Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Senin, 23 Desember 2019

Kekasih Bayaran 1- 5

KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 1


“Gila, masa usernya tante-tante semua, bro?” Kutatap layar laptop dengan perasaan sedikit mulas. Langsung membayangkan seandainya aku jadi berondong salah satu dari mereka.
“Katanya mau cari kerja yang cepet dapet duit banyak? Ini enak nggak pake skill, modal ngebucin aja sama antimo.” kilah Radit.
“Kok antimo?”
“Ya, kali aja abis ngebucin, elo mual-mual, hahaha!”
“Sialan, lo!” Aku sedikit bergidik membayangkannya.

“Udah, pilih aja salah satu tante-tante itu, itu satu-satunya cara buat nyari duit dalam tempo sesingkat-singkatnya!”
“Ya ... nggak kayak gini juga, kalik?”
“Lu pikir yang mau nyewa “Kekasih Bayaran” tuh cewek-cewek muda yang bening, gitu? Sadar bro! Mereka nggak ngeluarin duit juga yang mau gratisan, banyak! Malah si cewek yang dibayarin!”
Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Bener juga si Radit.
“Nggak ada yang nyelip satu gitu, yang mudaan dikit?” Aku melirik Radit yang sedang asyik menyesap kopinya sambil melirik gadis-gadis di mall ini.
Pemuda keriting itu hanya tertawa. “Setiap kerjaan punya risiko, bro! Kalau mau main aman kenapa nggak ikut Fahri aja dagang?”

“Gua butuh dana cepet soalnya!” Kembali terbayang biaya kontrakan dan kuliah yang mendekati dead line. Belum lagi beli alat-alat praktikum. Abah di kampung lagi sibuk menyiapkan dana buat pernikahan kakak perempuanku. Aku harus mandiri.
Mulanya aku senang sekali dengan ide Radit menjadi seorang kekasih bayaran kupikir pekerjaan yang mudah dan dapat menghasilkan uang dengan cepat. Tapi saat melihat kenyataan siapa saja yang bakal menyewa jasaku. Aku terpaksa berpikir tujuh kali luas lapangan bola untuk mengambil pekerjaan ini.

“Gue ke atas bentar, sekalian ngambil mobil lu deh!” ujarku dengan pikiran buntu.
“Cepet amat udah mau pulang?” tanya Radit sambil menyerahkan kunci mobilnya.
“Pusing gua, laper juga nongkrong di sini Cuma minum kopi aja!” jawabku sambil ingat sambal ikan simba di kosan.
Biasalah bagi kami mall Cuma buat pencitraan saja. Apalagi Radit. Habis foto dan upload ke medsos, dia bakal pulang ke rumah makan sambal teri sama tumis genjer emaknya. Kadang aku juga makan di sana. Mobil? Itu belalang tempur yang sama umurnya dengan usia Radit. Warisa satu-satunya dari sang ayah.

Aku naik ke rooftop dengan perasaan campur aduk. Pusing, sedikit hampa memandang ke depan.
Sapuan angin menentramkan perasaan yang gelisah. Pemandangan langit biru berawan membuatku sejenak berpikir bahwa harapan itu ada, seluas cakrawala ini. Kuhirup udara dalam-dalam, kedua tangan masuk ke saku celana. Kini jarak antara aku dan pinggir gedung ini hanya sejengkal. Di bawah sana kendaraan menyemut di jalanan.
Setelah rasa gelisah perlahan bisa netral, aku membalikkan badan. Tidak ada gunanya berlama-lama di sini. Aku harus mencari alternatif lain secepatnya.

Tunggu. Aku menangkap pemandangan indah di salah satu sisi rooftop ini. Di tempat yang agak meninggi. Sesosok gadis berdiri di pinggir gedung, dengan dress berwarna gelap sedang menatap ke bawah. Rambutnya diikat satu dan terlihat ikal. Bergoyang ditiup angin. Kedua tangannya memegang besi penyangga pinggir gedung. Gelagatnya sungguh aneh.
Jiwa kepatriotan hasil rajin mengikuti upacara bendera setiap hari Senin selama bersekolah, membuatku berlari mendekati sang gadis. Semakin menunduk gadis itu menatap jalanan yang ada di bawah, semakin cepat langkah kakiku. Aku harus selamatkan dia dari niat buruk. Hatinya pasti sudah dikuasai setan sampai-sampai mau bunuh diri seperti itu.

“Berhenti, Mbak!” teriakku sambil menarik tangannya tepat saat satu kakinya melangkah maju satu jengkal.
Tampaknya si Mbak terkejut, menoleh, dan hilang keseimbangan. Tubuhku yang tidak berdiri dengan posisi mantap, ikut limbung tak kuat menahan si gadis. Kami sukses jatuh dengan posisi dia tepat berada di atasku.

Mata si gadis terbelalak saat menatapku. Tepat saat itu ada suara ya g berteriak di dekat kami.
“Hanna! Elo?”
Gadis di atasku segera bangkit dan merapikan pakaiannya, tergagap di hadapan beberapa gadis lainnya.
“Ini ... anu ... e ....” Ia juga terbata.
Aku buru-buru berdiri.
“Kita tungguin lo di bawah, nggak taunya malah mesra-mesraan di tempat sepi begini,” kata salah satu dari mereka.

“Jadi ini pacar baru yang elo tungguin dari tadi? Kirain elo bohong” sambung cewek berbaju biru.
“Akhirnya elo bisa juga ya punya cowok singel kayak yang lo ceritain."
Aku mencoba mencerna kalimat-kalimat mereka. Si Hanna, bilang sama temen-temnnya kalau dia lagi nunggu cowok. Nah, yang belum jelas, beneran ada nggak, cowoknya ini, atau dia bohong, makanya menyendiri di rooftop.
"Kenalin, gue Syifa, temennya Hanna, “ ujarnya menyalamiku.
“Rafi.”
“Dona.”
“Rafi.”
“Cici.”
“Rafi.”
Satu per satu para cewek ini memperkenalkan diri tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi? Sementara si gadis yang mau bunuh diri juga hanya berdiri di sana dengan mulut menganga.

“Kita tungguin di bawah, ya!” teriak Dona sambil berbalik badan dan melambaikan tangan.
Aku hendak memanggilnya tapi satu cewek yang mereka panggil Hanna tadi cepat berdiri di depanku sambil ... melotot! Astaga! Pasti dia marah sebab telah menggagalkan niat bunuh dirinya tadi.
Ya Allah, dia nggak tau apa kalau itu sungguh perbuatan yang tercela?
“Kalau ada masalah sebaiknya bicarakan baik-baik, Mbak, apalagi punya banyak teman seperti tadi, harusnya Mbak bisa curhat sama mereka, bukan memendam masalah sendiri dan memilih untuk mengakhiri hidup ...,” kataku.
“Hei, Rangginang gosong.”
“Rafi, Mbak.”
“Iya, Rafi, Rafa, Rara atau siapa pun Anda ... jangan suka sok tahu urusan pribadi orang, ya!”
“Mengingatkan dalam kebaikan itu tugas kita sebagai manusia, Mbak, siapa pun harus mencegah seseorang yang mau bunuh diri seperti Mbak tadi ....”
“Yang mau bunuh diri itu, siapaaaa? Malih Tong Tong?” Ia menangkupkan tangan ke kening lalu betbalik 180 derajat.

“Jadi?”
“Jadi jangan sok tau, deh! Aku itu lagi pengen sendiri aja di sini, nggak mau bunuh diri, paham?” Ia kembali menatapku.
“Kenapa kamu pengen sendiri saat teman-teman kamu sedang menunggu di bawah?”
“Ya iyalah, aku pengen sendiri, mereka lagi nungguin cowoknya, lah aku nungguin siapa?”
Aku tercenung beberapa saat. Otakku langsung berpikir cepat. Aku harus mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Kalau begitu, Mbak bertemu orang yang tepat.”
“Maksud kamu?”

“Perkenalkan, saya Rafi, mahasiswa semester akhir, sekaligus ... seorang kekasih bayaran!” Mantap aku mengulurkan tangan dan memasang tampang ganteng maksimal yang kupunya.
Sejenak Hanna menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Saat sepasang kejora indah bulat sempurna itu tepat menatap mataku. Aku tersenyum dengan sedikit dibuat-buat agar terlihat manis.
Yeah ... usaha gitu, loh. Seenggaknya walaupun cewek ini galak, dia bukan tante-tante seperti user di situs kekasih bayaran tadi. Entah dia jomlo atau sedang berantem sama pacar. Yang jelas dari kata-katanya barusan, dia sedang sendiri.

“Aku bisa jadi pacar Mbak dengan bayaran yang sesuai ... apalagi teman-teman mbak sepertinya menyangka seperti itu,” kataku sambil menyugar rambut sok ganteng, lalu menyelipkan tangan di saku jeansku.
Hanna diam sebentar.
“Gini deh, namanya kerja itu kan ada masa percobaan, kan? Nah, aku bakal bayar kamu kalau akting kamu sukses sore ini di depan temen-temen aku tadi.”
“Ashiap, Nona,” jawabku sambil menyampirkan siku ke penyangga besi sambil tersenyum beberapa detik sebelum sikuku terpeleset dan terpaksa aku berhenti senyum.
“Kalau sukses, aku akan bikin kontrak sama kamu. Tapi identitas harus lengkap!”
“Siap!”
“Oke! Folow me!”
“I follow you ....” Aku berjalan di belakangnya.

***

Namanya juga magang, biar keterima, ya harus lebay-lebay dikit lah. Hanna mau minum, aku pesenin, mau makan aku ambilin, dia nyobain sepatu, aku pakein, dia ke toilet ... aku ... ya nunggu di luar lah. Sampai temen-temennya dijemput sama para pacar mereka. Kami akhirnya mengakhiri sandiwara ini.

Kami duduk berhadap-hadapan di sebuah cafe. Sambil memesan minuman, Hanna meminta kertas dan pulpen pada pramusaji.
“Oke, dengan melihat hasil kerja kamu ... aku mutusin buat memperpanjang kontrak kerja kita,” kata Hanna. “Ini kertas buat kamu, tulis syarat-syaratnya, ini kertas aku, aku bakal tulis syarat-syaratnya,” lanjutnya.

“Aku ikut aja,” kataku sambil menyesap jus pesanan Hanna. Lalu, menunggu gadis itu menulis.
Sesuai permintaan, aku keluarkan KTP, SIM, kartu mahasiswa. Menyusul KK yang Hanna minta dan kebetulan ketinggalan di kontrakan.
Hanna menyerahkan secarik kertas berisi delapan poin yang akan kami sepakati. Umum, sih isinya. Nganter jemput, ngerjain tugas. Nemenin belanja, pergi ke pesta. Anter-anter barang dia. Full kerja sesuuai panggilan dia. Ya, beda-beda dikit sama asisten rumah tangga. Haha, nasib. Intinya Hanna menyewaku dua bulan, dengan total bayaran sepuluh juta. Lima juta di awal. Wow, aku langsung setuju lah.

“Baca syarat-syaratnya, jangan duitnya doang!” kata Hanna. “No kontak fisik!”
“Siap ... eh, kalau kamu yang pegang-pegang aku gimana?”
“Ih ....” Hanna mencebik.
“Ya, siapa tau?” jawabku tak bisa menahan tawa.
“Aku yang bayar, dua ratus ribu sekali sentuh!”
Aku tertawa, rezeki nomplok.

“Tapi kalau sampai ketahuan di depan orang-orang yang aku pengen mereka tau kita pacaran, kontrak batal dan kamu dipecat tanpa pesangon!”
“Oke! Nggak masalah! Ada lagi?”
“Nggak pake perasaan, kalau sampai pakai rasa, perjanjian batal!” katanya memasang wajah jutek.
Wah, songong betul cewek ini kayal dia yang paling cantik aja padahal iya. Haha.
“Oke!”
Kami menempelkan materai dan menandatangani surat itu. Membuatnya dua rangkap, masing-masing untuk disimpan di tempat rahasia. Hmm ....

“Tugas selanjutnya ....”
“Siap, Bos.”
“Temani aku ke pesta ulang tahun mantan ... hmm bukan mantan sih, sebenarnya, kami nggak ada kata-kata putus, tiba-tiba ada kesalahpahaman dan kami hilang kontak begitu saja.”
Aku manggut-manggut. Sepakat kalau gadis seperti ini nggak mungkin dianggurin.
“Tapi kamu harus ke salon dulu dan tentang kostum, biar aku pilihkan. Besok temui aku di alamat ini. Kamu bisa bawa mobil?”
Aku mengangguk.

“Oke. Kita awali kerja sama kita.” Hanna mengulurkan tangan, aku menyambutnya mantap, sebelum akhirnya berpisah.
Ponsel di saku celana tiba-tiba bergetar. Astaga Radit!
“Lo di mana, bro? Ngambil mobilnya ke kutub?”
“Oke, oke, ntar gua jelasin, tuggu aja di depan, oke!”

-----

KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 2

Aku duduk di kursi besi koridor kampus saat Radit tiba dan menyapa.
“Tumben nggak nebeng gue?” Si keriting ikut duduk di sebelahku.
“Gue mau pulang duluan, entar, ada kerjaan.”
Radit menepuk pundakku, dengan tatapan menjijikkan, dia berkata.
“Akhirnya lo udah mutusin, bro?” Kini matanya sedikit berbeling-beling, sebab jika dikatakan berkaca-kaca itu terlalu indah untuk ukuran Radit. Hah, sorry. “Lo harus kuat, bro. Walau ini sebuah kenyataan pahit, lo tetep harus jalani.”

Dahiku mengernyit sambil menyibak tangannya di bahuku yang mungkin menurut Radit adalah ungkapan empati yang tulus. Tapi bagiku, sedikit meng-eneg-kan.
Pemuda yang tingginya sebatas telingaku ini menarik napas panjang. Wajahnya seperti sedang sangat iba.

Sekali lagi, dia menepuk bahuku sok dewasa. “Sabar, ya, ini nggak akan lama, setelah kontrak selesai, lo bisa dapat uang dan lari sejauh-jauhnya dari si tante ini.”
Aku tergelak. Namun, beberapa detik kemudian, wajahku berubah serius, menatapnya. Menangkupkan kedua telapak tangan di wajah Radit yang sedikit berjerawat.
“Nggak, bro, gue akan serius di kerjaan ini, setelah sukses meraup keuntungan dari tante ini, gua akan beralih ke tante-tante yang lain!” ujarku mantap menatapnya.

“Serius, bro?” Radit terbelalak, suaranya meninggi.
Tepat saat itu kutoyor jidatnya dan mengubah raut wajah seriusku dengan santai seperti biasa. “Lo kira gue cowok apaan?” jawabku membuang pandangan ke rerumputan.
“Jadi maksud lo ada kerjaan, kerjaan apa, bro?”
“Nanti deh gua ceritain.”

“Assalamualaikum.” Sebuah suara menyapa kami, itu Fahri, pemuda hitam manis dengan janggut tipis dan kacamata minimalis yang selalu tersenyum manis.
Entah kenapa jika teman kami yang satu ini menyapa bagai ada aura hangat yang melingkupi. Membuat aku dan Radit refleks berdiri menyambutnya berpelukan dan menjawab salam.
“Gimana, Fi, udah dapet kerjaannya?” tanya Fahri seraya duduk bersama kami.
“Udah,” jawabku sambil tersenyum masygul.

“Alhamdulilah, semoga berkah, ya, Fi.” Fahri tersenyum menepuk-nepuk pundakku. Rasanya sungguh berbeda dengan tepukan si Radit. Aku malah memikirkan dengan dalam kalimatnya. Berkah? Apakah pekerjaanku ini berkah?
“Tapi kalau suatu saat kamu berubah pikiran, kami masih sangat membutuhkan kamu, Fi,” sambung Fahri.

Aku mengangguk, ingat beberapa hari yang lalu ia menawarkanku ikut proyek penampungan sampah kering yang dipadatkan dan dipasarkan dalam bentuk yang lain.
Fahri balas dengan senyum seperti biasa. Tepat saat itu, mahasiswa lain berbondong-bondong masuk kelas. Rupanya di ujung koridor, dosen sudah berjalan menuju sini. Kami bertiga ikut dalam kerumunan itu.

***

Setelah kuliah, aku memacu skuter kesayangan ke alamat yang diberikan Hanna kemarin. Sebuah apartemen berlantai banyak, yang menurutku cukup mewah. Bersih, asri, ada kolam renangnya kalau kulihat dari sini. Perkiraanku Hanna tinggal sendiri jika ia memilih tempat ini.
Beberapa menit kemudian gadis itu turun. Hari ini dia berpakaian cukup santai, dengan jeans dan sweater lengan panjang. Tas kecil di dalam jinjingan, dan sepatu kets. Yang tak berubah, rambutnya tetap kuncir satu di atas, menjuntai dan sedikit bergelombang. Dan wajahnya nyaris tanpa riasan.
“Ayo.” Seperti biasa ia memerintah tanpa senyum. Berbalik badan dan jalan di depan. Rambutnya bergoyang-goyang.

Ugh, untung tajir, kalo engga ... pasti masuk daftar nomor satu cewek yang haris dijauhi abad ini.
Hanna berhenti di depan sebuah mobil hitam yang jika dibandingkan dengan milik Radit bagaikan langit dan bumi, di mana buminya itu di bagian comberan aliran pasar ikan.
Waktu Hanna memberikan kunci mobilnya, hatiku berdebar-debar, bagaimana jika kubawa lari saja mobil ini dan kutinggalkan Hanna. Yeah ... enggak mungkin, lah.
Aku terpana, gaes ... mobilnya sungguh aduhai, sebelum menyalakannya aku sempat mengelus beberapa bagian yang mulus dan mengkilap.

Lalu setelah beberapa detik, aku menunggu Hanna tak juga duduk di sebelah, atau di belakang. Aku sedikit terkejut melihatnya berdiri di luar. Apa aku tak menyadari sesuatu? Ya, dia Hanna, bukan Radit. Haha.
Kubuka pintu, memutari bagian depan mobil dan membukakan pintu yang satu lagi untuk Hanna. Lalu tanpa senyum gadis itu masuk dan duduk.
Baiklah, nyonya, saya akan melayani Anda.

Kami tiba di sebuah butik yang bersebelahan dengan salon. Hanna masuk dan langsung menyuruh seseorang untuk menata rambutku. Walau agak keberatan, aku turuti saja, demi sepuluh juta.
Selesai urusan rambut, Hanna mengajakku ke butik. Disuruhnya aku mencoba beberapa setel jas. Dengan wajah datar, ia memerintah.

“Nih, coba.”
Aku keluar kamar ganti.
“Puter.”
Aku memutar badan.
“Maju.”
“Mundur.”
“Ganti.”
“Puter abis.”

Pokoknya Hanna sore ini persis tukang parkir. Berhubung gadis sombong itu yang bayar, aku menurut saja. Sambil berdoa dalam hati semoga proses memilih pakaian ini segera berakhir. Secara tubuhku kan proporsional, kurasa tidak akan sulit menemukan setelan yang pas.

Setelah selesai, aku disuruh Hanna menunggu dirinya di sebuah ruangan. Banyak majalah fashion di sini, sebenarnya aku tak begitu tertarik. Tapi saat melihat di satu cover, modelnya sangat seksi. Kuambil juga majalah itu setelah lirik kanan kiri dan memastikan tidak ada yang melihatku.
Hanna lama sekali, aku sampai mengantuk. Ditambah udara dari pendingin ruangan yang seakan-akan meniup kelopak mataku.

Bodo amat ah, kalau aku ketiduran juga pasti dibangunin.
Saat itu aku bermimpi bertemu dengan bidadari cantik yang memintaku mengantarnya ke kahyangan dengan pegasus. Aku tersenyum lebar sambil menyanggupinya.
“Ayo berangkat!” Sebuah suara mengagetkanku. Kenapa bidadari suaranya cempreng sekali?
“Rafi!”
“Siap, Nya!”

“Ayo! Malah tidur lagi di sini!”
Aku berdiri sambil menunduk, mengelap sedikit liur di ujung bibirku yang seksi.
Hanna cantik, gaunnya berwarna lembut sebatas lutut dengan kerah pas di dadanya. Potongan gaun tanpa lengan yang cukup sopan. Tapi saat dia berjalan mendahului, mataku membulat melihat bagian belakang tubuhnya yang beda tipis sama kolong wewe. Terbuka dari atas sampai pinggang. Bedanya ini tidak berdarah-darah tapi mulus tanpa cela!
Aku menelan ludah. Moga-moga aja Hanna khilaf kontak fisik kali ini. Haha!

***

Kami tiba di sebuah rumah mewah bertingkat tiga dengan halaman sangat luas. Terus berjalan ke arah samping di mana sebuah kolam renang menghiasi tengah-tengah taman yang asri. Pinggirannya tersusun rapi lilin-lilin dengan ukuran besar. Di bagian yang tidak berpaving, rumput gajah kecil menyembul dengan tinggi yang sama.

Di satu sudut ada sebuah panggung kecil berhias bunga, di sebelahnya oskestra atau –entah apa namanya—tak berhenti mengalunkan musik. Meja-meja bundar yang dikelilingi kursi disusun di teras. Dominasi warna di sini putih, demikian juga lampion yang tergantung bagai terbang. Cahayanya mulai terang sebab malam mulai datang. Intinya, apik, eksklusif, dan elegan.
Tamu sudah banyak yang datang. Beberapa gadis menyapa kami. Salah satu di antaranya Dona, hanya itu yang kuingat.

Tidak lama kemudian, Hanna bergabung dengan teman-teman wanitanya.
Acara demi acara pun dimulai. Aku mendekati meja dan mengambil beberapa makanan, lalu duduk bergabung dengan tamu lain.

Sambil menikmati hidangan yang nggak akan mampu dibikin oleh emaknya Radit, aku terus mengamati Hanna. Aku dibayar untuk jadi kekasihnya, jadi harus bisa di posisi itu sekarang.
Tidak begitu beda sikapnya saat bersama denganku. Hanna tipe gadis yang jarang sekali tertawa. Lihat, saat teman-temannya membicarakan entah apa dan tergelak bersama, Hanna hanya menunduk dengan senyum tertahan. Entah apa yang ada dihatinya. Merasa sulit tersenyum mungkin. Sebab di sudut sana, seseorang yang dikatakannya mantan tetapi belum putus itu, sedang berdiri bersama wanita lain.

Beberapa cowok mendekati Hanna dan teman-temannya. Mereka berbincang-bincang, akrab, kecuali –tentu saja—Hanna. Ia lebih banyak diam, menggeser sedikit tubuhnya jika ada cowok berusaha mendekatinya. Saatnya aku beraksi.

Kudekati Hanna sambil tersenyum penuh rasa percaya diri. Memperkenalkan diri sebagai pacarnya di depan para lelaki itu. Nasib baik, Hanna merangkul tanganku. Dalam hati aku berlonjak bahagia. Dua ratus ribu. Haha!

Hanna kemudian menggenggam tanganku menjauh dari teman-temannya. Apa ini artinya empat ratus ribu? Aku jadi sibuk menghitung berapa kali ia menyentuhku. Lalu apa yang terjadi kalau aku balas menyentuhnya? Jangan-jangan honornya dipotong?
Aku nggak berani ah, balas megang-megang Hanna. Mending megang duit.
Kami berhenti saat berpapasan dengan seorang lelaki tinggi berwajah oriental. Sejenak Hanna menghentikan langkah, terpana. Yeah, aku tahu siapa lelaki ini, dia yang sedang berulang tahun.
“Apa kabar?” tanya lelaki itu pada Hanna.
“Baik.” Hanna mulai merangkul tanganku lagi. Bibirku hendak tersenyum lebar. Asiiik enam ratus ribu. Tapi langsung menyadari keadaan dan memasang tampang berwibawa di depan cowok ini.
“Rafi,” kataku mengulurkan tangan.

“Daniel,” jawab lelaki itu. Sejenak ia tertegun memasukkan tangan kiri ke kantung celana dan tangan satunya mengelus dagu. Seperti sedang berpikir.
Lalu datanglah seorang wanita tinggi bak model mendekati Daniel, tanpa senyum ia menarik lengan pemuda itu untuk mengikutinya.
“Ayo, Sayang, tamu yang lain menunggumu,” kata si wanita.
Keduanya berlalu dari hadapan kami. Hanna melirik sebentar ke arah dua sejoli itu. Lalu melepaskan rangkulannya. Ia berjalan ke arah meja dan mengambil segelas minuman berwarna bening kekuningan. Jelas itu bukan teh.

Kelihatan sekali raut wajah Hanna berubah. Ia sedang kesal, menahan amarah. Maka sebelum ditenggaknya minuman itu aku meraih tangannya, menarik gelas tinggi dari genggaman Hanna dan menggantinya dengan gelas berisi jus. Matanya seketika tajam menatapku. Ia tak suka.
“Kamu tahu apa risiko menyentuh tanganku?”
“Apa?”

“Potong gaji! Sekali aku nyentuh kamu dua ratus ribu. Sekali kamu nyentuh aku potong bonus dua ratus ribu.”
“Iya, nggak apa-apa,” jawabku santai, menyembunyikan perih di hati, meringis membayangkan dua ratus ribu yang bisa buat beli beras sepuluh kilo dan daging, raib. Atau bisa buat nraktir Radit ell’s coffee buat di upload di sosmed. Hiks!

Hanna melewatiku, berjalan dengan tatapan kosong di pinggir kolam renang. Tepat saat itu irama musik berubah ngebit. Para tamu bersorak dan mengikuti. Sebagian meninggalkan meja. Lalu bergabung dengan tamu lain di dekat panggung. Tampak yang sedang berulang tahun sedang bagi-bagi doorprize.

Suasana jadi gaduh. Orang-orang berkerumun, aku jadi kehilangan Hanna. Tersenggol orang terus mental ke mana mungkin si Hanna ini. Aku menyibak kerumunan sampai menemukan pacar pura-puraku itu terdesak beberapa orang di pinggir kolam. Saat aku belum tiba di sana, tubuh Hanna lebih dulu oleng dan tercebur ke dalam kolam.
Tanpa pikir panjang aku menceburkan diri. Entah Hanna bisa berenang atau tidak, penting untuk menyelamatkan harga dirinya saat ini. Ah Hanna, sial sekali nasibmu malam ini.
Air yang dingin membasahi seluruh tubuh dan pakaian baruku. Tak perlu waktu lama aku menangkap tubuh Hanna yang bergerak-gerak panik di air. Sempat terpikir honorku akan dipotong lagi, tapi cepat kutepis, demi menyelamatkan Hanna.

Segera kubawa ke atas permukaan tubuh Hanna. Musik telah berhenti. Semua mata tertuju pada kami –kukira. Seorang pemuda berlari dengan wajah panik ke arah kami. Itu Daniel, yah, kelihatannya dia khawatir sekali melihat keadaan Hanna yang terbatuk-batuk.
Cepat-cepat Daniel membuka jasnya dan menutupi tubuh Hanna.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Daniel dengan wajah cemas.
“Hmm ...,” jawab Hanna mengangguk.

“Masuklah dulu ke rumah, ganti pakaianmu,” tawar Daniel.
Aku menatap wajah Hanna, jika dia setuju aku akan mengantarnya, dari pada pulang dengan pakaian basah seperti ini. Tapi Hanna menggeleng dan menatapku, memegang erat kedua bahuku.
“Kita pulang aja, Fi, aku malu,” bisiknya.

Aku mengangguk. Dengan tertatih Hanna bangkit, sedikit sulit berjalan. Maka kubantu ia melepaskan sepatu high heel-nya dan memapah Hanna menuju mobil.
Hanna tak berhenti bersin, jujur aku sangat kasihan melihatnya. Kupacu mobil agar tiba dengan cepat di apartemen. Setelah sampai, aku menemaninya ke atas, dan Hanna tidak menolak.
Benar dugaanku, Hanna tinggal sendiri. Rumahnya rapi, ukurannya cukup besar untuk ditinggali seorang diri. Tanpa disuruh, aku masuk.
“Ganti baju dulu, sana,” kataku.

Sementara itu aku menyeduh teh untuknya.
Hanna keluar dengan celana pendek dan sweater. Duduk di kursi makan berhadapan dengan teh yang baru saja kubuatkan, rambut basanya digulung ke atas tak beraturan, tapi tetap membuatnya terlihat cantik. Disesapnya cangkir berisi teh yang masih mengepul dengan kedua tangan.
“Makasih,” katanya.

Hanna lalu melirik ke arah jas yang kusampirkan di kursi. Ia berdiri dan meraih jas itu dengan penuh emosi lalu membantingnya ke lantai.
Aku hanya diam, sambil berpikir, mungkin masih ada sisa-sisa cinta antara Hanna dan Daniel, saat kulihat tatapan keduanya di pesta tadi. Tapi ada sesuatu yang melukai Hanna sehingga ia marah seperti ini. Apakah ia cemburu? Atau ada masalah lain? Aku tak berani bertanya lebih jauh. Tentu saja aku tahu posisiku.

Hanna berjalan menuju kabinet, membuka tutup bagian atss dan mengambil satu cup mie instan. Aku mendekatinya. Mungkin Hanna lapar, membiarkannya menyeduh mie cup itu dalam kondisi marah, bisa jadi membahayakan. Jadi, aku berniat membantunya. Dan aku sedikit kaget melihat isi lemari makannya yang dipenuhi aneka rasa mie instan.
Astaga, aku aja yang cowok, rajin masak, gitu, loh!
Hanna menuang air panas dengan asal, lalu berusaha memasukkan bumbu. Apa kataku, dia sama sekali tidak konsentrasi.

“Ini mie goreng, Nya, airnya dibuang dulu,” kataku.
Aku meraih cup mie dan meraciknya. Hanna meninggalkanku menuju meja makan.
Setelah selesai, aku menyusul dan meletakkan mie di depan bosku itu.
“Ini honormu, ambil, dan pulanglah,” katanya menggeser beberapa lembar pecahan seratus ribu. Lalu, Hanna melahap mienya dengan cepat.
Aku mengambil uang itu, walau meninggalkan Hanna seperti ini membuatku kasihan padanya.
“Maaf aku nggak punya baju cowok, kamu harus pulang dengan pakaian basah begitu.”
“Nggak apa-apa.”

“Tolong bawa jas itu juga!”
“Nggak mau ditinggal di sini aja buat kenang-kenangan?”
“Nggak ... nggak mau,” jawab Hanna dengan mata memerah, dan aku tahu betul itu bukan karena ia kepedasan. Mungkin sudah sejak tadi dia menahan tangis.
Benar, setitik bulir bening mengalir di pipinya. Tapi ia terus melahap mienya dengan cepat.
Aduh, mau pulang, aku kan jadi teu tegaeun (nggak tega). Aku harus bagaimana? Pelajaran bagaimana menghentikan cewek nangis nggak aku dapatkan selama bersekolah. Dan abah juga nggak pernah ngajarin. Ia hanya memberi ibu uang kalau ibu nangis. Kalau mau begitu kan nggak mungkin, secara Hanna yang ngegaji aku. So, aku harus gimana?
Aku kembali duduk setelah memungut jas milik Daniel. Dengan ragu kukembalikan uang dua ratus ribu ke dekat Hanna.

“Kenapa?” tanya Hanna dengan suara bergetar menahan tangis.
“Kalau aku nyentuh kamu, honornya dipotong, ‘kan?”
Hanna mengangguk, setetes air matanya jatuh ke dalam cup mie. Sumpah, aku nggak tega. Dan inilah alasanku mengembalikan dua ratus ribunya, agar bisa menghapus air mata itu, dengan jariku. Ya, aku menyentuhnya sekali lagi. Hanna tampak terkejut, sepasang kejora bulat sempurna yang ditutupi kaca-kaca itu makin membuatku iba. Ia hanya diam, dan aku menerka-nerka apakah setelah ini akan kena tampar? Lalu setelah beberapa detik, Hanna menunduk dalam.
“Besok, aku mau main ke kampusmu, sekarang pulanglah,” katanya.
Bersambung.
Selanjutnya>>

-----

KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 3

Pagi yang cerah. Setelah kedinginan sebab memakai pakaian basah hampir tiga jam, ditambah mengendarai motor setengah jam, Alhamdulilah aku sehat-sehat saja. Siap mengikuti kuliah pagi ini.
‘Rafi, hari ini aku minta anter ke toko buku, ya. Nanti aku jemput di kampus.’ Hanna mengirim pesan.
‘Siap, Nya!’ jawabku.

Dalam hati aku berpikir, sebenarnya Hanna ini orang yang seperti apa? ‘Karena kalau aku, nih, ke toko buku, ya, pergi aja sendiri, kenapa harus ditemenin? Mungkin cewek beda kali, ya?’
Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di kampus, langsung bergabung bersama beberapa teman, di sana juga ada Radit, Fahri, dan Dila.
“Hai!” sapaku.

“Assalamualaikum,” ucap Fahri disambut salam teman-teman yang lain.
Aku tersenyum malu. Lalu mengalihkan perhatian ke arah Dila. “Dil takudil kudil!”
Yang disapa malah senyum malu-malu, menunduk seolah-olah kalimat itu adalah pujian. Padahal lidahku hanya latah saja saat menyebut namanya. Kebiasaan.
“Jangan mau digodain Rafi, Dil, dia kan terkenal tukang PHP,” sergah Radit.
Aku hanya tersenyum tak menanggapi. Kalau kuperhatikan memang Radit sedikit jaim jika di depan Dila, beda saat dengan cewek lain.
Hari ini praktikum, sementara praktik sebelumnya aku belum selesai buat laporan, tinggal sedikit lagi. Aku buru-buru mengerjakannya di sela-sela menunggu dosen.
“Sini aku tulisin,” kata Dila.
“Wah, makasih, ya!” Aku nggak nyia-nyiain kesempatan, dong. Terlihat Radit manyun menatapku. Aku hanya tertawa melihatnya, lalu memegangi catatan Dila sebagai contekan.

***

Praktikum kali ini berjalan lama. Aku sampai kelaparan dibuatnya. Untunglah punya anggota kelompok yang ulet semua, Fahri dan Dila benar-benar bisa diandalkan. Aku dan Radit sangat beruntung.
Setelah beberapa jam, akhirnya selesai juga. Aku dan teman-teman keluar gedung. Fahri mengajak kami salat dzuhur di masjid sebelum ke kantin. Hingga selesai dan berjalan bertiga keluar masjid, ternyata Dila masih menunggu.
Jika tak salah terka, gadis itu sempat beberapa detik menatap wajahku dengan binar mata yang –mengingatkanku pada Radit saat melihat artis idolanya, Agnes Mo.
Yeah, memang, sih, kata orang-orang, cowok yang baru keluar masjid itu kegantengannya naik rata-rata 40%. Tapi anehnya yang diliatin dengan pandangan kagum itu cuma aku, doang. Fahri dan Radit, enggak. Hehehe. Ya Allah, maafkanlah kenarsisanku.

“Kok masih di sini, Dil?” tanya Radit. Sementara itu Fahri pamit. “Mau bareng ke kantin?” lanjutnya semringah.
Dila hanya menunduk, kurasa dia memang menungguku, eh, kami. Tanpa dikomando, langkahnya mengiriku dan Radit. Beberapa saat kemudian kami duduk di bawah pohon beringin besar. Di kursi plastik yang melingkari sebuah meja bundar. Masing-masing lalu memesan makanan.
Aku mengecek ponsel. Astaga! 20 panggilan tak terjawab? Dari Nyonya besar pula! Aduh, aku benar-benar lupa. Pundi-pundi uangku jangan kau tinggalkan diriku ....
“Halo?” aku menelepon Hanna.
‘Rafiii ...!’

Aku sedikit menjauhkan ponsel dari telinga. Suaranya benar-benar cocok dipakai untuk jualan tahu bulat tanpa speaker!
‘Aku pecat nanti kamu, ya!’
“Maaf, ‘Nya, maaf ....” Aku berdiri dan sedikit menjauh dari teman-teman. “Kamu di mana?”
Hanna menyebutkan sebuah tempat dan aku bergegas ke sana setelah berpamitan dengan Radit dan Dila. Dua orang yang ekspresinya sangat berbeda saat kutinggalkan. Dila yang sepertinya kecewa dan Radit yang tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.

***

Hanna terlihat sedang menikmati semangkuk soto. Di sampingnya tiga gelas kosong, hanya menyisakan es batu. Di dekat gelas ada sepiring siomay yang tinggal bumbunya. Sepertinya bosku, yang body sedan muatan tronton ini, memang sudah sangat lama menunggu.
Aku duduk di depannya sambil tersenyum. Tapi Hanna sama sekali tak membalas. Ia bersungut-sungut, jelas sekali kalau dia sedang kesal.
“Lama bener, sih!”
“Maaf ...,” kataku mencoba mencairkan suasana.

Hanna menghentikan aktivitas makannya. “Hayuk!” perintahnya.
Aku memaksakan senyum mengikutinya membayar di kasir. Kutahan perut yang mendendangkan seriosa di dalam sana. Tapi, tak tahan juga melihat bakwan jagung yang seolah-olah melotot di atas meja, akhirnya kucomot juga. Lalu saat Hanna melirik, aku mengangkat bakwannya minta dibayarin.
“Kamu belum makan?”
Aku menggeleng sambil nyengir dan berdoa dalam hati semoga jiwa kemanusiaan gadis cantik ini tergerak.

“Ya, udah, sana makan dulu, mau makan apa?” kata Hanna sambil mengeluarkan selembar rupiah berwarna merah. Sempat mengintip sedikit, masih banyak teman-teman merah lainnya di dalam dompet.
Mataku membulat auto berubah “ijo”. Aneh, duitnya warna merah tapi mata berubah hijau. Mungkin ini yang dinamakan mata duitan.
“Sekalian, Pak, sama mas ini,” kata Hanna.
“Cie ... ‘Mas’ ...,” kataku, “jadi pengen pake blangkon.”

“Cepet, ya, Fi!” Seperti biasa Hanna memerintah, lalu berjalan lebih dulu ke meja.
Aku makan di hadapannya. Sedangkan dia asyik mendengarkan lagu. Biasanya gadis-gadis lebih suka mengutak-atik ponsel berselancar di dunia maya. Tapi Hanna berbeda, dia tampak menikmati alunan musik sambil mengetuk-ngetuk jari di meja.
“Gimana kalau nggak usah ke toko buku? Aku anter ke perpustakaan sini aja, ya.”
“Kok kamu ngatur-ngatur, sih?”
“Perpus sini lengkap, kok.”
“Pasti kamu males nganterin, ya?”
“Enggak, cuma aku ada kuliah lagi habis ini, pentiiing ... banget.”
Hanna cemberut.
“Bukunya buat apa? Tugas ya?”
Gadis itu mengangguk.
“Nanti aku bantuin, deh, bikin tugasnya,” janjiku mencoba meyakinkannya.

***

Lalu, di sinilah aku sekarang, berjalan mengekori Nyonya Besar. Membawakan buku-buku yang dipilihnya, kadang mengambilkan buku yang terlalu tinggi dan tak mampu Hanna raih dengan tinggi badan hanya sebatas bahuku.
Seperti biasa rambutnya yang dikuncir satu bergoyang-goyang saat ia berjalan. Pakaiannya hari ini cukup girly dengan rok selutut dan kemeja pink sebatas siku. Ia mengenakan sepatu flat dan tas cangklong polos. Untuk ukuran cewek yang bawa duit segepok, penampilannya sederhana.
Hanna mengambil tempat duduk di pojok dan mulai membaca-baca buku, memindahkan ke catatan atau memfotonya. Dia minta aku mencari beberapa materi tentang keuangan. Ternyata aku tak cukup membantu. Jelas sekali bidang keilmuan kami sangat berbeda.
Hampir satu jam Hanna konsentrasi mengerjakan tugasnya dan aku mulai gelisah. Beberapa kali melirik jam di ponsel. Mau pamit tapi takut gajiku dipotong. Sementara dosen menjanjikan ujian.
“Han, aku tinggal sebentar boleh, nggak?”

Hanna diam sambil tetap membaca. Aku jadi makin gelisah.
“Bentaaar ... aja, ya, ya ....”
“Awas kalo lama!”
“Siap, Nya!”
‘Perpustakaan dan gedung C fakultas teknik itu jauh banget, guy’s. Lumayan bikin aku keringetan lari-lari. Demi masa depan. Sampai di kelas, ujian sudah dimulai.’
“Maaf, Pak, saya terlambat.”
“Iya, saya tau kamu telat, telatnya kenapa?”

“Habis kerja, Pak.” Dalam hatiku bingung juga kerja apa aku barusan?
Dosennya baik, mengizinkan aku ikut ujian. Dan begitulah, karena sangat berkonsentrasi pada jawaban di lembar ujian, aku lupa ada seorang gadis di sana sedang menungguku.
Jam tiga sore ingatanku baru pulih dari amnesia sesaat. Setelah ujian, ngobrol sama temen, terus nganter Dila ke halte, aku baru ingat Hanna.
Aku memaksa mengendarai mobil Radit yang kecepatan yang tidak lebih dari lariku. Dalam hati aku mengumpat menyesali keputusanku.

Sampai di perpustakaan, Hanna sudah tidak ada.
“Kenapa muka lu kusut gitu?” tanya Radit.
Aku hanya diam menunduk, mengusap wajah. Lalu kembali masuk mobil Radit dan memacunya menuju apartemen Hanna.
Tiba di sana, Hanna pun tak ada. Entah ke mana gadis itu.
“Lo nyariin siapa, Fi?”
“Pundi-pundi uang gue, Dit,” sahutku lemah, terduduk.

***

Seminggu sudah Hanna tak menghubungiku. Ponselnya aktif, tapi panggilanku diabaikan. Chatku dibaca tapi tidak dibalas. Sepertinya dia benar-benar kesal padaku.
Bagaimana kalau Hanna membatalkan kontrak kerjanya? Mau cari kerja yang lain, susah. Mana gaji pertama kemarin sudah habis buat bayar SPP sama alat praktikum. Sebentar lagi yang punya kontrakan pasti menagih. Sementara abah ...
Kutelepon abah di kampung.

“Assalamualaikum, Bah.”
“Waalaikumsalam, Rapi!”
“Rafi, Bah, ef pake ef!”
“Iya, ep. Rapih!”
‘Hadeeeh udah ef diganti ep, ditambahin ha pulak?’
“Gimana persiapan pernikahan teteh?”
“Ya, masih nyiapin mau beli kerbau sama sapi,” kata abah di seberang sana.
“Salah satu aja, atuh, Bah!” kan lumayan kalau uang buat beli sapi dikasihkan aku? Aku kan anakmu juga, Bah! Nyeri hatiku.
“Tamu abah kan banyak, Rapih, acaranya tujuh hari tujuh malam.”
‘Elah, pesta tujuh hari tujuh malam, anakmu di sini pusing tujuh keliling.’
Aku tidak tega menambah beban pikiran abah. Akhirnya kuurungkan niat meminta uang.
Saat Radit menelepon dan mengajak main ke luar, akhirnya aku ikut. Siapa tahu bertemu Hanna.

***

Kami tiba di sebuah rumah indekos cewek. Sesaat ke luar dari mobil Radit, kupandangi mobil itu. Naluri bisnisku langsung jalan.
“Dit, mobil lu nih punya nilai sejarah yang tinggi, lho, bro!”
“Pastinya ...,” jawab Radit membusungkan dada. Secara yang muji mobil dia selangka Harimau Sumatera di pulau Kalimantan.
“Berapa, nih, kalau dijual?”
“Hahaha, banyak, sih, yang nawar, cuma gue sayang banget sama ni mobil.”
Halah Radit, sok sokan juga. Padahal mah orang-orang dikasih gratis juga nggak mau.
“Kalau ada yang nawar, berapa?”
Seketika mata Radit berbinar. Mungkin dia terkejut. “Berapa ya? 20 juta?”

“Sekilonya, maksudnya ... wkwkwkw!”
“Sialan, lo, Fi!” Radit mengejarku yang lari masuk ke rumah indekos putri. Marah dia mobilnya disamain sama rongsokan.
Radit mengajakku main ke tempat Dila. Cewek itu selalu tersenyum malu-malu saat bertemu tatap denganku. Radit menanyakan tugas dan aku sibuk menghabiskan kudapan ringan yang disajikan Dila. Lumayan menghemat pengeluaran.
Tidak lama Dila menyalakan televisi. Tapi ada masalah sehingga tvnya tak menampilkan gambar.
“Kenapa?”
“Nggak tau ...,” kata Dila. “Monitor tua, sih.”
Aku mendekati LCD tua yang dipakai Dila untuk menonton televisi. Mengutak-atiknya dengan peralatan minimalis yang ada di kosan Dila. Tidak lama kemudian tvnya menyala.
“Makasih, ya, Fi.”

“Oke!”
“Makan siang di sini aja, ya, aku masak banyak, kok!”
Aku mengangguk malu, tapi dalam hati bersorak. Ah ... rezeki.
Tidak lama datanglah teman-teman Dila. Bertanya apa aku bisa membetulkan ini dan itu. Aku jawab saja semua bisa, tanpa malu-malu menyebutkan tarifnya. Lumayan walau tidak sebesar gaji dari Hanna. Selagi menunggu Dila masak, aku melihat-lihat barang elektronik anak kosan yang lain. Ada yang bisa aku perbaiki ada juga yang tidak. Ada juga yang sengaja aku rusakin biar besok bisa ke sini lagi, dapat kerjaan lagi.

Pukul empat sore aku menyetir odong-odongnya Radit pulang ke kosan. Sahabatku tercinta lebih banyak diam. Sepertinya sedang ada yang dia pikirkan.
“Gue tau ada yang sengaja lo rusakin barangnya,” kata Radit.
Aku cuma bisa nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.
“Tapi kalau ke Dila, plis gua minta, jangan,” lanjutnya.
“Iya ... iya ...,” jawabku dengan suara lembut.
“Lagian, ya, kalau si Dila, gua yakin dia rela ngerusakin barang sendiri biar lo bisa main ke kosannya dan makan masakan dia.”
“Kok, gitu?”

“Kalo kita udah sayang ke orang, bakalan rela ngelakuin apa aja tanpa balasan, Fi! Rela ngorbanin kebahagiaan sendiri. Bahkan kadang ngelakuin hal-hal yang konyol.”
“Maksud lo?”
“Masa lo nggak nyadar sinyal-sinyalnya Dila?” Raut wajah Radit berubah kesal.
Ya, gue tau, cuma nggak enak aja sama elu. Jawabku dalam hati.
Lagi pula aku belum paham betul apa yang dikatakan Radit tentang pengorbanan. Dan belum berniat juga pacaran.

Setelah itu Radit tidak mengeluarkan sepatah kata pun sampai tiba di kosan. Pemuda itu belum langsung pulang karena menyalin tugas di tempatku.
Aku yang lelah hari ini merebahkan diri di kasur setelah mandi dan salat.
Tiba-tiba Hanna datang dan menyentuh pipiku sambil tersenyum ... ah 200 ribu .... Lalu dia meraba keningku ... 400 ribu ... ia bertanya apa aku sakit? Aku jawab aku sakit kangen sama kamu, kemudian dia menarikku bangun dari tempat tidur ... 600 ribu. Dan tiba-tiba uang bagai hujan jatuh dari langit-langit kamar ke atas tubuh kami berdua ....
“Rafi!”
Kenapa ada suara Radit di antara aku dan Hanna? Tak lama kemudian pipiku dihantam benda keras.
PLAK!

Mataku membulat, kaget. “Radit!”
“Gue pulang dulu, Fi!”
“Nggak bisa, balikin dulu duit gua!”
“Duit apaan?”
“Duit yang barusan jatuh dari langit!”
“Mimpi lo, Fi! Makanya jangan tidur sore sore! Udah ah, gua pulang dulu!”
Aku terduduk setelah menengok ke kiri dan kanan. Mengacak-acak rambut sendiri. Ah ... Hanna ....
Mengabaikan malam yang merangkak naik, aku memacu skuter kesayangan ke apartemen Hanna. Aku akan minta maaf. Hampir dua minggu aku hilang kontak dan tidak sehari pun aku bisa melupakannya.

***

Aku sudah di depan pintu apartemen Hanna. Memencet bel beberapa kali tapi Hanna tak juga muncul membukakan pintu. Akhirnya kuteleponi dia.
“Hanna ....”
Suara yang amat lemah menyahut dari seberang sana. Apa dia sudah tidur? Tapi sepertinya ini bukan suara orang mengantuk, lagi pula belum terlalu malam. Suaranya benar-benar lemah dan tersengal-sengal menyebutkan sebuah deretan angka. Otakku langsung berpikir itu adalah kode pintunya. Segera kupencet dan terbukalah pintu rumah Hanna. Kakiku segera melangkah masuk.
Rumah Hanna sangat berantakan, pakaian dan piring bekas makan menumpuk di sembarang tempat. Sungguh berbeda dengan kosanku. Kenapa orang kaya seperti dia tidak membayar jasa cleaning servis, sih?

“Hanna?”
Tidak ada sahutan.
“Hanna ...!”
Sepi. Kuberanikan diri mengintip ke kamarnya, dan ... astaga, gadis itu terkulai di lantai. Aku segera masuk dan mencoba membangunkannya.
“Hanna ... bangun, Han!” Kutepuk-tepuk pundaknya beberapa kali. Ia diam dengan mata terpejam. Keningnya berkeringat dan saat kuraba ... panas.

“Hanna ....” Sekali lagi aku memanggilnya. Tak juga bangun, aku mulai cemas. Pikiran buruk menghantui mengingat berita bunuh dirinya artis-artis cantik bergelimang harta akhir-akhir ini. Apakah Hanna ...? Ah ... kutepis pikiran buruk dan segera memapah tubuh gadis itu ke atas punggung, lalu mencari kunci mobilnya. Aku tergesa, berlari keluar kamar sambil menggendong tubuh Hanna yang tidak juga sadar. Masuk lift dan sempat dilirik heran oleh orang-orang.
Setelah sampai di lantai dasar, bersama satpam kompleks apartemen itu aku mengantar Hanna ke rumah sakit.

***

Hanna sedang ditangani petugas kesehatan. Saat ditanya di mana keluarga Hanna, aku sempat bingung, untunglah pak satpam tahu nomor orang tua nyonya besarku ini.
Hanna sudah diruang rawat kelas tiga. Pak satpam sudah pamit pulang. Tinggal aku sendiri duduk di sebelah ranjang rawatnya. Menunggu gadis itu membuka mata. Perawat bilang Hanna kemungkinan typus dan mag kronis. Laporan dari lab akan segera menjelaskannya.
“Rafi ....”
Aku tersenyum, sangat-sangat lega bosku sudah sadar.
“Makasih ...,” kata Hanna lagi, suaranya lirih keluar dari bibir yang pucat.
Aku mengangguk.
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang, menyusul di belakangnya seorang lelaki yang terlihat sebaya. Beberapa rambut putih menyembul di antara yang hitam. Pun keriput sudah tampak di wajah mereka.

“Hanna ... sayang, kamu nggak apa-apa, Sayang?” tanya si ibu.
“Nggak apa-apa, Ma,” jawab Hanna.
“Itu makanya papa nggak kasih kamu tinggak sendiri,” kata lelaki paruh baya yang ternyata papanya Hanna.
“Seenggaknya itu lebih baik dari pada tinggal sama kamu, Mas,” hardik sang mama.
“Jangan mulai lagi, ini rumah sakit .... Mana Daniel?” tanya papanya Hanna.
Hanna menggeleng.
“Papa akan telepon dia.” Si papa siap mengeluarkan ponsel.
“Nggak usah, Pa, Hanna bisa sendiri.”
“Ini siapa?”

“Rafi, Om,” jawabku sambil berdiri dan membungkukkan badan. Tidak ada tanda-tanda si papa akan menyalamiku. Sebuah perkenalan yang singkat. Setelah itu papa Hanna sibuk mondar-mandir entah menelepon siapa.
“Kamu nih nelepon siapa, sih, Mas? Anak lagi sakit gini, masih aja sibuk ngurus yang lain!”
“Alah, kamu juga sama, ibu mana yang tega menyuruh anak gadis satu-satunya tinggal sendiri sementara dia enak-enakan tinggal sama suami muda!”
“Hei, jaga bicara kamu, ya, kamu yang lebih dulu suka main wanita muda!”
“Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sendiri! Kamu penyebab ini semua!”
“Apa kamu bilang?”
Ini ruang rawat kelas tiga, di samping Hanna ada beberapa pasien lain. Tidakkah kedua orang ini bisa bersikap sedikit dewasa?

Jemari Hanna meremas selimut yang menutupi tubuh. Bibirnya yang pucat bergetar menahan tangis. Tapi tak urung juga bulir bening itu menetes lewat celah matanya yang bening bulat. Tanpa suara.
Ini adalah kedua kalinya aku melihat Hanna menangis. Aku tak bisa membayangkan hari-harinya kemarin, saat aku tak ada di sampingnya. Rumah berantakan, orang tua tidak ada di sisi. Hanya ada uang dan itu tidak bisa membeli sesuatu untuk menebus kesepian.
Siapa yang tidak terenyuh melihat gadis malang ini? Sekali lagi ingin kuhapus air mata itu. Tapi tidak, aku takut honorku dipotong. Sudah tidak dapat bonus, honor dipotong pula ... tapi aku sungguh tidak tega melihatnya.

Akhirnya kukeluarkan headset dari dalam tas. Lalu, memakaikannya menutupi telinga Hanna. Aku ingat hobinya mendengarkan lagu. Walau kali ini bukan lagu yang kusetel.
Lama Hanna terdiam, mungkin sedang mencerna apa yang didengarnya. Perlahan air matanya berhenti menetes, lalu menoleh padaku dengan alis bertaut, dahinya mengernyit. Aku sedikit tertawa melihat reaksinya.
“Stan up komedi?” katanya.

Aku mengangguk sambil sedikit tertawa. Spontan Hanna mencubit lenganku.
“Dua ratus ribu!” bisikku sambil mengacungkan dua jari.
Hanna kali ini tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi, lalu menepuk pundakku.
“Empat ratus!” bisikku lagi mengacungkan empat jari.
Sekali lagi Hanna memukul.

“Enam ratus!”
Lalu kami tertawa bersama seiring langkah para perawat dan satpam yang menarik paksa papa dan mama Hanna ke luar ruangan karena ribut.
Sambil memperhatikan wajah Hanna yang terlihat sedikit ceria, tiba-tiba aku menginginkan ia selalu seperti itu. Aku baru saja mengenalnya, tapi seolah ekspresi gadis ini mengendalikan perasaanku. Hatiku ikut sakit melihat ia menangis. Ada lega saat melihatnya tersenyum bahagia. Dalam hati aku ingin menjaga agar air mata itu tak lagi menetes, entah bagaimana caranya.
Tiba-tiba aku teringat perkataan Radit.
‘Kalo kita udah sayang ke orang, bakalan rela ngelakuin apa aja tanpa balasan. Rela ngorbanin kebahagiaan sendiri. Bahkan kadang ngelakuin hal-hal yang konyol.’
Ah, Hanna ...
Bersambung.

-----

KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 4

Malam itu mama Hanna menunggui di rumah sakit sampai pukul dua belas malam. Setelah itu beliau pamit. Belakangan aku baru tahu jika wanita itu punya anak balita dari suaminya yang sekarang. Sehingga tidak bisa ditinggalkan. Sedangkan papa Hanna telah lebih dulu pamit karena diusir oleh mantan istrinya itu.
Aku merasa kasihan melihat Hanna jika harus ditinggal sendirian di rumah sakit. Ingat keluarga di kampung, kalau ada yang dirawat di rumah sakit. Bukan hanya orang tuanya yang bergantian menunggui di kamar rawat. Bibi, keponakan, paman, tetangga silih berganti berdatangan menengok di jam besuk. Seakan-akan mereka tidak ingin membiarkan si sakit sebatang kara.
Jadi, aku tidak tega melihat gadis itu terbaring sendirian. Untuk beberapa menit aku duduk di samping ranjang rawatnya, menunggu Hanna mengatakan sesuatu.

“Pulanglah.” Akhirnya kata-kata yang tidak kuharapkan itu yang keluar dari mulutnya.
Jujur, aku sebenarnya ingin mendengar ia bilang ‘Jangan tinggalkan aku Rafi ... temenin aku, ya, nanti aku kasih bonus.’ Lalu aku menjawab dengan mantap; ‘Siap, ‘Nya!’ Haha. Tapi itu hanya anganku saja. Aku sadar diri, kok.
Aku mengangguk sambil tersenyum, dengan langkah berat beranjak dari sana. Kemudian meninggalkan Hanna seorang diri setelah beberapa kali menoleh sambil berbisik dalam hati ... ‘Bonus, ‘Nyah, bonus ....’
Tapi ... ya nggak mungkinlah, emangnya aku cowok matre apaan? Matre juga ada tempatnya kali ....
Aku terus memikirkan Hanna sampai tiba di kamar dan merebahkan diri di kasur. Sejenak mengutak-atik ponsel membuka facebook. Entah kenapa timeline yang kulihat pertama kali adalah meme kamus wanita. Semua yang dikatakannya berkebalikan dengan apa yang ada di hati.
Iya berarti tidak
Tidak berarti iya

Diam berarti marah
Pergi berarti tetap tinggal
What? Aku langsung duduk, langsung teringat perkataan Hanna. Jangan-jangan ‘Pulanglah’ berarti ... ‘Jangan pulang?’
Aku sempat ragu dan mondar-mandir sebentar di kamar. Mau balik lagi ke rumah sakit atau tidak.
Lagian ini meme bikin baper aja malem-malem. Akhirnya aku hanya mengirim pesan pada Hanna.
‘Kalau ada apa-apa panggil suster, ya!’ kataku. Elah ... mainstream amat, sih. Ya iyalah Hanna juga pasti ngerti harus panggil suster ... masa panggil tukang loundry? Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Ah, sudahlah ... kutinggal tidur saja.

***

Pagi-pagi aku terbangun dan membaca pesan balasan dari Hanna. Hanya emot senyum. Tapi itu sudah membuatku lega dan bersemangat salat subuh di masjid. Hehe.
Jalanan masih gelap, embun masih terasa. Aku memacu skuter kesayangan ke rumah sakit, setelah masak bubur dengan bahan yang kebetulan ada di lemari pendingin. Buat Hanna.

***

Gadis itu baru saja ditangani beberapa perawat. Ia tersenyum padaku dengan wajah yang lebih cerah dari semalam.
“Pagi amat udah ke sini? Nggak kuliah, apa?” tanyanya.
“Nanti jam delapan,” jawabku sambil menaruh kotak bekal di atas nakas.
“Bawa apa? Nggak usah repot-repot, Fi.”
“Kali aja kamu bosen sama makanan rumah sakit ....”
“Iya, males banget makan,” kata Hanna sambil membuka kotak bekal yang kubawa. Wajahnya tersenyum. “Aku cobain, ya!”
Aku mengangguk.
“Enak, kamu masak sendiri?”
Aku mengangguk lagi.
“Mmm,” katanya menikmati di suapan kedua.
Aku tersenyum, lalu pamit pada Hanna dan mengatakan akan kesini lagi sepulang kuliah nanti.

***

Selesai mengikuti kuliah, aku buru-buru ke rumah sakit. Radit tampak sedikit heran dengan kelakuanku yang tidak biasa. Demikian juga Dila yang biasa mengintil aku kemana-mana.
Pada awalnya aku merasa kasihan pada Hanna yang sendirian di rumah sakit. Sebab setiap kali aku ke sana, ia selalu seorang diri. Tak pernah kudapati ada yang lama menemani. Kalau pun ada, hanya oleh-olehnya saja yang tertinggal di atas nakas. Entah itu cake, atau bunga. Saat kutanya itu dari siapa? Hanna bilang dari mama, papa, dan beberapa temannya yang waktu itu bertemu denganku di mall.
“Lama kesininya?” tanyaku.
“Nggak ... paling abis foto foto, upload di sosmed, habis itu pulang ....”
Kasian amat kamu, Han ....
Lama kelamaan, rasa kasihan itu berubah menjadi kebutuhan. Butuh melihat senyumnya setiap pagi. Ea ....
Lesung pipi yang dibingkai wajah oval itu bagai moodbuster. Kalau di apotik ada obat yang bisa bikin ceria seharian, pasti “Senyum Hanna” namanya. Aneh memang, entahlah, rasa apa ini?

***

Sudah tiga hari Hanna dirawat, setiap hari pula aku mengunjunginya. Diam-diam membawa makanan yang diinginkan Hanna tapi dilarang oleh dokter. Sampai hari ke empat, dokter mengatakan Hanna sudah sehat, dan besok bisa pulang. Itu hari minggu. Aku sudah berniat menjemputnya di rumah sakit.
Sabtu ini aku ada kuliah tambahan. Bersama Radit dan Dila. Dan seperti biasa, sehabis kuliah, kedua sahabatku itu ngajak main.
“Sorry, gue nggak bisa,” tolakku pada Radit “Lu aja sama si Kudil.”
“Ah, Dila mana mau jalan kalau sama gue doank.” Sementara gadis yang sedang kami bicarakan menunggu di ujung koridor.
“Kan sama aja, sama-sama temen.”
“Dila temenan sama lo kan cuma modus.”
“Modus gimana?”
“Modus biar bisa deket-deket terus.”
“Ah, sok tau, lo!”
“Bener ...,” kata Radit.
“Berarti lo ke dia modus juga, dong?”
“Ya, enggak lah, gua mah tulus orangnya.”

“Masa?”
“Gua nggak masalah, Fi, cewek yang gue suka ternyata nggak balas perasaan gue, yang penting gue bisa ngeliat dia bahagia. Dan nggak masalah saat menyaksikan kebahagiaannya itu posisi gue sebagai temen dia atau bukan,” cerosos si pujangga, Radit.
Aku mengguncang-guncang pundak sahabatku itu dan memasang wajah terharu yang dibuat-buat. “Gua emang nggak salah milih sahabat, Cuy ... gua ... gua tu sebenernya ....” Aku mengedip-ngedipkan mata seolah-olah menangis.
“Gua Hiro!” Radit menepis kedua lenganku dari bahunya. “Rese lo! Sebenernya siapa, sih, yang ada di hati elo?”

Aku menangkupkan kedua telapak tangan membingkai wajahnya. Lagi-lagi kupasang wajah serius dan mata berkaca-kaca. “Cuma elo doank, Dit, elo doank yang ada di hati gue!” Kutarik kepalanya ke dalam pelukan. Tapi Radit berontak dan meninju pipiku pelan. Aku terkekeh.
“Saraf!” Radit merengut, sepertinya saat menyinggung tentang Dila, si Radit selalu serius akut.
Aku masih saja cengar-cengir saat Dila mendekati kami berdua. Tapi si keriting malah menjauhi seakan memberikan kesempatan pada Dila untuk bicara berdua denganku.
“Kudil ...,” sapaku sambil tersenyum.
Senyum khas malu-malu Dila kembali menghias wajahnya. “Mau main ke kosanku, Fi?”
“Hmm, sebenernya aku ada kerjaan, Dil,” jawabku sambil garuk-garuk kepala nggak jelas. “Nanti, deh, aku main lagi kapan-kapan.”
“Iya, Fi, tv aku rusak lagi soalnya.”

“Ooh ....” Aku manggut-manggut memasang wajah serius.
“Aku tunggu, ya, kapan-kapannya,” kata Dila sambil tersenyum menunduk.
“Sip!” kataku tersenyum memastikan. Dia melirik sedikit ke arah mataku. Setelah itu aku pamit. Menghampiri Radit sesaat dan menepuk pundaknya sambil melirik ke arah Dila, memberi kode agar dia menemani gadis itu. “Gue duluan,” lanjutku. Radit mengangguk.

***

Kali ini aku siapkan masakan ‘rumahan’ buat Hanna. Sederhana, sih. Tumis tauge tahu ikan asin sama udang goreng ‘ala-ala’. Pokoknya apa yang aku masak buat makan di rumah, ya, itu aja yang aku kasih ke Hanna.
Dengan pakaian santai, yang sedikit berbeda dengan setelan kuliah, aku berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di sana aku langsung menuju ke ruang rawat Hanna. Ruang yang sama dengan hari pertama. Entahlah gadis itu tidak mau dipindahkan ke ruang VIP. Sepi katanya.
Jam besuk seperti saat ini, pengunjung lumayan ramai. Tiba di kamar Hanna, pintunya sedikit terbuka. Di dalam sana sedang banyak juga orang-orang yang menjenguk pasien lain. Baru saja hendak melangkah melewati pintu, tiba-tiba kakiku tertahan sesuatu.

Pemandangan di tepi ranjang Hanna, menghentikanku. Di sana duduk seorang pemuda berpakaian necis sedang mengobrol dengan gadis itu. Dari penampilan, pastilah dia orang kaya, atau pemilik perusahaan dan semacamnya, entahlah, yang jelas sangat berbeda dengan penampilanku. Walau dari segi tampang, imbang lah ... 11, 12, denganku. Dia 11 juta, aku 12 perak kembalian micin kalau belanja di warung.

Tiba-tiba aku memerhatikan pantulan diri di pintu kamar yang mengkilap sampai bisa berkaca. Seorang pemuda dengan jeans skinny robek di bagian dengkul, sepatu sneakers sederhana, kaos v neck lengan pendek yang memperlihatkan pergelangan tangan dengan gelang-gelang tali alay. Aku, ya, itu aku sedang berdiri sambil berpikir.

Di bahu kanan menyandang tas selempang, sekaligus kotak bekal untuk seseorang di sana, yang di sebelahnya tergeletak dengan anggun sebuah buket bunga besar berwarna putih. Aku langsung melirik kotak bekalku dan buket bunga itu secara bergantian. Ragu, mau masuk atau tidak.
Semua ini bukan karena aku minder. Itu sama sekali tidak ada dalam kamus seorang Rafi. Aku hanya tidak ingin kehadiranku membuat Hanna merasa tidak nyaman. Air mata Hanna malam itu jelas menyiratkan jika dia masih memendam rasa pada lelaki di hadapannya itu. Jika kehadiranku bakal mengusik kebahagiaannya dikunjungi ‘mantan’ yang –mungkin—masih diharapkannya itu, maka aku memilih untuk pulang.

Mungkin inilah yang dimaksud Radit. Membiarkan orang yang kita sayang bahagia, walaupun nggak sama kita. Wait ... emang siapa yang sayang ke Hanna? Sadar Fi, elo itu cuma kekasih bayarannya! Pacar pura-pura! Jangan pake rasa!
Aku manggut-manggut kayak abis disetrap guru BP waktu sekolah dulu. Lalu melirik lagi ke arah Hanna.

Gini aja, deh, kalau Hanna keliatan bahagia, ketawa-tawa, gue pulang. Tapi kalau mukanya datar-datar aja kayak papan gilesan cucian emak gue yang 20 tahun nggak ganti-ganti ... gue masuk!
Tik tok tik tok ... detik berlalu berganti menit. Wajah Hanna ... biasa aja, fix! Gue masuk! Tarik napas dalam-dalam ... hembuskaaan ... busungkan dada, angkat ketek seolah-olah ada telur di sana. Oh, nggak-nggak, yang ini becanda.
Aku masuk dengan tampang senatural mungkin. Memasang senyum paling manis yang aku punya.
“Hai!” sapaku.

Hanna dan Daniel menatapku bersamaan. Tatapan yang sulit kuartikan, seperti kataku tadi. Datar.
Aku menaruh kotak bekal di atas nakas, lalu duduk di sisi Hanna yang berseberangan dengan Daniel.
“Gimana, udah enakan?” tanyaku menatap Hanna dan mengabaikan Daniel.
Hanna tersenyum dan mengangguk. Tak lama kemudian Daniel berdiri dan pamit pada kami berdua.
“Kalau gitu, aku pulang dulu,” katanya.

Aku berdiri saat dia sedikit menunduk berpamitan. Lalu, kulirik Hanna yang memandangi selimutnya.
“Cie ... yang ditengokin mantan ...,” godaku saat Daniel sudah keluar ruangan.
Hanna hanya tersenyum sekilas sambil mendengkus. Ia tak tersenyum, tidak pula terlihat sedih. Entahlah, aku sulit mengartikan tatapannya. Dan aku juga tidak berhak bertanya. Itu bukan wilayahku.
“Udah makan, belom?”
Hanna menggeleng.

Kulirik makanan dari rumah sakit, masih utuh, sementara ini sudah pukul dua siang. Aku meraih wadah makanan dari stenlis itu dan membuka plastik yang menutupi bagian atasnya.
“Laper?”
Hanna mengangguk, dan aku tersenyum.
“Cowok yang tadi nggak peka, ya? Masa ada cewek kelaperan malah dikasih bunga bukannya dikasih makan?” aku mengomel. “Emangnya bunga bisa dimakan, apa?”
Hanna mengulum senyum.
“Singkirin, ya, bunganya?”
Gadis itu mengangguk.

Dengan secepat kucing nyolong ikan asin, segera kusingkirkan bunga itu ke kolong nakas. Agak kuacak-acak dikit bunganya biar susunannya nggak cantik lagi. Biar nggak dipandang-pandangi Hanna lagi. Sebenernya pengen kulempar ke kotak sampah, sih, tapi nggak tega.
“Sekarang makan, ya.”
Hanna mengangguk. “Mau yang itu, aja ....” Ia menunjuk kotak bekal yang kubawa.
Aku lalu membukakan makanan itu. “Nih, mau disuapin, apa?”
Hanna meraih kotak bekalnya sambil tersenyum.
“Ya kali, udah lama nggak ada yang nyuapain,” lanjutku lagi.
Gadis yang lagi menyuap nasi itu tiba-tiba terbatuk. Aku ambilkan air minum untuknya. Ia terkekeh. “Jangan becandain terus, keselek, tuh, kan?”
Aku tertawa. Satu bulan lagi kontrak kerja dengan Hanna. Aku harus bisa bekerja dengan baik. Dan meninggalkan kesan menyenangkan. Walau dalam hati berharap kontraknya diperpanjang. Haha, ngarep!
“Han ...?”
“Hmm ....”
“Jangan jadi pendiem gini, nggak seru.”

Hanna tersenyum sesaat, lalu melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku yakin ini akibat kedatangan Daniel.
“Bawel aja kayak biasanya ...,” lanjutku.
“Iya,” jawab Hanna tersenyum.
"Minggu depan saya izin ya, Nya."
"Mau ke mana?"
"Kampung, nikahan kakak."
"Sendiri?"
"Ada temen."
"Ikut, yah?"
"Hah? Apa?"
"Kalau ada temen ceweknya aku ikut."
Belum sempat menjawab. Saat itu ponselku bergetar. Radit menelepon. Dia bertanya aku di mana dan ingin menghabiskan weekend bersama.
“Di rumah sakit,” jawabku jujur.
“Siapa yang sakit? Gua ke sana, ya!”

Sejenak aku menutup ujung ponsel, lalu bertanya pada Hanna. “Boleh, nggak temen aku ke sini?” Hanna mengangguk.
“Boleh, lo dari mana?”
“Habis dari kosan Dila, minjem catetan.”
“Modus ....”
“Enggak,” jawab Radit tegas.
“Betulin tv, ya?”
“Nggak juga, itu, anaknya aja lagi nonton tv!” kata Radit.
Aku terbengong-bengong mendengar cerita Radit. Tadi, kalo nggak salah? Ah ... dasar Dila .... Aku melempar senyum, entah pada siapa. Kadang, punya rasa buat seseorang bikin kita sebucin itu. Hehe.
Bersambung.


-----


KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 5

Aku bersiap menjemput Hanna di rumah sakit. Kukenakan pakaian yang cukup rapi hari ini. Siapa tahu bertemu mama atau papa Hanna.
Kemeja motif kotak-kotak warna cerah, jeans tanpa robek, sepatu masih yang kemarin. Aku tambahkan asesoris jam tangan bermerk tapi palsu di sela-sela gelang. Lumayan lah, jam KW, yang penting tampangku bukan KW-KW, asli ganteng bawaan lahir.
Setelah menyelempangkan tas kesayangan aku bergegas keluar kosan. Baru saja tiba di pintu, ponsel tiba-tiba bergetar. Hanna menelepon.
“Iya, ‘Nya!” sapaku semringah. Membayangkan gadis itu sedang menunggu.
“Aku udah pulang ....” Suara Hanna terdengar lemah.
“Maksudnya?” Heran aku mendengar penuturan Hanna. Kalau pulang ke rumah, ya, nggak apa-apa, Alhamdulilah. Kalau pulang ke Rahmatullah, ya jangan, atuh.
“Pulang ke rumah mama, Fi. Tadi mama yang jemput aku di rumah sakit.”
“Oooh ... ya, udah, nggak apa-apa, syukurlah kalo gitu.” Aku mencoba tersenyum seolah-olah ada di depan Hanna. Aku yakin jika dia melihat, akan tahu senyum ini dipaksakan.
“Maaf, ya.”
“It’s oke!” jawabku.
Tidak lama kemudian terdengar suara seorang lelaki di dekat gadis itu. Jelas ia berkata: “Aku pamit, ya, jangan sakit lagi,” katanya.
Dahiku mengernyit, tak tahan ingin bertanya, “Suara siapa itu, Han?”
“Oh, itu ... Daniel.”
“Daniel?”
“Ya, dia tadi dateng bareng mama buat jemput aku.”
“Oh, gitu?”
Hanna diam sebentar. “Hmm ...,” katanya bergumam, dia selalu pelit bicara jika berkaitan dengan Daniel.
Dan aku pun sama ... terdiam beberapa saat. Rasanya ada sesuatu menghambat di tenggorokan yang membuatku sesaat sulit menarik napas. Sebelah telapak tanganku perlahan mengusap-usap dada yang tiba-tiba memantulkan detak jantung yang tidak teratur. Mencoba mengelus hati yang seolah-olah baru saja lecet dan berharap nyerinya berkurang. Namun tetap saja sakit sehingga membuatku beberapa kali menelan ludah dan bingung harus berkata apa.
“Rafi,”
“Hmm ...?”

“Sudah dulu, ya.”
“Sudah apanya ... Han?” Suara nyaris hilang, alisku bertaut, tiba-tiba merasa takut Hanna mungkin saja mau menyudahi kontrak kerja.
“Teleponnya ....”
“Oh, iya ....” Ah, aku merasa lega. Setidaknya aku masih punya harapan bertemu dengannya lagi.
“Dah ....”
Aku tak menjawab sampai gadis itu menutup teleponnya lebih dulu.
Lama berdiri di pintu akhirnya aku menelepon Radit.
“Jemput gue, Cuy!” kataku saat si keriting itu menjawab telepon.
“Woke bro ... tunggu, ya!” Suara Radit terdengar bersemangat. Biar kutebak. Dia pasti sudah punya rencana di hari minggu ini.
“Cepet, ya!”
“Napa, emang?”
“Kangen!”
“Iyakh ... mo muntah, gue!”
Telepon pun di tutup. Aku mengunci pintu dan menunggu Radit di halaman.

***

“Kok ke sini?” tanyaku, saat Radit menghentikan mobilnya di depan kosan Dila. Aku sampai tidak sadar dari tadi Radit berjalan ke arah mana. Tiba-tiba saja sudah sampai kemari.
“Bentar, aja, mulangin catatan.”
“Kan bisa besok, sih?”
“Lo nggak akan tau rasanya merencanakan hal-hal sederhana biar bisa ketemu tiap hari sama seseorang, sampai elo nemuin orang yang cuma sama dia, lo serahin seluruh hati lo!”
“Lo ngomong apa kumur-kumur, Dit?”
Sumpah gaya ngomong Radit udah kayak presenter “Katakan Putus”.
Terus jidat gue digetok pake catatannya Dila. Dan dengan santainya pemuda keriting itu melenggang masuk ke kosan sang cewek idola.

Radit baru saja masuk di ruang tamu, meninggalkan si Kudil berdiri di depan pintu dengan mulut sedikit terbuka menatapku.
Aku tersenyum dan mendekatinya, mau nyusul Radit maksudnya. Tapi si Dila malah senyam-senyum sambil betulin rambutnya ke belakang telinga. Terus merapikan pakaiannya kayak anak SMA yang ketauan guru nggak masukin baju.
“Masuk, Fi,” ajaknya.
Aku ikut Radit duduk di kursi sederhana yang ada di ruangan itu, sementara Dila langsung berlalu dari hadapan kami. Lalu kembali dengan nampan berisi es teh dan bermacam gorengan. Pisang goreng, bakwan, tahu isi, dan temannya, rawit. Di sebelahnya ada brownies dan puding buah.
“Repot-repot amat, Dil, cuma mau mulangin catatan, kok,” kata Radit.

“Sama betulin tv,” sambungku cepat sambil mencomot satu tahu dan cabenya. Rumus-rumus matematika langsung jalan di otak. Walau nggak dibayar betulin tv yang sebenernya baik-baik saja. Seenggaknya biaya buat beli sarapan, lewat. Kebetulan tadi pagi nggak sempet masak gara-gara mau jemput Hanna.
“Tv kamu ...?” kata-kata Radit terputus.
“Iya, rusak!” Dipotong Dila yang langsung berlari mendekati tvnya.
“Mungkin rusaknya semalem ....” Radit menoleh padaku.

Aku mengangkat bahu, tanda setuju. Padahal pura-pura. Yang penting bisa menghemat pengeluaran sarapan, syukur-syukur makan siang. Astaga ternyata harga diriku semurah bakwan. Dan aku tidak pernah memperhitungkan jika hal hal yang kuanggap sepele ini berdampak besar di kemudian hari.
Menit berlalu, Radit asik mengobrol dengan Dila, kadang ia bermain gitar dengan suara falsnya. Sepertinya ia bahagia. Padahal mata Dila tak pernah lepas dari diriku. Ya, aku bisa melihatnya dari pantulan LCD TV ini. TV yang mulanya baik-baik saja tapi kemudian berubah menjadi rusak yang sebenarnya, karena dalam benakku tak bisa konsentrasi, masih terngiang sebaris kalimat.
“Aku pulang dulu, ya, jangan sakit lagi ....”

Terus berulang bagai disetel otomatis dalam otak. Apa yang mereka lakukan? Apa mereka balikan? Apa Hanna bahagia dengan adanya Daniel? Apa aku sudah tidak diperlukan walau hanya sebatas teman? Dan semua pikiran itu membuat tanganku sedikit kasar menyentuh hardware LCD ini. Semakin aku salah memberi tindakan, semakin kacau gerak tangan ini. Berkali mengulang, dan akhirnya aku tidak tahu yang rusak itu TV Dila atau ... hatiku.
Mendadak makanan yang disajikan Dila tak lagi menggugah selera. Aku lelah.
“Nggak bisa dibetulin sekarang, Dil, besok-besok lagi, ya!” kataku mendekatinya dan Radit.
“Iya, nggak apa-apa, kok,” jawabnya sambil tersenyum santai, tidak mencerminkan seseorang yang sedang galau karena tidak bisa nonton TV.
Aku mengangguk, lalu beberapa saat kemudian setelah minum teh, mengajak Radit undur diri.

***

Kami pergi ke kafe, tapi anehnya di kafe itu pramusajinya pada mirip Hanna semua. Akhirnya aku mengajak jalan Radit muter-muter kota. Dan setiap liat mobil yang mirip mobilnya Hanna, jantungku seketika lebih cepat detaknya. Jangan-jangan di dalam sana ada Hanna. Agh ... kacau.
Segala tentang Hanna baru berakhir saat aku tiba di kosan dan bertemu anak-anak kos yang lagi main basket di halaman. Bergabung bersama mereka, barulah penglihatanku normal kembali. Tidak lagi melihat Hanna dimana-mana.

Malamnya, aku memilih tidur lebih cepat agar tidak terlalu lama memikirkan yang tidak-tidak. Jika siang, aku memilih melakukan aktivitas berat, agar tidur malam nyenyak, dan tidak memimpikan Hanna.
Seperti itu terus sampai hari di mana teman-temanku mendiskusikan ingin ikut pulang ke kampung, menghadiri pernikahan kakakku.

Radit dan Fahri ikut sehari sebelum hari H. Demikian juga Dila yang entah dari mana tiba-tiba saja memiliki teman satu kosan yang kampungnya hanya berjarak lima kilometer dari kampungku. Ia akan menginap di rumah temannya itu saat malam hari, dan ke rumahku saat siang hari. Sungguh rencana yang sangat matang.
Saat itulah aku kembali teringat Hanna.

“Aku ikut, ya ....”
Kalimat itu terasa mengiris-iris hati. Kenapa harus mengatakannya jika ia tak bisa menepati. Jangankan menepati, menghubungiku saja tidak. Apa dia sudah bersenang-senang dengan pemuda berwajah oriental itu?
Tinggal tiga minggu lagi kontrak kerjaku dengan Hanna. Memang sebenarnya aku tidak boleh memiliki perasaan aneh ini. Tapi ... ia datang sendiri dengan cepat, dan lama perginya, walau sudah dipaksa-paksa.

***

Malam ini, sebelum tidur, kutimang-timang ponselku. Beberapa kali menatap nomor WA Hanna yang tidak pernah menampilkan status baru. Kemudian iseng-iseng kustalking facebooknya. Takut juga kalau tiba-tiba dia pasang foto undangan pernikahan. Pas kulihat, tidak ada yang baru, demikian juga insta storynya. Statusnya juga masih sendiri.

Penasaran, kucari akunnya si Daniel lewat teman-teman facebook Hanna. Ketemu, namanya Daniel Podomoro. Wow, beda tipis sama gue, dia Podomoro, gue Podo Wae. Hehe, becanda.
Kustalking juga akhirnya. Nggak sering juga update status, nggak kayak Radit. Hmm, gitu kali, ya orang kaya beneran. Nggak pencitraan layaknya Radit, dan gue juga, sih ....
Ada satu foto yang membuatku terpana. Foto tangan dengan jarum infus, dihias tulisan,
‘All of pray that for you, always healthy, i hope that you will get well soon ....’

Aku terdiam beberapa saat. Apa ini tangan Hanna? Apa ini ucapan untuk Hanna? Sebenarnya bagaimana, sih, hubungan mereka?
Kepalaku nyut-nyutan, rasanya menyesal stalking akunnya oppa oppa ini. Ahg ...! Kulempar ponsel ke atas kasur, karena kalau ke lantai, sayang, nggak ada duit buat gantinya. Lalu aku mencoba tidur. Mudah-mudahan besok udah lupa dengan peristiwa menyesakkan dada ini.

***

Akhirnya, aku tiba juga di kampung. Keluarga menyambut dengan antusias.
“Kenalin, Abah, Ibu, Teteh, ini Radit dan Fahri,” kataku memperkenalkan teman-teman.
Mereka bersalaman saling memperkenalkan diri.
“Besok masih ada temen Rafi yang mau datang,” lanjutku.
“Cewek, Pih?” tanya Abah.
“Iya, tapi nggak nginep di sini, kok,” kataku sambil mengingat cerita Dila.
“Ya, udah, ini Radit saama Pahri ajak ke kamar, Pih,” ujar Abah.
“Habis itu, makan, ya, anggap rumah sendiri,” sambung ibu.
“Jangan, Bu, nanti abah sama ibu dianggap orang tua sendiri juga ama si Radit,” sergahku.
“Ya, biar atuh ....”
“Masalahnya dia minta duit nanti, jatah Rafi berkurang, dong!”
“Haha, Rapih ... Rapih ....”
“Rafi, Bu, ef buka pe!”
“Halah!” Ibu mengibadkan tangannya.

***

Rumah lumayan ramai oleh keluarga dan tetangga yang bantu-bantu masak. Aku, Radit dan Fahri membantu Sebisanya. Mengangkat kardus air mineral, nganter kopi dan kue-kue buat yang kerja masang tenda. Sampai beli-beli kekurangan bahan hajatan, semisal tisu dan lain-lain.
Sampai menjelang sore, Dila datang bersama temannya, Santi. Aku memperkenalkannya pada abah dan ibu. Setelah itu mereka berdua ikut bantu-bantu juga.

‘Duh, si Kudil kelihatan rajin beud, dah, ketara bener mau mengambil hati kedua orang tuaku, hehe.’
Menjelang sore, aku mengajak teman-teman main ke sawah, yang ada sungainya. Tidak terlalu jauh dari rumah. Para petani sedang menggarap sawah. Sedang di sungai beberapa gadis sedang mandi. Teman-teman mengajakku main di pinggir sungai kecil berbatu-batu itu, tidak jauh dari lokasi gadis-gadis yang mandi.

Tidak lama teman-teman asyik merendamkan kaki mereka ke dalam air yang sejuk, sementara Fahri sudah nyebur ke air dan mandi. Dia mengambil lokasi yang agak jauh dari gadis-gadis. Sejenak aku mengamati Radit dan Dila, dua orang yang selalu punya beribu alasan untuk memperjuangkan perasaannya. Tidak seperti aku. Tiba-tiba aku ingat Hanna lagi. Seandainya saja aku punya sedikit keberanian menanyakan kabarnya.

Menepis bayangan Hanna, aku menyusul Fahri, ikut nyebur juga. Namun, beberapa saat membuka kaosku, terdengar gadis-gadis berteriak.
“A’a ... A’a!” Kakak, maksudnya ....
Aku menoleh, gadis-gadis yang lagi mandi menunjuk-nunjuk diriku. Akhirnya kupakai lagi kaosku. Gadis-gadis diam. Lalu kubuka lagi, eh mereka jejeritan lagi. Akhirnya aku nggak jadi mandi, takut keseksianku mengotori pikiran mereka. Haha!

Lagi asyik becandaan sama Radit, Kudil, dan Santi, ada seseorang memanggilku. Dengan pakaian yang setengah basah, rambut basah, aku meninggalkan teman-teman dan bergegas menemui orang yang memanggil. Takut kalau abah yang butuh bantuan anak bujang satu-satunya ini, plus ganteng, jangan lupa.

Tiba di dataran yang agak tinggi dan dikelilingi sawah, si Andi, anak berusia delapan tahun itu menunjuk ke arah jalanan tanah yang cukup lebar. Di sana berdiri dua orang wanita, yang satu agak gemuk dengan jilbab yang melambai ditiup angin, dan yang satu lagi ....
Aku berdiri sejenak sambil tersenyum, menetralkan detak jantung yang mendadak lebih cepat dari biasanya. Mendadak langit jingga berubah merah jambu, daun-daun kering yang berguguran ditiup angin serupa salju di tengah kebun bunga Sakura. Sejuk sampai menyentuh hatiku yang kering retak-retak bagai tanah sawah yang sekian bulan tak dialiri air. Membuatnya kembali utuh. Ah ... itu Hanna, sedang berjalan ke arahku dengan rambut kuncir satunya yang bergoyang karena langkah tergesa.

Aku cepat menyusulnya, takut sepasang kaki yang tak biasa berjalan di pematang itu tergelincir ke sawah.
“Pelan-pelan, ‘Nyah!”
Hanna berhenti sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Saat aku tinggal kira-kira lima meter darinya, Hanna kembali maju beberapa langkah dan terpeleset!
“Nah, kan saya bilang juga apa, Nyah, pelan-pelan, saya nggak mau megangin Nyonya, takut kena denda!”

Hanna tertawa, sambil menarik diri sendiri ke pematang.
“Iih ... Rafi perhitungan amat, aku udah jauh-jauh ke sini nyetir sendiri!”
Aku tersenyum sambil menunggunya menarik sebelah kaki ke atas. Lalu terduduk di pematang. Dan aku pun ikut duduk.
“Gimana ceritanya bisa sampai ke sini?”
“Aku bilang ke mama mau main ke kampungnya Bi Asih, itu ... yang nemenin aku. Beliau udah ikut mama sejak aku kecil ... rumah ponakannya Bi Asih nggak jauh dari sini!”
“Tau dari mana kalau aku di sini?”
“Dari temen-temen dan ibu kos kamu!”

Aku tertawa kecil, tak habis pikir, sekaligus senang, haru, jadi satu.
“Harusnya kamu nggak maksain diri ke sini, kan baru aja sehat, nanti sakit lagi gimana?”
“Nggak apa-apa, kok, aku udah sehat, malah di rumah terus bikin aku kayak orang sakit.”
“Wajarlah ... orang sakitnya pindah ke aku sekarang ....”
“Masa? Kamu sakit apa, Fi?” Wajah Hanna terlihat cemas.
“Sesak napas.”
“Kok, bisa? Kecapean kali?”
“Bukan ....”
“Terus ...?”
“Sesak napas, sebab separuh napasnya ada di kamu ....”
“Rafi! Ada-ada aja, kamu!” Hanna memukul pundakku dengan rona merah jambu di kedua pipinya.
Sumpah, berkali-kali dan gratis juga, aku mau!
Bersambung aaah ....
Duh, maaf ya kalau part ini kurang greget 🙏