KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 1
“Gila, masa usernya tante-tante semua, bro?” Kutatap layar laptop
dengan perasaan sedikit mulas. Langsung membayangkan seandainya aku jadi
berondong salah satu dari mereka.
“Katanya mau cari kerja yang cepet dapet duit banyak? Ini enak nggak pake skill, modal ngebucin aja sama antimo.” kilah Radit.
“Kok antimo?”
“Ya, kali aja abis ngebucin, elo mual-mual, hahaha!”
“Sialan, lo!” Aku sedikit bergidik membayangkannya.
“Udah, pilih aja salah satu tante-tante itu, itu satu-satunya cara buat nyari duit dalam tempo sesingkat-singkatnya!”
“Ya ... nggak kayak gini juga, kalik?”
“Lu pikir yang mau nyewa “Kekasih Bayaran” tuh cewek-cewek muda yang
bening, gitu? Sadar bro! Mereka nggak ngeluarin duit juga yang mau
gratisan, banyak! Malah si cewek yang dibayarin!”
Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Bener juga si Radit.
“Nggak ada yang nyelip satu gitu, yang mudaan dikit?” Aku melirik Radit
yang sedang asyik menyesap kopinya sambil melirik gadis-gadis di mall
ini.
Pemuda keriting itu hanya tertawa. “Setiap kerjaan punya risiko, bro! Kalau mau main aman kenapa nggak ikut Fahri aja dagang?”
“Gua butuh dana cepet soalnya!” Kembali terbayang biaya kontrakan dan
kuliah yang mendekati dead line. Belum lagi beli alat-alat praktikum.
Abah di kampung lagi sibuk menyiapkan dana buat pernikahan kakak
perempuanku. Aku harus mandiri.
Mulanya aku senang sekali dengan
ide Radit menjadi seorang kekasih bayaran kupikir pekerjaan yang mudah
dan dapat menghasilkan uang dengan cepat. Tapi saat melihat kenyataan
siapa saja yang bakal menyewa jasaku. Aku terpaksa berpikir tujuh kali
luas lapangan bola untuk mengambil pekerjaan ini.
“Gue ke atas bentar, sekalian ngambil mobil lu deh!” ujarku dengan pikiran buntu.
“Cepet amat udah mau pulang?” tanya Radit sambil menyerahkan kunci mobilnya.
“Pusing gua, laper juga nongkrong di sini Cuma minum kopi aja!” jawabku sambil ingat sambal ikan simba di kosan.
Biasalah bagi kami mall Cuma buat pencitraan saja. Apalagi Radit. Habis
foto dan upload ke medsos, dia bakal pulang ke rumah makan sambal teri
sama tumis genjer emaknya. Kadang aku juga makan di sana. Mobil? Itu
belalang tempur yang sama umurnya dengan usia Radit. Warisa satu-satunya
dari sang ayah.
Aku naik ke rooftop dengan perasaan campur aduk. Pusing, sedikit hampa memandang ke depan.
Sapuan angin menentramkan perasaan yang gelisah. Pemandangan langit
biru berawan membuatku sejenak berpikir bahwa harapan itu ada, seluas
cakrawala ini. Kuhirup udara dalam-dalam, kedua tangan masuk ke saku
celana. Kini jarak antara aku dan pinggir gedung ini hanya sejengkal. Di
bawah sana kendaraan menyemut di jalanan.
Setelah rasa gelisah
perlahan bisa netral, aku membalikkan badan. Tidak ada gunanya
berlama-lama di sini. Aku harus mencari alternatif lain secepatnya.
Tunggu. Aku menangkap pemandangan indah di salah satu sisi rooftop ini.
Di tempat yang agak meninggi. Sesosok gadis berdiri di pinggir gedung,
dengan dress berwarna gelap sedang menatap ke bawah. Rambutnya diikat
satu dan terlihat ikal. Bergoyang ditiup angin. Kedua tangannya memegang
besi penyangga pinggir gedung. Gelagatnya sungguh aneh.
Jiwa
kepatriotan hasil rajin mengikuti upacara bendera setiap hari Senin
selama bersekolah, membuatku berlari mendekati sang gadis. Semakin
menunduk gadis itu menatap jalanan yang ada di bawah, semakin cepat
langkah kakiku. Aku harus selamatkan dia dari niat buruk. Hatinya pasti
sudah dikuasai setan sampai-sampai mau bunuh diri seperti itu.
“Berhenti, Mbak!” teriakku sambil menarik tangannya tepat saat satu kakinya melangkah maju satu jengkal.
Tampaknya si Mbak terkejut, menoleh, dan hilang keseimbangan. Tubuhku yang tidak berdiri dengan posisi mantap, ikut limbung tak kuat menahan si gadis. Kami sukses jatuh dengan posisi dia tepat berada di atasku.
Mata si gadis terbelalak saat menatapku. Tepat saat itu ada suara ya g berteriak di dekat kami.
“Hanna! Elo?”
Gadis di atasku segera bangkit dan merapikan pakaiannya, tergagap di hadapan beberapa gadis lainnya.
“Ini ... anu ... e ....” Ia juga terbata.
Aku buru-buru berdiri.
“Kita tungguin lo di bawah, nggak taunya malah mesra-mesraan di tempat sepi begini,” kata salah satu dari mereka.
“Jadi ini pacar baru yang elo tungguin dari tadi? Kirain elo bohong” sambung cewek berbaju biru.
“Akhirnya elo bisa juga ya punya cowok singel kayak yang lo ceritain."
Aku mencoba mencerna kalimat-kalimat mereka. Si Hanna, bilang sama
temen-temnnya kalau dia lagi nunggu cowok. Nah, yang belum jelas,
beneran ada nggak, cowoknya ini, atau dia bohong, makanya menyendiri di
rooftop.
"Kenalin, gue Syifa, temennya Hanna, “ ujarnya menyalamiku.
“Rafi.”
“Dona.”
“Rafi.”
“Cici.”
“Rafi.”
Satu per satu para cewek ini memperkenalkan diri tanpa memberiku
kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi? Sementara si gadis yang
mau bunuh diri juga hanya berdiri di sana dengan mulut menganga.
“Kita tungguin di bawah, ya!” teriak Dona sambil berbalik badan dan melambaikan tangan.
Aku hendak memanggilnya tapi satu cewek yang mereka panggil Hanna tadi
cepat berdiri di depanku sambil ... melotot! Astaga! Pasti dia marah
sebab telah menggagalkan niat bunuh dirinya tadi.
Ya Allah, dia nggak tau apa kalau itu sungguh perbuatan yang tercela?
“Kalau ada masalah sebaiknya bicarakan baik-baik, Mbak, apalagi punya
banyak teman seperti tadi, harusnya Mbak bisa curhat sama mereka, bukan
memendam masalah sendiri dan memilih untuk mengakhiri hidup ...,”
kataku.
“Hei, Rangginang gosong.”
“Rafi, Mbak.”
“Iya, Rafi, Rafa, Rara atau siapa pun Anda ... jangan suka sok tahu urusan pribadi orang, ya!”
“Mengingatkan dalam kebaikan itu tugas kita sebagai manusia, Mbak,
siapa pun harus mencegah seseorang yang mau bunuh diri seperti Mbak tadi
....”
“Yang mau bunuh diri itu, siapaaaa? Malih Tong Tong?” Ia menangkupkan tangan ke kening lalu betbalik 180 derajat.
“Jadi?”
“Jadi jangan sok tau, deh! Aku itu lagi pengen sendiri aja di sini, nggak mau bunuh diri, paham?” Ia kembali menatapku.
“Kenapa kamu pengen sendiri saat teman-teman kamu sedang menunggu di bawah?”
“Ya iyalah, aku pengen sendiri, mereka lagi nungguin cowoknya, lah aku nungguin siapa?”
Aku tercenung beberapa saat. Otakku langsung berpikir cepat. Aku harus mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Kalau begitu, Mbak bertemu orang yang tepat.”
“Maksud kamu?”
“Perkenalkan, saya Rafi, mahasiswa semester akhir, sekaligus ... seorang kekasih bayaran!” Mantap aku mengulurkan tangan dan memasang tampang ganteng maksimal yang kupunya.
Sejenak Hanna menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Saat
sepasang kejora indah bulat sempurna itu tepat menatap mataku. Aku
tersenyum dengan sedikit dibuat-buat agar terlihat manis.
Yeah
... usaha gitu, loh. Seenggaknya walaupun cewek ini galak, dia bukan
tante-tante seperti user di situs kekasih bayaran tadi. Entah dia jomlo
atau sedang berantem sama pacar. Yang jelas dari kata-katanya barusan,
dia sedang sendiri.
“Aku bisa jadi pacar Mbak dengan bayaran yang
sesuai ... apalagi teman-teman mbak sepertinya menyangka seperti itu,”
kataku sambil menyugar rambut sok ganteng, lalu menyelipkan tangan di
saku jeansku.
Hanna diam sebentar.
“Gini deh, namanya
kerja itu kan ada masa percobaan, kan? Nah, aku bakal bayar kamu kalau
akting kamu sukses sore ini di depan temen-temen aku tadi.”
“Ashiap, Nona,” jawabku sambil menyampirkan siku ke penyangga besi
sambil tersenyum beberapa detik sebelum sikuku terpeleset dan terpaksa
aku berhenti senyum.
“Kalau sukses, aku akan bikin kontrak sama kamu. Tapi identitas harus lengkap!”
“Siap!”
“Oke! Folow me!”
“I follow you ....” Aku berjalan di belakangnya.
***
Namanya juga magang, biar keterima, ya harus lebay-lebay dikit lah.
Hanna mau minum, aku pesenin, mau makan aku ambilin, dia nyobain sepatu,
aku pakein, dia ke toilet ... aku ... ya nunggu di luar lah. Sampai
temen-temennya dijemput sama para pacar mereka. Kami akhirnya mengakhiri
sandiwara ini.
Kami duduk berhadap-hadapan di sebuah cafe. Sambil memesan minuman, Hanna meminta kertas dan pulpen pada pramusaji.
“Oke, dengan melihat hasil kerja kamu ... aku mutusin buat
memperpanjang kontrak kerja kita,” kata Hanna. “Ini kertas buat kamu,
tulis syarat-syaratnya, ini kertas aku, aku bakal tulis
syarat-syaratnya,” lanjutnya.
“Aku ikut aja,” kataku sambil menyesap jus pesanan Hanna. Lalu, menunggu gadis itu menulis.
Sesuai permintaan, aku keluarkan KTP, SIM, kartu mahasiswa. Menyusul KK
yang Hanna minta dan kebetulan ketinggalan di kontrakan.
Hanna
menyerahkan secarik kertas berisi delapan poin yang akan kami sepakati.
Umum, sih isinya. Nganter jemput, ngerjain tugas. Nemenin belanja, pergi
ke pesta. Anter-anter barang dia. Full kerja sesuuai panggilan dia. Ya,
beda-beda dikit sama asisten rumah tangga. Haha, nasib. Intinya Hanna
menyewaku dua bulan, dengan total bayaran sepuluh juta. Lima juta di
awal. Wow, aku langsung setuju lah.
“Baca syarat-syaratnya, jangan duitnya doang!” kata Hanna. “No kontak fisik!”
“Siap ... eh, kalau kamu yang pegang-pegang aku gimana?”
“Ih ....” Hanna mencebik.
“Ya, siapa tau?” jawabku tak bisa menahan tawa.
“Aku yang bayar, dua ratus ribu sekali sentuh!”
Aku tertawa, rezeki nomplok.
“Tapi kalau sampai ketahuan di depan orang-orang yang aku pengen mereka
tau kita pacaran, kontrak batal dan kamu dipecat tanpa pesangon!”
“Oke! Nggak masalah! Ada lagi?”
“Nggak pake perasaan, kalau sampai pakai rasa, perjanjian batal!” katanya memasang wajah jutek.
Wah, songong betul cewek ini kayal dia yang paling cantik aja padahal iya. Haha.
“Oke!”
Kami menempelkan materai dan menandatangani surat itu. Membuatnya dua
rangkap, masing-masing untuk disimpan di tempat rahasia. Hmm ....
“Tugas selanjutnya ....”
“Siap, Bos.”
“Temani aku ke pesta ulang tahun mantan ... hmm bukan mantan sih,
sebenarnya, kami nggak ada kata-kata putus, tiba-tiba ada kesalahpahaman
dan kami hilang kontak begitu saja.”
Aku manggut-manggut. Sepakat kalau gadis seperti ini nggak mungkin dianggurin.
“Tapi kamu harus ke salon dulu dan tentang kostum, biar aku pilihkan. Besok temui aku di alamat ini. Kamu bisa bawa mobil?”
Aku mengangguk.
“Oke. Kita awali kerja sama kita.” Hanna mengulurkan tangan, aku menyambutnya mantap, sebelum akhirnya berpisah.
Ponsel di saku celana tiba-tiba bergetar. Astaga Radit!
“Lo di mana, bro? Ngambil mobilnya ke kutub?”
“Oke, oke, ntar gua jelasin, tuggu aja di depan, oke!”
-----
KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 2
Aku duduk di kursi besi koridor kampus saat Radit tiba dan menyapa.
“Tumben nggak nebeng gue?” Si keriting ikut duduk di sebelahku.
“Gue mau pulang duluan, entar, ada kerjaan.”
Radit menepuk pundakku, dengan tatapan menjijikkan, dia berkata.
“Akhirnya lo udah mutusin, bro?” Kini matanya sedikit berbeling-beling,
sebab jika dikatakan berkaca-kaca itu terlalu indah untuk ukuran Radit.
Hah, sorry. “Lo harus kuat, bro. Walau ini sebuah kenyataan pahit, lo
tetep harus jalani.”
Dahiku mengernyit sambil menyibak tangannya
di bahuku yang mungkin menurut Radit adalah ungkapan empati yang tulus.
Tapi bagiku, sedikit meng-eneg-kan.
Pemuda yang tingginya sebatas telingaku ini menarik napas panjang. Wajahnya seperti sedang sangat iba.
Sekali lagi, dia menepuk bahuku sok dewasa. “Sabar, ya, ini nggak akan
lama, setelah kontrak selesai, lo bisa dapat uang dan lari
sejauh-jauhnya dari si tante ini.”
Aku tergelak. Namun, beberapa
detik kemudian, wajahku berubah serius, menatapnya. Menangkupkan kedua
telapak tangan di wajah Radit yang sedikit berjerawat.
“Nggak,
bro, gue akan serius di kerjaan ini, setelah sukses meraup keuntungan
dari tante ini, gua akan beralih ke tante-tante yang lain!” ujarku mantap menatapnya.
“Serius, bro?” Radit terbelalak, suaranya meninggi.
Tepat saat itu kutoyor jidatnya dan mengubah raut wajah seriusku dengan
santai seperti biasa. “Lo kira gue cowok apaan?” jawabku membuang
pandangan ke rerumputan.
“Jadi maksud lo ada kerjaan, kerjaan apa, bro?”
“Nanti deh gua ceritain.”
“Assalamualaikum.” Sebuah suara menyapa kami, itu Fahri, pemuda hitam
manis dengan janggut tipis dan kacamata minimalis yang selalu tersenyum
manis.
Entah kenapa jika teman kami yang satu ini menyapa bagai
ada aura hangat yang melingkupi. Membuat aku dan Radit refleks berdiri
menyambutnya berpelukan dan menjawab salam.
“Gimana, Fi, udah dapet kerjaannya?” tanya Fahri seraya duduk bersama kami.
“Udah,” jawabku sambil tersenyum masygul.
“Alhamdulilah, semoga berkah, ya, Fi.” Fahri tersenyum menepuk-nepuk
pundakku. Rasanya sungguh berbeda dengan tepukan si Radit. Aku malah
memikirkan dengan dalam kalimatnya. Berkah? Apakah pekerjaanku ini
berkah?
“Tapi kalau suatu saat kamu berubah pikiran, kami masih sangat membutuhkan kamu, Fi,” sambung Fahri.
Aku mengangguk, ingat beberapa hari yang lalu ia menawarkanku ikut
proyek penampungan sampah kering yang dipadatkan dan dipasarkan dalam
bentuk yang lain.
Fahri balas dengan senyum seperti biasa. Tepat
saat itu, mahasiswa lain berbondong-bondong masuk kelas. Rupanya di
ujung koridor, dosen sudah berjalan menuju sini. Kami bertiga ikut dalam
kerumunan itu.
***
Setelah kuliah, aku memacu skuter
kesayangan ke alamat yang diberikan Hanna kemarin. Sebuah apartemen
berlantai banyak, yang menurutku cukup mewah. Bersih, asri, ada kolam
renangnya kalau kulihat dari sini. Perkiraanku Hanna tinggal sendiri
jika ia memilih tempat ini.
Beberapa menit kemudian gadis itu
turun. Hari ini dia berpakaian cukup santai, dengan jeans dan sweater
lengan panjang. Tas kecil di dalam jinjingan, dan sepatu kets. Yang tak
berubah, rambutnya tetap kuncir satu di atas, menjuntai dan sedikit
bergelombang. Dan wajahnya nyaris tanpa riasan.
“Ayo.” Seperti biasa ia memerintah tanpa senyum. Berbalik badan dan jalan di depan. Rambutnya bergoyang-goyang.
Ugh, untung tajir, kalo engga ... pasti masuk daftar nomor satu cewek yang haris dijauhi abad ini.
Hanna berhenti di depan sebuah mobil hitam yang jika dibandingkan
dengan milik Radit bagaikan langit dan bumi, di mana buminya itu di
bagian comberan aliran pasar ikan.
Waktu Hanna memberikan kunci
mobilnya, hatiku berdebar-debar, bagaimana jika kubawa lari saja mobil
ini dan kutinggalkan Hanna. Yeah ... enggak mungkin, lah.
Aku
terpana, gaes ... mobilnya sungguh aduhai, sebelum menyalakannya aku
sempat mengelus beberapa bagian yang mulus dan mengkilap.
Lalu
setelah beberapa detik, aku menunggu Hanna tak juga duduk di sebelah,
atau di belakang. Aku sedikit terkejut melihatnya berdiri di luar. Apa
aku tak menyadari sesuatu? Ya, dia Hanna, bukan Radit. Haha.
Kubuka pintu, memutari bagian depan mobil dan membukakan pintu yang satu
lagi untuk Hanna. Lalu tanpa senyum gadis itu masuk dan duduk.
Baiklah, nyonya, saya akan melayani Anda.
Kami tiba di sebuah butik yang bersebelahan dengan salon. Hanna masuk
dan langsung menyuruh seseorang untuk menata rambutku. Walau agak
keberatan, aku turuti saja, demi sepuluh juta.
Selesai urusan rambut, Hanna mengajakku ke butik. Disuruhnya aku mencoba beberapa setel jas. Dengan wajah datar, ia memerintah.
“Nih, coba.”
Aku keluar kamar ganti.
“Puter.”
Aku memutar badan.
“Maju.”
“Mundur.”
“Ganti.”
“Puter abis.”
Pokoknya Hanna sore ini persis tukang parkir. Berhubung gadis sombong
itu yang bayar, aku menurut saja. Sambil berdoa dalam hati semoga proses
memilih pakaian ini segera berakhir. Secara tubuhku kan proporsional,
kurasa tidak akan sulit menemukan setelan yang pas.
Setelah
selesai, aku disuruh Hanna menunggu dirinya di sebuah ruangan. Banyak
majalah fashion di sini, sebenarnya aku tak begitu tertarik. Tapi saat
melihat di satu cover, modelnya sangat seksi. Kuambil juga majalah itu
setelah lirik kanan kiri dan memastikan tidak ada yang melihatku.
Hanna lama sekali, aku sampai mengantuk. Ditambah udara dari pendingin ruangan yang seakan-akan meniup kelopak mataku.
Bodo amat ah, kalau aku ketiduran juga pasti dibangunin.
Saat itu aku bermimpi bertemu dengan bidadari cantik yang memintaku
mengantarnya ke kahyangan dengan pegasus. Aku tersenyum lebar sambil
menyanggupinya.
“Ayo berangkat!” Sebuah suara mengagetkanku. Kenapa bidadari suaranya cempreng sekali?
“Rafi!”
“Siap, Nya!”
“Ayo! Malah tidur lagi di sini!”
Aku berdiri sambil menunduk, mengelap sedikit liur di ujung bibirku yang seksi.
Hanna cantik, gaunnya berwarna lembut sebatas lutut dengan kerah pas di
dadanya. Potongan gaun tanpa lengan yang cukup sopan. Tapi saat dia
berjalan mendahului, mataku membulat melihat bagian belakang tubuhnya
yang beda tipis sama kolong wewe. Terbuka dari atas sampai pinggang.
Bedanya ini tidak berdarah-darah tapi mulus tanpa cela!
Aku menelan ludah. Moga-moga aja Hanna khilaf kontak fisik kali ini. Haha!
***
Kami tiba di sebuah rumah mewah bertingkat tiga dengan halaman sangat
luas. Terus berjalan ke arah samping di mana sebuah kolam renang
menghiasi tengah-tengah taman yang asri. Pinggirannya tersusun rapi
lilin-lilin dengan ukuran besar. Di bagian yang tidak berpaving, rumput
gajah kecil menyembul dengan tinggi yang sama.
Di satu sudut ada
sebuah panggung kecil berhias bunga, di sebelahnya oskestra atau –entah
apa namanya—tak berhenti mengalunkan musik. Meja-meja bundar yang
dikelilingi kursi disusun di teras. Dominasi warna di sini putih,
demikian juga lampion yang tergantung bagai terbang. Cahayanya mulai
terang sebab malam mulai datang. Intinya, apik, eksklusif, dan elegan.
Tamu sudah banyak yang datang. Beberapa gadis menyapa kami. Salah satu di antaranya Dona, hanya itu yang kuingat.
Tidak lama kemudian, Hanna bergabung dengan teman-teman wanitanya.
Acara demi acara pun dimulai. Aku mendekati meja dan mengambil beberapa makanan, lalu duduk bergabung dengan tamu lain.
Sambil menikmati hidangan yang nggak akan mampu dibikin oleh emaknya
Radit, aku terus mengamati Hanna. Aku dibayar untuk jadi kekasihnya,
jadi harus bisa di posisi itu sekarang.
Tidak begitu beda
sikapnya saat bersama denganku. Hanna tipe gadis yang jarang sekali
tertawa. Lihat, saat teman-temannya membicarakan entah apa dan tergelak
bersama, Hanna hanya menunduk dengan senyum tertahan. Entah apa yang ada
dihatinya. Merasa sulit tersenyum mungkin. Sebab di sudut sana,
seseorang yang dikatakannya mantan tetapi belum putus itu, sedang
berdiri bersama wanita lain.
Beberapa cowok mendekati Hanna dan
teman-temannya. Mereka berbincang-bincang, akrab, kecuali –tentu
saja—Hanna. Ia lebih banyak diam, menggeser sedikit tubuhnya jika ada
cowok berusaha mendekatinya. Saatnya aku beraksi.
Kudekati Hanna
sambil tersenyum penuh rasa percaya diri. Memperkenalkan diri sebagai
pacarnya di depan para lelaki itu. Nasib baik, Hanna merangkul tanganku.
Dalam hati aku berlonjak bahagia. Dua ratus ribu. Haha!
Hanna
kemudian menggenggam tanganku menjauh dari teman-temannya. Apa ini
artinya empat ratus ribu? Aku jadi sibuk menghitung berapa kali ia
menyentuhku. Lalu apa yang terjadi kalau aku balas menyentuhnya?
Jangan-jangan honornya dipotong?
Aku nggak berani ah, balas megang-megang Hanna. Mending megang duit.
Kami berhenti saat berpapasan dengan seorang lelaki tinggi berwajah
oriental. Sejenak Hanna menghentikan langkah, terpana. Yeah, aku tahu
siapa lelaki ini, dia yang sedang berulang tahun.
“Apa kabar?” tanya lelaki itu pada Hanna.
“Baik.” Hanna mulai merangkul tanganku lagi. Bibirku hendak tersenyum
lebar. Asiiik enam ratus ribu. Tapi langsung menyadari keadaan dan
memasang tampang berwibawa di depan cowok ini.
“Rafi,” kataku mengulurkan tangan.
“Daniel,” jawab lelaki itu. Sejenak ia tertegun memasukkan tangan kiri
ke kantung celana dan tangan satunya mengelus dagu. Seperti sedang
berpikir.
Lalu datanglah seorang wanita tinggi bak model mendekati Daniel, tanpa senyum ia menarik lengan pemuda itu untuk mengikutinya.
“Ayo, Sayang, tamu yang lain menunggumu,” kata si wanita.
Keduanya berlalu dari hadapan kami. Hanna melirik sebentar ke arah dua
sejoli itu. Lalu melepaskan rangkulannya. Ia berjalan ke arah meja dan
mengambil segelas minuman berwarna bening kekuningan. Jelas itu bukan
teh.
Kelihatan sekali raut wajah Hanna berubah. Ia sedang kesal,
menahan amarah. Maka sebelum ditenggaknya minuman itu aku meraih
tangannya, menarik gelas tinggi dari genggaman Hanna dan menggantinya
dengan gelas berisi jus. Matanya seketika tajam menatapku. Ia tak suka.
“Kamu tahu apa risiko menyentuh tanganku?”
“Apa?”
“Potong gaji! Sekali aku nyentuh kamu dua ratus ribu. Sekali kamu nyentuh aku potong bonus dua ratus ribu.”
“Iya, nggak apa-apa,” jawabku santai, menyembunyikan perih di hati,
meringis membayangkan dua ratus ribu yang bisa buat beli beras sepuluh
kilo dan daging, raib. Atau bisa buat nraktir Radit ell’s coffee buat di
upload di sosmed. Hiks!
Hanna melewatiku, berjalan dengan
tatapan kosong di pinggir kolam renang. Tepat saat itu irama musik
berubah ngebit. Para tamu bersorak dan mengikuti. Sebagian meninggalkan
meja. Lalu bergabung dengan tamu lain di dekat panggung. Tampak yang
sedang berulang tahun sedang bagi-bagi doorprize.
Suasana jadi
gaduh. Orang-orang berkerumun, aku jadi kehilangan Hanna. Tersenggol
orang terus mental ke mana mungkin si Hanna ini. Aku menyibak kerumunan
sampai menemukan pacar pura-puraku itu terdesak beberapa orang di
pinggir kolam. Saat aku belum tiba di sana, tubuh Hanna lebih dulu oleng
dan tercebur ke dalam kolam.
Tanpa pikir panjang aku menceburkan
diri. Entah Hanna bisa berenang atau tidak, penting untuk menyelamatkan
harga dirinya saat ini. Ah Hanna, sial sekali nasibmu malam ini.
Air yang dingin membasahi seluruh tubuh dan pakaian baruku. Tak perlu
waktu lama aku menangkap tubuh Hanna yang bergerak-gerak panik di air.
Sempat terpikir honorku akan dipotong lagi, tapi cepat kutepis, demi
menyelamatkan Hanna.
Segera kubawa ke atas permukaan tubuh Hanna.
Musik telah berhenti. Semua mata tertuju pada kami –kukira. Seorang
pemuda berlari dengan wajah panik ke arah kami. Itu Daniel, yah,
kelihatannya dia khawatir sekali melihat keadaan Hanna yang
terbatuk-batuk.
Cepat-cepat Daniel membuka jasnya dan menutupi tubuh Hanna.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Daniel dengan wajah cemas.
“Hmm ...,” jawab Hanna mengangguk.
“Masuklah dulu ke rumah, ganti pakaianmu,” tawar Daniel.
Aku menatap wajah Hanna, jika dia setuju aku akan mengantarnya, dari
pada pulang dengan pakaian basah seperti ini. Tapi Hanna menggeleng dan
menatapku, memegang erat kedua bahuku.
“Kita pulang aja, Fi, aku malu,” bisiknya.
Aku mengangguk. Dengan tertatih Hanna bangkit, sedikit sulit berjalan.
Maka kubantu ia melepaskan sepatu high heel-nya dan memapah Hanna menuju
mobil.
Hanna tak berhenti bersin, jujur aku sangat kasihan
melihatnya. Kupacu mobil agar tiba dengan cepat di apartemen. Setelah
sampai, aku menemaninya ke atas, dan Hanna tidak menolak.
Benar
dugaanku, Hanna tinggal sendiri. Rumahnya rapi, ukurannya cukup besar
untuk ditinggali seorang diri. Tanpa disuruh, aku masuk.
“Ganti baju dulu, sana,” kataku.
Sementara itu aku menyeduh teh untuknya.
Hanna keluar dengan celana pendek dan sweater. Duduk di kursi makan
berhadapan dengan teh yang baru saja kubuatkan, rambut basanya digulung
ke atas tak beraturan, tapi tetap membuatnya terlihat cantik. Disesapnya
cangkir berisi teh yang masih mengepul dengan kedua tangan.
“Makasih,” katanya.
Hanna lalu melirik ke arah jas yang kusampirkan di kursi. Ia berdiri
dan meraih jas itu dengan penuh emosi lalu membantingnya ke lantai.
Aku hanya diam, sambil berpikir, mungkin masih ada sisa-sisa cinta
antara Hanna dan Daniel, saat kulihat tatapan keduanya di pesta tadi.
Tapi ada sesuatu yang melukai Hanna sehingga ia marah seperti ini.
Apakah ia cemburu? Atau ada masalah lain? Aku tak berani bertanya lebih
jauh. Tentu saja aku tahu posisiku.
Hanna berjalan menuju
kabinet, membuka tutup bagian atss dan mengambil satu cup mie instan.
Aku mendekatinya. Mungkin Hanna lapar, membiarkannya menyeduh mie cup
itu dalam kondisi marah, bisa jadi membahayakan. Jadi, aku berniat
membantunya. Dan aku sedikit kaget melihat isi lemari makannya yang
dipenuhi aneka rasa mie instan.
Astaga, aku aja yang cowok, rajin masak, gitu, loh!
Hanna menuang air panas dengan asal, lalu berusaha memasukkan bumbu. Apa kataku, dia sama sekali tidak konsentrasi.
“Ini mie goreng, Nya, airnya dibuang dulu,” kataku.
Aku meraih cup mie dan meraciknya. Hanna meninggalkanku menuju meja makan.
Setelah selesai, aku menyusul dan meletakkan mie di depan bosku itu.
“Ini honormu, ambil, dan pulanglah,” katanya menggeser beberapa lembar
pecahan seratus ribu. Lalu, Hanna melahap mienya dengan cepat.
Aku mengambil uang itu, walau meninggalkan Hanna seperti ini membuatku kasihan padanya.
“Maaf aku nggak punya baju cowok, kamu harus pulang dengan pakaian basah begitu.”
“Nggak apa-apa.”
“Tolong bawa jas itu juga!”
“Nggak mau ditinggal di sini aja buat kenang-kenangan?”
“Nggak ... nggak mau,” jawab Hanna dengan mata memerah, dan aku tahu
betul itu bukan karena ia kepedasan. Mungkin sudah sejak tadi dia
menahan tangis.
Benar, setitik bulir bening mengalir di pipinya. Tapi ia terus melahap mienya dengan cepat.
Aduh, mau pulang, aku kan jadi teu tegaeun (nggak tega). Aku harus
bagaimana? Pelajaran bagaimana menghentikan cewek nangis nggak aku
dapatkan selama bersekolah. Dan abah juga nggak pernah ngajarin. Ia
hanya memberi ibu uang kalau ibu nangis. Kalau mau begitu kan nggak
mungkin, secara Hanna yang ngegaji aku. So, aku harus gimana?
Aku kembali duduk setelah memungut jas milik Daniel. Dengan ragu kukembalikan uang dua ratus ribu ke dekat Hanna.
“Kenapa?” tanya Hanna dengan suara bergetar menahan tangis.
“Kalau aku nyentuh kamu, honornya dipotong, ‘kan?”
Hanna mengangguk, setetes air matanya jatuh ke dalam cup mie. Sumpah,
aku nggak tega. Dan inilah alasanku mengembalikan dua ratus ribunya,
agar bisa menghapus air mata itu, dengan jariku. Ya, aku menyentuhnya
sekali lagi. Hanna tampak terkejut, sepasang kejora bulat sempurna yang
ditutupi kaca-kaca itu makin membuatku iba. Ia hanya diam, dan aku
menerka-nerka apakah setelah ini akan kena tampar? Lalu setelah beberapa
detik, Hanna menunduk dalam.
“Besok, aku mau main ke kampusmu, sekarang pulanglah,” katanya.
Bersambung.
Selanjutnya>>
-----
KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 3
Pagi yang cerah. Setelah kedinginan sebab memakai pakaian basah hampir
tiga jam, ditambah mengendarai motor setengah jam, Alhamdulilah aku
sehat-sehat saja. Siap mengikuti kuliah pagi ini.
‘Rafi, hari ini aku minta anter ke toko buku, ya. Nanti aku jemput di kampus.’ Hanna mengirim pesan.
‘Siap, Nya!’ jawabku.
Dalam hati aku berpikir, sebenarnya Hanna ini orang yang seperti apa?
‘Karena kalau aku, nih, ke toko buku, ya, pergi aja sendiri, kenapa
harus ditemenin? Mungkin cewek beda kali, ya?’
Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di kampus, langsung bergabung bersama beberapa teman, di sana juga ada Radit, Fahri, dan Dila.
“Hai!” sapaku.
“Assalamualaikum,” ucap Fahri disambut salam teman-teman yang lain.
Aku tersenyum malu. Lalu mengalihkan perhatian ke arah Dila. “Dil takudil kudil!”
Yang disapa malah senyum malu-malu, menunduk seolah-olah kalimat itu
adalah pujian. Padahal lidahku hanya latah saja saat menyebut namanya.
Kebiasaan.
“Jangan mau digodain Rafi, Dil, dia kan terkenal tukang PHP,” sergah Radit.
Aku hanya tersenyum tak menanggapi. Kalau kuperhatikan memang Radit
sedikit jaim jika di depan Dila, beda saat dengan cewek lain.
Hari ini praktikum, sementara praktik sebelumnya aku belum selesai buat
laporan, tinggal sedikit lagi. Aku buru-buru mengerjakannya di sela-sela
menunggu dosen.
“Sini aku tulisin,” kata Dila.
“Wah,
makasih, ya!” Aku nggak nyia-nyiain kesempatan, dong. Terlihat Radit
manyun menatapku. Aku hanya tertawa melihatnya, lalu memegangi catatan
Dila sebagai contekan.
***
Praktikum kali ini berjalan
lama. Aku sampai kelaparan dibuatnya. Untunglah punya anggota kelompok
yang ulet semua, Fahri dan Dila benar-benar bisa diandalkan. Aku dan
Radit sangat beruntung.
Setelah beberapa jam, akhirnya selesai
juga. Aku dan teman-teman keluar gedung. Fahri mengajak kami salat
dzuhur di masjid sebelum ke kantin. Hingga selesai dan berjalan bertiga
keluar masjid, ternyata Dila masih menunggu.
Jika tak salah
terka, gadis itu sempat beberapa detik menatap wajahku dengan binar mata
yang –mengingatkanku pada Radit saat melihat artis idolanya, Agnes Mo.
Yeah, memang, sih, kata orang-orang, cowok yang baru keluar masjid itu
kegantengannya naik rata-rata 40%. Tapi anehnya yang diliatin dengan
pandangan kagum itu cuma aku, doang. Fahri dan Radit, enggak. Hehehe. Ya
Allah, maafkanlah kenarsisanku.
“Kok masih di sini, Dil?” tanya Radit. Sementara itu Fahri pamit. “Mau bareng ke kantin?” lanjutnya semringah.
Dila hanya menunduk, kurasa dia memang menungguku, eh, kami. Tanpa
dikomando, langkahnya mengiriku dan Radit. Beberapa saat kemudian kami
duduk di bawah pohon beringin besar. Di kursi plastik yang melingkari
sebuah meja bundar. Masing-masing lalu memesan makanan.
Aku
mengecek ponsel. Astaga! 20 panggilan tak terjawab? Dari Nyonya besar
pula! Aduh, aku benar-benar lupa. Pundi-pundi uangku jangan kau
tinggalkan diriku ....
“Halo?” aku menelepon Hanna.
‘Rafiii ...!’
Aku sedikit menjauhkan ponsel dari telinga. Suaranya benar-benar cocok dipakai untuk jualan tahu bulat tanpa speaker!
‘Aku pecat nanti kamu, ya!’
“Maaf, ‘Nya, maaf ....” Aku berdiri dan sedikit menjauh dari teman-teman. “Kamu di mana?”
Hanna menyebutkan sebuah tempat dan aku bergegas ke sana setelah
berpamitan dengan Radit dan Dila. Dua orang yang ekspresinya sangat
berbeda saat kutinggalkan. Dila yang sepertinya kecewa dan Radit yang
tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.
***
Hanna
terlihat sedang menikmati semangkuk soto. Di sampingnya tiga gelas
kosong, hanya menyisakan es batu. Di dekat gelas ada sepiring siomay
yang tinggal bumbunya. Sepertinya bosku, yang body sedan muatan tronton
ini, memang sudah sangat lama menunggu.
Aku duduk di depannya
sambil tersenyum. Tapi Hanna sama sekali tak membalas. Ia
bersungut-sungut, jelas sekali kalau dia sedang kesal.
“Lama bener, sih!”
“Maaf ...,” kataku mencoba mencairkan suasana.
Hanna menghentikan aktivitas makannya. “Hayuk!” perintahnya.
Aku memaksakan senyum mengikutinya membayar di kasir. Kutahan perut
yang mendendangkan seriosa di dalam sana. Tapi, tak tahan juga melihat
bakwan jagung yang seolah-olah melotot di atas meja, akhirnya kucomot
juga. Lalu saat Hanna melirik, aku mengangkat bakwannya minta dibayarin.
“Kamu belum makan?”
Aku menggeleng sambil nyengir dan berdoa dalam hati semoga jiwa kemanusiaan gadis cantik ini tergerak.
“Ya, udah, sana makan dulu, mau makan apa?” kata Hanna sambil
mengeluarkan selembar rupiah berwarna merah. Sempat mengintip sedikit,
masih banyak teman-teman merah lainnya di dalam dompet.
Mataku membulat auto berubah “ijo”. Aneh, duitnya warna merah tapi mata berubah hijau. Mungkin ini yang dinamakan mata duitan.
“Sekalian, Pak, sama mas ini,” kata Hanna.
“Cie ... ‘Mas’ ...,” kataku, “jadi pengen pake blangkon.”
“Cepet, ya, Fi!” Seperti biasa Hanna memerintah, lalu berjalan lebih dulu ke meja.
Aku makan di hadapannya. Sedangkan dia asyik mendengarkan lagu.
Biasanya gadis-gadis lebih suka mengutak-atik ponsel berselancar di
dunia maya. Tapi Hanna berbeda, dia tampak menikmati alunan musik sambil
mengetuk-ngetuk jari di meja.
“Gimana kalau nggak usah ke toko buku? Aku anter ke perpustakaan sini aja, ya.”
“Kok kamu ngatur-ngatur, sih?”
“Perpus sini lengkap, kok.”
“Pasti kamu males nganterin, ya?”
“Enggak, cuma aku ada kuliah lagi habis ini, pentiiing ... banget.”
Hanna cemberut.
“Bukunya buat apa? Tugas ya?”
Gadis itu mengangguk.
“Nanti aku bantuin, deh, bikin tugasnya,” janjiku mencoba meyakinkannya.
***
Lalu, di sinilah aku sekarang, berjalan mengekori Nyonya Besar.
Membawakan buku-buku yang dipilihnya, kadang mengambilkan buku yang
terlalu tinggi dan tak mampu Hanna raih dengan tinggi badan hanya
sebatas bahuku.
Seperti biasa rambutnya yang dikuncir satu
bergoyang-goyang saat ia berjalan. Pakaiannya hari ini cukup girly
dengan rok selutut dan kemeja pink sebatas siku. Ia mengenakan sepatu
flat dan tas cangklong polos. Untuk ukuran cewek yang bawa duit segepok,
penampilannya sederhana.
Hanna mengambil tempat duduk di pojok
dan mulai membaca-baca buku, memindahkan ke catatan atau memfotonya. Dia
minta aku mencari beberapa materi tentang keuangan. Ternyata aku tak
cukup membantu. Jelas sekali bidang keilmuan kami sangat berbeda.
Hampir satu jam Hanna konsentrasi mengerjakan tugasnya dan aku mulai
gelisah. Beberapa kali melirik jam di ponsel. Mau pamit tapi takut
gajiku dipotong. Sementara dosen menjanjikan ujian.
“Han, aku tinggal sebentar boleh, nggak?”
Hanna diam sambil tetap membaca. Aku jadi makin gelisah.
“Bentaaar ... aja, ya, ya ....”
“Awas kalo lama!”
“Siap, Nya!”
‘Perpustakaan dan gedung C fakultas teknik itu jauh banget, guy’s.
Lumayan bikin aku keringetan lari-lari. Demi masa depan. Sampai di
kelas, ujian sudah dimulai.’
“Maaf, Pak, saya terlambat.”
“Iya, saya tau kamu telat, telatnya kenapa?”
“Habis kerja, Pak.” Dalam hatiku bingung juga kerja apa aku barusan?
Dosennya baik, mengizinkan aku ikut ujian. Dan begitulah, karena sangat
berkonsentrasi pada jawaban di lembar ujian, aku lupa ada seorang gadis
di sana sedang menungguku.
Jam tiga sore ingatanku baru pulih
dari amnesia sesaat. Setelah ujian, ngobrol sama temen, terus nganter
Dila ke halte, aku baru ingat Hanna.
Aku memaksa mengendarai
mobil Radit yang kecepatan yang tidak lebih dari lariku. Dalam hati aku
mengumpat menyesali keputusanku.
Sampai di perpustakaan, Hanna sudah tidak ada.
“Kenapa muka lu kusut gitu?” tanya Radit.
Aku hanya diam menunduk, mengusap wajah. Lalu kembali masuk mobil Radit dan memacunya menuju apartemen Hanna.
Tiba di sana, Hanna pun tak ada. Entah ke mana gadis itu.
“Lo nyariin siapa, Fi?”
“Pundi-pundi uang gue, Dit,” sahutku lemah, terduduk.
***
Seminggu sudah Hanna tak menghubungiku. Ponselnya aktif, tapi
panggilanku diabaikan. Chatku dibaca tapi tidak dibalas. Sepertinya dia
benar-benar kesal padaku.
Bagaimana kalau Hanna membatalkan
kontrak kerjanya? Mau cari kerja yang lain, susah. Mana gaji pertama
kemarin sudah habis buat bayar SPP sama alat praktikum. Sebentar lagi
yang punya kontrakan pasti menagih. Sementara abah ...
Kutelepon abah di kampung.
“Assalamualaikum, Bah.”
“Waalaikumsalam, Rapi!”
“Rafi, Bah, ef pake ef!”
“Iya, ep. Rapih!”
‘Hadeeeh udah ef diganti ep, ditambahin ha pulak?’
“Gimana persiapan pernikahan teteh?”
“Ya, masih nyiapin mau beli kerbau sama sapi,” kata abah di seberang sana.
“Salah satu aja, atuh, Bah!” kan lumayan kalau uang buat beli sapi dikasihkan aku? Aku kan anakmu juga, Bah! Nyeri hatiku.
“Tamu abah kan banyak, Rapih, acaranya tujuh hari tujuh malam.”
‘Elah, pesta tujuh hari tujuh malam, anakmu di sini pusing tujuh keliling.’
Aku tidak tega menambah beban pikiran abah. Akhirnya kuurungkan niat meminta uang.
Saat Radit menelepon dan mengajak main ke luar, akhirnya aku ikut. Siapa tahu bertemu Hanna.
***
Kami tiba di sebuah rumah indekos cewek. Sesaat ke luar dari mobil Radit, kupandangi mobil itu. Naluri bisnisku langsung jalan.
“Dit, mobil lu nih punya nilai sejarah yang tinggi, lho, bro!”
“Pastinya ...,” jawab Radit membusungkan dada. Secara yang muji mobil dia selangka Harimau Sumatera di pulau Kalimantan.
“Berapa, nih, kalau dijual?”
“Hahaha, banyak, sih, yang nawar, cuma gue sayang banget sama ni mobil.”
Halah Radit, sok sokan juga. Padahal mah orang-orang dikasih gratis juga nggak mau.
“Kalau ada yang nawar, berapa?”
Seketika mata Radit berbinar. Mungkin dia terkejut. “Berapa ya? 20 juta?”
“Sekilonya, maksudnya ... wkwkwkw!”
“Sialan, lo, Fi!” Radit mengejarku yang lari masuk ke rumah indekos putri. Marah dia mobilnya disamain sama rongsokan.
Radit mengajakku main ke tempat Dila. Cewek itu selalu tersenyum
malu-malu saat bertemu tatap denganku. Radit menanyakan tugas dan aku
sibuk menghabiskan kudapan ringan yang disajikan Dila. Lumayan menghemat
pengeluaran.
Tidak lama Dila menyalakan televisi. Tapi ada masalah sehingga tvnya tak menampilkan gambar.
“Kenapa?”
“Nggak tau ...,” kata Dila. “Monitor tua, sih.”
Aku mendekati LCD tua yang dipakai Dila untuk menonton televisi.
Mengutak-atiknya dengan peralatan minimalis yang ada di kosan Dila.
Tidak lama kemudian tvnya menyala.
“Makasih, ya, Fi.”
“Oke!”
“Makan siang di sini aja, ya, aku masak banyak, kok!”
Aku mengangguk malu, tapi dalam hati bersorak. Ah ... rezeki.
Tidak lama datanglah teman-teman Dila. Bertanya apa aku bisa
membetulkan ini dan itu. Aku jawab saja semua bisa, tanpa malu-malu
menyebutkan tarifnya. Lumayan walau tidak sebesar gaji dari Hanna.
Selagi menunggu Dila masak, aku melihat-lihat barang elektronik anak
kosan yang lain. Ada yang bisa aku perbaiki ada juga yang tidak. Ada
juga yang sengaja aku rusakin biar besok bisa ke sini lagi, dapat
kerjaan lagi.
Pukul empat sore aku menyetir odong-odongnya Radit
pulang ke kosan. Sahabatku tercinta lebih banyak diam. Sepertinya sedang
ada yang dia pikirkan.
“Gue tau ada yang sengaja lo rusakin barangnya,” kata Radit.
Aku cuma bisa nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.
“Tapi kalau ke Dila, plis gua minta, jangan,” lanjutnya.
“Iya ... iya ...,” jawabku dengan suara lembut.
“Lagian, ya, kalau si Dila, gua yakin dia rela ngerusakin barang sendiri biar lo bisa main ke kosannya dan makan masakan dia.”
“Kok, gitu?”
“Kalo kita udah sayang ke orang, bakalan rela ngelakuin apa aja tanpa
balasan, Fi! Rela ngorbanin kebahagiaan sendiri. Bahkan kadang
ngelakuin hal-hal yang konyol.”
“Maksud lo?”
“Masa lo nggak nyadar sinyal-sinyalnya Dila?” Raut wajah Radit berubah kesal.
Ya, gue tau, cuma nggak enak aja sama elu. Jawabku dalam hati.
Lagi pula aku belum paham betul apa yang dikatakan Radit tentang pengorbanan. Dan belum berniat juga pacaran.
Setelah itu Radit tidak mengeluarkan sepatah kata pun sampai tiba di
kosan. Pemuda itu belum langsung pulang karena menyalin tugas di
tempatku.
Aku yang lelah hari ini merebahkan diri di kasur setelah mandi dan salat.
Tiba-tiba Hanna datang dan menyentuh pipiku sambil tersenyum ... ah 200
ribu .... Lalu dia meraba keningku ... 400 ribu ... ia bertanya apa aku
sakit? Aku jawab aku sakit kangen sama kamu, kemudian dia menarikku
bangun dari tempat tidur ... 600 ribu. Dan tiba-tiba uang bagai hujan
jatuh dari langit-langit kamar ke atas tubuh kami berdua ....
“Rafi!”
Kenapa ada suara Radit di antara aku dan Hanna? Tak lama kemudian pipiku dihantam benda keras.
PLAK!
Mataku membulat, kaget. “Radit!”
“Gue pulang dulu, Fi!”
“Nggak bisa, balikin dulu duit gua!”
“Duit apaan?”
“Duit yang barusan jatuh dari langit!”
“Mimpi lo, Fi! Makanya jangan tidur sore sore! Udah ah, gua pulang dulu!”
Aku terduduk setelah menengok ke kiri dan kanan. Mengacak-acak rambut sendiri. Ah ... Hanna ....
Mengabaikan malam yang merangkak naik, aku memacu skuter kesayangan ke
apartemen Hanna. Aku akan minta maaf. Hampir dua minggu aku hilang
kontak dan tidak sehari pun aku bisa melupakannya.
***
Aku sudah di depan pintu apartemen Hanna. Memencet bel beberapa kali
tapi Hanna tak juga muncul membukakan pintu. Akhirnya kuteleponi dia.
“Hanna ....”
Suara yang amat lemah menyahut dari seberang sana. Apa dia sudah tidur?
Tapi sepertinya ini bukan suara orang mengantuk, lagi pula belum
terlalu malam. Suaranya benar-benar lemah dan tersengal-sengal
menyebutkan sebuah deretan angka. Otakku langsung berpikir itu adalah
kode pintunya. Segera kupencet dan terbukalah pintu rumah Hanna. Kakiku
segera melangkah masuk.
Rumah Hanna sangat berantakan, pakaian
dan piring bekas makan menumpuk di sembarang tempat. Sungguh berbeda
dengan kosanku. Kenapa orang kaya seperti dia tidak membayar jasa
cleaning servis, sih?
“Hanna?”
Tidak ada sahutan.
“Hanna ...!”
Sepi. Kuberanikan diri mengintip ke kamarnya, dan ... astaga, gadis itu
terkulai di lantai. Aku segera masuk dan mencoba membangunkannya.
“Hanna ... bangun, Han!” Kutepuk-tepuk pundaknya beberapa kali. Ia diam
dengan mata terpejam. Keningnya berkeringat dan saat kuraba ... panas.
“Hanna ....” Sekali lagi aku memanggilnya. Tak juga bangun, aku mulai
cemas. Pikiran buruk menghantui mengingat berita bunuh dirinya
artis-artis cantik bergelimang harta akhir-akhir ini. Apakah Hanna ...?
Ah ... kutepis pikiran buruk dan segera memapah tubuh gadis itu ke atas
punggung, lalu mencari kunci mobilnya. Aku tergesa, berlari keluar kamar
sambil menggendong tubuh Hanna yang tidak juga sadar. Masuk lift dan
sempat dilirik heran oleh orang-orang.
Setelah sampai di lantai dasar, bersama satpam kompleks apartemen itu aku mengantar Hanna ke rumah sakit.
***
Hanna sedang ditangani petugas kesehatan. Saat ditanya di mana keluarga
Hanna, aku sempat bingung, untunglah pak satpam tahu nomor orang tua
nyonya besarku ini.
Hanna sudah diruang rawat kelas tiga. Pak
satpam sudah pamit pulang. Tinggal aku sendiri duduk di sebelah ranjang
rawatnya. Menunggu gadis itu membuka mata. Perawat bilang Hanna
kemungkinan typus dan mag kronis. Laporan dari lab akan segera
menjelaskannya.
“Rafi ....”
Aku tersenyum, sangat-sangat lega bosku sudah sadar.
“Makasih ...,” kata Hanna lagi, suaranya lirih keluar dari bibir yang pucat.
Aku mengangguk.
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang, menyusul di
belakangnya seorang lelaki yang terlihat sebaya. Beberapa rambut putih
menyembul di antara yang hitam. Pun keriput sudah tampak di wajah
mereka.
“Hanna ... sayang, kamu nggak apa-apa, Sayang?” tanya si ibu.
“Nggak apa-apa, Ma,” jawab Hanna.
“Itu makanya papa nggak kasih kamu tinggak sendiri,” kata lelaki paruh baya yang ternyata papanya Hanna.
“Seenggaknya itu lebih baik dari pada tinggal sama kamu, Mas,” hardik sang mama.
“Jangan mulai lagi, ini rumah sakit .... Mana Daniel?” tanya papanya Hanna.
Hanna menggeleng.
“Papa akan telepon dia.” Si papa siap mengeluarkan ponsel.
“Nggak usah, Pa, Hanna bisa sendiri.”
“Ini siapa?”
“Rafi, Om,” jawabku sambil berdiri dan membungkukkan badan. Tidak ada
tanda-tanda si papa akan menyalamiku. Sebuah perkenalan yang singkat.
Setelah itu papa Hanna sibuk mondar-mandir entah menelepon siapa.
“Kamu nih nelepon siapa, sih, Mas? Anak lagi sakit gini, masih aja sibuk ngurus yang lain!”
“Alah, kamu juga sama, ibu mana yang tega menyuruh anak gadis
satu-satunya tinggal sendiri sementara dia enak-enakan tinggal sama
suami muda!”
“Hei, jaga bicara kamu, ya, kamu yang lebih dulu suka main wanita muda!”
“Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sendiri! Kamu penyebab ini semua!”
“Apa kamu bilang?”
Ini ruang rawat kelas tiga, di samping Hanna ada beberapa pasien lain. Tidakkah kedua orang ini bisa bersikap sedikit dewasa?
Jemari Hanna meremas selimut yang menutupi tubuh. Bibirnya yang pucat
bergetar menahan tangis. Tapi tak urung juga bulir bening itu menetes
lewat celah matanya yang bening bulat. Tanpa suara.
Ini adalah
kedua kalinya aku melihat Hanna menangis. Aku tak bisa membayangkan
hari-harinya kemarin, saat aku tak ada di sampingnya. Rumah berantakan,
orang tua tidak ada di sisi. Hanya ada uang dan itu tidak bisa membeli
sesuatu untuk menebus kesepian.
Siapa yang tidak terenyuh melihat
gadis malang ini? Sekali lagi ingin kuhapus air mata itu. Tapi tidak,
aku takut honorku dipotong. Sudah tidak dapat bonus, honor dipotong pula
... tapi aku sungguh tidak tega melihatnya.
Akhirnya kukeluarkan
headset dari dalam tas. Lalu, memakaikannya menutupi telinga Hanna.
Aku ingat hobinya mendengarkan lagu. Walau kali ini bukan lagu yang
kusetel.
Lama Hanna terdiam, mungkin sedang mencerna apa yang
didengarnya. Perlahan air matanya berhenti menetes, lalu menoleh padaku
dengan alis bertaut, dahinya mengernyit. Aku sedikit tertawa melihat
reaksinya.
“Stan up komedi?” katanya.
Aku mengangguk sambil sedikit tertawa. Spontan Hanna mencubit lenganku.
“Dua ratus ribu!” bisikku sambil mengacungkan dua jari.
Hanna kali ini tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi, lalu menepuk pundakku.
“Empat ratus!” bisikku lagi mengacungkan empat jari.
Sekali lagi Hanna memukul.
“Enam ratus!”
Lalu kami tertawa bersama seiring langkah para perawat dan satpam yang
menarik paksa papa dan mama Hanna ke luar ruangan karena ribut.
Sambil memperhatikan wajah Hanna yang terlihat sedikit ceria, tiba-tiba
aku menginginkan ia selalu seperti itu. Aku baru saja mengenalnya, tapi
seolah ekspresi gadis ini mengendalikan perasaanku. Hatiku ikut sakit
melihat ia menangis. Ada lega saat melihatnya tersenyum bahagia. Dalam
hati aku ingin menjaga agar air mata itu tak lagi menetes, entah
bagaimana caranya.
Tiba-tiba aku teringat perkataan Radit.
‘Kalo kita udah sayang ke orang, bakalan rela ngelakuin apa aja tanpa
balasan. Rela ngorbanin kebahagiaan sendiri. Bahkan kadang ngelakuin
hal-hal yang konyol.’
Ah, Hanna ...
Bersambung.
-----
KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 4
Malam itu mama Hanna menunggui di rumah sakit sampai pukul dua belas
malam. Setelah itu beliau pamit. Belakangan aku baru tahu jika wanita
itu punya anak balita dari suaminya yang sekarang. Sehingga tidak bisa
ditinggalkan. Sedangkan papa Hanna telah lebih dulu pamit karena diusir
oleh mantan istrinya itu.
Aku merasa kasihan melihat Hanna jika
harus ditinggal sendirian di rumah sakit. Ingat keluarga di kampung,
kalau ada yang dirawat di rumah sakit. Bukan hanya orang tuanya yang
bergantian menunggui di kamar rawat. Bibi, keponakan, paman, tetangga
silih berganti berdatangan menengok di jam besuk. Seakan-akan mereka
tidak ingin membiarkan si sakit sebatang kara.
Jadi, aku tidak
tega melihat gadis itu terbaring sendirian. Untuk beberapa menit aku
duduk di samping ranjang rawatnya, menunggu Hanna mengatakan sesuatu.
“Pulanglah.” Akhirnya kata-kata yang tidak kuharapkan itu yang keluar dari mulutnya.
Jujur, aku sebenarnya ingin mendengar ia bilang ‘Jangan tinggalkan aku
Rafi ... temenin aku, ya, nanti aku kasih bonus.’ Lalu aku menjawab
dengan mantap; ‘Siap, ‘Nya!’ Haha. Tapi itu hanya anganku saja. Aku sadar diri, kok.
Aku mengangguk sambil tersenyum, dengan langkah berat beranjak dari
sana. Kemudian meninggalkan Hanna seorang diri setelah beberapa kali
menoleh sambil berbisik dalam hati ... ‘Bonus, ‘Nyah, bonus ....’
Tapi ... ya nggak mungkinlah, emangnya aku cowok matre apaan? Matre juga ada tempatnya kali ....
Aku terus memikirkan Hanna sampai tiba di kamar dan merebahkan diri di
kasur. Sejenak mengutak-atik ponsel membuka facebook. Entah kenapa
timeline yang kulihat pertama kali adalah meme kamus wanita. Semua yang
dikatakannya berkebalikan dengan apa yang ada di hati.
Iya berarti tidak
Tidak berarti iya
Diam berarti marah
Pergi berarti tetap tinggal
What? Aku langsung duduk, langsung teringat perkataan Hanna. Jangan-jangan ‘Pulanglah’ berarti ... ‘Jangan pulang?’
Aku sempat ragu dan mondar-mandir sebentar di kamar. Mau balik lagi ke rumah sakit atau tidak.
Lagian ini meme bikin baper aja malem-malem. Akhirnya aku hanya mengirim pesan pada Hanna.
‘Kalau ada apa-apa panggil suster, ya!’ kataku. Elah ... mainstream
amat, sih. Ya iyalah Hanna juga pasti ngerti harus panggil suster ...
masa panggil tukang loundry? Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Ah,
sudahlah ... kutinggal tidur saja.
***
Pagi-pagi aku
terbangun dan membaca pesan balasan dari Hanna. Hanya emot senyum. Tapi
itu sudah membuatku lega dan bersemangat salat subuh di masjid. Hehe.
Jalanan masih gelap, embun masih terasa. Aku memacu skuter kesayangan
ke rumah sakit, setelah masak bubur dengan bahan yang kebetulan ada di
lemari pendingin. Buat Hanna.
***
Gadis itu baru saja ditangani beberapa perawat. Ia tersenyum padaku dengan wajah yang lebih cerah dari semalam.
“Pagi amat udah ke sini? Nggak kuliah, apa?” tanyanya.
“Nanti jam delapan,” jawabku sambil menaruh kotak bekal di atas nakas.
“Bawa apa? Nggak usah repot-repot, Fi.”
“Kali aja kamu bosen sama makanan rumah sakit ....”
“Iya, males banget makan,” kata Hanna sambil membuka kotak bekal yang kubawa. Wajahnya tersenyum. “Aku cobain, ya!”
Aku mengangguk.
“Enak, kamu masak sendiri?”
Aku mengangguk lagi.
“Mmm,” katanya menikmati di suapan kedua.
Aku tersenyum, lalu pamit pada Hanna dan mengatakan akan kesini lagi sepulang kuliah nanti.
***
Selesai mengikuti kuliah, aku buru-buru ke rumah sakit. Radit tampak
sedikit heran dengan kelakuanku yang tidak biasa. Demikian juga Dila
yang biasa mengintil aku kemana-mana.
Pada awalnya aku merasa
kasihan pada Hanna yang sendirian di rumah sakit. Sebab setiap kali aku
ke sana, ia selalu seorang diri. Tak pernah kudapati ada yang lama
menemani. Kalau pun ada, hanya oleh-olehnya saja yang tertinggal di atas
nakas. Entah itu cake, atau bunga. Saat kutanya itu dari siapa? Hanna
bilang dari mama, papa, dan beberapa temannya yang waktu itu bertemu
denganku di mall.
“Lama kesininya?” tanyaku.
“Nggak ... paling abis foto foto, upload di sosmed, habis itu pulang ....”
Kasian amat kamu, Han ....
Lama kelamaan, rasa kasihan itu berubah menjadi kebutuhan. Butuh melihat senyumnya setiap pagi. Ea ....
Lesung pipi yang dibingkai wajah oval itu bagai moodbuster. Kalau di
apotik ada obat yang bisa bikin ceria seharian, pasti “Senyum Hanna”
namanya. Aneh memang, entahlah, rasa apa ini?
***
Sudah
tiga hari Hanna dirawat, setiap hari pula aku mengunjunginya. Diam-diam
membawa makanan yang diinginkan Hanna tapi dilarang oleh dokter. Sampai
hari ke empat, dokter mengatakan Hanna sudah sehat, dan besok bisa
pulang. Itu hari minggu. Aku sudah berniat menjemputnya di rumah sakit.
Sabtu ini aku ada kuliah tambahan. Bersama Radit dan Dila. Dan seperti biasa, sehabis kuliah, kedua sahabatku itu ngajak main.
“Sorry, gue nggak bisa,” tolakku pada Radit “Lu aja sama si Kudil.”
“Ah, Dila mana mau jalan kalau sama gue doank.” Sementara gadis yang sedang kami bicarakan menunggu di ujung koridor.
“Kan sama aja, sama-sama temen.”
“Dila temenan sama lo kan cuma modus.”
“Modus gimana?”
“Modus biar bisa deket-deket terus.”
“Ah, sok tau, lo!”
“Bener ...,” kata Radit.
“Berarti lo ke dia modus juga, dong?”
“Ya, enggak lah, gua mah tulus orangnya.”
“Masa?”
“Gua nggak masalah, Fi, cewek yang gue suka ternyata nggak balas
perasaan gue, yang penting gue bisa ngeliat dia bahagia. Dan nggak
masalah saat menyaksikan kebahagiaannya itu posisi gue sebagai temen dia
atau bukan,” cerosos si pujangga, Radit.
Aku mengguncang-guncang
pundak sahabatku itu dan memasang wajah terharu yang dibuat-buat. “Gua
emang nggak salah milih sahabat, Cuy ... gua ... gua tu sebenernya ....”
Aku mengedip-ngedipkan mata seolah-olah menangis.
“Gua Hiro!” Radit menepis kedua lenganku dari bahunya. “Rese lo! Sebenernya siapa, sih, yang ada di hati elo?”
Aku menangkupkan kedua telapak tangan membingkai wajahnya. Lagi-lagi
kupasang wajah serius dan mata berkaca-kaca. “Cuma elo doank, Dit, elo
doank yang ada di hati gue!” Kutarik kepalanya ke dalam pelukan. Tapi
Radit berontak dan meninju pipiku pelan. Aku terkekeh.
“Saraf!” Radit merengut, sepertinya saat menyinggung tentang Dila, si Radit selalu serius akut.
Aku masih saja cengar-cengir saat Dila mendekati kami berdua. Tapi si
keriting malah menjauhi seakan memberikan kesempatan pada Dila untuk
bicara berdua denganku.
“Kudil ...,” sapaku sambil tersenyum.
Senyum khas malu-malu Dila kembali menghias wajahnya. “Mau main ke kosanku, Fi?”
“Hmm, sebenernya aku ada kerjaan, Dil,” jawabku sambil garuk-garuk kepala nggak jelas. “Nanti, deh, aku main lagi kapan-kapan.”
“Iya, Fi, tv aku rusak lagi soalnya.”
“Ooh ....” Aku manggut-manggut memasang wajah serius.
“Aku tunggu, ya, kapan-kapannya,” kata Dila sambil tersenyum menunduk.
“Sip!” kataku tersenyum memastikan. Dia melirik sedikit ke arah mataku.
Setelah itu aku pamit. Menghampiri Radit sesaat dan menepuk pundaknya
sambil melirik ke arah Dila, memberi kode agar dia menemani gadis itu.
“Gue duluan,” lanjutku. Radit mengangguk.
***
Kali ini aku
siapkan masakan ‘rumahan’ buat Hanna. Sederhana, sih. Tumis tauge tahu
ikan asin sama udang goreng ‘ala-ala’. Pokoknya apa yang aku masak buat
makan di rumah, ya, itu aja yang aku kasih ke Hanna.
Dengan pakaian santai, yang sedikit berbeda dengan setelan kuliah, aku berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di sana aku langsung menuju ke ruang rawat Hanna. Ruang
yang sama dengan hari pertama. Entahlah gadis itu tidak mau dipindahkan
ke ruang VIP. Sepi katanya.
Jam besuk seperti saat ini,
pengunjung lumayan ramai. Tiba di kamar Hanna, pintunya sedikit terbuka.
Di dalam sana sedang banyak juga orang-orang yang menjenguk pasien
lain. Baru saja hendak melangkah melewati pintu, tiba-tiba kakiku
tertahan sesuatu.
Pemandangan di tepi ranjang Hanna,
menghentikanku. Di sana duduk seorang pemuda berpakaian necis sedang
mengobrol dengan gadis itu. Dari penampilan, pastilah dia orang kaya,
atau pemilik perusahaan dan semacamnya, entahlah, yang jelas sangat
berbeda dengan penampilanku. Walau dari segi tampang, imbang lah ... 11,
12, denganku. Dia 11 juta, aku 12 perak kembalian micin kalau belanja
di warung.
Tiba-tiba aku memerhatikan pantulan diri di pintu
kamar yang mengkilap sampai bisa berkaca. Seorang pemuda dengan jeans
skinny robek di bagian dengkul, sepatu sneakers sederhana, kaos v neck
lengan pendek yang memperlihatkan pergelangan tangan dengan
gelang-gelang tali alay. Aku, ya, itu aku sedang berdiri sambil
berpikir.
Di bahu kanan menyandang tas selempang, sekaligus kotak
bekal untuk seseorang di sana, yang di sebelahnya tergeletak dengan
anggun sebuah buket bunga besar berwarna putih. Aku langsung melirik
kotak bekalku dan buket bunga itu secara bergantian. Ragu, mau masuk
atau tidak.
Semua ini bukan karena aku minder. Itu sama sekali
tidak ada dalam kamus seorang Rafi. Aku hanya tidak ingin kehadiranku
membuat Hanna merasa tidak nyaman. Air mata Hanna malam itu jelas
menyiratkan jika dia masih memendam rasa pada lelaki di hadapannya itu.
Jika kehadiranku bakal mengusik kebahagiaannya dikunjungi ‘mantan’ yang
–mungkin—masih diharapkannya itu, maka aku memilih untuk pulang.
Mungkin inilah yang dimaksud Radit. Membiarkan orang yang kita sayang
bahagia, walaupun nggak sama kita. Wait ... emang siapa yang sayang ke
Hanna? Sadar Fi, elo itu cuma kekasih bayarannya! Pacar pura-pura!
Jangan pake rasa!
Aku manggut-manggut kayak abis disetrap guru BP waktu sekolah dulu. Lalu melirik lagi ke arah Hanna.
Gini aja, deh, kalau Hanna keliatan bahagia, ketawa-tawa, gue pulang.
Tapi kalau mukanya datar-datar aja kayak papan gilesan cucian emak gue
yang 20 tahun nggak ganti-ganti ... gue masuk!
Tik tok tik tok
... detik berlalu berganti menit. Wajah Hanna ... biasa aja, fix! Gue
masuk! Tarik napas dalam-dalam ... hembuskaaan ... busungkan dada,
angkat ketek seolah-olah ada telur di sana. Oh, nggak-nggak, yang ini
becanda.
Aku masuk dengan tampang senatural mungkin. Memasang senyum paling manis yang aku punya.
“Hai!” sapaku.
Hanna dan Daniel menatapku bersamaan. Tatapan yang sulit kuartikan, seperti kataku tadi. Datar.
Aku menaruh kotak bekal di atas nakas, lalu duduk di sisi Hanna yang berseberangan dengan Daniel.
“Gimana, udah enakan?” tanyaku menatap Hanna dan mengabaikan Daniel.
Hanna tersenyum dan mengangguk. Tak lama kemudian Daniel berdiri dan pamit pada kami berdua.
“Kalau gitu, aku pulang dulu,” katanya.
Aku berdiri saat dia sedikit menunduk berpamitan. Lalu, kulirik Hanna yang memandangi selimutnya.
“Cie ... yang ditengokin mantan ...,” godaku saat Daniel sudah keluar ruangan.
Hanna hanya tersenyum sekilas sambil mendengkus. Ia tak tersenyum,
tidak pula terlihat sedih. Entahlah, aku sulit mengartikan tatapannya.
Dan aku juga tidak berhak bertanya. Itu bukan wilayahku.
“Udah makan, belom?”
Hanna menggeleng.
Kulirik makanan dari rumah sakit, masih utuh, sementara ini sudah pukul
dua siang. Aku meraih wadah makanan dari stenlis itu dan membuka
plastik yang menutupi bagian atasnya.
“Laper?”
Hanna mengangguk, dan aku tersenyum.
“Cowok yang tadi nggak peka, ya? Masa ada cewek kelaperan malah dikasih
bunga bukannya dikasih makan?” aku mengomel. “Emangnya bunga bisa
dimakan, apa?”
Hanna mengulum senyum.
“Singkirin, ya, bunganya?”
Gadis itu mengangguk.
Dengan secepat kucing nyolong ikan asin, segera kusingkirkan bunga itu
ke kolong nakas. Agak kuacak-acak dikit bunganya biar susunannya nggak
cantik lagi. Biar nggak dipandang-pandangi Hanna lagi. Sebenernya pengen
kulempar ke kotak sampah, sih, tapi nggak tega.
“Sekarang makan, ya.”
Hanna mengangguk. “Mau yang itu, aja ....” Ia menunjuk kotak bekal yang kubawa.
Aku lalu membukakan makanan itu. “Nih, mau disuapin, apa?”
Hanna meraih kotak bekalnya sambil tersenyum.
“Ya kali, udah lama nggak ada yang nyuapain,” lanjutku lagi.
Gadis yang lagi menyuap nasi itu tiba-tiba terbatuk. Aku ambilkan air
minum untuknya. Ia terkekeh. “Jangan becandain terus, keselek, tuh,
kan?”
Aku tertawa. Satu bulan lagi kontrak kerja dengan Hanna.
Aku harus bisa bekerja dengan baik. Dan meninggalkan kesan menyenangkan.
Walau dalam hati berharap kontraknya diperpanjang. Haha, ngarep!
“Han ...?”
“Hmm ....”
“Jangan jadi pendiem gini, nggak seru.”
Hanna tersenyum sesaat, lalu melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku yakin ini akibat kedatangan Daniel.
“Bawel aja kayak biasanya ...,” lanjutku.
“Iya,” jawab Hanna tersenyum.
"Minggu depan saya izin ya, Nya."
"Mau ke mana?"
"Kampung, nikahan kakak."
"Sendiri?"
"Ada temen."
"Ikut, yah?"
"Hah? Apa?"
"Kalau ada temen ceweknya aku ikut."
Belum sempat menjawab. Saat itu ponselku bergetar. Radit menelepon. Dia
bertanya aku di mana dan ingin menghabiskan weekend bersama.
“Di rumah sakit,” jawabku jujur.
“Siapa yang sakit? Gua ke sana, ya!”
Sejenak aku menutup ujung ponsel, lalu bertanya pada Hanna. “Boleh, nggak temen aku ke sini?” Hanna mengangguk.
“Boleh, lo dari mana?”
“Habis dari kosan Dila, minjem catetan.”
“Modus ....”
“Enggak,” jawab Radit tegas.
“Betulin tv, ya?”
“Nggak juga, itu, anaknya aja lagi nonton tv!” kata Radit.
Aku terbengong-bengong mendengar cerita Radit. Tadi, kalo nggak salah?
Ah ... dasar Dila .... Aku melempar senyum, entah pada siapa. Kadang,
punya rasa buat seseorang bikin kita sebucin itu. Hehe.
Bersambung.
-----
KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 5
Aku bersiap menjemput Hanna di rumah sakit. Kukenakan pakaian yang
cukup rapi hari ini. Siapa tahu bertemu mama atau papa Hanna.
Kemeja motif kotak-kotak warna cerah, jeans tanpa robek, sepatu masih
yang kemarin. Aku tambahkan asesoris jam tangan bermerk tapi palsu di
sela-sela gelang. Lumayan lah, jam KW, yang penting tampangku bukan
KW-KW, asli ganteng bawaan lahir.
Setelah menyelempangkan tas
kesayangan aku bergegas keluar kosan. Baru saja tiba di pintu, ponsel
tiba-tiba bergetar. Hanna menelepon.
“Iya, ‘Nya!” sapaku semringah. Membayangkan gadis itu sedang menunggu.
“Aku udah pulang ....” Suara Hanna terdengar lemah.
“Maksudnya?” Heran aku mendengar penuturan Hanna. Kalau pulang ke
rumah, ya, nggak apa-apa, Alhamdulilah. Kalau pulang ke Rahmatullah, ya
jangan, atuh.
“Pulang ke rumah mama, Fi. Tadi mama yang jemput aku di rumah sakit.”
“Oooh ... ya, udah, nggak apa-apa, syukurlah kalo gitu.” Aku mencoba
tersenyum seolah-olah ada di depan Hanna. Aku yakin jika dia melihat,
akan tahu senyum ini dipaksakan.
“Maaf, ya.”
“It’s oke!” jawabku.
Tidak lama kemudian terdengar suara seorang lelaki di dekat gadis itu.
Jelas ia berkata: “Aku pamit, ya, jangan sakit lagi,” katanya.
Dahiku mengernyit, tak tahan ingin bertanya, “Suara siapa itu, Han?”
“Oh, itu ... Daniel.”
“Daniel?”
“Ya, dia tadi dateng bareng mama buat jemput aku.”
“Oh, gitu?”
Hanna diam sebentar. “Hmm ...,” katanya bergumam, dia selalu pelit bicara jika berkaitan dengan Daniel.
Dan aku pun sama ... terdiam beberapa saat. Rasanya ada sesuatu
menghambat di tenggorokan yang membuatku sesaat sulit menarik napas.
Sebelah telapak tanganku perlahan mengusap-usap dada yang tiba-tiba
memantulkan detak jantung yang tidak teratur. Mencoba mengelus hati yang
seolah-olah baru saja lecet dan berharap nyerinya berkurang. Namun
tetap saja sakit sehingga membuatku beberapa kali menelan ludah dan
bingung harus berkata apa.
“Rafi,”
“Hmm ...?”
“Sudah dulu, ya.”
“Sudah apanya ... Han?” Suara nyaris hilang, alisku bertaut, tiba-tiba
merasa takut Hanna mungkin saja mau menyudahi kontrak kerja.
“Teleponnya ....”
“Oh, iya ....” Ah, aku merasa lega. Setidaknya aku masih punya harapan bertemu dengannya lagi.
“Dah ....”
Aku tak menjawab sampai gadis itu menutup teleponnya lebih dulu.
Lama berdiri di pintu akhirnya aku menelepon Radit.
“Jemput gue, Cuy!” kataku saat si keriting itu menjawab telepon.
“Woke bro ... tunggu, ya!” Suara Radit terdengar bersemangat. Biar kutebak. Dia pasti sudah punya rencana di hari minggu ini.
“Cepet, ya!”
“Napa, emang?”
“Kangen!”
“Iyakh ... mo muntah, gue!”
Telepon pun di tutup. Aku mengunci pintu dan menunggu Radit di halaman.
***
“Kok ke sini?” tanyaku, saat Radit menghentikan mobilnya di depan kosan
Dila. Aku sampai tidak sadar dari tadi Radit berjalan ke arah mana.
Tiba-tiba saja sudah sampai kemari.
“Bentar, aja, mulangin catatan.”
“Kan bisa besok, sih?”
“Lo nggak akan tau rasanya merencanakan hal-hal sederhana biar bisa
ketemu tiap hari sama seseorang, sampai elo nemuin orang yang cuma sama
dia, lo serahin seluruh hati lo!”
“Lo ngomong apa kumur-kumur, Dit?”
Sumpah gaya ngomong Radit udah kayak presenter “Katakan Putus”.
Terus jidat gue digetok pake catatannya Dila. Dan dengan santainya
pemuda keriting itu melenggang masuk ke kosan sang cewek idola.
Radit baru saja masuk di ruang tamu, meninggalkan si Kudil berdiri di depan pintu dengan mulut sedikit terbuka menatapku.
Aku tersenyum dan mendekatinya, mau nyusul Radit maksudnya. Tapi si
Dila malah senyam-senyum sambil betulin rambutnya ke belakang telinga.
Terus merapikan pakaiannya kayak anak SMA yang ketauan guru nggak
masukin baju.
“Masuk, Fi,” ajaknya.
Aku ikut Radit duduk
di kursi sederhana yang ada di ruangan itu, sementara Dila langsung
berlalu dari hadapan kami. Lalu kembali dengan nampan berisi es teh dan
bermacam gorengan. Pisang goreng, bakwan, tahu isi, dan temannya, rawit.
Di sebelahnya ada brownies dan puding buah.
“Repot-repot amat, Dil, cuma mau mulangin catatan, kok,” kata Radit.
“Sama betulin tv,” sambungku cepat sambil mencomot satu tahu dan
cabenya. Rumus-rumus matematika langsung jalan di otak. Walau nggak
dibayar betulin tv yang sebenernya baik-baik saja. Seenggaknya biaya
buat beli sarapan, lewat. Kebetulan tadi pagi nggak sempet masak
gara-gara mau jemput Hanna.
“Tv kamu ...?” kata-kata Radit terputus.
“Iya, rusak!” Dipotong Dila yang langsung berlari mendekati tvnya.
“Mungkin rusaknya semalem ....” Radit menoleh padaku.
Aku mengangkat bahu, tanda setuju. Padahal pura-pura. Yang penting bisa
menghemat pengeluaran sarapan, syukur-syukur makan siang. Astaga
ternyata harga diriku semurah bakwan. Dan aku tidak pernah
memperhitungkan jika hal hal yang kuanggap sepele ini berdampak besar di
kemudian hari.
Menit berlalu, Radit asik mengobrol dengan Dila,
kadang ia bermain gitar dengan suara falsnya. Sepertinya ia bahagia.
Padahal mata Dila tak pernah lepas dari diriku. Ya, aku bisa melihatnya
dari pantulan LCD TV ini. TV yang mulanya baik-baik saja tapi kemudian
berubah menjadi rusak yang sebenarnya, karena dalam benakku tak bisa
konsentrasi, masih terngiang sebaris kalimat.
“Aku pulang dulu, ya, jangan sakit lagi ....”
Terus berulang bagai disetel otomatis dalam otak. Apa yang mereka
lakukan? Apa mereka balikan? Apa Hanna bahagia dengan adanya Daniel? Apa
aku sudah tidak diperlukan walau hanya sebatas teman? Dan semua pikiran
itu membuat tanganku sedikit kasar menyentuh hardware LCD ini. Semakin
aku salah memberi tindakan, semakin kacau gerak tangan ini. Berkali
mengulang, dan akhirnya aku tidak tahu yang rusak itu TV Dila atau ...
hatiku.
Mendadak makanan yang disajikan Dila tak lagi menggugah selera. Aku lelah.
“Nggak bisa dibetulin sekarang, Dil, besok-besok lagi, ya!” kataku mendekatinya dan Radit.
“Iya, nggak apa-apa, kok,” jawabnya sambil tersenyum santai, tidak
mencerminkan seseorang yang sedang galau karena tidak bisa nonton TV.
Aku mengangguk, lalu beberapa saat kemudian setelah minum teh, mengajak Radit undur diri.
***
Kami pergi ke kafe, tapi anehnya di kafe itu pramusajinya pada mirip
Hanna semua. Akhirnya aku mengajak jalan Radit muter-muter kota. Dan
setiap liat mobil yang mirip mobilnya Hanna, jantungku seketika lebih
cepat detaknya. Jangan-jangan di dalam sana ada Hanna. Agh ... kacau.
Segala tentang Hanna baru berakhir saat aku tiba di kosan dan bertemu
anak-anak kos yang lagi main basket di halaman. Bergabung bersama
mereka, barulah penglihatanku normal kembali. Tidak lagi melihat Hanna
dimana-mana.
Malamnya, aku memilih tidur lebih cepat agar tidak
terlalu lama memikirkan yang tidak-tidak. Jika siang, aku memilih
melakukan aktivitas berat, agar tidur malam nyenyak, dan tidak
memimpikan Hanna.
Seperti itu terus sampai hari di mana teman-temanku mendiskusikan ingin ikut pulang ke kampung, menghadiri pernikahan kakakku.
Radit dan Fahri ikut sehari sebelum hari H. Demikian juga Dila yang
entah dari mana tiba-tiba saja memiliki teman satu kosan yang kampungnya
hanya berjarak lima kilometer dari kampungku. Ia akan menginap di rumah
temannya itu saat malam hari, dan ke rumahku saat siang hari. Sungguh
rencana yang sangat matang.
Saat itulah aku kembali teringat Hanna.
“Aku ikut, ya ....”
Kalimat itu terasa mengiris-iris hati. Kenapa harus mengatakannya jika
ia tak bisa menepati. Jangankan menepati, menghubungiku saja tidak. Apa
dia sudah bersenang-senang dengan pemuda berwajah oriental itu?
Tinggal tiga minggu lagi kontrak kerjaku dengan Hanna. Memang sebenarnya
aku tidak boleh memiliki perasaan aneh ini. Tapi ... ia datang sendiri
dengan cepat, dan lama perginya, walau sudah dipaksa-paksa.
***
Malam ini, sebelum tidur, kutimang-timang ponselku. Beberapa kali
menatap nomor WA Hanna yang tidak pernah menampilkan status baru.
Kemudian iseng-iseng kustalking facebooknya. Takut juga kalau tiba-tiba
dia pasang foto undangan pernikahan. Pas kulihat, tidak ada yang baru,
demikian juga insta storynya. Statusnya juga masih sendiri.
Penasaran, kucari akunnya si Daniel lewat teman-teman facebook Hanna.
Ketemu, namanya Daniel Podomoro. Wow, beda tipis sama gue, dia Podomoro,
gue Podo Wae. Hehe, becanda.
Kustalking juga akhirnya. Nggak
sering juga update status, nggak kayak Radit. Hmm, gitu kali, ya orang
kaya beneran. Nggak pencitraan layaknya Radit, dan gue juga, sih ....
Ada satu foto yang membuatku terpana. Foto tangan dengan jarum infus, dihias tulisan,
‘All of pray that for you, always healthy, i hope that you will get well soon ....’
Aku terdiam beberapa saat. Apa ini tangan Hanna? Apa ini ucapan untuk Hanna? Sebenarnya bagaimana, sih, hubungan mereka?
Kepalaku nyut-nyutan, rasanya menyesal stalking akunnya oppa oppa ini.
Ahg ...! Kulempar ponsel ke atas kasur, karena kalau ke lantai, sayang,
nggak ada duit buat gantinya. Lalu aku mencoba tidur. Mudah-mudahan
besok udah lupa dengan peristiwa menyesakkan dada ini.
***
Akhirnya, aku tiba juga di kampung. Keluarga menyambut dengan antusias.
“Kenalin, Abah, Ibu, Teteh, ini Radit dan Fahri,” kataku memperkenalkan teman-teman.
Mereka bersalaman saling memperkenalkan diri.
“Besok masih ada temen Rafi yang mau datang,” lanjutku.
“Cewek, Pih?” tanya Abah.
“Iya, tapi nggak nginep di sini, kok,” kataku sambil mengingat cerita Dila.
“Ya, udah, ini Radit saama Pahri ajak ke kamar, Pih,” ujar Abah.
“Habis itu, makan, ya, anggap rumah sendiri,” sambung ibu.
“Jangan, Bu, nanti abah sama ibu dianggap orang tua sendiri juga ama si Radit,” sergahku.
“Ya, biar atuh ....”
“Masalahnya dia minta duit nanti, jatah Rafi berkurang, dong!”
“Haha, Rapih ... Rapih ....”
“Rafi, Bu, ef buka pe!”
“Halah!” Ibu mengibadkan tangannya.
***
Rumah lumayan ramai oleh keluarga dan tetangga yang bantu-bantu masak.
Aku, Radit dan Fahri membantu Sebisanya. Mengangkat kardus air mineral,
nganter kopi dan kue-kue buat yang kerja masang tenda. Sampai beli-beli
kekurangan bahan hajatan, semisal tisu dan lain-lain.
Sampai
menjelang sore, Dila datang bersama temannya, Santi. Aku
memperkenalkannya pada abah dan ibu. Setelah itu mereka berdua ikut
bantu-bantu juga.
‘Duh, si Kudil kelihatan rajin beud, dah, ketara bener mau mengambil hati kedua orang tuaku, hehe.’
Menjelang sore, aku mengajak teman-teman main ke sawah, yang ada
sungainya. Tidak terlalu jauh dari rumah. Para petani sedang menggarap
sawah. Sedang di sungai beberapa gadis sedang mandi. Teman-teman
mengajakku main di pinggir sungai kecil berbatu-batu itu, tidak jauh
dari lokasi gadis-gadis yang mandi.
Tidak lama teman-teman asyik
merendamkan kaki mereka ke dalam air yang sejuk, sementara Fahri sudah
nyebur ke air dan mandi. Dia mengambil lokasi yang agak jauh dari
gadis-gadis. Sejenak aku mengamati Radit dan Dila, dua orang yang selalu
punya beribu alasan untuk memperjuangkan perasaannya. Tidak seperti
aku. Tiba-tiba aku ingat Hanna lagi. Seandainya saja aku punya sedikit
keberanian menanyakan kabarnya.
Menepis bayangan Hanna, aku
menyusul Fahri, ikut nyebur juga. Namun, beberapa saat membuka kaosku,
terdengar gadis-gadis berteriak.
“A’a ... A’a!” Kakak, maksudnya ....
Aku menoleh, gadis-gadis yang lagi mandi menunjuk-nunjuk diriku.
Akhirnya kupakai lagi kaosku. Gadis-gadis diam. Lalu kubuka lagi, eh
mereka jejeritan lagi. Akhirnya aku nggak jadi mandi, takut keseksianku
mengotori pikiran mereka. Haha!
Lagi asyik becandaan sama Radit,
Kudil, dan Santi, ada seseorang memanggilku. Dengan pakaian yang
setengah basah, rambut basah, aku meninggalkan teman-teman dan bergegas
menemui orang yang memanggil. Takut kalau abah yang butuh bantuan anak
bujang satu-satunya ini, plus ganteng, jangan lupa.
Tiba di
dataran yang agak tinggi dan dikelilingi sawah, si Andi, anak berusia
delapan tahun itu menunjuk ke arah jalanan tanah yang cukup lebar. Di
sana berdiri dua orang wanita, yang satu agak gemuk dengan jilbab yang
melambai ditiup angin, dan yang satu lagi ....
Aku berdiri
sejenak sambil tersenyum, menetralkan detak jantung yang mendadak lebih
cepat dari biasanya. Mendadak langit jingga berubah merah jambu,
daun-daun kering yang berguguran ditiup angin serupa salju di tengah
kebun bunga Sakura. Sejuk sampai menyentuh hatiku yang kering
retak-retak bagai tanah sawah yang sekian bulan tak dialiri air.
Membuatnya kembali utuh. Ah ... itu Hanna, sedang berjalan ke arahku
dengan rambut kuncir satunya yang bergoyang karena langkah tergesa.
Aku cepat menyusulnya, takut sepasang kaki yang tak biasa berjalan di pematang itu tergelincir ke sawah.
“Pelan-pelan, ‘Nyah!”
Hanna berhenti sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Saat aku tinggal kira-kira lima meter darinya, Hanna kembali maju beberapa langkah dan terpeleset!
“Nah, kan saya bilang juga apa, Nyah, pelan-pelan, saya nggak mau megangin Nyonya, takut kena denda!”
Hanna tertawa, sambil menarik diri sendiri ke pematang.
“Iih ... Rafi perhitungan amat, aku udah jauh-jauh ke sini nyetir sendiri!”
Aku tersenyum sambil menunggunya menarik sebelah kaki ke atas. Lalu terduduk di pematang. Dan aku pun ikut duduk.
“Gimana ceritanya bisa sampai ke sini?”
“Aku bilang ke mama mau main ke kampungnya Bi Asih, itu ... yang
nemenin aku. Beliau udah ikut mama sejak aku kecil ... rumah ponakannya
Bi Asih nggak jauh dari sini!”
“Tau dari mana kalau aku di sini?”
“Dari temen-temen dan ibu kos kamu!”
Aku tertawa kecil, tak habis pikir, sekaligus senang, haru, jadi satu.
“Harusnya kamu nggak maksain diri ke sini, kan baru aja sehat, nanti sakit lagi gimana?”
“Nggak apa-apa, kok, aku udah sehat, malah di rumah terus bikin aku kayak orang sakit.”
“Wajarlah ... orang sakitnya pindah ke aku sekarang ....”
“Masa? Kamu sakit apa, Fi?” Wajah Hanna terlihat cemas.
“Sesak napas.”
“Kok, bisa? Kecapean kali?”
“Bukan ....”
“Terus ...?”
“Sesak napas, sebab separuh napasnya ada di kamu ....”
“Rafi! Ada-ada aja, kamu!” Hanna memukul pundakku dengan rona merah jambu di kedua pipinya.
Sumpah, berkali-kali dan gratis juga, aku mau!
Bersambung aaah ....
Duh, maaf ya kalau part ini kurang greget 🙏