Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Senin, 23 Desember 2019

Kekasih Bayaran 6 - 10

KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 6


“Kirain beneran, tadi, mau minta bibi beliin neo napasin ke warung,” kata Hanna di sela-sela tawanya.
‘Pengen bilang, ‘nggak perlu, obatnya sudah ada di depan mata, kok,’ tapi nggak berani … takut Hanna-nya kabur. Jadi, untuk sejenak, biarlah aku menikmati wajah cerianya saja, tanpa kata. Ah … aku rindu sekali tawa itu … andai bisa ditukar dengan bonus honor dari dia, aku mau, deh … tapi ‘cepek’ aja, ya, biar masih ada sisa 100 ribu. Hehe.

Sejak aku menolongnya sakit kemarin, menemani di rumah sakit, mengantar makanan, sikap Hanna berubah. Tidak terlalu sombong dan suka asal perintah seperti sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang sudah dialaminya beberapa hari belakangan. Atau saat aku tak ada di sisinya, tapi melihatnya datang ke sini, aku sangat terharu.

Hanna masih membersihkan sepatunya yang terkena lumpur kering. Alas kakinya jadi berubah warna. Aku jadi ikut-ikutan membersihkannya. Di bawah rindang pohoh mangga, ditiup angin semilir yang membawa aroma dedaunan kering, gemerisik, bagai mendendangkan melodi yang hanya bisa dirasakan dalam hati.
“Bersihin sepatunya di sungai aja, yuk!” ajakku. “Temen-temenku masih pada di sana.”
“Oh, ya? Hayuk lah! Bi! Hanna ikut Rafi ke sungai!” Hanna berteriak pada wanita paruh baya agak jauh dari tempat kami duduk.

Aku dan Hanna berdiri dan bersiap-siap menuju sungai. Tiba-tiba si bibi tergopoh-gopoh menyusul kami berdua.
“Jangan, Non, bahaya!”
Aku menahan Hanna melangkah, bagaimana pun juga, si bibi orang yang lebih tua, orang yang dekat dengan Hanna sejak kecil, tidak sopan kalau pergi tanpa pamit padanya.
Dengan postur tubuh lebar, si bibi sedikit kesulitan menyeimbangkan diri berjalan di pematang. Aku menyusul dan membantu wanita itu agar berada dekat dengan majikannya, Hanna.
Ia tersenyum saat aku memegangi tubuhnya yang hampir terpeleset.
“Sungainya nggak serem, kok, Bi,” kataku.

“Non Hanna mana pernah main ke sungai, Den, nanti kalau ada buayanya kumaha, atuh?”
“Ya, pastinya dia ngincer yang gemuk dulu, atuh, Bik!” kataku.
Si bibi menepuk bahuku sambil merengut, lalu aku membalasnya dengan tawa, demikian juga Hanna.
“Nggak ada, Bi, di sini, mah, buayanya udah pada pindah ke darat semua!” lanjutku mengiringi langkah kaki si bibi dari belakang.

“Ih, si aden, mah,” kata bibi di sela-sela napasnya yang terengah. Hanna lebih dulu berjalan menuruti arah yang aku tujukkan.
“Kalau bibi mau nanti saya kenalkan, yang umur 50an sampai 70an juga, ada, Bi, di sini, banyak!”
Terdengar tawa Hanna dari arah depan. Sementara si bibi agaknya konsentrasi melihat jalanan, yang tertangkap telingaku hanya suara nafasnya yang ngos-ngosan. Kasihan.

Sungai kecil dengan bebatuan besar sudah terlihat. Perlu melewati jalan menurun untuk sampai ke sana.
“Bibi tunggu di sini aja, Non!”

Dia nyerah pemirsa! Aku dan Hanna lalu turun ke sungai diiringi tatapan heran dari teman-teman.
“Ini bos gue, Hanna!” Senyumku lebar sekali saat memperkenalkan si nyonya pada teman-teman. Radit, Dila, dan Santi melambaikan tangan sambil sedikit menunduk, dan Fahri … entahlah dia ada di mana.

Hanna meniti bebatuan dengan sangat hati-hati, sementara aku kini mendahuluinya, memberi tahu jalan mana yang harus dilewati. Kadang berhenti sejenak untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja saat mengikuti langkahku.
Sampai di sebuah batu, kami berhenti, lalu duduk di sana. Lokasinya kira-kira sepuluh meter dari tempat Radit, Dila,dan Santi yang tampak sedang asyik mengupas mangga, entah dapat dari mana.
“Sini, Nya, copot aja sepatunya,” pintaku.

“Nggak usah, Fi, sekarang ‘kan kamu nggak lagi acting, aku nggak enak.”
“Nggak apa-apa,” kataku sambil mendekati sepatunya, Hanna mau tidak mau mencopot alas kakinya itu, lalu aku membersihkannya di air, dengan kedua tangan.
Hanna tampak menikmati suasana alam yang hijau dan asri, sepasang kejora yang seminggu lalu tampak redup itu, kini bisa kusaksikan lagi binarnya. Bahagiakah dia saat bersamaku? Jika ‘ya’, maka aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankan sepasang mata bulat berbulu lentik itu agar selalu bersinar.

“Aaakh …!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah teman-temanku berkumpul. Suara teriakan perempuan.
Aku menyerahkan sepatu Hanna dan bergegas melihat apa yang terjadi! Ternyata Dila tercebur ke air yang arusnya deras. Radit yang berada di hulu sedang mengejarnya. Gawat, kalau kepala Dila terbentur batu bisa berbahaya. Aku, yang berada di hilir dengan cekatan menangkap tangan gadis itu, lalu menariknya agar bisa berdiri di atas arus air yang deras. Naas, tubuhku malah oleng karena menerima tarikan dari tangan Dila. Ya, sebuah tarikan! Lalu kami sukses jatuh ke air berdua dengan sususan seperti roti burger dan patty-nya.

Air memenuhi hidung dan telingaku. Seseaat kehilangan arah sampai aku melepaskan pegangan tangan Dila dan mencoba mencari tumpuan. Dapat! Saat itu aku bangun sendiri dan membiarkan Dila entah ditolong oleh siapa. Saat aku menoleh, gadis itu sudah berdiri bersama Radit. Apakah dari tadi sebenarnya dia bisa bangun sendiri?
Syaraf-syaraf di otakku baru saja hendak menyambungkan benang merah kejadian ini saat suara beberapa gadis memanggil-manggil aku.
“A’a … a’a …! A’a teh, nggak apa-apa?”
“Sini, ‘Neng cuciin baju basahnya, A’!”
“Celananya juga boleh, atuh, A’ … rela neng, mah!”

“A’a-nya juga … kalau mau dicuci, boleh pisan … sinih pake rinso, A’ ….”
“Habis dicuci, kita meresnya bareng-bareng, ya ….”
“Hihihi …!”
Aku menoleh, ternyata posisiku sudah dekat dengan sekelompok gadis-gadis yang tadi tengah mandi sambil nyuci –atau nyuci sambil mandi? Entahlah, dari tadi tidak selesai-selesai. Mereka melambai-lambaikan tangan. Sumpah, di saat telingaku sedang berdenging karena kemasukan air, tiba-tiba gerakan mereka mendadak slow motion …. Aku jadi merasa seperti Akik Jaka Tarub yang kedapatan nyolong selendang para bidadari. Cuma ini bidadarinya bukan dari kahyangan, tapi dari … rumah masing-masing.

Ambil langkah seribu aku menjauhi mereka. Melihat keagresifannya, sepertinya ini lebih berbahaya dari buaya yang ditakutkan bibi-nya Hanna!
‘Oke, guy’s, di mana si Hanna ngomong-ngomong? Nah, itu dia berdiri di atas batu besar melambaikan tangan padaku. Aku buru-buru mendekatinya.
“Kamu nggak apa-apa, Fi?” Tanya Hanna sambil tersenyum. “Kamu nakal juga, ya, bisa berenang tapi pura-pura nggak bisa … biar bisa deket-deket sama cewek itu ….” Mata Hanna seperti menyelidik.
Wah, Hanna salah paham, nih! Mending cepet pulang, deh, lagian dingin … brrr ….

***

Kami terpaksa masuk rumah lewat pintu samping, bersembunyi dari tetangga-tetangga yang ikut bantu hajatan. Untung saja sore begini tidak terlalu ramai yang datang ke rumah. Dila kusuruh salin di kamar teteh, dan aku bergegas membilas diri di sumur belakang rumah. Karena kalau mau ke kamar mandi, saat ini sedang antre keluarga paman. Riweh pokokna, mah.
Baru saja buka baju mau bilas ala kadarnya, tiba-tiba Hanna dan si bibi datang bawa ember.
“Mau apa, Nya?”

“Ini, Non Hanna mau ke kamar mandi tapi bak-nya kosong, Den,” kata bibi.
“Sini biar saya aja yang unjalin, bi,” jawabku sambil menimba air dan mengisi kedua ember yang mereka bawa. Hanna diam saja saat aku melewatinya, malah nunduk-nunduk nggak jelas gitu. Ada yang salah denganku?
Niat hati mau balik sekali lagi buat ngisi bak mandi, tiba-tiba si Kudil muncul dengan pakaian rapi.
“Emm … emm … Fi, kamar mandinya teteh juga hampir kosong, baknya, mana aku belum selesai lagi bilasnya,” kata Dila sambil nunduk-nunduk gitu ngeliatin aku. Belum selesai katanya? Kok sudah rapi begitu?

“Oh … iya, bentar, ya …,” jawabku, dan merekahlah senyum si Kudil. Lalu aku berteriak ke arah Radit yang lagi ngangkat galon. “Dit! Cuy! Ambilin aer dulu, buat Dila!”
“Ashiaaap!” jawab Radit dengan sigap bak spiderman siap nyelametin Marry Jane yang pas lagi kencan bedua di atas pilinan jaring, tiba-tiba kelilit jaring sendiri. Wkwkwk!
Kulirik Dila dengan ekor mata, doi cemberut cuy…. Langsung aku tinggalin aja ke sumur. Mau nyebur? Ya, kagak lah, ambil air lagi buat si bos!

***

Menjelang magrib, aku dan teman-teman berkumpul di teras belakang rumah. Sebentar lagi cewek-cewek ini mau pulang katanya, tapi kata ibu tanggung, habis magrib saja. Aku yang datang belakangan dengan membawa senampan minuman dan kudapan mendapati mereka sedang bersenda gurau dengan abah. Tampaknya Hanna dan si bibi sudah berkenalan dengan keluargaku tanpa kukenalkan.
Melihatku kesulitan membawa nampan, dengan cekatan Dila menghampiriku dan membantu mambawakan sebagian isinya.
“Cie …,” kata Santi sambil kedip-kedip, tanpa diikuti oleh teman-teman yang lain. “Tahun depan mau nyusul teteh, nih, kayaknya.”

Teman-teman yang lain hanya diam, sama denganku. Bedanya, aku berharapyang di ‘cie-cie’-in itu aku dan Hanna. Kulirik gadis itu hanya diam tak bereaksi. Entah apa isi hatinya.
Kami minum teh dan makan kue sambil mendengarkan abah bercerita. Tentang kisahnya di masa muda, sejarah keluarga dan pekerjaannya. Nggak kebayang,deh, gimana jadinya abah kalo udah jadi kakek-kakek nanti, sekarang aja udah secerewet ini. Kadang abah bercerita tentang kebenaran, kadang sesumbar. Seperti sekarang, beliau bilang keturunan orang kaya di kampung ini.
“Dulu, mah, kakeknya buyutnya abah termasuk orang terkaya di kampung ini, hampir semua tanah dan sawah punya kakek buyutnya abah.”

“Wah … kaya banget, ya, Bah!” kata Fahri.
“Iya … ibarat kata orang, mah, kekayaannya itu nggak bakal habis tujuh turunan!”
“Tapi, kok, si Rafi hidupnya kayaknya susah, gitu, ya, Bah?” Tanya Radit.
“Soalnya Rafi pas kebagian turunan kedelapan, Dit!”
Pecah tawa Radit dan Fahri, sambil tos pula mereka. Kompak bener ngeledekin!
“Eh, dia juga ngakunya ganteng turunan, lho, Dit!” kata Fahri sambil melirikku.
“Pas turunan doank! Pas tanjakan, kagak! Wkwkwkw!” Mereka tos lagi. Aku ikut-ikutan tos juga, tapi ke jidatnya Radit.

“Boong aja, abah, mah, dari dulu juga kayak gini-gini, aja,” jawabku sok bijak.
Tidak lama kemudian azan magrib berkumandang, kami para lelaki bergegas ke surau. Sekembalinya dari surau, ibu mengajak makan malam sebelum akhirnya melepas kepergian cewek-cewek ke kampung sebelah.
“Kita anterin aja pulangnya, Han, nanti aku atau Radit yang nyetirin, Fahri bawa motor buat kita balik,” usulku.
“Iya, gimana baiknya aja,” kata Hanna.
“Terus aku sama Santi gimana?” protes si Dil tak Kudil Kudil.
“Iya, nanti dianterin juga,” jawabku. Si Kudil mesam mesem.
Jadilah malam itu kami mengantar tiga bidadari langsing dan satu bidadari gemuk ke peraduan mereka masing-masing. Pulangnya kami naik motor bertiga. Besok hari H pernikahan kakakku, cewek-cewek itu akan datang sendiri, katanya. Oke, mari kita beristirahat malam ini!

***

Esok paginya ibu sibuk sekali. Subuh-subuh sudah didandani asisten salon, sedangkan kakak didandani yang punya salon. Lalu, aku? Ya dandan sendiri, lah. Ibu mau aku memakai baju tradisional seperti abah, tapi aku menolak dan lebih memilih batik sederhana lengan panjang berwarna cerah. Rambut kubuat sedikit lebih rapi dari biasanya, biar muka cerah terus sampai selasai acara.

Acara akad dilangsungkan pagi, dan cukup khidmad. Setelah itu langsung disambung dengan resepsi. Tamu abah cukup banyak, ada kali sebelas ribu empat ratus lima puluh orang, hehe.
Saat keluarga berada di atas panggung, aku memilih berjalan ke sana-kemari bersama Fahri dan Radit, menghilangkan rasa bosan. Kadang beberapa anak sepupuku yang masih kecil membuntuti karena sering diajak main sama kami bertiga.

Tidak lama kemudian Dila dan Santi tiba, keduanya mengenakan gaun sehingga tampak anggun. Rambut si Kudil digelung ke atas, membuatnya terlihat beda dari hari biasa. Bohong kalau aku bilang tidak cantik.
Saat itu aku sedang menggendong anak sepupu yang berumur tiga tahun. Si Kudil langsung mendekat dan menggoda keponakanku itu.

“Wah, udah cocok kalian jadi orang tua.” Lagi-lagi Santi menggoda. “Sini aku fotoin!” kata Santi langsung mengeluarkan ponselnya. Dila terihat tak berhenti tersenyum, aku tidak tega menolaknya. Radit dan Fahri diam saja karena tidak diajak ikut berfoto.
Saat Santi baru saja menghitung mundur untuk memberi aba-aba, saat itu juga aku melihat Hanna dan si bibi datang. Hari ini dia mengenakan kebaya warna abu-abu yang sangat pas di tubuhnya, dengan rambut tetap kuncir satu, dia terlihat berbeda. Aku terpana. Maka saat Santi mengatakan ‘Ti … ga!’ Aku yakin mataku tidak tertuju ke kamera!

Aku segera menyambut kedatangan Hanna. Saat Dila hendak menyusulku, tiba-tiba Radit mengajaknya untuk berfoto, untuk sementara ia tertahan sejenak dan aku bebas mengantarkan Hanna ke tempat duduk.

Duduk bersebelahan dengan Hanna kali ini terasa berbeda, entah kenapa seperti ada yang berdebar di dalam sana. Membuat lidah ini sulit sekali berkata-kata, padahal aku ingin sekali mengatakan kalau … ‘kau cantik hari ini … dan aku sukaaa … kau lain sekali, dan aku … suka aaa ….” Yup, untuk sementara si bibi yang ada di samping Hanna kita anggap nggak ada dulu, pemirsa.
“Han … selfie, yuk!”
Hanna mengangguk, demikian juga si bibi. Ah bibi, ganggu aja …. Tapi nggak apa-apa lah, nanti tinggal krop aja, fotonya, hahaha!

***

Pukul tiga sore, cewek-cewek pamit pulang pada keluargaku, sebenarnya aku berencana pulang besok, mau bantu-bantu beberes dulu. Tapi membayangkan Hanna menyetir sendiri paling tidak empat jam, membuatku tidak tega. Aku beralasan pada abah, ibu, dan kakak bahwa hari senin ada seminar proposal skripsi, jadi harus pulang sekarang. Kalau sudah sidang, gampang mau pulang kampung lagi, juga.

Akhirnya di sinilah kami, di tepi jalanan tempat bus parkir nyari penumpang. Sebenarnya kami bisa ke terminal tapi itu akan memakan waktu lama menunggu sampai penumpang penuh.
Jadi ketika ada bus berhenti, kami siap-siap menaikkan Dila, Santi, Radit dan Fahri, sementara Hanna turut menunggu kami dengan mobilnya.
“Ikut mobilku aja, sini!” Kata Hanna.

“Eh, iya, bener juga,” kataku. Akhirnya kami mengatur posisi. Bus kami suruh menunggu. Aku di belakang kemudi, Fahri di sebelah. Dila, Santi dan Hanna duduk di belakang.
“Hei … bibi mau dikemanain?” teriak bibi yang melambai-lambaikan tangan bersama Radit.
“Lah, iya?” Kami baru sadar.
Akhirnya, bibi masuk mobil, terus Hanna yang keluar.
“Lho, Hanna kan yang punya mobil?”

Kami mengatur tempat lagi sampai beberapa kali, sampai sang kondektur berteriak dari atas bus.”Woi! cepetan! Jadi nggak mau naik, nih?”
Aku berpikir cepat. “Gini, aja, sini, Dit, elo yang nyetir … di sebelahnya Fahri, nah di belakang bibi, Dila, sama Santi, pas, kan?”
“Pas!” kata mereka kompak. “Terus elo?”

“Gue naik bis aja sama bos, nanti ketemuan di kosan! Dah!” kataku sambil melambaikan tangan. Berlari ke arah bus bersama Hanna yang tertawa karena ideku ini.
Masih kudengar beberapa kali Dila memanggil saat kami sudah masuk ke dalam bus.
Bus penuh, kami terpaksa berdiri. “Yah, penuh, Nyah, maaf, ya jadi terpaksa berdiri, paling nggak lama, kok, begitu ada penumpang turun, nanti nyonya duduk.”
“Iya, nggak apa-apa, anggap pengalaman baru, jarang banget naik bus umum kayak gini.”
Aku tersenyum, sejenak tubuh kami digeser-geser penumpang lain, aku tidak sengaja menyentuh tangan Hanna yang berpegangan pada besi penyangga.
“Hei … mau kena denda?” ancam Hanna.

“Eh … nggak sengaja, Nya, maaf ….”
Yah, gajiku jadi tinggal 4.800.000 lagi, donk? Aduh ….
Beberapa menit berjalan, bus tiba-tiba ngerem mendadak. Hanna kehilangan keseimbangan, tangannya lepas dari besi dan sedikit terpental ke belakang. Wajahnya ketakutan.
“Rafi!” Adegan slow motion lagi saat tangannya menggapaiku.
No, no, no, aku menggelang, nggak mau potong gaji lagi.

“Rafi!” Tubuh Hanna limbung tersenggol penumpang kiri dan kanan, tangannya berusaha menggapaiku tapi aku terus menggeleng. Hanna panik sebelum akhirnya meraih bajuku.
“200 ribu, Nyah?”
Hanna mengangguk. Lalu tubuhnya limbung lagi, pegangannya terlepas, tapi aku tidak menangkapnya, sampai dia sendiri yang berpegangan pada lenganku.
“400 ribu!”
Hanna mengangguk lagi kali ini dengan wajah cemas.

Tidak lama bus ngerem mendadak lagi, Hanna hampir terpental lagi, tangannya terlepas, tapi kemudian bisa memegang lenganku lagi dengan sebelah tangannya.
“600 ribu!”
Bus berjalan, tangan Hanna yang satu lagi ikut memegang lenganku erat.
“800!” kataku semringah.

Dan saat bus melaju kencang, tubuh Hanna tersentak, sebelum ia jatuh aku memegangi lengannya erat. Nggak apa-apa deh, potong 200 dari 800 masih untung! Hehe. Sesaat tubuh Hanna sangat dekat denganku, dan membuat waktu sekan-akan berhenti saat mata kami bertemu.

Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan mmenyembunyikan gugup di hati. “Mas, gentian, sih, duduknya, ini istri saya lagi hamil muda, Mas,” pintaku pada seorang berbadan kekar yang duduk di samping.
Lalu dengan tak rela si mas berdiri, dan aku menyuruh Hanna cepat-cepat duduk. Hanna sempat melirikku dengan dahi mengernyit, entah keberatan, entah mau bilang aku cerdas.
Aku cuma tersenyum sesaat menatapnya, “Cukup bendera aja yang berkibar, jangan rok kamu.”
Seketika wajah Hanna kembali merah jambu.

Bersambung.

-----

KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 7

Hari ini aku ke kampus seperti biasa. Penampilan biasa, gaya biasa, rambut biasa ... tapi ketampanan luar biasa. Dan satu lagi, sesuatu di dalam dada yang lain dari biasanya. Membuatku ingin selalu tersenyum walau tak melihat sesuatu yang lucu.
‘Entah apa menyebutnya, tapi bikin aku kayak beda tipis sama orang gila. Senyum-senyum sendiri.’
“Hai!” sapaku pada Radit, Dila, dan Fahri yang duduk di koridor.

“Assalamualaikum ...,” balas mereka bersamaan.
Aku cuma nyengir sambil duduk di antara mereka.
“Waalaikumsalam ...,” kata mereka lagi.
“Hehe ...,” jawabku.
“Dosennya nggak ada, Cuy!” kata Radit.
“Yah ... padahal gua udah siap banget mau denger kuliah bapak itu,” jawabku ber-akting, pura-pura kecewa. Memasang wajah ingin menangis.
Radit langsung menoyor keningku. Tapi aku langsung memeluknya.

“Katakan ini semua bohong, Ferguso!” kataku terisak palsu.
Radit langsung berontak melepaskan pelukanku dan berdecih beberapa kali.
“Menjijikkan!” katanya.
Pecah tawaku melihat pemuda keriting itu. Demikian juga Dila. Kalau Fahri, sih, seperti biasa, hanya tersenyum simpul.
“Ada tugas, tapi,” kata Fahri.
“Kelompok?” tanyaku.
“Iya.”

“Yes!” aku mengepalkan tangan. Itu artinya aku bisa nebeng, lalu bisa kerja dengan Hanna, mengumpulkan pundi-pundi uang!
Sekali lagi Radit menjitak kepalaku.
“Nanti aku yang rangkum,” kata Dila. Sebuah kalimat yang sangat aku tunggu-tunggu.
“Makasih, Kudilku!” ucapku dengan senyum sangat lebar. Gadis itu balas tersenyum hanya saja sambil menunduk.
“Kudil siapa?” tanya Radit.
“Kalo lagi bikinin gue tugas, Kudilku ... kalo lagi rese Kudil elo!”
“Buruan diresmikan, dong, jangan digantung!” kata Fahri.
Dila salah tingkah merapikan rambut yang sebetulnya sudah rapi.
“Rafi mana pernah serius sama cewek, Ri!” sergah Radit. Sepertinya mencoba mencegah Fahri menjodohkanku dengan Dila

“Bukan Rafi, tapi kamu! Buruan dilamar!” kata Fahri cuek. Ternyata Fahri juga tahu isi hati Radit.
“Eh, kok gue?” Radit salah tingkah. Aku tertawa lebar, sementara Dila tiba-tiba minum air dari botol dengan beringas kemudian mengibas-ngibaskan bukunya ke depan dada, kepanasan dia! Haha.
“Eh, udah pada makan, belom? Gue traktir, yuk!” ajakku. Setidaknya tidak ikut berpartisipasi dalam membuat tugas, aku punya andil dalam mengisi perut mereka, sehingga bisa konsentrasi mengerjakan tugasnya. Yup! Itu juga bagian dari kerja kelompok!
Teman-teman menyambut ajakanku dengan gembira, lalu, kami berjalan menuju kantin dengan langkah santai dihias canda yang kadang lebay.
Mentraktir teman dalam kamusku bukan sebuah pemborosan. Mereka inilah keluarga di perantauan, selain ibu kos dan teman-teman satu kontrakan.
Sejenak kami berhenti saling lempar candaan dan menikmati apa yang kami pesan. Aku makan dengan sedikit terburu-buru. Ingat janji akan menjemput Hanna dan menemaninya berbelanja. Ya, inilah yang membuatku tak bisa berhenti tersenyum sejak tadi.
“Gue duluan, ya!” Aku pamit pada teman-teman. Radit dan Fahri mengangguk. Sementara Dila sekilas menatap, namun saat mata kami bertemu, dia memalingkan wajahnya.
“Buru-buru amat?” kata Radit.

“Mau kerja.”
“Sama yang bosnya cantik, itu?” tanya Radit.
“Iya ....”
“Lo kerja apa, sih?” Radit menunjukkan wajah penasaran.
“Nanti gue ceritain, cuma kontrak dua bulan!” Eh, aku keceplosan!
“Padahal Radit mau ngajak ke kosan, Fi, anak-anak banyak yang nanyain,” celetuk Dila.
“Oh, ya? Kok bisa?” Aku garuk-garuk kepala dan sedikit baper. Apa karena ketampananku yang sulit dilupakan, tetangga-tetangga si Kudil jadi pada nanyain aku? He ....
“Barang elektroniknya banyak yang rusak ... pompa aer, TV ... kipas angin ...,” kata Dila. “Mau minta betulin sama kamu.”

Aku melongo ... astaga ... bukannya itu yang aku sengaja itu, ya? Biar dapet kerjaan lagi?
“Ntar sore, ya? Atau weekend, deh,” jawabku. Aku harus bertanggung jawab, sebagai anak laki-laki abah satu-satunya. Si Kudil mengangguk lemah, bagai tak rela.
Setelah pamit untuk kedua kalinya, aku pergi meninggalkan teman-teman. Hendak berangkat kerja.

***

Aku bertemu dengan Hanna di sebuah Mall. Beberapa menit menunggu sambil minum kopi, akhirnya gadis itu datang. Dengan senyum mengembang, tas selempang, rambut diikat satu tanpa dikepang. Dan lucunya, kami mengenakan sweater dengan warna yang hampir senada, abu-abu.
“Eh, kita kayak janjian, gini, sih? Jangan-jangan jodoh ...,” godaku.
Hanna tertawa, tangannya latah ingin memukul pundakku, tapi urung.
“Pukul, Nya, pukul ...,” pintaku memberikan bahu.
“Nggak mau, ah, sayang duit,” kata Hanna memajukan bibir. Ya Tuhan, imutnya ....
“Mau minum?” tawarku.

Hanna menggeleng.
“Ya, udah, Nyonya mau ke mana? Saya temenin.”
“Yuk!” ajak Hanna semringah.
Kali ini gadis itu tidak lagi berjalan di depan setelah memerintah. Ia menungguku berjalan di sampingnya, sehingga kami bersisian. Aku jadi merasa terharu. Saking bahagianya, pas di depan ada abang-abang OB lagi ngepel, aku jadi pengen bantuin.
“Sini, Bang, biar saya aja,” kataku merebut gagang pelnya dan membersihkan lantai tepat di bagian yang akan Hanna lewati.

“Rafi?”
“Silakan lewat, Nya,” kataku.
Hanna geleng-geleng kepala sambil sedikit tertawa, sementara abang OB melongo melihatku sambil menerima alat pelnya lagi.
Hanna masuk ke supermarket sambil mendorong troli belanja.
“Sini saya aja, Nya!” Aku meraih troli dari tangannya, eit, awas kesenggol bisa potong gaji!
Hanna tersenyum.
“Mau belanja apa?”

Hanna menunjuk ke arah lorong, aku pun mengikutinya. Gadis itu mengambil banyak makanan kemasan. Mie instan, spageti bumbu instan, kornet, aneka saos, lalu bermacam snack dan tidak ketinggalan aneka makanan cepat saji di lemari pendingin, seperti sosis dan teman-temannya.
“Kamu mau belanja buat buka warung?”
“Ya, nggak, lah, aku udah pulang ke apartemen.”
“Seenggaknya kalau kamu males masak kan bisa pesen gofood, pesen makanan yang dimasak, jangan yang instan-instan mulu.”
“Udah kebiasaan, sih, Fi, lagian enak.”
“Kalau masakanku kemaren, enak, nggak?”
“Nah, iya, itu enak juga.”

“Ya udah, ntar aku nyambi kerja jadi ‘gofood’-nya kamu, deh ....”
Hanna tertawa lagi.
“Sekarang kita balikin sebagian, ya, Nya. Kita ganti dengan yang di sana.” Aku menunjuk bagian rak berpendingin. Lalu memasukkan ke dalam troli berbagai sayuran, ikan, dan buah.
Hanna tidak terlalu lama muter-muter seperti ibu dan teteh kalau belanja. Tidak sampai satu jam, gadis itu membayar di kasir.
“Mau makan, nggak?” tawarnya.
“Masih kenyang,” tolakku. Kenyang liat senyum kamu, Han ... iya, kamu ....
“Aku anter kamu pulang, ya.”
Hanna mengangguk.

***

Sesampainya di apartemen, Hanna mempersilakan aku masuk. Suasananya sudah sangat rapi dibanding saat terakhir aku ke sini dan mendapati Hanna sakit.
“Tumben rapi,” kataku.
“Bibi sekarang tiap hari ke sini.”
“Oooh, sekarang mana?”
“Lagi di rumah mama, momong anaknya.”

Aku manggut-manggut sambil mengangkat belanjaan menuju dapur. Kabinet yang waktu itu banyak berisi mie instan sekarang berkurang. Aku lalu membuka lemari pendingin, isinya makanan ringan semua, dari coklat, keripik, permen, sampai aneka minuman berperisa. Ckckck.
“Pantesan sakit, makanannya kayak gini ...,” gumamku bicara pada diri sendiri. Tapi aku yakin Hanna bisa mendengarnya.
Gadis itu mendekati meja makan dan menuang air.

“Kemarin siapa yang nganter ke sini?” tanyaku, sambil memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas. Menatanya dengan benar, sayuran di dalam kotak bagian bawah, daging di freezer. Sementara snack dan teman-temannya aku keluarkan sejenak.
“Sama mama dan ... Daniel.”
Deg.
Aku kehilangan konsentrasi untuk beberapa detik. Pikiran mulai tak enak.
“Daniel ke sini juga?” tak tahan rasanya mau bertanya.
Hanna mengangguk.

“Kalian udah baikan?” Aku bertanya dengan nada senatural mungkin, walau dalam hati sedikit perih.
“Sudah ....”
Gerakanku memasukkan bahan makanan terhenti, tiba-tiba kehilangan semangat.
“Balikan?”
“Sebenernya aku sama Daniel itu teman sejak kecil, Fi. Dia udah kayak kakak buat aku. Papaku dan papanya bersahabat sejak masih muda. Sampai masalah kerjaan juga saling bantu. Jadi, ya, mungkin mereka menganggap hubungan kami bakalan serius.”
“Kamunya sendiri nganggep Danielnya gimana?”

“Jujur, dari kecil sampai sekarang aku nggak pernah dekat dengan cowok selain Daniel. Karena dia udah kayak bodyguard gitu, deh ... jadi kalau ditanya perasaan ... aku nggak punya pembanding karena dia satu-satunya cowok yang ada dalam hidup aku. Ya temen, ya kakak.”
“Kalau dia sendiri gimana? Apa kamu juga satu-satunya cewek dalam hidup dia? Itu yang kemarin di pesta ulang tahun, siapa?”

Hanna diam sebentar menggigit bibir. “Umur dia jauh lebih dewasa dari aku, Fi, kupikir wajar kalau dia dalam proses memilih wanita yang terbaik untuk jadi istrrinya nanti ....”
“Pikiran macam apa itu?” Rasanya langsung naik darahku mendengar pernyataan Hanna.
Gadis itu menatap kosong sambil memegang gelas.

“Dia udah datang kesini tapi isi kulkas nggak diganti, padahal tau kamu baru sembuh dari sakit, cowok model apaan tuh?”
Hanna diam.

Aku sudah selesai merapikan kulkas, kemudian masih berdiri dengan emosi.
“Terus setelah dia mutusin nggak nerusin hubungan sama cewek di luar sana, dia balik sama kamu, gitu? Cowok model apaan tuh?”
Aku berkacak pinggang. “Sering dia kayak gitu?”
Hanna mengangguk pelan.
“Astaga! Gua baru tau kalau ada manusia jenis langka kayak gitu!” Aku menyugar rambut beberapa kali, gerah.
Sejenak kami berdua hanya diam. Hanna masih duduk menghadap meja makan, sementara aku berdiri di dekat kulkas yang terbuka, biar agak adem jiwa dan raga ini.
“Kalau di main kesini sendirian jangan dibolehin, ya!” Aku sedikit mengancam.
“Emang nggak pernah, kok ....”

“Bagus! Mungkin dia juga nganggep kamu adik, tapi namanya cowok yang suka singgah di lain-lain wanita, kamu harus hati-hati! Bahaya!”
“Terus ... kamu nggak berbahaya?”
“Nggak, donk ...,” jawabku sambil menyugar rambut.
“Tapi ntar ada yang marah?”
“Siapa?”
“Dila ....”

“Nggak bakalan ... kalo si Radit mungkin iya!”
Hanna tertawa. Detik selanjutnya ia beranjak mendekatiku dan meraih dua cup mie instan.
“Makn, Fi!”
Kutarik makanan itu dari tangannya dan mengembalikan ke dalam kabinet.
“Tunggu bentar aku masakin.” Mataku menyapu dapur. “Ini magic com kalo ga dipake tarok aja di atas meja tamu tuh, kasih aer ... masukin bunga ...!” kataku sambil mewadahi beras, lalu mencucinya. Hanna cuma cengengesan sambil memandangiku.
“Nya, bentar lagi kan kontrak kerja kita kelar, nih, mau nggak sekali-sekali Nyonya yang nemenin saya jalan?”
Hanna melirikku sekilas.
“Ya, ngerasain jadi aku sehari ... aja, kalau kamu bahagia selama satu hari itu, nanti aku yang kasih hadiah ke kamu! Hitung-hitung hadiah perpisahan sebelum kontrak kerja kita berakhir ....”
Hanna mengangguk tanda setuju.

***

Setelah pulang dari apartemen Hanna dan sampai di kost-an. Aku merasa ada yang mengikuti. Teman-teman kost juga mengatakan kalau sejak sore ada motor terparkir di seberang jalan dan tak kunjung pergi hingga saat ini.
Saat aku dan teman-teman memutuskan untuk menghampiri orang mencurigakan tersebut, dua orang berpakaian hitam itu keburu pergi.
Tepat saat itu ponselku bergetar, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Jauhi Hanna!”
Aku hanya tersenyum sinis dan membalasnya.
“Pengecut!”

***

Ternyata teror untuk menjauhi Hanna tak berhenti sampai malam itu. Pagi-pagi di halaman kost-an berserakan sampah dan kotoran. Teman-temanku sampai muntah-muntah membersihkannya. Kira-kira pukul sembilan pagi, sebuah batu memecahkan kaca jendela kamarku.
‘Hhh ... benar-benar memuakkan! Kerjaan siapa ini semua?’ Hati kecilku curiga dengan orang yang dekat dengan Hanna.
Selama di kampus, aku jadi sering celingak-celinguk mencari kalau-kalau ada yang membuntuti. Perasaan mengatakan orang itu ada, tetapi ... tidak berhasil tertangkap mata. Awas saja kalau dapat!
Pulang dari kampus tak urung lagi, kuhentikan motor mendadak dengan melintang di depan orang yang kucurigai.
Benar! Ini motor yang sama dengan yang parkir di depan kost-an semalam! Dua orang turun dengan gaya menantang.
“Apa, lo?” katanya.

“Apa?!” balasku menantang.
Ia maju dan hendak menarik kerah baju, tapi kutepis tangannya. Satu temannya maju mengepalkan tinju.
“Mau main keroyokan lu banci?!” teriakku menepis tangan orang berjaket hitam itu.
Keributan di tengah keramaian mengundang banyak perhatian pejalan kaki dan pengendara yang berhenti di dekat kami. Seketika, dua orang itu menaiki motor mereka dan ‘cabut’ dari hadapanku.
Baru saja hendak naik motor, ponsel kembali bergetar. Nomor tidak dikenal memanggil.
“Cafe King jam 3 sore!” Sebuah suara berat terdengar.
“Nggak usah nunggu jam 3, sekarang aja!”
Suara di seberang sana tak terdengar, lalu aku segera menutup telepon dan memacu motor ke Cafe King. Banyak bener aturan mau ketemu aja!
Aku sampai dan memarkir motor, tanpa sempat melepas jaket denimku, dengan langkah tergesa masuk ke area orang-orang berpakaian rapi itu. Mungkin aku satu-satunya yang berpenampilan casual.

‘Bodo amat, lah!’
Segera kuhubungi nomor yang meneleponku tadi. Ternyata ia datang dari arah atas, turun melalui tangga. Beberapa orang terlihat mengikutinya. Heh, pengecut!
Lelaki itu duduk di hadapan, aku ikut duduk. Kini sebagian orang yang mengikutinya berdiri di belakangku. Aku berdecih!
“Kamu ingat saya?”
Aku diam. Pertanyaan retoris.
‘Dia pikir gue pikun?’

Sudah kuduga opa-opa korengan ini yang ada dibalik teror beberapa hari belakangan. Daniel.
Lelaki dengan wajah oriental itu duduk dengan bertopang kaki, melemparkan selembar kertas di meja, tepat di depanku. Hah? Itu surat kontrak kerjaku dan Hanna? Kenapa bisa sampai di tangan lelaki ini?
“Saya bayar kamu tiga kali lipat, tapi tinggalkan Hanna sebelum kontrak ini berakhir, kamu butuh uang, ‘kan?” katanya dengan senyum penuh kesombongan.
Sejenak aku terpana. Bagaimana bisa? Oooh ... apa waktu dia ke apartemen Hanna ...?
Aku menatap sinis ke arahnya. Benar-benar ya orang ini!
Daniel memberi isyarat pada seorang di sampingnya untuk mengambil sesuatu. Lelaki tinggi tegap itu memperlihatkan sekantong uang di tangannya.

Darahku mendidih, bukan harga diriku yang diinjaknya, tapi harga seorang Hanna. Untuk mendapatkan Hanna dia pikir bisa hanya dengan uang 30 juta?
“Lupain aja niat lo! Sportif dikit, kenapa?” Aku berdiri hendak pergi, pengawalnya maju, menahanku. Kusikut mereka.
Pengawal yang memegang uang ikut maju pasang badan. Aku terpaksa mendorongnya untuk melepaskan diri. Uang di tangannya terlelas dan menghambur di depan mata.
Langsung aku angkat kaki sebelum aku tergoda dengan lembaran merah yang menari-nari di udara itu. Terdengar suara Daniel manahan orang-orangnya untuk mengejarku.
‘Brengsek! Sombong bener jadi orang!’

***

Kukendarai motor sampai hampir tak terkendali. Sesampainya di rumah, kubanting tas, meninju meja belajar beberapa kali.
“Brengsek! Sombong!”
Sulit mengendalikan nafas yang terengah-engah. Sampai akhirnya terduduk di lantai, meremas-remas rambut, mencoba melupakan ini semua.
Hingga setelah magrib, aku tak keluar kamar. Teman-teman yang biasa ngajal makan bareng beberapa kali mengetuk pintu. Dan saat tak mendapat sahutan, mereka berhenti memanggilku.
Aku baru beranjak saat Hanna menelepon.

“Iya, Nya?”
“Makanan yang kamu masak tadi abis.” Suara gadis itu terdengar ceria.
“Alhamdulilaaah ....”
“Tapi ... aku belum makan malam ....”
“Mau dimasakin lagi?”
“Engga ....”
“Terus?”
“Mau makan di luar aja.”
“Ya udah, sana, seduh mie cup kamu terus bawa keluar, makan di depan pintu!”
“Rafi!”
Aku terkekeh.

“Mau makan di mana? Aku jemput, ya?”Aku menawarkan diri.
“Nggak usah, ketemuan aja di sana.”
“Oke, aku yang nentuin tempatnya,” kataku.
“Oke ....”
Beberapa menit kemudian aku sudah tiba di cafe-nya David, kenalan di kampus. Lokasinya juga deket kampus, langgananku dan Radit.
Aku tiba lebih dulu, Hanna tiba belakangan.
Benar dugaanku, gadis itu tampak ceria malam ini. Aku tersenyum menyambut kedatangannya, sejenak kami menikmati lantunan lagu sambil menunggu pesanan.
“Lagunya asik-asik, ya, d sini,” ucap Hanna.
“Iya, temen-temen aku semua, tuh,”
“Oooh ....” Hanna mengangguk-angguk. “Suaranya keren,” sambungnya.
“Ah, masih kerenan aku, juga!”
“Masa?”
“Mau denger?”
“Mau, mau!”

“Tunggu di sini,” kataku sambil berdiri dan meninggalkan Hanna seorang diri.
Kebetulan sekali, aku memang sedang malas makan. Kudekati teman-teman dan meminta izin menyanyikan sebuah lagu. Lalu ... di sinilah aku sekarang.
Di antara petikan gitar, sesekali ekor mataku menangkap sosoknya dari atas panggung ini. Dan wajah itu tak pernah berhenti tersenyum. Berbanding terbalik dengan hatiku, yang walaupun sudah sering ditempa dengan hinaan jenis apa pun, satu kali akhirnya tergores juga. Bayang-bayang uang yang beterbangan di depan mata dan kalimat merendahkan itu seketika melintas, saat bibirku menyanyikan sebaris lagu, yang mewakili isi hati.

Hari-hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu ....*
Bersambung.
*Cinta Luar Biasa by Andmesh (versi penyanyi Koreanya keren, loh, udah liat belum? ๐Ÿ˜)
Maaf updatenya lama, lagi sibuuuuk banget di duta. Terima kasih buat pembaca Kekasih Bayaran seantero nusantara


-----


KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 8

Pagi, aku membuka mata di atas tempat tidur. Kulirik jam dinding, pukul empat dini hari. Aku mengusap wajah sambil membuang napas kasar. Capek.

‘Gimana nggak capek? Semalam, karena Hanna suka suaraku, aku terpaksa nggak turun-turun dari panggung. Bermacam lagu aku nyanyikan, dari mulai lagu romantis, lagu barat, lagu Mandarin, lagu Korea, lagu anak-anak, sampai lagu-nya abang-abang jualan tahu bulat yang aku arasement ulang dengan sentuhan jazz. Keren, kan? Untung aja pengunjung nggak nimpuk aku pake sepatu mareka. Malah ada yang ngasih tip walau ‘ceban-an’. Mungkin mereka melihat aura ke-setresan dalam musik dan lirik lagu yang aku nyanyikan.’

Mungkin mereka berpikir … ‘Kasian,ya, ni cowok, melampiaskan kesedihan dengan nyanyi lagu-lagu dengan lirik nggak jelas, gitu.’
Yah, gimana nggak jelas, aku cuma ngambil nadanya aja, liriknya aku ganti sendiri. Apalagi yang bahasa Mandarin sama Korea, tuh, asli asbun doank!

Tapi … Hanna suka …. Itu yang paling penting, baru semalam aku ngeliat dia terpingkal-pingkal sampai keluar air mata. Rambut kuncir kuda-nya bergoyang ke kiri dan kanan. Bahunya turun naik, dan sederet gigi kelinci mungkin sempat kering semalam. Gara-gara ngetawain aku. Ah … Hanna, baru aja pisah semalam, pagi ini aku udah kangen lagi.

Kupeluk bantal untuk menyembunyikan wajah. Malu ketauan senyum-senyum sendiri sama cicak yang lagi pacaran di dinding kamar.
Berharap hari ini bisa ketemu lagi, walau tak ada janji. Atau aku yang harus mencari-cari alasan untuk bisa bertemu? Misalnya ….
‘Eh, Nya, sapu tangan aku ketinggalan di atas meja, kebawa kamu, nggak?’
Ah, basi, nggak masuk akal, generasi milenial mana ada yang bawa sapu tangan.
Atau alasan lain seperti ….

‘Han … Liat foto aku semelem, sih, di ponsel kamu, ketemuan, yuk!’
Ah … nggak harus ketemuan, kan bisa dikirim lewat WA?
Atau aku jujur aja ngajak ketemuan dia, bilang kayak gini ….
‘Nya, ketemuan, yuk … kangen ….’ Eak ….
Terus gue ditimpuk pake duit segepok. Gara-gara Hanna berterima kasih sebab udah lama nggak digombalin. Hahaha! Ah … coba kemarin waktu perjanjian kontrak kerja, gombalan yang bikin baper dapet honor juga, pasti menang banyak, gue!

Aku meremas-remas rambut sendiri. Benar kata Radit, kalau seluruh hati kita udah di kasihin ke satu orang, ada aja cara nyari alasan konyol buat bisa ketemu dia setiap hari.
Tidak lama kemudian adzan subuh berkumandang, aku mandi kilat dan ikut teman-teman ke mushala.
‘Syukur adzannya hari ni datang cepet, jadi pikiranku nggak kemana-mana. Emang ada gitu, adzan lebih cepet? Hadeeeh … kacau ni otak.’

***

Hari libur kali ini aku mau ke kost-an Dila sebentar. Mau memperbaiki apa yang sudah aku rusak. Tiba-tiba saja aku merasa berdosa, walau entah suatu saat bakal mengulangi lagi atau tidak. Terutama saat sedang bokek. Setelah dari sana nanti, aku akan cari modus buat ketemu Hanna.
Niatku hanya sebentar saja di sana, jadi sengaja tidak menghubungi Radit. Lagi pula, anak itu kalau hari minggu biasanya bangun kesiangan.
Sesampainya di kost-an si Kudil, dia datang dari arah dapur. Dapur di tempat Dila, keroyokan sama teman-temannya dari sepuluh kamar. Letaknya di luar. Kudil masih pakai baju tidur, sedikit basah di ujung-ujungnya. Kutebak dia sedang nyuci.

“Eh, Rafi, pagi amat ke sininya?” kata Dila kikuk, merapikan bajunya yang sudah tak mungkin bisa rapi lagi.
Tidak lama kemudian, teman-temannya melongokkan kepala dari arah dapur. “Eh, ada A’a … betulin kipas angin aku, ya!” Seseorang bereriak, menyusul kemudian beberapa penghuni lainnya. ‘Udah kayak tukang servis deh aku pagi ini.’
“Kamu ke sana aja, dulu, nanti di sini terakhiran aja,” kata Dila.
“Oke!”
Aku berlalu dari hadapan Dila, menuju ke kost-an teman-temannya. Tidak butuh waktu lama aku dapat membereskan semua yang rusak.
‘Ya, iyalah, gue yang ngerusakin.’

Setelah itu, aku kembali ke tempat Dila. Gadis itu kelihatan sudah rapi. Segelas teh dan kudapan ringan tersaji di atas meja.
Aku langsung mendekati TVnya, sebenernya ingin mendekati kudapannya, tapi alangkah tidak tahu malunya diri ini. Sesekali kalau pergi sendiri juga harus bisa jaga imej. Tidak lama kemudian dengan cepat aku merapikan TV Dila. Dalam waktu singkat Dila sudah bisa menonton TV lagi. Aku berniat segera angkat kaki setelah minum teh, tidak nyaman rasanya di sini tanpa Radit. Soalnya sudah terbiasa begitu. Jadi kalau tidak ada si keriting, aku dan si Kudil kayak kanebo kering ketemu sama pup burung kutilang yang udah kering nempel di kaca mobil. Sulit berinteraksi, hehe.
Tiga kali menyeruput teh hangat. Tanpa obrolan yang berarti, aku siap-siap pamit.

“Dil, aku pa ….”
“Ada barang lain yang rusak, Fi …,” kata Dila dengan suara lemah dan gestur yang sedikit lain dari biasanya, kaku. Dia menunduk, hanya sesekali melirikku dan langsung menunduk lagi jika tak sengaja mata kami bertemu.
“Ya?” jawabku senatural mungkin, padahal dalam hati takut sekali menyakiti hati cewek baik ini. Entah kenapa sebagai cowok yang sering ditembak cewek-cewek di kampung, kira-kira periode 15 sampai 16 tahun yang lalu, aku jadi tahu gelagat cewek yang mau mengutarakan isi hatinya.
“Kenapa kamu datang sendiri?”
“Oooh … mau ngajak Radit biasanya masih tidur, lagian mau langsung kerja abis ini,” jawabku.
“Kirain sengaja …,”

Aku hanya tersenyum.
“Boleh aku menganggap itu hanya alasan?”
“Maksudnya?”
“Kamu sering datang ke sini dengan penampilan sangat beda dengan saat kita kuliah, lebih rapi.”
Aku membuang pandangan ke arah lain? Pelajaran berharga, lain kali ke rumah Dila nggak usah pakai baju, biar nggak dikira macem-macem!
“Kamu tahu TV aku sebenernya nggak rusak, tapi kenapa masih mau ke sini, bukannya ada maksud lain?”

Aku mulai mengamati ekspresi Dila, kali ini kami saling berhadapan. Aku menggeleng pelan, ingin mengatakan sungguh tidak ada maksud apa-apa, tapi rasanya tak tega.
“Kamu selalu nolong aku, ada buat aku, maksudnya apa?”
Lagi, aku menggeleng dalam hati. Aku tahu mungkin perasaan Dila sekarang sedang sangat sulit untuk diungkapkan, ibarat mules-mules di perut akibat makan cabe kebanyakan tapi nggak bisa keluar karena ujungnya keras. Perumpamaan macam apa itu? Astaga joroknya ….
Apa aku harus membiarkannya jujur lalu aku akan menolaknya? Bukankah itu akan menyakiti Dila dan membuat kenangan pahit saat bertemu denganku? Mungkin saja hubungan kami tidak akan sama lagi seperti dulu? Jadi nggak asik lagi.

“Aku …,” Dila menggantung kalimatnya.
“Aku seneng bisa kenal dan jadi sahabat kamu, Dil.” Aku berharap Dila mengurungkan niatnya. “Mungkin selamanya …,”
“Tapi aku sayang sama kamu, Rafi, sejak semester satu, bahkan kalau setelah ini hubungan kita bakal jadi nggak enak, aku nggak apa-apa.”

Aku tercenung … entah apa yang merasuki Dila. Lama aku mematung tak tahu harus mengatakan apa, dan sama sekali tidak punya keberanian untuk menatapnya.
“Kamu cewek baik, pasti nanti bakal dapat cowok baik juga,” jawabku diplomatis.
“Apa aku sedang ditolak?”
Aku tak menjawab, hanya memberanikan diri melihat wajahnya,yang ternyata sudah basah. Kelopak matanya beberapa kali mengerjap seiring embusan napas tertahan untuk menyembunyikan suara tangisan. Ah … aku paling lemah jika sudah berhadapan dengan air mata wanita. Kupandangi langit-langit mencoba mencari kaliamt yang tepat yang harus kukatakan pada Dila. Sayanganya tak ada, lalu aku hanya membiarkannya seperti itu sampai ia memutuskan untuk masuk ke kamarnya.
Akhirnya … TV udah bener, satu lagi yang aku rusak di ruangan ini, hatinya Dila.


***
‘Lagi apa, Nya?’ Aku mengirim pesan lewat WA ke Hanna.
‘Lagi makan mie,’ jawabnya.
‘Mau nyobain rasa mie yang baru, nggak?’
‘Boleh … rasa apa?’
‘Rasa terguncang karena makannya sambil naik motor bareng cowok keren,’ balasku.
Lama Hanna tidak menjawab, mungkin dia sedang keselek mie yang panjang. Seteah beberapa menit muncul balasan.
‘Emoticon ngakak disertai tulisan; boleh-boleh, aku pengen coba!’
‘Ya udah, sisain dikit mie-nya, tunggu ya, lagi otw.’
‘Oke!’

***

Aku sampai di apartemen Hanna. Dia sudah siap dengan jeans dan sweater garis-garis, serta tas punggung kecil. Rambutnya tak pernah berubah, hanya ikat rambut yang sering gonta-ganti warna.
“Mana mie-nya?”
“Abis,” jawab Hanna sambil tertawa.
“Yah, padahal aku juga mau nyobain rasa barunya.”
“Rasa apa, sih, Rafi? Becanda mulu, deh ….”
“Mie rasa disuapin di atas motor!”
Hanna tergelak. “Mana ada?”

“Hehehe ….”
“Nanti aku suapin yang lain, aja!”
“Bener?”
Hanna mengangguk.
“Asiiik ….”
“Kita mau ke mana?” tanya Hanna.

“Ada, deh,” jawabku sambil memberikan helm. “Hati-hati, ya, Nya, kemaren tetangga saya ada yang habis makan mie instan, terus naek motor, penglihatannya langsung hilang, gitu, gelap!”
“Hah? Masa, sih? Kok bisa?” Wajah Hanna terlihat cemas.
“Soalnya dia pakai helmnya kebalik,” jawabku sambil mengetuk-ngetuk kaca helm yang sudah dipegang Hanna.
Hanna tergelak sambil memukulkan helm ke pundakku. “Udah, ah, hayuk berangkat!”
“Siap, Nya! Selamat berpetualang menjadi Rafi untuk sehari!”

***

Baru saja memarkirkan kendaraan di tengah keramaian, ponselku bergetar tak mau berhenti dari tadi. Kusempatkan menjawab telepon sebelum mengajak Hanna jalan. Ternyata dari Radit, tumben dia nggak sabaran.
“Ya, gue lagi di jalan, Cuy!” Suaraku terdengar nyaring karena sedang berada di pinggir jalan.
“Eh, kembalian micin, Lo apain Dila?!”

Aku tak menjawab, hanya tertegun untuk sesaat. Pasti terjadi sesuatu di sana sehingga Radit marah padaku. Aku menyugar rambut dan menoleh pada Hanna yang sedang tersenyum padaku.
“Nanti gue jelasin, ya, gue lagi ada urusan …,” jawabku lemah, membayangkan wajah Dila yang sembab dan mata memerah. Kemarin, Daniel, hari ini muncul lagi masalah Dila, belum lagi kalau si Radit marah. Hadeeh … baru kali ini gue ngerasa kegantengan ini sebagai kutukan.
Bersambung.
Hari ini segini dulu ya, guy’s, untuk menemani weekend kalian. Part ini memang lebih pendek dari biasanya. Selanjutnya aku mau belajar lagi cara mengolah kata biar enak dibaca,dan mendalami karakter cowok sehingga bener-bener kerasa ‘lakik’ pas kalian baca. Da … da ....
Selanjutnya>>


 -----


KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 9

“Siapa?” Hanna mendekatiku dengan mata menyipit sebab silau karena sinar matahari.
“Radit.”
“Kayaknya penting ....”
Aku sedikit memaksakan senyum. “Nggak apa-apa, bisa nanti aja.”
“Kalau ada urusan penting, nggak apa-apa, lain kali aja jalannya, atau ajak aku ke sana juga boleh.”
‘Ngajak Hanna ke sana? Terus bikin si Kudil yang tadinya menangis dengan anggun jadi meraung-raung sambil ‘ngegelosor’ di lantai? Nggak ... nggak ....’

“Kalau udah sama Nyonya, mah, yang lain nggak ada yang lebih penting ....” Aku tersenyum dan dibalas dengan anggukan malu-malu dari wajah yang mulai merah jambu. Kalau Dila yang kena ‘tampol’pakai kalimat ini, kira-kira reaksinya bakal gimana, ya? Mungkin salto-salto terus syukuran malam Jumat di kost-annya. Ah, kasian si Kudil.
“Yuk, Nya!” Aku mengajak Hanna masuk ke area yang ramai oleh pedagang.
“Mikirin apa?” tanya Hanna.

Aku menggeleng. “Nggak ada.” Sepertinya gadis ini cukup peka menangkap ekspresi wajahku yang sedang memikirkan sesuatu. Atau semua gadis memang seperti itu? Entah lah.
Kami memasuki area bazar. Banyak pedagang yang menggelar lapak di siang menjelang sore seperti ini. Mereka tidak akan tutup sebelum malam. Segala macam dijual dengan harga miring. Dari mulai pakaian, aksesoris, mainan anak, sampai berbagai macam kuliner. Tidak ketinggalan penjaja jasa andong, mobil-mobil yang dikayuh dihias lampu warna-warni, kereta-keretaan, becak mini, dan masih banyak lagi. Makin sore nanti suasana di sini bakal tambah ramai, dan akan banyak suara musik juga lampu kelap-kelip dari kendaraan sewaan itu. Di tengah-tengah lapangan ada life musik dari band-band indie yang kemampuannya tidak diragukan lagi.

Udara hari ini cukup panas. Angin yang berembus terasa hangat. Aku dan Hanna tidak terlalu lama berjalan. Kami cepat memutuskan untuk beristirahat di sebuah tempat duduk dari besi berukir di trotoar taman. Beberapa pohon palem menaungi area ini sehingga cukup adem.
Tidak jauh dari sini banyak pedagang makanan dengan gerobaknya masing-masing. Aku meninggalkan Hanna sejenak untuk membeli minuman dingin, lalu kembali saat sudah memegang dua cup teh poci di tangan.
Hanna menerimanya dengan tersenyum, lalu tidak lama menyeruput hingga tersisa sedikit dalam cup miliknya.

“Kamu sering ke sini?” tanya Hanna.
Aku mengangguk.
“Sama siapa?”
“Radit, Fahri ....”
“Dila juga?”
“Kadang-kadang,” jawabku sambil melirik si nyonya dengan ekor mata. Kenapa dia nanya-nanya si Kudil?
“Tapi lebih sering aku, sih, yang main ke kost-annya,” kataku cuek. Padahal ingin tahu reaksinya.
“Hah? Sendirian aja?”
“Iya ....”

“Ngapain?” Nada suara si nyonya terdengar meninggi.
“Kadang ngerjain tugas, kadang bantu betulin barang rusak, kadang ... masakin dia ....”
“Apa ...? Jadi ... kamu kayak gitu ke cewek lain juga?” Hanna memandangku sengit. Wajahnya sesaat terkejut dan sedikit menunjukkan rasa jijik –mungkin. Namun, detik kemudian dia memalingkan wajah sambil menyeruput teh pocinya yang tinggal es batu saja.
Aku sedikit tertawa. “Bohong, Nya ... bo’ong ... nggak pernah, kok.”
Hanna menoleh padaku sehingga rambutnya seperti terlempar. “Bener juga nggak apa-apa, kok,” katanya sambil menaikkan bahu. Lalu membuang pandangan lagi. Bikin gemes aja, kalo pacar sendiri pasti udah aku tarik rambutnya, dengan lemah lembut, alias dibelai. Kalo ini ... bisa-bisa aku dipotong gaji terus putus kontrak sepihak.
“Bo’ong, Nya ....”

Hanna diam.
“Yang bener, nggak pernah masakin kok, cuma nyikatin sepatunya, jaitin baju robek, setrika baju ... kadang ngosek wc ...,” kataku mendekatkan wajah ke arah Hanna yang dari tadi membuang muka.
Gadis itu menoleh cepat dan menatap tajam. “Hah? Kamu beneran cuma temenan sama Dila?”
Aku menggeleng.
“Terus?”
“Saya nyambi cleaning service juga, Nya!”
Hanna berdiri seperti ingin meninggalkanku. “Rafi, aku mau pulang, aja! Kamu nyebelin ... itu serius apa becanda, sih?”

“Becanda ... Nya, becanda,” jawabku sambil menarik tas punggungnya. Sebenernya pengen narik tangan, donk, tapi takut dipotong gaji!
Hanna maju satu langkah hendak pergi, aku berdiri dan menyusulnya. “Becanda, Nya, sumpah!”
Si kuncir kuda menatapku sesaat sebelum akhirnya duduk di tempat semula.
Lalu, kami diam untuk beberapa saat ....
“Nya, naik itu, yuk! Berani, nggak?”

“Berani ....”

***

Di sinilah kami, dalam kotak kecil berkaca yang tergantung di udara, berputar-putar dengan lamban. Jika sedang berada di atas, pemandangan kota akan sangat jelas terlihat.
Sejenak kami diam, aku menikmati, entah kalau Hanna. Kukira dia juga sama, kepalanya sesekali menoleh ke bawah sambil menjimpit kembang gula yang kubelikan sebelum naik tadi. Bibirnya sesekali terlihat bergerak-gerak menikmati jajanan manis berwarna pink itu. Tentu saja dengan kedua pipi yang warnanya serupa kembang gula.

Dalam kebisuan kadang otak lelakiku mengembara melebihi batas yang seharusnya. Berharap seandainya saja gadis di depanku ini pobhia ketinggian, lalu, dengan dengan manja berlindung padaku ... ‘Rafi ... aku takut ....’
‘Tenang, Nya, ada saya.’
‘Makasih, Rafi ... berapa pun aku akan membayarmu asal kamu melindungiku ....’
Lalu lembaran-lembaran rupiah berwarna merah bagai hujan menimpa wajahku. Oh, indahnya ....
“Rafi!”
“Ya? Apa, Nya?”

“Ngapain kamu senyum-senyum sendiri?”
“Masa, sih?”
“Iya ....”
“Nggak apa-apa ....” Aku mengalihkan pandangan.
“Masih mikirin Dila, ya?”
“Nggak, lah,” jawabku. Aneh pertanyaan si nyonya, nih. Jangan-jangan dia lagi, yang mikirin Dila.
“Kayaknya Dila suka, deh, sama kamu, Fi,” katanya.
Tuh, kan, bener, dia yang masih ngebahas Dila.
“Emang ...,” jawabku jujur.

“Iih ... pede bener kamu!” Wajah Hanna mengernyit.
“Dia bilang sayang sama saya.”
“Iiih ... ngaku-ngaku!”
“Beneran ....” Aku melirik Hanna sambil mengacungkan dua jari.
Hanna mengernyit memandang tajam ke arahku.
“Emang kenapa? Apa saya orang yang nggak pantes disayangi?” Aku balas menatapnya serius. Hanna membuang muka.

“Oh ... enggak kok ... pantes pantes aja!” Ia berbicara padaku tapi sambil memandang ke arah lain. Satu tangannya masih memegang kembang gula.
Aku sedikit memajukan tubuh, mencoba menemukan sepasang kejora yang tak mau melihatku. “Kalo nyonya sayang nggak sama saya?”
Habis mengatakan itu, jujur aku pengen banget nampar mulut sendiri. Berani-beraninya! Berani-beraninya!

Bianglala ala-ala berhenti di depan pintu arah menuju keluar.
“Satu putaran lagi sebelum dijawab!” ucapku menghalangi pintu turun.
“Aku mau turun, perutku mual,” kata Hanna meraih dengan cepat pintu keluar dan setengah berlari meninggalkanku.
“Nya! Tunggu!”
Kukira dia marah karena pertanyaanku. Tapi saat gadis itu menoleh, terlihat deretan gigi kelincinya dibingkai wajah oval yang tertutupi anak-anak rambut.

Ah, untunglah dia nggak marah. Cepat-cepat kusejajarkan langkah dengannya. Dan berjalan menuju entah ke mana. Itu nggak penting, selagi bersamanya, ke mana pun aku mau.
Hanna berhenti di sebuah lapak yang menjual jilbab. Tampak penjaganya hijaber-hijaber yang kutaksir usianya sama dengan kami. Ternyata benar, beberapa orang mengenal Hanna. Mereka sejenak ‘bercipika cipiki’ sebelum akhirnya Hanna meraih beberapa helai jilbab.
“Yang itu temen sekelas,” kata Hanna padaku sambil melilitkan sebuah kain di kepalanya. Saat ia mengalami sedikit kesulitan, temannya yang menjaga lapak mendekati Hanna dan membantu gadis itu memakaikannya.

Selesai kain itu terpasang sempurna, ia menoleh padaku sambil tersenyum. Dan saat itu kurasakan duniaku berhenti berputar, lalu segalanya berpusat pada satu wajah. Terkesima, sungguh. Namun, secepatnya kupalingkan wajah ke arah lain.

Saat itu, senyumku berhenti mengembang sebab beberapa orang terasa sangat mencurigakan, di mana aku dan Hanna pergi, mereka selalu ada. Ya, sejak tadi aku mengamati mereka.
“Ini namanya phasmina. Cocok, nggak, Fi?” Suara Hanna memecah konsentrasi.

“Banget, bungkus, deh,” kataku. Lalu dengan cepat membuka tas dan mengeluarkan lembaran uang untuk membayarnya. “Anggep aja ini kenang-kenangan dari aku, ya, sebelum kontrak kerja kita abis,” sambungku sambil menyerahkan uang kepada si mbak penjaga lapak.
Hanna tersenyum. Lalu, kami melanjutkan perjalanan sambil sesekali menoleh ke kiri dan kanan, takut orang yang kucurigai tadi membahayakan Hanna.

Sampai di sebuah bangunan yang terasnya dipakai buat jualan, aku menarik tas Hanna dan mengajaknya bersembunyi di balik dinding. Jika dugaanku benar, orang-orang mencurigakan itu akan ikut berhenti di persimpangan jalan ini.

Hanna menoleh heran, aku meletakkan telunjuk di depan bibirku. Tak lama kemudian terdengar suara dari arah samping, di mana beberapa orang yang kucurigai tadi celingak celinguk seperti mencari sesuatu. Tak lama kemudian salah seorang dari mereka mengangkat telepon.
“Ilang, Bos, udah kita ikutin dari tadi.”

Jeda sebentar.
“Nggak ngapa-ngapain, Bos, belanja, naik bianglala, duduk duduk aja, gitu ... nanti saya kirim fotonya.”
Jeda lagi.
“Oke, sip, Bos!”
Laki-laki bertubuh besar itu mengantongi ponselnya.

“Ayo, ikutin terus kata Bos!” ajak orang itu seraya berlalu dari hadapan kami.
Aku dan Hanna saling berpandangan. Aku memajukan dagu seolah bertanya apa kamu kenal orang itu? Dan Hanna menggeleng. Kami keluar dari persembunyian dan melangkah secepatnya keluar dari area bazar.

Lalu, saat aku menoleh dan mendapati orang-orang tadi tengah mengejar kami. Aku mengajak Hanna lebih cepat angkat kaki.
“Lari, Nya!”
“Hah? Oke!” Tak sedikit pun wajah takut yang ditampakkan Hanna, ia malah tertawa sambil mengejar langkahku yang lebih lebar. Lucu, dia tidak khawatir sama sekali. Apa ... dia merasa aman bersamaku? Tidak terasa senyumku ikut mengembang menyaksikan ekspresinya.


***
Setelah beberapa kali menyelinap akhirnya kami sampai di jalan besar. Aku dan Hanna ngos-ngosan. Setelah menyapu pandangan, secara bersamaan mata kami berhenti di satu titik. Restoran ayam cepat saji. Tanpa dikomando kami masuk melewati pintu kaca. Hawa segar dari pendingin ruangan sangat membantu menyegarkan badan yang basah oleh keringat. Kami naik ke lantai dua. Lalu, duduk berhadapan dan menetralkan napas untuk sejenak.

“Aku aja yang pesan, Fi, kamu mau apa?” tanya Hanna masih disela-sela napas yang memburu.
Aku mengedarkan pandangan. “Ini restoran ayam, ya?”
“Iya ...,” jawab Hanna sambil nyengir.
“Sate usus, deh?”
Gadis di hadapanku ini yang tadinya sudah berdiri siap memesan makanan, terduduk lagi dan tertawa sambil menutupi wajahnya.
“Minumnya? Marimas?” tanya Hanna lagi di sela-sela tawanya.
“Emm ... teh sisri, teh sisri,” jawabku dengan mimik serius.

Hanna makin terpingkal. Sejenak ia mengelap ujung matanya yang berair. Aku jadi ikut tertawa melihatnya. Tak lama, ia meninggalkanku memesan makanan.
Sementara aku terus mengamati dari atas sini, beberapa orang yang tadi mengikuti kami.
Tidak lama Hanna datang dengan nampan berisi dua cup minuman.
“Ayamnya tunggu bentar,” katanya.
Aku mengangguk.
“Han, aku ke bawah mindahin motor bentar, ya, kamu tunggu di sini aja.”
“Iya.”

Aku turun dengan langkah tergesa. Juga detak jantung yang lebih cepat dari biasa. Segera kuhampiri orang-orang yang sejak tadi mengikuti. Mereka kini sedang berdiri di dekat parkir motor.
Saat aku tiba, tiga orang berbadan besar dan berjaket denim itu melihat ke arahku. Dua di antaranya sedang memegang minuman kaleng. Sepertinya mereka juga sama dahaganya denganku. Tidak salah lagi, mereka pasti mengejarku dan Hanna.
“Siapa bos lo?” tanyaku tanpa tedeng aling-aling.

Satu orang melempar kaleng minuman dan menginjaknya. “Berani, lo?” tantang orang itu dengan nada suara tinggi.
Aku maju mendekati mereka. Busyet, gede-gede juga badan bapak tiga ini. Nggak kelawan kayaknya, gue. Untung tadi udah laporan dulu sama satpam takut gue diapa-apain.
“Bilang sama bos lu jangan jadi pengecut! Hadapi gue langsung kalo berani!” jawabku sambil menunjuk-nunjuk si bapak kekar.
“Nyolot juga ni bocah kemaren sore!”

“Kemaren sore gua udah 23 tahun, bukan bocah! Bilang ya ke bos elo itu! Nama gue Muhammad Rafi Alfiqri!”
Si bapak kekar betiga mulai ngasah tinju. Sementara aku ... noleh donk, ke belakang, ngasi kode ke satpam. Begitu si bapak tiga maju, gua juga maju. Pak satpam ikut maju bawa pentungan sambil niup peluit!
“Jangan bikin keributan di sini!” teriak pak satpam.
“Iya, nih, beli kagak, nyari ribut iya, sama sekali nggak nguntungin ada di sini!” sambungku. Ketiga orang itu dengan terpaksa angkat kaki dari sini sambil melotot. Beberapa menit berlalu sampai ketiganya menghilang dibalik tikungan, aku minta temani si pak satpam mengambil motorku.
Setelah itu, aku menemui Hanna. Ia masih menunggu dengan hidangan yang telah memenuhi meja.

“Kok lama?” tanyanya.
“Macet, banyak lampu merah, Nya” jawabku.
Hanna tertawa. “Mana ada? Yuk makan!” ajaknya.
Aku mengangguk dan duduk di hadapan si nyonya.

***

Kini kami berdua sudah di atas motor lagi. Membelah jalanan menuju rumah papa Hanna. Ya, si nyonya memintaku mengantarnya ke rumah sang ayah karena satu koper baju yang belum dibawa. Setelah pulang dari rumah sakit waktu itu, seminggu Hanna menginap di rumah mamanya, lalu bergantian seminggu di rumah sang papa.

Kami tiba di sebuah rumah berpagar tinggi. Hanna membukakan pintu pagarnya, lalu aku memarkirkan motorku. Bersamaan kami menuju pintu rumah yang terbuka.
Di luar dugaan dan tak pernah terpikir sebelumnya, seorang lelaki yang kemarin bertemu denganku dan menunjukkan keangkuhannya sedang berbicara dengan papa Hanna. Itu dia Daniel. Apa yang dilakukannya di sini? Wajahku yang baru saja mengukir senyum pada papa Hanna seketika berubah saat melihat Daniel.

Aku masuk dan menyalami keduanya. Hanna tampak cipika cipiki dengan sang papa sebelum akhirnya berjalan masuk.
Terlihat papa Hanna menyusulnya, lalu mereka tampak berbincang-bincang di depan pintu sebuah ruangan, cukup jauh dari tempatku berdiri, rumah ini memang sangat luas. Sementara itu, perhatianku teralihkan pada laki-laki yang tengah berdiri di hadapan.

“Kamu masih bernyali rupanya?” Daniel menyapa dengan angkuh.
“Pastinya, yang nggak punya nyali itu cuma penguntit, apalagi nyuruh anak buahnya!”
“Saya bisa nekat kalau kamu masih berkeras!”
“Saya tunggu kenekatan kamu!”

“Hhh ... seharusnya kamu tau posisi kamu, kamu cuma dibayar, kan? Untuk apa bertahan dengan risiko babak belur?”
“Babak belur? Kamu sedang mengancam? Sayangnya saya nggak takut. Saya menyukai Hanna tanpa dibayar. Terus kenapa?”
“Kamu akan lihat nanti akibatnya kalau abai dengan ancaman saya!”

“Hhh!” Aku berdecih sambil membuang muka, lalu menatap tajam ke arahnya.
Perdebatan kami terhenti saat papa Hanna berjalan ke arah kami dengan langkah gontai. “Hanna malam ini akan di sini dulu, takut kesehatannya memburuk,” kata papa Hanna dengan wajah datar.
Memburuk apanya? Hanna sehat-sehat saja, kok. Itu pasti cuma alasan. Aku curiga si Daniel kuda nil ini yang telah meracuni pikiran papa Hanna. Mau minta penjelasan sekarang, sepertinya bukan waktu yang tepat. Apalagi melihat Hanna berdiri di sudut sana tanpa ekspresi, membuatku berpikir sedang ada yang tidak beres.

Seandainya, satu kali saja Hanna berkata: ‘Bawa aku pergi dari sini!’ Aku pasti akan melakukannya. Toh papanya juga bukan contoh yang baik dalam berumah tangga. Tapi, Hanna hanya diam, dengan sorot mata tajam seperti menyimpan amarah. Aku menghargainya. Mungkin, apa yang aku rasakan sekarang ini hanyalah emosi sesaat. Ini terlalu dini untuk meninggalkan kesan buruk di mata papanya.
“Kalau gitu, saya pamit dulu, Om!”
“Ya, ya,” kata papa Hanna sambil mengangguk.
Aku mengabaikan Daniel dan berlalu dari sana. Sekali lagi menoleh pada Hanna dan kulihat matanya memerah. Sungguh, aku ingin sekali ke sana, tapi bagai ada tembok penghalang yang sangat tebal menghalangi.
Akhirnya berat langkahku pergi. Dengan perasaan hampa memacu motor menuju kost-an.

***

Hari sudah hampir gelap saat aku tiba. Di teras, ternyata ada Radit yang sedang menungguku. Ah, pas sekali, ada teman untuk berbagi. Mungkin aku akan mengajaknya makan malam atau sekedar minum kopi di luar.
Kangen rasanya sama sohib yang satu ini.
“Udah lama, Cuy?” Aku merentangkan tangan hendak memeluknya.

Tapi wajah Radit terlihat berbeda, ia seperti sedang menahan amarah. “Lama banget, brengsek!”
Radit menarik kerah bajuku dan mendorong tubuhku sampai terpojok di dinding.
“Dit?” Aku heran, dan pasrah saja tanpa perlawanan.
“Lo apain Dila?”
Jadi ini tentang Dila?
“Jawab!”
Apa yang harus kujawab?
Bug!

Radit meninju wajahku sampai aku terjatuh ke lantai.
‘Radit ... gua nggak mau berantem sama elo, Dit! Terserah mau lo apain gue ...,’ bisikku dalam hati. Aku tertelungkup di lantai yang dingin. Entah kenapa rasanya ini nyaman sekali. Aku ... enggan bangun, apalagi saat sesuatu yang asin menetes dari dalam mulutku. Biarlah ... aku lelah.
Bersambung.
Novel Lelaki Es masih bisa dipesan, ya ๐Ÿ˜


-----


KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 10

“Bangun, lo!” teriak Radit.
Aku mencoba bangun, menopang tubuh yang terasa berat, sambil menghapus sesuatu yang menetes di ujung bibir. Sial, tenaga Radit gede juga, dia benar-benar sedang tersulut emosi! Seberharga itukah Dila di matanya? Atau ... Dila mengatakan sesuatu yang berlebihan?

“Itu pantes kok buat cowok tukang PHP!” teriak Radit. “Dan pantes buat ngebayar air matanya Dila!”
Aku menyandarkan tubuh di dinding, bukan tidak mampu melawan. Tapi untuk apa berkelahi? Untuk apa ribut? Tidak ada sesuatu yang ingin kupertahankan? Apalagi memperebutkan. Dan satu lagi, aku bingung, salahku di mana? Makanya, kalau aku meladeni Radit, urusan bisa makin panjang. Lebih baik diam. Nanti saja bicara pada saat yang tepat. Saat emosi radit sudah reda.
“Lo apain Dila?!”

“Nggak gue apa-apain, Dit!”
Sekali lagi dia menarik kerah bajuku. Aku memalingkan wajah saat tinjunya siap menghantam sekali lagi.
Bugh!
Aku kembali mencium lantai, seandainya Radit tahu apa yang terjadi, mungkin hatinya akan lebih sakit dari pukulan yang kuterima.

“Ngomong, lo!”
Radit menunduk, lalu menarik tubuhku kasar dan menghadapkan tepat di depan wajahnya. Diguncang-guncangnya tubuhku beberapa kali. “Brengsek!” katanya.

Aku bergeming. Beberapa detik kemudian, langkah kaki beberapa teman kost menghentikan niat Radit. Mereka menarik paksa tubuh pemuda keriting itu agar menjauh dariku.
“Udah, Mas, udah!” Terdengar teriakan seseorang. Teman-teman kost-an membuka kamar dan memapahku masuk. Sementara Radit sepertinya langsung pergi diusir sama mereka. Tidak lama kemudian adzan magrib berkumandang.

“Kotak P3K di mana, A’?” tanya seorang teman.
Aku menunjuk ke arah dinding. Seseorang mengambil alkohol dan mengolesi wajahku. Lalu memberinya obat.

“Kita ke musala dulu, A’,” pamit teman-teman yang rata-rata adik tingkat itu.
Aku mengangguk. Lalu beranjak ke kamar mandi, setelah itu salat di rumah, kemudian langsung merebahkan diri di kasur. Menarik napas dalam dan mengembuskannya kasar. Memandangi langit-langit kamar yang seolah menampilkan gambar berbagai peristiwa hari ini. Harusnya aku minum obat tidur saja biar cepat lupa semuanya.

***

Pagi-pagi di kampus, tidak kudapati Dila dan Radit seperti biasa. Hanya ada Fahri yang duduk di tempat kami sering menunggu dosen. Aku segera mendekatinya dan menyapa.

“Assalamualaikum.”
Fahri menjawab salamku sambil berdiri dan melebarkan kedua tangannya. Ini yang menjadi ciri khas Fahri, hangat. Walau hampir setiap bertemu ia melakukan hal sama. Tapi kali ini rasanya beda. Aku memeluknya agak lama.

“Kenapa tuh muka?” Fahri mengurai rangkulan, membiarkanku duduk.
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Radit sama Dila nggak masuk, apa?” tanyaku.
“Kabarnya Dila masuk rumah sakit,” jawab Fahri.

Aku terdiam sejenak. “Sakit apa?”
Mungkinkah patah hati bisa berimbas kepada sakit kepala, sakit maag atau sakit typus? Atau memang ada rumah sakit yang khusus merawat hati yang patah?
Fahri menggeleng. “Belum tau, nanti kita jenguk.”
Aku mengangguk, lalu kembali membisu sambil memikirkan berbagai kemungkinan kenapa Dila sampai masuk rumah sakit. Apa Dila mau bunuh diri? Ah ... mana mungkin.

“Ada apa?” tanya Fahri seperti tahu isi kepalaku.
Mulanya ragu, selama ini aku termasuk orang yang bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Lagi pula, belum ada masalah yang benar-benar berat kuhadapi. Tapi kali ini, jujur, aku merasa bingung. Akhirnya ... kuceritakan semua yang terjadi. Tentang Dila yang menyatakan perasaannya, dan Radit yang marah padaku kemarin.
“Hmm ....” Fahri manggut-manggut tanda mengerti. “Jelasin aja apa adanya ke Radit.”
“Gua juga mikirnya, gitu, sih.”

“Aku yakin Radit marah bukan karena benci. Kita nggak tau gimana perasaan dia yang sebenarnya, dan apa yang Dila bilang ke dia.”
Aku mengangguk setuju.
“Oh, ya, aku juga ada kabar baik.”
“Ya?”

“InsyaAllah dalam waktu dekat aku mau nikah, Fi,” ucap Fahri dengan senyum mengembang, penuh ketenangan. Raut wajahnya bersinar dan tidak sedikit pun menyiratkan bahwa memilih seorang gadis untuk menikah adalah sesuatu yang memusingkan. Tidak seperti aku. Belum nikah saja urusan cinta sedemikian ruetnya. Ruet atau dibikin ruet sendiri ... entahlah.

“Wah ... selamat, ya, nggak pernah deket sama cewek, tau-tau nikah ... aja,” kataku.
Fahri tersenyum. “Itulah namanya jodoh. Dengan siapa dan kapan waktunya, semua sudah ditentukan Allah.”
“Siapa ... dan kapan waktunya?”

“Ya, kapan waktunya? Sedetik pun kita nggak bisa memajukan atau memundurkan kapan kita bertemu dengan jodoh kita. Dengan siapa? Jodoh itu sudah ditentukan bahkan saat kita belum terlahir ke dunia.”
“Berarti ... bisa saja sebelum menikah, kita mati-matian mengejar seseorang yang kita kira jodoh, tapi ternyata bukan jodoh?”
“Sangat mungkin ....”

“Tapi, kita mengejar orang itu ‘kan karena kita cinta? Sementara kita nggak bisa mengendalikan cinta itu untuk siapa? Dia tiba-tiba datang sendiri, bukan begitu? Seandainya bisa, pasti nggak akan ada orang yang patah hati.”
“Ya, itu memang benar, cinta itu anugerah. Kita nggak bisa mengatur kepada siapa kita jatuh cinta. Cintanya nggak salah, bro. Tapi gimana cara mengekspresikannya.”

Aku terdiam sejenak mencoba mencerna kata-kata Fahri.
“Terus, gimana cara mengekspresikan yang benar?” tanyaku.

“Wah, itu bahasannya panjang. Tapi yang pertama kali dilakukan, ya, menundukkan pandangan.”
Pantesan ... Fahri nggak pernah kelihatan dekat dengan cewek. Sebenernya aku juga gitu, sih. Sampai mau tamat kuliah gini, belum pernah yang namanya pacaran. Temen-temen banyak yang ngeledekin aku homo. Bukan nggak ada yang mau, malah cowok juga ada yang nembak waktu semester dua –serem. Tapi punya pacar menurutku harus rela berbagi setiap saat, setiap waktu. Berbagi waktu, tenaga, pikiran, termasuk berbagi traktiran, jajan dan pulsa. Aku belum sanggup. Anehnya waktu bertemu Hanna, jangankan traktiran, pulsa, tenaga, bahkan hidup aku dikasihkan ke dia selamanya pun sanggup, dan tanpa dibayar sebagai kekasih bayaran sekali pun ... cie ilah kalo lagi waras ngomongnya gini ... coba kalau udah ngeliat lembar merah-merah ....

Terus kalau soal menundukkan pandangan, jujur, mata ini belum bisa, dia masih jarang ngedip kalo ngeliat yang bening-bening. Apa lagi kalo jalan di mall. Cewek-cewek kayaknya emang sengaja minta diliatin. Baju panjang menutup dada, eh ... bawahannya jeans yang ukurannya cuma dua milimeter lebih panjang dari sempak. Ada yang bawahannya rapi, tapi atasannya mini ngeliatin ketek. Ada yang atasan sama bawahan rapi, tapi ... transparan! Astaga ... ‘kan sayang kalo nggak diliat? Orang ceweknya sengaja ngeliatinnya ....

Nengok ke sini ada satu yang bening. Pengen menundukkan pandangan, nengok ke tempat lain, malah ada lima yang menggoda iman. Mau nggak ke mall, kadang pengen juga ....
“Semuanya butuh proses, Fi. Sekarang kamu udah solat lima waktu di masjid itu udah hidayah. Yang lain-lain nanti nyusul, belajar pelan-pelan.” Suara Fahri memecah lamunan. Ia tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku. Sahabat yang nggak pernah nge-judge. Lebih banyak nyontohin dari pada nasehatin.

‘Gue beruntung, punya elo, Bro!’

***

“Sakit apa, Dil?” tanyaku di samping ranjang rawatnya. Ada Santi yang menemani Dila di sana. Radit dan Fahri sedang duduk di luar.
“Darah rendah, Fi. Kemaren pingsan di kost-an.”

Aku manggut-manggut seolah mengerti. Mungkin ini yang dimaksud dengan PMS. “Aku beliin sate kambing, ya!”
Dila menggeleng. “Nggak napsu makan ....”
“Napsunya apa, donk?”

Dila menggeleng dan tampak menyeka ujung matanya. Untuk menerka itu air mata, keburu ditutupi sama rambutnya.
“Jangan sedih, donk, Dil,” hiburku. Habisnya bingung mau ngomong apa?
“Iya ... aku cuma butuh waktu,” jawabnya masih sambil menunduk tak mau melihatku.
“Iya,” kataku singkat.
Detik selanjutnya kami lebih banyak diam. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pamit.

***

Aku menyusul Fahri dan Radit di kantin. Keduanya tampak sedang menikmati minuman. Aku menarik kursi dan ikut memesan kopi.
“Sorry, Bro, kemaren gua emosi banget, barusan Fahri udah ceritain semuanya,” ujar Radit.
“It’s oke, gua ngerti, kok,” jawabku sambil mengusap-usap bekas lecet di wajah. “Tapi untuk ini gua minta kompensasi.”

“Apaan tuh?” tanya Radit.
“Makan gratis di rumah lo selama sebulan!”
Radit tertawa sesaat, lalu wajahnya berubah murung lagi. “Pas gue bawa Dila ke rumah sakit sama temen-temen kost-nya, nggak sengaja gue nemuin ini,” lanjutnya.

Sebuah foto yang tampak lecek akibat diremas. Aku dan Fahri memperhatikannya. Sesaat, kami berpandangan. Tak sepatah kata mampu kuucapkan.

Itu fotoku, Dila, dan keponakan yang kami gendong waktu di kampung, di acara pernikahan kakak. Aku tidak menyangka foto itu dicetak Dila dan disimpannya entah di mana.
“Makanya gua langsung nemuin elo, Fi. Mana si Dila pas sadar kerjaannya cuma nangis aja kagak berenti-berenti. Ditanya kenapa jawabnya cuma ‘Rafi’ ... ‘Rafi’ ... udah kayak ditinggal ke alam baka ama elu!”

“Astagfirullahaladzim ...,” ujar Fahri mengelus dada dia sendiri.
“Sumpah, aja, gue sempet panik! Emang elo ngapain dia? Apa ngehamilin terus kabur nggak tanggung jawab!”

“Sialan, lo!” gerutuku.
“Fi,” panggil Radit.
“Hmmm ...,” sahutku sambil menyeruput kopi.
“Gue jujur, nih, ya, kalo alasan lo mengabaikan Dila karena gue ... jangan sampai deh, gue ikhlasin elo sama dia, asal Dila bahagia. Beneran!”

Aku tercenung mendengar ucapan Radit. Mungkin ini yang dirasakan Rizal Armada waktu menciptakan lagu Asal Kau Bahagia? Saking cintanya Radit sama si Kudil ... ampe segitunya, ya? Ckckck ... salut.
Aku menggeleng cepat. “Nggak, Dit, gua nggak ada perasaan apa-apa sama Dila. Selama ini murni nganggep dia temen.”

“Siapa itu murni? Kenapa si murni dibawa-bawa?”
“Maksudnya ‘pure’ ... gitu, elah ....” Aku menoyor kepala Radit. Si keriting tampak mesam mesem mungkin dalam hatinya berpikir masih punya kesempatan buat memperjuangkan si Kudil. Ya, silakan, sah-sah aja, kok.

Fahri tersenyum memandangi keusilanku dan Radit yang sudah kembali seperti semula. Aku pun dalam hati begitu, melihat kedua sahabatku ini dengan perasaan lega. Dua orang yang mengajarkanku tentang cinta, dengan cara yang berbeda.

***

Hari-hariku selanjutnya hanya berteman sepi tanpa si Nyonya. Jangankan ngeliat senyumnya, pesan pun tak ada. Padahal tinggal beberapa hari lagi kontrak kerjaku berakhir.
‘Jadi lo pengen ketemu Hanna buat dapetin gaji lo, Fi?’ bisik hati kecilku.
‘Ya, enggak, lah, pengen ketemu aja, kalo bisa walau nggak terikat kontrak kerja sama dia, minimal bisa tetep temenan, gitu,’ jawab si hati kecil yang lain.

‘Nggak mungkin bisa temenan, deh, Fi. Orang papanya aja kayak nggak suka gitu ... kalo Daniel, sih, bisa diabaikan, tapi kalau orang tuanya?’
Agh ... aku mengacak-acak rambut. ‘Kayak gini amat nasib gue ....’

Kupacu motor menuju entah ke mana. Menyusuri jalanan yang tampak kering karena kemarau, sama keringnya dengan hatiku. Kalau ada alat kedokteran yang bisa motret itu hati di dalam dada, pasti udah retak-retak deh bentuknya .... Ck, lebay.

Tidak terasa sampai juga ke apartemen Hanna. Mau naik, tapi rasanya ragu. Sudah beberapa hari dia tidak menghubungiku. Entah dia ada di sini atau tidak. Kalau di kampung, lewat depan rumah cewek yang disuka, walau orangnya nggak keliatan tapi liat bajunya di jemuran aja udah seneng. Nah, ini ... di mana jemurannya si Hanna?

Masa mau tanya ke pak Satpam? Pak ... Pak, jemuran di sebelah mana? Udah nyampe sana ntar nanya lagi ke tukang loundry, Mba ... Mba ... bajunya Hanna yang mana? Kan ribet ....
Kutinggalkan apartemennya, motorku melaju sendiri ke jalanan rumah papa Hanna. Aneh motor ini bisa jalan sendiri jangan-jangan sodaraan sama Bumble Bee?

Tiba di rumah papa Hanna, sama, nggak bisa juga liat jemuran ... pagar rumahnya tinggi beud, dah. Elah kenapa jadi bahas jemuran, sih? Saking kangennya, gua ketemu sama bibinya aja nggak apa-apa, deh! Ntar kan bisa nitip salam.

Hhh ... aku jalan lagi ... dan seluruh kota tiba-tiba dipenuhi dengan Hanna, senyum Hanna, tawa Hanna, suara Hanna. Ah ... apa aku pulang kampung saja? Tapi kenangan tentang Hanna malah lebih banyak lagi ....

Akhirnya aku pulang ke kost-an. Main basket sendirian di lapangan. Gawat, tiba-tiba Hanna datang dan merebut bola dariku sambil tertawa. Bola basket laknat, emang. Kutendang si bulat itu jauh-jauh terus masuk kamar dan mencoba tidur.

Hampir satu minggu Hanna tak bisa dihubungi. Aku menyibukkan diri di kampus. Mempersiapkan skripsi, sambil ikut proyek dosen, lumayan bisa buat bayar SPP. Abah juga sempat kirim uang kemarin. Alhamdulilah, ada aja rezeki.

Tinggal dua hari genap dua bulan aku bekerja dengan Hanna. Apa dia nggak akan muncul sampai hari terakhir perjanjian kami? Rasanya lelah sekali memikirkannya. Sore ini aku pulang dengan lesu. Sepertinya sudah tak punya energi untuk sekedar tertawa.

Di jalan, waktu di mobil Radit, ponselku bergetar. Jantungku langsung berdebar membuka pesan. Dari Hanna.
‘Fi, untuk pembayaran gaji terakhir, aku transfer aja, ya,’ isi pesan Hanna.
Kirain si nyonya mau bilang apa? Aku langsung lemes baca pesannya. Berhari-hari aku menunggu, hanya ini kata-kata darinya.

Mengabaikan malu, kutelepon dirinya, mumpung hp-nya aktif.
“Ya, Fi?” suaranya itu ... aku, sangat rindu.
“Han ....”
“Hmm ....”
“Kamu tau nggak rasanya luka kena sabetan piso, terus lukanya dikasih garem sama cuka?”
“Iih ... sakit banget pasti,” katanya.

“Rasanya sama kayak kangen sama orang, tapi nggak bisa ketemu.”
Hening ....
“Kamu di mana?” tanya Hanna.
“Di jalan, mau pulang.”
Klik, telepon di putus. Pen nangis, gue! Abah ....

***

Sampai di rumah, Radit nggak langsung pulang, doi nemenin gue main basket, bedua aja, kami rebutan bola. Tiba-tiba itu bayangan si nyonya datang lagi kayak kemaren. Apa gara-gara barusan denger suaranya ya? Jadi kebayang-bayang. Ah, rese!
Kulempar sekuat tenaga bola ke arah bayangan itu, biar kabur dia! Capek gua diikutin terus kemana-mana! Tiba-tiba Radit nangkep tuh bola sambil teriak!
“Woy! Liat-liat, cuy! Bisa benjol pala anak gadis orang!”

Anak gadis siapa? Aku mengucek-ngucek mata.
Gadis kuncir kuda dengan jeans dan sweater putih tersenyum mendekatiku.
Sejenak kami membisu, seolah hanya ada kami berdua, si Radit cuma penampakan.

“Tampar saya, Nya!” kataku terpana.
“Emang kenapa?” Hanna tertawa kecil sambil menunduk.
“Takut cuma mimpi.”
“Nggak, kok, ini nyata!”
Ah ... hati retak-retakku kembali menyatu dialiri air ....

“Kenapa Nyonya ke sini? Ngerasain luka kena cuka, juga?”
Dia ngangguk, bro! Gua bahagia!
“Radit ...!” Kukejar si keriting itu sampai dapat dan kupeluk dia, walau meronta-ronta!
Kok Radit yang dipeluk, sih? Mau meluk Nyonya belum boleh .... Aih ....

Bersambung.