#Ampera_Bridge2
#POV Ilham
*
Matahari mulai beranjak dari peraduan, bias cahaya menyelinap di celah jendela, tersenyum manis menyapa manusia agar memulai aktifitasnya.
Aku keluar dari kamar menuju ruang keluarga, di sana sudah ada Pak Supatmo dan Bu Retno, mertuaku.
"Pagi, Bu, Pak." Aku menyapa mereka yang sedang asyik menyaksikan siaran berita di televisi.
"Monggo, Nak Ilham. Duduk sini." Bapak mempersilakanku duduk sambil menepuk kursi di sampingnya.
Aku pun mengangguk, seraya duduk di sebelah Bapak.
"Gimana, Nak Ilham, nyenyak tidurnya?" tanya Bapak menatapku sembari menurunkan kacamatanya.
"Alhamdulillah," jawabku dengan senyum simpul.
Aku tak ingin Ibu dan Bapak tahu kalau sebenarnya badanku terasa sedikit pegal karena harus tidur di lantai.
"Fika masih di kamar, ya, Nak Ilham?" tanya Ibu.
Aku mengangguk, tak lama Fika keluar dari kamar. Ia mengenakan baju kuning gading dan Jilbab hitam. Entah mengapa aku kurang suka melihat penampilannya.
"Bu, Pak, Ilham izin mau ajak Fika jalan-jalan ke Jembatan Ampera," ucapku pada mereka.
"Ya, silahkan. Jaga Fika, ya, Nak Ilham. Kalo perlu pegang yang erat tangannya, jangan dilepasin, suka hilang anaknya." Bapak berkata padaku sembari melirik Fika.
"Bapak ....!" Dapat kudengar teriakan manja istriku, menghentakkan satu kaki, dan memajukan bibirnya lima senti.
Kami terkekeh melihat tingkahnya.
"Kalian, nggak sarapan dulu?" tanya Ibu.
"Mas Ilham mau sekalian ngajak sarapan di luar, Bu," ucap Fika menghampiri Ibu, lalu memeluknya.
Hey! Tidakkah kamu mau memeluk suamimu?
"Hati-hati di jalan, ya," ucap Ibu.
Kami pun menyalami mereka berdua. Akan tetapi aku melupakan dompet yang kuletakkan di kamar.
Aku pun menggandeng tangan Fika memasuki kamar karena kutahu jika di depan orangtuanya, ia tidak akan berani menolak ajakanku.
Sesampainya di dalam, kututup pintu lalu merapatkan tubuhnya di sana, kedua lenganku mengunci pundaknya. Dapat kulihat saat ini wajahnya merah-merona.
"Pak!" ketusnya mengarahkan pandanganku ke arah kepalan tangannya.
Aku tersenyum geli, malah rasanya semakin ingin ....
Kuarahkan tangan kananku ke bibirnya.
"Ini! aku hanya ingin menghapus warna merah di bibirmu." Aku membersihkan lipstik itu. "Juga bedak yang terlalu tebal ini." Tanganku mengusap wajahnya lembut. "Jika di luar tak perlu cantik, aku cemburu!" ucapku sambil tersenyum.
"Issh! Nyebelin! Aku bisa sendiri," sungutnya sambil mendorongku menjauh, lalu mengusap-usap bibir dan pipinya.
Aku terkekeh melihatnya, segera kucuci tangan, lalu kami pun keluar kamar.
Dapat kulihat Fika masih cemberut sambil berjalan di depanku, Ibu dan Bapak pun menggeleng melihatnya, lalu aku pun mengucapkan salam, disusul Fika.
*
Perjalanan menggunakan mobil menuju Jembatan Ampera menghabiskan waktu tiga puluh menit dari rumah. Aku memarkirkan mobil tak jauh dari sana. Keluar dari mobil, kugandeng erat tangannya. Ia menolak dan mendelik.
"Kamu ingat, 'kan pesan Bapak tadi di rumah? Pegang yang erat dan jangan dilepaskan!" ucapku tegas, menahan senyum melihat ekspresi pasrahnya.
Ia mengikuti langkahku, berjalan menyusuri tangga ke atas jembatan.
"Udah sampai, 'kan? Lepasin, dong, tangannya," pintanya sambil berusaha melepaskan genggamanku dengan bantuan tangan satunya.
Aku menggeleng.
"Kenapa, sih, nggak mau dipegang?" tanyaku heran.
"Malu diliatin orang, kayak anak kecil," ucapnya.
"Kamu, kan, memang masih kecil ... lebih kecil dariku, tuh, liat. Haha." Aku berkata sambil memandangi tubuhnya yang hanya sepundakku.
Ia marah, lalu membuang muka.
"Dah, yuk, kita ke tengah," ucapku sambil menarik tangannya.
"Kamu liat tulisan 'AMPERA' itu?" tanyaku.
Ia mengangguk.
"Itu singkatan dari amanat penderitaan rakyat. Jembatan ini dibangun untuk menghubungkan daerah ilir dan ulu Sungai Musi." Aku bercerita sambil mengarahkan telunjuk pada kata ampera, daerah ilir, dan ulu.
Aku tersenyum melihat matanya berbinar mendengarkan celotehku.
"Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 atas persetujuan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno dan diresmikan oleh Jenderal Ahmad Yani pada bulan September 1965." Kuceritakan pelajaran sejarah padanya.
Ia menatapku, matanya yang indah membuatku terdiam-terpana.
"Terus," ucapnya membuatku terkesikap dan melanjutkan perjalanan perlahan.
"Kamu liat bandul-bandul seperti tali yang tersambung itu?" Aku mengarahkan telunjuk ke benda yang dimaksud.
Ia mengangguk.
"Dahulu itu berfungsi untuk mengangkat bagian tengah jembatan ini, agar kapal tidak terhalang badan jembatan saat melewatinya. Namun, sekarang sudah tidak berfungsi karena selain sudah tidak ada kapal yang lewat, juga membutuhkan sekitar tiga puluh menit untuk mengangkatnya, membuat jalur lalu lintas terhambat," jelasku disertai anggukan kecilnya berulang kali.
"Sesuai janjiku, pertama kali aku melihatmu di jembatan bernuansa merah ini, waktu itu kamu berdiri di sana, menghadap Sungai Musi," ucapku sambil menunjuk lokasi yang kumaksud.
Aku menceritakan semuanya dari peristiwa pencopetan sampai mengeluarkan sebuah dompet di saku celana.
"Ini, milikmu, 'kan?" tanyaku sambil menyodorkan dompet miliknya.
Ia meraihnya, membuka dompet, mengeluarkan isinya yang masih sama persis seperti dulu.
Ia tersenyum, lalu mengangguk.
"Iya, ini milikku. Terima kasih sudah menyimpannya selama ini." Ia memeluk dompet mungil warna biru bergambar kartun doraemon itu.
Aku tersenyum, menikmati senyuman indah di wajahnya.
"Lalu, gimana Bapak bisa tahu semua aktifitas dan hobiku hanya melalui dompet ini?" tanyanya tanpa menyadari kesalahannya.
Aku diam, memasang muka tak suka dengan sebutannya.
"Sepertinya kita harus bikin perjanjian, nih!" ketusku.
"Perjanjian, Pak? Untuk apa?" tanyanya masih memanggilku Bapak.
"Jika satu kali kamu panggil aku Bapak berarti satu kali kecupan, dua kali plus pelukan, tiga kali plus ...." Aku memainkan alis naik-turun.
"No!" teriaknya, "baiklah, Mas Ilham, aku takkan memanggilmu Bapak lagi," ucapnya mengacungkan dua jari tengah dan telunjuk ke samping
"Baiklah ... kita liat saja nanti," ucapku meremehkannya. Ia mencebik.
*
Bagaimana aku bisa menemukan alamat bocah itu? Sedangkan tidak ada alamat petunjuk apapun kecuali kartu pelajar ini, heem ... Fika Saputri, kelas sembilan," gumamku.
Aku duduk di kursi tempat biasa mengerjakan tugas kuliah, meletakkan dompet di meja. Kubuka laptop, mulai merevisi skripsi yang disarankan penguji. Entah kenapa justru wajah polos bocah itu yang muncul di benakku. Ah, mungkin karena dompet itu! Sepertinya aku harus kembali ke Jembatan Ampera besok, mungkin Ia akan datang lagi.
Keesokan harinya, aku ke sana, namun tak ada satu pun tanda-tanda kemunculannya. Apa ia hanya seorang wisatawan? Mungkin sudah pulang ke Jogja.
Selama satu minggu, aku terus memantau jembatan itu, nihil! Tak ada orang.
"Sial! Kenapa aku begitu ingin mengembalikan dompet ini?!" kesalku tak kunjung berjumpa dengan pemiliknya.
Satu bulan sudah terlewati dari peristiwa itu.
"Ham, setelah wisuda, kamu harus siap kerja di perusahaan Ayah," ucap Ayah yang menghampiriku di kamar.
Aku mengangguk. Ia pun berlalu.
Dua bulan sudah aku tak memikirkan si pemilik dompet. Aku mulai bekerja di perusahaan mulai dari bawahan, bekerja sebagai pegawai biasa terlebih dahulu Jika kinerjaku bagus, ayah akan menaikkan jabatanku. Begitulah Ia mengajarkan arti sebuah kerja keras dan tanggung jawab.
Enam bulan setelah itu, teman-teman mengajak untuk berkumpul kembali di Jembatan Ampera.
"Gimana, kabarnya, Mas Ilham?" tanya seorang wanita bernama Gisella padaku. Ia adik temanku, Miko, dan baru akan menyelesai skripsi tahun ini.
"Baik," jawabku singkat. Caranya bertanya dan memperhatikanku berbeda terhadap yang lainnya. Entahlah, masa bodo dengan itu.
"Hey, adakah di antara kalian yang punya cara menghadapi ABG yang pendiam?" tanya Donny temanku.
"Kamu, Gisel. Kan, cewek," jawab temanku yang lain.
"Menurutku, sih. Cewek itu kalo lagi ada masalah butuhnya tempat curhat, jadi baiknya dideketin, ditanya dari hati ke hati tentang masalahnya," jawab Gisella.
"Ya, nggak mungkinlah, orang murid di kelasku. Masa, murid cewek curhatnya ke guru cowok ganteng kayak gini. Kalo jatuh cinta, kan. Bahaya! Hahaa," ucap Donny sambil mengusap rambut lalu tertawa. "Lagian, tuh, anak dari awal masuk sampai setengah semester, melamun mulu. Kita para guru, sudah nggak tahu cara ngadepinnya." Donny mengeluarkan uneg-unegnya.
"Temui orang tuanya, Don," saran teman yang lain.
"Sudah, tapi nihil. Orang tuanya bilang dulu waktu di Jogja nggak seperti itu, sejak pindah ke Palembang jadi pemurung," jelas Donny.
Jogja-Palembang, enam bulan yang lalu.
"Siapa nama anak itu?" tanyaku pada Donny, membuat semua terdiam. "Fika Saputri, bukan?" tanyaku lagi. Semua tercengang.
Donny mengangguk.
"Kok, kamu tahu, Ham. Kamu kenal?" tanya Donny.
Aku menggeleng.
"Kebetulan aku pernah bertemu dengannya di Jembatan Ampera. Hanya sebatas itu, selebihnya aku tak tahu." Aku berkata namun tak menceritakan soal dompet itu, semua kembali melanjutkan percakapan, kecuali Gisella yang menatapku curiga.
Ketika akan pulang, aku mengikuti Donny di parkiran.
"Don, bisa minta nama dan alamat sekolah tempatmu mengajar?" tanyaku. Ia pun memberikannya padaku. Aku pun berterima kasih dan berlalu darinya.
*
"Jadi, Pak Donny itu, teman Bapak?!" tanyanya kaget mendengar ceritaku.
Mmuaaach !
Satu ciuman di pipinya berhasil ku daratkan.
Fika yang sedang memandang ke arah sungai Musi, terkejut, menatapku tajam, lalu mengusap pipi.
"Kamu barusan panggil aku Bapak! Sekali lagi, plus pelukan." Aku tersenyum puas.
Ia cemberut, lalu ....
"Apa melalui Pak Donny, P--", Ia tercekat, tersadar. "Mas Ilham jadi tahu semua aktivitas dan kegiatanku? Perasaan aku, nggak pernah menceritakan apapun pada Pak guru itu," ucapnya menatapku.
Aku menggeleng.
"Lalu, bagaimana ... Mas bisa tahu semua tentangku. Mas Ilham, bohong, ya?" tanyanya mencurigaiku.
"Heem ... nggaklah. Aku tahu hobimu jajan dan baca novel, hampir setiap hari sarapan di warung Pak Tuo, warna kesukaanmu biru, binatang kesayanganmu kucing tapi nggak pernah memelihara di rumah, payah!" ucapku mencebik ke arahnya.
"Kok, tahu dari mana semua itu?" Ia membelalakkan matanya.
*
Ternyata kamu pindah sekolah di sini, pantas saja.
Aku pergi berkunjung ke rumah Om Surya, adik Ibuku. Ada sesuatu yang sedang aku rencanakan, menemui sepupuku,
Om Surya mempersilakanku duduk, tak lama sepupuku keluar kamar. Kami memang sangat dekat, karena aku sering menuruti keinginan dan membantunya.
"Mas, tumben ke sini. Pasti ada sesuatu,," ucapnya heran dengan kedatanganku.
Aku memang tidak akan datang menemui sepupuku itu kecuali penting. Kuceritakan semuanya tentang Fika.
"Apa?! Mas minta aku pindah sekolah," ucapnya setengah teriak.
Aku mengangguk.
"Nanti aku yang membayar semua biaya dan kebutuhanmu, apa pun itu, minta saja padaku. Asalkan kamu mau pindah dan mendekati orang yang kumaksud."
"Tapi, aku sudah setengah semester, nanggung, tunggu kenaikan kelas dua saja, ya, Mas?" Ia bernegosiasi padaku.
Aku menggeleng. Ia pun mencebik. Dan akhirnya menyetujui permintaanku.
*
"Sepupuku adalah sahabatmu, sekarang." Aku berucap sambil tersenyum.
"Maksud, Mas, Nuni?" tanyanya tak percaya.
Aku mengangguk.
"Nuni, sahabatku? Sepupu Mas? Nggak mungkin! aku, nggak pernah tahu dia punya sepupu bernama Ilham. Yang kutahu Nuni pernah bilang kalau punya sepupu ganteng, tajir, semua cewek naksir kalau melihatnya. Apa yang dimaksud itu ... Mas Ilham?" tanyanya lagi.
Aku tersenyum.
"Nuni ....! Awas, ya, kalau ketemu nanti," ucapnya sambil mengomel, nggak jelas.
Aku terkekeh melihat tingkahnya.
"Sudah mulai panas di sini, kita jalan, Yuk," ajakku
Ia menggeleng . Mungkin masih kesal.
"Ayoo!" Aku menarik tangannya sambil terus mendengarnya bercoleh tak jelas.
"Kita makan dulu di tempat ini, tadi belum sempat sarapan. Setelah itu, aku lanjut ceritanya lagi. Kita ke pulau kemaro."
Ia mengangguk, lalu menyendok mangkok di hadapan. Ini pertama kali, aku makan berdua dengannya di tepi Sungai Musi.
*
*
Mau lanjutin perjalanan mereka di Pulau Kemaro? Pulau apa itu? Stop sampai di sini juga boleh, karena Ilham sudah cerita semua. Horeee!! Author lega ....
*
-----
#Fika_Mendadak_Nikah_17
#Pulau_Kemaro_Palembang
#POV_Ilham
*
Alkisah, Tan Bun An seorang Pangeran Tiongkok jatuh cinta kepada Putri Raja Palembang bernama Siti Fatimah. Ia pun resmi mempersunting dan mengajak sang putri untuk ikut berlayar ke daratan Tiongkok menemui orang tuanya. Beberapa hari di sana mereka berpamitan pulang ke Palembang. Sang ayah memberikannya tujuh guci sebagai hadiah. Ketika sampai di perairan Sungai Musi, Tan Bun An tidak sabar ingin mengetahui isi guci tersebut. Ia terkejut saat melihat guci berisi sawi-sawi asin, tanpa berpikir panjang langsung membuangnya ke sungai. Guci ke tujuh terjatuh di dek perahu, ternyata di dalamnya terdapat emas. Pangeran pun langsung menyelam ke sungai, diikuti oleh seorang pengawalnya untuk mengambil kembali guci-guci yang dibuang. Lama mereka tak muncul di permukaan, akhirnya Siti Fatimah ikut terjun ke sungai. Mereka bertiga tenggelam di sana.
*
"Ada banyak versi cerita tentang Pulau Kemaro," sahut Bapak penjual pempek, "ada yang mengatakan bahwa pulau itu adalah makamnya Pangeran Tan Bun An dan Putri Siti Fatimah, versi lain bilang sebenarnya sembilan guci bukan tujuh," ucap sesebapak itu.
Aku mengangguk, sedangkan wajah istriku terlihat serius mendengarkannya.
"Jika ditarik benang merah, cerita itu mengisahkan tentang cinta sejati dua sejoli, hee." Bapak tersebut melanjutkan lalu tertawa kecil.
"Kasian, ya, kisah cinta mereka," ucap Fika sambil mengaduk-aduk kuah cuko di mangkok.
"Yuk, kita ke sana," ajakku padanya.
Ia menggeleng, membuat dahiku mengernyit.
"Kenapa?" tanyaku melihatnya murung.
"Aku takut," ucapnya lirih dengan wajah tertunduk.
"Kan, ada aku. Sebagai suami sudah berjanji akan selalu menjagamu." Aku mengangkat dagunya supaya menatap mataku.
Sesaat mata kami beradu pandang, pipinya merona sedang aku selalu terpesona memandangnya.
"Bukan takut ke pulau kemaro, tapi sejak pindah ke Palembang belum sekalipun naik perahu ketek atau speedboat." Ia berucap lalu mengulum bibirnya.
"Hahahaa ...." Aku tertawa terbahak mendengar pengakuannya.
Ia pun langsung cemberut, lalu membuang muka.
"Maaf, maafin aku sayang. Kamu beneran belum pernah naik itu?" tanyaku sambil menunjuk perahu yang terapung di sungai.
Ia menggeleng. Aku pun menarik napas mengembuskannya perlahan.
"Baiklah, aku akan menghilangkan rasa takutmu itu, kita naik perahu ketek. Kalau kamu takut, peluk saja suamimu ini selama yang kamu mau." Aku berucap sambil tersenyum lebar.
"Nggak! Curi kesempatan," sungutnya sambil menjulurkan lidah.
"Yaudah, kalo gitu, kita pulang saja, Yuk,” ucapku sembari melirik ke arahnya.
Ia bergeming, sesekali mendongak,meletakkan jari telunjuk, dan jempol di dagu.
“Nggak penasaran dengan cerita lanjutannya, Mas?” tanyaku memancing rasa penasarannya.
Ia masih diam, tak ada suara.
“Kenapa, ya … Mas Ilham bisa suka sama Fika Saputri?” godaku padanya.
Ia terdiam, belum tertarik, mungkin rasa takut lebih menguasai dirinya.
"Yuuk, kita pulang!" ajakku sambil meraih tangannya.
"Tunggu, baiklah kita ke Pulau Kemaro," ucapnya membuatku tersenyum lebar.
Perjalanan menggunakan perahu ketek dari Jembatan Ampera ke Pulau Kemaro sekitar tiga puluh menit lebih dan hanya lima belas menit dengan speedboat Aku memilih perahu ketek agar dapat menikmati perjalanan mengarungi Sungai Musi bersama wanita cantik di sisiku. Selain itu, jika ia ketakutan, aku dapat merasakan pelukannya lebih lama.
Aku melangkah menaiki perahu lebih dulu, mengulurkan tangan, kuraih dan pegang erat tangan membantunya.
"Mau tahu apa yang membuatku semakin jatuh cinta padamu setelah menjadi istriku?" bisikku di telinganya saat ia mendarat di perahu. "Saat kamu tersipu malu hingga merah-merona pipimu."
“Gombal!” Ia pun memukul pelan dadaku, lalu mendorong agar menjauh.
Lagi-lagi aku tersenyum melihatnya seperti itu. Entah kenapa hobiku jadi bertambah, yaitu suka menggodanya.
Ia duduk di tengah badan perahu dekat dengan pinggir sungai, aku pun berada di sampingnya.
Mesin dihidupkan, suara ciri khas perahu ketek pun terdengar. Kami melaju,semilir angin membelai rambut, wajah, dan jilbab hitam istriku. Kupandangi kapal besar yang mengapung di perairan sambil saling berpegangan erat.
"Sayang, nggak jadi takut?! Aku selalu siap dipeluk, kok!” kataku dengan volume suara yang dikeraskan di telinganya, karena angin dan suara perahu yang saling beradu mengalahkan suaraku.
Ia menggeleng, lalu mencebik. "Ngarep!" katanya masih dapat kudengar.
“Hahaha ….” Aku tertawa.
Perahu menepi di sebuah pulau kecil di tengah sungai. Aku kecewa karena tak sedikitpun ia memelukku walau sebentar saja. Huuufht!
"Kenapa mukanya ditekuk gitu, Mas?" tanyanya sambil berjalan di daratan Pulau Kemaro.
"Karena kamu nggak p--" Belum selesai aku berbicara ia sudah berlari meninggalkanku.
"Waah!! Cantik sekali tempatnya, sejuk, asri, banyak pohon besar di sini," ucapnya masih dapat ku dengar walau berada jauh di depanku.
Pulau kemaro, yang berarti kemarau. Dinamakan demikian karena pulau ini tidak pernah terendam air, tetap kering meskipun air sungai sedang pasang. Pulau bernuansa warna merah dan kuning yang menjadi ciri khas etnis tionghoa, sering dijadikan tempat ibadah perayaan Cap Go Meh agama Konghucu.
"Itu bangunan apa?" tanyanya sambil telunjuk mengarah ke menara tinggi.
"Itu pagoda, terdiri dari sembilan lantai," jawabku singkat.
“Wow! Bagus, ya,” ucapnya.
Aku mengangguk.
Fika terus berjalan, sedangkan aku hanya mengikuti dari belakang, sesekali berlari kecil mengejarnya agar tak menghilang. Benar kata bapak, kalo Fika suka menghilang.
Hap! Kutangkap tangannya, agar berhenti berlarian.
"Kamu benar-benar membuatku seperti sedang menjaga anak kecil," ucapku sambil membungkuk, mengatur napas.
"Emangnya, kenapa?." Tanyanya heran.
“Barusan, lari-lari, ntar hilang.” Aku berkata sambil mengatur napas.
“Nggaklah, pulau sekecil gini gampang nyariinnya. Nggak mungkin hilang.” Ia berkata bola mata mengitari sekitar.
"Iya, tapi aku suamimu, harusnya kita jalan berdua, bergandengan tangan," ucapku menangkupkan kedua tangan di pipinya.
Lagi, pipinya merona, lalu ia menarik napas,dan mengembuskan perlahan.
“Baiklah, Mas Ilham, suamiku,” ucapnya dengan senyuman manis.
“Nah, gitu. Ini baru namanya istri sholihah,” ucapku sambil mengusap kepalanya.
Ia mencebik.
Aku menggandeng tangannya, lalu berjalan-beriringan menyusuri Pulau Kemaro.
“Apa alasan Mas Ilham menyukaiku?” tanyanya sambil berjalan.
“Heem … cinta pada pandangan pertama, mungkin,” jawabku.
“Issh ….!” gerutunya lalu menyubit pinggangku.
Aku menghentikan langkah, begitu pun dengannya. Kami berada tepat di bawah pohon besar, yang dinamakan pohon cinta dengan pagar berwarna merah-kuning disekelilingnya.
“Sejak kamu menjadi sahabat Nuni, aku selalu diberitahukan informasi tentangmu. Awalnya aku hanya berencana untuk membantu agar Fika memiliki seorang teman dan kembali ceria. Namun, entah kenapa sering itu menjadi canduku. Setiap hari aku kepo, menanti kabar dari Nuni sampai nomorku diblokir olehnya,” ucapku sambil tersenyum.
“Benarkah?” tanyanya, “kami suka bergantian HP, tapi tak satu pun kulihat pesan, telepon dari selain teman-teman sekolah di sana,” ucapnya.
“Ya, iyalah nggak ada. Nuni kuberikan dua gawai, satu untuk sekolah dan satu lagi khusus menghubungiku.” Ucapku sembari mendekati wajahnya, “karena kalian saling bertukar itu, Nuni jadi bisa mengecek siapa saja yang sudah menghubungimu. Iapun memberitahuku bahwa tak ada seorang pun lelaki yang dekat denganmu, ah,bukan, lebih tepatnya kamu menjaga jarak dari cowok, dan itu membuatku simpati padamu, ingin rasanya aku menjadi lelaki pertama yang dekat denganmu.” Aku berkata lalu memasukkan kedua tangan di saku celana.
Fika terdiam dan serius mendengarkan ucapanku.
“Setelah kelulusan, kamu melamar kerja di mana pun tak di terima, ‘kan?” tanyaku padanya.
Ia mengangguk.
“Itu karena Nuni memberitahu semua tempatmu mengirim lamaran, kemudian aku menghubungi pemiliknya dan membatalkan lamaran kerjamu,” ucapku.
“What?!” teriaknya dengan mata membelalak, kaget mendengar ceritaku.
Aku pun terkekeh.
“Lalu, Nuni bilang kalo akhirnya kamu memasukkan lamaran di perusahaanku Saat itu aku mulai menyusun rencana. Setelah tes tertulis, kamu pergi ke kantin,’kan? Adakah seorang lelaki duduk untuk makan satu meja denganmu?” tanyaku
Ia mencoba mengingat, lalu mengangguk.
"Lelaki itu, aku!.” Aku berkata lalu menatapnya lekat. “Sayangnya kamu hanya menunduk, menikmati sajian makanan di hadapanmu, tanpa melirik apalagi menoleh padaku,” lanjutku.
Fika bergeming, matanya sesekali berkedip perlahan, mungkin takjub dengan ceritaku.
“Benarkah?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Aku semakin suka karena sikap cuekmu itu. Maksudku sebelum menjadi istriku, Fika sangat menjaga dirinya dari seorang lelaki.”
Fika menunduk malu.
“Saat tes wawancara, aku sengaja mencari namamu dan meletakkannya di paling bawah. Kemudian, memanggil satu per satu peserta lainnya, hingga tersisa namamu diakhiir. Aku sengaja tak memanggil Fika Saputri sampai ia masuk sendiri ke ruanganku, marah-marah!” jelasku sambil tertawa kecil mengingat kejadian itu.
“Jadi, sebenarnya namaku, nggak dicoret!” ucapnya kaget, “Bapak, Curang!” sungutnya.
“Kamu panggil aku Bapak, aku cium,,nih,” ucapku.
“Biarin, aku kesal! Pak Ilham curang, nyebelin ….!” Ucapnya berteriak dan ingin memukulku, aku menghindar.
“Dua kali panggil Pak, aku peluk, loh,” ucapku.
“Bodo amat! Bapak … Pak Ilham, jahaaattt!” teriaknya lagi.
Aku tertawa terbahak, masih menghindari pukulannya, lalu dengan sigap aku tangkap kedua pergelangan tangannya. Kutatap lekat, matanya memerah.
“Maaf, semua kulakukan karena aku mencintaimu, Fika Saputri,” ucapku lalu membenamkan wajahnya di dada bidangku. Kulepas pegangan perlahan, lalu mengusap lembut kepalanya.
Tangannya bergerak merangkulku, lalu menangis sesegukan.
“Hey! Apa kamu menyesal, setelah mengetahui semuanya?” tanyaku khawatir.
Ia menggeleng.
“Lalu, kenapa menangis? Apa kamu menyesal menjadi istriku?” tanyaku lagi.
“A-aku ….” Ia tak mampu berucap.
Aku memegang pundaknya, lalu mata kami beradu pandang. Kutatap lekat wajahnya, semakin dekat, matanya terpejam, hanya berjarak satu senti aku dapat merasakan manis dari bibirnya.
“Eheem!!” Suara sesebapak berdehem, “ini tempat umum dan sakral, dilarang bermaksiat!” ketusnya melihat kami.
“Kami sudah menikah, Pak,” jawabku.
“Kalau begitu, lakukan di rumah!” ketusnya lagi.
Fika salah tingkah, aku pun merasa sial.
“Baiklah, terima kasih sudah mengingatkan. Pak siapa namanya?” tanyaku sambil mengulurkan tangan.
“Saya Pak Boy, pengawas Pulau Kemaro ini.” Ia berkata sambil meraih tanganku.
Kami saling berjabat tangan, aku dan Fika berpamitan pulang, lalu berjalan sambil bergandengan tangan.
“Sudah mau dzuhur, setelah ini kita sholat di Masjid Agung Sultan Badaruddin, ya,” ucapku disertai anggukannya.
Kami berjalan menuju perahu, kali ini aku memutuskan untuk naik perahu speedboat agar cepat sampai. Perahu melaju dengan kecepatan tinggi di perairan Sungai Musi, aku sesekali melihat kea rah istriku, meremas-remas tangannya yang sejak tadi menggenggam tanganku, semoga Fika mulai membuka hatinya untukku.
“Andaikan aku menjadi Pangeran Tan Bun An dan kamu Putri Siti Fatimah, akankah mau ikut terjun ke sungai menyelamatkanku?” tanyaku berandai- andai.
Ia menggeleng. Dahiku mengernyit.
“Kamu rela kehilangan suamimu?” tanyaku lagi.
“Bukan itu, aku tak mau karena tidak bisa berenang,” ucapnya, aku pun tersenyum.
“Apa kamu mencintaiku?” tanyaku, memandanginya.
Braaakk!
Suara benturan keras pada perahu yang kami tumpangi, membuat aku terhuyung dan genggaman tangan pun terlepas. Perahu kami terbalik, aku berada di kedalaman Sungai Musi.
Saat tersadar, aku mencoba naik ke daratan, teringat seseorang yang harus aku jaga.
“Fika ….!” teriakku di atas air.
Mataku mencari di sekeliling, namun tak kutemui tanda-tanda kemunculannya. Aku mencoba mendekati perahu, lalu membalikkannya. Berharap menemukan Fika di dalam. Namun, tak ada siapa pun di sana.
Aku mencoba menyelam. Air sungai yang berwarna cokelat pekat menghalangi pandangan, begitu pun arus sungai di bawah sangat deras sehingga aku tak bisa menemukannya.
“Fika ….!” teriakku saat berada di atas air.
“Fika ....! Di mana kamu?” Kamu dengar aku, Fika ….!” teriakku sekuat tenaga.
Ya Allah, tolong selamatkan istriku. Bukankah ia berkata tidak bisa berenang. Jantungku berdetak lebih kencang, mengkhawatirkannya. Aku takut kehilangannya.
“Fika …..!” Aku teriak sekencang-kencangnya.
*
*
Next
++++++
#Fika_Mendadak_Nikah_18
#POV_Ilham
*
Awan putih berantai menutupi langit yang cerah, angin bertiup kencang disertai aliran sungai yang semakin deras.
Aku masih terapung di atas air, tangan dan kaki terus bergerak agar tetap berada di permukaan.
"Fikaaa .....! Jawab aku!" teriakku sambil terus memperhatikan sekitar.
Ya Allah, aku mohon selamatkan istriku. Aku mohon ....
"Fikaaa ...!" Suaraku menggema di Sungai Musi.
"Paaakk ... tolooong!" Suara itu dapat kudengar, tapi di mana?
"Aku mencoba melihat ke arah kanan-kiri, tapi tidak ada siapa pun. Apa hanya khayalanku.
"Pak Ilhaaamm ....!" Sayup kudengar suara yang terbawa angin itu. Aku berenang secepat kilat menuju perahu, naik dan melihat sekeliling dari atasnya.
"Allahuakbar!" Aku berteriak melihat istriku sedang berusaha bertahan, mencoba tetap berada di permukaan.
Segera aku melompat menuju arahnya yang terbawa arus sungai. Secepat mungkin aku akan menolongnya, sebelum ia kehabisan napas.
"Paaak!" teriaknya yang timbul tenggelam tertelan air sungai.
Aku datang! bertahanlah untukku.
Sedikit lagi aku sampai, bertahanlah sayang.
Saat akan sampai, tak kudengar lagi suaranya, Ia pun berhenti bergerak.
Aku menyelam, mengambil uluran tangannya, segera kuangkat menuju permukaan, kurangkulkan tangan ke tubuhnya, berenang dengan gaya dada menuju pinggiran sungai.
Sebuah speedboat datang, meluncurkan ban karet yang terikat, aku segera meraihnya. Mereka pun menarikku bersama Fika ke dek perahu.
"Fikaa ... ayoo, bertahan sayang." Aku membaringkannya, lalu melakukan kompresi dada.
"Fikaa ... aku mohon, bertahanlah!" lagi kuulangi kompresi dada sampai berulang kali, lalu memberikan napas buatan.
Sesekali aku meraba denyut nadi di lehernya. Masih berdenyut.
"Kamu masih hidup, bertahanlah ... Fikaaa!" Lagi kuteriakkan namanya, melakukan kompresi dada, dan napas buatan.
Aku tidak mau kehilanganmu. Lagi kuberikan napas buatan sebanyak-banyaknya.
"Uhuuuk ... uhuuuk!! Ia terbatuk, mengeluarkan air yang tertelan dari mulutnya.
"Syukurlah ... Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah." Aku segera menopang tubuhnya bersandar di tubuhku.
"Sayang ...." Kuusap wajahnya yang basah, mengecup kepalanya berulangkali, dan menyelimuti tubuhnya dengan handuk yang diberikan sesebapak yang telah menolong kami.
"Kamu kedinginan?" tanyaku. Ia mengangguk pelan. Akupun memeluknya erat.
"Terima kasih," ucapnya lirih masih dengan tubuh yang lemah.
Aku tersenyum, semakin mengeratkan pelukan.
"Kita ke rumah sakit untuk memastikan keadaanmu," ucapku.
Ia mengangguk.
"Bisakah Bapak membawa kami ke rumah sakit terdekat?" tanyaku pada pemilik perahu.
"Bisa, saya antar kalian ke Rumah Sakit Sungai Musi." Ia lalu melajukan perahu lebih cepat.
Kecelakaan yang kami alami karena tabrakan antar perahu. Sama-sama dengan kecepatan tinggi sehingga tak terkendali, akhirnya speedboat tersebut menabrak perahu yang kami tumpangi.
"Mas minta maaf, telah membuatmu seperti ini," ucapku masih memeluknya.
Ia menggeleng.
"Bukan salah Mas. Ini kecelakaan," ucapnya lirih.
"Mas takut kehilanganmu." Aku berkata semakin mengeratkan pelukan.
Ia lalu mengangkat tangannya dan mengenggam lenganku yang merangkulnya.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku," ucapnya, "aku pikir, ini akhir dari hidupku." Ia berkata sambil menghela napas.
Aku mengangguk, lalu mengecup kepalanya.
Perahu berhenti di tepi sungai, aku membopong Fika menuju rumah sakit yang terletak tak jauh dari sini. Awal Ia menolak dengan alasan sudah mampu berjalan sendiri, tapi aku tak mempedulikan, dan tetap membopongnya. Seketika mata orang-orang melihat ke arah kami, Fika pun mengatakan malu dilihat seperti itu. Tetap saja, aku terus berjalan sampai di rumah sakit dan membaringkannya di brankar UGD.
Aku terus menemaninya saat diperiksa, sampai dokter mengatakan keadaannya baik dan butuh istirahat di rumah.
Aku memintanya untuk menunggu di rumah sakit sembari mengambil mobil yang terparkir di dekat Jembatan Ampera.
Kustarter mobil, mampir ke Pasar 16 Ilir, membeli pakaian ganti untukku dan Fika.
Sampai di pasar, kudapatkan baju yang pas, segera memakainya. Saatnya berburu baju istriku. Ah, aku lupa berapa ukuran baju dan pakaian dalamnya. Mau bertanya pada penjaga toko tapi muka mau taruh di mana? Akhirnya aku teringat Nuni, mungkin Ia tahu semuanya. Saat mengambil gawai di kantong, ternyata HPku mati karena terendam air.
"Sial!" ucapku setengah berteriak.
Bagaimana ini? Jika tidak segera kubeli, Fika akan semakin kedinginan di sana.
Aku menghela napas dalam, kuhilangkan gengsi ini sementara.
"Yuk, tolong carikan pakaian dalam, jilbab samo baju cewek. Seukuran ayuklah caknyo, untuk hadiah ke istri (Yuk, tolong carikan pakaian dalam, jilbab dan baju cewek. Seukuran ayuk sepertinya, untuk hadiah ke istri)." Aku berkata sambil menahan malu. Seumur hidup baru kali ini membelikan pakaian dalam untuk wanita.
Ia pun mengangguk seolah mengerti raut wajahku, lalu mencarikan benda yang kumaksud, dan langsung membungkusnya. Segera kubayar dan mengucapkan terima kasih.
Aku melaju menuju rumah sakit, sesampainya di sana, kulihat Fika masih berbaring, tubuhnya ditutupi selimut. Aku pun memberikan bingkisan yang kubeli tadi, lalu memintanya berganti pakaian.
Ia pun mengenakannya, terlihat sedikit kebesaran, tapi masih pantas dikenakan.
"Terima kasih bajunya dan pakaian dalamnya" katanya sambil menatapku.
Aku mengangguk.
"Mau Mas gendong lagi?" tanyaku.
Ia menggeleng, lalu merangkul tanganku dan kami berjalan menuju mobil di halaman rumah sakit.
Di perjalanan, sesekali aku melirik melihatnya tertidur pulas karena kelelahan. Kupegang tangannya yang terkulai, lalu meletakkan di dada. Aku bersyukur masih diberi kesempatan membersamainya.
*
Sampai di halaman rumah. Mesin mobil kumatikan, membuka safety belt milikku. Fika terbangun saat aku akan menggendongnya.
"Sudah sampai, ya?" tanyanya, "tak perlu digendong, aku bisa sendiri. Aku tak ingin Bapak dan Ibu khawatir melihatku." Ia berkata sambil perlahan turun dari mobil. "Maaf selalu merepotkan Mas," ucapnya sambil meraih uluran tanganku.
"Aku suamimu, sudah sepantasnya direpotkan oleh istri, kamu tanggung jawabku," ucapku.
Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Lalu, kurangkul menuju rumah.
Kami mengucap salam, Ibu segera menyambut dengan tatapan heran melihat wajah pucat Fika, serta jalannya yang tertatih.
"Fika kenapa, Nak Ilham?" tanya Ibu.
Baru akan membuka mulut, Fika sudah menjawab terlebih dahulu.
"Tadi ... ada sedikit kecelakaan, Bu. Alhamdulillah Mas Ilham yang menolong Fika," ucapnya disertai senyuman tipis. "Fika lelah, boleh istirahat, kan, Bu?" tanyanya meminta izin Ibu untuk ke kamar.
Ibu menggangguk dan tersenyum, membiarkan kami berlalu.
Aku menuntunnya, sampai di kamar, Fika berbaring, aku pun menyelimuti tubuhnya.
"Istirahat, Sayang. Semoga cepat pulih dan bisa kugoda lagi," ucapku disertai senyuman dan kecupan di dahinya.
Ia hanya mengangguk, matanya terpejam. Sepertinya tenggelam membuatnya kehabisan tenaga.
Aku memilih menemui Ibu, menceritakan semua yang terjadi. Ibu kaget, kemudian bersyukur Fika masih tertolong. Ia pun berinisiatif untuk memasakkan sayur kesukaan putrinya, sedangkan aku kembali ke kamar menunaikan sholat dzuhur, lalu berbaring di sampingnya hingga mata ikut terpejam.
*
Sore aku terbangun karena kurasakan ada sentuhan di pipiku. Kubuka mata seketika, ia pun kaget dan langsung menarik tangannya, pura-pura memejamkan mata.
Aku tersenyum melihat itu, langsung saja aku pencet hidung bangirnya.
"Aauuu! ... sakit," teriaknya memegang hidung yang memerah.
"Nggak perlu pura-pura pejam mata gitu, udah ketahuan juga." Aku berucap lalu menatapnya yang sedang mengelus hidung.
Ia mencebik.
"Alhamdulillah, istriku sudah membaik dan kembali menggemaskan," ucapku sambil mencubit pipinya.
"aduuh ... sakit, toh, Mas," sungutnya.
"Yuuk, kita makan, tadi Ibu bilang bangun tidur segera makan." Aku berkata sambil mengusap kepalanya.
Ia menggeleng. "Aku belum lapar," ucapnya.
Aku menghela napas.
"Aku ambilkan, kamu harus makan atau mau aku suapin ...." Aku menatapnya. Ia pun mengulum bibir.
"Baiklah, tunggu di sini," ucapku.
Saat akan pergi, Fika meraih tanganku, membuatku menoleh-menatapnya.
"Aku mencintaimu, Mas." Ia berkata, menatap mataku.
Aku pun berhambur memeluknya, dan tersenyum lebar. Kutatap matanya yang indah memastikan semua ini nyata, ia terpejam, membuat gejolak di jiwa untuk merasakan manis di bibirnya yang sempat tertunda. Dan kami pun larut dalam mahligai cinta.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu menghentikan kami, aku pun meraih handle pintu, lalu membukanya.
"Taraaa ... masih sore. Ngapain, sih, pake kunci pintu segala." Suara cemprengnya menggema di seluruh ruangan.
"Fikaaa ... aku kangen sama kamu," ucapnya berhambur masuk kamar tanpa seizinku dan memeluk istriku
"Nuni, kapan datang? Kok, nggak kasih kabar dulu," ucap Fika salah tingkah.
Emang dasar sepupu satu ini! Mengangguku yang baru saja meneguk manisnya cinta. Harusnya kubiarkan saja tadi pintu itu.
"Aah!!" Aku mengusap wajah kasar.
Nuni menoleh, menatapku heran, sedangkan Fika mengulum senyum di bibirnya.
+++++
#Fika_Mendadak_Nikah_19
#POV_Ilham
*
“Masnya … aku pinjam Fika sebentar, ya,” ucapnya padaku dengan mata dikedip-kedipkan.
Aku mendengkus, lalu menoleh ke arahnya.
“Jangan pura-pura nggak kenal. Fika sudah tau kalo kamu itu sepupuku!” ketusku
Ia menoleh ke arah Fika. Istriku pun mengangguk.
“Yaudah, kalo gitu. Mas Ilham keluar, sana, buruaaan ....!” serunya sambil berdiri, lalu mendorongku keluar.
Braaak!
Pintu kamar ditutup dan terkunci dari dalam. Mereka terdengar gaduh di sana.
“Huufht!” Kuembuskan napas kasar.
Aku beranjak dari tempatku berdiri, menjatuhkan diri di sofa, duduk dengan kedua tangan memegang kepala, lalu bersandar.
Lima menit kemudian, kuketuk pintu.
“Tok! Tok!
“Siapa?!” tanya seseorang bersuara cempreng itu.
“Aku, Mas Ilham,” jawabku.
Hening tak ada suara. Aku pun kembali duduk.
Sepuluh menit kemudian, kuketuk lagi.
Tok!Tok!
“Jangan ganggu bisa, nggak, sih, Mas!” sungut orang yang kuanggap sepupuku itu, terdengar suara mereka tertawa.
“Aku mau ajak kalian makan, buruan, lapar, nih,” ucapku di depan pintu.
“Makan aja duluan, nanti kami nyusul.” Ia menjawab santai.
Aku menghela napas kasar, kembali duduk di sofa. Kalian tau, ingin rasanya kudobrak pintu itu.
“Ada apa, Nak Ilham?” tanya Ibu.
Aku menoleh ke arah sumber suara.
“Heem … lagi nungguin Fika sama Nuni keluar kamar, Bu,” jawabku
Ibu melihat ke arah kamar, lalu tersenyum kecil.
“Mereka nggak bakalan keluar. Sebentar, Ibu panggilin, ya,” ucap Ibu sambil melangkah menuju pintu, lalu mengetuknya.
Seandainya ibu tahu kalo aku sudah mencoba hal itu berulang kali.
Tok! Tok!
Ibu mengetuk pintu, tak lama handle pintu bergerak.
“Nggak sabaran banget, sih, Ma ... eh, Ibu.” Nuni menghentikan ucapannya, saat melihat ibu.
“Ditungguin Nak Ilham dari tadi. Ibu sudah masak sayur kesukaan kalian. Sana, makan dulu! Nanti keburu dingin, nggak enak,” ucap Ibu.
Mereka berdua keluar. Nuni mencebik ke arahku, sedangkan istriku melemparkan senyuman manis.
*.
“Enak, ya, yang sudah punya istri,” ucap Nuni sambil menyuap sendok ke mulut. “Ngapain sih, kalian nikahnya buru-buru amat? Aku, kan, lagi di luar kota, jadinya nggak bisa datang.” sungutnya.
“Terserah Mas, dong! Kamu nggak datang aja ganggu, apalagi datang!” ketusku.
Ia mencebik.
“Nggak apa-apa, Nun, yang penting do’anya,” ucap Fika.
“Boleh tanya sesuatu, nggak?” tanyanya serius.
“Tanya apa? Jangan aneh-aneh,” kataku padanya, sementara Fika mengangguk.
Nuni nyengir kuda, sepertinya mencurigakan, kulirik dirinya sambil tangan meraih sebuah gelas dan meneguknya..
“Anu … emm … kalian udah ML, ya?” tanyanya, membuatku tersedak, lalu menumpahkan kan air minum yang hampir kutelan.
“Kenapa, Mas?” tanya Nuni kaget melihatku.
Kuatur napas,terbatuk-batuk. Sempat kulirik Fika yang sedang salah tingkah.
“Masih jomblo, nggak usah tanya yang begituan,” ucapku padanya.
“ish! Cuma nanya udah atau belum doang, kok, tinggal jawab aja susah amat,” sungutnya.
“Belum! Yaudah, cepat habisin makananmu, sudah hampir malam ini, buruan pulang! Bahaya anak gadis berkendara di malam hari,” perintahku.
Ia memajukan bibirnya lima senti, lalu menyuap makanan tergesa-gesa. Tak lama kemudian, ia pamit pulang dan kami mengantarkannya ke halaman.
“Jangan lupa kabari, ya, kalo sudah gituan.” Ia memainkan alisnya menatapku dan Fika.
“Apaan sih, buruan sana pulang!” ketusku.
Nuni pun menstarster motor, lalu melambaikan tangan dan melaju hingga menghilang di ujung jalan.
Aku menatap istriku yang tersipu malu. Kupegang tangannya, lalu kami berjalan menuju rumah.
*
Matahari kembali ke singgasananya, senja mulai berubah menjadi gelap gulita. Hari sudah malam, saatnya aku dan Fika beristirahat di peraduan terindah.
“Sayang … kamu lagi ngapain?” tanyaku sambil mendekatinya yang sedang membuka lemari pakaian.
Ia terkejut saat aku memeluknya.
“Aku lagi pilih jilbab buat tidur, nih,” ucapnya sambil mengamati jilbab yang tersusun rapi di lemari.
Aku langsung membalikkan badannya.
“Aku ini, siapa kamu?” tanyaku dengan tatapan tajam.
“Tentu saja, Mas Ilham, suamiku,” ucapnya balik menatapku dan memegang pipiku.
“Baiklah, aku suka istriku begitu menjaga auratnya. Bahkan saat menolongmu tak tersingkap sedikitpun jilbabmu,” ucapku,
“Fika sudah mengakui Mas sebagai suami, ‘kan?” tanyaku lagi.
Ia mengangguk.
“Kalo begitu, bolehkah tidur tanpa mengenakan jilbabmu? Maksud Mas, jika sedang berdua bersama Mas di kamar, kamu tidak akan berdosa hanya karena suamimu ini melihat auratmu.” ucapku meyakinkannya.
Ia bergeming, lalu mengangguk perlahan.”Aku tahuitu, hanya saja aku masih merasa malu jika harus menampakkan rambutku di hadapan, Mas,” ucapnya.
“Kenapa musti malu? kita sudah halal. Bukankah begitu? Bahkan jika aku mau, bisa saja aku memaksamu melakukan apa yang tadi sore Nuni pertanyakan, tapi aku menghormatimu, tak ingin kamu terpaksa melayaniku,” jelasku rinci kepadanya.
Ia diam, lalu menarik napas dalam dan mengembuskannya. Perlahan tangannya bergerak melepaskan jilbab yang menutupi kepala.
“Masyaallah … kamu cantik sekali,sayang,” ucapku saat melihat rambut panjangnya tergerai indah, hitam, dan bergelombang. Aku semakin terpesona dengan istriku.
Senyumku mengembang, tangan terangkat membelai rambut dan mengusap lembut pipinya.
“I love you, Fika Saputri.” Aku membisikkan kata cinta di telinganya.
“I love you too,” ucapnya membalas cintaku.
Lagi, matanya terpejam seolah memberikan isyarat akan hasrat biologis yang terpendam sejak malam pertama.
“Tunggu sebentar, ya.” Aku berkata sambil berjalan ke arah saklar lampu.
Klik!
Lampu dimatikan, ruangan menjadi gelap.
“Kok, dimatikan, Mas?” tanyanya.
“Nggak apa-apa, khawatir ada pembaca yang kepoin kegiatan kita,” ucapku.
“Maksudnya?” tanyanya lagi.
“Tuh, dari kemarin penasaran sama yang akan Mas lakuin malam ini ke kamu, sayang,” ucapku.
“Emang, Mas mau ngapain aku?” tanyanya lagi.
“Kamu mau tahu banget atau mau tahu aja?” tannyaku balik.
“Mau tahu banget, deh,” ucapnya.
“Yaudah, sini, Mas kasih tahu langsung dengan praktek,” ucapku lalu menngendongnya.
“Iiih … Mas Ilham, apaan sih, turunin Fika! Pleasee ....” Ia berkata sambil meronta-ronta di gendongan.
*
Selanjutnya Author nggak sanggup nulisnya, khawatir masuk dalam 101 dosa penulis pemula karya Pak Isa Alamsyah. Bayangin sendiri, yak. hee.
**.
Malam ini tanpa pernah aku memimpikannya, telah menjadi malam terindah dalam hidupku. Fika telah membuktikan bahwa dirinya adalah milikku seutuhnya, kuharap ia pun merasakan hal yang sama. Dan terus berlanjut pada malam-malam berikutnya.
***.
+++++
#POV_Ilham
*
“Masnya … aku pinjam Fika sebentar, ya,” ucapnya padaku dengan mata dikedip-kedipkan.
Aku mendengkus, lalu menoleh ke arahnya.
“Jangan pura-pura nggak kenal. Fika sudah tau kalo kamu itu sepupuku!” ketusku
Ia menoleh ke arah Fika. Istriku pun mengangguk.
“Yaudah, kalo gitu. Mas Ilham keluar, sana, buruaaan ....!” serunya sambil berdiri, lalu mendorongku keluar.
Braaak!
Pintu kamar ditutup dan terkunci dari dalam. Mereka terdengar gaduh di sana.
“Huufht!” Kuembuskan napas kasar.
Aku beranjak dari tempatku berdiri, menjatuhkan diri di sofa, duduk dengan kedua tangan memegang kepala, lalu bersandar.
Lima menit kemudian, kuketuk pintu.
“Tok! Tok!
“Siapa?!” tanya seseorang bersuara cempreng itu.
“Aku, Mas Ilham,” jawabku.
Hening tak ada suara. Aku pun kembali duduk.
Sepuluh menit kemudian, kuketuk lagi.
Tok!Tok!
“Jangan ganggu bisa, nggak, sih, Mas!” sungut orang yang kuanggap sepupuku itu, terdengar suara mereka tertawa.
“Aku mau ajak kalian makan, buruan, lapar, nih,” ucapku di depan pintu.
“Makan aja duluan, nanti kami nyusul.” Ia menjawab santai.
Aku menghela napas kasar, kembali duduk di sofa. Kalian tau, ingin rasanya kudobrak pintu itu.
“Ada apa, Nak Ilham?” tanya Ibu.
Aku menoleh ke arah sumber suara.
“Heem … lagi nungguin Fika sama Nuni keluar kamar, Bu,” jawabku
Ibu melihat ke arah kamar, lalu tersenyum kecil.
“Mereka nggak bakalan keluar. Sebentar, Ibu panggilin, ya,” ucap Ibu sambil melangkah menuju pintu, lalu mengetuknya.
Seandainya ibu tahu kalo aku sudah mencoba hal itu berulang kali.
Tok! Tok!
Ibu mengetuk pintu, tak lama handle pintu bergerak.
“Nggak sabaran banget, sih, Ma ... eh, Ibu.” Nuni menghentikan ucapannya, saat melihat ibu.
“Ditungguin Nak Ilham dari tadi. Ibu sudah masak sayur kesukaan kalian. Sana, makan dulu! Nanti keburu dingin, nggak enak,” ucap Ibu.
Mereka berdua keluar. Nuni mencebik ke arahku, sedangkan istriku melemparkan senyuman manis.
*.
“Enak, ya, yang sudah punya istri,” ucap Nuni sambil menyuap sendok ke mulut. “Ngapain sih, kalian nikahnya buru-buru amat? Aku, kan, lagi di luar kota, jadinya nggak bisa datang.” sungutnya.
“Terserah Mas, dong! Kamu nggak datang aja ganggu, apalagi datang!” ketusku.
Ia mencebik.
“Nggak apa-apa, Nun, yang penting do’anya,” ucap Fika.
“Boleh tanya sesuatu, nggak?” tanyanya serius.
“Tanya apa? Jangan aneh-aneh,” kataku padanya, sementara Fika mengangguk.
Nuni nyengir kuda, sepertinya mencurigakan, kulirik dirinya sambil tangan meraih sebuah gelas dan meneguknya..
“Anu … emm … kalian udah ML, ya?” tanyanya, membuatku tersedak, lalu menumpahkan kan air minum yang hampir kutelan.
“Kenapa, Mas?” tanya Nuni kaget melihatku.
Kuatur napas,terbatuk-batuk. Sempat kulirik Fika yang sedang salah tingkah.
“Masih jomblo, nggak usah tanya yang begituan,” ucapku padanya.
“ish! Cuma nanya udah atau belum doang, kok, tinggal jawab aja susah amat,” sungutnya.
“Belum! Yaudah, cepat habisin makananmu, sudah hampir malam ini, buruan pulang! Bahaya anak gadis berkendara di malam hari,” perintahku.
Ia memajukan bibirnya lima senti, lalu menyuap makanan tergesa-gesa. Tak lama kemudian, ia pamit pulang dan kami mengantarkannya ke halaman.
“Jangan lupa kabari, ya, kalo sudah gituan.” Ia memainkan alisnya menatapku dan Fika.
“Apaan sih, buruan sana pulang!” ketusku.
Nuni pun menstarster motor, lalu melambaikan tangan dan melaju hingga menghilang di ujung jalan.
Aku menatap istriku yang tersipu malu. Kupegang tangannya, lalu kami berjalan menuju rumah.
*
Matahari kembali ke singgasananya, senja mulai berubah menjadi gelap gulita. Hari sudah malam, saatnya aku dan Fika beristirahat di peraduan terindah.
“Sayang … kamu lagi ngapain?” tanyaku sambil mendekatinya yang sedang membuka lemari pakaian.
Ia terkejut saat aku memeluknya.
“Aku lagi pilih jilbab buat tidur, nih,” ucapnya sambil mengamati jilbab yang tersusun rapi di lemari.
Aku langsung membalikkan badannya.
“Aku ini, siapa kamu?” tanyaku dengan tatapan tajam.
“Tentu saja, Mas Ilham, suamiku,” ucapnya balik menatapku dan memegang pipiku.
“Baiklah, aku suka istriku begitu menjaga auratnya. Bahkan saat menolongmu tak tersingkap sedikitpun jilbabmu,” ucapku,
“Fika sudah mengakui Mas sebagai suami, ‘kan?” tanyaku lagi.
Ia mengangguk.
“Kalo begitu, bolehkah tidur tanpa mengenakan jilbabmu? Maksud Mas, jika sedang berdua bersama Mas di kamar, kamu tidak akan berdosa hanya karena suamimu ini melihat auratmu.” ucapku meyakinkannya.
Ia bergeming, lalu mengangguk perlahan.”Aku tahuitu, hanya saja aku masih merasa malu jika harus menampakkan rambutku di hadapan, Mas,” ucapnya.
“Kenapa musti malu? kita sudah halal. Bukankah begitu? Bahkan jika aku mau, bisa saja aku memaksamu melakukan apa yang tadi sore Nuni pertanyakan, tapi aku menghormatimu, tak ingin kamu terpaksa melayaniku,” jelasku rinci kepadanya.
Ia diam, lalu menarik napas dalam dan mengembuskannya. Perlahan tangannya bergerak melepaskan jilbab yang menutupi kepala.
“Masyaallah … kamu cantik sekali,sayang,” ucapku saat melihat rambut panjangnya tergerai indah, hitam, dan bergelombang. Aku semakin terpesona dengan istriku.
Senyumku mengembang, tangan terangkat membelai rambut dan mengusap lembut pipinya.
“I love you, Fika Saputri.” Aku membisikkan kata cinta di telinganya.
“I love you too,” ucapnya membalas cintaku.
Lagi, matanya terpejam seolah memberikan isyarat akan hasrat biologis yang terpendam sejak malam pertama.
“Tunggu sebentar, ya.” Aku berkata sambil berjalan ke arah saklar lampu.
Klik!
Lampu dimatikan, ruangan menjadi gelap.
“Kok, dimatikan, Mas?” tanyanya.
“Nggak apa-apa, khawatir ada pembaca yang kepoin kegiatan kita,” ucapku.
“Maksudnya?” tanyanya lagi.
“Tuh, dari kemarin penasaran sama yang akan Mas lakuin malam ini ke kamu, sayang,” ucapku.
“Emang, Mas mau ngapain aku?” tanyanya lagi.
“Kamu mau tahu banget atau mau tahu aja?” tannyaku balik.
“Mau tahu banget, deh,” ucapnya.
“Yaudah, sini, Mas kasih tahu langsung dengan praktek,” ucapku lalu menngendongnya.
“Iiih … Mas Ilham, apaan sih, turunin Fika! Pleasee ....” Ia berkata sambil meronta-ronta di gendongan.
*
Selanjutnya Author nggak sanggup nulisnya, khawatir masuk dalam 101 dosa penulis pemula karya Pak Isa Alamsyah. Bayangin sendiri, yak. hee.
**.
Malam ini tanpa pernah aku memimpikannya, telah menjadi malam terindah dalam hidupku. Fika telah membuktikan bahwa dirinya adalah milikku seutuhnya, kuharap ia pun merasakan hal yang sama. Dan terus berlanjut pada malam-malam berikutnya.
***.
+++++
#Fika_Mendadak_Nikah_20
*******
Satu bulan sudah diriku menjadi istri Mas Ilham. Tak pernah sedikit pun terbetik di pikiran sebegitu cepatnya cinta datang mengisi relung hatiku, padahal aku belum mengenalnya sama sekali. Bersyukur ia memang lelaki baik yang Allah pilihkan untukku. Rasaku tumbuh saat ia menceritakan pertama kali melihatku di jembatan berwarna merah—Ampera—itu, mengembalikan dompet kecil milikku enam tahun yang lalu, mengirimkanku seorang sahabat super lincah, dan bawel.
Perjuangannya menyelamatkanku ketika tenggelam di Sungai Musi membuat hatiku luluh, bagaimana mungkin aku mengabaikannya? Mampukah aku pura-pura tak menyukainya? Tidak mungkin! Aku masih dapat mendengar ucapan takut kehilangan akan diriku dan kata maaf dari bibirnya.
Satu lagi yang membuatku yakin dengan perasaannya kepadaku, saat ia memberikan sebuah bingkisan yang berisi gamis, jilbab, dan pakaian dalam wanita. Terlihat sepeleh, namun bagi seorang pria, bisa jadi itu sesuatu yang berhubungan dengan harga dirinya. Sekali lagi, mungkin ia membuang gengsinya hanya untuk menolongku.
Aku jatuh cinta kepada suamiku, cinta karena Allah yang telah menggerakkan hatinya untuk melamarku, mengucapkan kalimat sakral di depan penghulu.
“Hey … sayang, ngelamunin apa, sih?” tanyanya sambil memeluk dan berbisik di telingaku yang sedang berdiri di depan jendela kamar.
Aku hanya tersenyum, lalu mengarahkan tangan ke belakang menyentuh pipinya. Kubalikkan tubuh menghadapnya. Ia mengenakan celana hitam, kemeja dongker dan dasi sepadan menambah ketampanan dan wibawa. Tanganku bergerak merapikan penampilannya, lalu melangkah mengambil jaz hitam di lemari pakaian.
"Nggak apa-apa, 'kan aku tinggal? Awas kangen, ya," godanya padaku.
Aku mengangguk, memberikan senyuman manis untuknya. "Atau malah Mas yang kangen aku ...." Aku balik menggodanya dengan mengedipkan sebelah mata.
"Itu pasti sayang. Rasanya ingin selalu memelukmu, tapi aku juga harus memastikan kinerja perusahaan yang telah menjadi tanggung jawabku," ucapnya sambil menangkup kedua tangan di pipiku.
Aku mengangguk.
"Siang nanti, aku pulang untuk makan siang di rumah," ucapnya.
"Ak--" ucapku terputus karena telunjuknya berada di bibirku.
"Aku tahu, nggak usah khawatir. Aku bawakan makan siangnya, oke." Ia berkata seolah tahu apa yang kupikirkan.
Lagi aku pun mengangguk.
"Oiya, nanti aku pesankan Go Food untuk sarapan," ucapnya lalu mengecup dahi dan bibirku.
Tentu saja sekarang aku sudah terbiasa dengan perlakuannya itu, bahkan membuatku candu.
Aku mencium punggung tangan dan menemani langkahnya keluar rumah.
Kujawab salam disertai lambaian tangan saat melihat mobil yang dikendarainya melaju menghilang di balik pagar.
Kututup pintu, berjalan menyusuri rumah yang baru satu minggu kami huni.
Mas Ilham sudah memiliki rumah sejak setahun lalu. Ia berkata rumah beserta isinya kelak akan diatasnamakan istrinya, Fika Saputri. Betapa terkejutnya aku saat mendengar hal itu, ternyata ia memang telah merencanakannya dari dulu.
Semoga semua ini bukan sekadar mimpi. Cintanya begitu besar dan tulus kepadaku. Sekarang justru aku yang takut kehilangan atau tidak mampu membalas cintanya.
Seandainya pun ini tak nyata, maka sadarkanlah aku dari mimpi panjang ini Ya Allah.
Ning! Nong!
Suara bel rumah berbunyi, aku segera menghampiri.
Seorang driver ojol membawakan beberapa makanan yang telah dipesankan untukku.
"Terima kasih suamiku," gumamku saat melihat bubur ayam beserta buah-buahan telah berada di tangan.
Aku memilih makan beberapa potong buah apel, lalu menuangkan bubur ke mangkok. Baru dua suapan, perutku terasa mual. Aku segera berlari ke kamar mandi memuntahkan semua yang telah ditelan.
Aku memegangi kepala yang terasa berat, menyusuri tembok, penglihatanku kabur, mataku berkunang-kunang. Saat akan sampai di kasur, aku terjatuh dan tak sadarkan diri.
Aku mengerjapkan mata, kulihat ada seseorang yang berada di sampingku, dan aku sudah berada di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh.
"Mas Ilham ?!" tanyaku heran dengan kehadirannya.
Aku mencoba duduk, namun tangannya menahan pundakku agar tetap berbaring.
"Sudah istirahat saja," ucapnya sambil mengenggam tanganku.
"Mas sudah lama pulangnya?" tanyaku.
"Lumayan, satu setengah jam yang lalu," ucapnya seraya mengusap-usap tanganku.
"Kok, aku nggak tahu?" tanyanya.
"Kamu pingsan. Tadi dokter sudah memeriksamu. Kata Dokter, tekanan darahmu rendah dan juga anemia. Dokter memintamu untuk beristirahat." Mas Ilham berkata sambil menatapku lekat.
Aku mengangguk.
"Aku mau ke kamar mandi, mau buang air kecil," ucapku.
"Baiklah, aku temani," ucapnya sambil membantuku bangun dari tempat tidur.
"Nggak usah, aku bisa sendiri." Aku menolak halus bantuannya.
"Tadi dokter bilang jangan tinggalin kamu sendirian," ucapnya.
"Aku nggak apa-apa! Sudah lebih baik. Lagian, ngapain Mas pulang? Kerjaannya gimana?" tanyaku.
"Ada dokumen yang tertinggal. Mas pencet bel berulangkali tapi pintu tak terbuka. Terpaksa Mas buka menggunakan kunci serep," jelasnya. "Lalu Mas mencarimu sampai di kamar, melihatm tergeletak di lantai. Mas langsung mengangkat dan membaringkanmu di kasur, lalu menelepon dokter," lanjutnya.
"Terima kasih, Mas," ucapku.
"Mas temani kamu, sekalian memintamu untuk periksa ini." ia berkata sambil memberikanku alat tes kehamilan. "Ini tadi pesan dokter, kamu tampung urinenya di wadah ini," ucapnya sembari mengambil gelas kecil di meja samping tempat tidur.
"Baiklah," ucapku.
.
Aku pun menuju kamar mandi ditemani olehnya dan melakukan saran dokter.
"Garis merah dua, aku positif hamil, Mas," ucapku seakan tak percaya.
"Alhamdulillah ... kamu hamil, sayang!" teriaknya sambil memeluk dan berulangkali mengecup dahiku.
Aku menikmati ungkapan kebahagiaan sambil tersenyum melihatnya.
****
Tepat dua bulan usia kehamilan. Mas Ilham urung meninggalkanku sendirian di rumah, alasannya khawatir terjadi sesuatu padaku dan calon bayi.
"Mas, nggak apa-apa perusahaannya tanpa direktur di tempat?" tanyaku.
"Mas sudah bilang sama ayah, kalo kamu hamil. Jadi ayah meminta Mas untuk fokus menjagamu. Sedangkan, perusahaan biar sementara di handlenya," jelas suamiku.
"Tapi aku sudah sehat, Mas percaya, deh. Aku baik-baik saja." Aku berkata sambil memegang tangan dan menatapnya.
Ia tak menghiraukan ucapanku, malah aku di peluknya.
"Kamu nggak ngidam sesuatu, gitu?" tanya Mas mengalihkan pembicaraan.
Aku menggeleng.
"Aneh! Katanya, wanita hamil itu kepengen yang macam-macam. Mungkin, mau jalan ke suatu tempat, Sayangku?" tanyanya.
"Nggak mau ke mana-mana, di rumah aja," jawabku.
"Kamu mau shopping?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng lagi.
"Hemm ...." Ia mengembuskan napas perlahan. "Jika ngidam, pengen sesuatu katakan saja. Insyaallah Mas turutin," ucapnya.
"Ada, sih. Tapi nggak mungkin diturutin," ucapku.
Dahinya mengernyit.
"Apa?" tanyanya.
"Nggak, ah, nanti marah," jawabku
"Marah kenapa?" tanyanya lagi.
Aku hanya tersenyum, berdiri ingin meninggalkannya di sofa.
"Heem ...." Suara beratnya memberi isyarat ketidaksukaan, lalu menarikku hingga duduk di pangkuannya.
"Katakan, apa yang kamu inginkan dan dapat membuatku marah?" tanyanya sambil memelukku dari belakang tak ingin melepaskan.
"A-ku ingin bertemu Dennis," ucapku.
Kurasakan pelukannya mengendur.
"Tuh, kan, marah! Mas sih, maksa. Yaudah, Fika ke kamar aja," ucapku sambil melangkah menuju kamar. Mas Ilham pun bergeming, tak bersuara.
***
Aku tak mampu membohongi hati, tetap saja rasa sayang masih terpatri kuat untuk Dennis, sahabatku.
Aku mengaku salah telah mengucapkan itu. Tapi aku ingin tahu kabar dari sahabatku walaupun Dennis berkata baik-baik saja, tetap saja rasa bersalah hinggap di hatiku.
Airmataku yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata, jatuh membasahi pipi. Seseorang datang mengusapnya dan memelukku.
"Maafkan aku, Mas. Bukan maksudku ingin membuatmu marah," ucapku sambil terisak.
Ia diam, lalu mengusap kepalaku.
"Aku hanya ingin melihatnya sebagai sahabat, tidak lebih," lanjutku.
Ia tetap bergeming, mengeratkan pelukan.
"Mas marah, 'kan?" tanyaku lalu mendongak.
Terlihat rahangnya yang mengeras lalu berangsur melunak, kemudian menatapku.
"Maaf," ucapku kembali terisak, "ma--" Tak mampu kuucapkan karena terbuai dengan sentuhan bibirnya.
Sejenak kami terbuai di lautan cinta. Ia ingin agar aku melupakan permintaanku itu.
***-
Empat bulan usia kehamilan, Mas Ilham mengajakku periksa ke dokter kandungan.
Di ruangan berwarna hijau ini, kami melakukan USG. Terlihat sebuah layar yang menampakkan janinku. Suara dan detak jantungnya, anggota tubuhnya pun sudah lengkap sempurna meski ukurannya masih sangat kecil.
Kami bertambah bahagia saat dokter mengatakan ada dua kantong kehamilan. Aku hamil anak kembar. Sungguh, kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Saat ini hanya ucapan syukur dengan lisan yang selalu memuji asma-Nya.
***
Nafsu makanku bertambah sejak kehamilan ini. Berat badanku pun meningkat drastis, mungkin karena di rahimku ada dua calon malaikat kami.
Bagaimana dengan Mas ilham? Perhatiannya melebihi seorang dokter Setiap lima belas menit, ia akan terus menanyakan keadaanku dan si jabang bayi.
"Sudah makan? Vitaminnya jangan lupa diminum, hati-hati kalo ke kamar mandi, jangan kecapean. Tunggu aku bentar lagi pulang," ucapnya di telepon.
Pulang kerja, ketika ia sampai di rumah, aku memintanya untuk beristirahat. Tapi, ia kembali mengecek apakah aku benar-benar sudah melakukan yang dipintanya. Jika aku lupa minum vitamin, ia tak banyak bicara langsung mengambil air putih dan menyuruhku meminumnya.
***
Usia kandunganku delapan bulan saat ini. Bisa dilihat dari cermin, begitu melarnya tubuhku kini. Terkadang ada perasaan khawatir kalau aku sudah tak cantik lagi. Bisa saja, Mas Ilham tak menyukaiku lagi.
"Mas ...." Aku memanggilnya yang sedang duduk di dipan yang sedang menatap layar laptop.
"Iya, sayang. Ada apa?" tanyanya
"Badanku melar. kalo setelah melahirkan dan punya anak aku tak cantik lagi, apa mas masih cinta sama Fika?" tanyaku yang duduk di tepi ranjang.
Ia lalu menoleh sambil menutup laptop dan meletakkannya di meja yang berada di sisi ranjang.
"Sayang ... apa Mas terlihat seperti tidak lagi mencintaimu?" tanyanya padaku.
Aku bergeming. Ia lalu mendekat dan menangkup pipiku.
"Dengarkan baik-baik, ya. Mas mencintaimu karena kebaikan yang ada pada dirimu. Kecantikkan hatimu terpancar keluar sehingga mempesona semua mata yang memandang. Aku selalu cinta padamu, terlebih kamu telah mengandung benih cinta kita. Terima kasih sudah bersedia menjadi istri dan ibu dari anak-anakku." Ia berkata sambil mengusap lembut pipiku, lalu perutku
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Eh, gerak nih anak kita," ucapnya saat meletakkan tangan di perut besarku.
Aku pun tersenyum karena merasakan pergerakannya.
Saat sedang bercengkrama dengan si kecil di rahimku. Gawai Mas Ilham berbunyi, ia lalu mengangkatnya.
"Maaf, aku tak bisa. Istriku sedang hamil besar. Sampaikan salamku pada teman-teman," ucapnya dengan seseorang di sana.
Mas Ilham lalu mematikan dan meletakkan gawainya.
"Siapa, Mas?" tanyaku.
"Teman-teman kuliah, ngajak ketemuan di tempat kita biasa ngumpul," ucapnya.
"Oya? Kok, nggak pergi? Jangan karena aku, Mas jadi nggak bisa bersenang-senang," ucapku menatapnya.
"Justru kesenanganku karena bersamamu dan calon buah hati kita." Mas Ilham berkata sambil tersenyum lebar.
"Beneran? Nggak lagi bohong, 'kan?" tanyaku.
Ia menggeleng, kemudian meraih tanganku.
"Kalian adalah kebahagiaanku," ucapnya, "sudah malam, yuk istirahat."
Aku pun mengangguk.
Saat hendak tidur, gawai Mas Ilham berbunyi kembali. Ia melihat nama yang tertera, lalu menekan tombol merah dan menonaktifkan benda itu. Kemudian, ia membelai rambutku hingga aku tertidur pulas.
***
Pagi yang cerah, Mas Ilham sudah berangkat ke kantornya. Aku merapikan tempat tidur kami, saat akan menyusun bantal, terlihat gawai Mas Ilham di sana.
Aku tak ingin membukanya, lagipula aku tak pernah tahu pola di android milik suamiku. Bukan ia tak mempercayaiku, tapi karena aku tak mau ikut pusing dengan urusan kantornya, juga aku bukan seorang yang kepoan, saling curiga hanya akan membuat hidupku tak tenang. Aku selalu percaya pada suamiku dan kami selalu menjaga komunikasi dengan baik.
Aku bermaksud untuk mengirim HP suamiku ke kantornya, diantar oleh Pak Amin, supir pribadi Mas ilham yang diperintahkan untuk selalu mengawasiku di rumah.
"Pak, HP Mas Ilham ketinggalan, aku bermaksud untuk mengantarkannya sendiri. Bisakah Pak Amin mengantarkanku sampai ke ruangannya?" tanyaku pada Pak Amin.
"Bisa, Bu. Mari saya antar," ucapnya sembari akan membukakanku pintu mobil, tapi aku menahannya.
"Nggak usah, Pak. Saya bisa sendiri," ucapku sambil meraih pintu, membuka, lalu masuk ke mobil.
Mobil melaju perlahan, jalanan lumayan ramai. Jarak antar rumah ke perusahaan kurang lebih lima belas menit.
Sesampainya di sana aku turun perlahan, menolak halus bantuan Pak Amin. Mungkin ia khawatir kalau terjadi sesuatu pada ibu hamil besar sepertiku.
Aku berjalan memasuki lobi ditemani Pak Amin yang mengarahkan langkahku. Kami menuju sebuah lift. Pak Amin lalu menekan angka tiga, tak lama lift pun bergerak dan berhenti di lantai tiga. Kami melanjutkan perjalanan, Pak Amin menghentikan langkahnya. Aku pun berhenti. Ia pun seperti sedang memperkenalkanku pada sekretaris Mas Ilham. Setelahnya, wanita cantik itu langsung tersenyum dan membungkukkan badan.
Aku membalas senyumannya dan menampakkan telapak tangan memberi isyarat agar jangan bersikap berlebihan.
"Ini ruangan Pak Ilham, Bu," ucapnya.
"Terima kasih. Pak Amin tunggu di sini, ya. Saya hanya mengantarkan ini saja," ucapku sambil menunjukkan gawai Mas Ilham.
Pak Amin mengangguk.
Aku langsung mendorong pintu kaca tebal bertuliskan direktur itu.
"Assalammu'alaikum," ucapku.
Terdengar dua orang menjawab salam bersamaan. Tatapanku tertuju pada genggaman tangan mereka.
"Fika?!" Suara Mas Ilham kaget saat melihatku. Ia langsung menarik tangannya dari wanita di hadapannya itu.
Degub jantung tak menentu, rasa panas menjalar di seluruh tubuh. Senyum yang terukir berubah menjadi sendu. Ingin aku marah, tapi khawatir dengan janin di kandunganku. Bukan! Bukan di sini tempatku marah, jika ingin penjelasan akan aku tanyakan di rumah.
Aku menarik napas mengembuskannya perlahan. Kuasai dirimu, Fika! Tahan. Ingat bayi-bayimu. Aku lalu mengusap perutku yang seolah memberontak ikut merasakan gejolak emosi yang di alami ibunya.
"Aku hanya ingin mengantarkan ini, tadi ketinggalan di rumah. Mungkin ada hal penting di sana," ucapku datar.
"Kenapa nggak suruh Pak Amin saja, sayang. Kamu nggak perlu repot ke sini, kasian anak kita," ucapnya.
Apa? Bukannya mengucapkan terima kasih. Malah mengatakan demikian. Mungkin maksudnya jika saja aku tak ke sini, mereka nggak, kan, kepergok seperti ini.
Astagfirullah ... istigfar Fika. Aku menarik napas kembali.
"Baiklah, maaf aku mengganggu kalian berdua," ucapku seraya meletakkan HP-nya di meja, membalikkan badan meninggalkan ruangan.
Aku mendengar suara derap kaki mengikuti langkahku. Mas Ilham meraih tanganku, dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Aku menolak saat ia ingin memelukku. Aku kalah kuat saat tangan kekar membenamkan kepalaku di dadanya.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Aku terdiam di pelukannya.
Mataku panas, tapi sekuat mungkin kutahan agar tidak menjadi buliran bening yang membasahi pipi.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat. Mas akan jelaskan di rumah," ucapnya, "Aku antar kamu pulang, ya," tawarnya padaku.
Aku menggeleng.
"Aku pulang diantar Pak Amin saja!" ketusku lalu melepaskan pelukannya perlahan.
Terdengar ia mengembuskan napas kasar.
Aku pergi keluar ruangan, meminta Pak Amin mengantarkanku pulang. Tak kulihat Mas Ilham mengejarku, mungkin ia lebih memilih wanita itu. Baiklah, aku memilih untuk mengalah.
Sakit! Itulah yang kurasakan saat ini. Aku ingin pergi menjauh, untuk menenangkan diri. Tanpa terasa buliran bening meluncur dari sudut mata. Segera kuseka, agar Pak Amin tak mengetahuinya.
"Pak, tolong antar ke rumah orang tua saya, ya. Tiba-tiba kangen dengan ibu dan bapak," pintaku.
"Baik, Bu," ucap Pak Amin. Mobil pun berputar arah menuju rumah orang tuaku.
Perjalanan tiga puluh menit, akhirnya aku sampai di rumah ibu dan bapak. Kuminta Pak Amin untuk pulang.
Ibu segera menyambut kedatanganku. Terakhir aku ke sini saat usia kehamilan lima bulan.
"Sendirian, Nduk? Suamimu mana?" tanya ibu.
"Lagi sibuk, aku kangen ibu sama bapak," ucapku.
"Suamimu tahu kamu ke sini?" tanya ibu padaku.
Aku mengangguk. Maafkan aku harus berbohong, Bu. Aku nggak mau ibu bersedih dan tahu masalah rumah tanggaku. Aku hanya butuh tempat untuk menangkan diri sementara waktu.
"Fika boleh istirahat di kamar, Bu. Capek pinggangnya pengen rebahan," ucapku yang menahan sakit pinggang sejak di kantor Mas Ilham.
Ibu mengangguk, lalu mengantarkanku ke kamar. Aku menutup pintu dan menguncinya, tidak ingin ibu tiba-tiba masuk dan melihatku menangis.
Aku merebahkan diri, memeluk bantal, tak mampu membendung air mata, menangis sejadinya.
"Teganya kamu mengkhianatiku, di saat aku sedang mengandung anakmu, Mas," ucapku lirih.
Apa yang harus aku lakukan Ya Allah? Hatiku hancur ... haruskah aku berpisah darinya? Kumohon, kuatkan aku Ya Robbi ....
****
+++++
#Fika_Mendadak_Nikah_21
Part sebelumnya
Sore hari, aku terbangun saat ada yang mengetuk pintu kamar.
"Nduk, ada telepon untukmu," ucap Ibu di balik pintu.
Siapa yang menelepon? Jangan-jangan, Mas Ilham.
Bagaimana ini? Terlihat dari cermin, mataku bengkak dan merah. Apa yang harus aku katakan pada ibu. Lagipula suaraku menjadi parau.
Aduh, Fika! Kenapa sejak menikah kamu jadi melow begini? Kuat Fik, mana dirimu yang cuek dan masa bodo dulu? Ayolah diriku, bangkit! Aku harus kuat, setegar karang. Rumah tangga pasti ada cobaannya, 'kan. Aku harus menyelesaikan ini dengan kepala dingin. Setidaknya hatiku sudah lebih sedikit tenang.
"Iya, Bu. Sebentar. Fika cuci muka dulu," ucapku pada Ibu.
Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Kembali menatap cermin, mataku sembab. Huufht! Aku menarik napas, lalu menghela napas panjang.
Aku membuka pintu. Terlihat ibu menungguku dengan ponsel di tangannya.
"Telepon dari siapa, Bu?" tanyaku.
Ibu tersenyum, lalu mengusap pipiku. Mungkin ia tahu kalau anaknya baru saja bersedih.
"Telepon dari orang yang hampir setiap minggu menanyakan kabarmu," ucap Ibu, membuat dahiku mengernyit.
"Assalamu'alaikum ... halo, dengan siapa ini?" tanyaku.
Terdengar suara seseorang yang kukenal.
"Dennis!" teriakku sambil menatap ibu.
Ibu pun mengangguk dan tersenyum.
"Apa kabar? Kamu sekarang di mana?" tanyaku pada lelaki di sana.
Suaranya terputus karena embusan angin, sepertinya ia sedang dalam perjalanan.
"Ke sini? Ke rumah ibu maksudnya?" tanyaku lagi.
Ia tak menjawab lalu telepon pun mati. Ternyata baterai HP ibu nge-drop.
"Ada apa? Kok udahan ngobrolnya?" tanya Ibu.
"Baterainya habis, Bu," ucapku pada Ibu sambil mengulurkan tangan memberikan HP.
Aku penasaran, apa yang di maksud Dennis tadi dengan 'aku segera ke sana' ? Apa maksudnya ia mau ke rumah ini.
Tak lama terdengat suara deru motor terparkir di halaman. Ibu langsung berdiri dan melangkah menuju pintu.
Betapa terkejutnya aku saat melihatnya sudah ada di hadapan. Dennis, sahabatku sudah ada di sini.
"Hai ... Ika," sapanya padaku.
Aku tersenyum, menyapanya kembali. Ibu mempersilakan Dennis duduk, lalu permisi ke dapur untuk membuatkan minum.
Aku menatap Ibu, ia pun mengangguk dan berkata "Sebentar saja, nggak lama, kok," ucap Ibu.
"Kamu sehat, Ka?" tanya Dennis padaku.
Aku mengangguk.
"Kamu tambah cantik gendutan, Ka," ejeknya melihat perutku yang besar disertai pipi yang cabi.
"Heem ..." Aku mencebik. "Kamu, kok, brewokan sekarang?" tanyaku melihat penampilannya yang penuh jambang.
"Frustasi, karena kamu menolak lamaranku," Ia berkata, tatapannya tajam ke arahku.
Deg! Jantungku terasa diremas. Kenapa ia harus membahas lagi soal itu.
"Hahaha .... aku becanda, Ka," ucapnya disertai tertawa terbahak-bahak.
"Nggak lucu!" sungutku sambil melempar bantal kecil di kursi ke arahnya. Dengan sigap tangannya menangkap benda tersebut.
"Maaf ... eh, udah berapa bulan kandunganmu, Ka?" tanyanya.
Aku enggan menjawab. Sebel!
"Ya ... kalo kamu cemberut cantiknya hilang ntar." Lagi ia mengejekku.
"Issh!" sungutku dan akan melemparkan bantal lagi. Tapi kubatalkan karena ada ibu datang.
"Loh, loh, ada apa ini?" tanya Ibu melihatku cemberut sedangkan Dennis tertawa terbahak-bahak.
"Nggak apa-apa, Bu. Dennis becanda aja sama Ika. Eh, dianya ngambek. Lucu, kan, Bu," ucapnya pada Ibu.
Ibu lalu tersenyum dan duduk di sampingku.
"Ngapain kamu, ke sini, Den?" tanyaku.
"Ika, ngapain di sini?" tanyanya balik.
"Ini, kan, rumah orang tuaku. Terserah aku dong!" ketusku.
"Ini juga rumah orang tuaku. Iya, kan, Bu?" tanyanya pada ibu sambil tersenyum.
Ibu mengangguk.
"Iya, kalian berdua anak Ibu," jawab Ibu.
"Aku setiap minggu datang ke sini, Ika aja yang nggak tahi, 'kan?" tanyanya padaku
Aku menoleh pada Ibu, ia pun mengangguk.
"Kok, Ibu nggak kasih tau?" tanyaku pada Ibu.
"Itu karena aku yang meminta agar ibu dan bapak merahasiakannya darimu," jelasnya.
Aku mengernyitkan dahi.
"Kenapa dirahasiakan?"
Ia tidak menjawab saat terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Suara derap langkah mendekat, jantungku berpacu lebih cepat. Semoga yang datang bukan dirinya.
Orang itu mengucapkan salam, kami bertiga serentak menjawabnya.
"Mas, Ilham," gumamku dengan mata terpejam.
Aku mencoba mengatur napas sebisa mungkin. Tenang, Fika! Sabar ... kuasai dirimu.
"Hai, Sayang." Mas Ilham menyapaku lalu mengecup kepalaku.
Rasanya aku ingin menghindar, tapi ada ibu dan Dennis di sini. Aku harus berpura-pura semua baik-baik saja di depan mereka.
Aku pun menarik ujung bibir, senyuman yang dipaksakan.
"Apa kabar, Den?" tanyanya pada Dennis mereka pun berjabat tangan. "Kali kedua kita berjumpa dan di tempat yang sama," ucap Mas Ilham.
"Enam bulan terakhir aku sering ke sini. Kalian yang jarang, hingga baru kali ini kita bertemu," ucap Dennis.
Mereka masih sama kakunya seperti dulu atau mungkin cara berbicara laki-laki memang begitu.
"Aku permisi ingin ke kamar mandi dulu. Akhir-akhir ini aku sering buang air kecil. Mungkin karena kandungan yang semakin besar," ucapku melihat ke arah Dennis, tak kuhiraukan Mas Ilham yang duduk di sebelahku.
"Aku antar, ya," ucap Mas Ilham.
"Nggak perlu, aku bukan anak kecil!" ketusku tanpa melihat ke arahnya.
Aku melangkah melewati suamiku, ia pun mengenggam tanganku, tapi aku terus berjalan hingga ke toilet di kamarku.
Selesai menuntaskan hajatku. Aku segera keluar. Betapa terkejutnya aku saat melihat Mas Ilham berada di depan pintu kamar yang telah di tutupnya.
Aku menunduk, tak ingin menatapnya. Langkahku terhenti saat ia memegang lenganku erat, sulit dilepaskan.
"Kamu marah padaku?" tanyanya.
Dasar cowok! Nggak peka dengan perasaan wanita. Sudah tahu aku tak mau dekat-dekat dengannya, itu artinya marah.
Aku hanya diam tak menjawab pertanyaanya.
"Fika, please ... jangan bersikap seperti ini. Bicaralah padaku," ucapnya menghadapkan tubuhku padanya.
Aku bergeming, tak mau menatapnya.
"Fika, tatap mataku, kamu jangan salah paham." Ia berkata sambil mengangkat daguku, tapi mata kupejamkan.
"Fika ...." Ia lalu mencium bibirku. Spontan mataku membelalak dan mendorongnya hingga menabrak tembok.
"Ngapain, Mas ke sini? Apa hanya untuk menyakitiku? Aku tak butuh penjelasan apapun dari Mas, semua sudah kulihat dengan mata-kepalaku sendiri, kalian berpegangan tangan. Aku bodoh, telah begitu mempercayaimu, Mas, memberikan seluruh jiwa dan ragaku padamu. Kamu berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Sekarang apalagi yang kamu mau dariku? Pergilah bersama wanita itu!" ucapku meluapkan kekesalanku.
"Sayang ...." Mas Ilham berkata ingin merangkulku.
Aku melangkah mundur. Menjauhi sentuhannya.
"Diam di tempat dan jangan panggil aku sayang!" teriakku padanya.
Ia berhenti mengikuti perintahku.
"Kamu salah paham, wanita i--"
"Stop! Aku sudah bilang tak mau penjelasan apapun darimu.
"Sayang, dengarkan aku dulu. Itu tak seperti yang ka--"
"Diam! Aku tak mau mendengarkan apapun," ucapku sambil tangan menutup kedua telingaku.
"Fika, dia it--"
"Nggak mau!" teriakku.
Tiba-tiba kurasakan mulas di perut dan pinggang bagian bawah, "aaah ...!" Aku meringis menahan kontraksi.
Mas Ilham mendekat, menggenggam tanganku.
"Pergi!" teriakku menolak genggamannya sambil meringis kesakitan.
Mas Ilham tak menghiraukan. Ia langsung membopongku keluar kamar. Aku masih sempat meronta minta diturunkan. Namun, ia tak mempedulikan.
"Kamu jahat, Mas ... tega khianati aku, aaah ...!" ucapku kepadanya yang terus membawaku.
Aku menangis antara sakit hati dan kontraksi. Keduanya tak dapat kubedakan.
"Den, tolong bawa mobilku. Kita ke rumah sakit. Sepertinya Fika mau melahirkan!" ucapnya pada Dennis saat melewati ruang tamu.
Derap langkah kaki terdengar memburu. Sakit ini semakin menjadi.
"Ibu ... aku mau ibu saja yang menemaniku," ucapku lirih.
"Iya sayang, ibu juga ikut ke rumah sakit." Mas Ilham berkata menatapku, aku menghindar dari tatapannya.
"Tolong, buka pintu mobil cepat, Den! Ambil kuncinya di saku celanaku," ucap Mas Ilham kepada Dennis.
Pintu mobil terbuka. Kami masuk dan duduk, tak lama ibu juga menyusul.
"Aku mau sama ibu," ucapku ingin menggenggam tangan ibu dan melepaskan tangan Mas Ilham.
"Iya, Nduk, Ibu di sini." Ibu pun pindah ke samping kananku, sedangkan Mas Ilham di samping kiriku.
"Kita ke rumah sakit terdekat saja, Den," perintah Mas Ilham pada Dennis yang sedang menyetir mobil.
"aaah .... apa ini? Air ketuban, Bu. Ketubannya pecah. Aaahh ...!" Lagi aku menahan sakit yang tak terkira.
"Sayang, sabar, ya . Sebentar lagi kita sampai," ucap pria yang telah menjadi suamiku.
Aku sudah tak tahan, rasanya ingin mengejan.
"Nduk, tahan. Jangan ngejan dulu. Sabar, Nak," ucap Ibu.
Aku mengangguk pelan .
Mobil berhenti, Mas Ilham keluar. Tak lama beberapa perawat datang dengan mendorong brankar. Aku digendong Mas Ilham, lalu berbaring. Perawat membawaku ke ruangan berwarna serba putih.
Di ruangan ini, hanya ada aku, dokter dan beberapa bidan rumah sakit.
"Dokter, aku ingin ibu menemaniku," ucapku.
"Ia sebentar. Nanti kami panggilkan.
Tak lama ibu datang, dan di sampingnya juga ada Mas Ilham.
"Aku hanya ingin ditemani ibu, Dok. Kenapa pria itu juga ada di sini," ucapku pada dokter.
"Bapak ini bilang suami Ibu. Dan dia memaksa ingin menemani proses persalinan istrinya," ucap wanita berpakaian putih di sana.
"Sayang, lupakan dulu masalah kita. Fokus pada bayi-bayi kita," ucap Mas Ilham di sampingku.
Aku menggeleng.
"Aaahh ...!" Kurasakan kontraksi berulang kali dan ingin mengejan.
"Bayi-bayi?" tanya dokter wanita di hadapanku.
"Iya, Dok. Istriku hamil kembar dan sekarang baru delapan bulan," jelas Mas Ilham.
"Pantas saja perutnya begitu besar, baiklah. Siapa nama pasiennya?" tanya dokter.
"Fika!" jawab Ibu dan Mas Ilham serentak.
"Baik, Bu Fika. Dengarkan aba-aba dari saya, ya. Kalau belum di suruh mengedan jangan mengedan. Tarik napas dalam ... embuskan, seperti itu diulangi hingga perintah dari saya. Kalau Bu Fika mengerti, silahkan mengangguk," ucap dokter.
Aku mengangguk. Ibu menyeka keringat di wajah.
Bu dokter mengarahkan letak tanganku dan mengajarkan posisi saat mengejan dengan sedikit mengangkat kepala dan melihat ke arah perut serta merapatkan kedua gigi.
"Tarik napas ... embuskan ..."
Aku mengikuti arahan dokter.
" Tarik napas . . embuskan ...."
"Tarik napas kembali ... tahan! Mengejan."
Begitulah dokter membimbingku. Hingga dua kali mengejan. Anak pertamaku lahir.
Mas Ilham mengecup dahi dan bibirku berulang kali. Rasa sakit hati telah sirna dengan kehadiran buah hati.
Selang lima menit, aku merasakan kontraksi kembali. Dokter kembali membimbingku dan lahirlah anak kedua kami.
"Keduanya berjenis kelamin laki-laki, ya, Bu Fika," ucap bu dokter.
Terukir senyum di wajahku saat mendengar hal itu. Begitu pun dengan ibu dan Mas Ilham.
***
Aku sudah dipindahkan di ruang VIP perawatan ibu nifas. Mas Ilham duduk di samping menggenggam tanganku erat. Sedangkan aku masih enggan membuka mulut.
"Kamu masih marah dengan Mas?" tanyanya.
Lagi pertanyaan yang membuatku kesal mendengarnya. Haruskah aku berkata 'iya' agar ia mengeri perasaanku? Lelaki memang sulit sekali peka terhadap perasaan wanita.
Aku mengembuskan napas kasar.
"Sudah, Mas. Aku tak ingin membahas itu sekarang. Aku ingin istirahat!" ketusku.
"Baiklah, Mas pergi kalo begitu," ucapnya lalu melepaskan genggaman.
Sejujurnya. Aku bukan itu maksudku. Tetaplah menemaniku, dan jelaskan padaku siapa wanita itu?
"Oo ... jadi Mas mau ninggalin aku?" tanyaku melihatnya berdiri.
"Tadi kamu bilang mau istirahat. Mungkin maksudnya meminta Mas pergi. Bukankah begitu?" tanyanya padaku.
"Mas tega," sungutku.
"Sayang, kamu kenapa, sih. Sensitif sekali sejak hamil. Kamu cemburu?" tanyanya lagi.
"Nggak, aku benci sama Mas. Yaudah keluar sana, kejar wanita itu. Genggam tangannya yang erat," sungutku.
"Allahuakbar ... istigfar, Sayang. Akan aku jelaskan sekarang, tatap mataku dengarkan baik-baik," ucapnya kembali duduk dan memegang tanganku.
"Aku tidak mengkhianatimu. Wanita itu adik kandungku," ucap Mas Ilham.
"Bohong!" Aku menyela dan tak percaya ucapannya.
"Tatap mataku! Kamu akan tahu aku berbohong atau tidak. Wanita itu adik kandungku, sayang ...." Mas Ilham berucap sambil menatap mataku lekat.
Benar! Aku melihat kejujuran di matanya.
"Bukankah, Aku sudah dikenalkan dengan semua keluarga Mas. Tidak ada wanita itu dalam foto keluarga. Ibu Sri dan Pak Wijaya juga tidak pernah mengatakan kalo wanita itu anak mereka," ucapku
Mas Ilham mengembuskan napas kasar.
"Baiklah Mas ceritakan. Ibu Sri adalah ibu sambung. Ayah menikah lagi setelah ibu kandung Mas meninggal karena kanker rahim." Mas Ilham bercerita.
Aku terdiam, terenyuh mendengarnya.
"Kami dua bersaudara, Mas Ilham dan Alea--adik perempuanku-- kami terpaut dua tahun. Ibuku keturunan cina. Ketika ayah menikah lagi, Alea tidak ingin ikut, alasannya takut dengan ibu tiri. Alea lebih memilih tinggal bersama keluarga paman--adik ibu," ucapnya.
Aku mendengarkan sambil menatapnya tajam.
"Kemarin, sewaktu di kantor. Pertama kalinya ia datang menemui Mas. Alea datang membawa kabar bahwa ia akan segera menikah dan meminta bantuan Mas untuk berbicara kepada ayah, agar berkenan menikahkannya." Mas Ilham berkata sambil tersenyum.
Aku pun ikut tersenyum.
"Mas tentu sangat bahagia mendengar kabar darinya, hingga kami saling bergenggaman tangan. Dan pada saat itu pula kamu masuk ke ruangan." Mas Ilham berkata lalu mengusap lembut pipiku.
Aku mengulum bibirku.
"Kenapa Mas nggak ngejar aku?" tanyaku.
"Mas pikir justru kamu nggak mau dikejar. Buktinya Mas menawarkan diri untuk antarin pulang, kamu malah bilang mau diantar Pak Amin, saja."
Bibirku manyun lima senti. Mas Ilham mencubit hidungku.
"Aauu! Sakit, suka banget pencetin hidung," kataku mengusap hidung yang sakit.
"Wanita kalo lagi marah mengerikan! Pulang ke rumah nggak ada kamu, sepi. Mas tanya Pak Amin, katanya kamj ke rumah ibu dan bapak. Sampai di sana, istriku nggak mau ngomong, nggak mau tatapan, nggak mau dipeluk apalagi dicium. Mas tersiksa dengan sikapmu. Lain kali kita selesaikan baik-baik, jangan langsung ngambek, gitu," jelas Mas Ilham.
"Aku belum yakin sebelum melihat bukti kalo wanita itu memang benar adik Mas," ucapku
Mas ilham lalu mengambil gawainya dan membuka galeri foto miliknya. Dijelaskannya satu per satu foto itu. Dan kulihat memang ada wanita yang sama di Foto keluarga itu.
"Nanti kita juga akan diundang acara pernikahannya," ucap Mas Ilham. "Kalo kamu masih ragu, bisa tanyakan pada Ibi Sri dan ayah secara langsung" lanjutnya.
Aku mengangguk.
"Bolehkah Mas memelukmu, Sayang?" tanyanya.
Aku mengangguk dan berhambur memeluknya.
"Percayalah ... di hati Mas hanya ada satu nama wanita yaitu Fika Saputri. Seorang wanita yang telah menjadi istri dan ibu dari anakku."
Aku mengeratkan pelukan, ia pun mengecupku berulang kali.
"Jelek, ya, kalo ngambek," ejeknya.
"Issh! Biarin .... week," ucapku sambil menjulurkan lidah.
Mas Ilham terbahak-bahak sambil mengusap kepalaku.
"Terima kasih, Sayang. Aku memcintaimu," ucapnya.
"Aku juga cinta Mas Ilham. Maafkan aku, jujur aku cemburu, Mas." Aku mengatakan isi hatiku padanya.
Mas Ilham mengangguk, lalu mendaratkan ciuman di bibirku.
"Siapa nama anak kita Mas?" tanyaku.
"Heem ...." Ia menempelkan tangan ke dagu. "Abraham dan Ibrahim," ucapnya.
Aku mengangguk dan tersenyum mendengarnya.
------THE END--------
Terima kasih teman-teman yang telah membaca cerbungku dari awal hingga akhir session 2 ini. Sampai jumpa di cerita lainnya.
Harapan saya semoga cerita ini ada hikmah yang bisa dipetik.
Emmmuuuuaaacch.😘b
Part sebelumnya
Sore hari, aku terbangun saat ada yang mengetuk pintu kamar.
"Nduk, ada telepon untukmu," ucap Ibu di balik pintu.
Siapa yang menelepon? Jangan-jangan, Mas Ilham.
Bagaimana ini? Terlihat dari cermin, mataku bengkak dan merah. Apa yang harus aku katakan pada ibu. Lagipula suaraku menjadi parau.
Aduh, Fika! Kenapa sejak menikah kamu jadi melow begini? Kuat Fik, mana dirimu yang cuek dan masa bodo dulu? Ayolah diriku, bangkit! Aku harus kuat, setegar karang. Rumah tangga pasti ada cobaannya, 'kan. Aku harus menyelesaikan ini dengan kepala dingin. Setidaknya hatiku sudah lebih sedikit tenang.
"Iya, Bu. Sebentar. Fika cuci muka dulu," ucapku pada Ibu.
Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Kembali menatap cermin, mataku sembab. Huufht! Aku menarik napas, lalu menghela napas panjang.
Aku membuka pintu. Terlihat ibu menungguku dengan ponsel di tangannya.
"Telepon dari siapa, Bu?" tanyaku.
Ibu tersenyum, lalu mengusap pipiku. Mungkin ia tahu kalau anaknya baru saja bersedih.
"Telepon dari orang yang hampir setiap minggu menanyakan kabarmu," ucap Ibu, membuat dahiku mengernyit.
"Assalamu'alaikum ... halo, dengan siapa ini?" tanyaku.
Terdengar suara seseorang yang kukenal.
"Dennis!" teriakku sambil menatap ibu.
Ibu pun mengangguk dan tersenyum.
"Apa kabar? Kamu sekarang di mana?" tanyaku pada lelaki di sana.
Suaranya terputus karena embusan angin, sepertinya ia sedang dalam perjalanan.
"Ke sini? Ke rumah ibu maksudnya?" tanyaku lagi.
Ia tak menjawab lalu telepon pun mati. Ternyata baterai HP ibu nge-drop.
"Ada apa? Kok udahan ngobrolnya?" tanya Ibu.
"Baterainya habis, Bu," ucapku pada Ibu sambil mengulurkan tangan memberikan HP.
Aku penasaran, apa yang di maksud Dennis tadi dengan 'aku segera ke sana' ? Apa maksudnya ia mau ke rumah ini.
Tak lama terdengat suara deru motor terparkir di halaman. Ibu langsung berdiri dan melangkah menuju pintu.
Betapa terkejutnya aku saat melihatnya sudah ada di hadapan. Dennis, sahabatku sudah ada di sini.
"Hai ... Ika," sapanya padaku.
Aku tersenyum, menyapanya kembali. Ibu mempersilakan Dennis duduk, lalu permisi ke dapur untuk membuatkan minum.
Aku menatap Ibu, ia pun mengangguk dan berkata "Sebentar saja, nggak lama, kok," ucap Ibu.
"Kamu sehat, Ka?" tanya Dennis padaku.
Aku mengangguk.
"Kamu tambah cantik gendutan, Ka," ejeknya melihat perutku yang besar disertai pipi yang cabi.
"Heem ..." Aku mencebik. "Kamu, kok, brewokan sekarang?" tanyaku melihat penampilannya yang penuh jambang.
"Frustasi, karena kamu menolak lamaranku," Ia berkata, tatapannya tajam ke arahku.
Deg! Jantungku terasa diremas. Kenapa ia harus membahas lagi soal itu.
"Hahaha .... aku becanda, Ka," ucapnya disertai tertawa terbahak-bahak.
"Nggak lucu!" sungutku sambil melempar bantal kecil di kursi ke arahnya. Dengan sigap tangannya menangkap benda tersebut.
"Maaf ... eh, udah berapa bulan kandunganmu, Ka?" tanyanya.
Aku enggan menjawab. Sebel!
"Ya ... kalo kamu cemberut cantiknya hilang ntar." Lagi ia mengejekku.
"Issh!" sungutku dan akan melemparkan bantal lagi. Tapi kubatalkan karena ada ibu datang.
"Loh, loh, ada apa ini?" tanya Ibu melihatku cemberut sedangkan Dennis tertawa terbahak-bahak.
"Nggak apa-apa, Bu. Dennis becanda aja sama Ika. Eh, dianya ngambek. Lucu, kan, Bu," ucapnya pada Ibu.
Ibu lalu tersenyum dan duduk di sampingku.
"Ngapain kamu, ke sini, Den?" tanyaku.
"Ika, ngapain di sini?" tanyanya balik.
"Ini, kan, rumah orang tuaku. Terserah aku dong!" ketusku.
"Ini juga rumah orang tuaku. Iya, kan, Bu?" tanyanya pada ibu sambil tersenyum.
Ibu mengangguk.
"Iya, kalian berdua anak Ibu," jawab Ibu.
"Aku setiap minggu datang ke sini, Ika aja yang nggak tahi, 'kan?" tanyanya padaku
Aku menoleh pada Ibu, ia pun mengangguk.
"Kok, Ibu nggak kasih tau?" tanyaku pada Ibu.
"Itu karena aku yang meminta agar ibu dan bapak merahasiakannya darimu," jelasnya.
Aku mengernyitkan dahi.
"Kenapa dirahasiakan?"
Ia tidak menjawab saat terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Suara derap langkah mendekat, jantungku berpacu lebih cepat. Semoga yang datang bukan dirinya.
Orang itu mengucapkan salam, kami bertiga serentak menjawabnya.
"Mas, Ilham," gumamku dengan mata terpejam.
Aku mencoba mengatur napas sebisa mungkin. Tenang, Fika! Sabar ... kuasai dirimu.
"Hai, Sayang." Mas Ilham menyapaku lalu mengecup kepalaku.
Rasanya aku ingin menghindar, tapi ada ibu dan Dennis di sini. Aku harus berpura-pura semua baik-baik saja di depan mereka.
Aku pun menarik ujung bibir, senyuman yang dipaksakan.
"Apa kabar, Den?" tanyanya pada Dennis mereka pun berjabat tangan. "Kali kedua kita berjumpa dan di tempat yang sama," ucap Mas Ilham.
"Enam bulan terakhir aku sering ke sini. Kalian yang jarang, hingga baru kali ini kita bertemu," ucap Dennis.
Mereka masih sama kakunya seperti dulu atau mungkin cara berbicara laki-laki memang begitu.
"Aku permisi ingin ke kamar mandi dulu. Akhir-akhir ini aku sering buang air kecil. Mungkin karena kandungan yang semakin besar," ucapku melihat ke arah Dennis, tak kuhiraukan Mas Ilham yang duduk di sebelahku.
"Aku antar, ya," ucap Mas Ilham.
"Nggak perlu, aku bukan anak kecil!" ketusku tanpa melihat ke arahnya.
Aku melangkah melewati suamiku, ia pun mengenggam tanganku, tapi aku terus berjalan hingga ke toilet di kamarku.
Selesai menuntaskan hajatku. Aku segera keluar. Betapa terkejutnya aku saat melihat Mas Ilham berada di depan pintu kamar yang telah di tutupnya.
Aku menunduk, tak ingin menatapnya. Langkahku terhenti saat ia memegang lenganku erat, sulit dilepaskan.
"Kamu marah padaku?" tanyanya.
Dasar cowok! Nggak peka dengan perasaan wanita. Sudah tahu aku tak mau dekat-dekat dengannya, itu artinya marah.
Aku hanya diam tak menjawab pertanyaanya.
"Fika, please ... jangan bersikap seperti ini. Bicaralah padaku," ucapnya menghadapkan tubuhku padanya.
Aku bergeming, tak mau menatapnya.
"Fika, tatap mataku, kamu jangan salah paham." Ia berkata sambil mengangkat daguku, tapi mata kupejamkan.
"Fika ...." Ia lalu mencium bibirku. Spontan mataku membelalak dan mendorongnya hingga menabrak tembok.
"Ngapain, Mas ke sini? Apa hanya untuk menyakitiku? Aku tak butuh penjelasan apapun dari Mas, semua sudah kulihat dengan mata-kepalaku sendiri, kalian berpegangan tangan. Aku bodoh, telah begitu mempercayaimu, Mas, memberikan seluruh jiwa dan ragaku padamu. Kamu berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Sekarang apalagi yang kamu mau dariku? Pergilah bersama wanita itu!" ucapku meluapkan kekesalanku.
"Sayang ...." Mas Ilham berkata ingin merangkulku.
Aku melangkah mundur. Menjauhi sentuhannya.
"Diam di tempat dan jangan panggil aku sayang!" teriakku padanya.
Ia berhenti mengikuti perintahku.
"Kamu salah paham, wanita i--"
"Stop! Aku sudah bilang tak mau penjelasan apapun darimu.
"Sayang, dengarkan aku dulu. Itu tak seperti yang ka--"
"Diam! Aku tak mau mendengarkan apapun," ucapku sambil tangan menutup kedua telingaku.
"Fika, dia it--"
"Nggak mau!" teriakku.
Tiba-tiba kurasakan mulas di perut dan pinggang bagian bawah, "aaah ...!" Aku meringis menahan kontraksi.
Mas Ilham mendekat, menggenggam tanganku.
"Pergi!" teriakku menolak genggamannya sambil meringis kesakitan.
Mas Ilham tak menghiraukan. Ia langsung membopongku keluar kamar. Aku masih sempat meronta minta diturunkan. Namun, ia tak mempedulikan.
"Kamu jahat, Mas ... tega khianati aku, aaah ...!" ucapku kepadanya yang terus membawaku.
Aku menangis antara sakit hati dan kontraksi. Keduanya tak dapat kubedakan.
"Den, tolong bawa mobilku. Kita ke rumah sakit. Sepertinya Fika mau melahirkan!" ucapnya pada Dennis saat melewati ruang tamu.
Derap langkah kaki terdengar memburu. Sakit ini semakin menjadi.
"Ibu ... aku mau ibu saja yang menemaniku," ucapku lirih.
"Iya sayang, ibu juga ikut ke rumah sakit." Mas Ilham berkata menatapku, aku menghindar dari tatapannya.
"Tolong, buka pintu mobil cepat, Den! Ambil kuncinya di saku celanaku," ucap Mas Ilham kepada Dennis.
Pintu mobil terbuka. Kami masuk dan duduk, tak lama ibu juga menyusul.
"Aku mau sama ibu," ucapku ingin menggenggam tangan ibu dan melepaskan tangan Mas Ilham.
"Iya, Nduk, Ibu di sini." Ibu pun pindah ke samping kananku, sedangkan Mas Ilham di samping kiriku.
"Kita ke rumah sakit terdekat saja, Den," perintah Mas Ilham pada Dennis yang sedang menyetir mobil.
"aaah .... apa ini? Air ketuban, Bu. Ketubannya pecah. Aaahh ...!" Lagi aku menahan sakit yang tak terkira.
"Sayang, sabar, ya . Sebentar lagi kita sampai," ucap pria yang telah menjadi suamiku.
Aku sudah tak tahan, rasanya ingin mengejan.
"Nduk, tahan. Jangan ngejan dulu. Sabar, Nak," ucap Ibu.
Aku mengangguk pelan .
Mobil berhenti, Mas Ilham keluar. Tak lama beberapa perawat datang dengan mendorong brankar. Aku digendong Mas Ilham, lalu berbaring. Perawat membawaku ke ruangan berwarna serba putih.
Di ruangan ini, hanya ada aku, dokter dan beberapa bidan rumah sakit.
"Dokter, aku ingin ibu menemaniku," ucapku.
"Ia sebentar. Nanti kami panggilkan.
Tak lama ibu datang, dan di sampingnya juga ada Mas Ilham.
"Aku hanya ingin ditemani ibu, Dok. Kenapa pria itu juga ada di sini," ucapku pada dokter.
"Bapak ini bilang suami Ibu. Dan dia memaksa ingin menemani proses persalinan istrinya," ucap wanita berpakaian putih di sana.
"Sayang, lupakan dulu masalah kita. Fokus pada bayi-bayi kita," ucap Mas Ilham di sampingku.
Aku menggeleng.
"Aaahh ...!" Kurasakan kontraksi berulang kali dan ingin mengejan.
"Bayi-bayi?" tanya dokter wanita di hadapanku.
"Iya, Dok. Istriku hamil kembar dan sekarang baru delapan bulan," jelas Mas Ilham.
"Pantas saja perutnya begitu besar, baiklah. Siapa nama pasiennya?" tanya dokter.
"Fika!" jawab Ibu dan Mas Ilham serentak.
"Baik, Bu Fika. Dengarkan aba-aba dari saya, ya. Kalau belum di suruh mengedan jangan mengedan. Tarik napas dalam ... embuskan, seperti itu diulangi hingga perintah dari saya. Kalau Bu Fika mengerti, silahkan mengangguk," ucap dokter.
Aku mengangguk. Ibu menyeka keringat di wajah.
Bu dokter mengarahkan letak tanganku dan mengajarkan posisi saat mengejan dengan sedikit mengangkat kepala dan melihat ke arah perut serta merapatkan kedua gigi.
"Tarik napas ... embuskan ..."
Aku mengikuti arahan dokter.
" Tarik napas . . embuskan ...."
"Tarik napas kembali ... tahan! Mengejan."
Begitulah dokter membimbingku. Hingga dua kali mengejan. Anak pertamaku lahir.
Mas Ilham mengecup dahi dan bibirku berulang kali. Rasa sakit hati telah sirna dengan kehadiran buah hati.
Selang lima menit, aku merasakan kontraksi kembali. Dokter kembali membimbingku dan lahirlah anak kedua kami.
"Keduanya berjenis kelamin laki-laki, ya, Bu Fika," ucap bu dokter.
Terukir senyum di wajahku saat mendengar hal itu. Begitu pun dengan ibu dan Mas Ilham.
***
Aku sudah dipindahkan di ruang VIP perawatan ibu nifas. Mas Ilham duduk di samping menggenggam tanganku erat. Sedangkan aku masih enggan membuka mulut.
"Kamu masih marah dengan Mas?" tanyanya.
Lagi pertanyaan yang membuatku kesal mendengarnya. Haruskah aku berkata 'iya' agar ia mengeri perasaanku? Lelaki memang sulit sekali peka terhadap perasaan wanita.
Aku mengembuskan napas kasar.
"Sudah, Mas. Aku tak ingin membahas itu sekarang. Aku ingin istirahat!" ketusku.
"Baiklah, Mas pergi kalo begitu," ucapnya lalu melepaskan genggaman.
Sejujurnya. Aku bukan itu maksudku. Tetaplah menemaniku, dan jelaskan padaku siapa wanita itu?
"Oo ... jadi Mas mau ninggalin aku?" tanyaku melihatnya berdiri.
"Tadi kamu bilang mau istirahat. Mungkin maksudnya meminta Mas pergi. Bukankah begitu?" tanyanya padaku.
"Mas tega," sungutku.
"Sayang, kamu kenapa, sih. Sensitif sekali sejak hamil. Kamu cemburu?" tanyanya lagi.
"Nggak, aku benci sama Mas. Yaudah keluar sana, kejar wanita itu. Genggam tangannya yang erat," sungutku.
"Allahuakbar ... istigfar, Sayang. Akan aku jelaskan sekarang, tatap mataku dengarkan baik-baik," ucapnya kembali duduk dan memegang tanganku.
"Aku tidak mengkhianatimu. Wanita itu adik kandungku," ucap Mas Ilham.
"Bohong!" Aku menyela dan tak percaya ucapannya.
"Tatap mataku! Kamu akan tahu aku berbohong atau tidak. Wanita itu adik kandungku, sayang ...." Mas Ilham berucap sambil menatap mataku lekat.
Benar! Aku melihat kejujuran di matanya.
"Bukankah, Aku sudah dikenalkan dengan semua keluarga Mas. Tidak ada wanita itu dalam foto keluarga. Ibu Sri dan Pak Wijaya juga tidak pernah mengatakan kalo wanita itu anak mereka," ucapku
Mas Ilham mengembuskan napas kasar.
"Baiklah Mas ceritakan. Ibu Sri adalah ibu sambung. Ayah menikah lagi setelah ibu kandung Mas meninggal karena kanker rahim." Mas Ilham bercerita.
Aku terdiam, terenyuh mendengarnya.
"Kami dua bersaudara, Mas Ilham dan Alea--adik perempuanku-- kami terpaut dua tahun. Ibuku keturunan cina. Ketika ayah menikah lagi, Alea tidak ingin ikut, alasannya takut dengan ibu tiri. Alea lebih memilih tinggal bersama keluarga paman--adik ibu," ucapnya.
Aku mendengarkan sambil menatapnya tajam.
"Kemarin, sewaktu di kantor. Pertama kalinya ia datang menemui Mas. Alea datang membawa kabar bahwa ia akan segera menikah dan meminta bantuan Mas untuk berbicara kepada ayah, agar berkenan menikahkannya." Mas Ilham berkata sambil tersenyum.
Aku pun ikut tersenyum.
"Mas tentu sangat bahagia mendengar kabar darinya, hingga kami saling bergenggaman tangan. Dan pada saat itu pula kamu masuk ke ruangan." Mas Ilham berkata lalu mengusap lembut pipiku.
Aku mengulum bibirku.
"Kenapa Mas nggak ngejar aku?" tanyaku.
"Mas pikir justru kamu nggak mau dikejar. Buktinya Mas menawarkan diri untuk antarin pulang, kamu malah bilang mau diantar Pak Amin, saja."
Bibirku manyun lima senti. Mas Ilham mencubit hidungku.
"Aauu! Sakit, suka banget pencetin hidung," kataku mengusap hidung yang sakit.
"Wanita kalo lagi marah mengerikan! Pulang ke rumah nggak ada kamu, sepi. Mas tanya Pak Amin, katanya kamj ke rumah ibu dan bapak. Sampai di sana, istriku nggak mau ngomong, nggak mau tatapan, nggak mau dipeluk apalagi dicium. Mas tersiksa dengan sikapmu. Lain kali kita selesaikan baik-baik, jangan langsung ngambek, gitu," jelas Mas Ilham.
"Aku belum yakin sebelum melihat bukti kalo wanita itu memang benar adik Mas," ucapku
Mas ilham lalu mengambil gawainya dan membuka galeri foto miliknya. Dijelaskannya satu per satu foto itu. Dan kulihat memang ada wanita yang sama di Foto keluarga itu.
"Nanti kita juga akan diundang acara pernikahannya," ucap Mas Ilham. "Kalo kamu masih ragu, bisa tanyakan pada Ibi Sri dan ayah secara langsung" lanjutnya.
Aku mengangguk.
"Bolehkah Mas memelukmu, Sayang?" tanyanya.
Aku mengangguk dan berhambur memeluknya.
"Percayalah ... di hati Mas hanya ada satu nama wanita yaitu Fika Saputri. Seorang wanita yang telah menjadi istri dan ibu dari anakku."
Aku mengeratkan pelukan, ia pun mengecupku berulang kali.
"Jelek, ya, kalo ngambek," ejeknya.
"Issh! Biarin .... week," ucapku sambil menjulurkan lidah.
Mas Ilham terbahak-bahak sambil mengusap kepalaku.
"Terima kasih, Sayang. Aku memcintaimu," ucapnya.
"Aku juga cinta Mas Ilham. Maafkan aku, jujur aku cemburu, Mas." Aku mengatakan isi hatiku padanya.
Mas Ilham mengangguk, lalu mendaratkan ciuman di bibirku.
"Siapa nama anak kita Mas?" tanyaku.
"Heem ...." Ia menempelkan tangan ke dagu. "Abraham dan Ibrahim," ucapnya.
Aku mengangguk dan tersenyum mendengarnya.
------THE END--------
Terima kasih teman-teman yang telah membaca cerbungku dari awal hingga akhir session 2 ini. Sampai jumpa di cerita lainnya.
Harapan saya semoga cerita ini ada hikmah yang bisa dipetik.
Emmmuuuuaaacch.😘b