Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Senin, 23 Desember 2019

Kekasih Bayaran 11-15

KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 11


“Kenapa Nyonya ke sini? Ngerasain luka kena cuka, juga?”
Dia ngangguk, bro! Gua bahagia!
“Radit ...!” Kukejar si keriting itu sampai dapat dan kupeluk dia, walau meronta-ronta!
Kok Radit yang dipeluk, sih? Mau meluk Nyonya belum boleh .... Aih ....

“Nyonya sama siapa ke sini?” Aku menghentikan langkah saat sudah puas meluruskan helai-helai rambut Radit akibat pelukan yang sangat panas dan menggairahkan, sampai membuat pemuda keriting itu membasuh tubuhnya di keran tujuh kali –satu kalinya dengan pasir—akibat seranganku.

“Sama bibi, biasa kalau tinggal di rumah orang tua nggak bisa bebas keluar sendirian,” jawab Hanna.
“Oh, gitu, ya?” Aku senyum-senyum sendiri berdiri di sebelah Hanna.
“Kenapa, sih? Senyum-senyum terus?” tanya gadis itu sambil ikut tersenyum juga.
“Seneng lah, Nyonya ke sini.”

Hanna menunduk menyembunyikan tawanya.
“Keluar sendiri memang nggak baik buat cewek, Nya.”
“Terus baiknya sama siapa?”
“Sama suami ….” Aku memalingkan wajah sambil mengulum senyum, berharap akulah yang menjadi suaminya kelak. Jauh sekali pikiranku.

Sayangnya, kalimatku itu malah membuat wajah Hanna berubah muram. Ia menyapu pandangan di sekitar lapangan yang mulai dinaungi matahari sore.

“Menurutmu menikah itu apa, Fi?” tanya Hanna dengan pandangan kosong ke arah cakrawala.
Aku garuk-garuk kepala bingung mau menjawab apa? Secara tadi cuma jawab asal-asalan saja. Yang kutahu, dalam hidup aku hanya menginginkannya, ingin menghabiskan waktu berasama hingga menua. Jika itu alasan yang kuutarakan apa tidak terlalu memalukan?

“Fi ….” Suara Hanna terdengar melemah.
“Hmm?” Aku menoleh, mencoba mengabaikan Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut tergelung handuk. Bisa-bisanya penampakan muncul di saat-saat syahdu, dengan embusan angin sepoi-sepoi seolah menjadi penerjemah bahasa hati aku dan Hanna yang tidak tersampaikan lewat kata-kata?

‘Nggak pas banget gitu, kayak lagi menikmati hidangan Sunda, tiba-tiba disodorin donat dengan cocolan sambal terasi!’
“Rafi, papa memintaku untuk serius dengan Daniel.”

Papanya? Oke, aku masih bisa tenang, asal jangan si Nyonya yang kebelet pengen nikahin si Kuda Niel. “Alasannya apa?”
“Kalau Daniel jadi menantunya, Daniel bisa menolong perusahaan papa yang hampir nggak jalan setengah tahun terakhir.”
Sedikit nyeri di dada, andai aku punya kemampuan, pastilah aku pun akan membantu papa Hanna.
“Kamu … mau?” tanyaku ragu.

“Nggak!”
‘Yes! Bagus! Hatiku kembang lagi.
“Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa seandainya sesuatu terjadi padaku, Fi. Kalau memang Daniel sudah berubah dan dia bisa menunjukkan itu ke papa, aku nggak punya alasan buat nolak dia.”
Pembicaraan yang membuat hatiku terluka, membaik, lalu terluka lagi, aku tahu orang seperti apa Daniel, melalui dua kali pertemuan yang tidak disengaja.

“Katakan sesuatu yang bisa membuatku memperjuangkanmu, Han!” Entah dapat keberanian dari mana aku mengatakan kalimat barusan.

Hanna menatapku dengan anak-anak rambut yang menutupi matanya karena embusan angin semilir. Beberapa kali berkedip memamerkan betapa indah sepasang manik cokelat miliknya. Tapi … ia tak mengatakan apa-apa. Aku menunduk dalam, mencoba mengobati luka di hati dengan mengingat nasihat Fahri. Siapa pun jodoh kita, sudah tertulis bahkan sebelum kita dilahirkan.

“Nyonya sudah makan?”
Hanna menggeleng.
“Makan, yuk, sekalian sama bibi ama Radit juga!”

Hanna mengangguk sembari tersenyum.
Kami mampir di sebuah rumah makan lesehan dekat kost-an. Bibi menolak makan bersama, jadi hanya kami bertiga. Aneh, biasanya aku makan lahap sekali di lesehan ini. Tapi kali ini rasanya hambar. Belum sampai habis nasi di piring Hanna, si bibi datang tergopoh-gopoh membisikkan sesuatu di telinga Hanna.

“Sebentar lagi, Bi, aku belum ngasih uangnya Rafi.”
“Besok saja kita cari alasan lain, Non, sekarang kita harus pulang, mereka sudah dekat,” bisik si bibi, masih bisa kudengar.

Aku dan Radit berpandangan, mengernyitkan dahi. Ada apa sebenarnya, mereka siapa yang ditakukan si bibi?
“Aku pamit dulu, ya, Fi, see you!” Hanna beranjak tanpa menunggu kami mengantarnya ke depan. Ia dan bibi terlihat buru-buru sekali.

Malamnya, entah kenapa mata sulit sekali dibawa ke alam mimpi. Padahal kalau bisa mimpi kan, aku bisa istirahat sebentar dari mikirin si nyonya. Kata-katanya tentang pernikahan dengan Daniel membuatku bolak-balik kulkas buat minum air dingin. Padahal cuaca malam ini adem. Berkali-kali juga bolak-balik kamar mandi buat pipis. Tiba di kasur, merem, haus lagi. ‘Kayak gitu aja terus sampai rambutnya Radit jadi lurus alami.’ Entah jam berapa akhirnya mataku bisa terpejam, dan tiba-tiba terbangun saat mendengar suara azan.

Pag-pagi sekali Radit menjemputku hendak ke rumah sakit.
“Dila udah bisa pulang, Fi, anterin, yuk!”

Aku menyanggupi, kupikir seharusnya tidak ada yang berubah antara aku dan Dila. Jika aku menghindari pasti itu tidak adil baginya. Aku mencoba memposisikan diri seandainya jadi pihak yang ditolak, oleh Hanna misalnya, pasti rasanya tidak enak kalau diabaikan, tidak dianggap teman lagi.

***

Saat berada di mobil Radit, tiba-tiba Hanna menelepon, ia ingin bertemu. Aku katakan bahwa kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, dan Hanna tidak keberatan bertemu di sana.
Tiba di kamar rawat Dila, sudah ada Santi di sana, terlihat wajah mata gadis itu bengkak, mngkin kurang tidur.

“Hai, San,” sapaku.
“Hai, Fi, makasih sudah datang,” katanya. “Aku udah urus administrasinya, sebentar lagi Dila sudah bisa pulang.”
“Udah enakan?” tanya Radit pada Dila yang sedang duduk.

Gadis itu mengangguk.
“Mana barang yang mau dibawa?” tanya Radit.
“Nih, udah rapi,” jawab Santi.

“Dokternya udah ke sini?” tanyaku pada Dila dan Santi.
“Belum, biasanya bentar lagi,” jawab Santi.
“Ya udah kita tunggu aja bentar,” kataku sambil mengajak Radit ke luar ruangan. Timbul rasa kasihan melihat Dila terbaring tanpa keluarga seperti itu. Semoga ia lekas membaik.

Beberapa menit duduk di kursi tunggu rumah sakit, Hanna menelepon, ia ingin bertemu denganku. Akhirnya aku menjemputnya di lokasi parkir.

Sama seperti kemarin, ada si bibi yang menemaninya, wanita paruh baya itu menunggu di koridor dekat tempat parkir. Aku menemui Hanna yang hari ini tampak cerah dengan atasan biru berenda di bagian lehernya, manis sekali, walau bawahannya tetap jeans dan sepatu sneakers, dia tetap terlihat girly. Rambutnya bergoyang saat menatapku.

“Rafi!” Hanna melambaikan tangan, setengah berlari ia menghampiriku, jadi bikin pengen meluk, kan?
Aku membalas lambaian tangannya. Ingin ikut lari-lari juga, tapi takut jadi kayak film India. Akhirnya hanya deretan gigi pepsodent yang kuhadiahkan padanya, sebab mau berkata-kata, aku sudah tak sanggup merangkainya, syaraf-syaraf otak terhalang oleh pesona si nyonya.

“Jangan lari, Nya, apa lagi lari dari saya, saya belum sanggup ditinggal jauh-jauh.” Akhirnya kalimat bucin lagi yang keluar dari mulutku.
“Ya udah, aku temenin kamu seharian ini, deh, sebagai pertemuan terakhir,” katanya.
“Terakhir?” dadaku bagai dihantam palu godam saat mendengarnya, bagaimana kujalani hari tanpa bertemu dengannya lagi?

“Hari terakhir sebagai bos dan karyawan maksudnya …,” ucap Hanna sambil tersenyum.
“Ah … iya,” kataku sambil mengelus dada sendiri, soalnya mau ngelus dada si nyonya takut digampar. Wkwkwk!

Lega sekali mendengarnya, kurikra sudah tidak akan ada harapan buat bisa bertemu Hanna.
“Kita anter Dila pulang ke kost-an, nggak apa-apa, kan, Nya?”
“Boleh!”

Kami berdua berjalan menyusuri koridor menuju kamar rawat Dila. Sesampainya di sana, dokter baru saja ke luar dari ruangan. Santi, Dila, dan Radit menyambut kedatangan kami.

Hanna menyapa ketiganya dan ber-cipika-cipiki, kecuali dengan Radit. Tidak lama, kami pun bersiap meninggalkan rumah sakit. Radit membawakan tas perlengkapan Dila, sementara gadis itu terhuyung-huyung turun dari ranjang rawat. Santi buru-buru mendekatkan kursi roda yang diraihnya dari seorang perawat. Akhirnya dengan refleks aku memegangi lengan Dila. Maksudku, biar dia tidak terjatuh, tapi sepertinya tarikanku yang tak bertenaga ini terlalu kuat buatnya yang baru sehat?

Sehingga tubuhnya tersentak dan menempel padaku. Sebelah lengan Dila bergelayut di pundakku. Aku sedikit kaget.

“Tarik sini kursi rodanya!” teriakku sedikit panik. Lalu dengan cepat mendudukkan Dila di sana, walau usaha itu cukup sulit, sebab sepertinya tubuh Dila lemas sekali, atau dia sengaja menempel padaku? Entahlah.

Cepat-cepat Santi mendorong kursi rodanya, disusul Radit, terakhir aku dan Hanna yang kali ini membuang muka saat aku melihatnya. Aku menggaruk-garuk kepala, lalu saat menoleh ke Hanna untuk ke sekian kali, lagi-lagi ia tak mau menatapku.

Tiba di parkiran, Hanna menawarkan mobilnya. “Kalau nggak muat di mobil Radit, pakai mobilku aja, sekalian nganter Rafi.”

“Iya, naik mobil bos Hanna aja, ac mobil gua mati soalnya, kasihan yang baru sehat nanti kepanasan,” kata Radit.

Akhirnya aku menyetir mobil Hanna yang isinya si nyonya, si Kudil, sama Santi. Bibi? Biarkan dia mengulang masa muda bersama pria tampan bernama Radit. Mungkin usia mobil dan potongan rambut Radit itu bisa mengingatkan si bibi pada masa mudanya.

Lucu, Dila yang tadi lemah, kini bisa bercerita banyak di jok belakang bersama Santi, kadang Hanna ikut menimpali. Dan topik ceritanya lebih banyak tentang aku. Bagaimana aku dulu saat baru masuk kuliah, bagaimana akrabnya aku dengan Dila, termasuk akrabnya Dila dengan keluargaku. Seolah-olah si Kudil bukan dirinya seperi biasa. ‘Kesambet suster ngesot rumah sakit, kali tuh anak?’
Sesampainya di kost-an Dila, kami langsung pamit, tapi Dila menahan agar kami makan dulu di sana. Tentu saja kami menolak, tidak ingin merepotkan. “Ya, udah, tunggu bentar, Fi, aku mau balikin baju kamu,” kata Dila.

“Baju apaan? Kamu buka-buka baju di sini, Fi?” sergah Radit.
“Eh … enggak … mana pernah?” jawabku menggeleng panik. Lalu melihat reaksi Hanna, ia masih tak mau melihatku.

Tidak lama kemudian Dila keluar dengan satu baju di tangannya yang sudah terlipat rapi. “Ini, Fi!”
“Oh, almamater!” seruku girang merasa terselamatkan.

“Iya, yang waku kamu minjemin aku pas keluar lab, abis praktikum, tiba-tiba hujan, itu loh …,” kata si Kudil.
‘Elah … nggak usah dijelasin juga kali …?’ Aku segera meraih almamater itu dan cepat-cepat pamit keluar dari kost-an si Kudil aneh. Radit menyusulku di belakang, sementara Hanna mendahului.
Tiba di dekat mobil Hanna, ia menurunkan tas dari punggungnya, “ini gaji kamu, Fi, aku lupa ada urusan mendadak!”

‘Lupa kok sama urusan mendadak?’
“Jangan, dong, Nya, saya mau ngajak nyonya jalan sebentar, sama Radit juga.”
“Iya, Nya, kami mau ke acara lamaran Fahri, Nyonya ikut, ya!” ajak Radit pula.
“Heh, ngapain ikut-ikutan panggiil ‘Nyonya’?” kataku pada Radit. “Itu panggilan sayang gua, tau nggak?” kupelankan suara berbisik di telinganya. Radit menoyor kepalaku.
“Ikut, ya, Nya?” Aku memohon. Akhirnya Hanna mengangguk.

***

Kami langsung menuju rumah calon istri Fahri. Si bibi sebenarnya kami bebaskan mau naik mobil siapa, eh ternyata dia lebih milih ikut Radit, ‘bibi lebih suka naik mobil yang engga ada ac-nya,’ katanya. Selain itu si bibi betah ngobrol sama Radit. Bisa-bisa kalo ditolak Kudil, Radit bakalan nembak si bibi, nih.

Di mobil, Hanna lebih banyak diam, beberapa kali aku menoleh, dan dia menatap ke kaca jendela.
“Nyonya kenapa diem aja? Sariawan?”
“Ah, nggak kok lagi males ngomong aja.”
“Mau cilok?” tanyaku sambil menunjuk ke arah gerobak di depan.
Hanna menggeleng.

“ES cendol?”
“Nggak.”
“Petis keknya seger, tuh, Nya!”
Hanna menggeleng.
“Siomay?”
“Nggak mau!”
“Rafi?”

Hanna menoleh.
“Mau nggak sama Rafi?”
“Pede banget, sih?”
Aku senyum-senyum lebar banget, ‘mungkin Hanna benar, aku kepedean. Tapi membaca pikiran gadis model Hanna harus dengan cara dijebak. Dia nggak akan mau bilang terus terong, eh, terang.’
“Pede itu modal utama orang miskin seperti saya, Nya ….”

Hanna diam, tapi aku tahu dia mencuri pandang. Jurus ke gadis pendiam yang nggak mau ngomong adalah, pura-pura ngambek. Itu yang gue pelajari dari kartun Upin Ipin.
“Maaf ….” Hanna memberi jeda. “Tapi kan maksud aku nggak ke sana!” Suara Hanna meninggi.
“Terus ke mana?”

“Kekepedean kamu itu!”
“Ya, hidup harus pede, atuh, Nya!”
“Tapi nggak ke semua cewek juga!”
“Emang enggak, kok!”
“Bohong!”
“Sumpah!”

“Ke Dila itu apa namanya? Tebar pesona? Itu sodaraan sama kepedean?!”
“Kan saya pernah bilang dia emang suka sama saya, Nya!”
“Dan itu karena kamu tebar pesona!”
“Enggak!”
“Iya!”
“Demi Allah nggak, Nya, saya Cuma tebar pesona ke satu cewek aja!”
“Siapa?”
“Kamu!”

Hanna diam. Dan aku pun diam. Seperti itu saja sambil lirik-lirikan sampai ke rumah calon istrinya Fahri.
‘Kok berantemnya kayak orang pacaran, ya? Padahal, mah, engga ….’ Apa ini yang disebut dengan cinta dewasa? Tapi seandainya benar pun, rintangan di depan amatlah lebar. Walau tujuan yang kulihat bersamanya pada titik yang sama. Jalannya akan sanga berbeda. Bagiku akan sangat berliku, penuh onak dan duri.

Kami tiba di rumah calon istri Fahri. Ada beberapa hantaran yang akan dibawa. Benda-benda khas perempuan itu tertata dalam kotak kaca yang dihias pita. Satu orang memegang satu hantaran. Aku mengajak Hanna membawa benda itu.

“Mau yang kayak gini juga nggak, Nya?” godaku sambil memberikannya sebuah kotak hantaran berisi mukena yang dibentuk menyerupai masjid.
Hanna tersenyum malu-malu sambil memandangi si kotak dengan mata berbinar.
“Mau lah,” jawabnya.

“Ya udah bawa aja yang itu, nanti saya bilang ke Fahri.”
Hanna memukul pundakku sambil melotot. “Dasar!”

“Eh, hati-hati, Nya, hari ini saya masih karyawan, masih terikat perjanjian bonus sentuh kena dua ratus ribu!” Tanpa sadar sebelah tanganku menahan kotak kaca yang dipegang Hanna dengan sebelah tangan. Takut jatuh! Tapi malah kepegang tangannya. Pas sadar, Hanna langsung melotot!

“Nggak sengaja, Nya, jadi impas, ya, impas! Pis, atuh!”
“Iih, Rafi!” Hanna mencebik, tapi dengan wajah memerah muda.

Sejenak, aku senyum-senyum sendiri. Kami berdua jadi memandangi kotak kaca yang kami pegang. Lalu saat aku tak bisa menahan untuk menatap sang gadis, sepasang manik coklat itu pun tertangkap basah sedang menatapku. Mata kami bertemu.

Deg!

Tanpa dikomando kami sama-sama membuang pandangan ke arah lain. Rasanya seperti mengambil sesuatu diam-diam lalu tertangkap basah! Malu ... yang disertai ada manis-manisnya gitu.

Bersambung.

Next part Kekasih Bayaran musim kedua, tentang dunia kerja. Ya, rafi dan kawan2 udah pada lulus kuliah terus kerja, dan mengalami cinta yang dewasa.
Nantikan kisah selanjutnya. Jangan lupa like, komen, dan share, ya! 😘

-----

KEKASIH BAYARAN (NEW)
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 12
Bantu share, ya, biar banyak yang baca. Terima kasih.

Aku cepat-cepat mengambil kotak alklirik satu lagi demi menepis kegugupan di hati. Lalu, mengajak Hanna berjalan mengikuti yang lain.
“Yuk, Nya!”
“Oh, eh … iya,” jawab Hanna mengikuti langkahku.

Hanya tinggal sekitar lima meter lagi kami akan tiba di rumah calon istri Fahri, tiba-tiba Hanna menghentikan langkahnya.
“Kenapa, Nya?”
“Malu, Fi, pakaian aku nggak kayak ibu-ibu yang lain ….”

“Kan emang belum ibu-ibu, nanti kalau udah jadi ibu dari anakku, baru deh pake baju kayak gitu juga,” jawabku iseng sambil mengedipkan sebelah mata. Lagi ngedip, eh tiba-tiba kelilipan, sial! Ini serangga nggak seneng amat liat gue ngebucin.

“Rafi!” Hanna menginjak kakiku sambil melotot, tapi kedua pipinya merona dan cepat-cepat menunduk. “Coba bilang tadi kalau ada acara, kan aku bisa menyesuaikan kostum!” sambungnya dengan suara meninggi.
“Nggak apa-apa, Han, cuek aja,” jawabku, kali ini serius sambil tersenyum mantap. “Yuk!”

Kebetulan Hanna diajak masuk oleh beberapa wanita ke ruangan yang terletak di dalam rumah, sementara aku dan Radit bergabung bersama para pria di bawah tenda, sebagian di teras dan ruangan paling depan.

Tidak lama kemudian acara pun dimulai, setelah serangkaian acara formal seperti pembacaan ayat-ayat suci alquran dan sambutan-sambutan, kedua keluarga menyepakati tanggal pernikahan. Setelah itu terlihat Fahri maju ke tengah-tengah ruangan untuk menerima cincin tanda ikatan dari ibunda dan keluarga calon istrinya.

Sahabatku itu terlihat sangat gagah dengan setelan beskap bermotif di bagian kerahnya dan mengenakan peci senada dengan baju yang bernuansa abu-abu. Wajahnya bersih tak pernah lepas dari senyum, begitu pula dengan calon mertuanya. Seandainya aku yang ada dalam posisi itu … alangkah bahagianya.

Mama Hanna telah bersiap memakaikan cincin di jemari manisku.
‘Selamat ya, Rafi, sebentar lagi kamu akan menjadi menantu mama.’
‘Iya, Ma, saya juga seneng banget, tapi ma seserahannya ngutang dulu, ya, Ma!”
‘Loh, kok gitu?’

‘Soalnya gaji saya belum dibayar sama Nyonya Hanna.’
‘Huh! Dasar kamu laki-laki tidak bermodal! Nggak mau mama ngangkat kamu jadi mantu!’
Plak! Tanganku dipukul!

“Heh! Tutup pentil ban! Ngapain lo pegang-pegang tangan gue?!” Sebuah suara mengagetkan tepat dari sebelah tempat duduk.
‘Loh, kok mama Hanna berubah jadi pemuda keriting dan berjerawat ini?’

“Balikin cincin gua, Dit!” bentakku.
“Cincin apaan? Ngimpi, lo?” Radit menoyor kepalaku, dan itu mampu membuat kesadaranku kembali utuh.

Kupandangi jemari yang masih polos, lalu beralih ke Fahri yang sedang berfoto di depan sana memperlihatkan jarinya. Hehe, Radit bener, gue mimpi.

Hanya Fahri dan calon mertua yang terlihat dari sini, calon istrinya masih disembunyikan di dalam. Sahabatku itu terlihat bahagia. Tidak kurang dari tiga bulan lagi, Fahri akan menyandang gelar suami. Dan jika tidak ada halangan maka saat itu ia juga sudah berstatus sarjana. Sungguh kehidupan yang sempurna. Aku tersenyum turut bahagia, semoga saja aku, Radit dan Fahri bisa wisuda dalam waktu yang bersamaan.

Setelah acara selesai, kami berpamitan dengan keluarga calon istri Fahri. Karena aku dan Radit adalah sahabat Fahri, kami berkesempatan bertemu langsung dengan calon istrinya yang sejak tadi disembunyikan. Ia seorang wanita yang tidak pernah lepas dari senyum, selalu menundukkan pandangan pada para tamu pria sepertiku. Dan yang terakhir, ia sangat ramah pada Hanna, keduanya saling cipika-cipiki dan berpelukan. Tapi denganku dan Radit, gadis itu hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Walau begitu, wajahnya menyiratkan keramahan, pakaiannya tertutup sempurna dari rambut sampai ujung kaki. Warna gaunnya persis sama dengan yang dikenakan Fahri. Kupikir mereka pasangan yang sangat serasi.

Aku kembali duduk di belakang kemudi mobil mewah Hanna. Sesekali obrolan ringan berselang-seling dengan saling diam. Mungkin sedang ada yang dipikirkan Hanna dan aku tidak terlalu tertarik untuk mengetahuinya. Jalanan kota yang sudah mulai dihias lampu-lampu memaksaku untuk lebih konsentrasi saat menyetir. Tapi tiba-tiba saja sebuah pertanyaan terlintas di kepala.

“Mobil ini punya siapa sebenernya, Nya?”
“Punya orang tua semua, Fi, mobil, apartemen, biaya kuliah masih dari ortu semua.”
Aku manggut-manggut. “Makanya kamu masih nggak enak ya kalo ngelawan sama orang tua?”
“Iya, kamu bener. Seandainya aku udah ada kerjaan, pasti aku lebih bebas. Sekarang, nggak bisa. Kemarin waktu tinggal sendiri rasanya udah agak enakan, dari pada harus pindah-pindah terus dari rumah papa … seminggu, terus ke rumah mama …. Jadi pas aku bilang mau kost, mereka sewain apartemen buat aku, uang jajan dikasih lebih. Mungkin mereka seneng kali nggak direpotkan sama aku lagi.”

“Nggak mungkin, lah, Han, orang tua kamu kayak gitu.”
“Mungkin aja, Fi. Mama lagi punya balita, suaminya masih muda dan aku nggak leluasa tinggal di sana. Nggak enak aja, rasanya. Aneh. Giliran tinggal di rumah papa, ya ampun, itu istrinya cereweeet banget, Fi, apa yang aku lakuin nggak pernah yang namanya nggak kena protes! Padahal dia jarang di rumah, kerjaannya pelesiran ke luar negri, tapi sekalinya pulang, haduh, aku pasti langsung kabur!”

Aku menoleh sebentar ke arah gadis yang sedang bersemangat cerita itu, lalu tersenyum. Mencoba menyampaikan padanya bahwa, jangan khawatir, semua akan berlalu.
“Kamu nggak punya temen?”
“Kalau temen kayak Radit, Fahri, Dila, aku nggak punya, Fi, temen-temen yang ketemu di mall waktu itu temen sekelas, tapi ya nggak seakrab kayak kamu sama Radit dan Fahri. Karena sering dianter jemput Daniel, aku jadi jarang berteman sama orang-orang. Daniel membatasi.”

“Daniel suka pegang-pegang, nggak? Maksudku, kalau dia nyentuh kamu, kena denda juga, nggak?” Pertanyaan macam apa, ini?
“Sudah aku bilang hubungan kami udah kayak kakak adik karena udah kenal dari kecil. Nggak kayak orang pacaran pada umumnya, yang kencan, jalan pegangan tangan, nonton bioskop sambil pelukan, atau nonton konser … hampir nggak pernah yang kayak gitu-gitu. Seringnya ya nganter jemput atau ngobrol di rumah pas malam minggu.”

“Alhamdulilah ….” Aku tersenyum memandangi jalanan. “Pasti gara-gara itu dia nggak betah sama kamu terus sering gonta-ganti cewek.”
“Dia pernah bilang dengan siapa pun dia, nantinya bakal tetep sama aku. Karena dia cinta sama aku.”
“Hah? Cinta macam apa kayak gitu?” Aku berdecih.

Hanna diam tak menanggapi, ia seperti tak mendengar dan mengalihkan pandangan ke luar jendela.
“Karena dia tau kamu gadis baik-baik, Han, makanya dia milih kamu yang bakal dijadiin istri. Sementara untuk memenuhi hasratnya … dia bertualang ke cewek-cewek yang dengan suka rela mau di pegang tangannya, dicium, diapa-apain, lah, asal dikasih duit … banyak cewek model begitu sekarang, jangankan dikasih hadiah mahal, dibeliin pulsa aja kadang ada yang rela di emek-emek!

Apalagi si Kuda Nil ini usianya udah di atas 30, cowok di atas 25, itu penglihatan matanya ke cewek udah beda, Han!”
Hanna menoleh padaku dengan bibir sinis dan kening mengernyit.

“Beneran, deh! Daniel tau kamu paling baik diantara cewek-cewek yang pernah dia singgahi, sehingganya dia memilih kamu yang akan dia jadikan istri. Cowok sebrengsek apa pun pas mau nikah dia bakal milih cewek baik-baik! Tinggal ceweknya aja yang harusnya mikir! Belum tentu setelah menikah dia bakal berubah!” Nada suaraku sedikit meninggi, entah kenapa rasanya emosiku meningkat ingat cowok songong itu.

“Biasa aja, dong, ngomongnya, nggak usah ngegas!”
“Emang biasa aja!”
“Kamu kayak lagi marah gitu sama aku?”

Aku menoleh, “Marah? Sama kamu? Ya nggak mungkin lah, Han … kan sayang ….”
Hanna memukulku dengan tas kecilnya. “Sotoy!”
Aku hanya menoleh sesaat sambil tertawa kecil. Suatu saat kamu akan tahu apa yang aku katakan itu benar.
“Fi kita ke mall itu aja, aku pengen ke sana!”

“Siap, Nya!” Aku mengikuti arahan si Nyonya.
Setelah memarkirkan mobil, aku, Hanna, Radit, dan bibi –yang naik mobil terpisah—memasuki mall, dan langsung mengikuti Hanna. Gadis, yang tampak ceria itu, memilih sebuah tempat makan di lantai atas. Suasana sangat ramai walaupun hari menjelang magrib. Heran ini orang-orang bukanya pulang, malah kongkow-kongkow. Lah, terus gua ngapain? Sama aja dong kayak mereka.
Hanna memesan makanan, lalu kami menikmatinya. Tidak lama kemudian gadis itu menyerahkan sebuah amplop padaku.

“Lunas, ya, Fi,” katanya.
Kalimat itu lebih terdengar seperti ucapan selamat tinggal buatku, membuat ragu menerimanya.
Sebab dengan mengambil maka berakhir sudah ikatan antara aku dan Hanna. Hubungan yang menurutku unik. Andai bisa, rasanya uang ini ingin kutolak saja, gantian aku yang bayar dia buat jadi kekasih bayaran selama sebulan. Hhh … seandainya saja …. Tapi bayangan ibu kost dengan mata melotot menari-nari di kepala. Akhirnya kuterima juga.

“Kok sedih gitu mukanya?” tanya Hanna.
“Iya, nih, padahal gua mau minta traktir,” tambah Radit.
Suara Radit lagi, merusak suasana banget sih, ni anak! Mirip sisa daging ayam yang nempel di gigi, udah dilupain, eh pas kesentuh sama lidah jadi inget lagi, pengen buang pake tusuk gigi tapi kagak bisa! Ngeganggu banget!

“Han, jangan pulang dulu, ya, magriban dulu,” kataku. Hanna setuju. Kami pergi ke musola yang letaknya di lantai bawah dan ukurannya sangat minimalis untuk mall sebesar ini. Padahal yang melaksanakan salat sangatlah ramai.

Setelah selesai kami berjalan berempat menuju ke lantai atas lagi, bibi dan Radit mengekor di belakang kami. Hanna mau mengajakku ke suatu tempat. Selama perjalanan, gadis itu sering celingak-celinguk ke dalam toko, mungkin ada barang yang dia suka.

“Kamu mau belanja? Ayo aku temenin,” tawarku.
Hanna menoleh, rambutnya bergoyang kencang. “Emm … kamu mau hadiah apa, Fi?”
“Hadiah?”

“Kamu kan pernah kasih hadiah buat aku, sekarang gantian ….”
Aku sedikit menundukkan kepala demi menatap keseriusannya. “Aku nggak mau hadiah, itu terasa seperti sebuah ucapan selamat tinggal, kenang-kenangan seolah kita nggak akan ketemu lagi.”

Hanna tercenung beberapa saat.
“Bisa, nggak? Hadiahnya diganti?” tanyaku.
“Ganti apa?”

‘Ganti jadi kekasih beneran, bukan bayaran ….’ Sayangnya itu hanya suara hati yang tak berani kuucapkan.
“Ganti apa, Rafi?”

“Eh … maksudku nanti aja hadiahnya pas aku wisuda, kamu mau kan datang pas aku wisuda?”
“Oh, gitu ….” Hanna mengangguk-angguk. “Tapi kamu sukanya apa? Jangan bilang uang, ya?” Hanna sedikit tertawa, ternyata dia tahu aku sangat menyukai uang.

Aku menyapu pandangan ke sekitar toko di lantai dua ini, entah lah, aku tak tertarik dengan benda apa pun, suka-nya cuma sama Hanna doank, sayangnya dia nggak bisa dibungkus kantong kresek dan dibawa pulang ….
“Apa aja,” kataku.

“Ini lucu, Fi, bisa couple-an ….” Hanna berjalan cepat ke dalam butik dan menunjuk sepasang jam tangan di dalam etalase. “Suka, nggak, Fi?”
“Apa aja yang kamu suka, aku juga suka.”

“Ntar aja, deh balik lagi ke sini, ke atas dulu, yuk! Hahaha kayaknya si bibi kecapean, tuh!” Hanna menunjuk bibi dan Radit yang sedang duduk di kursi besi dekat dinding pembatas.
Kami melanjutkan perjalanan naik satu lantai lagi dengan eskalator. Ternyata Hanna mengajak ke
area bermain Ice Skating. “Main, yuk, Fi!” ajak Hanna.

“Enggak, ah, nggak bisa," tolakku sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
“Masa? Aku ajarin ….”

“Nggak mau, nanti aku megang-megang tangan kamu, gajiku habis kena denda!” ucapku sambil mendekap erat tas –yang berisi lima juta-- di depan dada.

Hanna tergelak. “Geer banget,sih!” Ia berlalu mengambil peralatan, untukku dan Radit juga. Si bibi nunggu di kursi dekat sini. Hanna memaksaku ikut, Radit juga cuek saja melihatku. Tak lama ia melambai ke arah bibi, akrab banget tu bocah!

Belum mulai masuk, Hanna udah bersin-bersin, aku mengeluarkan sweater dari dalam tas dan memberikannya pada gadis itu. “Pake, nih, lagian mau kesini nggak pake persiapan.”
Hanna cuma nyengir sambil mengenakannya. “Kegedean!” katanya sambil tertawa, menarik lengan sweater ke arah siku.

“Nggak apa-apa yang penting anget.”
Kami bertiga masuk ke arena. Pas Radit mau masuk, kutahan tubuhnya sambil memberikan ponselku. “Elo belakangan masuknya, ambil foto kita dulu, oke!”
Radit mencebik tak rela.

Aku berpegangan pada tiang penyangga di pinggir lapangan, sementara Hanna sedang berputar-putar di depan sana. Aku hanya memandanginya saja sambil sesekali melambaikan tangan. Udah kayak bapak-bapak nungguin anaknya main, ck. ‘Nggak betah gue!’

Tiba-tiba Hanna berhenti di depanku, mengulurkan kedua tangannya.
“Ayo!” katanya, “nggak bakal kena denda, kok!” teriak Hanna di sela-sela suara pengunjung lain.
Terang saja nggak bakal didenda, kedua tangannya tertutup sweaterku yang kepanjangan di kedua lengannya sehingga membuat jari-jarinya tertutupi. Aku tergelak. Lalu, dengan ragu memegang kedua tangan itu. Hanna mundur beberapa langkah, dan aku berhasil mengikutinya. Gerakan kaki kami seirama.

“Itu, bisa ...,” kata Hanna sambil tertawa.
Ya Tuhan ... aku ingin selalu melihat wajah itu, senyum itu, setiap hari. Bagaimana caranya?
Hanna melambatkan langkahnya. “Rafi, kamu serius nggak mau hadiah apa-apa?”

Aku menggeleng. “Aku cuma mau waktu berhenti.”
“Nggak mau lah, capek muter-muternya kalau waktu berhenti di sini.”
“Terus enaknya berhenti di mana?” Aku menarik tangan Hanna agar lebih mendekat ke tubuhku.

Membuat dadaku berdebar tak biasa. Kali ini aku serius sekali menatapnya. Dan tanpa diduga, ia yang biasa menunduk saat mata kami bertemu, kali ini membalas tatapanku.
Tepat saat itu, seseorang meluncur di antara kami berdua. Mau tidak mau, aku melepaskan tangan Hanna. Orang itu berteriak dari jauh.

“Jangan pura-pura lagi deh, Cuy, gue eneg ngeliatnya!”
Radit! Rese!
Radit datang lagi dengan kecepatan penuh, akan menabrakku. Aku menghindar, lalu saat ia melewati sambil meledek, aku mengejarnya! Tanpa sadar. Muter-muter sampai kami tiba lagi di depan Hanna.

“Rafi! Kamu bohong, ya? Tadi bilangnya ga bisa!” Hanna bersiap memukulku.
Aku cepat-cepat kabur lagi! Dasar Radit perusak suasana!

***

Pukul sepuluh malam kami memutuskan untuk pulang. Hawa di area parkir terasa sangat berbeda, atau ini firasat? Atau karena perasaan tidak enak karena kontrak kerja dengan Hanna berakhir?
Perasaan kayak ada penampakan yang ngikutin, padahal Radit udah nggak ada di sini.

Aku berpamitan khusus kepada gadis itu di pojok yang agak jauh dari lokasi mobil Hanna dan mobil Radit. Sementara Radit dan bibi menunggu di dekat mobil, atau mungkin sahabatku itu sudah lebih dulu memutar mobilnya ke lantai bawah.

“Makasih buat dua bulan yang nggak pernah terbayang dibenakku sebelumnya,” kata Hanna.
“Sama-sama, kalau ada apa-apa hubungi aku, ya,” jawabku dengan perasaan yang hampa. Tidak memiliki tapi merasa kehilangan. Payah. Lemah banget ini hati. Nggak nyangka seorang Rafi bisa jadi kayak gini.

Hanna mengangguk dan mengulurkan tangannya. Baru saja aku berniat menyambutnya tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“Woy! Nggak mempan dibilangin lo ya!”

Bugh! Tanpa aba-aba sebuah tinju mendarat di wajahku. Karena kuatnya aku sampai terkapar menyentuh lantai.
“Rafi!” teriakan Hanna terdengar panik. Tidak lama derap langkah mendekati kami. Lalu, tak terhitung lagi pukulan yang kuterima dan lengkingan Hanna meneriaki namaku.

Tak sempat melawan, para anjing ini sangat tidak sportif mengeroyokku. Jangankan membalas, berdiri pun aku tak diberi kesempatan. Kaki-kaki itu menendang perutku, punggung, menginjak kepala. Tinju pun tak henti-hentinya, bertubi-tubi menghantam seluruh tubuh.

Sempat mereka berhenti sebentar saat kurasakan ada tubuh yang melindungiku. Samar kulihat itu Hanna dengan mata basah dan wajah kacau. “Berhenti!” katanya. Tapi beberapa orang kemudian menarik gadis itu menjauh, hingga suaranya mengecil saat berkali-kali meneriakkan namaku.

Aku tertelungkup mencium lantai. Kurasa ada yang menetes-netes di hidung dan mulut ini. Seluruh badan sudah tak dapat digerakkan. Mata pun samar melihat, hanya mampu berkedip-kedip, ingin berteriak minta tolong tapi tak punya kemampuan.

Di antara keremangan malam, masih terlihat olehku sudut lokasi parkir ini, di sana Hanna berdiri di pinggir gedung seolah-olah hendak bunuh diri, lalu aku dengan bodohnya menolong gadis itu. Dan untuk pertama kalinya kudengar suaranya. Ternyata, ini adalah tempat di mana kami pertama kali bertemu. Ternyata, Hanna masih mengingatnya.

“Uhuk uhuk!” Siapa aja, tolongin gua ....
Emak-emak KBM, tolong anak bujangmu ini, Mak!
Bersambung.

Dunia kerjanya next part ajalah, ternyata nyeritain perpisahan mereka butuh 2000 kata lebih.
Yang pengen liat Rafi bahagia, sabar ya, kebahagiaan yang hakiki didapat dengan tetesan darah dan air mata.

Kembali mengingatkan PO ke 2 Lelaki Es tinggal 2 hari lagi. 309 halaman dapat bonus gantungan kunci. Jangan lupa ikut challenge review novel berhadiah tupperwere dan pulsa.
Jangan lupa like, komen, dan share, ya! Thank you 😘

-----

KEKASIH BAYARAN NEW
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 13

Saat membuka mata, aku sudah berada di tempat berbeda. Aku masih ingat semua yang terjadi, itu artinya ... aku tidak gegar otak apa lagi amnesia. Walaupun jujur saja, mungkin amnesia akan lebih baik, karena mulai saat ini aku harus belajar keras menahan rindu. Dari yang sedikit kadarnya, sampai yang akut tingkat kabupaten.

‘Hhh ... kayak gini amat nasib jadi orang miskin. Elo, hati, salah juga, sih, berani-beraninya jatuh cinta ke cewek yang nggak sepadan sama lo, ribet kan jadinya?’
Aku memandangi langit-langit putih bersih, ada hiasan botol infus di sana yang menggantung di tiang. Selangnya tersambung ke pergelangan tangan kiriku.

“Rafi!” Suara Radit mengejutkanku, berbarengan dengan sebuah pelukan erat yang membuat napasku terhalang rambutnya yang keriting dan panjang.
“Hatcih!” Spontan aku bersin. “Berapa hari lo nggak keramas?” ujarku mendorong tubuhnya. Aku tahu dia sedih, tapi aku tidak mau dia khawatir.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Radit. “Sebelah mana yang sakit?”

Aku menunjuk dada.
“Jantung lo?”
Aku menggeleng. “Hati gue.”

Radit mendengkus. “Hati lo nggak akan apa-apa! Kepala elo tuh yang bakal diperiksa, bentar lagi mau city scan kata susternya!”

“Gue yakin nggak apa-apa, nggak bisa hati gue aja yang di scan? Terus dioperasi sekalian, keluarin tuh si Hanna dari dalam sana ....” Aku menutup mata sambil meringis. Kemudian entah bantal dari mana menimpuk kepalaku.

“Gua aja kalo yang itu, pake piso dapur!”
“Aw ...!” Aku meringis sambil memegangi dada.
Tidak lama kemudian Fahri datang, merangkulku seperti biasa. “Sabar, ya, Fi!” katanya. “Kita udah lapor polisi.”

“Iya, kita nggak terima elu diginiin! Mentang-mentang lo miskin, jelek, pecicilan, hobi gratisan ...!”
“Cuy! Kata-kata lu lebih nyakitin dari pada pukulan tukang keroyok semalem!” sergahku memotong kalimatnya.

“Bangk* emang otak yang ngeroyok tuh! Masa lo nggak tau, sih, siapa mereka?”
Aku hanya diam, bukannya pesimis mereka bisa dilaporkan tapi aku punya cara lain untuk membalasnya.

“Kita nggak boleh dendam tapi nggak bisa ngebiarin juga, liat dulu perkembangan setelah kita melapor,” tukas Fahri.

“Rafi ...,” panggil seorang cewek dari arah pintu. Kami bertiga menoleh, ternyata si Kudil yang datang dengan bungkusan di tangannya.

Gadis itu duduk di dekat ranjang rawatku, berhadapan dengan Radit. Fahri lebih dulu pamit.
“Kamu kenapa, Fi?” tanya Dila dengan mata berkaca-kaca.

“Biasalah urusan cowok,” jawabku.
“Tapi ini parah banget, muka kamu sampe bengkak, gitu, hiks!” Dila sudah tak kuasa membendung air matanya. Radit cepat-cepat memberikan tisu pada gadis itu.

“Udah nggak apa-apa, kok, jangan khawatir.”
“Kamu udah makan, belom?” tanya Dila sambil membuka rantang bawaannya. Aroma semur jengkol menguar membangkitkan selera. Harus kuakui gadis ini punya kemampuan memasak satu level di atas emaknya Radit, yang itu berarti ‘pinter.’

“Makan, ya, Fi, jangan sampe sakitnya nambah-nambah gara-gara makan sedikit.”
“Yang nungguin juga belum makan, nih, Dil,” kilah Radit.
“Ini, masih banyak, kok, Dit,” jawab Dila.

Radit langsung cengar-cengir sambil menerima rantang dari Dila.
“Rafi, Makan, ya ...,” ujar Dila sambil menyodorkan sendok ke arah mulutku, begitu tiba-tiba dan tanpa hitung mundur dulu seperti kalau lagi mau foto.

Ditodong begitu, refleks mulutku terbuka. Radit langsung sewot. “Sini, sini, Dil, biar gua aja yang suapin, Rafi, mah, beda, kalau disuapin, dia suka gigitin tangan orang yang nyuapin, bahaya!”
‘Heleh, bilang aja hati lo panas!’ batinku. ‘tapi, emang nggak nyaman juga disuapin cewek, kecuali ... Hanna ... halah, Hanna lagi!’

Radit buru-buru mengambil piring di tangan Dila dan menyuapiku. Biasanya orang nyuapin karena kasih sayang, kan ya? Radit mah kayak dendam gitu!

“Jangan gede-dege, donk! Gua kan lagi sakit, nih!”
“Nih, nih! Suap sendiri, nih!” Radit menyodorkan piringnya ke depan mulutku yang penuh makanan.
“Radit ... kasian Rafinya, sini biar aku aja ....” Dila memohon.

Cepat-cepat si keriting itu menarik piringnya.
“Udah, gua suap sendiri aja! Lo bedua jangan rebutan gitu mentang-mentang pada sayang sama gue!”
“Hoek!” kata Radit. Detik selanjutnya ia ‘salting’ sambil mondar-mandir di dekat pintu kamar.

“Eh, ada bungkusan nih, di deket pintu, punya Dila, ya?”
“Eh, Oh ... i ... iya kayaknya?” Gadis itu terbata.
Kami membuka bungkusan itu yang berisi buah-buahan dan aneka roti yang tampak lezat. Radit dan aku buru-buru memilih mana yang akan dilahap, sementara Dila tidak ikut-ikutan. Sesekali gadis itu melirik, saat kami bilang enak, ia langsung membuang muka. Aneh.

***

Pulang dari rumah sakit, aku menyibukkan diri di kampus. Skripsi kugarap dengan serius. Kadang ‘duarius’ bahkan ‘tigarius’, tergantung tingkat kewarasan. Beruntung objek penelitian proyek dosen sendiri, jadi bisa menghemat biaya.

Aku dan Radit juga sering ikut dalam persiapan pernikahan Fahri. Jadi, hari-hari kami berubah jadi super sibuk. Walau begitu, disaat sedang sendiri, lubang di hati akibat perpisahan dengan Hanna masih menganga. Menyisakan sesak di dada.

Sering kukirim pesan tapi tak pernah sampai. Apalagi telepon. Mendadak aku kehilangan kontaknya. Kehilangan kontak bagai kehilangan separuh nafas. Karena setiap kali menghubungi dan gagal, dada kembali merasakan nyeri. Mulanya kukira ini efek dari pengroyokan waktu itu. Tapi setelah aku pulih seutuhnya dan rasa itu masih ada, kupikir ... sakit ini tidak ada obatnya.

‘Apa kabar Nya?’
‘Lagi sibuk apa?’
‘Kamu sehat-sehat aja?’
‘Aku sekarang lagi sibuk nyusun skripsi’
‘Aku udah sehat, kamu gimana?’
‘Nya, kapan bisa ketemuan?’
‘Nya ....’
‘Kangen.’

Pesan WA yang kukirim hampir setiap hari, cuma centang satu, nggak centang dua, apalagi berubah jadi biru. Tapi bodohnya, pesan itu selalu kukirim setiap malam, seolah suatu saat, gadis itu akan membacanya.

Setiap lagu, setiap tempat, mengingatkanku pada Hanna. Bahkan siang itu, saat aku dan Fahri menumpang mobil Radit, kendaraan tua itu pun seakan meledekku.

“Cuy, coba lo buka galery HP lo,” kata Radit sambil menyebutkan tanggal.
Aku mengikuti perintah Radit. Senyumku mengembang. “Kok lo baru bilang sekarang, sih?” seruku sambil menarik sejumput rambut Radit dari jok belakang.

Fahri yang duduk di sebelah Radit tak ambil peduli. Aku jadi bebas senyum-senyum sendiri di jok belakang memandangi videoku dan Hanna yang sedang bermain ice skating.

Tiba-tiba mobil Radit ‘muter’ lagu ...
‘Saat ku sendiri, ku lihat foto dan video
Bersamamu yang telah lama kusimpan
Hancur hati ini melihat semua gambar diri
Yang tak bisa, kuulang kembali
Kuingin saat ini, engkau ada di sini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini hanya rindu.’

“Cuy, ganti! Ganti lagunya!”
“Apaan, sih, lo?” ujar Radit sambil memencet tape mobilnya.
Lagu pun berganti.
‘Dia kini telah pergi jauh
Terbang tinggi tinggalkanku di sini
Tuhan Engkau tahu aku mencintainya
Dan tak ada yang bisa mengganti dirinya
Tuhan hanya dia yang selalu ada
Dalam anganku dalam benakku.’
“Lo ngeledek gue, hah?” Suaraku meninggi.
“Apa, sih, lo? Ngamuk-ngamuk nggak jelas kayak emak-emak keilangan tupperwere?” Radit balas emosi.
“Ganti lagi lagunya!”
“Udah, dari pada galau, mending denger ini deh,” kata Fahri sambil mengganti flasdisk di tape mobil Radit. Detik kemudian mengalun murotal Alquran dari Muzammil. Aku dan Radit terdiam tak mampu berkata-kata.

***

Jadwal wisuda akhir tahun ini sepertinya bisa dicapai. Bahkan sidang skripsi pun kami kompak bertiga, di hari yang sama. Aku jadi bersemangat. Di luar dugaan, pernikahan Fahri dimajukan, tidak perlu menunggu sarjana. Keluarga menimbang tidak baik jika jarak lamaran ke hari pernikahan lebih dari tiga bulan. Jadi bisa dipastikan sahabatku itu akan punya pendamping saat wisuda nanti.
Di acara pernikahan Fari, aku dan Radit menjadi pendamping pengantin. Saat akad, bahkan aku berada di sisinya. Menyimak hafalan surah Arrahman sebagai salah satu maharnya.

Nyess ... hati ini bagai dialiri air sejuk. Tak terasa mataku menghangat, ingat betapa jauhnya diri ini dengan Sang Pencipta. Sehingganya setiap ada permasalahan dalam hidup, selalu menyalahkan keadaan. Lupa jika lebih banyak nikmat yang telah diberikan. Fabi’ayyi aala irobbikuma tukazzibaan.
Suasana pernikahan berlangsung khidmat, tamu undangan laki-laki dipisahkan tempat duduknya dengan tamu undangan perempuan. Acara sakral pun diucapkan Fahri seorang diri. Baru ketika ia mengucapkan akad, ia menemui sang istri.

Aku dan Radit mengikuti prosesi sederhana itu dengan perasaan haru dan bahagia. Hingga acara berakhir, kami berfoto bersama, dan saat hendak meninggalkan Fahri di rumah mertuanya, kami berpelukan erat.
“Selamat, ya, Bro!”
“Eh, udah makan belum? Makan dulu, yuk!” ajak Fahri.

“Kita udah makan belum, sih?” tanyaku pada Radit.
“Udah, Malih!”
“Tapi sama penganten belum ...,” kataku tak tahu malu.
“Ayo, bareng, biar ane nggak kagok sama mertua, masih gerogi, nih,” ajak Fahri.
Kami mengobrol di sela-sela makan siang.

“Habis ini lo tinggal dimana, Ri?” tanya Radit.
“Di sebelah tempat usaha ane,” jawab Fahri.
“Sip, lah, tar si Rafi bisa numpang makan,” kata Radit lagi.
Fahri tergelak. “Boleh-boleh, makanya cepet cari istri, biar ada temennya, nggak galau terus.”
“Denger, Fi!” celetuk Radit.
“Kok gue?”

“Jangan galau, siapa pun jodoh kita, nggak akan berubah. Tinggal bagaimana kita menjemputnya, mau pakai cara yang halal, atau haram,” tukas Fahri.
“Rafi, nih, halal haram hantam!” Radit berkilah.
“Kok, gue lagi?”

“Nggak, ane tau Rafi. Kalo suatu saat bisa dapetin sesuatu yang kita ingini dengan halal, kenapa harus terjun ke kubangan dosa, ya kan?”
Aku dan Radit manggut-manggut mencoba mencerna perkataan Fahri.

“Pemuda yang menjaga pandangannya sangat dicintai Allah. Sebab apa? Ia lebih banyak godaannya.”
Kali ini aku dan Radit terpana menatap Fahri. “Pernah jatuh cinta, kan? Kita manusia saja kalau mencintai seseorang, udah kayak apa aja, iya, kan? Nah, bayangin deh kalau Allah yang mencintai kita ....”

Aku dan Radit saling berpandangan.
“Elo cinta, nggak ama gua, Dit?” tanyaku dengan wajah dibuat memelas.
“Banget, Fi ...,” jawab Radit, lalu, kami pun berpelukan.

***

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pagi ini aku bersiap mengenakan toga. Abah dan ibu sudah tiba di kontrakan minus kakak. Doi lagi mabok akibat dihamili oleh suaminya. Jangankan jalan jauh, jalan dari kamar mandi ke sumur aja ‘ongkek’ (muntah) kata Abah.

It’s oke, yang penting bukan hari ini, tapi hari-hari setelahnya. Apakah aku bisa berdiri sebagai manusia yang mandiri di atas muka bumi!
Beberapa tetangga kontrakan kebetulan ada yang wisuda juga. Mobil-mobil berderet rapi di depan kost-an mereka.

“Coba abah beli mobil dulu ya, sebelum wisudanya Rapih!” celetuk Abah sambil minum kopi di teras. Matanya menyapu keadaan sekitar.

“Emang abah punya duit?” tanyaku yang sedang memasang kaos kaki.
“Ada kalo buat mobil yang tahun-tahun tua, mah .... Kemaren ada yang nawarin ‘apansa’ sama ‘inopa’ tapi ibu kamu nggak mau, maunya ‘ce er pe’.”
Aku tergelak. “Mobil apaan, tuh?”

“Yang Honda, eta!”
Aku tercenung beberapa detik. “Oh, ‘CRV’ maksudnya?”
“Iya, yang tahun baru, duitnya nggak cukup,” sahut abah.
“Ya udah, nanti aja nabung lagi,” jawabku.
“Kamu, teh, nggak apa-apa dianter naik motor?”

“Ya, nggak apa-apa, emang kenapa? Motor sendiri ini bukan motor nyolong, udah lunas juga, nggak kreditan!” aku tertawa menjawab pertanyaan abah. “Yang dianter pake mobil juga belum tentu mobil sendiri Bah, sapa tau carteran! Biasa-biasa ajalah jangan minderan,” sambungku.
“Biar nanti kalo udah kaya, jangan sombong, yah?” kata abah.
“Aamiin,” jawabku.

Tidak berapa lama kemudian kami berangkat dengan diantar para adik tingkat di kost-an, konfoy naik motor. Pake dihias segala lagi motornya kayak mau ikut karnaval 17-an, ditambah bendera sama spanduk mirip orang demo. Heboh, deh, pokoknya!

Sesampainya di gedung, suasana sangat ramai, ya di luar, ya di dalam. Di luar ramai oleh pedagang dadakan, jasa foto dadakan. Di dalam tentu saja ramai dengan wisudawan dan anggota keluarganya. Kami, duduk di kursi yang disusun di lantai bawah, sedangkan para orang tua di atas mengelilingi seperti lagi nonton konser. Acara pun berlangsung khidmat, dari mulai pengumuman wisudawan terbaik sampai maju satu-satu salaman sama rektor.

Setelah selesai, baru bisa ketemu sama Radit dan Fahri yang tadi terpisahkan tempat duduk. Kami foto-foto bertiga terus sama keluarga juga. Ada istrinya Fahri, ada si Kudil juga yang sudah wisuda duluan tiga bulan yang lalu.

Dia bawain aku bunga sama coklat, si Radit jadi keki. Tapi pas dia ngasih buket yang lebih gede ke Radit, si keriting itu jadi senyum terus nggak mau mingkem. Apakah ini tanda-tanda? Aku turut bahagia deh kalo terjadi hal-hal yang diinginkan di antara mereka.

Akhirnya ... tengok kiri Radit lagi foto keluarga bareng si Kudil. Tengok kanan, Fahri lagi foto bareng keluarga dan istrinya, sampe ke mertua, mertua, ponakan pada ikut! Terus gue?

Abah dan ibu udah diajakin foto sepuluh kali, bosenlah mereka. Lebih milih kedai bakso sama es dawet ketimbang gue? Yang ngasih boneka ada sih beberapa adek tingkat, sama temen kost-an. Tapi yang ngasih bunga cuma Dila doank. Banyaknya ngasi ciki-cikian, kacang goreng, tortila, citato ... emang gua abis wisuda dikira mau buka warung? Nggak sekalian aja gitu ngasih beras 10kg, gula, terasi, minyak goreng?

“Dek, dek sini, deh, beli bunganya.” Aku memanggil seorang anak kecil penjaja bunga.
“Kakak wisuda?”
“Iya ....”
“Kok beli bunga sendiri?”

“Gue beli pake duit siapa?” Aku balik bertanya.
“Pake duit kakak,” jawabnya.

“Terus masalah kalo gue beli buat gua sendiri?”
Si anak geleng-geleng sambil agak mengkeret gitu, takut kali liat satu-satunya wisudawan yang hari ini tampangnya kusut dan dekil kayak lap kompor.

Si anak pergi setelah menerima uang dariku. Aku duduk di halaman gedung sambil menunggu abah dan ibu minum es dawet.

Membuka sosmed jadi satu-satunya pilihan. Rame foto dan ucapan selamat dari teman-teman.
“Kak, kak ....” Suara anak kecil penjual bunga yang tadi.
“Apa?” jawabku.

“Ini ada titipan,” katanya sambil menyerahkan buket bunga dan kotak berpita.
“Nggak salah orang?”
Anak itu menggeleng.

“Oke makasih, ya.”
Ini adalah buket bunga paling cantik yang pernah kulihat hari ini. Yakin bukan beli di sekitar sini.
‘Salah ngasih kali ni bocah?’ batinku.

Kucoba intip kotak kadonya.
‘What? Ini sweater gue!’
Dan kotak kecil berisi jam tangan!

‘Hanna!’
Serasa mau lompat ni jantung! Cepat-cepat kukejar bocah penjual bunga tadi.
“Dek, di mana orang yang ngasih ini tadi?” cecarku di sela napas yang terengah sehabis berlari.
Anak itu menunjuk satu arah. Cepat-cepat kaki ini berlari ke sana, berharap bertemu satu-satunya gadis yang tega ninggalin gue ... pas lagi sayang-sayangnya!

Bersambung.
-----

KEKASIH BAYARAN
Part 14
#Kekasih_Bayaran_Remake
Musim kedua; Dunia Kerja

‘Itu mobilnya! Mobil Hanna! Ya Tuhan gue ngeliat mobilnya aja bahagianya kayak nemu emas di pedalaman Papua, gimana kalo ketemu orangnya?’
“Hanna!”

‘T*l*l! Emang dia bisa denger? Mending lari sekuat tenaga dari pada teriak-teriak, kali aja dia bisa ngeliat dari kaca spion!

Setelah hampir kira-kira dua menit lari-lari dengan jubah tapi nggak juga berubah jadi spiderman, akhirnya mobil yang kukejar berhenti. Dari jarak 10 meter aku memperlambat langkah. Mengatur napas sambil memegangi dada. Setengahnya karena ngos-ngosan, setengah lagi jaga-jaga kalau jantungku lompat melihat siapa yang keluar dari mobil.

Itu dia! Pintu mobilnya terbuka!
Dan benar, jantungku hampir copot! Hanna kenapa jadi gendut? Bagus dia sudah pakai jilbab, tapi ... cepat sekali perubahannya! Apa rindu membuat ia jadi banyak makan?

Kukucek-kucek mata mencoba meyakinkan apa yang kulihat, siapa tahu karena berlari membuat mataku jadi rabun jauh .... Ya Tuhan, saking kangennya, si bibi dikira Hanna.
“Bi!” panggilku sambil mendekatinya.

“Den Rafi jangan lari-lari!” katanya, mungkin kasihan denganku.
“Hanna-nya mana?” tanyaku sambil nyengir.
“Nggak ada, Den ...,” Si Bibi geleng-geleng.
'Emangnya aku anak kecil bisa dibohongi?'
“Beneran ... Bibi sama supir ....”

Aku tak memedulikan perkataan si bibi dan nekat ke dekat kaca mobil bagian depan.
“Den Rafi! Jangan, Den, nanti ada yang mata-matain lagi!”
‘Elah bibi pake acara teriak segala, justru itu yang memancing mata-mata!’
Tapi aku tidak peduli, malah semakin mendekati mobil dan mengetuk kaca depan. Ada keyakinan kuat, gadis yang sekian bulan kurindukan itu ada di dalam.
“Han! Hanna, buka pintunya, Han!”

“Den Rafi mending pulang, deh, jangan membahayakan diri sendiri!” Si Bibi sudah berada di sebelah sambil menarik-narik tanganku supaya tidak mengetuk-ngetuk kaca mobil lagi.
“Saya nggak peduli, Bi!” Aku menoleh pada bibi sebentar, lalu, kembali memohon. “Han ... Hanna ....”

“Sudah, Den, sudah, sebaiknya Den Rafi lupakan Non Hanna!” kata Bibi.
Aku menoleh pada bibi, “Kenapa?”
“Bahaya buat Aden ...,”

“Saya nggak takut, Bi!” Wajahku mulai serius. “Saya nggak akan pergi sebelum ketemu Hanna! Atau bibi, saya sandera!” ujarku sambil memegangi kedua bahu bibi. Sejenak mata bibi menatapku, loh loh kenapa jadi bibi yang terpesona padaku gara-gara adegan film Korea ini? Segera kupakaikan toga ke kepala bibi. “Ini tandanya bibi jadi sandera saya!”
'So sweet nggak gue?'

Tiba-tiba pintu mobil terbuka. Hanna keluar dari sana sambil menundukkan kepala. Ia tak mau menatapku langsung. Mungkin ia menganggap ini tak seharusnya terjadi, tak seharusnya ia menemuiku.

“Nyonya ....” Jika ini film kartun, pasti sekarang mataku sedang berbinar dengan lambang hati berwarna merah muncul dari kedua maniknya. “Saya kangen ....”

Angin berembus menerbangkan anak-anak rambut Hanna, sementara aku memandanginya. Sambil berpikir mungkin terlalu lancang menunggu jawaban dengan kalimat sama keluar dari bibirnya.
Untuk pertama kali setelah ia tinggalkan, aku bisa bernapas dengan lega, dadaku terasa lapang menghirup udara lagi.

Baiklah, aku tidak akan menunggu Hanna berbicara, aku takut apa yang dikatakan bibi akan keluar juga dari mulutnya.

“Foto sama saya, ya, Nya? Mau, ya? Biar saya sadar kalo ini bukan mimpi ...?” Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana, agak susah gara-gara jubah. Bayangkan betapa kepanasannya habis lari-lari. “Bi, tolong fotoin, Bi!” kataku sambil menyerahkan ponsel padanya, lalu mengelap keringat dan kembali memakai toga.

“Itung, Bi!” pintaku, lalu berdiri di sebelah Hanna sambil mengacungkan satu jari di lesung pipi ... pose apaan, nih? “Lagi, Bi!”
Cekrek.
Cekrek.

Pose terakhir aku melihat Hanna, penasaran dia senyum atau tidak ... dan ternyata waktu kutatap, ia buru-buru menundukkan pandangan.

“Makasih, ya, hadiahnya,” kataku.
Hanna mengangguk.
“Ngomong, dong, Nya ....”
“Iya, sama-sama.”

Aku tersenyum.
“Nyonya mau pulang?”
Hanna mengangguk.
“Hati-hati nyetirnya, ya ....”

Dia ngangguk lagi, sambil menyeka bulir bening yang menetes di pipinya. Jujur, aku juga sama, pengen nangis juga. Tau rasanya sama-sama sayang tapi nggak bisa sama-sama? Kayak luka robek terpaksa dijahit tanpa bius!

Aku melebarkan pintu mobil sampai kira-kira tubuh Hanna yang berbalut setelan casual itu bisa masuk dan segera pergi. Bahagia bisa bertemu. Tapi terlalu lama melihatnya menangis aku tak sanggup. Sementara menghapus air matanya aku tak kuasa. Bukan kapasitasku yang bukan apa-apanya.

Kututup pintu mobil dengan moment terakhir melihat isakan Hanna. Ya Tuhan rasanya ingin sekali menarik tubuhnya ke dalam dadaku. Tapi aku cukup tahu diri. Aku akan tunggu sampai dia sendiri yang menyuruhku mempertahankannya.


***

3 bulan kemudian ....
“Halo, gaes ... selamat datang di chanel youtube RARA, Rafi Radit in action, kali ini kita akan mengupas betapa lezatnya kudapan bernama bakwan!” ujarku.

“Bener banget, gaes, makanan murah meriah yang bisa dengan mudah kamu dapetin di pinggir jalan ini ternyata mengandung gizi yang sangat tinggi, asalkan ....” Kata-kata Radit terpotong.
“Asal kalian menggorengnya di minyak goreng dua kali penyaringan .. terus menambahkan isian berupa potongan daging, wortel, kol, lobak, dan ... sebagainya!” tambahku.

“Oke, deh, gaes, langsung aja kita icip-icip bakwan bikinan emak gue berikut ini, jangan pada ngiler, ya ....!” kata Radit sambil menggigit bakwan dengan ekspresi merem melek.
“Mmm ... ceritain, dong, Cuy, gimana rasanya?” kataku.

“Mmm ... teksturnya garing di pinggir dan lembut di dalem, Cuy ...,” kata si Radit.
“Gue coba juga ya, gaes,” sambungku. “Mmm ... ini tuh, enak banget, gaes, beda dari bakwan-bakwan yang lain!” teriakku sedikit lebay.
“Bedanya apa, Cuy?” tanya Radit.
“Kalau bakwan yang lain cuma bisa bikin kenyang ....”
“Kalau bakwan yang ini?”

“Bisa bikin lo lupa sama mantan!”
“Ea .... Kalau pengen tau rasanya buruan dateng ke alamat ini, ya!”
Radit dengan semangat menyebutkan nama kedai emaknya, dan video pendek itu pun kami unggah.
Detik selanjutnya kami terdiam, memandangi pojok kiri bawah layar laptop tua Radit, saking tuanya itu laptop tebel banget, bisa dijadiin talenan buat ngiris-ngiris bawang.

Jalan jumlah like-nya mirip mobil Radit pas radiatornya panas, lelet! Dikit lagi minta didorong.
Radit garuk-garuk rambut keritingnya, yang rencananya bakal dia gimbal kalau sampai bulan depan nggak dapet kerjaan juga.

“Udah gua duga, ga akan viral!” celetukku.
'Radit manggut-manggut menyetujui ucapanku. Gagal bikin konten, jauh panggang dari api mau jadi kayak Atta Halilintar, nggak ada seujung upil pun!'

'Ini langkah terakhir setelah euforia wisuda selesai dan kesana kemari mencari kerja tapi tak kunjung lulus juga. Bahkan untuk bertahan hidup, aku kerja serabutan dari mulai service barang elektronik dadakan, jaga counter, marketer dagangan emaknya Radit, kadang sales keliling, sampe ngojekin emaknya pulang pergi ke pasar. Pokoknya segala kerjaan yang sebenernya pas dulu lulus STM juga bisa didapetin!'

Bahkan aku sudah pindah kontrakan, menumpang tidur rumah Radit, kadang di kantor Fahri, kadang di pos ronda kalau pas lagi kebagian jaga malem di komplek perumahannya Radit.
'Malu mau pulang kampung. Selain itu penasaran kemana ijazah S1 yang ngedapetinnya dengan tetesan darah dan air mata ini berlabuh. Sumpah! Penasaran.'

Hari ini entah kali keberapa kami keliling kota memasukkan lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan. Berharap mendapatkan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan.
Matahari persis di atas kepala, kepulan asap kendaraan yang menyemut di belakang lampu merah terpaksa kami hirup sebab mobil Radit tak ber-AC. Ya, kami terpaksa membuka kaca jendela. Sesekali anak kecil pedagang koran menawarkan dagangannya, dan tiap itu pula kami membelinya.
“Kasihan,” kata Radit. Dan aku sepakat walau uang di kantong pas-pasan.

Lalu saat lampu berubah hijau, dan suara klakson bersahutan, Radit melajukan kendaraannya dengan pelan. Di bawah terik mentari, di antara kemeja basah oleh keringat padahal baru disetrika tadi pagi. Mobil tua yang setia menemani sejak menuntut ilmu di bangku kuliah seakan ikut merasakan susana hati. Dengan speaker karatannya ia memperdengarkan lagu.

Engkau sarjana muda
Resah tak dapat kerja
Tak berguna ijazahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia-sia semuanya

Aku dan Radit saling berpandangan, lalu dengan kompak mengepalkan tinju dan menghantam tape mobil tua itu sehingga ia berhenti bernyanyi menyindir kami. Setelahnya aku dan Radit kembali menatap jalanan sambil melanjutkan lirik yang terpotong tadi. Kadang kepanasan membuat orang se’oneng’ itu.

Resah membuncah, membuat kami putar haluan ke rumah Fahri. Selama ini bertemu dengannya selalu bisa menyejukkan hati.
Kami tiba di kantornya. Ruangan kecil itu berukuran 3X4 meter, berisi meja, kursi, komputer dan satu lemari. Letaknya persis di sebelah rumah Fahri yang juga mungil. Pekarangannya penuh sampah plastik, tapi tentu saja sudah dirapikan dan tidak berbau.

Seperti biasa Fahri menyambut kedatangan kami dengan hangat. Pukul dua siang dengan muka berminyak, tampang kusut dan baju penuh keringat membuat Fahri mengajak kami ke rumahnya. Meminta sang istri menyediakan minuman dingin. Tidak sampai disitu, Fahri juga meminta istrinya menyiapkan makan siang.

Rumah mungil dengan dinding polos itu terasa sejuk. Entah karena pohon mangga yang menaunginya, atau sebab senyum dari para penghuninya.
Kami lalu bercerita tentang apa saja, lumayan bisa bikin ketawa, lupa sejenak tentang kemana ijazah ini akan dibawa. Tidak seperti Fahri yang fokus wirausaha bahkan sejak kami kuliah, aku dan Radit masih terfokus pada menjadi pekerja. Berusaha idealis mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang diampu.

“Kadang nggak semua yang kita dapat di bangku kuliah dipake pas kita kerja, banyak juga yang banting stir dan sukses,” kata Fahri.
“Gua juga kadang mikir gitu, Ri, sekolah buat belajar bersosialisasi, selain itu ....” Kata-kata Radit mengambang.

“Apa?” kataku.
“Buat nyari jodoh,” celetuknya sambil menggaruk kepala.
Fahri tergelak. “Ya kalau udah siap nikah, nikah aja.”
“Mau dikasih makan apa anak orang, Cuy?” jawab Radit.
“Ya kalau belum mampu nikah, banyak-banyak berpuasa. Ya puasa sunnah, ya puasa mandangin yang bukan hak kita.”

Makljeb nasihat Fahri. Untung saja kesibukan mencari kerja membuat kami jarang mendekati hal-hal yang disebutkan Fahri tadi.
Makanan sudah siap, kami diajak Fahri masuk dan selanjutnya obrolan terhenti, sebab masakan rumahan ini menggugah selera, atau karena aku terlalu lapar?
Mendekati ashar, Fahri bersiap ke mushala, aku dan Radit ikut serta. Tiba-tiba seorang anak kecil kira-kira berusia empat tahun keluar dari kamar dengan memakai sarung.

“Ali mau ikut?” tanya Fahri pada anak itu.
“Iya!”
“Pamit dulu sama bunda, ya!”
Anak yang dipanggil Ali itu mengangguk.
Di perjalanan, Fahri yang menyadari keherananku dan Radit akhirnya menjelaskan.
“Dia Ali, anak bawaan istriku sebelum kami menikah, bundanya bercerai dengan ayahnya,” terang Fahri.

Aku san Radit berpandangan, mencoba bersikap biasa saja, walau dihati tak bisa disangkal keterkejutan ini.
“Sekarang ane ayahnya.” Fahri berkata dengan mantap.
Tak sepatah kata pun terucap. Aku sibuk menata hati sambil memperhatikan sahabatku ini. Kehidupan yang kulihat dari satu sisi kemarin begitu sempurna, ternyata tidak luput dari cobaan juga. Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri. Benar kata Radit, ‘nggak semua pelajaran kita dapetin di sekolah.’

***

Alhamdulilah, akhirnya aku dan Radit dapat kerja juga. Sekarang aku sudah menyewa kamar lagi dekat dengan kantor. Beruntung bisa kerja di perusahaan dan di divisi yang sama dengan Radit. Pekerjaan pun sesuai dengan keahlian, menggambar bangunan, hehehe.

‘Pokoknya ngegambar bangunan apa aja, udah jadi keahlian cuma menggambarkan kehancuran hati akibat kangen yang belum bisa.’

‘Kadang iseng buka aplikasi kekasih bayaran lagi, daftar jadi member di sana. Siapa tau aja, ada Hanna yang lagi kangen nyasar ke sana. Tapi sampai detik ini tante-tante semua yang menginginkanku. Ya aku tolak lah.’ Aku akan bekerja, mengumpulkan uang banyak yang akan kugunakan untuk membayar Hanna menjadi kekasih bayaranku, kalau perlu seumur hidup! Biar aja kalau dia minta bonus sekali sentuh dua juta juga, aku nggak akan keberatan, malah aku lebihin!

Waktu itu, saking penasarannya, pernah suatu hari aku memata-matai apartemennya, satpam mengatakan gadis itu jarang ada di sana. Pernah juga sengaja lewat depan rumah papanya, tapi selalu seperti tak ada orang. Kadang iseng menelepon dan kirim pesan, tapi tak pernah sampai.
Kadang untuk mengobati rindu, aku membuka-buka galeri ponsel dan tersenyum dengan hati teriris saat memandangi fotoku saat wisuda. Ternyata ia tersenyum dalam foto itu.

Perlahan tapi pasti tiap kenangan yang tersimpan di ponsel, aku pindahkan ke komputer tua di kamar. Agar gadis itu tidak seperti hantu yang selalu mengikutiku.
Jam tangan hadiah wisuda itu pun, masih tersimpan dalam kotak. Entah kenapa, memakainya serasa diikuti Hanna kemana-mana.

‘Liat bianglala inget Hanna, liat penumpang di bus, inget Hanna, liat mall inget Hanna, liat cewek kuncir kuda, pasti keinget Hanna, Cuma pas liat ibu-ibu agak gemukan aja gue ga inget Hanna, malah inget si bibi, ARTnya Hanna.’

Seperti siang ini, saat berada di kantin kantor yang luas, aku melihat Hanna juga duduk di salah satu kursi. Memainkan sendoknya, tampak tak begitu berselera. Imajinasi yang aneh. Lebih aneh lagi saat ada Daniel mendekatinya dengan membawa nampan makanan, lalu duduk tepat di hadapan Hanna. Mereka pun makan bersama dalam diam.

‘Jika ini hanya imajinasiku, kenapa pakai ada Danielnya segala, sih? Merusak pemandangan aja! Terus kenapa juga orang-orang yang yang lalu lalang di sekitar Daniel pada nyapa dan sekilas nunduk kayak memberi penghormatan gitu?

“Mas, itu siapa?” tanyaku pada rekan kerja di sebelah, entah dari divisi mana.
“Itu direktur di kantor kita, kamu baru ya kerja di sini?”
‘Nafsu makan menguap. Alangkah banyak perusahaan di negara ini kenapa aku harus bekerja di kantor si Kuda Nil ini, sih?’

Aku tercenung memandangi punggung Hanna dari sini, ternyata aku tidak sedang berimajinasi. Ia benar-benar nyata. Dan laki-laki di hadapannya itu juga ... nyata! Sial!

***

Hari hampir gelap. Kantor sudah sepi, Radit juga sudah pulang duluan. Di parkiran juga mobil-mobil bos sepertinya sudah tidak ada lagi.
‘Aku sengaja pulang belakangan, lagi males ngapa-ngapain. Entah .... Rasanya pengen ada di jalanan, apalagi hari sedang mendung dan rintik begini, adem.’

Di trotoar depan kantor, gadis yang bikin hatiku mendung hari ini sedang berdiri sendiri. Masih dengan setelan yang sama dengan yang kulihat tadi siang, kemeja berenda dan rok selutut. Rambutnya diikat satu sedikit berkurang kerapiannya. Mungkin karena angin sore ini. Selain itu, ia juga terlihat lebih kurus.

“Hanna.”
Gadis itu menoleh, sebuah senyum yang spontan –kupikir—terukir di wajahnya.
“Rafi ....”
“Hai ....”
“Kamu kerja?”
“Iya.”

Hanna manggut-manggut.
“Lagi ada yang ditunggu?”
“Ehm ... tadinya, sih.”
Sejenak kami membisu, sementara rintik semakin menjelma hujan.
“Aku anter pulang, ya?”

Hanna tak menjawab, tapi ia mengiringi langkah kaki, kemudian sedikit berlari saat aku mendekati bus yang berhenti.
Beruntung bus sepi. Aku duduk bersisian dengannya. Tidak seperti bus trans, bus inĺ punya tempat duduk berbaris dua, kosong bagian tengahnya.

Tepat saat kami duduk, hujan turun dengan derasnya. Mengunci bibir kami untuk saling bercerita bertukar kabar. Menggantinya dengan diam sambil membaca syair yang dititipkan awan lewat rintik hujan. Jika aku sibuk dengan kenangan manis di bus waktu pulang kampung, entah dengan Hanna.
Dan entah sudah berapa lama, gadis itu berada di sampingku, bahkan bahunya sesekali menempel di bahuku. Tahu-tahu kondektur sudah menegur kami.

“Adek mau turun di mana? Ini sudah terminal terkahir?”
“Masih narik penumpang lagi nggak, Pak?”
“Sekali lagi, Dek.”

“Kalau begitu kami ikut muter sekali lagi,” ucapku sambil melirik ke arah Hanna yang menunduk.
Kabut menutupi kaca jendela. Kuulurkan tangan dan menorehkan sebuah kata: miss u
Lalu perlahan bus berjalan lagi.

“Sama-sama, Dek!” seru Pak Kondektur.
“Hah?”
“Itu tulisannya .... Nih bapak jawab: I miss you too!”
Haduh Bapak! Gagal syahdu jadinya! Aku menggaruk-garuk kepala. Sementara Hanna tertawa dengan menutupi muka.
Bersambung.
-----

KEKASIH BAYARAN
#Kekasih_Bayaran_Remake
Part 15

Musim kedua.
Trotoar basah, sebagian tergenang air sisa hujan. Udara yang berembus pun terasa menembus pakaian yang kukenakan. Dingin dan sedikit lembap. Untungnya, hati ini terasa hangat, sebab ada Hanna berjalan di sisiku.

Beberapa puluh meter lagi kami akan tiba di rumah papa Hanna. Semakin berkurang jarak, semakin lambat langkah kaki ini. Seolah enggan berpisah. Seperti ingin begini saja sampai selamanya.
Sesekali kulirik Hanna yang lebih banyak menunduk dalam diam. Aku tak berani mengusik, walau sebenarnya begitu banyak tanya di kepala. ‘Kenapa pulang sendiri? Kenapa tak diantar Daniel? Kenapa murung?’

“Padahal udah muterin rute bis, masih nggak rela aja kalo harus pisah.” Aku memecah kebisuan, saat pagar tinggi rumah papa Hanna mulai terlihat dari kejauhan.
Hanna hanya menoleh sekilas lalu menunduk lagi. Tapi ekor mataku sempat menangkap segaris senyum di wajahnya.

Selanjutnya hanya suara ketukan sepatu dan gemeresik dedaunan dari pohon-pohon di taman, hingga tiba di depan pagar rumah. Aku menghentikan langkah, menunggu gadis itu masuk lebih dulu.
“Sudah sampai, Nya…” Kataku sambil menghentikan langkah dan mendahuluinya. Aku membalikkan tubuh dan kini kami berhadap hadapan.

“Oh?” Jawab Hanna menegakkan kepalanya sedikit kaget, matanya menoleh ke pagar rumahnya dan aku secara bergantian, tampaknya sepanjang jalan dia melamun.

“Kenapa? Berasa jalannya kurang jauh, ya?”
“Apa?” Jawab Hanna.
“Sama…”

‘Aku cengar-cengir berharap dia bilang ‘iya’ terus kami muter komplek sekali lagi ... kayak gitu aja terus sampe malem terus ditangkep satpam terus dikawinin.’

“Kalau mau muter sekali lagi, hayuk, Nya!”
Hanna tersenyum sekilas, sedikit menggeleng, membuat rambutnya bergoyang ke kiri dan kanan. Kemudian memberi jeda sebelum ia mulai bicara.

Satu detik, dua detik, lima detik, ia seperti orang bingung hendak mengatakan apa.
“Jaga diri kamu baik-baik, ya, Fi ....”

‘Merosot hati Abang, Dek, dengar kamu ngomong gitu ... udah kayak mau pisah aja, kita?’
Aku menggeleng, “Nggak bisa, kamu harus tanggung jawab jagain aku juga ....”
“Rafi?” Wajah Hanna berganti cemas.

“Becanda ... jangan khawatir, aku lebih kuat dari yang kamu tau ....”
“Kamu mungkin kuat, tapi aku nggak.” Kali ini kedua manik coklatnya berkaca-kaca.
“Kamu kenapa?” Jantungku berdegup lebih kencang melihat reaksi di wajahnya.
Belum sempat Hanna bicara lebih jauh, papanya datang membuka pintu pagar, ia berjalan mendekatiku dan Hanna.

Aku sedikit menunduk memberi salam. Lalu, lelaki paruh baya itu memandangiku dari bawah sampai ke atas.
“Kamu kerja?” tanyanya.
“Iya, Om,” jawabku.

Lelaki itu manggut-manggut, lalu beralih ke anaknya. “Papa tunggu di dalam.”
Hanna hanya diam sambil membuang pandangan. Tidak lama kami hanya tinggal berdua.
“Kita masih bisa ketemu lagi, ‘kan?” Aku berusaha mencari kedua manik coklatnya, berharap bisa membaca isi hati gadis itu.

Lalu, Hanna hanya kembali menatapku sama seperti tadi.
“Bilang sesuatu, Han.” Aku menghalangi langkahnya yang bersiap masuk ke halaman rumah.
“Atau kasih aku nomor baru kamu ....”
Hanna menggigit bibir.
“Jangan ngilang lagi ... plis ....”
Kini ia membuang muka.

“Kalau memang aku nggak boleh ada di deket kamu lagi, tolong kasih tau gimana cara aku hidup ... selanjutnya ... kasi tau caranya!” Aku menyugar rambut.

Hanya angin yang menjawab tanyaku, dan aku masih berdiri seperti orang tolol.
“Aku liat kamu tadi siang sama Daniel.”
“Kamu kerja di kantor Daniel?” Mata Hanna membulat menyiratkan keterkejutan.

“Kenapa tadi siang kamu sama dia terus sorenya pulang sendiri?”
Hanna menatap wajahku dengan mulut menganga. Mungkin ingin mengatakan sesuatu tapi bingung merangkai kata-kata.

“Kenapa kamu pulang sendiri?” Nada suaraku meninggi.
Hanna membuang muka.
“Ternyata umur sama kedudukan nggak bikin orang dewasa, ya? Kamu yakin mau jalan terus dengan orang kayak gitu?” Aku menyugar rambut, tak habis pikir.

Hanna menarik napas panjang dan membuangnya kasar, seperti sedang mencoba melepaskan beban di kedua pundaknya. Padahal seandainya dia mau, pakailah pundakku ini untuk menanggung semua bebannya, pakai pundakku saja. Pokoknya pakai tubuhku saja semua, kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki, manfaatkanlah, yang penting kamu selalu tersenyum.
Tapi Hanna hanya diam, dan itu membuatku frustrasi.

Harapan terakhir, kukeluarkan ponsel dari dalam tas. “Ya udah, minta nomor baru kamu aja, berapa?”
“Nanti saja,” katanya.
Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam tas dengan kasar. Jatuh harga diri Aa.
“Ya, udah, kalo gitu aku pulang dulu, ya.” Kucoba menetralkan hati agar galaunya tak terlihat lewat getar suara.
Tanpa menoleh, kutinggalkan rumah itu dengan kekuatan sebuah kalimat ‘nanti saja’ darinya, yang artinya aku masih punya kesempatan.

***

Begitu sulitnyakah sekedar mengakui perasaan? Kenapa kadang pikiran cewek kayak tali semp*k kelilit tali kut*ng dalam mesin cuci? Berbelit-belit! (Kok tau, Fi? Pernah nyuciin punya siapa, lo? Dulu lagi kecil ibu suka ngomel kalo teteh nyuci baju campur-campur).

Tinggal bilang aja apa yang ada di hati. Selesai! Biar laki-laki ini yang mikirin gimana ke depannya? Jangan ditarik ulur begini, rasanya lebih mules dari pada nggak ‘pup’ tiga hari padahal udah minum vegeta herbal tiga bungkus!

“Kenapa muka, lo?”
Suara Radit mengagetkanku. Ia menengok sekilas, lalu menatap lurus ke depan berkonsentrasi menyetir dengan jalanan yang redup, hanya mendapatkan penerangan dari lampu-lampu rumah penduduk yang tidak terlalu terang. Kami sedang dalam perjalanan ke rumah Fahri, ada acara pengajian di sana. Jadi aku dan Radit memenuhi undangan sahabat kami itu. Pengajiannya, sih, nomor dua, nomor satunya makan gratis. Itu kata Radit ... kalo kata aku? Ya, sama ... gitu juga! Hehehe.

“Dit, lo kenal nggak direktur kita?”
“Nggak, cuma tau aja.”
“Sering, nggak, ngeliat dia di kantor?”
“Nggak juga ... kenapa?”

Aku kembali hanyut dalam lamunan. Mencoba membaca lakon apa yang aku mainkan sekarang. Kenapa sampai bisa bekerja di sana? Seandainya benar Hanna ditakdirkan tidak akan bersamaku, kenapa aku dipertemukan kembali dengan cara seperti ini? Cara yang cukup menyakitkan, di mana kelemahanku satu-satunya –miskin—harus dihadapkan dengan kekuasaan yang dimiliki Daniel.
Aku bukan minder, bukan. Tapi seandainya ini perlombaan Olimpiade sains tingkat sekolah dasar, aku anak baru masuk kelas satu seolah-olah dipaksa melawan kakak tingkat kelas sembilan. Atau jika ini lomba lari, dia sudah nyolong start duluan dua puluh meter di depan. Tidak imbang. Walau dilihat dari kaca mata keajaiban masih ada peluang, tapi bagiku hitungan matematikanya harus tetap diperhitungkan.

Supaya jika pun Hanna memilihku atas dasar cinta, aku ingin merasa bahwa aku memang pantas dicintai, bukan hanya sekedar cinta buta! Karena aku ingin menjalani cinta yang bertahan lama, yang berumur panjang sampai rambut sama-sama memutih. Bukan cinta hanya karena gairah masa muda dan gejolak pemberontakan ingin dianggap sebagai pemenang, lalu, setelah dapat, cinta berubah jadi hambar. Lebih buruk lagi, mencoba mencari cinta yang lain. Aku tidak mau jadi lelaki seperti itu.
Kami tiba di rumah Fahri. Acara ternyata sudah dimulai.

“Kebetulan, kita bisa mojok deket prasmanan, Fi!” Radit berbisik dan disambut wajah semringahku.
Tapi, baru saja hendak melipir, Fahri menemukan kami, lalu mengajak ke ruang tengah. Aku dan Radit serempak menggaruk-garuk kepala masing-masing. Soalnya kalau saling garuk gue ogah, geli nyentuh rambutnya Radit.

Acara pun selesai, dengan hasil semua materi dapat dipahami ... oleh Fahri. Sementara bagiku dan Radit bisa masuk telinga kanan keluar telinga kiri saja sudah untung, artinya sempat mampir melewati saluran telinga. Ini tidak, masuk telinga kiri, mantul keluar lagi.
Satu-satunya acara yang ditunggu ada di bagian akhir, makan-makan. Merasa tahu diri, aku dan Radit menikmati sajian tuan rumah saat tamu-tamu lain sudah selesai. Selain bisa mengambil dalam porsi banyak, juga dapat memperbesar peluang dapat ‘besek’ dari tuan rumah, tentu saja dengan sedikit bantu-bantu menyusun piring. Astaga ternyata harga diriku tidak lebih mahal dari nasi bungkus. Haha!

“Gimana kerjaan, lancar?” tanya Fahri di sela-sela aktifitas mengelap piring.
“Alhamdulilah,” jawab Radit. “Kalo gue, sih, lancar, Rafi tuh galau aja bawaanya!”
“Kok, gue?”
“Sejak kerja, hobinya ngelamuun ... aja.” Radit berkisah.

“Sotoy!” kilahku.
“Heran gue juga, berbulan-bulan cari kerja, setelah dapet, bukannya seneng malah jadi pendiem gitu, kayaknya banyak pikiran.” terang Radit panjang lebar.
Fahri hanya tersenyum. “Ya, wajarlah, namanya manusia dewasa, makin banyak yang dipikirin.”
“Emang, elo? Nggak punya pikiran!” Aku melotot ke arah Radit.

“Punya lah!” Ia membela diri.
“Ampe keriting gitu, ya, saking pemikirnya?”
“Iya dong!” Radit berteriak penuh percaya diri.

“Kalau ada masalah, baiknya cepat dicari solusinya,” ujar Fahri seperti membaca isi pikiranku.
Sejenak suasana hening. Pikiranku memang sedang dipenuhi berbagai tanya.
“Seandainya ... nggak ada yang bisa kita lakukan, gimana?” Aku coba beranikan diri bertanya.
“Kadang, kalau kita sudah merasa maksimal mengusahakan sesuatu, tapi tetap nggak ketemu solusi ... mungkin itu saatnya kita berhenti. Bisa jadi itu sudah bukan bagian kita lagi. Berhenti dulu, istirahat dulu, kita coba baca pelan-pelan skenario yang Allah siapkan.”

Aku dan Radit manggut-manggut.
“Biar jiwa kita tenang menjalani kehidupan, jangan meletakkan sesuatu yang bukan hak kita di dalam hati. Yang ada nanti tersiksa sendiri.”
“Kalau udah terlanjur gimana?”

“Ya, pelan-pelan luruskan niat, caranya sering-sering ngaji, gabung sama orang-orang soleh ... minggu depan dateng lagi, jangan pake undangan ....” Fahri tersenyum. Aku dan Radit bertatapan lalu sama-sama menunduk menyembunyikan senyum malu-malu.
“Pinjem rambut, lo, sini, Dit!”
“Buat apa?”
“Ngelap piring!”
“Sialan, lo!”
“Lagian udah kerja, bukannya potong rambut ....”

***

“Ikut, yuk, Cuy!” Radit mendekati meja kerjaku saat aku sibuk membereskan isi tas, bersiap pulang.
Baru saja ingin bertanya ke mana? Seorang rekan kerja menghampiri, menyandarkan belakang tubuhnya pada meja di depanku. Membuat rok yang tampak ketat makin terangkat. Kerah kemejanya lebar, membuat para lelaki penasaran apa isinya. Tapi rambut yang selalu tergerai ke depan mampu menutupi, seolah-olah menggambarkan pribadinya yang suka diperhatikan tapi membuat penasaran.
“Ikut aja, ya!” Gadis itu mengerling sambil membantuku memasukkan power bank ke dalam tas.
Bukannya geer, tapi dari gelagatnya selama dua minggu aku bekerja di sini, sepertinya dia bakal jadi the next Kudil, nih. Malah yang ini lebih agresif.

“Ke mana?”
“Hang out bareng bos bos!”
“Biasanya ke mana?”
“Ya, kadang ke restoran, kadang ke cafe, ke ... macem-macem, deh!”

“Rafi nggak biasa makan di tempat mewah, Vi, doyannya masakan emak gua,” celetuk Radit.
“Oh, ya? Pasti masakan emak lo enak banget, dong, ya?”
“Nggak juga.”
“Terus?”
“Karena gratis!”

Via tertawa renyah memperlihatkan giginya yang rapi dan terawat.
“Yuk!” Aku beranjak dari tempat duduk.
“Jadi, nih?” Via mencari manik mataku dengan gerakannya yang gemulai.
Aku mengangguk.

“Asik! Ayo, Dit!” Via mengajak Radit agar jalan bersama kami.
“Nggak usah ajak Radit, nggak akan ada makanan restoran yang cocok di lidah dia.”
“Emang kenapa?” tanya Via sok manja menatapku.

“Dia kalo makan, appetaizernya nasi goreng, main coursenya nasi padang lauk rendang ... dessertnya nasi uduk!” Aku berkata cuek sambil berjalan menuju tempat parkir.

Terdengar tawa Via menggema di koridor gedung, sementara Radit mengomel entah apa.
Benar kata Fahri, mungkin ini saatnya aku membiarkan apa yang terjadi tanpa memikirkan kenapa dan kenapa. Biar kujalani seperti air mengalir saja dulu. Meletakkan segala sesuatunya tidak di dalam hati, agar lebih tenang melangkah ke depan.

Mobil Radit melaju pelan, sementara Via memimpin di depan dengan teman-teman kerja yang lain. Saat kendaraan mereka masuk ke pelataran sebuah club malam, aku sempat tak mau keluar dari mobil Radit.

“Ayuk, tanggung, udah nyampe!” kata Radit.
“Via nggak bilang bakal ke sini, tadi?”
“Udah terlanjur, nggak apa-apalah sekali sekali, Cuy!”

“Kemarin malem kita pengajian malem ini ke diskotik, apa kata malaikat, Cuy?”
Radit menggaruk-garuk kepalanya. Saat itu aku melihat Daniel berjalan menggandeng seorang wanita ke dalam club. Cepat-cepat kususul dia. Kalau tidak salah lihat, cewek itu bukan Hanna! Lalu siapa? Apa hubungan mereka? Apa yang dilakukan Daniel di belakang Hanna? Jangan-jangan ...
inilah alasan kenapa aku ditakdirkan bekerja di sini? Perjuangan belum selesai! Tunggu, kau Kuda Nil!

“Heh, Rafi! Tadi katanya nggak mau masuk? Sekarang malah buru-buru, jadi gimana urusannya sama malaikat, tadi, Fi? Gua takut!” teriak Radit.
Bersambung dulu ya ... bumil sakit pinggang 😭