#part16 Malam Pertama dengan Botol Pengakuan
POV Bila, by Wahyuni
***
Aku melepas kepergiannya dengan senyuman. Tapi entah kenapa jauh di sudut hati kecil ini, aku tak ingin dia pergi. Kejadian tadi di mobil yang mendebarkan, disambut musibah yang menimpa di lift, semua terasa bagaikan mimpi.
Jujur, aku butuh Mas Wafi di sampingku.
"Mas ...." Kupanggil namanya lirih. Selirih rasa rindu yang perlahan merambati dada ini.
***
Mas Azzam masuk ke ruangan bersama seorang dokter spesialis lainnya juga beberapa perawat. Aku berdiri di kaki ranjang, sementara mama mertua berdiri di dekat Mbak Salsa.
"Bagaimana keadaannya hari ini, Mbak?"
Mas Azzam menyapa Mbak Salsa ramah. Aku melirik sekilas lalu membuang wajah, saat tiba-tiba pandanganku dan Mas Azzam bertemu pada satu titik.
"Alhamdulillah sehat, Dok."
"Kita langsung ke ruangan CT-Scan, ya?" ucapnya lagi.
Mbak Salsa mengangguk. Kulihat ada rona cemas yang terpancar dari wajah wanita itu, pasti ini menjadi pemeriksaan yang paling mendebarkan baginya.
Detik berikutnya Mbak Salsa mulai di dorong keluar kamar. Aku mengikuti di belakang, sementara mama terus berada di samping. Kami sampai pada sebuah ruangan besar. Dua orang perawat membuka pintu kokoh yang menutupi ruangan itu.
"Nah, sampai sini saja mengantarnya. Keluarga silahkan menunggu di ruangan sebelah, ya?"
Perintah salah perawat yang berdiri di hadapan kami. Mas Azzam dan dokter yang mendampingi berjalan memasuki ruangan pemindai. Kehadiran Mbak Salsa kini disambut oleh lelaki berjas putih selutut yang berada di dalam ruangan.
Mama melepas genggaman tangan Mbak Salsa. Sejenak mengelus puncak kepala wanita itu. Kulihat Mama menitikkan air mata, mungkin ia sangat takut akan diagnose yang nantinya muncul setelah proses peninjauan ini selesai.
Selanjutnya, mama berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh perawat tadi, sementara aku masih di sini. Sebelum pintu kamar pemindaian ditutup, aku menghampiri perawat.
"Maaf Mas, saya ingin berbicara dengan pasien itu sebentar," pintaku pada mereka.
"Silahkan Mbak, tapi jangan lama, ya?"
Kuanggukkan kepala. Lalu segera mendekati Mbak Salsa. "Mbak ...."
Mbak Salsa menoleh saat mendengarku memanggil namanya. Kulihat matanya basah.
"Insya Allah nggak papa, Mbak. Tetap tenang dan jangan lupa Bismillah ya, Mbak. Lailahaillallah anta Subhanaka Inni Kuntum Minadzallimin. Bila bantu doa supaya mbak diberikan kesehatan lahir bathin."
Mbak Salsa mengangguk sembari tersenyum. Lalu perlahan pintu kokoh itu pun tertutup. Aku menyeka sebulir kristal yang tiba-tiba lolos dari pelupuk mata. Yang kutahu, kalau sudah begini-begini, pasti penyakitnya serius. Tapi semoga pengetahuanku yang tak seberapa ini salah.
Kulangkahkan kaki keluar dari lorong itu. Aku tak ikut menunggu bersama mama, rasanya sangat risih berada satu ruangan dengan Mas Azzam. Kujejakkan kaki menuju ruang tunggu. Menurutku disini lebih tenang daripada di dalam. Setidaknya aku berjauhan darinya.
***
Aku melipat mukena setelah selesai melaksanakan shalat Ashar berjamaah di mushalla rumah sakit. Lalu dengan sigap berjalan keluar dari ruangan yang tampak ramai oleh manusia-manusia yang datang untuk memenuhi undangan Allah.
Meninggalkan sejenak dunia yang fana ini untuk bertemu dengan pemilik seluruh alam. Ashar adalah waktu dimana pintu syurga tengah dibuka lebar-lebar, aku terus melantunkan doa. Doa untuk Mbak Salsa juga untukku dan suamiku tercinta.
Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Seharian ini, pikiranku hanya dipenuhi nama Mas Wafi. Beginilah wanita, sesiapa lelaki pertama yang berhasil menyentuh hatinya, maka seumur hidup dia akan sulit untuk melupakan sosok pertama itu.
Alhamdulillah, lelaki yang menyentuh hatiku adalah suamiku sendiri, jadi aku bebas memikirkannya seumur hidupku. Sungguh sia-sia hidup seorang gadis jika hatinya telah ternodai banyak lelaki yang belum tentu kelak akan menjadi imamnya. Saya yakin, yang membaca cerbung ini, adalah wanita-wanita tangguh, yang tak mudah dibujuk syaitan untuk menemaninya kelak di alam barzah maupun diakhirat. Insya Allah, kelak kita semua akan dipertemukan Allah dalam surganya.. Aamiinn...
Aku kembali ke ruang rawatan Mbak Salsa. Beliau nampak tertidur, sepertinya karena pengaruh obat-obatan.
Menunggu Mas Wafi dengan perasaan berdebar ternyata memang melelahkan. Sesuatu yang sangat sulit kugambarkan. Mama mertua beberapa kali melempar pertanyaan, tapi sungguh aku tak konsentrasi mendengarnya. Pikiranku hanya dipenuhi akan bayang Mas Wafi, Mas Wafi.
Tak lama, pintu kamar diketuk, Mas Wafi masuk sembari mengucap salam. Senyumku merekah menyambut kedatangannya. Huh, dasar pak dosgan (dosen ganteng), katanya akan pulang siang ini, ternyata sore baru kelihatan. Rindu tauk! Kata hatiku. Hihihi....
Kusambut uluran tangannya, lalu menciumi dengan takzim. Mas Wafi mengelus kepalaku lembut.
"Maaf ya, Mas nggak bisa pulang tadi siang," katanya dengan wajah memelas.
"Iya nggak papa, Mas. Tadi Papa datang kok bawain kami makanan."
"Iya, tadi Mas yang hubungi Papa," ucapnya sambil menyalami Mama.
"Salsa gimana, Ma?" tanya Mas Wafi sambil dusuk di sofa. Kuambil segelas air mineral lalu ikut duduk di samping lelaki itu.
"Tadi sudah selesai di CT-Scan, tapi hasilnya nunggu besok," jawab Mama singkat.
"Diminum, Mas."
Mas Wafi tersenyum sambil meraih gelas pemberianku. "Mudah-mudahan hasilnya normal, nggak ada masalah apapun."
"Aamiinn ...."
Aku dan mama mertua menjawab berbarengan.
"Ajak Bila pulang, Fi. Kasihan dari semalam Bila nggak tidur nyenyak," ucap mama mertua membuatku sedikit kaget.
Mas Wafi melirik ke arahku, kutundukkan pandangan. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi.
"Bauk, Ma. Kita pulang sekarang, ya."
Kuanggukkan kepala dengan cepat. Ya Allah, apa yang akan terjadi pada kami malam ini? Hanya kebaikan yang hamba harap.
***
Pov Wafi
Kami sampai di rumah sebelum azan magrib berkumandang. Senja yang indah, aku kini bersama wanita halalku akan melaksanakan shalat magrib berjamaah. Nikmatnya punya istri. Meski makmumku hanya dia seorang, tapi pahala yang kudapat berlipat-lipat ganda. Masya Allah.
Setelah shalat, kami duduk berhadapan, menyambung tadarus hingga shalat isya. Setiap satu kali 'ain, kami bergantian membacakan ayat selanjutnya. Aku terus memandang wajahnya saat ia tengah khusuk bertadarus. Suaranya bagus. Allah benar-benar telah mengirimku seorang bidadari syurga. Alhamdulillah...
Usai shalat Isya berjamaah, kami keluar kamar menuju ruang makan. Kali ini aku tak meminta makanan lainnya. Aku hanya ingin bersantai-santai romantis dengannya. Kamipun menyantap makan malam yang sudah disediakan Bibik. Malam ini aku berharap pada Allah, tak satu orang pun menjadi penghalangku untuk menyempurnakan tugas sebagai suami. Insya Allah, Ijinkan ya Allah.
Sedari tadi pagi aku sudah menanti waktu ini. Tapi sebagai lelaki sejati, aku tak ingin terlihat seperti musafir di tengah gurun pasir, begitu ketemu telaga, langsung pengen nyemplung. Pasti Bila akan bersembunyi, atau sekurang-kurangnya berpura-pura tidur.
Aku Awafi, akan kubuat suasana yang tak pernah ia sadari bahwa itu adalah caraku merebut hatinya.
***
Kami masuk berbarengan ke dalam kamar. Kuajak Bila duduk lesehan di atas karpet berbulu. Lalu berjalan mendekati lemari untuk mengambil sebuah botol yang sudah kuisi dengan beberapa gulungan kertas. Hampir setengah hari aku memikirkan ide konyol ini di kampus. Bahkan demi botol ini, aku urungkan niatku pulang lebih awal.
"Bila, Mas mau ajak kamu main permainan special," kataku bersemangat.
Dia menoleh penuh penasaran.
"Permainan apa, Mas?"
Kutunjuk botol yang ada di tanganku kini. "Ini namanya botol pengakuan. Kamu lihat, gulungan kertas yang ada di dalam botol ini? Semuanya bertuliskan sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Satu jawaban untuk satu pertanyaan."
Kedua bola mata Bila semakin terbuka lebar. Sepertinya ini akan menjadi malam yang seru. Kupilih duduk di hadapan gadis itu. Ia tampak gugup, tangannya memperbaiki jilbab yang memang sudah bagus.
"Mas kocok duluan, ya!" Kukerlingkan mata ke arahnya, dia mengangguk. Kali ini ekspresi wajah Bila terbaca jelas olehku, karena memang tak ada cadar yang menutup wajahnya.
Kuaduk-aduk botol minuman itu, lalu membalikkan hingga keluar dari lubang kecil botol sebuah gulungan kertas. Aku menariknya perlahan, lalu memberikannya kepada Bila.
"Kamu yang tanya."
Bila meraihnya dan mulai membacakan tulisan yang ada di kertas itu.
"Apa makanan favoritmu?" Bila bertanya sambil tersenyum, sepertinya dia mulai tertarik pada permainan ini.
"Gudeg."
Gadis itu kembali tersenyum, "Bila baru tahu jika Mas Wafi suka Gudeg," katanya sambil melipat kembali kertas yang ada di tangan.
"Besok pagi masakin ya, Mas jadi pengen," ucapku dengan raut memelas. Gadis itu tersenyum hangat.
"Emang Mas mau makan kalau rasanya nggak sedap?"
"Kalau kamu yang masak, semua Mas makan."
Seketika dia menunduk, ah pasti dia tersanjung karena pujianku. Hihihi...
"Sekarang giliran kamu." Kuserahkan botol padanya. Ia mengaduk-aduk lalu mengeluarkan selembar kertas. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia menyerahkan lembaran itu padaku.
"Ehm!"
Sengaja aku tak langsung membacakannya, ini pertanyaan paling antimainstream yang pernah ada.
"Pernah jatuh cinta?"
Bila tersenyum. "Pernah."
"Sama siapa?"
"Lho, satu pertanyaan satu jawaban 'kan Mas?"
Jiah, kugaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Aku lupa menuliskan pertanyaan, 'siapa orang yang pertama kali kamu cintai.'
Ck.. Ck..
"Mas kocok lagi!"
Kukeluarkan selembar kertas dan menyerahkan pada Bila. Dia membaca.
"Siapa orang yang paling kamu sayangi?"
Aku meliriknya sambil memutar-mutar bola mata.
"Mama Farah."
Bila tercengang, sepertinya dia belum mengenal ibu kandungku. Kubuka dompet, lalu mengeluarkan sebuah foto yang kuselipkan di bawah foto pernikahan kami.
"Ini Mama Farah, Mama kandung Mas. Beliau meninggal saat Mas berusia lima tahun."
Bila meraih foto di tanganku.
"Maaf, Mas. Bila ...."
"Nggak papa, 'kan yang nulis semua pertanyaan ini, Mas sendiri?" jawabku mencoba menetralisir keadaan yang tiba-tiba berubah mellow.
"Ayo, giliran kamu sekarang."
Bila kembali meraih botol di tanganku dan mulai mengocok. Dia mengeluarkan selembar kertas, lalu
...
Curang, dia mengintip isinya!
"Bila ... sini kertasnya. Nggak boleh curang lho."
Dia menatapku ragu. Reflek, tangannya melempar kertas itu ke arah lain. Secepat kilat aku bangkit dan berjalan ke arah lemparannya. Tapi, siapa sangka Bila juga berlari dan lebih dulu memungut kertas itu kembali.
"Jangan Mas, kocok lain aja, ya? Bila masukkan lagi kertas ini ke dalam botolnya, ya Mas?" pintanya sambil melangkah mundur. Ingin menjauh.
Takkan kubiarkan kecurangan berlaku, Bila harus menyerahkan kertas itu padaku. Pertanyaan yang mana sih yang dia dapat, kenapa sampai segitunya ia tak ingin aku bertanya.
"Sini Bila, kasih sama Mas?" Aku mulai nekat. Kuulurkan tangan sambil melangkah mendekat. Mataku tertuju pada ranjang di belakang istriku itu. Dua langkah lagi ia mundur, tubuhnya akan tersungkur ke atas kasur empuk.
Hah, aku semakin mendekatkan tubuh, sekalian saja biar dia jatuh. Jadi tidak bisa menghindar lagi.
Tap!
Tubuh Bila terjerembab di atas ranjang. Aku tersenyum. Kali ini dia pasti akan menyerahkan kertas itu. Tapi aku salah. Dia tetap tak mau mengalah, sedikit kepayahan Bila membalikkan badan untuk berusaha bangkit. Sigap, kutahan tangannya hingga ia terjatuh kembali di atas kasur.
Senyumku menyeringai. Mungkin kelihatan seperti serigala kelaparan.
"Mana kertasnya, Bila?" ucapku untuk kesekian kalinya.
Aku menaikkan tubuhku ke atas ranjang, kuletakkan kedua tangan mengapit tubuhnya. Sementara wajahku semakin dekat pada wajahnya. Usaha Bila benar-benar 'keukeuh'. Ia menyembunyikan kedua tangannya di balik badan.
'Mari kita lihat, siapa yang lebih berkuasa.'
Aku kembali menyeringai sambil memasukkan tanganku ke belakang badannya. Kuselipkan jemari tanganku diantara jemari tangannya.
Dapat!
Kusunggingkan selarik senyuman saat benda itu berpindah ke tanganku. Dia hanya menghela napas. Kuangkat wajahku, bertopang dengan kedua kaki terlipat di samping kedua pahanya. Perlahan, aku membuka kertas itu lalu mulai membaca huruf-huruf yang kutulis indah diatasnya.
"Selain aku, siapa yang pernah mendekatimu?"
Dia terdiam. Pandangannya seketika tunduk.
"Kok nggak dijawab?"
Kusentuh dagunya agar ia mau menatap mataku.
"Mas Azzam."
Kuhela napas panjang. Jadi benar kata Azzam tadi siang. Lalu, aku harus bagaimana?
"Apa yang kamu rasakan sekarang padanya?" Mungkin hanya itu yang perlu kuketahui saat ini. Selebihnya, hanya pada Allah aku meminta kebaikan.
"Tidak ada dalam pertanyaan, Mas?" ucapnya menyindirku.
"Ini Mas yang tanyakan Bila, Mas butuh jawaban darimu?"
Bila menatap mataku yang tengah membidiknya tajam. Sepertinya, saking serius, kami bahkan tak menyadari posisi kami saat itu.
"Bila tak pernah menyukainya, Mas ...."
Aku terhenyak, tapi secercah rasa bahagia perlahan mulai menjalari dada.
"Lalu, Mas kah yang kamu sukai?"
Sejenak hening. Aku ingin dia cepat membuka suara, rasanya tak sabar ingin mendengar Bila mengakui perasaannya. Jika benar aku orang yang ia sukai, maka kupastikan mulai malam ini hingga seterusnya, aku akan mengabdikan hidupku untuknya. Dia, hanya dia seorang!
"Bila ...."
Kupanggil namanya lirih.
"Iya, Mas. Maslah lelaki yang Bila cintai ...," jawabnya sambil kembali menunduk.
Masya Allah ... kukecup keningnya haru. Baru kali ini tubuhku bergetar mendengar pengakuan cinta dari seorang gadis. Ya, Karena dia adalah istriku.
Tak ada yang mengaba-aba, mulutku sukses membacakan doa bersenggama. Kukecup kembali keningnya usai doa itu terlafaz. Mataku yang tak lagi berjarak dengan gadis itu kini malah khusuk memperhatikan mulutnya, yang juga tak kalah berkomat kamit membaca doa.
Entah siapa yang memulai, kedua bibir kamipun saling bertemu. Lalu, tak perlu lagi kujelaskan, apa yang terjadi selanjutnya. Takut yang jomlo pada menghayal.. Huahahaha...
Malam ini menjadi malam kesaksian kami, atas kesabaran dan niat kami untuk saling menjaga diri. Hingga cinta kami bersatu dalam ikatan halal yang diridhai Allah. Subhanallah, tidak ada yang dapat menandingi nikmatnya penyatuan raga dua kekasih halal, malaikat bertakbir menyebut kebesaran Illahi.
Malam ini, aku telah menyempurnakannya sebagai seorang istri. Sampai kapanpun, hanya dia yang bertahta di dalam sini.
"Aku mencintaimu istriku ...."
***
Bismillah
Assalamualaikum teman-teman, ini adalah ending termanis versi grup ya. Jika ditanya apakah cerita ini masih berlanjut, saya jawab masih.
Tapi beberapa part lagi itu saya tambahan bumbu penyedap berupa rasa penasaran tingkat tinggi. Saya tidak tahu harus berkata apa, ingin menganjurkan teman-teman terus membaca takut salah, ingin melarangpun, salah besar. Tapi mohon pengertian, jika suatu waktu part itu berhenti dalam keadaan menggantung, please saya jangan dibully ya..
Maafkan keterbatasan ini..
-----
POV Bila, by Wahyuni
***
Aku melepas kepergiannya dengan senyuman. Tapi entah kenapa jauh di sudut hati kecil ini, aku tak ingin dia pergi. Kejadian tadi di mobil yang mendebarkan, disambut musibah yang menimpa di lift, semua terasa bagaikan mimpi.
Jujur, aku butuh Mas Wafi di sampingku.
"Mas ...." Kupanggil namanya lirih. Selirih rasa rindu yang perlahan merambati dada ini.
***
Mas Azzam masuk ke ruangan bersama seorang dokter spesialis lainnya juga beberapa perawat. Aku berdiri di kaki ranjang, sementara mama mertua berdiri di dekat Mbak Salsa.
"Bagaimana keadaannya hari ini, Mbak?"
Mas Azzam menyapa Mbak Salsa ramah. Aku melirik sekilas lalu membuang wajah, saat tiba-tiba pandanganku dan Mas Azzam bertemu pada satu titik.
"Alhamdulillah sehat, Dok."
"Kita langsung ke ruangan CT-Scan, ya?" ucapnya lagi.
Mbak Salsa mengangguk. Kulihat ada rona cemas yang terpancar dari wajah wanita itu, pasti ini menjadi pemeriksaan yang paling mendebarkan baginya.
Detik berikutnya Mbak Salsa mulai di dorong keluar kamar. Aku mengikuti di belakang, sementara mama terus berada di samping. Kami sampai pada sebuah ruangan besar. Dua orang perawat membuka pintu kokoh yang menutupi ruangan itu.
"Nah, sampai sini saja mengantarnya. Keluarga silahkan menunggu di ruangan sebelah, ya?"
Perintah salah perawat yang berdiri di hadapan kami. Mas Azzam dan dokter yang mendampingi berjalan memasuki ruangan pemindai. Kehadiran Mbak Salsa kini disambut oleh lelaki berjas putih selutut yang berada di dalam ruangan.
Mama melepas genggaman tangan Mbak Salsa. Sejenak mengelus puncak kepala wanita itu. Kulihat Mama menitikkan air mata, mungkin ia sangat takut akan diagnose yang nantinya muncul setelah proses peninjauan ini selesai.
Selanjutnya, mama berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh perawat tadi, sementara aku masih di sini. Sebelum pintu kamar pemindaian ditutup, aku menghampiri perawat.
"Maaf Mas, saya ingin berbicara dengan pasien itu sebentar," pintaku pada mereka.
"Silahkan Mbak, tapi jangan lama, ya?"
Kuanggukkan kepala. Lalu segera mendekati Mbak Salsa. "Mbak ...."
Mbak Salsa menoleh saat mendengarku memanggil namanya. Kulihat matanya basah.
"Insya Allah nggak papa, Mbak. Tetap tenang dan jangan lupa Bismillah ya, Mbak. Lailahaillallah anta Subhanaka Inni Kuntum Minadzallimin. Bila bantu doa supaya mbak diberikan kesehatan lahir bathin."
Mbak Salsa mengangguk sembari tersenyum. Lalu perlahan pintu kokoh itu pun tertutup. Aku menyeka sebulir kristal yang tiba-tiba lolos dari pelupuk mata. Yang kutahu, kalau sudah begini-begini, pasti penyakitnya serius. Tapi semoga pengetahuanku yang tak seberapa ini salah.
Kulangkahkan kaki keluar dari lorong itu. Aku tak ikut menunggu bersama mama, rasanya sangat risih berada satu ruangan dengan Mas Azzam. Kujejakkan kaki menuju ruang tunggu. Menurutku disini lebih tenang daripada di dalam. Setidaknya aku berjauhan darinya.
***
Aku melipat mukena setelah selesai melaksanakan shalat Ashar berjamaah di mushalla rumah sakit. Lalu dengan sigap berjalan keluar dari ruangan yang tampak ramai oleh manusia-manusia yang datang untuk memenuhi undangan Allah.
Meninggalkan sejenak dunia yang fana ini untuk bertemu dengan pemilik seluruh alam. Ashar adalah waktu dimana pintu syurga tengah dibuka lebar-lebar, aku terus melantunkan doa. Doa untuk Mbak Salsa juga untukku dan suamiku tercinta.
Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Seharian ini, pikiranku hanya dipenuhi nama Mas Wafi. Beginilah wanita, sesiapa lelaki pertama yang berhasil menyentuh hatinya, maka seumur hidup dia akan sulit untuk melupakan sosok pertama itu.
Alhamdulillah, lelaki yang menyentuh hatiku adalah suamiku sendiri, jadi aku bebas memikirkannya seumur hidupku. Sungguh sia-sia hidup seorang gadis jika hatinya telah ternodai banyak lelaki yang belum tentu kelak akan menjadi imamnya. Saya yakin, yang membaca cerbung ini, adalah wanita-wanita tangguh, yang tak mudah dibujuk syaitan untuk menemaninya kelak di alam barzah maupun diakhirat. Insya Allah, kelak kita semua akan dipertemukan Allah dalam surganya.. Aamiinn...
Aku kembali ke ruang rawatan Mbak Salsa. Beliau nampak tertidur, sepertinya karena pengaruh obat-obatan.
Menunggu Mas Wafi dengan perasaan berdebar ternyata memang melelahkan. Sesuatu yang sangat sulit kugambarkan. Mama mertua beberapa kali melempar pertanyaan, tapi sungguh aku tak konsentrasi mendengarnya. Pikiranku hanya dipenuhi akan bayang Mas Wafi, Mas Wafi.
Tak lama, pintu kamar diketuk, Mas Wafi masuk sembari mengucap salam. Senyumku merekah menyambut kedatangannya. Huh, dasar pak dosgan (dosen ganteng), katanya akan pulang siang ini, ternyata sore baru kelihatan. Rindu tauk! Kata hatiku. Hihihi....
Kusambut uluran tangannya, lalu menciumi dengan takzim. Mas Wafi mengelus kepalaku lembut.
"Maaf ya, Mas nggak bisa pulang tadi siang," katanya dengan wajah memelas.
"Iya nggak papa, Mas. Tadi Papa datang kok bawain kami makanan."
"Iya, tadi Mas yang hubungi Papa," ucapnya sambil menyalami Mama.
"Salsa gimana, Ma?" tanya Mas Wafi sambil dusuk di sofa. Kuambil segelas air mineral lalu ikut duduk di samping lelaki itu.
"Tadi sudah selesai di CT-Scan, tapi hasilnya nunggu besok," jawab Mama singkat.
"Diminum, Mas."
Mas Wafi tersenyum sambil meraih gelas pemberianku. "Mudah-mudahan hasilnya normal, nggak ada masalah apapun."
"Aamiinn ...."
Aku dan mama mertua menjawab berbarengan.
"Ajak Bila pulang, Fi. Kasihan dari semalam Bila nggak tidur nyenyak," ucap mama mertua membuatku sedikit kaget.
Mas Wafi melirik ke arahku, kutundukkan pandangan. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi.
"Bauk, Ma. Kita pulang sekarang, ya."
Kuanggukkan kepala dengan cepat. Ya Allah, apa yang akan terjadi pada kami malam ini? Hanya kebaikan yang hamba harap.
***
Pov Wafi
Kami sampai di rumah sebelum azan magrib berkumandang. Senja yang indah, aku kini bersama wanita halalku akan melaksanakan shalat magrib berjamaah. Nikmatnya punya istri. Meski makmumku hanya dia seorang, tapi pahala yang kudapat berlipat-lipat ganda. Masya Allah.
Setelah shalat, kami duduk berhadapan, menyambung tadarus hingga shalat isya. Setiap satu kali 'ain, kami bergantian membacakan ayat selanjutnya. Aku terus memandang wajahnya saat ia tengah khusuk bertadarus. Suaranya bagus. Allah benar-benar telah mengirimku seorang bidadari syurga. Alhamdulillah...
Usai shalat Isya berjamaah, kami keluar kamar menuju ruang makan. Kali ini aku tak meminta makanan lainnya. Aku hanya ingin bersantai-santai romantis dengannya. Kamipun menyantap makan malam yang sudah disediakan Bibik. Malam ini aku berharap pada Allah, tak satu orang pun menjadi penghalangku untuk menyempurnakan tugas sebagai suami. Insya Allah, Ijinkan ya Allah.
Sedari tadi pagi aku sudah menanti waktu ini. Tapi sebagai lelaki sejati, aku tak ingin terlihat seperti musafir di tengah gurun pasir, begitu ketemu telaga, langsung pengen nyemplung. Pasti Bila akan bersembunyi, atau sekurang-kurangnya berpura-pura tidur.
Aku Awafi, akan kubuat suasana yang tak pernah ia sadari bahwa itu adalah caraku merebut hatinya.
***
Kami masuk berbarengan ke dalam kamar. Kuajak Bila duduk lesehan di atas karpet berbulu. Lalu berjalan mendekati lemari untuk mengambil sebuah botol yang sudah kuisi dengan beberapa gulungan kertas. Hampir setengah hari aku memikirkan ide konyol ini di kampus. Bahkan demi botol ini, aku urungkan niatku pulang lebih awal.
"Bila, Mas mau ajak kamu main permainan special," kataku bersemangat.
Dia menoleh penuh penasaran.
"Permainan apa, Mas?"
Kutunjuk botol yang ada di tanganku kini. "Ini namanya botol pengakuan. Kamu lihat, gulungan kertas yang ada di dalam botol ini? Semuanya bertuliskan sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Satu jawaban untuk satu pertanyaan."
Kedua bola mata Bila semakin terbuka lebar. Sepertinya ini akan menjadi malam yang seru. Kupilih duduk di hadapan gadis itu. Ia tampak gugup, tangannya memperbaiki jilbab yang memang sudah bagus.
"Mas kocok duluan, ya!" Kukerlingkan mata ke arahnya, dia mengangguk. Kali ini ekspresi wajah Bila terbaca jelas olehku, karena memang tak ada cadar yang menutup wajahnya.
Kuaduk-aduk botol minuman itu, lalu membalikkan hingga keluar dari lubang kecil botol sebuah gulungan kertas. Aku menariknya perlahan, lalu memberikannya kepada Bila.
"Kamu yang tanya."
Bila meraihnya dan mulai membacakan tulisan yang ada di kertas itu.
"Apa makanan favoritmu?" Bila bertanya sambil tersenyum, sepertinya dia mulai tertarik pada permainan ini.
"Gudeg."
Gadis itu kembali tersenyum, "Bila baru tahu jika Mas Wafi suka Gudeg," katanya sambil melipat kembali kertas yang ada di tangan.
"Besok pagi masakin ya, Mas jadi pengen," ucapku dengan raut memelas. Gadis itu tersenyum hangat.
"Emang Mas mau makan kalau rasanya nggak sedap?"
"Kalau kamu yang masak, semua Mas makan."
Seketika dia menunduk, ah pasti dia tersanjung karena pujianku. Hihihi...
"Sekarang giliran kamu." Kuserahkan botol padanya. Ia mengaduk-aduk lalu mengeluarkan selembar kertas. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia menyerahkan lembaran itu padaku.
"Ehm!"
Sengaja aku tak langsung membacakannya, ini pertanyaan paling antimainstream yang pernah ada.
"Pernah jatuh cinta?"
Bila tersenyum. "Pernah."
"Sama siapa?"
"Lho, satu pertanyaan satu jawaban 'kan Mas?"
Jiah, kugaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Aku lupa menuliskan pertanyaan, 'siapa orang yang pertama kali kamu cintai.'
Ck.. Ck..
"Mas kocok lagi!"
Kukeluarkan selembar kertas dan menyerahkan pada Bila. Dia membaca.
"Siapa orang yang paling kamu sayangi?"
Aku meliriknya sambil memutar-mutar bola mata.
"Mama Farah."
Bila tercengang, sepertinya dia belum mengenal ibu kandungku. Kubuka dompet, lalu mengeluarkan sebuah foto yang kuselipkan di bawah foto pernikahan kami.
"Ini Mama Farah, Mama kandung Mas. Beliau meninggal saat Mas berusia lima tahun."
Bila meraih foto di tanganku.
"Maaf, Mas. Bila ...."
"Nggak papa, 'kan yang nulis semua pertanyaan ini, Mas sendiri?" jawabku mencoba menetralisir keadaan yang tiba-tiba berubah mellow.
"Ayo, giliran kamu sekarang."
Bila kembali meraih botol di tanganku dan mulai mengocok. Dia mengeluarkan selembar kertas, lalu
...
Curang, dia mengintip isinya!
"Bila ... sini kertasnya. Nggak boleh curang lho."
Dia menatapku ragu. Reflek, tangannya melempar kertas itu ke arah lain. Secepat kilat aku bangkit dan berjalan ke arah lemparannya. Tapi, siapa sangka Bila juga berlari dan lebih dulu memungut kertas itu kembali.
"Jangan Mas, kocok lain aja, ya? Bila masukkan lagi kertas ini ke dalam botolnya, ya Mas?" pintanya sambil melangkah mundur. Ingin menjauh.
Takkan kubiarkan kecurangan berlaku, Bila harus menyerahkan kertas itu padaku. Pertanyaan yang mana sih yang dia dapat, kenapa sampai segitunya ia tak ingin aku bertanya.
"Sini Bila, kasih sama Mas?" Aku mulai nekat. Kuulurkan tangan sambil melangkah mendekat. Mataku tertuju pada ranjang di belakang istriku itu. Dua langkah lagi ia mundur, tubuhnya akan tersungkur ke atas kasur empuk.
Hah, aku semakin mendekatkan tubuh, sekalian saja biar dia jatuh. Jadi tidak bisa menghindar lagi.
Tap!
Tubuh Bila terjerembab di atas ranjang. Aku tersenyum. Kali ini dia pasti akan menyerahkan kertas itu. Tapi aku salah. Dia tetap tak mau mengalah, sedikit kepayahan Bila membalikkan badan untuk berusaha bangkit. Sigap, kutahan tangannya hingga ia terjatuh kembali di atas kasur.
Senyumku menyeringai. Mungkin kelihatan seperti serigala kelaparan.
"Mana kertasnya, Bila?" ucapku untuk kesekian kalinya.
Aku menaikkan tubuhku ke atas ranjang, kuletakkan kedua tangan mengapit tubuhnya. Sementara wajahku semakin dekat pada wajahnya. Usaha Bila benar-benar 'keukeuh'. Ia menyembunyikan kedua tangannya di balik badan.
'Mari kita lihat, siapa yang lebih berkuasa.'
Aku kembali menyeringai sambil memasukkan tanganku ke belakang badannya. Kuselipkan jemari tanganku diantara jemari tangannya.
Dapat!
Kusunggingkan selarik senyuman saat benda itu berpindah ke tanganku. Dia hanya menghela napas. Kuangkat wajahku, bertopang dengan kedua kaki terlipat di samping kedua pahanya. Perlahan, aku membuka kertas itu lalu mulai membaca huruf-huruf yang kutulis indah diatasnya.
"Selain aku, siapa yang pernah mendekatimu?"
Dia terdiam. Pandangannya seketika tunduk.
"Kok nggak dijawab?"
Kusentuh dagunya agar ia mau menatap mataku.
"Mas Azzam."
Kuhela napas panjang. Jadi benar kata Azzam tadi siang. Lalu, aku harus bagaimana?
"Apa yang kamu rasakan sekarang padanya?" Mungkin hanya itu yang perlu kuketahui saat ini. Selebihnya, hanya pada Allah aku meminta kebaikan.
"Tidak ada dalam pertanyaan, Mas?" ucapnya menyindirku.
"Ini Mas yang tanyakan Bila, Mas butuh jawaban darimu?"
Bila menatap mataku yang tengah membidiknya tajam. Sepertinya, saking serius, kami bahkan tak menyadari posisi kami saat itu.
"Bila tak pernah menyukainya, Mas ...."
Aku terhenyak, tapi secercah rasa bahagia perlahan mulai menjalari dada.
"Lalu, Mas kah yang kamu sukai?"
Sejenak hening. Aku ingin dia cepat membuka suara, rasanya tak sabar ingin mendengar Bila mengakui perasaannya. Jika benar aku orang yang ia sukai, maka kupastikan mulai malam ini hingga seterusnya, aku akan mengabdikan hidupku untuknya. Dia, hanya dia seorang!
"Bila ...."
Kupanggil namanya lirih.
"Iya, Mas. Maslah lelaki yang Bila cintai ...," jawabnya sambil kembali menunduk.
Masya Allah ... kukecup keningnya haru. Baru kali ini tubuhku bergetar mendengar pengakuan cinta dari seorang gadis. Ya, Karena dia adalah istriku.
Tak ada yang mengaba-aba, mulutku sukses membacakan doa bersenggama. Kukecup kembali keningnya usai doa itu terlafaz. Mataku yang tak lagi berjarak dengan gadis itu kini malah khusuk memperhatikan mulutnya, yang juga tak kalah berkomat kamit membaca doa.
Entah siapa yang memulai, kedua bibir kamipun saling bertemu. Lalu, tak perlu lagi kujelaskan, apa yang terjadi selanjutnya. Takut yang jomlo pada menghayal.. Huahahaha...
Malam ini menjadi malam kesaksian kami, atas kesabaran dan niat kami untuk saling menjaga diri. Hingga cinta kami bersatu dalam ikatan halal yang diridhai Allah. Subhanallah, tidak ada yang dapat menandingi nikmatnya penyatuan raga dua kekasih halal, malaikat bertakbir menyebut kebesaran Illahi.
Malam ini, aku telah menyempurnakannya sebagai seorang istri. Sampai kapanpun, hanya dia yang bertahta di dalam sini.
"Aku mencintaimu istriku ...."
***
Bismillah
Assalamualaikum teman-teman, ini adalah ending termanis versi grup ya. Jika ditanya apakah cerita ini masih berlanjut, saya jawab masih.
Tapi beberapa part lagi itu saya tambahan bumbu penyedap berupa rasa penasaran tingkat tinggi. Saya tidak tahu harus berkata apa, ingin menganjurkan teman-teman terus membaca takut salah, ingin melarangpun, salah besar. Tapi mohon pengertian, jika suatu waktu part itu berhenti dalam keadaan menggantung, please saya jangan dibully ya..
Maafkan keterbatasan ini..
-----
#Istri_Pilihan
#Part17 Rahasia Salsa
Pov Bila
Dear suami ....
Aku hanyalah wanita biasa, tak cantik, apalagi pintar. Namun ku selalu mencoba memuliakanmu, dimanapun dirimu berada.
Jika kau membenciku, aku tetap takkan merubah rasa dalam mencintaimu.
Jika kau menyakitiku, aku tetap berbaik sangka padamu.
Jika kau membuatku menangis, aku tetap akan menjadi mata air untukmu.
Dear suami, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Cinta tulus karena Allah.
Bimbing aku jika menyalahi, nasihat aku Bila tersalah.
Cintakah aku ... sayangi aku hanya karena-Nya.
'Radha Zanjabila'
***
"Makasih ya, Sayang," ucap Mas Wafi setelah kami sukses mereguk nikmatnya kebersamaan di secawan madu.
Senyum merekah indah di wajah tampannya. Mata beningnya menatapku dalam. Sementara aku, hanya bisa membalas menatapnya dengan tersipu malu.
'Sayang, benarkah dia memanggilku sayang!'
"Untuk apa, Mas?" tanyaku sambil mengangkat kedua alis.
"Karena kamu sudah menjaga diri, dan memberikan yang terbaik untuk Mas."
Alhamdulillah, tersanjungnya hati ini dengan ucapan terima kasih yang Mas Wafi lontarkan. Tidak sia-sia aku menjaga diri. Selama ini bukan aku tak punya rasa cinta, apalagi suka. Tentu aku pernah merasakannya, karena Allah memang menitipkan rasa itu pada tiap-tiap makhluknya. Tapi semua itu sekuat tenaga kutahan. Karena aku, hanya ingin memberikan cintaku untuk lelaki bertanggung jawab. Lelaki yang tak suka mengumbar kata cinta, namun mengikat dengan jalan yang sah.
Lima jemari tangan kanan Mas Wafi kini mengusap pucuk kepalaku. Rasanya begitu menenangkan. Aku bak ratu ia perlakukan malam ini, semoga selamanya begini Mas.
Kutarik napas sejenak. "Mas, saya menjaga diri karena Allah. Syukran, bonusnya Allah titip tulang rusuk saya pada Mas Wafi."
Lelaki itu menatapku syahdu. Ucapanku, pasti membuat Mas Wafi merasa dirinya adalah salah satu lelaki beruntung di dunia ini. Kubaca aura wajahnya dalam-dalam, ia tampak begitu bahagia. Akupun demikian, Mas.
"I Love you," ucapnya diantara tarikan napas dan degup jantung yang jelas kudengar. Karena saat ini aku memang berada di dalam apitan lengan kirinya.
"Love you too, Mas."
Lelakiku tersenyum. Senyuman yang mengantarkan mata elangnya untuk terpejam. Rangkulan jemari tangan kanan Mas Wafi yang sedari tadi mengapit tubuhku pun kini terasa merenggang.
Mas Wafiku sudah terlelap. Dengkuran halus terdengar, beberapa saat setelah matanya terpejam sempurna. Tinggallah aku disini, dengan bola mata yang masih membelalak.
Beberapa waktu aku bergeming, masih asik menatap wajah tampan di hadapanku. Kusentuh matanya, hidungnya, bibirnya, aku tersenyum mengingat semua yang sudah terjadi tadi. Saat tengah asyiknya menikmati keindahan yang Allah anugerahkan pada lelakiku, tiba-tiba ponsel Mas Wafi bergetar. Kuangkat tangan Mas Wafi yang melingkari tubuhku. Pelan aku bergerak tak ingin membuat matanya yang baru saja terpejam harus membuka kembali.
Getar penanda dering pertama berhenti, kini ponsel Mas Wafi kembali bergetar. Kukenakan pakaian dengan lengkap, lalu sedikit tergesa menuruni ranjang dan menggapai benda pipih itu.
Tampak di layar ponsel, dua panggilan tak terjawab dari Mama.
'Ada apa ya, kenapa tiba-tiba Mama nelpon malam-malam begini?'
Saat pikiranku tengah berkelana mencari jawaban, tiba-tiba di luar terdengar seru mobil papa mertua. Aku berjalan mendekati jendela kamar, ternyata benar itu papa.
'Kemana Papa malam-malam begini, apa ada hubungannya dengan telpon Mama?'
Tak lama, ponsel Mas Wafi kembali bergetar. Tampak di kamar sebuah pesan whatsapp. Ada baiknya aku buka, supaya tahu apa yang sedang terjadi, jangan-jangan ini tentang Mbak Salsa.
"Fi, Salsa nggak sadarkan diri. Tadi dia sempat meronta saat tiba-tiba saja nyeri hebat terasa di kepala. Sekarang sudah di ruang ICU."
"Astaghfirullah, Mbak Salsa.'
Saat itu perasaanku campur aduk, jika melihat Mas Wafi yang baru saja memejamkan matanya, sungguh aku tak tega membangunkan. Tapi, mengingat ini adalah pesan penting. Sungguh kejam jika aku mengabaikannya begitu saja.
'Mungkin lebih baik, aku mensucikan diri terlebih dahulu.'
Sekiranya hanya sepuluh menit aku di kamar mandi. Setelah selesai, kudekati suamiku. Ide untuk tidak membangunkannya terkalahkan oleh bisikan kebaikan. Mbak Salsa sedang koma, tidak ada yang lebih penting selain kehadiran kami sekarang ke rumah sakit.
"Mas ...."
Kusentuh bahunya. Jangankan bangun, bereaksi pun tidak. Kugerakkan tangan mengelus pipi. Mas Wafi membuka matanya dengan perlahan.
Dia tersenyum menyambut kehadiranku yang pasti masih serupa bayangan.
"Mas ...."
Kupanggil lagi namanya.
"Iya, Sayang."
"Maaf, Mas. Bila sebenarnya nggak tega membangunkan Mas, tapi ini masalah penting, Mas."
Dia kembali tersenyum, matanya masih dipenuhi guratan merah.
"Kenapa, Sayang?" Tangannya kini mengelus pipiku.
"Mbak Salsa, Mas ... beliau masuk ICU karena koma."
***
Malam semakin naik memanjat, rembulan penuh sempurna. Udara dingin mulai menusuk kulit. Desau angin menambah kesyahduan malam, membuat setiap mata yang terbuka ingin terlelap. Lalu tenggelam dalam mimpi indah yang panjang.
Harusnya kami masih di dalam kamar, mereguk indahnya kebersamaan setelah bekerja keras tadi. Tapi nyatanya, sekarang kami kembali berada di dalam mobil, dengan perasaan khawatir memenuhi rongga pikiran. Untung Mas Wafi masih menggenggam jemari tanganku, setidaknya biarlah tubuh ini yang merasa kedingin, asal hati tetap hangat karena terus bersentuhan dengannya.
Lima belas menit perjalanan, kami sampai di rumah sakit. Dengan tangan yang saling menggenggam, langkah kami berbarengan menuju lantai dua, ruangan ICU. Beberapa langkah lagi sampai ke ruangan itu, kami justru menemukan papa keluar dengan seorang dokter, juga Mas Azzam. Tiba-tiba aku merasa, genggaman tanganku semakin erat. Kulirik Mas Wafi penasaran, ternyata matanya menatap sosok itu, yang kini berjalan mendekati kami.
"Kalian di sini?"
Papa menyapa ketika melihat kami terpaku dalam berdiri.
"Ya, Pa. Salsa gimana?"
"Sudah sadar, hanya masih belum stabil. Kami mau ke ruangan Azzam. Kamu mau ikut?"
Mas Wafi menoleh ke arahku, "kamu masuk dulu, ya. Mas ikut Papa sebentar."
Kujawab permintaan Mas Wafi dengan anggukan. Lalu, suamiku dan beberapa lelaki itu kembali menaiki lift untuk sampai di lantai satu. Kuhela napas panjang, ya Allah ada apa dengan hati ini. Kenapa seolah-seolah aku sangat tidak ingin semua ini terjadi. Astaghfirullah.
Kulangkahkan kaki memasuki ruang ICU. Setelah bertanya pada suster dimana Mbak Salsa berada, aku kembali berjalan ke bed yang di tunjuk oleh perawat itu. Dalam ruangan ini terdapat lima bed, yang satu dengan lainnya dipisahkan oleh kain bersekat lebar dan tebal.
Saat hendak menyibak tirai. Langkahku terhenti karena mendengar percakapan Mama dan Mbak Salsa.
"Sakit sekali, Ma ...."
Serasa ada yang menusuk jantungku saat mendengar lirihan suara Mbak Salsa. Ya Allah...
"Dimana yang sakit Anakku?" tanya Mama lirih, seperti sedang menahan tangis.
Mbak Salsa kini malah terisak.
"Jangan menangis Sayang, tidak ada masalah yang tidak Allah kasih jalan keluarnya ...."
Mbak Salsa makin terisak. "Termasuk masalah hati, Ma?"
Aku menarik napas dalam. Pasti ini ada hubungannya dengan Mas Wafi. Ya Allah, keluarlah kami dari lingkaran hitam ini.
"Kamu hanya perlu ikhlas, Sa. Dia bukan jodohmu ...."
'Dia? Mas Wafikah?'
"Seberapa ikhlas , Ma. Jika keikhlasan itu bisa diukur, sudah habis ukurannya untuk Salsa mengikhlaskan Mas Wafi. Tapi nggak ada yang bisa mengukur 'kan, Ma?"
'Astaghfirullah, jadi benar Mas Wafi.' Kupejamkan mata sambil melebarkan dada, pasti ini akan menjadi kenyataan yang pahit seumur hidupku.
"Sayang, jika kamu sudah ikhlas, harusnya kamu belajar untuk melupakannya."
'Umi ... aku butuh lengan Umi untuk bersandar, tapi aku sendiri disini, Mi ...'
'Nggak semudah itu, Ma. Menghapus sebuah ingatan nggak semudah menghapus jejak kaki di gurun pasir ...."
'Ya Allah ... sebegitu cintakah kamu Mbak pada Mas Wafi. Bahkan mungkin cintaku nggak sedalam itu. Aku harus bagaimana, Mbak?'
"Ma, selama hidup, apa pernah Mama tahu, jika tak sedetikpun Salsa merasakan kebahagian yang bertahan lama? Papa pergi saat aku masih sangat kecil, Ma. Lalu Mama hadirkan Papa Habib yang tak pernah menyayangiku, bahkan tega menjauhkanku darimu, Mama kandungku sendiri. Lalu, Papa juga tega memisahkanku dengan Mas Wafi. Sebenarnya, apa salah Salsa, Ma? Hingga Allah menguji Salsa dengan begitu banyak ujian?"
"Istighfar Sayang, kamu harus tenang. Kamu itu sedang sakit, jangan memikirkan hal-hal tidak baik."
"Ma, semua ini selalu ada dalam pikiranku. Dari kecil hingga sekarang. Andai bisa memilih, aku akan memilih amnesia, Ma. Dengan begitu, Salsa bisa melupakan semuanya, termasuk Mama!"
Aku menekan dadaku. Sakit yang dirasakan Mbak Salsa seolah bisa kurasakan juga.
Mama semakin menahan suaranya. "Istighfar, Sa ...."
Batinku serasa terkoyak-koyak mendengar kenyataan hidup Mbak Salsa. Katakan Mbak, apa yang bisa kulakukan untuk mengobati kepedihanmu? Tapi tolong, jangan minta Mas Wafi.
"Ma, akankah Allah mengabulkan satu permintaanku, permintaan yang sedari dulu terus menerus aku panjatkan?"
Hening. Mama terdiam, dan aku, mungkin tak ada yang pernah membuat napasku setercekat ini. Kutarik napas dalam-dalam, sambil mempersiapkan hati untuk mendengar keinginan Mbak Salsa.
"Insya Allah, Nak. Pasti Allah akan mengabulkan doa hambanya yang tulus!"
"Aku ingin menjadi istri kedua Mas Wafi, Ma."
Kukatup seketika mulutku yang tiba-tiba bergetar. Ya Allah, haruskah aku membagi cinta dengannya?
Tak lagi mampu mendengar, tubuhku justru berbalik dan mengambil langkah keluar ruangan.
"Mbak Salsa, aku ... tak sanggup dimadu, Mbak."
Kuusap kelopak mata berulang kali, aku akan pergi menemui Mas Wafi, dan menceritakan apa yang aku dengar barusan. Mas Wafi harus berjanji padaku, bahwa apapun kenyataan yang akan terjadi di depan. Dia tidak boleh menjadikanku yang kedua.
Kupercepat langkah menuju lift. Dengan jantung yang bertabuh kuat, juga napas yang tak bisa kuatur lagi, sampailah aku di depan ruangan Mas Azzam. Rasanya benar-benar tak sabar ingin berbicara pada Mas Wafi. Aku ingin tahu, bagaimana pendapatnya jika ia tahu apa keinginan Mbak Salsa.
Aku memilih duduk di kursi tunggu di samping ruangan dokter. Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruangan itu. Di tangannya ada sebuah status pasien.
Dia berjalan cepat, ke sisi kiri. Pasti yang ada di tangannya adalah status Mbak Salsa. Lebih baik kutanyakan pada perawat itu tentang penyakit Mbak Salsa. Kenapa sampai kejang-kejang, juga koma sejenak.
"Mas, boleh saya tanya sesuatu?"
Lelaki itu menoleh. "Mau nanya apa, Mbak?"
"Itu status pasien bernama Salsabila, ya?"
"Oh ini, iya benar."
"Saya adik iparnya. Boleh saya tau, sebenarnya kakak Ipar saya itu sakit apa?"
Lelaki itu mengernyitkan dahi. "Benar kamu adik iparnya?"
"Iya, yang di dalam ruangan Dokter Azzam, salah satunya suami saya."
"Oh begitu. Pasien bernama Salsa terkena tumor otak ganas Astrositoma, Mbak."
"Apa? Tumor otak ganas?"
Ya Allah, ini nyata atau mimpi? Bisakah aku meminta padaMu, ya Rabb? Ubahlah semua takdir ini?
Kaki yang tadi kuniatkan untuk menunggu Mas Wafi kini malah terasa kaku, tulang belulang seakan terlepas dari persendian. Separah itukah penyakit yang diderira Mbak Salsa? Jika selama hidup ia terus mengalami tekanan, haruskah ia menerima kenyataan jika penyakit paling menyakitkan justru Allah timpakan lagi padanya.
Ya Rabb, hamba yakin akan ketetapan-Mu, tidak ada satupun penyakit yang Engkau beri kepada hamba-Mu melainkan untuk menghapus dosa-dosanya. Tapi, bisakah ya Allah kumemohon, ubahlah tulisan yang ada pada kolom diagnose, atau setidaknya jadikan prediksi dokter itu sebagai suatu diagnose yang salah. Hanya kepada-Mu hamba memohon, dan meminta pertolongan. Kabulkan ya Allah.
Mencoba mendamaikan perasaan, kucoba untuk sejenak duduk di sebuah kursi panjang yang berhadapan ke taman. Taman dimana sehari yang lalu kami bertiga menggunakan tempat itu sebagai latar untuk mengabadikan foto bersama. Selintas pikiranku diajak berpikir keras, apakah ini maksud foto bertiga itu, aku, Mas Wafi dan Mbak Salsa? Bahwa suatu saat, kami akan berada di dalam satu rumah?
'Astaghfirullah ya Allah, haruskan aku menawarkannya? Atau berpura-pura tak pernah mendengarkan pembicaraan Mbak Salsa tadi. Aku harus bagaimana?'
"Seorang istri nggak baik duduk sendiri di taman, apalagi ini sudah sangat larut."
Aku terhenyak, suara itu?
"Mas Azzam?"
Lelaki itu tersenyum ke arahku.
"Maaf, Mas. Saya sedang menunggu Mas Wafi," ucapku gemetar. Entah, rasanya aku sangat tak ingin bertemu dengannya lagi. Aku harus menjauhi Mas Azzam, apalagi setelah pengakuanku tadi pada Mas Wafi.
"Awafi sudah kembali tadi sama Papanya, baru aja. Mungkin dia nggak ngeliat kamu di sini, ya?"
Tak kujawab lagi pertanyaannya, kupasang langkah seribu hendak meninggalkan tempat ini. Tapi kenyataan tak berpihak padaku. Aku menginjak gamisku sendiri.
'Ya Salam, pasti ini akan menjadi bom yang akan meletakkan diriku seketika.'
"Hati-hati ....!" jeritan Mas Azzam tak mampu membuatku tetap berdiri tegak.
Aku tersungkur.
Spontan, Mas Azzam menahan tubuhku yang hampir terjerembab ke lantai.
'Ya Allah, kenapa begini?'
Aku segera menjauhkan tubuhku dari lengan Mas Azzam, kenapa ya Allah? Kenapa aku harus jatuh?
Rasanya benar-benar menyesakkan.
"Maaf, ya."
Aku menunduk, secepat kilat aku berlari meninggalkannya. Harusnya, tadi aku nggak kemari! Kusapu mata yang mulai basah, sebenarnya aku menangis untuk apa, apa karena Mas Azzam menyentuhnku tanpa sengaja itu, atau karena mbak Salsa?
***
-----
#Part17 Rahasia Salsa
Pov Bila
Dear suami ....
Aku hanyalah wanita biasa, tak cantik, apalagi pintar. Namun ku selalu mencoba memuliakanmu, dimanapun dirimu berada.
Jika kau membenciku, aku tetap takkan merubah rasa dalam mencintaimu.
Jika kau menyakitiku, aku tetap berbaik sangka padamu.
Jika kau membuatku menangis, aku tetap akan menjadi mata air untukmu.
Dear suami, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Cinta tulus karena Allah.
Bimbing aku jika menyalahi, nasihat aku Bila tersalah.
Cintakah aku ... sayangi aku hanya karena-Nya.
'Radha Zanjabila'
***
"Makasih ya, Sayang," ucap Mas Wafi setelah kami sukses mereguk nikmatnya kebersamaan di secawan madu.
Senyum merekah indah di wajah tampannya. Mata beningnya menatapku dalam. Sementara aku, hanya bisa membalas menatapnya dengan tersipu malu.
'Sayang, benarkah dia memanggilku sayang!'
"Untuk apa, Mas?" tanyaku sambil mengangkat kedua alis.
"Karena kamu sudah menjaga diri, dan memberikan yang terbaik untuk Mas."
Alhamdulillah, tersanjungnya hati ini dengan ucapan terima kasih yang Mas Wafi lontarkan. Tidak sia-sia aku menjaga diri. Selama ini bukan aku tak punya rasa cinta, apalagi suka. Tentu aku pernah merasakannya, karena Allah memang menitipkan rasa itu pada tiap-tiap makhluknya. Tapi semua itu sekuat tenaga kutahan. Karena aku, hanya ingin memberikan cintaku untuk lelaki bertanggung jawab. Lelaki yang tak suka mengumbar kata cinta, namun mengikat dengan jalan yang sah.
Lima jemari tangan kanan Mas Wafi kini mengusap pucuk kepalaku. Rasanya begitu menenangkan. Aku bak ratu ia perlakukan malam ini, semoga selamanya begini Mas.
Kutarik napas sejenak. "Mas, saya menjaga diri karena Allah. Syukran, bonusnya Allah titip tulang rusuk saya pada Mas Wafi."
Lelaki itu menatapku syahdu. Ucapanku, pasti membuat Mas Wafi merasa dirinya adalah salah satu lelaki beruntung di dunia ini. Kubaca aura wajahnya dalam-dalam, ia tampak begitu bahagia. Akupun demikian, Mas.
"I Love you," ucapnya diantara tarikan napas dan degup jantung yang jelas kudengar. Karena saat ini aku memang berada di dalam apitan lengan kirinya.
"Love you too, Mas."
Lelakiku tersenyum. Senyuman yang mengantarkan mata elangnya untuk terpejam. Rangkulan jemari tangan kanan Mas Wafi yang sedari tadi mengapit tubuhku pun kini terasa merenggang.
Mas Wafiku sudah terlelap. Dengkuran halus terdengar, beberapa saat setelah matanya terpejam sempurna. Tinggallah aku disini, dengan bola mata yang masih membelalak.
Beberapa waktu aku bergeming, masih asik menatap wajah tampan di hadapanku. Kusentuh matanya, hidungnya, bibirnya, aku tersenyum mengingat semua yang sudah terjadi tadi. Saat tengah asyiknya menikmati keindahan yang Allah anugerahkan pada lelakiku, tiba-tiba ponsel Mas Wafi bergetar. Kuangkat tangan Mas Wafi yang melingkari tubuhku. Pelan aku bergerak tak ingin membuat matanya yang baru saja terpejam harus membuka kembali.
Getar penanda dering pertama berhenti, kini ponsel Mas Wafi kembali bergetar. Kukenakan pakaian dengan lengkap, lalu sedikit tergesa menuruni ranjang dan menggapai benda pipih itu.
Tampak di layar ponsel, dua panggilan tak terjawab dari Mama.
'Ada apa ya, kenapa tiba-tiba Mama nelpon malam-malam begini?'
Saat pikiranku tengah berkelana mencari jawaban, tiba-tiba di luar terdengar seru mobil papa mertua. Aku berjalan mendekati jendela kamar, ternyata benar itu papa.
'Kemana Papa malam-malam begini, apa ada hubungannya dengan telpon Mama?'
Tak lama, ponsel Mas Wafi kembali bergetar. Tampak di kamar sebuah pesan whatsapp. Ada baiknya aku buka, supaya tahu apa yang sedang terjadi, jangan-jangan ini tentang Mbak Salsa.
"Fi, Salsa nggak sadarkan diri. Tadi dia sempat meronta saat tiba-tiba saja nyeri hebat terasa di kepala. Sekarang sudah di ruang ICU."
"Astaghfirullah, Mbak Salsa.'
Saat itu perasaanku campur aduk, jika melihat Mas Wafi yang baru saja memejamkan matanya, sungguh aku tak tega membangunkan. Tapi, mengingat ini adalah pesan penting. Sungguh kejam jika aku mengabaikannya begitu saja.
'Mungkin lebih baik, aku mensucikan diri terlebih dahulu.'
Sekiranya hanya sepuluh menit aku di kamar mandi. Setelah selesai, kudekati suamiku. Ide untuk tidak membangunkannya terkalahkan oleh bisikan kebaikan. Mbak Salsa sedang koma, tidak ada yang lebih penting selain kehadiran kami sekarang ke rumah sakit.
"Mas ...."
Kusentuh bahunya. Jangankan bangun, bereaksi pun tidak. Kugerakkan tangan mengelus pipi. Mas Wafi membuka matanya dengan perlahan.
Dia tersenyum menyambut kehadiranku yang pasti masih serupa bayangan.
"Mas ...."
Kupanggil lagi namanya.
"Iya, Sayang."
"Maaf, Mas. Bila sebenarnya nggak tega membangunkan Mas, tapi ini masalah penting, Mas."
Dia kembali tersenyum, matanya masih dipenuhi guratan merah.
"Kenapa, Sayang?" Tangannya kini mengelus pipiku.
"Mbak Salsa, Mas ... beliau masuk ICU karena koma."
***
Malam semakin naik memanjat, rembulan penuh sempurna. Udara dingin mulai menusuk kulit. Desau angin menambah kesyahduan malam, membuat setiap mata yang terbuka ingin terlelap. Lalu tenggelam dalam mimpi indah yang panjang.
Harusnya kami masih di dalam kamar, mereguk indahnya kebersamaan setelah bekerja keras tadi. Tapi nyatanya, sekarang kami kembali berada di dalam mobil, dengan perasaan khawatir memenuhi rongga pikiran. Untung Mas Wafi masih menggenggam jemari tanganku, setidaknya biarlah tubuh ini yang merasa kedingin, asal hati tetap hangat karena terus bersentuhan dengannya.
Lima belas menit perjalanan, kami sampai di rumah sakit. Dengan tangan yang saling menggenggam, langkah kami berbarengan menuju lantai dua, ruangan ICU. Beberapa langkah lagi sampai ke ruangan itu, kami justru menemukan papa keluar dengan seorang dokter, juga Mas Azzam. Tiba-tiba aku merasa, genggaman tanganku semakin erat. Kulirik Mas Wafi penasaran, ternyata matanya menatap sosok itu, yang kini berjalan mendekati kami.
"Kalian di sini?"
Papa menyapa ketika melihat kami terpaku dalam berdiri.
"Ya, Pa. Salsa gimana?"
"Sudah sadar, hanya masih belum stabil. Kami mau ke ruangan Azzam. Kamu mau ikut?"
Mas Wafi menoleh ke arahku, "kamu masuk dulu, ya. Mas ikut Papa sebentar."
Kujawab permintaan Mas Wafi dengan anggukan. Lalu, suamiku dan beberapa lelaki itu kembali menaiki lift untuk sampai di lantai satu. Kuhela napas panjang, ya Allah ada apa dengan hati ini. Kenapa seolah-seolah aku sangat tidak ingin semua ini terjadi. Astaghfirullah.
Kulangkahkan kaki memasuki ruang ICU. Setelah bertanya pada suster dimana Mbak Salsa berada, aku kembali berjalan ke bed yang di tunjuk oleh perawat itu. Dalam ruangan ini terdapat lima bed, yang satu dengan lainnya dipisahkan oleh kain bersekat lebar dan tebal.
Saat hendak menyibak tirai. Langkahku terhenti karena mendengar percakapan Mama dan Mbak Salsa.
"Sakit sekali, Ma ...."
Serasa ada yang menusuk jantungku saat mendengar lirihan suara Mbak Salsa. Ya Allah...
"Dimana yang sakit Anakku?" tanya Mama lirih, seperti sedang menahan tangis.
Mbak Salsa kini malah terisak.
"Jangan menangis Sayang, tidak ada masalah yang tidak Allah kasih jalan keluarnya ...."
Mbak Salsa makin terisak. "Termasuk masalah hati, Ma?"
Aku menarik napas dalam. Pasti ini ada hubungannya dengan Mas Wafi. Ya Allah, keluarlah kami dari lingkaran hitam ini.
"Kamu hanya perlu ikhlas, Sa. Dia bukan jodohmu ...."
'Dia? Mas Wafikah?'
"Seberapa ikhlas , Ma. Jika keikhlasan itu bisa diukur, sudah habis ukurannya untuk Salsa mengikhlaskan Mas Wafi. Tapi nggak ada yang bisa mengukur 'kan, Ma?"
'Astaghfirullah, jadi benar Mas Wafi.' Kupejamkan mata sambil melebarkan dada, pasti ini akan menjadi kenyataan yang pahit seumur hidupku.
"Sayang, jika kamu sudah ikhlas, harusnya kamu belajar untuk melupakannya."
'Umi ... aku butuh lengan Umi untuk bersandar, tapi aku sendiri disini, Mi ...'
'Nggak semudah itu, Ma. Menghapus sebuah ingatan nggak semudah menghapus jejak kaki di gurun pasir ...."
'Ya Allah ... sebegitu cintakah kamu Mbak pada Mas Wafi. Bahkan mungkin cintaku nggak sedalam itu. Aku harus bagaimana, Mbak?'
"Ma, selama hidup, apa pernah Mama tahu, jika tak sedetikpun Salsa merasakan kebahagian yang bertahan lama? Papa pergi saat aku masih sangat kecil, Ma. Lalu Mama hadirkan Papa Habib yang tak pernah menyayangiku, bahkan tega menjauhkanku darimu, Mama kandungku sendiri. Lalu, Papa juga tega memisahkanku dengan Mas Wafi. Sebenarnya, apa salah Salsa, Ma? Hingga Allah menguji Salsa dengan begitu banyak ujian?"
"Istighfar Sayang, kamu harus tenang. Kamu itu sedang sakit, jangan memikirkan hal-hal tidak baik."
"Ma, semua ini selalu ada dalam pikiranku. Dari kecil hingga sekarang. Andai bisa memilih, aku akan memilih amnesia, Ma. Dengan begitu, Salsa bisa melupakan semuanya, termasuk Mama!"
Aku menekan dadaku. Sakit yang dirasakan Mbak Salsa seolah bisa kurasakan juga.
Mama semakin menahan suaranya. "Istighfar, Sa ...."
Batinku serasa terkoyak-koyak mendengar kenyataan hidup Mbak Salsa. Katakan Mbak, apa yang bisa kulakukan untuk mengobati kepedihanmu? Tapi tolong, jangan minta Mas Wafi.
"Ma, akankah Allah mengabulkan satu permintaanku, permintaan yang sedari dulu terus menerus aku panjatkan?"
Hening. Mama terdiam, dan aku, mungkin tak ada yang pernah membuat napasku setercekat ini. Kutarik napas dalam-dalam, sambil mempersiapkan hati untuk mendengar keinginan Mbak Salsa.
"Insya Allah, Nak. Pasti Allah akan mengabulkan doa hambanya yang tulus!"
"Aku ingin menjadi istri kedua Mas Wafi, Ma."
Kukatup seketika mulutku yang tiba-tiba bergetar. Ya Allah, haruskah aku membagi cinta dengannya?
Tak lagi mampu mendengar, tubuhku justru berbalik dan mengambil langkah keluar ruangan.
"Mbak Salsa, aku ... tak sanggup dimadu, Mbak."
Kuusap kelopak mata berulang kali, aku akan pergi menemui Mas Wafi, dan menceritakan apa yang aku dengar barusan. Mas Wafi harus berjanji padaku, bahwa apapun kenyataan yang akan terjadi di depan. Dia tidak boleh menjadikanku yang kedua.
Kupercepat langkah menuju lift. Dengan jantung yang bertabuh kuat, juga napas yang tak bisa kuatur lagi, sampailah aku di depan ruangan Mas Azzam. Rasanya benar-benar tak sabar ingin berbicara pada Mas Wafi. Aku ingin tahu, bagaimana pendapatnya jika ia tahu apa keinginan Mbak Salsa.
Aku memilih duduk di kursi tunggu di samping ruangan dokter. Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruangan itu. Di tangannya ada sebuah status pasien.
Dia berjalan cepat, ke sisi kiri. Pasti yang ada di tangannya adalah status Mbak Salsa. Lebih baik kutanyakan pada perawat itu tentang penyakit Mbak Salsa. Kenapa sampai kejang-kejang, juga koma sejenak.
"Mas, boleh saya tanya sesuatu?"
Lelaki itu menoleh. "Mau nanya apa, Mbak?"
"Itu status pasien bernama Salsabila, ya?"
"Oh ini, iya benar."
"Saya adik iparnya. Boleh saya tau, sebenarnya kakak Ipar saya itu sakit apa?"
Lelaki itu mengernyitkan dahi. "Benar kamu adik iparnya?"
"Iya, yang di dalam ruangan Dokter Azzam, salah satunya suami saya."
"Oh begitu. Pasien bernama Salsa terkena tumor otak ganas Astrositoma, Mbak."
"Apa? Tumor otak ganas?"
Ya Allah, ini nyata atau mimpi? Bisakah aku meminta padaMu, ya Rabb? Ubahlah semua takdir ini?
Kaki yang tadi kuniatkan untuk menunggu Mas Wafi kini malah terasa kaku, tulang belulang seakan terlepas dari persendian. Separah itukah penyakit yang diderira Mbak Salsa? Jika selama hidup ia terus mengalami tekanan, haruskah ia menerima kenyataan jika penyakit paling menyakitkan justru Allah timpakan lagi padanya.
Ya Rabb, hamba yakin akan ketetapan-Mu, tidak ada satupun penyakit yang Engkau beri kepada hamba-Mu melainkan untuk menghapus dosa-dosanya. Tapi, bisakah ya Allah kumemohon, ubahlah tulisan yang ada pada kolom diagnose, atau setidaknya jadikan prediksi dokter itu sebagai suatu diagnose yang salah. Hanya kepada-Mu hamba memohon, dan meminta pertolongan. Kabulkan ya Allah.
Mencoba mendamaikan perasaan, kucoba untuk sejenak duduk di sebuah kursi panjang yang berhadapan ke taman. Taman dimana sehari yang lalu kami bertiga menggunakan tempat itu sebagai latar untuk mengabadikan foto bersama. Selintas pikiranku diajak berpikir keras, apakah ini maksud foto bertiga itu, aku, Mas Wafi dan Mbak Salsa? Bahwa suatu saat, kami akan berada di dalam satu rumah?
'Astaghfirullah ya Allah, haruskan aku menawarkannya? Atau berpura-pura tak pernah mendengarkan pembicaraan Mbak Salsa tadi. Aku harus bagaimana?'
"Seorang istri nggak baik duduk sendiri di taman, apalagi ini sudah sangat larut."
Aku terhenyak, suara itu?
"Mas Azzam?"
Lelaki itu tersenyum ke arahku.
"Maaf, Mas. Saya sedang menunggu Mas Wafi," ucapku gemetar. Entah, rasanya aku sangat tak ingin bertemu dengannya lagi. Aku harus menjauhi Mas Azzam, apalagi setelah pengakuanku tadi pada Mas Wafi.
"Awafi sudah kembali tadi sama Papanya, baru aja. Mungkin dia nggak ngeliat kamu di sini, ya?"
Tak kujawab lagi pertanyaannya, kupasang langkah seribu hendak meninggalkan tempat ini. Tapi kenyataan tak berpihak padaku. Aku menginjak gamisku sendiri.
'Ya Salam, pasti ini akan menjadi bom yang akan meletakkan diriku seketika.'
"Hati-hati ....!" jeritan Mas Azzam tak mampu membuatku tetap berdiri tegak.
Aku tersungkur.
Spontan, Mas Azzam menahan tubuhku yang hampir terjerembab ke lantai.
'Ya Allah, kenapa begini?'
Aku segera menjauhkan tubuhku dari lengan Mas Azzam, kenapa ya Allah? Kenapa aku harus jatuh?
Rasanya benar-benar menyesakkan.
"Maaf, ya."
Aku menunduk, secepat kilat aku berlari meninggalkannya. Harusnya, tadi aku nggak kemari! Kusapu mata yang mulai basah, sebenarnya aku menangis untuk apa, apa karena Mas Azzam menyentuhnku tanpa sengaja itu, atau karena mbak Salsa?
***
-----
#Istri_Pilihan
#Part17 Katakan Cinta Padanya
Pov WAFI
***
Kami sampai di lantai dasar Kosenda Hotel. Janji pada Salsa hanya mencari makan di restaurant terdekat terpaksa kuingkari. Aku memilih tempat ini untuk memenuhi undangan sahabatku, Fitrah, owner rumah makan mewah itu.
Setelah duduk berbincang sejenak dengan sahabatku itu, akhirnya aku dan Bila punya waktu berdua. Menikmati ragam makanan yang sudah tersedia di atas meja. Mulai dari salted egg chicken, fried seafood noodle, waha fried rice, dan banana fritter.
Ramainya pengunjung restaurant ini, tak mengacaukan suasana romantis kami berdua. Karena aku sengaja memilih posisi duduk di pojokan, dekat dengan jendela yang langsung menghadap ke taman.
"Ayo, dimakan?" Aku menyilahkan Bila menyantap semua pesanan yang sudah kami pesan bersama.
Ia tersenyum dan mulai memakan dengan lahap waha fried ricenya. Tampaknya dia benar-benar kelaparan.
"Kenapa semalam ponselmu dimatikan?"
Pertanyaanku sejenak memecah keheningan, setelah kami selesai menghabiskan seluruh pesanan.
Bila menoleh sambil memperbaiki posisi cadarnya.
"Baterainya habis, Mas."
"Owh, sekarang udah dicharge belum?"
Bila tersenyum, "belum, Mas."
'Ya Salam, berarti pesanku yang semalam belum dibaca. Berarti aku harus menyatakan perasaanku secara langsung.'
"Bila, Mas ...."
"Kamar mandinya di mana ya, Mas?"
Yaaa....
Kuhela napas panjang sambil menyandarkan punggung ke kursi duduk. Sebelah tangan kugunakan untuk menyugar rambut. Baru saja mengumpulkan segenap keberanian untuk jujur, eh udah terhalang aja dengan hal-hal remeh begini.
"Yaudah, ayo Mas kawani?" ajakku padanya.
Dia cengengesan sambil mengikuti langkahku. Ah, gadis ini, kapanlah bisa kami bersama? Tampaknya aku harus meningkatkan stok sabar.
Lima belas menit aku duduk di kursi tunggu menuju toilet wanita. Para lelaki biasanya membiarkan istrinya ke toilet sendirian, tapi aku Awafi. Aku akan melindungi istriku, sekalipun ia ke toilet.
Dua orang wanita berlalu di hadapanku, berbisik sambil tersenyum. Ah, ngapain ngurusin yang begituan. Palingan juga lagi ngomongin kenapa ada cogan nyasar ke tempat ini.
"Maaf Mas, lama menunggu ya?"
Bila keluar dengan malu-malu.
"Nggak kok. Balik yuk. Mas harus ke Fakultas sebentar, tadi ada yang nelpon minta tolong Mas buat gantiin pembimbing 2 sidang mahasiswa hari ini. Kamu mau Mas antar ke rumah, atau ke rumah sakit?"
Bila terlihat berpikir sejenak. "Ke rumah sakit aja ya, Mas?"
Kuanggukkan kepala sambil menuju parkiran. Kusimpan niat pengakuan cinta untuk nanti malam, biar sekalian buka puasa.
Ah, jadi nggak sabar nunggu malam.
***
Perjalanan ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Sepanjang perjalanan, ada sesuatu yang begitu mendesak hatiku, kenapa sih perasaan ini nggak bisa menunggu malam.
Dalam setiap tarikan napas keselingin dengan zikir, biar perasaan yang menggebu di dada sedikit menemukan ketenangan. Jujur, ini kali pertama aku akan menyatakan perasaan cintaku pada seorang gadis. Gadis yang tak lain adalah istriku sendiri.
Ternyata begini rasanya, seperti mau buang hajat tapi nggak nemu kamar mandi. Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini.
Mobil berhenti di parkiran, Bila hendak membuka sabuk pengamannya. Cekatan aku mendahului tangannya untuk membuka sabuk itu.
Saking cekatannya, tanganku hampir mengenai bagian tubuhnya yang sedikit menonjol. Oooo...
Bila melirikku cepat. Kusenyumi gadis itu sambil menjauhkan tangan dan melanjutkan usahaku. Tapi, kenapa macet. Aku menggeser sedikit tubuhku untuk mengusahakan agar sabuk itu benar-benar terlepas dari tubuh Bila.
Tetap macet.
'Aduh, ada apa dengan benda ini?'
Sedikit pegal, kuangkat kepala yang tadi hanya fokus pada sabuk berwarna abu-abu itu.
Ya Salam, seketika netra kami bersitatap begitu dekat. Entah apa yang mendorong naluriku, tangan yang tadi memegang sabuk, kini berpindah. Membuka cadar yang menutupi wajah gadis ayu di hadapanku ini.
Dia tak menolak. Kepegang kedua lengannya. Lalu.... Ehm... Ehm...
Sensorrrr! Jangan dibayangkan ya!!! Hahahaha...
Kali ini berhasil tanpa gagal.
Lama, mungkin sekitar tiga menit. Owh, begini rasanya.
Setelah cukup mengurai rasa yang menyesaki dada, mata kami terbuka perlahan. Saling
Memandang penuh malu. Lalu tubuhku rebah kembali ke sandaran kursi. Kami terdiam seribu bahasa. Memaknai rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata.
"Alhamdulillah, satu benteng tabir telah terbuka. Meski aku belum tahu kapan tabir lainnya akan terbuka. Setidaknya ini adalah kata cinta yang harusnya kusampaikan sedari tadi.
"Bila, turun ya, Mas?" ucapnya lirih sekali.
Aku menoleh, dia masih menunduk. Kuambil cadar yang masih tergeletak di atas kedua pahanya, lalu kuikat asal diluar jelbabnya.
"Hati-hati, ya. Jaga hati dan jaga mata, Mas ... mencintaimu."
Bila mengangkat wajahnya saat aku menyatakan cinta. Dia menghadiahkan sebuah pelangi di wajahnya. Sangat indah.
'Ya Allah, nikmatnya memiliki kekasih halal."
Kalian mau?
***
Yang mau menikah, saya doakan disegerakan tahun ini ya. Yang masih SMA, atau kuliah, jaga diri kalian baik-baik. Karena sesuatu yang baik akan dipasangkan Allah dengan yang baik pula.
Mau nggak dapat bekasan? Pasti nggak mau ya? Maka jangan jadikan anak gadis orang bekasan, dan jangan mau dibekasin sama cogan. Setuju ya? Hihihi..
Jangan mudah tergoda dengan kalimat, 'maukah kamu jadi pacarku?'
Ingat, jika seseorang mengajak kalian pacaran, sebenarnya secara tidak langsung mereka mau menyatakan, 'maukah kamu berzina denganku?'
So, jauhi pacaran ya, pacaran islami nanti setelah menikah. Yang laki-laki, ayo semangat, rajin belajar dan bekerja, biar kelak bisa melamar permaisuri dambaan hati.
Semnmangat!!
Hihihi.. Abaikan yang sudah menikah, takut ada yang masih jomlo ne yang baca cerita saya ini. Saya sayang kalian semua, dunia akhirat.
***
Pov Bila
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok dan esok lusa. Yang kita ketahui hanya sesuatu yang sudah terjadi kemarin. Seperti hari ini, sebuah kecupan yang datang dari kekasih halalku, terjadi tanpa bisa kuprediksi sebelumnya.
Berdebar, tentu saja. Sangat mendebarkan, karena ini adalah kecupan pertama yang seumur hidup baru aku rasakan. Subhanallah, aku begitu menikmatinya. Semoga Mas Wafi juga merasakan apa yang aku rasakan ini.
Dengan gugup kulangkahkan kaki menuruni mobilnya. Tapi sebuah pesan yang ia sebut tadi membuat dadaku berdesir hebat.
"Hati-hati, ya. Jaga hati dan jaga mata, Mas ... mencintaimu."
'Ya Allah, benarkah yang kudengar ini? Ternyata ia mencintaiku."
Ingin kujawab, akupun mencintaimu Mas, tapi aku malu. Biarlah lain kali kubisikkan di telinganya dengan mesra, jika akupun sangat sangat mencintainya.
Kulangkahkan kaki meninggalkan mobil Mas Wafi yang tak juga pergi. Hingga aku menghilang di pintu utama, barulah kendaraan beroda empat itu perlahan menghilang dari pandangan.
***
Pagi menjelang siang, rumah sakit tampak begitu ramai. Mataku menyisir seluruh lantai satu ini, sambil terus berjalan menuju lift agar sampai ke lantai tiga, tempat Mbak Salsa dirawat.
Menunggu sejenak, tak lama lift pun terbuka. Beberapa orang terlihat keluar dari ruangan kecil itu. Entah kenapa seperti ada yang menusuk dadaku pelan, tak bisa kugambarkan ketidakenakan yang kurasakan. Bismillah semoga tidak ada masalah apa-apa.
Tidak ada orang lain yang menunggu, hanya aku. Tiba-tiba, saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menyembul diantara kedua belah pintu yang hampir merapat.
'Mas Azzam!'
Jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Mas Azzam menghentikan langkahnya, saat itu aku berharap dia tak jadi masuk. Namun, harapanku tak terkabul. Mas Azzam melirik jam yang melingkari tangannya, lalu menatapku ragu dan, dia masuk.
Sejenak hening, kami tak berbicara. Berdiri di dua sudut berbeda. Pun tanpa menoleh.
"Mau ke lantai berapa?" tanyanya memecah keheningan.
"Tiga, Mas."
Mas Azzam menekan tombol sesuai yang kusebutkan, karena memang posisinya lebih dekat. Detik berikutnya kami kembali diam. Sampai akhirnya, tanda lift telah sampai lantai tiga berbunyi. Aku bersiap keluar. Tiba-tiba lift berkuncang pelan. Terdengar bunyi tut tut berulang kali.
'Astaghfirullah, kenapa ini?'
Mas Azzam menekan tombol pembuka, tapi pintu tetap tak bergerak.
"Kenapa liftnya, Mas? Macet?"
Aku mulai panik.
Dia menekan kembali tombol pembuka, tetap pintu tak tergerak. Mas Azzam menekan tombol menuju ke lantai satu, juga tak bereaksi.
"Liftnya macet," sebutnya tenang.
"Ya Allah, Mas. Jadi gimana?" Aku semakin panik, terjebak di dalam lift dengan lelaki bukan mahrom, apa kata dunia? Bisa timbul fitnah. Bagaimana jika ketika lift terbuka, mendadak Mama mertua ada di hadapanku, bisa-bisa dipecat jadi menantunya nanti.
Hiks.. Hiks...
"Jangan panik. Mas coba minta bantuan dulu, ya?"
Mas Azzam memencet tombol pertolongan, tak ada jawaban.
'Ya Allah, cobaan apa yang sedang Kau timpakan ada hamba ini?'
"Jangan takut ya, setidaknya mereka sudah tau kalau kita sedang terjebak di lift ini. Tenang, nggak papa. Berdoa aja, biar kita bisa segera keluar."
Lelaki berjas putih itu mencoba menenangkanku. Kuhela napas panjang.
'Mas Wafi, aku kejebak dilift ini ...," lirih batinku. Akankah aku menghabiskan hidupku di dalam lift ini, kecupan tadi, setidaknya seumur hidup aku sudah merasakannya darimu Mas. Batinku terus meracau tak jelas.
Aku menoleh, saat kusadari Mas Azzam bergerak. Entah, rasanya seperti takut. Astaghfirullah, pikir apa aku ini. Mas Azzam ternyata mendudukkan tubuhnya sambil bersandar ke dinding lift. Akhirnya, aku juga ikutan duduk bersandar, sambil dalam hati terus berdoa.
"Selamat, ya," ucapnya kemudian.
Aku menoleh.
"Untuk apa?"
"Pernikahanmu dan Awafi. Dia sahabatku, satu pesantren dulu."
Aku menarik napas dalam. Percakapan ini sangat tidak ingin aku dengar.
"Terima kasih, Mas."
"Kenapa Mas ditolak waktu itu?"
'Astaghfirullah, aku harus jawab apa?'
Kupilih bergeming tanpa menanggapi pertanyaannya. Semoga Mas Azzam tidak lagi mengajakku bicara.
"Maaf Mas banyak tanya, ya. Mas hanya penasaran."
Aku masih bergeming.
"Awafi memang lebih tampan, banyak yang suka. Termasuk kamu, makanya lamarannya diterima. Hihihi ...?"
Mas Azzam tersenyum, memperlihatkan giginya yang rapi.
Haruskah aku jujur? Mungkin ada baiknya aku membuka suara.
"Maaf Mas, sesuatu yang tak berjodoh pasti ada aja cara Allah untuk menggagalkan," jawabku singkat.
"Iya, Mas tau. Wafi sangat beruntung mendapatkan istri shalehah seperti kamu," pujinya padaku.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dari luar.
"Sepetinya pertolongan sudah datang."
"Alhamdulillah."
Detik berikutnya, pintu lift perlahan terbuka. Aku dan Mas Azzam masih belum beranjak, masih saling bersandar pada dinding.
Sebuah lengkungan tercetak di wajahku, saat dua sequrity menyembul di balik dua sisi pintu lift.
Masya Allah, setelah dua sequrity itu masuk untuk membantu kami, seorang lelaki gagah tampak mematung di belakang mereka. Lelaki yang setengah jam tadi baru saja meletakkan bibirnya pada bibirku.
"Mas Wafi?"
***
Bersambung ya..
Assalamualaikum teman-teman, tak terasa cerita ini sudah sangat panjang, ya. Sebelumnya saya mau cerita sedikit, tentang harapan saya akan cerbung ini sebelum saya posting digrup.
Saya bahkan sudah mengincar penerbit indie yang saya inginkan untuk menerbitkan cerita ini, terlepas dari banyak atau tidaknya pembaca. Qadarullah, sebaik-baiknya rencana manusia, Allah-lah pemilik segala rencana.
Penerbit yang saya incar itu justru suatu pagi mengirimkan massanger, dengan niat ingin meminang karya saya ini. Masya Allah, saat itu saya ingin menangis. Bahagia juga sedih, karena sudah pasti, saat sebuah karya dipinang oleh penerbit, maka mereka tidak ingin seluruh part dipublikasikan.
Saat itu saya begitu bimbang, tapi sebelum menulis saya selalu awalkan dengan berdoa pada Allah. Saat cerbung ini dilamarpun saya terus berdoa agar Allah jadikan ini yang terbaik, semoga teman-teman bisa memaklumi pilihan saya ini.
Untuk sedikit mengobati kekecewaan teman-teman, saya akan mencoba mengakhiri part di grup dengan sebaik-baiknya akhir. Agar teman-teman yang belum mampu membeli novel, tidak sampai kecewa berat. Dan memusuhi saya. Apalah saya tanpa kalian dengan seijin Allah.
Sekali lagi nuwun sewu semuanya. Semoga masih ikut membaca beberapa part lagi yang masih akan saya lanjutkan.
------
#Part17 Katakan Cinta Padanya
Pov WAFI
***
Kami sampai di lantai dasar Kosenda Hotel. Janji pada Salsa hanya mencari makan di restaurant terdekat terpaksa kuingkari. Aku memilih tempat ini untuk memenuhi undangan sahabatku, Fitrah, owner rumah makan mewah itu.
Setelah duduk berbincang sejenak dengan sahabatku itu, akhirnya aku dan Bila punya waktu berdua. Menikmati ragam makanan yang sudah tersedia di atas meja. Mulai dari salted egg chicken, fried seafood noodle, waha fried rice, dan banana fritter.
Ramainya pengunjung restaurant ini, tak mengacaukan suasana romantis kami berdua. Karena aku sengaja memilih posisi duduk di pojokan, dekat dengan jendela yang langsung menghadap ke taman.
"Ayo, dimakan?" Aku menyilahkan Bila menyantap semua pesanan yang sudah kami pesan bersama.
Ia tersenyum dan mulai memakan dengan lahap waha fried ricenya. Tampaknya dia benar-benar kelaparan.
"Kenapa semalam ponselmu dimatikan?"
Pertanyaanku sejenak memecah keheningan, setelah kami selesai menghabiskan seluruh pesanan.
Bila menoleh sambil memperbaiki posisi cadarnya.
"Baterainya habis, Mas."
"Owh, sekarang udah dicharge belum?"
Bila tersenyum, "belum, Mas."
'Ya Salam, berarti pesanku yang semalam belum dibaca. Berarti aku harus menyatakan perasaanku secara langsung.'
"Bila, Mas ...."
"Kamar mandinya di mana ya, Mas?"
Yaaa....
Kuhela napas panjang sambil menyandarkan punggung ke kursi duduk. Sebelah tangan kugunakan untuk menyugar rambut. Baru saja mengumpulkan segenap keberanian untuk jujur, eh udah terhalang aja dengan hal-hal remeh begini.
"Yaudah, ayo Mas kawani?" ajakku padanya.
Dia cengengesan sambil mengikuti langkahku. Ah, gadis ini, kapanlah bisa kami bersama? Tampaknya aku harus meningkatkan stok sabar.
Lima belas menit aku duduk di kursi tunggu menuju toilet wanita. Para lelaki biasanya membiarkan istrinya ke toilet sendirian, tapi aku Awafi. Aku akan melindungi istriku, sekalipun ia ke toilet.
Dua orang wanita berlalu di hadapanku, berbisik sambil tersenyum. Ah, ngapain ngurusin yang begituan. Palingan juga lagi ngomongin kenapa ada cogan nyasar ke tempat ini.
"Maaf Mas, lama menunggu ya?"
Bila keluar dengan malu-malu.
"Nggak kok. Balik yuk. Mas harus ke Fakultas sebentar, tadi ada yang nelpon minta tolong Mas buat gantiin pembimbing 2 sidang mahasiswa hari ini. Kamu mau Mas antar ke rumah, atau ke rumah sakit?"
Bila terlihat berpikir sejenak. "Ke rumah sakit aja ya, Mas?"
Kuanggukkan kepala sambil menuju parkiran. Kusimpan niat pengakuan cinta untuk nanti malam, biar sekalian buka puasa.
Ah, jadi nggak sabar nunggu malam.
***
Perjalanan ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Sepanjang perjalanan, ada sesuatu yang begitu mendesak hatiku, kenapa sih perasaan ini nggak bisa menunggu malam.
Dalam setiap tarikan napas keselingin dengan zikir, biar perasaan yang menggebu di dada sedikit menemukan ketenangan. Jujur, ini kali pertama aku akan menyatakan perasaan cintaku pada seorang gadis. Gadis yang tak lain adalah istriku sendiri.
Ternyata begini rasanya, seperti mau buang hajat tapi nggak nemu kamar mandi. Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini.
Mobil berhenti di parkiran, Bila hendak membuka sabuk pengamannya. Cekatan aku mendahului tangannya untuk membuka sabuk itu.
Saking cekatannya, tanganku hampir mengenai bagian tubuhnya yang sedikit menonjol. Oooo...
Bila melirikku cepat. Kusenyumi gadis itu sambil menjauhkan tangan dan melanjutkan usahaku. Tapi, kenapa macet. Aku menggeser sedikit tubuhku untuk mengusahakan agar sabuk itu benar-benar terlepas dari tubuh Bila.
Tetap macet.
'Aduh, ada apa dengan benda ini?'
Sedikit pegal, kuangkat kepala yang tadi hanya fokus pada sabuk berwarna abu-abu itu.
Ya Salam, seketika netra kami bersitatap begitu dekat. Entah apa yang mendorong naluriku, tangan yang tadi memegang sabuk, kini berpindah. Membuka cadar yang menutupi wajah gadis ayu di hadapanku ini.
Dia tak menolak. Kepegang kedua lengannya. Lalu.... Ehm... Ehm...
Sensorrrr! Jangan dibayangkan ya!!! Hahahaha...
Kali ini berhasil tanpa gagal.
Lama, mungkin sekitar tiga menit. Owh, begini rasanya.
Setelah cukup mengurai rasa yang menyesaki dada, mata kami terbuka perlahan. Saling
Memandang penuh malu. Lalu tubuhku rebah kembali ke sandaran kursi. Kami terdiam seribu bahasa. Memaknai rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata.
"Alhamdulillah, satu benteng tabir telah terbuka. Meski aku belum tahu kapan tabir lainnya akan terbuka. Setidaknya ini adalah kata cinta yang harusnya kusampaikan sedari tadi.
"Bila, turun ya, Mas?" ucapnya lirih sekali.
Aku menoleh, dia masih menunduk. Kuambil cadar yang masih tergeletak di atas kedua pahanya, lalu kuikat asal diluar jelbabnya.
"Hati-hati, ya. Jaga hati dan jaga mata, Mas ... mencintaimu."
Bila mengangkat wajahnya saat aku menyatakan cinta. Dia menghadiahkan sebuah pelangi di wajahnya. Sangat indah.
'Ya Allah, nikmatnya memiliki kekasih halal."
Kalian mau?
***
Yang mau menikah, saya doakan disegerakan tahun ini ya. Yang masih SMA, atau kuliah, jaga diri kalian baik-baik. Karena sesuatu yang baik akan dipasangkan Allah dengan yang baik pula.
Mau nggak dapat bekasan? Pasti nggak mau ya? Maka jangan jadikan anak gadis orang bekasan, dan jangan mau dibekasin sama cogan. Setuju ya? Hihihi..
Jangan mudah tergoda dengan kalimat, 'maukah kamu jadi pacarku?'
Ingat, jika seseorang mengajak kalian pacaran, sebenarnya secara tidak langsung mereka mau menyatakan, 'maukah kamu berzina denganku?'
So, jauhi pacaran ya, pacaran islami nanti setelah menikah. Yang laki-laki, ayo semangat, rajin belajar dan bekerja, biar kelak bisa melamar permaisuri dambaan hati.
Semnmangat!!
Hihihi.. Abaikan yang sudah menikah, takut ada yang masih jomlo ne yang baca cerita saya ini. Saya sayang kalian semua, dunia akhirat.
***
Pov Bila
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok dan esok lusa. Yang kita ketahui hanya sesuatu yang sudah terjadi kemarin. Seperti hari ini, sebuah kecupan yang datang dari kekasih halalku, terjadi tanpa bisa kuprediksi sebelumnya.
Berdebar, tentu saja. Sangat mendebarkan, karena ini adalah kecupan pertama yang seumur hidup baru aku rasakan. Subhanallah, aku begitu menikmatinya. Semoga Mas Wafi juga merasakan apa yang aku rasakan ini.
Dengan gugup kulangkahkan kaki menuruni mobilnya. Tapi sebuah pesan yang ia sebut tadi membuat dadaku berdesir hebat.
"Hati-hati, ya. Jaga hati dan jaga mata, Mas ... mencintaimu."
'Ya Allah, benarkah yang kudengar ini? Ternyata ia mencintaiku."
Ingin kujawab, akupun mencintaimu Mas, tapi aku malu. Biarlah lain kali kubisikkan di telinganya dengan mesra, jika akupun sangat sangat mencintainya.
Kulangkahkan kaki meninggalkan mobil Mas Wafi yang tak juga pergi. Hingga aku menghilang di pintu utama, barulah kendaraan beroda empat itu perlahan menghilang dari pandangan.
***
Pagi menjelang siang, rumah sakit tampak begitu ramai. Mataku menyisir seluruh lantai satu ini, sambil terus berjalan menuju lift agar sampai ke lantai tiga, tempat Mbak Salsa dirawat.
Menunggu sejenak, tak lama lift pun terbuka. Beberapa orang terlihat keluar dari ruangan kecil itu. Entah kenapa seperti ada yang menusuk dadaku pelan, tak bisa kugambarkan ketidakenakan yang kurasakan. Bismillah semoga tidak ada masalah apa-apa.
Tidak ada orang lain yang menunggu, hanya aku. Tiba-tiba, saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menyembul diantara kedua belah pintu yang hampir merapat.
'Mas Azzam!'
Jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Mas Azzam menghentikan langkahnya, saat itu aku berharap dia tak jadi masuk. Namun, harapanku tak terkabul. Mas Azzam melirik jam yang melingkari tangannya, lalu menatapku ragu dan, dia masuk.
Sejenak hening, kami tak berbicara. Berdiri di dua sudut berbeda. Pun tanpa menoleh.
"Mau ke lantai berapa?" tanyanya memecah keheningan.
"Tiga, Mas."
Mas Azzam menekan tombol sesuai yang kusebutkan, karena memang posisinya lebih dekat. Detik berikutnya kami kembali diam. Sampai akhirnya, tanda lift telah sampai lantai tiga berbunyi. Aku bersiap keluar. Tiba-tiba lift berkuncang pelan. Terdengar bunyi tut tut berulang kali.
'Astaghfirullah, kenapa ini?'
Mas Azzam menekan tombol pembuka, tapi pintu tetap tak bergerak.
"Kenapa liftnya, Mas? Macet?"
Aku mulai panik.
Dia menekan kembali tombol pembuka, tetap pintu tak tergerak. Mas Azzam menekan tombol menuju ke lantai satu, juga tak bereaksi.
"Liftnya macet," sebutnya tenang.
"Ya Allah, Mas. Jadi gimana?" Aku semakin panik, terjebak di dalam lift dengan lelaki bukan mahrom, apa kata dunia? Bisa timbul fitnah. Bagaimana jika ketika lift terbuka, mendadak Mama mertua ada di hadapanku, bisa-bisa dipecat jadi menantunya nanti.
Hiks.. Hiks...
"Jangan panik. Mas coba minta bantuan dulu, ya?"
Mas Azzam memencet tombol pertolongan, tak ada jawaban.
'Ya Allah, cobaan apa yang sedang Kau timpakan ada hamba ini?'
"Jangan takut ya, setidaknya mereka sudah tau kalau kita sedang terjebak di lift ini. Tenang, nggak papa. Berdoa aja, biar kita bisa segera keluar."
Lelaki berjas putih itu mencoba menenangkanku. Kuhela napas panjang.
'Mas Wafi, aku kejebak dilift ini ...," lirih batinku. Akankah aku menghabiskan hidupku di dalam lift ini, kecupan tadi, setidaknya seumur hidup aku sudah merasakannya darimu Mas. Batinku terus meracau tak jelas.
Aku menoleh, saat kusadari Mas Azzam bergerak. Entah, rasanya seperti takut. Astaghfirullah, pikir apa aku ini. Mas Azzam ternyata mendudukkan tubuhnya sambil bersandar ke dinding lift. Akhirnya, aku juga ikutan duduk bersandar, sambil dalam hati terus berdoa.
"Selamat, ya," ucapnya kemudian.
Aku menoleh.
"Untuk apa?"
"Pernikahanmu dan Awafi. Dia sahabatku, satu pesantren dulu."
Aku menarik napas dalam. Percakapan ini sangat tidak ingin aku dengar.
"Terima kasih, Mas."
"Kenapa Mas ditolak waktu itu?"
'Astaghfirullah, aku harus jawab apa?'
Kupilih bergeming tanpa menanggapi pertanyaannya. Semoga Mas Azzam tidak lagi mengajakku bicara.
"Maaf Mas banyak tanya, ya. Mas hanya penasaran."
Aku masih bergeming.
"Awafi memang lebih tampan, banyak yang suka. Termasuk kamu, makanya lamarannya diterima. Hihihi ...?"
Mas Azzam tersenyum, memperlihatkan giginya yang rapi.
Haruskah aku jujur? Mungkin ada baiknya aku membuka suara.
"Maaf Mas, sesuatu yang tak berjodoh pasti ada aja cara Allah untuk menggagalkan," jawabku singkat.
"Iya, Mas tau. Wafi sangat beruntung mendapatkan istri shalehah seperti kamu," pujinya padaku.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dari luar.
"Sepetinya pertolongan sudah datang."
"Alhamdulillah."
Detik berikutnya, pintu lift perlahan terbuka. Aku dan Mas Azzam masih belum beranjak, masih saling bersandar pada dinding.
Sebuah lengkungan tercetak di wajahku, saat dua sequrity menyembul di balik dua sisi pintu lift.
Masya Allah, setelah dua sequrity itu masuk untuk membantu kami, seorang lelaki gagah tampak mematung di belakang mereka. Lelaki yang setengah jam tadi baru saja meletakkan bibirnya pada bibirku.
"Mas Wafi?"
***
Bersambung ya..
Assalamualaikum teman-teman, tak terasa cerita ini sudah sangat panjang, ya. Sebelumnya saya mau cerita sedikit, tentang harapan saya akan cerbung ini sebelum saya posting digrup.
Saya bahkan sudah mengincar penerbit indie yang saya inginkan untuk menerbitkan cerita ini, terlepas dari banyak atau tidaknya pembaca. Qadarullah, sebaik-baiknya rencana manusia, Allah-lah pemilik segala rencana.
Penerbit yang saya incar itu justru suatu pagi mengirimkan massanger, dengan niat ingin meminang karya saya ini. Masya Allah, saat itu saya ingin menangis. Bahagia juga sedih, karena sudah pasti, saat sebuah karya dipinang oleh penerbit, maka mereka tidak ingin seluruh part dipublikasikan.
Saat itu saya begitu bimbang, tapi sebelum menulis saya selalu awalkan dengan berdoa pada Allah. Saat cerbung ini dilamarpun saya terus berdoa agar Allah jadikan ini yang terbaik, semoga teman-teman bisa memaklumi pilihan saya ini.
Untuk sedikit mengobati kekecewaan teman-teman, saya akan mencoba mengakhiri part di grup dengan sebaik-baiknya akhir. Agar teman-teman yang belum mampu membeli novel, tidak sampai kecewa berat. Dan memusuhi saya. Apalah saya tanpa kalian dengan seijin Allah.
Sekali lagi nuwun sewu semuanya. Semoga masih ikut membaca beberapa part lagi yang masih akan saya lanjutkan.
------
#Istri_Pilihanwww.takafuljakarta.com
#Part 18 Pengakuan Azzam
POV Wafi
***
Aku menjalankan mobil saat Bila sudah menghilang di balik pintu utama masuk rumah sakit. Aku kembali menyentuh bibirku sambil mengingat-ngingat kejadian tadi.
"Alhamdulillah ...."
Kupejamkan mata sejenak sambil terus menyebut kalimat hamdalah. Tiba-tiba mataku menatap sebuah kotak yang tadi sengaja aku letakkan di kursi belakang.
'Ya Tuhan, aku lupa memberi Mpek-Mpek Cuka Merah dan Laksa pada Bila, sebaiknya aku kembali sebelum terlalu jauh. Kasihan gadis itu jika sampai sore aku baru kembali, bisa-bisa dia kelaparan lagi.'
Segera kubelokkan setir kembali ke rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, aku melangkah masuk melalui pintu utama.
Beberapa orang terlihat mengantri di depan lift. Aku mendekati kerumunan itu, kusapa salah seorang pria tua yang juga ikut menunggu.
"Ada apa Pak, kok ramai begini di depan lift."
Pria tua itu menoleh. "Sepertinya liftnya rusak, Mas."
"Rusak? Sudah berapa lama ya, Pak?"
"Entah lah, Mas. Sudah lebih lima menit kami menunggu di sini," jawabnya sambil menghela napas.
Perasaanku seketika tidak tenang, aku teringat akan Bila. Semoga Bila tidak ada di dalam. Kucoba memastikan dengan menghubungi Mama. Beberapa kali aku menelpon, tak ada jawaban.
Pikiranku seketika panik. "Bila, dimana kamu?"
Tiba-tiba, dua orang teknisi terlihat mendatangi kerumunan kami.
"Permisi, Mas. Lift ini mengalami gangguan, kami akan segera memperbaikinya. Jika saudara-saudara bermaksud ke lantai atas, sementara bisa menggunakan fasilitas tangga," ucap salah satu teknisi itu sambil menunjuk ke sebelah kiri.
Tak lagi berpikir panjang, aku segera berlari menaiki tangga. Hatiku seperti tersengat listrik berkekuatan tinggi, bagaimana jika Bila di dalam. Dia pasti ketakutan.
"Selamatkanlah istriku ya Allah."
Secepat guntur kulangkahi anak tangga. Sampai di lantai dua, napasku terengah-engah. Namun, aku tak ingin beristirahat, sebelum aku bisa memastikan keadaan Bila. Kugerakkan kembali langkah ini, berlari menuju tangga berikutnya yang akan mengantarkanku ke lantai tiga.
'Hufht ...."
Kuhela napas sambil menyandarkan tubuh di dinding pinggiran koridor. Kini aku sudah di lantai tiga. Setelah menarik napas sejenak, aku kembali berlari.
Kubuka pintu kamar rawatan Salsa.
"Bilaaa ...!"
Teriakanku membuat Mama dan Salsa menoleh.
"Wafi? Ada apa?"
"Bi-Bila, mana, Ma?"
"Lho, bukannya tadi sama kamu?"
'Astagfirullah, jadi dia belum kembali. Pasti dia yang kejebak di dalam lift.'
Entah sadar atau tidak, otakku dengan cepat mengirim pesan agar aku kembali ke lantai dasar. Pesan yang sampai itu secepat kilat merangsang anggota gerakku untuk berlari. Ya, aku keluar kamar tanpa memperdulikan Mama yang memanggil-manggil terus di belakang.
Saat hendak menuju tangga, kulihat dua orang teknisi berdiri sambil mengotak-atik tombol lift. Ingin kuabaikan mereka, tapi perasaanku mengatakan jika Bila ada di balik lift lantai tiga ini. Kuurungkan niatku kembali ke lantai dasar, dan menghampiri mereka.
"Pak lift yang dari lantai satu, kejebak dimana?" tanyaku pada mereka.
"Di lantai tiga ini, Mas. Ada saudara yang berada di dalam?" Dia balik bertanya padaku.
"Iya, istri saya di dalam, Pak."
"Istri Mas baik-baik saja, kok. Tadi kami juga mendapat panggilan dari dalam lift. Sebentar lagi lift ini sudah bisa dibuka," ucapnya sedikit membuatku tenang. Hanya sedikit, selebihnya gundah.
Dengan siapa Bila terjebak di dalam sana? Bagaimana jika dia terjebak bersama lelaki kurang ajar? Setengah jam, sudah habis istriku diapa-apain. Berbagai bisikan lintas di benak tanpa bisa aku hentikan.
Aku bahkan lupa jadwalku menguji hampir dimulai. Pikiranku hanya dipenuhi dengan bayang-bayang Zanjabila.
'Harusnya, tadi aku mengantar hingga ke lantai ini,' sesalku pada diri sendiri.
Tak lama, petugas teknisi itu berhasil membuka pintu lift. Aku yang sedari tadi berdiri di belakang mereka, sudah menyiapkan kedua tangan dan kaki. Barangkali Bila sedang dalam bahaya.
Saat pintu terbuka lebar, dan kedua teknisi yang tadi menghalang pandanganku berpindah. Netraku membelalak.
"Azzam!"
'Istriku terjebak di lift bersama ... Azzam?'
Bila tampak mematung, sementara Azzam keluar dengan santai dari lift.
"Kalian?"
"Kami kejebak, Fi. Wanita itu ketakutan sedari tadi, jika tak kupikir dia istrimu, sudah kubuat tenang pikirannya," ucap Azzam sambil menepuk pundakku.
Aku tak menjawab, dan membiarkan Azzam berlalu pergi. Pandanganku tak beralih dari gadis itu. Gadis yang perlahan melangkah keluar dari lift dengan raut cemas. Kuulurkan tangan menyambutnya.
"Kamu nggak papa?"
Dia bergeming sambil menatapku. Kurangkul tubuhnya seketika itu juga, membenamkan wajahnya ke dalam dekapanku. Dia menangis tersedu.
'Ya Rabb, kasihan sekali gadis ini. Untung dia kejebak bersama Azzam, jika bersama lelaki hidung belang. Bisa kupastikan cadarnya terlepas.'
"Sudah Mbak, jangan menangis ya. Maafkan kami atas kejadian ini. Selama rumah sakit ini berdiri, baru kali ini lift mengalami kerusakan," ucap salah satu teknisi mencoba menenangkan Bila.
Kuurai pelukan, Bila menganggukkan kepalanya sambil menyeka mata. Lalu kedua orang itu menghilang di dalam lift.
"Maaf, ya?"
Bila bergeming, dia masih terisak. Kurasa dia benar-benar ketakutan.
"Harusnya tadi Mas antar sampai atas, jadi kita bisa kejebak berdua di dalam lift."
Dia mengangkat wajahnya saat aku membercandai kejadian tadi.
"'Kan jadi lebih romantis, kejebak di dalam lift bersama suami!"
Bila mendorong tubuhku lalu menggerakkan langkahnya.
"Eh, ngomong-ngomong tadi ngapain aja sama Azzam di dalam lift?" Kukejar langkah cepatnya sambil terus menggoda.
Bila tak menggubris, dia terus berjalan.
"Azzam godain kamu nggak, diakan dokter tampan. Kalo digodain dokter tampan, kebanyakan cewek meleleh, ya?"
Bila berhenti, ya Allah pasti dia akan mencubitku lagi. Kuambangkan kedua lenganku, dia boleh mencubit di tangan mana aja yang ia kehendaki.
Tapi kedua tanganku disambut dengan pelukan. Hangat. Kurapatkan tanganku membalas pelukannya.
"Bila takut, Mas. Membayangkan jika akan menghabiskan hidup di dalam lift itu ...."
Aku tersenyum perlahan, lugu sekali istriku.
"Alhamdulillah kamu udah selamat, jangan takut lagi ya, ada Allah yang Maha Menolong."
Cekrek!
Seseorang membuka pintu rawatan di samping kami, secepat kilat kulepas pelukan. Bila terlihat salah tingkah. Memperbaiki gamis, jilbab dan cadarnya. Lalu kembali melangkahkan kakinya. Kuikuti gadis itu, terlambat sampai di kampus sudah pasti. Tapi, istriku sedang butuh hiburan. Aku tak boleh mengabaikannya.
Sampai di depan pintu rawatan Salsa.
"Mas nggak jadi ngampus?"
"Em ... kamu gimana?"
"Bila nggak papa, Mas. Sudah aman di sini," jawabnya sudah kembali semangat.
Kugaruk-garuk kepala. "Tapi jangan kemana-mana ya, nanti siang Mas usahakan pulang."
Bila mengangguk. Kuserahkan kotak plastik berisi kotak makanan yang sedari tadi nyangkut di tangan.
"Kalau lapar, makan ini, ya?"
"Apa ini, Mas?"
"Tadi Mas beli di restaurat buat kamu sama Mama, Mas pergi ya?"
Bila meraih pemberianku. Lalu dia menciumi punggung tanganku. Kuelus kepalanya sejenak.
Inilah yang akan menjaga pandangan, hati dan setiap langkahku. 'Kamu, alasanku pergi dan pulang.'
'Beberapa hari ini, aku berniat, ingin membuatmu mencintaiku. Tapi kenapa, tiap kali kamu tersenyum, justru aku berkali-kali merasakan jatuh cinta.'
***
[Fi, aku mau buat pengakuan.]
Pesan dari Azzam.
Kutanggapi cepat, sambil meminta ijin ke kamar mandi. Saat itu aku baru saja selesai menguji dua orang mahasiswa.
[Kamu pernah bertanya padaku, siapa gadis yang berhasil membuatku ingin mengakhiri status perjaka ini]
Kukira dia akan menceritakan kejadian terjebak tadi di lift bersama Bila. Tapi dia justru membuat pengakuan yang padahal aku sendiri sudah melupakannya.
[Emang siapa, Zam?]
[Namanya ... Radha Zanjabila.]
Aku terhenyak, apa maksudnya ini? Apa yang Azzam maksud adalah istriku?
[Istriku?]
Menunggu sejenak, tak ada balasan. Aku berniat mengirimkan kembali pesan untuknya. Tapi...
"Pak, sidangnya sudah dimulai kembali."
Seorang mahasiswa memberitahukan jadwal sidang berikutnya.
"Baik, saya segera masuk."
Kukirimkan pesan yang tadi sudah kuketik di layar whatsapp.
[Benar istriku, Zam?]
.
.
.
[Iya.]
Kuhela napas panjang sambil menyandarkan punggung ke dinding. Sejenak percakapan kami tiga bulan lalu seperti dibisikkan ulang, saat itu Azzam masih bertugas di Rumah Sakit Umum. Kami bertemu di salah satu Resto.
"Lamaran ana ditolak, Fi."
"Kok bisa? Pasti gadis bodoh yang menolak dokter tampan dan sholeh seperti antum."
Hatiku tiba-tiba terasa ngilu, 'Jadi gadis bodoh yang kusebut itu sekarang sudah jadi istriku? Ya Allah ....'
"Dia bukan sembarang gadis, Fi. Pilihan. Terpelihara, sudah bercadar semenjak masuk pesantren. Ana rasa, levelnya ustazd kali, ya? Harusya dulu ana nyambung di Al Azhar, seperti antum. Pasti lamaran ana nggak ditolak!"
"Hahaha ...."
Tawaku berderai menanggapi ucapan sahabatku itu.
"Itu belum seberapa, Zam, dengan yang ana alami," jawabku sambil menghentikan tawa.
"Emang antum pernah ngelamar gadis juga? Kok ana nggak tahu?"
"Emang ada keharusan gitu kalau mah ngelamar buat pengumuman dulu?"
Tawa kami pecah berbarengan.
"Alasannya menolak, karena masih sekolah. Tapi, tiga bulan lagi dia di wisuda. Ana berencana akan datang kembali untuk melamar, Fi."
"Wah, ana salut sama keteguhan hati antum untuk melamar gadis itu. Jadi penasaran, seperti apa rupanya?"
'Ya Allah, aku sudah mendahului Azzam. Sungguh aku tak pernah tahu Bila adalah gadis yang dimaksud Azzam. Namanyapun aku baru tahu seminggu sebelum ijab qabul, tapi ya itu, aku nggak begitu memperhatikannya.'
[Undangan pernikahan ana nggak sampai ke tanganmu, Zam?]
Tiga hari sebelum pernikahan, aku sudah menitipkan undangan buat Azzam pada penjaga rumahnya. Pasti sequrity itu kelupaan.
[Nggak.]
[Maaf Zam, ana nggak tahu jika gadis itu yang antum maksud. Ana dijodohkan, bahkan tak melihat wajahnya saat proses khitbahan.]
Sungguh, aku merasa tak enak hati pada sahabatku itu.
[Dia jodoh antum, Fi. Makanya meski tak berjumpa, dia menerima antum. Jika ana yang melamar ketika dia sudah selesai pesantren, pasti ana juga akan ditolak. Ana hanya mau ucapkan, Barakallahu lakuma wabaraka alaikuma, wajama bainakuma fii khair. Semoga samawa sampai jannah.]
Aku menelan saliva. Perasaanku begitu terharu, mengingat dialah jodoh yang Allah pilihkan untukku. Gadis yang begitu diinginkan oleh sahabatku untuk menjadi istrinya.
[Subhanallah, jazakallahu khairan, Zam. Allah pasti sudah menyediakan jodoh terbaik untuk antum.]
Kumatikan layar ponsel.
'Bila ...."
Aku memanggil namanya lirih, rasanya ingin segera bertemu dengan gadis itu. Aku merindukannya.
***
Lanjut?
-----
#Istri_Pilihanwww.takafuljakarta.com
#part19 Malam Pertama dengan Botol Pengakuan
POV Bila
***
Aku melepas kepergiannya dengan senyuman. Tapi entah kenapa jauh di sudut hati kecil ini, aku tak ingin dia pergi. Kejadian tadi di mobil yang mendebarkan, disambut musibah yang menimpa di lift, semua terasa bagaikan mimpi.
Jujur, aku butuh Mas Wafi di sampingku.
"Mas ...." Kupanggil namanya lirih. Selirih rasa rindu yang perlahan merambati dada ini.
***
Mas Azzam masuk ke ruangan bersama seorang dokter spesialis lainnya juga beberapa perawat. Aku berdiri di kaki ranjang, sementara mama mertua berdiri di dekat Mbak Salsa.
"Bagaimana keadaannya hari ini, Mbak?"
Mas Azzam menyapa Mbak Salsa ramah. Aku melirik sekilas lalu membuang wajah, saat tiba-tiba pandanganku dan Mas Azzam bertemu pada satu titik.
"Alhamdulillah sehat, Dok."
"Kita langsung ke ruangan CT-Scan, ya?" ucapnya lagi.
Mbak Salsa mengangguk. Kulihat ada rona cemas yang terpancar dari wajah wanita itu, pasti ini menjadi pemeriksaan yang paling mendebarkan baginya.
Detik berikutnya Mbak Salsa mulai di dorong keluar kamar. Aku mengikuti di belakang, sementara mama terus berada di samping. Kami sampai pada sebuah ruangan besar. Dua orang perawat membuka pintu kokoh yang menutupi ruangan itu.
"Nah, sampai sini saja mengantarnya. Keluarga silahkan menunggu di ruangan sebelah, ya?"
Perintah salah perawat yang berdiri di hadapan kami. Mas Azzam dan dokter yang mendampingi berjalan memasuki ruangan pemindai. Kehadiran Mbak Salsa kini disambut oleh lelaki berjas putih selutut yang berada di dalam ruangan.
Mama melepas genggaman tangan Mbak Salsa. Sejenak mengelus puncak kepala wanita itu. Kulihat Mama menitikkan air mata, mungkin ia sangat takut akan diagnose yang nantinya muncul setelah proses peninjauan ini selesai.
Selanjutnya, mama berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh perawat tadi, sementara aku masih di sini. Sebelum pintu kamar pemindaian ditutup, aku menghampiri perawat.
"Maaf Mas, saya ingin berbicara dengan pasien itu sebentar," pintaku pada mereka.
"Silahkan Mbak, tapi jangan lama, ya?"
Kuanggukkan kepala. Lalu segera mendekati Mbak Salsa. "Mbak ...."
Mbak Salsa menoleh saat mendengarku memanggil namanya. Kulihat matanya basah.
"Insya Allah nggak papa, Mbak. Tetap tenang dan jangan lupa Bismillah ya, Mbak. Lailahaillallah anta Subhanaka Inni Kuntum Minadzallimin. Bila bantu doa supaya mbak diberikan kesehatan lahir bathin."
Mbak Salsa mengangguk sembari tersenyum. Lalu perlahan pintu kokoh itu pun tertutup. Aku menyeka sebulir kristal yang tiba-tiba lolos dari pelupuk mata. Yang kutahu, kalau sudah begini-begini, pasti penyakitnya serius. Tapi semoga pengetahuanku yang tak seberapa ini salah.
Kulangkahkan kaki keluar dari lorong itu. Aku tak ikut menunggu bersama mama, rasanya sangat risih berada satu ruangan dengan Mas Azzam. Kujejakkan kaki menuju ruang tunggu. Menurutku disini lebih tenang daripada di dalam. Setidaknya aku berjauhan darinya.
***
Aku melipat mukena setelah selesai melaksanakan shalat Ashar berjamaah di mushalla rumah sakit. Lalu dengan sigap berjalan keluar dari ruangan yang tampak ramai oleh manusia-manusia yang datang untuk memenuhi undangan Allah.
Meninggalkan sejenak dunia yang fana ini untuk bertemu dengan pemilik seluruh alam. Ashar adalah waktu dimana pintu syurga tengah dibuka lebar-lebar, aku terus melantunkan doa. Doa untuk Mbak Salsa juga untukku dan suamiku tercinta.
Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Seharian ini, pikiranku hanya dipenuhi nama Mas Wafi. Beginilah wanita, sesiapa lelaki pertama yang berhasil menyentuh hatinya, maka seumur hidup dia akan sulit untuk melupakan sosok pertama itu.
Alhamdulillah, lelaki yang menyentuh hatiku adalah suamiku sendiri, jadi aku bebas memikirkannya seumur hidupku. Sungguh sia-sia hidup seorang gadis jika hatinya telah ternodai banyak lelaki yang belum tentu kelak akan menjadi imamnya. Saya yakin, yang membaca cerbung ini, adalah wanita-wanita tangguh, yang tak mudah dibujuk syaitan untuk menemaninya kelak di alam barzah maupun diakhirat. Insya Allah, kelak kita semua akan dipertemukan Allah dalam surganya.. Aamiinn...
Aku kembali ke ruang rawatan Mbak Salsa. Beliau nampak tertidur, sepertinya karena pengaruh obat-obatan.
Menunggu Mas Wafi dengan perasaan berdebar ternyata memang melelahkan. Sesuatu yang sangat sulit kugambarkan. Mama mertua beberapa kali melempar pertanyaan, tapi sungguh aku tak konsentrasi mendengarnya. Pikiranku hanya dipenuhi akan bayang Mas Wafi, Mas Wafi.
Tak lama, pintu kamar diketuk, Mas Wafi masuk sembari mengucap salam. Senyumku merekah menyambut kedatangannya. Huh, dasar pak dosgan (dosen ganteng), katanya akan pulang siang ini, ternyata sore baru kelihatan. Rindu tauk! Kata hatiku. Hihihi....
Kusambut uluran tangannya, lalu menciumi dengan takzim. Mas Wafi mengelus kepalaku lembut.
"Maaf ya, Mas nggak bisa pulang tadi siang," katanya dengan wajah memelas.
"Iya nggak papa, Mas. Tadi Papa datang kok bawain kami makanan."
"Iya, tadi Mas yang hubungi Papa," ucapnya sambil menyalami Mama.
"Salsa gimana, Ma?" tanya Mas Wafi sambil dusuk di sofa. Kuambil segelas air mineral lalu ikut duduk di samping lelaki itu.
"Tadi sudah selesai di CT-Scan, tapi hasilnya nunggu besok," jawab Mama singkat.
"Diminum, Mas."
Mas Wafi tersenyum sambil meraih gelas pemberianku. "Mudah-mudahan hasilnya normal, nggak ada masalah apapun."
"Aamiinn ...."
Aku dan mama mertua menjawab berbarengan.
"Ajak Bila pulang, Fi. Kasihan dari semalam Bila nggak tidur nyenyak," ucap mama mertua membuatku sedikit kaget.
Mas Wafi melirik ke arahku, kutundukkan pandangan. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi.
"Bauk, Ma. Kita pulang sekarang, ya."
Kuanggukkan kepala dengan cepat. Ya Allah, apa yang akan terjadi pada kami malam ini? Hanya kebaikan yang hamba harap.
***
Pov Wafi
Kami sampai di rumah sebelum azan magrib berkumandang. Senja yang indah, aku kini bersama wanita halalku akan melaksanakan shalat magrib berjamaah. Nikmatnya punya istri. Meski makmumku hanya dia seorang, tapi pahala yang kudapat berlipat-lipat ganda. Masya Allah.
Setelah shalat, kami duduk berhadapan, menyambung tadarus hingga shalat isya. Setiap satu kali 'ain, kami bergantian membacakan ayat selanjutnya. Aku terus memandang wajahnya saat ia tengah khusuk bertadarus. Suaranya bagus. Allah benar-benar telah mengirimku seorang bidadari syurga. Alhamdulillah...
Usai shalat Isya berjamaah, kami keluar kamar menuju ruang makan. Kali ini aku tak meminta makanan lainnya. Aku hanya ingin bersantai-santai romantis dengannya. Kamipun menyantap makan malam yang sudah disediakan Bibik. Malam ini aku berharap pada Allah, tak satu orang pun menjadi penghalangku untuk menyempurnakan tugas sebagai suami. Insya Allah, Ijinkan ya Allah.
Sedari tadi pagi aku sudah menanti waktu ini. Tapi sebagai lelaki sejati, aku tak ingin terlihat seperti musafir di tengah gurun pasir, begitu ketemu telaga, langsung pengen nyemplung. Pasti Bila akan bersembunyi, atau sekurang-kurangnya berpura-pura tidur.
Aku Awafi, akan kubuat suasana yang tak pernah ia sadari bahwa itu adalah caraku merebut hatinya.
***
Kami masuk berbarengan ke dalam kamar. Kuajak Bila duduk lesehan di atas karpet berbulu. Lalu berjalan mendekati lemari untuk mengambil sebuah botol yang sudah kuisi dengan beberapa gulungan kertas. Hampir setengah hari aku memikirkan ide konyol ini di kampus. Bahkan demi botol ini, aku urungkan niatku pulang lebih awal.
"Bila, Mas mau ajak kamu main permainan special," kataku bersemangat.
Dia menoleh penuh penasaran.
"Permainan apa, Mas?"
Kutunjuk botol yang ada di tanganku kini. "Ini namanya botol pengakuan. Kamu lihat, gulungan kertas yang ada di dalam botol ini? Semuanya bertuliskan sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Satu jawaban untuk satu pertanyaan."
Kedua bola mata Bila semakin terbuka lebar. Sepertinya ini akan menjadi malam yang seru. Kupilih duduk di hadapan gadis itu. Ia tampak gugup, tangannya memperbaiki jilbab yang memang sudah bagus.
"Mas kocok duluan, ya!" Kukerlingkan mata ke arahnya, dia mengangguk. Kali ini ekspresi wajah Bila terbaca jelas olehku, karena memang tak ada cadar yang menutup wajahnya.
Kuaduk-aduk botol minuman itu, lalu membalikkan hingga keluar dari lubang kecil botol sebuah gulungan kertas. Aku menariknya perlahan, lalu memberikannya kepada Bila.
"Kamu yang tanya."
Bila meraihnya dan mulai membacakan tulisan yang ada di kertas itu.
"Apa makanan favoritmu?" Bila bertanya sambil tersenyum, sepertinya dia mulai tertarik pada permainan ini.
"Gudeg."
Gadis itu kembali tersenyum, "Bila baru tahu jika Mas Wafi suka Gudeg," katanya sambil melipat kembali kertas yang ada di tangan.
"Besok pagi masakin ya, Mas jadi pengen," ucapku dengan raut memelas. Gadis itu tersenyum hangat.
"Emang Mas mau makan kalau rasanya nggak sedap?"
"Kalau kamu yang masak, semua Mas makan."
Seketika dia menunduk, ah pasti dia tersanjung karena pujianku. Hihihi...
"Sekarang giliran kamu." Kuserahkan botol padanya. Ia mengaduk-aduk lalu mengeluarkan selembar kertas. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia menyerahkan lembaran itu padaku.
"Ehm!"
Sengaja aku tak langsung membacakannya, ini pertanyaan paling antimainstream yang pernah ada.
"Pernah jatuh cinta?"
Bila tersenyum. "Pernah."
"Sama siapa?"
"Lho, satu pertanyaan satu jawaban 'kan Mas?"
Jiah, kugaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Aku lupa menuliskan pertanyaan, 'siapa orang yang pertama kali kamu cintai.'
Ck.. Ck..
"Mas kocok lagi!"
Kukeluarkan selembar kertas dan menyerahkan pada Bila. Dia membaca.
"Siapa orang yang paling kamu sayangi?"
Aku meliriknya sambil memutar-mutar bola mata.
"Mama Farah."
Bila tercengang, sepertinya dia belum mengenal ibu kandungku. Kubuka dompet, lalu mengeluarkan sebuah foto yang kuselipkan di bawah foto pernikahan kami.
"Ini Mama Farah, Mama kandung Mas. Beliau meninggal saat Mas berusia lima tahun."
Bila meraih foto di tanganku.
"Maaf, Mas. Bila ...."
"Nggak papa, 'kan yang nulis semua pertanyaan ini, Mas sendiri?" jawabku mencoba menetralisir keadaan yang tiba-tiba berubah mellow.
"Ayo, giliran kamu sekarang."
Bila kembali meraih botol di tanganku dan mulai mengocok. Dia mengeluarkan selembar kertas, lalu ...
Curang, dia mengintip isinya!
"Bila ... sini kertasnya. Nggak boleh curang lho."
Dia menatapku ragu. Reflek, tangannya melempar kertas itu ke arah lain. Secepat kilat aku bangkit dan berjalan ke arah lemparannya. Tapi, siapa sangka Bila juga berlari dan lebih dulu memungut kertas itu kembali.
"Jangan Mas, kocok lain aja, ya? Bila masukkan lagi kertas ini ke dalam botolnya, ya Mas?" pintanya sambil melangkah mundur. Ingin menjauh.
Takkan kubiarkan kecurangan berlaku, Bila harus menyerahkan kertas itu padaku. Pertanyaan yang mana sih yang dia dapat, kenapa sampai segitunya ia tak ingin aku bertanya.
"Sini Bila, kasih sama Mas?" Aku mulai nekat. Kuulurkan tangan sambil melangkah mendekat. Mataku tertuju pada ranjang di belakang istriku itu. Dua langkah lagi ia mundur, tubuhnya akan tersungkur ke atas kasur empuk.
Hah, aku semakin mendekatkan tubuh, sekalian saja biar dia jatuh. Jadi tidak bisa menghindar lagi.
Tap!
Tubuh Bila terjerembab di atas ranjang. Aku tersenyum. Kali ini dia pasti akan menyerahkan kertas itu. Tapi aku salah. Dia tetap tak mau mengalah, sedikit kepayahan Bila membalikkan badan untuk berusaha bangkit. Sigap, kutahan tangannya hingga ia terjatuh kembali di atas kasur.
Senyumku menyeringai. Mungkin kelihatan seperti serigala kelaparan.
"Mana kertasnya, Bila?" ucapku untuk kesekian kalinya.
Aku menaikkan tubuhku ke atas ranjang, kuletakkan kedua tangan mengapit tubuhnya. Sementara wajahku semakin dekat pada wajahnya. Usaha Bila benar-benar 'keukeuh'. Ia menyembunyikan kedua tangannya di balik badan.
'Mari kita lihat, siapa yang lebih berkuasa.'
Aku kembali menyeringai sambil memasukkan tanganku ke belakang badannya. Kuselipkan jemari tanganku diantara jemari tangannya.
Dapat!
Kusunggingkan selarik senyuman saat benda itu berpindah ke tanganku. Dia hanya menghela napas. Kuangkat wajahku, bertopang dengan kedua kaki terlipat di samping kedua pahanya. Perlahan, aku membuka kertas itu lalu mulai membaca huruf-huruf yang kutulis indah diatasnya.
"Selain aku, siapa yang pernah mendekatimu?"
Dia terdiam. Pandangannya seketika tunduk.
"Kok nggak dijawab?"
Kusentuh dagunya agar ia mau menatap mataku.
"Mas Azzam."
Kuhela napas panjang. Jadi benar kata Azzam tadi siang. Lalu, aku harus bagaimana?
"Apa yang kamu rasakan sekarang padanya?" Mungkin hanya itu yang perlu kuketahui saat ini. Selebihnya, hanya pada Allah aku meminta kebaikan.
"Tidak ada dalam pertanyaan, Mas?" ucapnya menyindirku.
"Ini Mas yang tanyakan Bila, Mas butuh jawaban darimu?"
Bila menatap mataku yang tengah membidiknya tajam. Sepertinya, saking serius, kami bahkan tak menyadari posisi kami saat itu.
"Bila tak pernah menyukainya, Mas ...."
Aku terhenyak, tapi secercah rasa bahagia perlahan mulai menjalari dada.
"Lalu, Mas kah yang kamu sukai?"
Sejenak hening. Aku ingin dia cepat membuka suara, rasanya tak sabar ingin mendengar Bila mengakui perasaannya. Jika benar aku orang yang ia sukai, maka kupastikan mulai malam ini hingga seterusnya, aku akan mengabdikan hidupku untuknya. Dia, hanya dia seorang!
"Bila ...."
Kupanggil namanya lirih.
"Iya, Mas. Maslah lelaki yang Bila cintai ...," jawabnya sambil kembali menunduk.
Masya Allah ... kukecup keningnya haru. Baru kali ini tubuhku bergetar mendengar pengakuan cinta dari seorang gadis. Ya, Karena dia adalah istriku.
Tak ada yang mengaba-aba, mulutku sukses membacakan doa bersenggama. Kukecup kembali keningnya usai doa itu terlafaz. Mataku yang tak lagi berjarak dengan gadis itu kini malah khusuk memperhatikan mulutnya, yang juga tak kalah berkomat kamit membaca doa.
Entah siapa yang memulai, kedua bibir kamipun saling bertemu. Lalu, tak perlu lagi kujelaskan, apa yang terjadi selanjutnya. Takut yang jomlo pada menghayal.. Huahahaha...
Malam ini menjadi malam kesaksian kami, atas kesabaran dan niat kami untuk saling menjaga diri. Hingga cinta kami bersatu dalam ikatan halal yang diridhai Allah. Subhanallah, tidak ada yang dapat menandingi nikmatnya penyatuan raga dua kekasih halal, malaikat bertakbir menyebut kebesaran Illahi.
Malam ini, aku telah menyempurnakannya sebagai seorang istri. Sampai kapanpun, hanya dia yang bertahta di dalam sini.
"Aku mencintaimu istriku ...."
***
Bismillah
Assalamualaikum teman-teman, ini adalah ending termanis versi grup ya. Jika ditanya apakah cerita ini masih berlanjut, saya jawab masih.
Tapi beberapa part lagi itu saya tambahan bumbu penyedap berupa rasa penasaran tingkat tinggi. Saya tidak tahu harus berkata apa, ingin menganjurkan teman-teman terus membaca takut salah, ingin melarangpun, salah besar. Tapi mohon pengertian, jika suatu waktu part itu berhenti dalam keadaan menggantung, please saya jangan dibully ya..
Maafkan keterbatasan ini..
-----
#Istri_Pilihanwww.takafuljakarta.com
#Part20 Rahasia Salsa
Pov Bila
Dear suami ....
Aku hanyalah wanita biasa, tak cantik, apalagi pintar. Namun ku selalu mencoba memuliakanmu, dimanapun dirimu berada.
Jika kau membenciku, aku tetap takkan merubah rasa dalam mencintaimu.
Jika kau menyakitiku, aku tetap berbaik sangka padamu.
Jika kau membuatku menangis, aku tetap akan menjadi mata air untukmu.
Dear suami, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Cinta tulus karena Allah.
Bimbing aku jika menyalahi, nasihat aku Bila tersalah.
Cintakah aku ... sayangi aku hanya karena-Nya.
'Radha Zanjabila'
***
"Makasih ya, Sayang," ucap Mas Wafi setelah kami sukses mereguk nikmatnya kebersamaan di secawan madu.
Senyum merekah indah di wajah tampannya. Mata beningnya menatapku dalam. Sementara aku, hanya bisa membalas menatapnya dengan tersipu malu.
'Sayang, benarkah dia memanggilku sayang!'
"Untuk apa, Mas?" tanyaku sambil mengangkat kedua alis.
"Karena kamu sudah menjaga diri, dan memberikan yang terbaik untuk Mas."
Alhamdulillah, tersanjungnya hati ini dengan ucapan terima kasih yang Mas Wafi lontarkan. Tidak sia-sia aku menjaga diri. Selama ini bukan aku tak punya rasa cinta, apalagi suka. Tentu aku pernah merasakannya, karena Allah memang menitipkan rasa itu pada tiap-tiap makhluknya. Tapi semua itu sekuat tenaga kutahan. Karena aku, hanya ingin memberikan cintaku untuk lelaki bertanggung jawab. Lelaki yang tak suka mengumbar kata cinta, namun mengikat dengan jalan yang sah.
Lima jemari tangan kanan Mas Wafi kini mengusap pucuk kepalaku. Rasanya begitu menenangkan. Aku bak ratu ia perlakukan malam ini, semoga selamanya begini Mas.
Kutarik napas sejenak. "Mas, saya menjaga diri karena Allah. Syukran, bonusnya Allah titip tulang rusuk saya pada Mas Wafi."
Lelaki itu menatapku syahdu. Ucapanku, pasti membuat Mas Wafi merasa dirinya adalah salah satu lelaki beruntung di dunia ini. Kubaca aura wajahnya dalam-dalam, ia tampak begitu bahagia. Akupun demikian, Mas.
"I Love you," ucapnya diantara tarikan napas dan degup jantung yang jelas kudengar. Karena saat ini aku memang berada di dalam apitan lengan kirinya.
"Love you too, Mas."
Lelakiku tersenyum. Senyuman yang mengantarkan mata elangnya untuk terpejam. Rangkulan jemari tangan kanan Mas Wafi yang sedari tadi mengapit tubuhku pun kini terasa merenggang.
Mas Wafiku sudah terlelap. Dengkuran halus terdengar, beberapa saat setelah matanya terpejam sempurna. Tinggallah aku disini, dengan bola mata yang masih membelalak.
Beberapa waktu aku bergeming, masih asik menatap wajah tampan di hadapanku. Kusentuh matanya, hidungnya, bibirnya, aku tersenyum mengingat semua yang sudah terjadi tadi. Saat tengah asyiknya menikmati keindahan yang Allah anugerahkan pada lelakiku, tiba-tiba ponsel Mas Wafi bergetar. Kuangkat tangan Mas Wafi yang melingkari tubuhku. Pelan aku bergerak tak ingin membuat matanya yang baru saja terpejam harus membuka kembali.
Getar penanda dering pertama berhenti, kini ponsel Mas Wafi kembali bergetar. Kukenakan pakaian dengan lengkap, lalu sedikit tergesa menuruni ranjang dan menggapai benda pipih itu.
Tampak di layar ponsel, dua panggilan tak terjawab dari Mama.
'Ada apa ya, kenapa tiba-tiba Mama nelpon malam-malam begini?'
Saat pikiranku tengah berkelana mencari jawaban, tiba-tiba di luar terdengar seru mobil papa mertua. Aku berjalan mendekati jendela kamar, ternyata benar itu papa.
'Kemana Papa malam-malam begini, apa ada hubungannya dengan telpon Mama?'
Tak lama, ponsel Mas Wafi kembali bergetar. Tampak di kamar sebuah pesan whatsapp. Ada baiknya aku buka, supaya tahu apa yang sedang terjadi, jangan-jangan ini tentang Mbak Salsa.
"Fi, Salsa nggak sadarkan diri. Tadi dia sempat meronta saat tiba-tiba saja nyeri hebat terasa di kepala. Sekarang sudah di ruang ICU."
"Astaghfirullah, Mbak Salsa.'
Saat itu perasaanku campur aduk, jika melihat Mas Wafi yang baru saja memejamkan matanya, sungguh aku tak tega membangunkan. Tapi, mengingat ini adalah pesan penting. Sungguh kejam jika aku mengabaikannya begitu saja.
'Mungkin lebih baik, aku mensucikan diri terlebih dahulu.'
Sekiranya hanya sepuluh menit aku di kamar mandi. Setelah selesai, kudekati suamiku. Ide untuk tidak membangunkannya terkalahkan oleh bisikan kebaikan. Mbak Salsa sedang koma, tidak ada yang lebih penting selain kehadiran kami sekarang ke rumah sakit.
"Mas ...."
Kusentuh bahunya. Jangankan bangun, bereaksi pun tidak. Kugerakkan tangan mengelus pipi. Mas Wafi membuka matanya dengan perlahan.
Dia tersenyum menyambut kehadiranku yang pasti masih serupa bayangan.
"Mas ...."
Kupanggil lagi namanya.
"Iya, Sayang."
"Maaf, Mas. Bila sebenarnya nggak tega membangunkan Mas, tapi ini masalah penting, Mas."
Dia kembali tersenyum, matanya masih dipenuhi guratan merah.
"Kenapa, Sayang?" Tangannya kini mengelus pipiku.
"Mbak Salsa, Mas ... beliau masuk ICU karena koma."
***
Malam semakin naik memanjat, rembulan penuh sempurna. Udara dingin mulai menusuk kulit. Desau angin menambah kesyahduan malam, membuat setiap mata yang terbuka ingin terlelap. Lalu tenggelam dalam mimpi indah yang panjang.
Harusnya kami masih di dalam kamar, mereguk indahnya kebersamaan setelah bekerja keras tadi. Tapi nyatanya, sekarang kami kembali berada di dalam mobil, dengan perasaan khawatir memenuhi rongga pikiran. Untung Mas Wafi masih menggenggam jemari tanganku, setidaknya biarlah tubuh ini yang merasa kedingin, asal hati tetap hangat karena terus bersentuhan dengannya.
Lima belas menit perjalanan, kami sampai di rumah sakit. Dengan tangan yang saling menggenggam, langkah kami berbarengan menuju lantai dua, ruangan ICU. Beberapa langkah lagi sampai ke ruangan itu, kami justru menemukan papa keluar dengan seorang dokter, juga Mas Azzam. Tiba-tiba aku merasa, genggaman tanganku semakin erat. Kulirik Mas Wafi penasaran, ternyata matanya menatap sosok itu, yang kini berjalan mendekati kami.
"Kalian di sini?"
Papa menyapa ketika melihat kami terpaku dalam berdiri.
"Ya, Pa. Salsa gimana?"
"Sudah sadar, hanya masih belum stabil. Kami mau ke ruangan Azzam. Kamu mau ikut?"
Mas Wafi menoleh ke arahku, "kamu masuk dulu, ya. Mas ikut Papa sebentar."
Kujawab permintaan Mas Wafi dengan anggukan. Lalu, suamiku dan beberapa lelaki itu kembali menaiki lift untuk sampai di lantai satu. Kuhela napas panjang, ya Allah ada apa dengan hati ini. Kenapa seolah-seolah aku sangat tidak ingin semua ini terjadi. Astaghfirullah.
Kulangkahkan kaki memasuki ruang ICU. Setelah bertanya pada suster dimana Mbak Salsa berada, aku kembali berjalan ke bed yang di tunjuk oleh perawat itu. Dalam ruangan ini terdapat lima bed, yang satu dengan lainnya dipisahkan oleh kain bersekat lebar dan tebal.
Saat hendak menyibak tirai. Langkahku terhenti karena mendengar percakapan Mama dan Mbak Salsa.
"Sakit sekali, Ma ...."
Serasa ada yang menusuk jantungku saat mendengar lirihan suara Mbak Salsa. Ya Allah...
"Dimana yang sakit Anakku?" tanya Mama lirih, seperti sedang menahan tangis.
Mbak Salsa kini malah terisak.
"Jangan menangis Sayang, tidak ada masalah yang tidak Allah kasih jalan keluarnya ...."
Mbak Salsa makin terisak. "Termasuk masalah hati, Ma?"
Aku menarik napas dalam. Pasti ini ada hubungannya dengan Mas Wafi. Ya Allah, keluarlah kami dari lingkaran hitam ini.
"Kamu hanya perlu ikhlas, Sa. Dia bukan jodohmu ...."
'Dia? Mas Wafikah?'
"Seberapa ikhlas , Ma. Jika keikhlasan itu bisa diukur, sudah habis ukurannya untuk Salsa mengikhlaskan Mas Wafi. Tapi nggak ada yang bisa mengukur 'kan, Ma?"
'Astaghfirullah, jadi benar Mas Wafi.' Kupejamkan mata sambil melebarkan dada, pasti ini akan menjadi kenyataan yang pahit seumur hidupku.
"Sayang, jika kamu sudah ikhlas, harusnya kamu belajar untuk melupakannya."
'Umi ... aku butuh lengan Umi untuk bersandar, tapi aku sendiri disini, Mi ...'
'Nggak semudah itu, Ma. Menghapus sebuah ingatan nggak semudah menghapus jejak kaki di gurun pasir ...."
'Ya Allah ... sebegitu cintakah kamu Mbak pada Mas Wafi. Bahkan mungkin cintaku nggak sedalam itu. Aku harus bagaimana, Mbak?'
"Ma, selama hidup, apa pernah Mama tahu, jika tak sedetikpun Salsa merasakan kebahagian yang bertahan lama? Papa pergi saat aku masih sangat kecil, Ma. Lalu Mama hadirkan Papa Habib yang tak pernah menyayangiku, bahkan tega menjauhkanku darimu, Mama kandungku sendiri. Lalu, Papa juga tega memisahkanku dengan Mas Wafi. Sebenarnya, apa salah Salsa, Ma? Hingga Allah menguji Salsa dengan begitu banyak ujian?"
"Istighfar Sayang, kamu harus tenang. Kamu itu sedang sakit, jangan memikirkan hal-hal tidak baik."
"Ma, semua ini selalu ada dalam pikiranku. Dari kecil hingga sekarang. Andai bisa memilih, aku akan memilih amnesia, Ma. Dengan begitu, Salsa bisa melupakan semuanya, termasuk Mama!"
Aku menekan dadaku. Sakit yang dirasakan Mbak Salsa seolah bisa kurasakan juga.
Mama semakin menahan suaranya. "Istighfar, Sa ...."
Batinku serasa terkoyak-koyak mendengar kenyataan hidup Mbak Salsa. Katakan Mbak, apa yang bisa kulakukan untuk mengobati kepedihanmu? Tapi tolong, jangan minta Mas Wafi.
"Ma, akankah Allah mengabulkan satu permintaanku, permintaan yang sedari dulu terus menerus aku panjatkan?"
Hening. Mama terdiam, dan aku, mungkin tak ada yang pernah membuat napasku setercekat ini. Kutarik napas dalam-dalam, sambil mempersiapkan hati untuk mendengar keinginan Mbak Salsa.
"Insya Allah, Nak. Pasti Allah akan mengabulkan doa hambanya yang tulus!"
"Aku ingin menjadi istri kedua Mas Wafi, Ma."
Kukatup seketika mulutku yang tiba-tiba bergetar. Ya Allah, haruskah aku membagi cinta dengannya?
Tak lagi mampu mendengar, tubuhku justru berbalik dan mengambil langkah keluar ruangan.
"Mbak Salsa, aku ... tak sanggup dimadu, Mbak."
Kuusap kelopak mata berulang kali, aku akan pergi menemui Mas Wafi, dan menceritakan apa yang aku dengar barusan. Mas Wafi harus berjanji padaku, bahwa apapun kenyataan yang akan terjadi di depan. Dia tidak boleh menjadikanku yang kedua.
Kupercepat langkah menuju lift. Dengan jantung yang bertabuh kuat, juga napas yang tak bisa kuatur lagi, sampailah aku di depan ruangan Mas Azzam. Rasanya benar-benar tak sabar ingin berbicara pada Mas Wafi. Aku ingin tahu, bagaimana pendapatnya jika ia tahu apa keinginan Mbak Salsa.
Aku memilih duduk di kursi tunggu di samping ruangan dokter. Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruangan itu. Di tangannya ada sebuah status pasien.
Dia berjalan cepat, ke sisi kiri. Pasti yang ada di tangannya adalah status Mbak Salsa. Lebih baik kutanyakan pada perawat itu tentang penyakit Mbak Salsa. Kenapa sampai kejang-kejang, juga koma sejenak.
"Mas, boleh saya tanya sesuatu?"
Lelaki itu menoleh. "Mau nanya apa, Mbak?"
"Itu status pasien bernama Salsabila, ya?"
"Oh ini, iya benar."
"Saya adik iparnya. Boleh saya tau, sebenarnya kakak Ipar saya itu sakit apa?"
Lelaki itu mengernyitkan dahi. "Benar kamu adik iparnya?"
"Iya, yang di dalam ruangan Dokter Azzam, salah satunya suami saya."
"Oh begitu. Pasien bernama Salsa terkena tumor otak ganas Astrositoma, Mbak."
"Apa? Tumor otak ganas?"
Ya Allah, ini nyata atau mimpi? Bisakah aku meminta padaMu, ya Rabb? Ubahlah semua takdir ini?
Kaki yang tadi kuniatkan untuk menunggu Mas Wafi kini malah terasa kaku, tulang belulang seakan terlepas dari persendian. Separah itukah penyakit yang diderira Mbak Salsa? Jika selama hidup ia terus mengalami tekanan, haruskah ia menerima kenyataan jika penyakit paling menyakitkan justru Allah timpakan lagi padanya.
Ya Rabb, hamba yakin akan ketetapan-Mu, tidak ada satupun penyakit yang Engkau beri kepada hamba-Mu melainkan untuk menghapus dosa-dosanya. Tapi, bisakah ya Allah kumemohon, ubahlah tulisan yang ada pada kolom diagnose, atau setidaknya jadikan prediksi dokter itu sebagai suatu diagnose yang salah. Hanya kepada-Mu hamba memohon, dan meminta pertolongan. Kabulkan ya Allah.
Mencoba mendamaikan perasaan, kucoba untuk sejenak duduk di sebuah kursi panjang yang berhadapan ke taman. Taman dimana sehari yang lalu kami bertiga menggunakan tempat itu sebagai latar untuk mengabadikan foto bersama. Selintas pikiranku diajak berpikir keras, apakah ini maksud foto bertiga itu, aku, Mas Wafi dan Mbak Salsa? Bahwa suatu saat, kami akan berada di dalam satu rumah?
'Astaghfirullah ya Allah, haruskan aku menawarkannya? Atau berpura-pura tak pernah mendengarkan pembicaraan Mbak Salsa tadi. Aku harus bagaimana?'
"Seorang istri nggak baik duduk sendiri di taman, apalagi ini sudah sangat larut."
Aku terhenyak, suara itu?
"Mas Azzam?"
Lelaki itu tersenyum ke arahku.
"Maaf, Mas. Saya sedang menunggu Mas Wafi," ucapku gemetar. Entah, rasanya aku sangat tak ingin bertemu dengannya lagi. Aku harus menjauhi Mas Azzam, apalagi setelah pengakuanku tadi pada Mas Wafi.
"Awafi sudah kembali tadi sama Papanya, baru aja. Mungkin dia nggak ngeliat kamu di sini, ya?"
Tak kujawab lagi pertanyaannya, kupasang langkah seribu hendak meninggalkan tempat ini. Tapi kenyataan tak berpihak padaku. Aku menginjak gamisku sendiri.
'Ya Salam, pasti ini akan menjadi bom yang akan meletakkan diriku seketika.'
"Hati-hati ....!" jeritan Mas Azzam tak mampu membuatku tetap berdiri tegak.
Aku tersungkur.
Spontan, Mas Azzam menahan tubuhku yang hampir terjerembab ke lantai.
'Ya Allah, kenapa begini?'
Aku segera menjauhkan tubuhku dari lengan Mas Azzam, kenapa ya Allah? Kenapa aku harus jatuh?
Rasanya benar-benar menyesakkan.
"Maaf, ya."
Aku menunduk, secepat kilat aku berlari meninggalkannya. Harusnya, tadi aku nggak kemari! Kusapu mata yang mulai basah, sebenarnya aku menangis untuk apa, apa karena Mas Azzam menyentuhnku tanpa sengaja itu, atau karena mbak Salsa?
***
bersambung
#Part 18 Pengakuan Azzam
POV Wafi
***
Aku menjalankan mobil saat Bila sudah menghilang di balik pintu utama masuk rumah sakit. Aku kembali menyentuh bibirku sambil mengingat-ngingat kejadian tadi.
"Alhamdulillah ...."
Kupejamkan mata sejenak sambil terus menyebut kalimat hamdalah. Tiba-tiba mataku menatap sebuah kotak yang tadi sengaja aku letakkan di kursi belakang.
'Ya Tuhan, aku lupa memberi Mpek-Mpek Cuka Merah dan Laksa pada Bila, sebaiknya aku kembali sebelum terlalu jauh. Kasihan gadis itu jika sampai sore aku baru kembali, bisa-bisa dia kelaparan lagi.'
Segera kubelokkan setir kembali ke rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, aku melangkah masuk melalui pintu utama.
Beberapa orang terlihat mengantri di depan lift. Aku mendekati kerumunan itu, kusapa salah seorang pria tua yang juga ikut menunggu.
"Ada apa Pak, kok ramai begini di depan lift."
Pria tua itu menoleh. "Sepertinya liftnya rusak, Mas."
"Rusak? Sudah berapa lama ya, Pak?"
"Entah lah, Mas. Sudah lebih lima menit kami menunggu di sini," jawabnya sambil menghela napas.
Perasaanku seketika tidak tenang, aku teringat akan Bila. Semoga Bila tidak ada di dalam. Kucoba memastikan dengan menghubungi Mama. Beberapa kali aku menelpon, tak ada jawaban.
Pikiranku seketika panik. "Bila, dimana kamu?"
Tiba-tiba, dua orang teknisi terlihat mendatangi kerumunan kami.
"Permisi, Mas. Lift ini mengalami gangguan, kami akan segera memperbaikinya. Jika saudara-saudara bermaksud ke lantai atas, sementara bisa menggunakan fasilitas tangga," ucap salah satu teknisi itu sambil menunjuk ke sebelah kiri.
Tak lagi berpikir panjang, aku segera berlari menaiki tangga. Hatiku seperti tersengat listrik berkekuatan tinggi, bagaimana jika Bila di dalam. Dia pasti ketakutan.
"Selamatkanlah istriku ya Allah."
Secepat guntur kulangkahi anak tangga. Sampai di lantai dua, napasku terengah-engah. Namun, aku tak ingin beristirahat, sebelum aku bisa memastikan keadaan Bila. Kugerakkan kembali langkah ini, berlari menuju tangga berikutnya yang akan mengantarkanku ke lantai tiga.
'Hufht ...."
Kuhela napas sambil menyandarkan tubuh di dinding pinggiran koridor. Kini aku sudah di lantai tiga. Setelah menarik napas sejenak, aku kembali berlari.
Kubuka pintu kamar rawatan Salsa.
"Bilaaa ...!"
Teriakanku membuat Mama dan Salsa menoleh.
"Wafi? Ada apa?"
"Bi-Bila, mana, Ma?"
"Lho, bukannya tadi sama kamu?"
'Astagfirullah, jadi dia belum kembali. Pasti dia yang kejebak di dalam lift.'
Entah sadar atau tidak, otakku dengan cepat mengirim pesan agar aku kembali ke lantai dasar. Pesan yang sampai itu secepat kilat merangsang anggota gerakku untuk berlari. Ya, aku keluar kamar tanpa memperdulikan Mama yang memanggil-manggil terus di belakang.
Saat hendak menuju tangga, kulihat dua orang teknisi berdiri sambil mengotak-atik tombol lift. Ingin kuabaikan mereka, tapi perasaanku mengatakan jika Bila ada di balik lift lantai tiga ini. Kuurungkan niatku kembali ke lantai dasar, dan menghampiri mereka.
"Pak lift yang dari lantai satu, kejebak dimana?" tanyaku pada mereka.
"Di lantai tiga ini, Mas. Ada saudara yang berada di dalam?" Dia balik bertanya padaku.
"Iya, istri saya di dalam, Pak."
"Istri Mas baik-baik saja, kok. Tadi kami juga mendapat panggilan dari dalam lift. Sebentar lagi lift ini sudah bisa dibuka," ucapnya sedikit membuatku tenang. Hanya sedikit, selebihnya gundah.
Dengan siapa Bila terjebak di dalam sana? Bagaimana jika dia terjebak bersama lelaki kurang ajar? Setengah jam, sudah habis istriku diapa-apain. Berbagai bisikan lintas di benak tanpa bisa aku hentikan.
Aku bahkan lupa jadwalku menguji hampir dimulai. Pikiranku hanya dipenuhi dengan bayang-bayang Zanjabila.
'Harusnya, tadi aku mengantar hingga ke lantai ini,' sesalku pada diri sendiri.
Tak lama, petugas teknisi itu berhasil membuka pintu lift. Aku yang sedari tadi berdiri di belakang mereka, sudah menyiapkan kedua tangan dan kaki. Barangkali Bila sedang dalam bahaya.
Saat pintu terbuka lebar, dan kedua teknisi yang tadi menghalang pandanganku berpindah. Netraku membelalak.
"Azzam!"
'Istriku terjebak di lift bersama ... Azzam?'
Bila tampak mematung, sementara Azzam keluar dengan santai dari lift.
"Kalian?"
"Kami kejebak, Fi. Wanita itu ketakutan sedari tadi, jika tak kupikir dia istrimu, sudah kubuat tenang pikirannya," ucap Azzam sambil menepuk pundakku.
Aku tak menjawab, dan membiarkan Azzam berlalu pergi. Pandanganku tak beralih dari gadis itu. Gadis yang perlahan melangkah keluar dari lift dengan raut cemas. Kuulurkan tangan menyambutnya.
"Kamu nggak papa?"
Dia bergeming sambil menatapku. Kurangkul tubuhnya seketika itu juga, membenamkan wajahnya ke dalam dekapanku. Dia menangis tersedu.
'Ya Rabb, kasihan sekali gadis ini. Untung dia kejebak bersama Azzam, jika bersama lelaki hidung belang. Bisa kupastikan cadarnya terlepas.'
"Sudah Mbak, jangan menangis ya. Maafkan kami atas kejadian ini. Selama rumah sakit ini berdiri, baru kali ini lift mengalami kerusakan," ucap salah satu teknisi mencoba menenangkan Bila.
Kuurai pelukan, Bila menganggukkan kepalanya sambil menyeka mata. Lalu kedua orang itu menghilang di dalam lift.
"Maaf, ya?"
Bila bergeming, dia masih terisak. Kurasa dia benar-benar ketakutan.
"Harusnya tadi Mas antar sampai atas, jadi kita bisa kejebak berdua di dalam lift."
Dia mengangkat wajahnya saat aku membercandai kejadian tadi.
"'Kan jadi lebih romantis, kejebak di dalam lift bersama suami!"
Bila mendorong tubuhku lalu menggerakkan langkahnya.
"Eh, ngomong-ngomong tadi ngapain aja sama Azzam di dalam lift?" Kukejar langkah cepatnya sambil terus menggoda.
Bila tak menggubris, dia terus berjalan.
"Azzam godain kamu nggak, diakan dokter tampan. Kalo digodain dokter tampan, kebanyakan cewek meleleh, ya?"
Bila berhenti, ya Allah pasti dia akan mencubitku lagi. Kuambangkan kedua lenganku, dia boleh mencubit di tangan mana aja yang ia kehendaki.
Tapi kedua tanganku disambut dengan pelukan. Hangat. Kurapatkan tanganku membalas pelukannya.
"Bila takut, Mas. Membayangkan jika akan menghabiskan hidup di dalam lift itu ...."
Aku tersenyum perlahan, lugu sekali istriku.
"Alhamdulillah kamu udah selamat, jangan takut lagi ya, ada Allah yang Maha Menolong."
Cekrek!
Seseorang membuka pintu rawatan di samping kami, secepat kilat kulepas pelukan. Bila terlihat salah tingkah. Memperbaiki gamis, jilbab dan cadarnya. Lalu kembali melangkahkan kakinya. Kuikuti gadis itu, terlambat sampai di kampus sudah pasti. Tapi, istriku sedang butuh hiburan. Aku tak boleh mengabaikannya.
Sampai di depan pintu rawatan Salsa.
"Mas nggak jadi ngampus?"
"Em ... kamu gimana?"
"Bila nggak papa, Mas. Sudah aman di sini," jawabnya sudah kembali semangat.
Kugaruk-garuk kepala. "Tapi jangan kemana-mana ya, nanti siang Mas usahakan pulang."
Bila mengangguk. Kuserahkan kotak plastik berisi kotak makanan yang sedari tadi nyangkut di tangan.
"Kalau lapar, makan ini, ya?"
"Apa ini, Mas?"
"Tadi Mas beli di restaurat buat kamu sama Mama, Mas pergi ya?"
Bila meraih pemberianku. Lalu dia menciumi punggung tanganku. Kuelus kepalanya sejenak.
Inilah yang akan menjaga pandangan, hati dan setiap langkahku. 'Kamu, alasanku pergi dan pulang.'
'Beberapa hari ini, aku berniat, ingin membuatmu mencintaiku. Tapi kenapa, tiap kali kamu tersenyum, justru aku berkali-kali merasakan jatuh cinta.'
***
[Fi, aku mau buat pengakuan.]
Pesan dari Azzam.
Kutanggapi cepat, sambil meminta ijin ke kamar mandi. Saat itu aku baru saja selesai menguji dua orang mahasiswa.
[Kamu pernah bertanya padaku, siapa gadis yang berhasil membuatku ingin mengakhiri status perjaka ini]
Kukira dia akan menceritakan kejadian terjebak tadi di lift bersama Bila. Tapi dia justru membuat pengakuan yang padahal aku sendiri sudah melupakannya.
[Emang siapa, Zam?]
[Namanya ... Radha Zanjabila.]
Aku terhenyak, apa maksudnya ini? Apa yang Azzam maksud adalah istriku?
[Istriku?]
Menunggu sejenak, tak ada balasan. Aku berniat mengirimkan kembali pesan untuknya. Tapi...
"Pak, sidangnya sudah dimulai kembali."
Seorang mahasiswa memberitahukan jadwal sidang berikutnya.
"Baik, saya segera masuk."
Kukirimkan pesan yang tadi sudah kuketik di layar whatsapp.
[Benar istriku, Zam?]
.
.
.
[Iya.]
Kuhela napas panjang sambil menyandarkan punggung ke dinding. Sejenak percakapan kami tiga bulan lalu seperti dibisikkan ulang, saat itu Azzam masih bertugas di Rumah Sakit Umum. Kami bertemu di salah satu Resto.
"Lamaran ana ditolak, Fi."
"Kok bisa? Pasti gadis bodoh yang menolak dokter tampan dan sholeh seperti antum."
Hatiku tiba-tiba terasa ngilu, 'Jadi gadis bodoh yang kusebut itu sekarang sudah jadi istriku? Ya Allah ....'
"Dia bukan sembarang gadis, Fi. Pilihan. Terpelihara, sudah bercadar semenjak masuk pesantren. Ana rasa, levelnya ustazd kali, ya? Harusya dulu ana nyambung di Al Azhar, seperti antum. Pasti lamaran ana nggak ditolak!"
"Hahaha ...."
Tawaku berderai menanggapi ucapan sahabatku itu.
"Itu belum seberapa, Zam, dengan yang ana alami," jawabku sambil menghentikan tawa.
"Emang antum pernah ngelamar gadis juga? Kok ana nggak tahu?"
"Emang ada keharusan gitu kalau mah ngelamar buat pengumuman dulu?"
Tawa kami pecah berbarengan.
"Alasannya menolak, karena masih sekolah. Tapi, tiga bulan lagi dia di wisuda. Ana berencana akan datang kembali untuk melamar, Fi."
"Wah, ana salut sama keteguhan hati antum untuk melamar gadis itu. Jadi penasaran, seperti apa rupanya?"
'Ya Allah, aku sudah mendahului Azzam. Sungguh aku tak pernah tahu Bila adalah gadis yang dimaksud Azzam. Namanyapun aku baru tahu seminggu sebelum ijab qabul, tapi ya itu, aku nggak begitu memperhatikannya.'
[Undangan pernikahan ana nggak sampai ke tanganmu, Zam?]
Tiga hari sebelum pernikahan, aku sudah menitipkan undangan buat Azzam pada penjaga rumahnya. Pasti sequrity itu kelupaan.
[Nggak.]
[Maaf Zam, ana nggak tahu jika gadis itu yang antum maksud. Ana dijodohkan, bahkan tak melihat wajahnya saat proses khitbahan.]
Sungguh, aku merasa tak enak hati pada sahabatku itu.
[Dia jodoh antum, Fi. Makanya meski tak berjumpa, dia menerima antum. Jika ana yang melamar ketika dia sudah selesai pesantren, pasti ana juga akan ditolak. Ana hanya mau ucapkan, Barakallahu lakuma wabaraka alaikuma, wajama bainakuma fii khair. Semoga samawa sampai jannah.]
Aku menelan saliva. Perasaanku begitu terharu, mengingat dialah jodoh yang Allah pilihkan untukku. Gadis yang begitu diinginkan oleh sahabatku untuk menjadi istrinya.
[Subhanallah, jazakallahu khairan, Zam. Allah pasti sudah menyediakan jodoh terbaik untuk antum.]
Kumatikan layar ponsel.
'Bila ...."
Aku memanggil namanya lirih, rasanya ingin segera bertemu dengan gadis itu. Aku merindukannya.
***
Lanjut?
-----
#part19 Malam Pertama dengan Botol Pengakuan
POV Bila
***
Aku melepas kepergiannya dengan senyuman. Tapi entah kenapa jauh di sudut hati kecil ini, aku tak ingin dia pergi. Kejadian tadi di mobil yang mendebarkan, disambut musibah yang menimpa di lift, semua terasa bagaikan mimpi.
Jujur, aku butuh Mas Wafi di sampingku.
"Mas ...." Kupanggil namanya lirih. Selirih rasa rindu yang perlahan merambati dada ini.
***
Mas Azzam masuk ke ruangan bersama seorang dokter spesialis lainnya juga beberapa perawat. Aku berdiri di kaki ranjang, sementara mama mertua berdiri di dekat Mbak Salsa.
"Bagaimana keadaannya hari ini, Mbak?"
Mas Azzam menyapa Mbak Salsa ramah. Aku melirik sekilas lalu membuang wajah, saat tiba-tiba pandanganku dan Mas Azzam bertemu pada satu titik.
"Alhamdulillah sehat, Dok."
"Kita langsung ke ruangan CT-Scan, ya?" ucapnya lagi.
Mbak Salsa mengangguk. Kulihat ada rona cemas yang terpancar dari wajah wanita itu, pasti ini menjadi pemeriksaan yang paling mendebarkan baginya.
Detik berikutnya Mbak Salsa mulai di dorong keluar kamar. Aku mengikuti di belakang, sementara mama terus berada di samping. Kami sampai pada sebuah ruangan besar. Dua orang perawat membuka pintu kokoh yang menutupi ruangan itu.
"Nah, sampai sini saja mengantarnya. Keluarga silahkan menunggu di ruangan sebelah, ya?"
Perintah salah perawat yang berdiri di hadapan kami. Mas Azzam dan dokter yang mendampingi berjalan memasuki ruangan pemindai. Kehadiran Mbak Salsa kini disambut oleh lelaki berjas putih selutut yang berada di dalam ruangan.
Mama melepas genggaman tangan Mbak Salsa. Sejenak mengelus puncak kepala wanita itu. Kulihat Mama menitikkan air mata, mungkin ia sangat takut akan diagnose yang nantinya muncul setelah proses peninjauan ini selesai.
Selanjutnya, mama berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh perawat tadi, sementara aku masih di sini. Sebelum pintu kamar pemindaian ditutup, aku menghampiri perawat.
"Maaf Mas, saya ingin berbicara dengan pasien itu sebentar," pintaku pada mereka.
"Silahkan Mbak, tapi jangan lama, ya?"
Kuanggukkan kepala. Lalu segera mendekati Mbak Salsa. "Mbak ...."
Mbak Salsa menoleh saat mendengarku memanggil namanya. Kulihat matanya basah.
"Insya Allah nggak papa, Mbak. Tetap tenang dan jangan lupa Bismillah ya, Mbak. Lailahaillallah anta Subhanaka Inni Kuntum Minadzallimin. Bila bantu doa supaya mbak diberikan kesehatan lahir bathin."
Mbak Salsa mengangguk sembari tersenyum. Lalu perlahan pintu kokoh itu pun tertutup. Aku menyeka sebulir kristal yang tiba-tiba lolos dari pelupuk mata. Yang kutahu, kalau sudah begini-begini, pasti penyakitnya serius. Tapi semoga pengetahuanku yang tak seberapa ini salah.
Kulangkahkan kaki keluar dari lorong itu. Aku tak ikut menunggu bersama mama, rasanya sangat risih berada satu ruangan dengan Mas Azzam. Kujejakkan kaki menuju ruang tunggu. Menurutku disini lebih tenang daripada di dalam. Setidaknya aku berjauhan darinya.
***
Aku melipat mukena setelah selesai melaksanakan shalat Ashar berjamaah di mushalla rumah sakit. Lalu dengan sigap berjalan keluar dari ruangan yang tampak ramai oleh manusia-manusia yang datang untuk memenuhi undangan Allah.
Meninggalkan sejenak dunia yang fana ini untuk bertemu dengan pemilik seluruh alam. Ashar adalah waktu dimana pintu syurga tengah dibuka lebar-lebar, aku terus melantunkan doa. Doa untuk Mbak Salsa juga untukku dan suamiku tercinta.
Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Seharian ini, pikiranku hanya dipenuhi nama Mas Wafi. Beginilah wanita, sesiapa lelaki pertama yang berhasil menyentuh hatinya, maka seumur hidup dia akan sulit untuk melupakan sosok pertama itu.
Alhamdulillah, lelaki yang menyentuh hatiku adalah suamiku sendiri, jadi aku bebas memikirkannya seumur hidupku. Sungguh sia-sia hidup seorang gadis jika hatinya telah ternodai banyak lelaki yang belum tentu kelak akan menjadi imamnya. Saya yakin, yang membaca cerbung ini, adalah wanita-wanita tangguh, yang tak mudah dibujuk syaitan untuk menemaninya kelak di alam barzah maupun diakhirat. Insya Allah, kelak kita semua akan dipertemukan Allah dalam surganya.. Aamiinn...
Aku kembali ke ruang rawatan Mbak Salsa. Beliau nampak tertidur, sepertinya karena pengaruh obat-obatan.
Menunggu Mas Wafi dengan perasaan berdebar ternyata memang melelahkan. Sesuatu yang sangat sulit kugambarkan. Mama mertua beberapa kali melempar pertanyaan, tapi sungguh aku tak konsentrasi mendengarnya. Pikiranku hanya dipenuhi akan bayang Mas Wafi, Mas Wafi.
Tak lama, pintu kamar diketuk, Mas Wafi masuk sembari mengucap salam. Senyumku merekah menyambut kedatangannya. Huh, dasar pak dosgan (dosen ganteng), katanya akan pulang siang ini, ternyata sore baru kelihatan. Rindu tauk! Kata hatiku. Hihihi....
Kusambut uluran tangannya, lalu menciumi dengan takzim. Mas Wafi mengelus kepalaku lembut.
"Maaf ya, Mas nggak bisa pulang tadi siang," katanya dengan wajah memelas.
"Iya nggak papa, Mas. Tadi Papa datang kok bawain kami makanan."
"Iya, tadi Mas yang hubungi Papa," ucapnya sambil menyalami Mama.
"Salsa gimana, Ma?" tanya Mas Wafi sambil dusuk di sofa. Kuambil segelas air mineral lalu ikut duduk di samping lelaki itu.
"Tadi sudah selesai di CT-Scan, tapi hasilnya nunggu besok," jawab Mama singkat.
"Diminum, Mas."
Mas Wafi tersenyum sambil meraih gelas pemberianku. "Mudah-mudahan hasilnya normal, nggak ada masalah apapun."
"Aamiinn ...."
Aku dan mama mertua menjawab berbarengan.
"Ajak Bila pulang, Fi. Kasihan dari semalam Bila nggak tidur nyenyak," ucap mama mertua membuatku sedikit kaget.
Mas Wafi melirik ke arahku, kutundukkan pandangan. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi.
"Bauk, Ma. Kita pulang sekarang, ya."
Kuanggukkan kepala dengan cepat. Ya Allah, apa yang akan terjadi pada kami malam ini? Hanya kebaikan yang hamba harap.
***
Pov Wafi
Kami sampai di rumah sebelum azan magrib berkumandang. Senja yang indah, aku kini bersama wanita halalku akan melaksanakan shalat magrib berjamaah. Nikmatnya punya istri. Meski makmumku hanya dia seorang, tapi pahala yang kudapat berlipat-lipat ganda. Masya Allah.
Setelah shalat, kami duduk berhadapan, menyambung tadarus hingga shalat isya. Setiap satu kali 'ain, kami bergantian membacakan ayat selanjutnya. Aku terus memandang wajahnya saat ia tengah khusuk bertadarus. Suaranya bagus. Allah benar-benar telah mengirimku seorang bidadari syurga. Alhamdulillah...
Usai shalat Isya berjamaah, kami keluar kamar menuju ruang makan. Kali ini aku tak meminta makanan lainnya. Aku hanya ingin bersantai-santai romantis dengannya. Kamipun menyantap makan malam yang sudah disediakan Bibik. Malam ini aku berharap pada Allah, tak satu orang pun menjadi penghalangku untuk menyempurnakan tugas sebagai suami. Insya Allah, Ijinkan ya Allah.
Sedari tadi pagi aku sudah menanti waktu ini. Tapi sebagai lelaki sejati, aku tak ingin terlihat seperti musafir di tengah gurun pasir, begitu ketemu telaga, langsung pengen nyemplung. Pasti Bila akan bersembunyi, atau sekurang-kurangnya berpura-pura tidur.
Aku Awafi, akan kubuat suasana yang tak pernah ia sadari bahwa itu adalah caraku merebut hatinya.
***
Kami masuk berbarengan ke dalam kamar. Kuajak Bila duduk lesehan di atas karpet berbulu. Lalu berjalan mendekati lemari untuk mengambil sebuah botol yang sudah kuisi dengan beberapa gulungan kertas. Hampir setengah hari aku memikirkan ide konyol ini di kampus. Bahkan demi botol ini, aku urungkan niatku pulang lebih awal.
"Bila, Mas mau ajak kamu main permainan special," kataku bersemangat.
Dia menoleh penuh penasaran.
"Permainan apa, Mas?"
Kutunjuk botol yang ada di tanganku kini. "Ini namanya botol pengakuan. Kamu lihat, gulungan kertas yang ada di dalam botol ini? Semuanya bertuliskan sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Satu jawaban untuk satu pertanyaan."
Kedua bola mata Bila semakin terbuka lebar. Sepertinya ini akan menjadi malam yang seru. Kupilih duduk di hadapan gadis itu. Ia tampak gugup, tangannya memperbaiki jilbab yang memang sudah bagus.
"Mas kocok duluan, ya!" Kukerlingkan mata ke arahnya, dia mengangguk. Kali ini ekspresi wajah Bila terbaca jelas olehku, karena memang tak ada cadar yang menutup wajahnya.
Kuaduk-aduk botol minuman itu, lalu membalikkan hingga keluar dari lubang kecil botol sebuah gulungan kertas. Aku menariknya perlahan, lalu memberikannya kepada Bila.
"Kamu yang tanya."
Bila meraihnya dan mulai membacakan tulisan yang ada di kertas itu.
"Apa makanan favoritmu?" Bila bertanya sambil tersenyum, sepertinya dia mulai tertarik pada permainan ini.
"Gudeg."
Gadis itu kembali tersenyum, "Bila baru tahu jika Mas Wafi suka Gudeg," katanya sambil melipat kembali kertas yang ada di tangan.
"Besok pagi masakin ya, Mas jadi pengen," ucapku dengan raut memelas. Gadis itu tersenyum hangat.
"Emang Mas mau makan kalau rasanya nggak sedap?"
"Kalau kamu yang masak, semua Mas makan."
Seketika dia menunduk, ah pasti dia tersanjung karena pujianku. Hihihi...
"Sekarang giliran kamu." Kuserahkan botol padanya. Ia mengaduk-aduk lalu mengeluarkan selembar kertas. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia menyerahkan lembaran itu padaku.
"Ehm!"
Sengaja aku tak langsung membacakannya, ini pertanyaan paling antimainstream yang pernah ada.
"Pernah jatuh cinta?"
Bila tersenyum. "Pernah."
"Sama siapa?"
"Lho, satu pertanyaan satu jawaban 'kan Mas?"
Jiah, kugaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Aku lupa menuliskan pertanyaan, 'siapa orang yang pertama kali kamu cintai.'
Ck.. Ck..
"Mas kocok lagi!"
Kukeluarkan selembar kertas dan menyerahkan pada Bila. Dia membaca.
"Siapa orang yang paling kamu sayangi?"
Aku meliriknya sambil memutar-mutar bola mata.
"Mama Farah."
Bila tercengang, sepertinya dia belum mengenal ibu kandungku. Kubuka dompet, lalu mengeluarkan sebuah foto yang kuselipkan di bawah foto pernikahan kami.
"Ini Mama Farah, Mama kandung Mas. Beliau meninggal saat Mas berusia lima tahun."
Bila meraih foto di tanganku.
"Maaf, Mas. Bila ...."
"Nggak papa, 'kan yang nulis semua pertanyaan ini, Mas sendiri?" jawabku mencoba menetralisir keadaan yang tiba-tiba berubah mellow.
"Ayo, giliran kamu sekarang."
Bila kembali meraih botol di tanganku dan mulai mengocok. Dia mengeluarkan selembar kertas, lalu ...
Curang, dia mengintip isinya!
"Bila ... sini kertasnya. Nggak boleh curang lho."
Dia menatapku ragu. Reflek, tangannya melempar kertas itu ke arah lain. Secepat kilat aku bangkit dan berjalan ke arah lemparannya. Tapi, siapa sangka Bila juga berlari dan lebih dulu memungut kertas itu kembali.
"Jangan Mas, kocok lain aja, ya? Bila masukkan lagi kertas ini ke dalam botolnya, ya Mas?" pintanya sambil melangkah mundur. Ingin menjauh.
Takkan kubiarkan kecurangan berlaku, Bila harus menyerahkan kertas itu padaku. Pertanyaan yang mana sih yang dia dapat, kenapa sampai segitunya ia tak ingin aku bertanya.
"Sini Bila, kasih sama Mas?" Aku mulai nekat. Kuulurkan tangan sambil melangkah mendekat. Mataku tertuju pada ranjang di belakang istriku itu. Dua langkah lagi ia mundur, tubuhnya akan tersungkur ke atas kasur empuk.
Hah, aku semakin mendekatkan tubuh, sekalian saja biar dia jatuh. Jadi tidak bisa menghindar lagi.
Tap!
Tubuh Bila terjerembab di atas ranjang. Aku tersenyum. Kali ini dia pasti akan menyerahkan kertas itu. Tapi aku salah. Dia tetap tak mau mengalah, sedikit kepayahan Bila membalikkan badan untuk berusaha bangkit. Sigap, kutahan tangannya hingga ia terjatuh kembali di atas kasur.
Senyumku menyeringai. Mungkin kelihatan seperti serigala kelaparan.
"Mana kertasnya, Bila?" ucapku untuk kesekian kalinya.
Aku menaikkan tubuhku ke atas ranjang, kuletakkan kedua tangan mengapit tubuhnya. Sementara wajahku semakin dekat pada wajahnya. Usaha Bila benar-benar 'keukeuh'. Ia menyembunyikan kedua tangannya di balik badan.
'Mari kita lihat, siapa yang lebih berkuasa.'
Aku kembali menyeringai sambil memasukkan tanganku ke belakang badannya. Kuselipkan jemari tanganku diantara jemari tangannya.
Dapat!
Kusunggingkan selarik senyuman saat benda itu berpindah ke tanganku. Dia hanya menghela napas. Kuangkat wajahku, bertopang dengan kedua kaki terlipat di samping kedua pahanya. Perlahan, aku membuka kertas itu lalu mulai membaca huruf-huruf yang kutulis indah diatasnya.
"Selain aku, siapa yang pernah mendekatimu?"
Dia terdiam. Pandangannya seketika tunduk.
"Kok nggak dijawab?"
Kusentuh dagunya agar ia mau menatap mataku.
"Mas Azzam."
Kuhela napas panjang. Jadi benar kata Azzam tadi siang. Lalu, aku harus bagaimana?
"Apa yang kamu rasakan sekarang padanya?" Mungkin hanya itu yang perlu kuketahui saat ini. Selebihnya, hanya pada Allah aku meminta kebaikan.
"Tidak ada dalam pertanyaan, Mas?" ucapnya menyindirku.
"Ini Mas yang tanyakan Bila, Mas butuh jawaban darimu?"
Bila menatap mataku yang tengah membidiknya tajam. Sepertinya, saking serius, kami bahkan tak menyadari posisi kami saat itu.
"Bila tak pernah menyukainya, Mas ...."
Aku terhenyak, tapi secercah rasa bahagia perlahan mulai menjalari dada.
"Lalu, Mas kah yang kamu sukai?"
Sejenak hening. Aku ingin dia cepat membuka suara, rasanya tak sabar ingin mendengar Bila mengakui perasaannya. Jika benar aku orang yang ia sukai, maka kupastikan mulai malam ini hingga seterusnya, aku akan mengabdikan hidupku untuknya. Dia, hanya dia seorang!
"Bila ...."
Kupanggil namanya lirih.
"Iya, Mas. Maslah lelaki yang Bila cintai ...," jawabnya sambil kembali menunduk.
Masya Allah ... kukecup keningnya haru. Baru kali ini tubuhku bergetar mendengar pengakuan cinta dari seorang gadis. Ya, Karena dia adalah istriku.
Tak ada yang mengaba-aba, mulutku sukses membacakan doa bersenggama. Kukecup kembali keningnya usai doa itu terlafaz. Mataku yang tak lagi berjarak dengan gadis itu kini malah khusuk memperhatikan mulutnya, yang juga tak kalah berkomat kamit membaca doa.
Entah siapa yang memulai, kedua bibir kamipun saling bertemu. Lalu, tak perlu lagi kujelaskan, apa yang terjadi selanjutnya. Takut yang jomlo pada menghayal.. Huahahaha...
Malam ini menjadi malam kesaksian kami, atas kesabaran dan niat kami untuk saling menjaga diri. Hingga cinta kami bersatu dalam ikatan halal yang diridhai Allah. Subhanallah, tidak ada yang dapat menandingi nikmatnya penyatuan raga dua kekasih halal, malaikat bertakbir menyebut kebesaran Illahi.
Malam ini, aku telah menyempurnakannya sebagai seorang istri. Sampai kapanpun, hanya dia yang bertahta di dalam sini.
"Aku mencintaimu istriku ...."
***
Bismillah
Assalamualaikum teman-teman, ini adalah ending termanis versi grup ya. Jika ditanya apakah cerita ini masih berlanjut, saya jawab masih.
Tapi beberapa part lagi itu saya tambahan bumbu penyedap berupa rasa penasaran tingkat tinggi. Saya tidak tahu harus berkata apa, ingin menganjurkan teman-teman terus membaca takut salah, ingin melarangpun, salah besar. Tapi mohon pengertian, jika suatu waktu part itu berhenti dalam keadaan menggantung, please saya jangan dibully ya..
Maafkan keterbatasan ini..
-----
#Part20 Rahasia Salsa
Pov Bila
Dear suami ....
Aku hanyalah wanita biasa, tak cantik, apalagi pintar. Namun ku selalu mencoba memuliakanmu, dimanapun dirimu berada.
Jika kau membenciku, aku tetap takkan merubah rasa dalam mencintaimu.
Jika kau menyakitiku, aku tetap berbaik sangka padamu.
Jika kau membuatku menangis, aku tetap akan menjadi mata air untukmu.
Dear suami, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Cinta tulus karena Allah.
Bimbing aku jika menyalahi, nasihat aku Bila tersalah.
Cintakah aku ... sayangi aku hanya karena-Nya.
'Radha Zanjabila'
***
"Makasih ya, Sayang," ucap Mas Wafi setelah kami sukses mereguk nikmatnya kebersamaan di secawan madu.
Senyum merekah indah di wajah tampannya. Mata beningnya menatapku dalam. Sementara aku, hanya bisa membalas menatapnya dengan tersipu malu.
'Sayang, benarkah dia memanggilku sayang!'
"Untuk apa, Mas?" tanyaku sambil mengangkat kedua alis.
"Karena kamu sudah menjaga diri, dan memberikan yang terbaik untuk Mas."
Alhamdulillah, tersanjungnya hati ini dengan ucapan terima kasih yang Mas Wafi lontarkan. Tidak sia-sia aku menjaga diri. Selama ini bukan aku tak punya rasa cinta, apalagi suka. Tentu aku pernah merasakannya, karena Allah memang menitipkan rasa itu pada tiap-tiap makhluknya. Tapi semua itu sekuat tenaga kutahan. Karena aku, hanya ingin memberikan cintaku untuk lelaki bertanggung jawab. Lelaki yang tak suka mengumbar kata cinta, namun mengikat dengan jalan yang sah.
Lima jemari tangan kanan Mas Wafi kini mengusap pucuk kepalaku. Rasanya begitu menenangkan. Aku bak ratu ia perlakukan malam ini, semoga selamanya begini Mas.
Kutarik napas sejenak. "Mas, saya menjaga diri karena Allah. Syukran, bonusnya Allah titip tulang rusuk saya pada Mas Wafi."
Lelaki itu menatapku syahdu. Ucapanku, pasti membuat Mas Wafi merasa dirinya adalah salah satu lelaki beruntung di dunia ini. Kubaca aura wajahnya dalam-dalam, ia tampak begitu bahagia. Akupun demikian, Mas.
"I Love you," ucapnya diantara tarikan napas dan degup jantung yang jelas kudengar. Karena saat ini aku memang berada di dalam apitan lengan kirinya.
"Love you too, Mas."
Lelakiku tersenyum. Senyuman yang mengantarkan mata elangnya untuk terpejam. Rangkulan jemari tangan kanan Mas Wafi yang sedari tadi mengapit tubuhku pun kini terasa merenggang.
Mas Wafiku sudah terlelap. Dengkuran halus terdengar, beberapa saat setelah matanya terpejam sempurna. Tinggallah aku disini, dengan bola mata yang masih membelalak.
Beberapa waktu aku bergeming, masih asik menatap wajah tampan di hadapanku. Kusentuh matanya, hidungnya, bibirnya, aku tersenyum mengingat semua yang sudah terjadi tadi. Saat tengah asyiknya menikmati keindahan yang Allah anugerahkan pada lelakiku, tiba-tiba ponsel Mas Wafi bergetar. Kuangkat tangan Mas Wafi yang melingkari tubuhku. Pelan aku bergerak tak ingin membuat matanya yang baru saja terpejam harus membuka kembali.
Getar penanda dering pertama berhenti, kini ponsel Mas Wafi kembali bergetar. Kukenakan pakaian dengan lengkap, lalu sedikit tergesa menuruni ranjang dan menggapai benda pipih itu.
Tampak di layar ponsel, dua panggilan tak terjawab dari Mama.
'Ada apa ya, kenapa tiba-tiba Mama nelpon malam-malam begini?'
Saat pikiranku tengah berkelana mencari jawaban, tiba-tiba di luar terdengar seru mobil papa mertua. Aku berjalan mendekati jendela kamar, ternyata benar itu papa.
'Kemana Papa malam-malam begini, apa ada hubungannya dengan telpon Mama?'
Tak lama, ponsel Mas Wafi kembali bergetar. Tampak di kamar sebuah pesan whatsapp. Ada baiknya aku buka, supaya tahu apa yang sedang terjadi, jangan-jangan ini tentang Mbak Salsa.
"Fi, Salsa nggak sadarkan diri. Tadi dia sempat meronta saat tiba-tiba saja nyeri hebat terasa di kepala. Sekarang sudah di ruang ICU."
"Astaghfirullah, Mbak Salsa.'
Saat itu perasaanku campur aduk, jika melihat Mas Wafi yang baru saja memejamkan matanya, sungguh aku tak tega membangunkan. Tapi, mengingat ini adalah pesan penting. Sungguh kejam jika aku mengabaikannya begitu saja.
'Mungkin lebih baik, aku mensucikan diri terlebih dahulu.'
Sekiranya hanya sepuluh menit aku di kamar mandi. Setelah selesai, kudekati suamiku. Ide untuk tidak membangunkannya terkalahkan oleh bisikan kebaikan. Mbak Salsa sedang koma, tidak ada yang lebih penting selain kehadiran kami sekarang ke rumah sakit.
"Mas ...."
Kusentuh bahunya. Jangankan bangun, bereaksi pun tidak. Kugerakkan tangan mengelus pipi. Mas Wafi membuka matanya dengan perlahan.
Dia tersenyum menyambut kehadiranku yang pasti masih serupa bayangan.
"Mas ...."
Kupanggil lagi namanya.
"Iya, Sayang."
"Maaf, Mas. Bila sebenarnya nggak tega membangunkan Mas, tapi ini masalah penting, Mas."
Dia kembali tersenyum, matanya masih dipenuhi guratan merah.
"Kenapa, Sayang?" Tangannya kini mengelus pipiku.
"Mbak Salsa, Mas ... beliau masuk ICU karena koma."
***
Malam semakin naik memanjat, rembulan penuh sempurna. Udara dingin mulai menusuk kulit. Desau angin menambah kesyahduan malam, membuat setiap mata yang terbuka ingin terlelap. Lalu tenggelam dalam mimpi indah yang panjang.
Harusnya kami masih di dalam kamar, mereguk indahnya kebersamaan setelah bekerja keras tadi. Tapi nyatanya, sekarang kami kembali berada di dalam mobil, dengan perasaan khawatir memenuhi rongga pikiran. Untung Mas Wafi masih menggenggam jemari tanganku, setidaknya biarlah tubuh ini yang merasa kedingin, asal hati tetap hangat karena terus bersentuhan dengannya.
Lima belas menit perjalanan, kami sampai di rumah sakit. Dengan tangan yang saling menggenggam, langkah kami berbarengan menuju lantai dua, ruangan ICU. Beberapa langkah lagi sampai ke ruangan itu, kami justru menemukan papa keluar dengan seorang dokter, juga Mas Azzam. Tiba-tiba aku merasa, genggaman tanganku semakin erat. Kulirik Mas Wafi penasaran, ternyata matanya menatap sosok itu, yang kini berjalan mendekati kami.
"Kalian di sini?"
Papa menyapa ketika melihat kami terpaku dalam berdiri.
"Ya, Pa. Salsa gimana?"
"Sudah sadar, hanya masih belum stabil. Kami mau ke ruangan Azzam. Kamu mau ikut?"
Mas Wafi menoleh ke arahku, "kamu masuk dulu, ya. Mas ikut Papa sebentar."
Kujawab permintaan Mas Wafi dengan anggukan. Lalu, suamiku dan beberapa lelaki itu kembali menaiki lift untuk sampai di lantai satu. Kuhela napas panjang, ya Allah ada apa dengan hati ini. Kenapa seolah-seolah aku sangat tidak ingin semua ini terjadi. Astaghfirullah.
Kulangkahkan kaki memasuki ruang ICU. Setelah bertanya pada suster dimana Mbak Salsa berada, aku kembali berjalan ke bed yang di tunjuk oleh perawat itu. Dalam ruangan ini terdapat lima bed, yang satu dengan lainnya dipisahkan oleh kain bersekat lebar dan tebal.
Saat hendak menyibak tirai. Langkahku terhenti karena mendengar percakapan Mama dan Mbak Salsa.
"Sakit sekali, Ma ...."
Serasa ada yang menusuk jantungku saat mendengar lirihan suara Mbak Salsa. Ya Allah...
"Dimana yang sakit Anakku?" tanya Mama lirih, seperti sedang menahan tangis.
Mbak Salsa kini malah terisak.
"Jangan menangis Sayang, tidak ada masalah yang tidak Allah kasih jalan keluarnya ...."
Mbak Salsa makin terisak. "Termasuk masalah hati, Ma?"
Aku menarik napas dalam. Pasti ini ada hubungannya dengan Mas Wafi. Ya Allah, keluarlah kami dari lingkaran hitam ini.
"Kamu hanya perlu ikhlas, Sa. Dia bukan jodohmu ...."
'Dia? Mas Wafikah?'
"Seberapa ikhlas , Ma. Jika keikhlasan itu bisa diukur, sudah habis ukurannya untuk Salsa mengikhlaskan Mas Wafi. Tapi nggak ada yang bisa mengukur 'kan, Ma?"
'Astaghfirullah, jadi benar Mas Wafi.' Kupejamkan mata sambil melebarkan dada, pasti ini akan menjadi kenyataan yang pahit seumur hidupku.
"Sayang, jika kamu sudah ikhlas, harusnya kamu belajar untuk melupakannya."
'Umi ... aku butuh lengan Umi untuk bersandar, tapi aku sendiri disini, Mi ...'
'Nggak semudah itu, Ma. Menghapus sebuah ingatan nggak semudah menghapus jejak kaki di gurun pasir ...."
'Ya Allah ... sebegitu cintakah kamu Mbak pada Mas Wafi. Bahkan mungkin cintaku nggak sedalam itu. Aku harus bagaimana, Mbak?'
"Ma, selama hidup, apa pernah Mama tahu, jika tak sedetikpun Salsa merasakan kebahagian yang bertahan lama? Papa pergi saat aku masih sangat kecil, Ma. Lalu Mama hadirkan Papa Habib yang tak pernah menyayangiku, bahkan tega menjauhkanku darimu, Mama kandungku sendiri. Lalu, Papa juga tega memisahkanku dengan Mas Wafi. Sebenarnya, apa salah Salsa, Ma? Hingga Allah menguji Salsa dengan begitu banyak ujian?"
"Istighfar Sayang, kamu harus tenang. Kamu itu sedang sakit, jangan memikirkan hal-hal tidak baik."
"Ma, semua ini selalu ada dalam pikiranku. Dari kecil hingga sekarang. Andai bisa memilih, aku akan memilih amnesia, Ma. Dengan begitu, Salsa bisa melupakan semuanya, termasuk Mama!"
Aku menekan dadaku. Sakit yang dirasakan Mbak Salsa seolah bisa kurasakan juga.
Mama semakin menahan suaranya. "Istighfar, Sa ...."
Batinku serasa terkoyak-koyak mendengar kenyataan hidup Mbak Salsa. Katakan Mbak, apa yang bisa kulakukan untuk mengobati kepedihanmu? Tapi tolong, jangan minta Mas Wafi.
"Ma, akankah Allah mengabulkan satu permintaanku, permintaan yang sedari dulu terus menerus aku panjatkan?"
Hening. Mama terdiam, dan aku, mungkin tak ada yang pernah membuat napasku setercekat ini. Kutarik napas dalam-dalam, sambil mempersiapkan hati untuk mendengar keinginan Mbak Salsa.
"Insya Allah, Nak. Pasti Allah akan mengabulkan doa hambanya yang tulus!"
"Aku ingin menjadi istri kedua Mas Wafi, Ma."
Kukatup seketika mulutku yang tiba-tiba bergetar. Ya Allah, haruskah aku membagi cinta dengannya?
Tak lagi mampu mendengar, tubuhku justru berbalik dan mengambil langkah keluar ruangan.
"Mbak Salsa, aku ... tak sanggup dimadu, Mbak."
Kuusap kelopak mata berulang kali, aku akan pergi menemui Mas Wafi, dan menceritakan apa yang aku dengar barusan. Mas Wafi harus berjanji padaku, bahwa apapun kenyataan yang akan terjadi di depan. Dia tidak boleh menjadikanku yang kedua.
Kupercepat langkah menuju lift. Dengan jantung yang bertabuh kuat, juga napas yang tak bisa kuatur lagi, sampailah aku di depan ruangan Mas Azzam. Rasanya benar-benar tak sabar ingin berbicara pada Mas Wafi. Aku ingin tahu, bagaimana pendapatnya jika ia tahu apa keinginan Mbak Salsa.
Aku memilih duduk di kursi tunggu di samping ruangan dokter. Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruangan itu. Di tangannya ada sebuah status pasien.
Dia berjalan cepat, ke sisi kiri. Pasti yang ada di tangannya adalah status Mbak Salsa. Lebih baik kutanyakan pada perawat itu tentang penyakit Mbak Salsa. Kenapa sampai kejang-kejang, juga koma sejenak.
"Mas, boleh saya tanya sesuatu?"
Lelaki itu menoleh. "Mau nanya apa, Mbak?"
"Itu status pasien bernama Salsabila, ya?"
"Oh ini, iya benar."
"Saya adik iparnya. Boleh saya tau, sebenarnya kakak Ipar saya itu sakit apa?"
Lelaki itu mengernyitkan dahi. "Benar kamu adik iparnya?"
"Iya, yang di dalam ruangan Dokter Azzam, salah satunya suami saya."
"Oh begitu. Pasien bernama Salsa terkena tumor otak ganas Astrositoma, Mbak."
"Apa? Tumor otak ganas?"
Ya Allah, ini nyata atau mimpi? Bisakah aku meminta padaMu, ya Rabb? Ubahlah semua takdir ini?
Kaki yang tadi kuniatkan untuk menunggu Mas Wafi kini malah terasa kaku, tulang belulang seakan terlepas dari persendian. Separah itukah penyakit yang diderira Mbak Salsa? Jika selama hidup ia terus mengalami tekanan, haruskah ia menerima kenyataan jika penyakit paling menyakitkan justru Allah timpakan lagi padanya.
Ya Rabb, hamba yakin akan ketetapan-Mu, tidak ada satupun penyakit yang Engkau beri kepada hamba-Mu melainkan untuk menghapus dosa-dosanya. Tapi, bisakah ya Allah kumemohon, ubahlah tulisan yang ada pada kolom diagnose, atau setidaknya jadikan prediksi dokter itu sebagai suatu diagnose yang salah. Hanya kepada-Mu hamba memohon, dan meminta pertolongan. Kabulkan ya Allah.
Mencoba mendamaikan perasaan, kucoba untuk sejenak duduk di sebuah kursi panjang yang berhadapan ke taman. Taman dimana sehari yang lalu kami bertiga menggunakan tempat itu sebagai latar untuk mengabadikan foto bersama. Selintas pikiranku diajak berpikir keras, apakah ini maksud foto bertiga itu, aku, Mas Wafi dan Mbak Salsa? Bahwa suatu saat, kami akan berada di dalam satu rumah?
'Astaghfirullah ya Allah, haruskan aku menawarkannya? Atau berpura-pura tak pernah mendengarkan pembicaraan Mbak Salsa tadi. Aku harus bagaimana?'
"Seorang istri nggak baik duduk sendiri di taman, apalagi ini sudah sangat larut."
Aku terhenyak, suara itu?
"Mas Azzam?"
Lelaki itu tersenyum ke arahku.
"Maaf, Mas. Saya sedang menunggu Mas Wafi," ucapku gemetar. Entah, rasanya aku sangat tak ingin bertemu dengannya lagi. Aku harus menjauhi Mas Azzam, apalagi setelah pengakuanku tadi pada Mas Wafi.
"Awafi sudah kembali tadi sama Papanya, baru aja. Mungkin dia nggak ngeliat kamu di sini, ya?"
Tak kujawab lagi pertanyaannya, kupasang langkah seribu hendak meninggalkan tempat ini. Tapi kenyataan tak berpihak padaku. Aku menginjak gamisku sendiri.
'Ya Salam, pasti ini akan menjadi bom yang akan meletakkan diriku seketika.'
"Hati-hati ....!" jeritan Mas Azzam tak mampu membuatku tetap berdiri tegak.
Aku tersungkur.
Spontan, Mas Azzam menahan tubuhku yang hampir terjerembab ke lantai.
'Ya Allah, kenapa begini?'
Aku segera menjauhkan tubuhku dari lengan Mas Azzam, kenapa ya Allah? Kenapa aku harus jatuh?
Rasanya benar-benar menyesakkan.
"Maaf, ya."
Aku menunduk, secepat kilat aku berlari meninggalkannya. Harusnya, tadi aku nggak kemari! Kusapu mata yang mulai basah, sebenarnya aku menangis untuk apa, apa karena Mas Azzam menyentuhnku tanpa sengaja itu, atau karena mbak Salsa?
***
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar