, yang hutang kan mbak kok kami yang suruh bayar!" bentak Mas Arka.
"Ini demi kebaikan kita bersama, Ka. Dari pada rumah ibu di sita! Kamu mau ibu jadi gelandangan."
Kulihat ibu berpikir sejenak.
"Betul juga yang dibilang Lasmi, Ka. Ibu nggak mau ahh jadi gelandangan. Ibu mohon, Ka."
"Ibu rela bersujud di kakimu agar kamu menyetujuinya." Ibu bersimpuh di kaki Mas Arka
"Berdirilah, Bu! Jangan lakukan ini."
"Mbak Lasmi juga rela bersujud di kakimu agar kamu menyetujuinya, Ka."
"Jangan Mbak! Bu! Arka mohon berdirilah!"
"Ibu nggak akan berdiri sebelum kamu menyetujuinya."
"Oke, Arka setuju," jawab Mas Arka lirih.
"Makasih ya, Ka kamu memang anak ibu yang paling baik," ucap ibu
"Makasih juga ya, Ka. Kamu memang adiku yang baik, Ka."
💔💔💔💔💔
"Jadi gini, Lis." Ibu memulai pembicaraan dengan kami.
"Gaji Arka mulai sekarang kita pakai untuk membantu cicilan hutangnya
si Lasmi. Nah untuk kebutuhan sehari-hari kita pakai pendapatanmu dari
menjahit, Lis."
"Nggak bisa gitu donk, Bu! Yang hutang kan Mbak Lasmi. Kenapa jadi kami yang harus ikut bayar!" jawabku sedikit emosi.
"Ibu mohon, Lis. Kamu mau ibu jadi gelandangan, kamu mau dicap menantu durhaka."
Aku terdiam sejenak.
"Kita ini kan keluarga, Lis. Jadi harus saling bantu. Lagian suamimu Arka sudah setuju kok."
Aku berlalu ke kamar. Tanpa menghiraukan omongan mereka lagi.
Mas Arka mengikutiku di belakang.
"Lis, mas mohon kamu setuju ya."
Aku tak menyahut.
"💔💔💔💔💔
Kini aku harus bekerja lebih keras karena aku harus mencukupi kebutuhan
rumah ini. Mengambil orderan jahitan sebanyak-banyaknya, kadang aku
harus lembur sampai menjelang pagi. Disamping itu aku juga berjualan
online untuk menambah penghasilan. Sedikit-sedikit aku juga menyisihkan
uang untuk aku tabung tanpa sepengetahuan mereka semua.
Kehamilanku yang kian membesar pun tak aku hiraukan.
"Kita belum membeli perlengkapan buat bayi kita, Lis," ucapnya Lirih.
"Boro-boro beli perlengkapan mas. Susu hamil dan vitamin saja ibuku yang kasih."
"Aku jadi nggak enak, Lis. Sama orang tuamu."
"Ya mau gimana lagi, Mas."
"Untung saja ada orang tuaku, yang selalu siap membantu. Nggak kaya orang tuamu yang selalu saja menganggu," jawabku ketus.
💔💔💔💔💔
Diusia kehamilanku yang sudah sembilan bulan aku masih sibuk
mondar-mandir ke sana ke mari mengantarkan jahitan. Ibu mertuaku masih
sama saja seperti dulu hanya ongkang-onkang kaki.
Kontraksi pun mulai sering aku rasakan. Namun aku tak peduli paling juga belum waktunya.
Dengan perut besar hari ini ku antarkan jahitan yang jaraknya lumayan cukup jauh.
Di tengah perjalanan tiba-tiba perutku mengalami kontraksi sangat
hebat. Segera ku menepi di pinggir jalan. Meminta tolong pada orang yang
lewat di situ. Seorang pengemudi becak membawaku ke rumah sakit,
untunglah jarak rumah sakit tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Kini Zio junior telah lahir. Tak berapa lama Mas Arka datang bersama
ibunya di susul bapak dengan ibuku. Mas Arka lalu mengadzani Zio junior
yang kami beri nama Ozi.
Semua kebutuhan Ozi ibuku yang menanggungnya.
💔💔💔💔
Tak terasa angsuran bank sudah selesai kupikir setelah ini semua akan
selesai ternyata aku salah. Mas Arka tetap sama seperti dulu hidup di
ketiak ibunya. Aku mulai lelah dengan semua ini.
Tabunganku juga sudah cukup untuk membuka usaha.
Setelah sekian lama hari ini akan kuberi kejutan pada Mas Arka dan
ibunya, kebetulan mereka pergi ke acara arisan keluarga di desa yang
jaraknya lumayan jauh.
Kejutan yang tak pernah Mas Arka duga sebelumnya.
Saat membaca surat ini mungkin aku sudah pergi jauh. Mas maafkan aku
aku harus pergi karena aku sudah tidak sanggup lagi hidup denganmu.
Sudah hampir sepuluh tahun aku bersabar dalam ke tidak berdayaan namun
kali ini aku menyerah. Menyerah menghadapi tingkahmu dan keluargamu.
Sebagai kejutan untukmu kulampirkan surat keputusan pengadilan mengenai
perceraian kita. Kamu pasti tidak menyangka aku akan berbuat seperti
itu, ya memang aku mengurusnya secara diam-diam. Hak asuh Zio dan Ozi
juga jatuh ketanganku. Sampaikan juga permohonan maafku pada ibumu,
maafkan selama ini aku belum bisa menjadi menantu idamannya.
Dari istrimu yang kampungan
Lilis
Taksi yang kupesan sudah datang.Segera kubawa barang-barangku menjauhi
rumah yang selama sepuluh tahun ini menciptakan neraka bagiku.
"Zio kita mulai kehidupan kita yang baru, Nak."
"Iya, Bu." Senyum manis terpancar dari wajahnya.
"Kutatap Ozi dalam gendonganku." Dan aku tersenyum. Kita akan mencipatakan surga kita sendiri, Nak."
Kucek kembali tiket penerbanganku ke kota Jambi untuk memulai hidupku kembali dengan Zio dan Ozi.
BERSAMBUNG...
#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian : 8
Penulis : Sumarni
Menikah itu pilihan menjadi ibu itu fitrah menjadi janda itu bukanlah
plihan, karena ujian berat hanya diberikan kepada wanita-wanita hebat.
Kini kulangkahkan kaki di Kota Jambi, kota yang aku sendiri belum
pernah kesini. Hidup seorang diri tanpa suami, dengan dua anak Zio dan
Ozi. Waktu menjelang sore hari aku harus mencari tempat untuk merebahkan
diri. Menyusui Ozi yang mulai menangis.
"Bu, maaf apa disini ada rumah yang dikontrakkan yang murah-murah saja," tanyaku pada seorang wanita setengah baya.
"Owh, kebetulan di ujung gang sana ada rumah Bu RT yang di kontrakan.
Ukurannya sih tidak terlalu luas, tapi kalau hanya untuk tempat tinggal
kalian insyaallah cukup."
"Maaf, bisa ibu antarkan saya ke rumah Bu RT ?"
"Tentu, ayo saya antar. Rumahnya di belakang sana."
Kugandeng tangan Zio mengikuti wanita setengah baya itu yang akhirnya kutahu namanya Macik Siti.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol, darinya kutahu kalau rumahnya terletak tiga rumah dari rumah yang akan kukontrak.
"Bu RT!"
"Iya, tunggu!" Seorang wanita usianya sekitar 40 tahun namun dia masih terlihat awet muda, kulitnya putih bersih.
"Ini, Bu. Ada yang mau mengontrak rumah ibu yang di ujung gang sana."
"O, iya. Silahkan masuk dulu saya ambilkan kuncinya. Dan sebelumnya maaf Mbak...." Sambil menunjuk aku.
"Lilis, Bu. Dan ini anak saya yang besar Zio dan yang kecil ini Ozi," jawabku sopan.
"Mbak Lilis, bisa saya lihat KTPnya terlebih dahulu untuk pendataan.*
"Bisa, Bu." Kuambil KTPku dari dalam dompet dan kuserahkan pada Bu RT.
"Saya catat dulu ya, Mbak."
Aku mengangguk.
Bu RT lalu menyerahkan kunci rumah itu. Macik Siti yang akan menemaniku melihat-lihat rumah itu.
Ruanganya tidak terlalu luas. Sesuai dengan budget yang dikeluarkan.
"Kalau begitu Macik pulang dulu ya, Neng." Pamit Macik Siti setelah
mengantarku melihat seluruh ruangan kontrakan ini, hanya ada tiga
ruangan kamar mandi, ruang tamu, dan dapur.
"Iya Macik. Terima kasih."
Setelah membersihkan seluruh ruangan, aku membeli beberpa peralatan
dapur dan bantal. Untunglah jarak kiosnya tidak terlalu jauh.
"Macik bantal yang ini berapa?"
"Lima belas ribu, Neng. Neng baru ya disini?"
"Aku mengangguk."
"Salam kenal ya, Neng. Saya Mpok Indun." Asal saya dari Jakarta, kalau
Neng pindahan dari mana?" tanyanya sambil memasukkan barang-barag
belanjaanku.
"Saya pindahan dari Banyuwangi, Mpok."
"Wah anak Neng, lucu ya. Ganteng-ganteng."
"Ahh, Mpok bisa aja."
"Kalau begitu saya pulang dulu ya, Mpok." Pamitku setelah membeli barang belanjaanku.
💔💔💔💔💔💔
Uang tabunganku hanya cukup untuk kehidupan kami tiga bulan kedepan
setelah aku ambil untuk membeli peralatan rumah tangga, mesin jahit, dan
pendaftaran sekolah Zio yang kini masuk SD.
"Zio besok mulai sekolah ya?"
"Benelan, Bu?"
Aku mengangguk.
"Zio janji, Bu. Zio akan belajar yang lajin bial jadi polisi."
"Iya sayang."
"Sekarang Zio tidur dulu, ya."
💔💔💔💔
Aku pun juga mulai membuka jasa jahit. Beberapa warga mulai memuji kerapihan jahitanku.
Aku sangat bersyukur ternyata hidupku lebih bahagia. Walaupun kadang
tak sedikit yang mencibir statusku sebagai janda. Tapi aku buktikan pada
mereka kalau aku janda yang bisa menjaga marwah harga diriku.
Jam menunjukkan pukul setegah sebelas siang. Saatnya aku menjemput Zio.
Zio masih terlalu kecil untuk pulang dan pergi sekolah sendiri.
Kugendong Ozi dan aku mulai mengendarai sepeda othelku. Sepeda yang kubeli di pasar barang bekas beberapa hari lalu.
"Ibu!" Zio berlari mendekatiku, seorang lelaki berseragam guru mengikuti langkahnya.
"Lilis!" Sapanya.
"Bapak kenal sama saya?" tanyaku heran.
"Kamu Lilis anaknya Bu Sasmita kan?"
Aku mengangguk.
"Bapak siapa ya?"
"Kamu lupa sama aku, Lis?"
Aku mengangguk
"Beneran kamu lupa?"
Aku kembali mengangguk.
"Aku Aji teman SMP mu dulu."
"Owh Aji yang sering mengirim surat cinta kepadaku sampai 99 kali itu?"
"Kamu masih ingat aja," terlihat muka Aji sedikit menahan malu.
"Kamh sekarang ngajar disini?" tanyaku mencairkan suasana.
"Iya, Lis. Kamu sendiri kok pindah kesini?"
"Emtt...anu."
Owekk
Owekk
Owekk
"Ozi sayang, Ozi haus ya."
"Kalau begitu aku pulang dulu ya."
Aji mengangguk.
Kukayuh sepeda onthelku menjauhi sekolah Zio.
Aji masih berdiri mematung melihat kepergian kami.
"Andai kamu tau, Lis. Sampai sekarang aku masih berharap padamu walaupun aku tau kamu sudah punya anak dan suami," batin Aji.
BERSAMBUNG......
Author lagi ada waktu luang nggak papa ya saya lanjut sekarang.
Salam sayang dari Author baby face sepanjang masa.
Sebenarnya sudah ada penerbit yang melirik cerbung ini, tapi author
masih pikir-pikir author kan hanya penulis recehan. Minder duluan.
Author juga lebih suka begini hehehe
Terimakasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan receh saya.
Tanpa kalian saya bukanlah apa-apa.
---
#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian : 9
Penulis : Sumarni
POV Arka
"Lilis!" teriakku.
"Lilis ini hari sudah menjelang malam kok lampunya nggak dinyalakan,"
omel ibu yang baru datang dari acara arisan keluarga bersamaku.
"Rumah juga masih berantakan kerjanya dari tadi siang itu ngapain saja."
Ibu terus saja mengomel sambil menendang bungkus rokok yang kubuang di
ruang tamu tadi pagi lengkap dengan puntungnya dan abu yang bertebaran.
Kucari Lilis di kamar namun tak ada sipapun di sana. Hanya kulihat lemari yang masih terbuka namun isinya sudah tidak ada
"Bu! Ibu!" Panggilku.
""Ada apa to, Ka. Ibu baru mau nonton serial TV Ikan Terbang malah kamu panggil," jawab ibu sedikit kesal.
"Lilis pergi dari rumah, Bu. Dia juga meninggalkan ini." Selembar surat
tulisan tangan Lilis dan surat pengadilan agama kutunjukkan pada ibu.
"Ya baguslah kalau dia pergi dan meninggalkanmu. Lagian dia bukan menantu dan istri yang baik buatmu!"
"Tapi, Arka tidak mau cerai dengan Lilis, Bu. Perceraian ini tidak sah
karena sekalipun Arka tidak menerima surat panggilan pengadilan, dan
Arka tidak pernah menandatangani surat apapun!"
"Sudahlah Arka kamu ini laki-laki mapan, ganteng, berbakti pada ibu pasti banyak wanita di luar sana yang mau denganmu."
"Tapi, Arka maunya hanya sama Lilis, Bu!"
"Pokoknya Arka akan cari Lilis kemanapun dia pergi," ucapku penuh keyakinan.
"Terserah kamu saja, Ka. Ibu capek mau tidur!"
Ibu berlalu ke kamarnya sedangkan aku masih berdiri mematung.
Beberapa menit kemudian.......
"Lis, sini pijetin kaki ibu!"
"Bu, Lilis kan sudah pergi," jawabku lirih.
"O, iya ibu lupa, terus yang mijitin ibu sampai ibu tertidur nanti siapa?"
"Ya, nggak ada."
Tampak wajah lesu terpancar dari wajah kami berdua.
💔💔💔💔💔
"Bu, kopi dan sarapan Arka mana?"
"Nggak ada. Kamu bikin aja sendiri!" jawab ibu sambil memainkan gawainya.
"Ya ibulah yang buatkan, kan gara-gara ibu Lilis pergi."
"Lho kok gara-gara ibu?! Istrimu saja tu yang nggak becus, sekarang malah minggat. Sudah kamu cari istri baru sana."
"Arka nggak mau! Arka maunya sama Lilis!"
Hari ini aku akan ke rumah Ibu Sasmita untuk mencari Lilis, pasti dia ada disana.
💔💔💔💔💔
"Bu! Ibu!"
"Iya! Tunggu sebentar!" Seorang wanita yang mulai menua membukakan pintu, segera kucium punggung tangannya dengan takzim.
"Bu apa Lilis ada di sini?"
"Nggak ada! Untuk apa lagi kamu kesini belum puas kamu menyakiti hati anak saya selama bertahun-tahun!"
"Arka mohon, Bu. Ijinkan Arka bertemu Lilis. Arka masih sangat mencintai Lilis," jawabku penuh mengiba.
"Bukannya surat dari pengadilan agama sudah keluar, ya!"
"Tapi perceraian kami tidak sah, Bu. Karena aku tidak pernah mendapat
surat panggilan pengadilan maupun tanda tangan berkas apapun! Jadi
sampai sekarang Lilis masih sah sebagai istri Arka.
"Memang Lilis yang menerima surat itu dan dia juga yang memalsukan tanda tanganmu, agar bisa keluar dari neraka di rumahmu."
"Arka mohon, Bu. Ijinkan Arka ketemu Lilis sekali ini saja."
Aku mulai berjongkok di kaki mertuaku.
"Ibu kan sudah bilang Lilis nggak ada di sini. Dia sudah pergi jauh. Berdirilah!
Aku berdiri kembali dengan wajah menunduk.
"Lilis kemana, Bu? Arka janji Arka akan berubah Arka mohon beri Arka kesempatan sekali lagi, Bu."
"Lilis sudah pergi ke Jambi. Sekarang pulanglah ibu sudah tidak ingin
melihatmu di sini lagi!" Ibu lalu menutup pintunya, dan aku pulang
dengan seribu perasaan kecewa.
💔💔💔💔💔
"Kamu dari mana, Ka?" tanya ibu yang sedang menyapu, baru kali ini selama sepuluh tahun ibu menyapu.
"Dari rumah Lilis, Bu. Tapi ternyata dia sudah pergi ke Jambi."
"Baguslah kalau begitu, jadi kamu bisa melupakan Lilis untuk selamanya. Kamu nggak kerja?"
"Males, Bu. Arka mau resign saja dan nyusul Lilis ke Jambi."
"Kamu jangan gila, Ka. Kamu mau cari Lilis kemana! Jambi itu luas! Lagian kesana juga kan butuh biaya!"
"Tekad Arka sudah bulat, Bu. Arka akan jual mobil Arka untuk biaya ke
sana. Arka akan mencari Lilis ke seluruh sudut kota Jambi."
"Arka, ibu tidak mengijinkan! Masih banyak wanita lain yang mau denganmu. Buka matamu!"
"Arka mohon, Bu. Ijinkan Arka pergi!" Aku mulai menitikan air mata.
"Sudah usap air matamu! Silahkan kamu pergi tapi jangan harap ibu akan menerima Lilis sebagai menantu ibu kembali."
Ibu berlalu ke kamarnya.
"Ibu yang dulu berjuang melahirkan dan membesarkanmu tapi demi wanita
itu kamu sudah berani membantah perintah ibu. Kamu sudah tidak
menganggap aku ibu lagi!" bentaknya sambil terisak.
"Arka mohon
ibu jangan bilang seperti itu sampai kapanpun Arka tetap anak ibu."
Kucium punggung tangan ibuku yang mulai menua itu.
"Restui Arka pergi, Bu."
"Silahkan kamu pergi..." jawab ibu lirih, dia masih memalingkan wajahnya dariku.
💔💔💔💔💔💔
"Sal kamu bisa tolong aku?"
"Tolong apa, Ka?"
"Kamu beli mobilku."
"Kamu serius? Itu kan mobil kesayanganmu?"
"Aku serius aku ingin menyusul Lilis ke Jambi."
"Hahhahahaha, nggak salah, Ka. Seorang Arka rela menjual barang kesayangannya untuk seorang wanita kampung."
"Nggak usah meledek. Kamu mau tidak?"
"Oke, aku bayar. Nanti kamu siapkan surat-suratnya nanti sore aku ke rumahmu.
💔💔💔💔💔
Hasil penjualan mobil lebih dari cukup untuk bekalku ke Jambi. Dari
siang ibu tak keluar dari kamarnya, kuketuk pintunya tapi tak dibuka.
"Arka mohon, Bu. Ibu jangan begini. Sampai kapanpun Arka akan tetap
anak ibu. Arka janji Arka akan menuruti semua perintah ibu kalau Arka
sudah membawa Lilis kembali ke sini."
Perlahan-lahan pintu dibuka.
"Ibu hanya tidak ingin kehilanganmu, Ka." Ibu memelukku.
"Ibu nggak akan pernah kehilangan Arka. Arka akan tetap menjadi anak
ibu. Sekarang Arka mau mengemasi beberapa baju Arka. Besok Arka
berangkat ke Jambi. Arka mohon restu ibu, agar bisa membawa Lilis
kembali kesini."
BERSAMBUNG.....
-----
#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian : 10
Penulis : Sumarni
POV Wahyuni
"Lasmi!"
"Lasmi!" panggilku pada anak sulungku itu.
"Iya tunggu." Lasmi membukakan pintu masih memakai piyama tidur.
"Ibu ngapain pagi-pagi kesini?"
"Arka pergi ke Jambi nyusul Lilis. Ibu kesepian di rumah sendiri. Kamu
sudah masak belum? Ibu lapar jadi ibu ke sini. Ibu juga nggak punya
uang."
"Belum, Bu. Lasmi kan baru bangun tidur."
"Kebetulan ibu kesini jadi ibu bisa bersih-bersih rumah ini. Bik Jum
sedang pulang kampung, suaminya sakit." Menantuku Irwan turut menimpali.
"Lho, Wan. Kok jadi ibu yang bersih-bersih?"
"Bu, di dunia ini nggak ada yang gratis. Kalau ibu mau sarapan ya ibu kerja dulu!" Bentaknya.
"Lis, bilang suamimu, aku ini kan mertuanya. Masa' disuruh bersih-bersih." Bisikku pada Lasmi.
"Maaf, Bu. Lasmi tidak bisa menolak perintah Mas Irwan karena dia suami
Lasmi. Lebih baik ibu turuti saja perintahnya, dari pada Mas Irwan
marah dan mengusir ibu.
"Lagian ibu kan cuma numpang di sini," jawab Lasmi.
"Harusnya Irwan itu memperlakukan aku sebagai ratu aku kan mertuanya ini malah aku di jadikan babu," bisikku dalam hati.
"Bu, sapunya di sana dan pelnya di belakang, jangan malah bengong di situ!"
"I-iya, Wan."
Aku lalu bergegas mengambil sapu dan pel. Kubersihkan seluruh ruangan di rumah ini.
"Bu, habis ini ibu mandiin Kenzie dan siapkan semua perlengkapan sekolahnya."
"Kenapa bukan kamu, Las yang melakukaknya?"
"Lasmi sebentar lagi ada pertemuan dengan sosialita jadi Lasmi nggak
bisa mengurus Kenzie. Setelah itu ibu masak untuk makan siang, jangan
lupa piringnya di cuci sekalian, baju juga, baru ibu boleh makan."
"Las aku ini ibumu, ibu yang melahirkanmu kenapa kamu perlakukan ibu seperti ini?"
"Ibu, nggak usah lebay. Sudah bagus Lasmi kasih makan. Kalau nggak ibu mau ngemis di jalan?"
"E-enggak, Las."
"Ya, Sudah kalau begitu turuti perintah kami!" Bentak mereka berdua.
"Kenzie!" Panggil Lasmi pada anak semata wayangnya itu.
"Iya, Bu."
"Hari ini mbah yang akan urus Kenzie. Ibu ada acara, ini uang jajan buatmu."
Lasmi menyerahkan selembar uang berwarna biru.
"Ayo Kenzie, kamu mbah mandiin dulu. Habis itu mbah siapkan segala
keperluan sekolahmu." Ajakku pada Kenzie yang baru bangun tidur.
"Iya, Mbah."
💔💔💔💔
Rasanya lelah sekali mengurus pekerjaan rumah sendirian apalagi rumah Irwan terdiri dari dua lantai. Rasanya encokku kumat.
Jam menunjukkan pukul empat sore, kurebahkan diri ini di depan TV, untuk menonton FTV di stasiun ikan terbang.
"Ibu! Bentak Irwan
"Siapa yang suruh ibu tidur di situ! Lihat kaki ibu itu kotor! Cepat turun!"
"I-iya ma-maaf, Wan."
"Ibu tau nggak sofa ini harganya mahal, ibu nggak akan sanggup membelinya."
"Huhf, baru punya sofa kaya gitu aja sudah sombong." Gerutuku dalam hati.
"Ada apa, Mas?" tanya Lasmi yang baru datang.
"Ini ibumu kamu ajari sopan-santun. Awas kalau kaki kotornya menginjak sofa itu lagi."
"Ibu, ini bisanya bikin masalah saja. Nyesel aku nerima ibu di sini. Lagian kenapa sih ibu nggak pulang ke rumah ibu sendiri!"
"Ibu kesepian di sana, Las. Kalau di sini kan ada cucu dan anak ibu."
"Iya, tapi kehadiran ibu di sini itu malah bikin masalah buat Lasmi. Ibu kan tau dari dulu Mas Irwan nggak suka sama ibu."
"O, iya nanti malam ibu tidur di kamar belakang, di kamar pembantu."
"Lho, Las kamar depan dan kamar tamu kan masih banyak yang kosong, kenapa ibu di suruh tidur di kamar pembantu?"
"Sudah ibu nggak usah protes. Ini semua perintah Mas Irwan. Lasmi nggak bisa berbuat apa-apa."
"O, iya kalau ibu mau makan ibu makan nasi sama kerupuk saja. Soalnya
daging yang tadi ibu masak khusus buat Mas Irwan. Lagian ibu kan sudah
tua, nggak perlulah makan daging. Nanti malah kolestrol."
Baru
kali ini aku di perlakukan seperti pembantu oleh anak dan menantuku
sendiri, padahal dulu saat bersama Lilis dan Arka aku di perlakukan
seperti ratu.
💔💔💔💔💔💔💔
Kurebahkan diri ini di kamar yang sempit, nyamuk-nyamuk mulai
menghinggapiku. Berkali-kali kutepukkan tanganku untuk membunuh mereka.
"Lasmi dan Irwan benar-benar tega!" Aku menggerutu sendiri.
Kulihat uang di dompetku tinggal sekeping koin bergambar wayang, warisan jaman nenek moyang.
Kutatap langit-lagit kamar yang mulai di tumbuhi sarang laba-laba.
Memikirkan hidupku yang mulai menderita karena di tinggal Arka.
"Apa besok aku cari kerja saja? Nomor telfon Arka di hubungi
berkali-kali juga nggak bisa. Uang gaji Arka bulan ini juga sudah aku
habiskan untuk foya-foya dan membayar cicilan tasku pada Bu Maya. Tapi
aku mau kerja apa di usiaku yang mulai renta." Aku mulai menggerutu
sendiri.
Ahh, kini diriku menjadi Nenek Tapasya yang merana!
BERSAMBUNG....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar