Bagian : 1
Oleh : Sumarni
Share boleh, copas Jangan!!
Aku dan Mas Arka sudah menikah selama delapan tahun. Sejak pengantin baru, Mas Arka sudah mengajakku tinggal di rumah ibunya. Karena memang Mas Arka anak bungsu, jadi sudah menjadi kewajibannya mengurus ibu yang tinggal seorang diri dihari tuanya. Aku pun tak keberatan, bagiku ibu mertua seperti ibu kandungku sendiri. Karena di kakinya lah surga Mas Arka berada.
"Kenzie! Sini, Nak. Mbah punya sesuatu buat kamu!" Ibu memanggil Kenzie keponakanku, anak dari iparku.
"Iya, Mbah." Kenzie berlari kecil mendekati mbah putrinya.
"Ini es krim buatmu. Tadi mbah baru beli dari Mall." Sambil memberikan tiga bungkus es krim.
Ku lihat anakku Zio mematung melihat pemandangan itu. Pasti dalam hatinya berharap diberi es krim yang sama. Lidah mungilnya menjilat bibir merah mudanya.
Perlahan-lahan langkahnya mendekati mbahnya. Namun mbahnya bergegas memasukkan kembali es krim itu kedalam kamarnya. Memang di kamar ibu juga di sediakan kulkas mini.
Aku tahu apa yang di pikirkan Zio. Segera ku dekati dia dan ku peluk.
"Zio, pengen es krim?" tanyaku sambil berjongkok sejajar dengan tinggi badanya.
Dia mengangguk.
"Nanti ibu belikan, ya? Zio jangan sedih lagi," ucapku sembari menyingkirkan rambut yang mulai menutupi matanya.
"Tapi, ibu kan nggak punya uang. Zio sering dengar kalau ayah selalu memberikan semua uang gajinya untuk mbah," ucapnya polos.
Memang sejak menikah aku belum pernah sekalipun memegang uang gajinya Mas Arka. Semua diserahkan sepenuhnya kepada ibu mertuaku. Menurut Mas Arka ibu lebih berhak mengatur uang gajinya, karena sampai kapanpun anak laki-laki tetaplah milik ibunya. Aku sebagai istri hanya bisa menuruti kemuan imamku itu. Pernah sekali aku memintanya mengalihkan tanggung jawab itu padaku, namun jawabannya " kamu belum tentu bisa mengatur keuangan seperti ibu, mas hanya takut uang gaji mas habis sia-sia kalau kamu yang mengaturnya."
Ku pegang pipi anakku itu.
"Doakan ibu ya, Nak. Semoga hari ini ibu punya rezeki buat membelikanmu es krim."
Ku peluk anakku itu kembali dengan sangat erat.
💔💔💔💔💔💔
"Mas, maaf mas ada uang nggak? Dari siang Zio ingin sekali beli es krim," pintaku pada separuh jiwaku itu.
"Lis, kamu kan tau sendiri uang gaji mas, sudah mas serahkan semuanya pada ibu. Mas hanya pegang uang buat bekal mas berangkat kerja selama sebulan. Coba kamu minta sama ibu, Lis!" jawabnya sambil membalas chat dari beberapa temannya.
Meminta pada ibu, rasanya sulit, sama saja menyayat hati. Tapi demi buah hati, aku coba mengajukan diri.
"Bu, maaf apa ibu masih punya es krim? Dari tadi siang Zio ingin sekali makan es krim."
"Ada, tapi itu buat cucuku Kenzie. Kalau kamu mau beli saja sendiri," jawab ibu tanpa menoleh kearahku. Masih sibuk menonton film di stasiun tv ikan terbang.
Perlahan-lahan aku kembali ke kamar Zio, menemani ia belajar. Air mata yang hendak menetes sekuat tenaga aku tahan.
Ku pandangi wajah anak semata wayang ku itu lekat-lekat.
"Maafin ibu, Nak. Ibu belum bisa membahagiakanmu," ucapku dalam hati.
Andaikan ibu bekerja pasti ibu bisa membelikanmu es krim. Namun sejak aku hamil Mas Arka melarangku bekerja, sunnah wanita itu dirumah begitu alasannya.
BERSAMBUNG....
#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian :2
Penulis : Sumarni Saja
Malam ini aku memilih tidur dengan Zio. Namun sudah lewat tengah malam mata ini masih enggan terpejam. Kupandangi wajah anakku dan aku mulai tertidur. Tak berapa lama mata ini terjaga kembali, ku ambil air wudhu, ku tanaikan sholat malam. Aku bermunajat pada sang Khaliq.
"Ya Allah, yang maha pengasih, lagi maha penyayang. Dzat yang maha membolak-balikkan hati manusia. Hamba mohon ya Allah lembutkanlah hati suami hamba, sadarkanlah ia akan kewajibanya sebagai suami, serta lembutkanlah hati mertua hamba ya Allah, buatlah agar dia bisa menyayangi hamba seperti dia menyayangibanaknya sendiri. Hamba mohon kepadamu, sesungguhnya Engkaulah yang maha mengabulkan doa."
Kuusapkan kedua telapak tanganku ke wajah, tak lupa ku ucapkan kata AMIIN.
Cukup lama aku terdiam diatas sajadah, membiarkan air mata ini menetes begitu saja. Namun aku tetap yakin suatu saat Mas Arka akan berubah begitu juga ibu mertuaku.
Suara ayam jago membuyarakan lamunanku, segera aku bereskan mukenaku dan bergegas ke dapur. Menyiapkan menu sarapan untuk anggota keluarga ini.
💔💔💔💔
"Mas ini kopinya." Kuserahkan secangkir kopi untuk Mas Arka.
"Iya, makasih."
"Emt ... Mas Lilis ingin ngomong sesuatu sama mas," ucapkau sedikit ragu.
"Ngomong aja, Lis."
"A-anu Lilis ijin kerja boleh nggak."
"Sudah berapa kali, mas bilang, Lis. Tugas istri itu di rumah. Toh, semua kebutuhan juga sudah tercukupi!"
"Iya tu istrimu dibilangin kok ngeyel. Lagian kalau kamu kerja siapa yang mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Masa' ibu! Ibu ini kan sudah tua, Lis!" Ibu mertuaku turut menimpali.
"Nanti sebelum Lilis berangkat kerja Lilis janji akan menyelesaiakan semua pekerjaan Lilis, Bu."
"Lagian kamu mau kerja apa, Lis? Kamu itu hanya lulusan SMP."
"Lilis belum tau, Mas," jawabku lirih.
"Ya sudah mas berangkat dulu. Takut kesiangan. Zio berangkat sama ayah, ya."
Setelah mencium punggung tangan Mas Arka, Mas Arka melajukan mobilnya. Kulambaikan tanganku pada Zio.
Senyum indah terukir dari wajah anak kecil itu.
💔💔💔💔💔💔💔
Kurebahkan diri ini di sofa, untuk meluruskan tubuhku yang dari tadi pagi kaku. Kubuka gawaiku, mencari informasi tentang lowongan kerja dari teman-temanku.
"Enak banget kamu jam segini sudah selonjoran, tu lihat cucian piring numpuk, rumah juga belum di pel, baju belum di cuci kamu malah enak-enakan disini!" Omelan ibu membuatku menghentikan aktifitasku memainkan gawai.
Ting. Sebuah notifikasi SMS masuk ke HPku
[Lis, hari ini kamu jemput Zio, ya. Mang Ujang yang biasa jemput Zio lagi sakit] pesan dari Mas Arka.
[Baik, Mas]
Segera ku selasaikan pekerjaan rumahku. Tak peduli lagi dengan bau badanku atau rambutku yang awut-awutan.
💔💔💔💔💔
Gawat sudah jam 12 siang itu berarti aku sudah terlambat menjemput Zio.
Ku stater motor maticku ke sekolah Zio.
Namun tak ada Zio disana, "kemana Zio pergi?" tanyaku dalam hati.
"Maaf, Pak. Apa masih ada siswa di dalam soalnya anak saya Zio belum pulang?" tanyaku pada penjaga sekolah.
"Maaf, Bu. Semua siswa sudah pulang. Sudah tidak ada lagi orang disana saya baru saja memeriksanya."
"Kemana kamu Zio?" Aku cemas memikirkan anakku yang baru berusia lima tahun itu.
Semua tempat aku cari, hampir semua orang yang kutemui aku tanyai, namun jawabanya NIHIL.
Aku terus berdoa dalam hati, semoga buah hatiku baik-baik saja.
Mataku tertuju pada sosok anak yang duduk di ujung jalan.
Segara kuhampiri dia. Itu seperti Zio. Dan benar itu memang Zio.
"Zio kamu ngapain di sini, Nak? Ibu sudah mencarimu kemana-mana." Ku ciumi anakku yang masih menikmati es krim itu.
"Dan ini es krim kamu dapat dari mana, Nak?"
"Tadi Zio bantuin Om Sahrul jualan koran, Bu. Terus upahnya Zio belikan es krim. Dan ini sisanya buat ibu." Di serahkan uang lembaran dua ribuan itu entah berapa jumlahnya.
"Zio lain kali Zio jangan ulangi lagi ya. Tugas Zio itu belajar. Nanti kalau ayahmu tau ibu yang dimarahin."
"Ibu, jangan bilang ayah. Ini rahasia kita berdua." Diajukannya jari kelingking mungilnya pertanda dia memintaku berjanji.
"Ibu janji. Tapi jangan kamu ulangi lagi." Kusambut jari kelingking anakku itu dengan jari kelingking miliku.
Ku peluk ia sangat erat. Ingin sekali aku teteskan air mata ini dihadapannya,namun aku segera menghapusnya.
"Sekarang kita pulang, ya. Nanti takut mbah nyariin kita."
BERSAMBUNG.......
#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian
Penulis : Sumarni
"Kalian dari mana saja, kok jam segini baru pulang!"
"Ma-maaf, Bu. Tadi Zio ada kegiatan tambahan jadi pulangnya agak siang," jawabku berbohong.
"Kenzie sini!" Ibu memanggil Kenzie yang baru pulang sekolah.
Kenzie lalau memarkirkan sepedanya di halaman rumah kami.
Diciumnya punggung tangan mbahnya, juga punggung tanganku.
"Kenzie hari ini gimana sekolahnya? Dapat nilai berapa?" tanya ibu pada cucu kesayangannya itu.
"Ini, Mbah Kenzie dapat nilai 80." Sambil memberikan buku tugas hariannya.
"Wah, pinternya cucu mbah." Sambil menciumi Kenzie berkali-kali.
"Mbah Zio hari ini dapat nilai seratus,"ujar anakku sambil menunjukkan angka seratus di buku tugas hariaanya. Namun sedikitpun ibu tidak meliriknya.
Tak ingin anakku terlalu lama murung, segera kucairkan suasana itu.
"Wah, Zio dapat nilai seratus. Mana coba ibu lihat."
Kuambil buku dari uluran Zio, senyum mulai terpancar dari wajahnya, walaupun rasa kecewa yang lebih banyak terlihat.
"O, iya! Anak ibu memang pinter." Kucium anakku itu berkali-kali.
"Kalau begitu Kenzie pulang dulu ya, Mbah."
"Iya hati-hati di jalan," ucap kami serempak.
Setelah mencium punggung tangan ibu dan punggung tanganku, Kenzie melajukan sepedanya menjauhi rumah kami.
💔💔💔💔💔
"Bu, Zio boleh bantuin ibu?"
"Boleh sini sayang," jawabku masih sibuk menyiangi kangkung yang akan dimasak nanti sore.
"Bu...."
"Iya, sayang."
"Mbah nggak sayang ya sama Zio?"
"Kata siapa? Mbah sayang kok sama Zio. Buktinya Zio setiap hari dikasih uang jajan."
"Tapi uang jajan Zio sama Mas Kenzie kok beda, Bu. Zio cuma seribu dikasih sama mbah, sedangkan Mas Kenzie dikasih sepuluh ribu sama mbah."
"Zio sayang berapapun yang mbah kasih buat Zio, Zio harus mensyukurinya. Anak ibu nggak boleh cengeng katanya kalau besar mau jadi polisi."
Kulanjutkan pekerjaanku menyiangi kangkung yang tadi sempat terhenti. Hanya kebisuan yang terjadi pada kami. Perasaan berkecamuk didalam sana.
💔💔💔💔💔
"Lilis!"
"Ibu!" Suara panggilan Mbak Lasmi ibunya Kenzie rumahnya sekitar enam rumah dari rumah kami. Rumahnya cukup luas, dua kali lipat luasnya dari rumah kami. Suamimya juga bekerja sebagai menejer di perusahaan besar, gajinya pun lebih besar dari gaji Mas Arka.
"Iya tunggu sebentar." Kubuka pintu dengan tergopoh-gopoh.
"Mbak Lasmi, masuk, Mbak!"
Mbak Lasmi hanya mengangguk.
"Ibu ada, Lis?"
"Ada di kamarnya."
"Ehh Lasmi. Sebentar ibu buatin minum dulu," saut ibu yang baru keluar dari kamarnya.
"Nggak usah, Bu. Biar nanti Lasmi bikin sendiri aja," jawab Mbak Lasmi santun.
"Ya, sudah kalau gitu sini! Kita ke kamar ibu."
Aku pun melanjutkan pekerjaanku menyetrika pakaian.
"Ini ibu punya rendang buat Kenzie dan buat kamu juga suamimu," bisik ibu pada Mbak Lasmi namun aku masih cukup jelas mendengarnya.
"Terimakasih ya, Bu."
"Ini masih sedikit buat ibu, dan buat Arka."
Setelah cukup lama ngobrol dengan ibu, Mbak Lasmi berpamitan pulang.
💔💔💔💔
Malam ini seperti malam-malam sebelumnya kami akan makan malam bersama. Ini sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun dikeluarga Mas Arka.
"Arka bawa sini piringmu!" titah ibu.
"Buat apa, Bu?"
"Sudah bawa sini saja."
Mas Arka mendekati ibunya. Mengulurkan piring yang ia bawa.
"Ini daging rendang buatmu."
"Ayah! Zio juga mau daging rendang." Renggek Zio.
Mas Arka menarik nafas panjang.
"Ini, Zio makan saja."
Seketika itu kulihat raut wajah ibu berubah merah, memendam kekesalan.
"Masih kecil, kok nggak tau sopan santun," celetuk ibu sambil sedikit memukulkan sendoknya ke piring.
Kulihat Zio menunduk.
"Zio lanjutkan makanmu, Nak," titahku.
Zio hanya mengangguk.
BERSAMBUNG.....
----
#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian : 4
Penulis : Sumarni
Kurebahkah diriku sejajar Mas Arka. Kupandangi langit-langit kamar.
"Mas, gimana kalau kita ngontrak saja?"
"Kenapa harus ngontrak? Sayang, Lis uangnya, lagian apa kata orang nanti punya rumah kok ngontrak. Mereka pasti akan menganggap hubungan kita dan ibuku tidak baik."
"Tapi, Mas ..."
"Lis, belajarlah untuk tidak baperan. Jangan apa-apa kamu masukin dalam hati nanti kamu sendiri yang rugi. Anggap saja omongan ibu itu angin lalu, namanya juga orang tua. Maafkan mas, yang tak pernah membelamu di depan ibu, karena aku nggak mau di cap anak durhaka yang berani membangkang orang tua.
"Tapi, ibumu dari dulu memang tidak suka padaku, Mas."
"Pintar-pintarnya kamu lah, Lis. Gimana caranya mengambil hati ibu."
"Tapi aku sudah coba nyatanya nggak ada perubahan!"
"Kamu jangan menyerah, yakinlah suatu saat ibu bisa menyayagimu."
Dibelainya rambutku.
"Sekarang tidurlah hari sudah malam."
Dikecupnya keningku, dan tak lupa dia mematikan lampu.
💔💔💔💔💔💔💔
Hari ini aku berencana mengunjungi ibuku, sudah lama aku tak berkunjung kesana. Tak lupa aku juga mengajak Zio.
"Ibu!"
"Ibu!" Panggilku pada wanita yang 25 tahun lalu melahirkanku itu.
"Zio! Lilis! Kalian apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Bu."
Ibu masih menciumi Zio berkali-kali mungkin dia memang sangat rindu pada cucu semata wayangnya itu.
"Zio sudah makan?"tanyanya lagi.
Zio menggeleng.
"Sekarang Zio makan ya. Tadi pagi mbah masak rendang."
Zio berlalu masuk kedalam rumah. Zio memang sudah terbiasa kalau disini ambil makan sendiri.
"Duduk, Lis!"
Aku mengangguk.
"Kamu kenapa? Masih soal suamimu itu lagi?"
Aku mengangguk.
"Lis, jika memang kamu sudah tidak sanggup lagi, berpisahlah."
"Tapi Lilis nggak mau jadi janda, Bu. Apa kata orang nanti. Lilis juga nggak mau Zio kehilangan sosok seorang ayah."
"Dengan mengorbankan kebahagiaanmu?" Mata ibu sedikit melotot.
"Lis, ibu dan bapak masih sanggup kalau hanya memberimu makan. Dan mencukupi kebutuhan Zio."
"Tapi perceraian itu bukan solusi, lagian perceraian itu sangat dibenci Allah. Lilis yakin suatu saat ibu dan Mas Arka bisa berubah."
"Sampai kapan, Lis. Ini sudah delapan tahun sedikitpun tak ada perubahan pada sikap mereka, yang ada malah semakin menjadi-jadi."
"Lis .....seorang istri itu "pendaringan" buat suaminya. Pendaringan itu artinya wadah beras. Jadi berapapun gaji yang diterima suami maka istrinyalah yang berhak mengelolanya. Bukan malah ibunya. Memang benar sampai kapanpun anak laki-laki tetap milik ibunya, tapi bukan begitu penerapannya. Seorang suami harus bisa menempatkan dirinya sebagai suami dan anak dalam porsi yang pas."
"Lilis tidak ingin Mas Arka jadi anak durhaka, Bu. Lilis juga nggak mau menjadi istri yang tidak patuh pada suami. Lilis ingin meraih surga dengan berbakti pada suami Lilis, Bu."
"Surga yang mana yang kamu bicarakan. Apakah suami yang tidak menafkahi istrinya itu bisa masuk surga. Lis, nafkah itu bukan hanya sekedar makan, pakaian, dan tempat tinggal tapi lebih dari itu, Lis."
Ibu menghela nafas panjang.
"Sekarang apa rencanamu?"
"Lilis ingin bekerja tapi Mas Arka melarangnya."
"Emtt, begini saja, Lis. Kamu kan bisa menjahit. Kamu menjahit saja di rumah. Diujung gang sana ada konveksi yang membutuhkan penjahit, jahitannya bisa dibawa pulang. Nanti ibu antarkan kamu kesana."
"Tapi, Lilis nggak punya mesin jahit, Bu."
"Masalah itu jangan kamu fikirkan. Kebetulan hasil panen kali ini melimpah ibu punya tabungan lima juta bisa kamu gunakan dulu."
"Tapi, apa ibu nggak papa?"
"Nggak papa, Lis. Ibu nggak tega kalau anak yang ibu besarkan dengan penuh tetesan keringat hidup menderita. Kamu harus bangkit, Lis. Manfaatkan HPmu dari sana kamu kan bisa belajar banyak desain baju."
"Iya, Bu. Terimakasih."
"Mbah, rendang buatan mbah enak sekali, Zio sampai nambah lho mbah makannya," ucap Zio sambil berlari ke pangkuan mbahnya.
"Lis, kalau kamu mau kamu bawa pulang saja rendangnya."
"Nggak usah, Bu. Lilis nggak enak sama ibunya Mas Arka."
"Zio, ini uang jajan buat Zio." Ibu memberikan selembar uang berwarna merah.
"Terimakasih, Mbah."
"O, iya bapak kemana, Bu?"
"Bapak tadi ke kerumah Pak RT. Katanya ada rapat pemilihan RT yang baru.
"Sekarang ibu antarkan kamu ke konveksi di ujung gang sana."
"Iya, Bu."
💔💔💔💔💔💔
"Lis, kamu dari mana?" tanya mertuaku.
"Dari rumah ibu, Bu."
"Itu mesin jahit siapa?"
"Punya ibu, tadi ibu pinjemi buat Lilis. Lilis sekarang mau menjahit saja, Bu. Jadi Lilis masih bisa bekerja sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah."
"Terserah kamu saja. Yang penting kamu nggak nyuruh ibu saja mengerjakan semuanya."
"Lis, tadi Lasmi beli gelang gede lho. Kamu nggak akan mampu membelinya. Lasmi itu memang beruntung sudah dapat suami kaya, pinter lagi. Nggak kaya Arka cari istri kok orang kampung, miskin lagi."
Aku hanya bisa beristigfar berkali-kali dalam hati.
"Berikan hamba kesabaran untuk menghadapi sikap mertua hamba ya Allah." Doaku dalam hati.
💔💔💔💔💔💔💔
Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, tapi jahitanku belum juga selesai padahal besok jahitan ini sudah harus selesai.
Berkali-kali kuhela nafas, untuk memberikan kekutan baru dan melawan rasa kantukku.
"Ibu belum tidur?" tanya Zio di ujung pintu.
"Bentar lagi, Nak."
"Sekarang Zio tidur lagi, ya. Besok kan sekolah."
"Tapi, Zio mau temani ibu."
"Ya, sudah Zio tidur di sini saja. Di sebelah ibu."
Zio pun menuruti perintahku. Matanya mulai terpejam kembali. Zio kamulah sumber kekutan ibu.
Kantuk pun kembali menyerangku, tak terasa aku pun mulai tertidur di meja mesin jahit.
💔💔💔💔💔💔
Upah jahitannya memang tidak terlalu banyak. Tapi aku senang akhirnya setelah bertahun-tahun aku bisa memegang uang sendiri. Rencananya uang hasil upahku menjahit akan kupakai untuk ikut program kejar paket C. Kalau nanti ada kesempatan aku pun juga ingin melanjutkan kuliah.
BERSAMBUNG....
#Mungkin Aku Yang Baper
Bagian 5
Penulis : Sumarni Saja
POV Wahyuni (ibunya Arka)
"Bu kenalin ini Lilis calon istri Arka," ucap Arka anak bungsuku.
"Lilis, aku seperti pernah mendengar nama itu. Itu seperti nama anaknya Sasmita." Batinku dalam hati.
"Duduk!" titahku.
Dari pada penasaran mending aku tanyakan saja.
"Siapa nama ibumu?"
"Sasmita, Bu," jawabnya menunduk.
Ternyata benar dia anaknya Sasmita sahabatku sekaligus orang yang telah merebut laki-laki yang saat itu sangat kupuja-Mas Yusrizal.
Flash back
Oktober 1990
Sebuah surat undangan terpampang jelas nama Sasmita dan Yusrizal
"Tega kamu, Sas. Padahal kamu kan tau dari dulu aku suka sama Mas Yusrizal!"
"Maafin aku, Ni. Aku nggak bisa menolak karena Mas Rizal lebih memilih aku dari pada kamu. Aku pun juga mencintainya."
Plaaaak. Tamparan keras mendarat dipipi Sasmita.
"Kamu penghianat, Sas. Kamu tega menghancurkan persahabatan kita. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu! Enyah kamu dari sini!!
"Ma.. maafin aku, Ni."
Wahyuni menutup pintu sangat keras. Sementara itu Sasmita pergi dengan perasaan sangat pilu.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku tidak mau lagi mengenalmu atau pun berhubungan lagi dengan keluargamu." Janji Wahyuni dalam hati.
Flashback off.
"Arka ibu tidak setuju kamu menikah dengan dia!" ucapku Tegas.
Aku berlalu ke kamar, Arka mengikutiku.
"Arka mohon, Bu. Restui kami." Arka bersujud dikakiku.
Rasanya tak tega melihat anakku berbuat seperti itu.
"Arka menyingkirlah! Sekali ibu bilang tidak! Ya tidak!"
"Ibu Arka mohon." Arka menangis dikakiku. Membuat hatiku semakin pilu.
"Baik ibu akan merestui kalian, asalkan dengan satu syarat."
"Apa itu, Bu?"
"Kamu harus menuruti semua perintah ibu, kamu juga harus tetap mempercayakan gajimu pada ibu."
"Baik, Bu. Terimakasih ya, Bu."
💔💔💔💔
"Wahyuni, terimakasih kamu sudah merestui pernikahan Lilis dan Arka," ucap Sasmita dikala acara resepsi pernikahan.
"Kalau bukan karena Arka anakku yang ngotot menikahi anakmu, aku juga nggak mau berbesanan denganmu, Sas!" jawabku lalu aku meninggalkannya.
"Kamu pikir aku akan semudah itu menerima anakmu di sini, Sas. Kamu salah besar. Aku akan buat neraka untuk anak semata wayangmu itu," batinku dalam hati"
"Lis, kamu jangan senang dulu kamu pikir setelah kamu menikah dengan anakku. Aku akan menerimamu. Kamu salah besar, Lis," ucapku berbisik pada Lilis yang sedang melakukan sungkeman di hadapanku."
"Bu, Lilis yakin suatu saat ibu bisa menyayangi Lilis seperti anak ibu sendiri."
"Jangan mimpi kamu, Lis!" ucapku penuh kebencian.
💔💔💔💔💔
Kini Arka dan Lilis tinggal denganku, memang dari awal aku sudah menyuruh Arka untuk tetap tinggal denganku. Biar bagaimana pun Arka anak laki-lakiku sampai kapan pun akan jadi milikku. Aku yang dulu dengan susah payah membesarkannya. Mengurusnya dari bayi, menyekolahkannya hingga ia sukses seperti sekarang ini, seorang diri. Karena Mas Asep-suamiku pergi dengan wanita lain.
Ternyata ada untungnya juga punya menantu orang kampung. Bisa disuruh-suruh. Kini hidupku enak punya pembantu gratis. Aku tinggal ongkang-ongkang kaki, duit mendarat sendiri. Siapa dulu Wahyuni! Aku berbangga hati.
Sejak Lilis hamil aku senang sekaligus benci. Senangnya karena anak laki-lakiku akan segera memberiku cucu, bencinya cucuku itu turunannya Sasmita.
Lagian aku juga sudah punya cucu dari anak perempuanku Lasmi. Jadi aku tidak terlalu kecewa.
Aku nggak boleh lemah. Zio itu turunannya Sasmita dia juga patut kubenci. Bahkan aku jengkel jika dipanggil mbah olehnya.
Aku juga tidak rela kalau uang anakku dipakai untuk kebutuhan turunannya Sasmita.
BERSAMBUNG....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar