#part 11 author : Wahyuni
POV BILA
"Wanita cantik akan membuka mata lelaki, tapi wanita baik akan membuka hati lelaki."
Radha Zanjabila.
***
Mas Wafi mendorong kursi roda yang diduduki Mbak Salsa. Tak ingin ketinggalan, aku mengekor di belakangnya. Tapi tentu, dengan hati yang tercabik-cabik, juga langkah yang tertatih-tatih.
Menyadariku yang tak menyeimbangi langkahnya, Mas Wafi memberhentikan mendorong kursi roda itu.
"Kok lemas gitu jalannya?" ucap Mas Wafi sambil berbalik menatapku.
Aku yang tadinya berjalan sambil menunduk seketika menengadah. Kudiamkan diri sejenak, berharap ia mengerti perasaanku. Mas Wafi balas menatapku lama, entah apa yang ia pikirkan.
'Mas, andai bisa kuungkapkan, aku ini sedang dibakar api cemburu?'
"Jalannya kok loyo gitu? Kamu udah lapar?" Mas Wafi kembali melempar pertanyaan.
Kuranggapi dengan helaan napas, nggak peka banget ini suami. Dari pagi sampai sekarang aku 'kan udah dua kali makan, mana mungkin lapar lagi secepat ini.
Rasanya ingin kuluapkan semuanya, tapi kenapa semua itu tertahan di tenggorokan. Apakah benar karena aku ingin menjaga perasaan Mbak Salsa? Lantas perasaanku sendiri bagaimana?
'Semua ini, kamu yang salah, Mas. Tak cium kamu nanti, ah nggak mau, tak bejek-bejek terus tak masukin karung kamu, Mas.'
Huwaaaa....
"Benar kamu lapar lagi, ya?" Mas Wafi mengulang kembali pertanyaanya.
Kujawab dengan gelengan. Suaraku terlalu mahal untuk menanggapi pertanyaan basi begitu.
"Yaudah, ayok sini di samping Mas."
Aha, mataku berbinar mendengar ajakannya. Kepercepat langkah hingga bisa bersisian dengannya. Tapi bukan bahagia yang kudapat justru rasa sakit yang nggak ketulungan.
Diantara desingan angin yang merambat pelan, suara Mbak Salsa memecah keheningan.
"Mas, ingat nggak dulu, kamu pernah duduk di kursi roda begini. Saat itu aku yang dorongin kamu ...."
Kupingku panas lagi.
"Iya, Mas ingat. Kamu nggak sanggup dorong kursi rodanya 'kan?" Mas Wafi menimpali.
"Mas keberatan dosa, ya?" goda mbak Salsa tanpa menoleh. Kursi roda yang dia duduki terus bergerak maju.
Aku terbengong melihat mereka mengenang masa kecil. Kapan kamu sakit lagi Mas, aku kuat Mas buat dorongin kamu.. Hiks.. Hiks..
"Salah, Mas keberatan pahala, hanya orang-orang beriman yang mampu mendorong Mas. Kamu 'kan banyak dosanya, makanya nggak kuat dorong orang shaleh seperti Mas. Hihihi ...."
'Keganjenan kamu, Mas.'
Sengaja, kuinjak kaki Mas Wafi dengan kuat!
"Awww ...."
Dia menjerit kesakitan.
"Sakit ya, Mas? Maaf ya, Bila nggak sengaja."
Hihihi ... Rasain kamu, Mas.
Mas Wafi mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Mudah-mudahan kamu sadar, Mas. Dan segera insaf. Sebelum jadi suami durhaka!
"Mas nggak papa?" tanya Mbak Salsa, kali ini aku mulai menyikapinya sok perhatian. Gusti, maafkanlah hamba yang hina ini.
"Nggak papa, kaki Bila 'kan kecil. Tadi itu kerasa kayak digelitikin aja, gitu. Hihihi ...."
Mas Wafi tertawa lebar. Rasanya pengen tak bungkam mulutmu itu, Mas. Kesel ...
"Yaudah, kita kesitu aja yuk, ada kolam ikan," ucap Mbak Salsa menghentikan kekehan Mas Wafi.
Suamiku membelokkan kursi rodanya, lalu memilih berhenti di dekat kolam ikan. Tentunya, dengan aku diantara mereka yang terus mengekori.
"Mas bawa ponsel nggak?" tanya Mbak Salsa.
"Ada, untuk apa?" Mas Wafi menimpali.
"Fotoin aku sama Bila ya, Mas?"
Mataku yang bulat terbelalak. Ternyata Mbak Salsa doyan selfi, aku mah kagak.
"Ayo, sekali aja, kenang-kenangan?" ajak Mbak Salsa.
Aku bergidik menatap Mas Wafi. Lelaki itu tersenyum dan mengambangkan tangannya. Kurendahkan hati, menuruti kemauan Mbak Salsa, perlahan melangkahkan kaki mendekatinya. Dia menggandeng tanganku.
"Siap, satu, dua, tiga!"
Cekrek!
Jadilah satu foto.
Cekrek! Cekrek! Dua, tiga empat, tapi ternyata Mbak Salsa belum puas juga.
"Mas, foto bertiga, yuk?"
Kualihkan pandangan menatap Mas Wafi, suamiku juga menatap ke arahku. Mungkin dia segan atau bagaimana. Ah, sulit sekali kuartikan tatapannya.
"Mas, nggak usah, lah?" tolaknya halus.
"Sekali aja, Mas. Biar ada kenang-kenangan. 'Kan kemarin Salsa nggak datang di acara pernikahan kalian. Ayok Mas, sekali aja?" Mbak Salsa kembali merengek.
Kutarik napas sedalam-dalamnya. Lalu netraku beralih menatap Mas Wafi yang kemudian berjalan mendekati kami. Dia memegang kamera ponsel, lalu bergerak ke sampingku.
Alhamdulillah, kukira dia bakalan nyuekin aku dan berdiri di sisi Mbak Salsa. Ternyata Mas Wafiku belum amnesia.
"Mas ditengah donk, biar keren fotonya?" ucap Mbak Salsa. Mas Wafi tak berkata apa-apa, tapi dia bergeser, menuruti permintaan Mbak Salsa untuk berdiri di tengah.
'Tega kamu, Mas! Apa kamu nggak tahu, di sampingmu ada yang lagi cemburu!'
Aku mengusap kelopak mata yang tiba-tiba mengabur. Coba katakan, hari ini aku berapankali udah nangis? Huwa...
"Siap, ya? Satu, dua, tiga!"
Disaat Mas Wafi menyebutkan kata terakhirnya, aku merasa ada yang berbeda. Sesuatu melingkari pinggangku. Hangat, meluruhkan segenap rasa cemburu yang sedari tadi berkobar. Jemari itu kini semakin erat merangkul hingga aku menempel ke tubuh Mas Wafi.
Ah, rasa ini, kenapa begini tiap kali bersentuhan dengannya?
Aku menoleh sejenak, lelaki itu tak berpaling. Tatapannya lurus ke kamera.
Blast!
Sebuah sinar menerpa wajah kami. Bagaimana hasilnya, pasti fantastis. Aku 'kan nggak sedang melihat kamera, tapi ...
"Lihat, Mas. Lihat, Mas!" teriak Mbak Salsa. Mas Wafi menunjukkan kameranya dengan wajah berbinar, seberbinarnya wajah adik tiri suamiku.
Aku menjauh, mereka kelihatan sangat asyik. Nggak mungkin juga 'kan mereka macam-macam, suamiku tahu agama, itu juga di tempat umum. Aku harus pergi, sudah cukup lama aku menangguh waktuku bertamu pada Allah hanya karena cemburu.
"Ampuni hamba ya, Allah?"
***
POV Wafi
Aku pergi saat tahu apa isi hati Zanjabila. Tak ingin mendengar lebih lama, aku belum siap patah hati. Sesaat emosiku bergejolak, tapi sekuat tenaga kutahan.
"Akan kubuat dia mencintaiku, hanya aku seorang. Tapi bagaimana caranya?"
Sepertinya dia harus cemburu. Bukankah cemburu itu tanda cinta? Jika dia mencemburuiku, berarti dia mulai cinta.
Kupejamkan mata, memikirkan siapa sasaran yang bisa kujadikan penyebab Bila cemburu. Haruskah Salsa?
'Ah, tak masalah. Hanya untuk hari ini,' batinku meracau.
Aku mulai menyusun rencana. Otakku berputar cepat, kubeli dua jus, mangga jus kesukaan Salsa dan wortel, jus kesukaanku. Lalu membeli dua bungkus nasi.
Seberapapun aku ingin pembuktian, tetap aku tidak boleh melupakan jatah makan siangnya. Jika sebelum menikah, seorang ayah bertanggung jawab terhadap anak gadisnya. Maka setelah menikah, suami bertanggung jawab penuh akan anak gadis orang yang ia peristri.
Aku, Awafi, tidak boleh melalaikan hal itu!
Selesai berbelanja, kusempatkan diri ke Mushalla untuk menunaikan shalat Zuhur. Setelahnya, aku segera kembali ke ruangan. Pasti Bila menunggu lama.
Hahaha, hatiku tertawa mengingat hal konyol yang sesaat lagi akan kulakukan. Seumur hidup, baru kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Aku ingin memilikinya. Bukankah aku memang berhak memilikinya. Karena dia istriku. Setiap dekat dengannya, rasa rinduku semakin bertambah. Rasa rindu yang menyenangkan, karena mencintai dan merindui pasangan adalah pahala. Itulah kenapa Islam melarang jatuh cinta kepada selain pasangan halal. Tidak ada yang menjadi landasan kecuali nafsu semata.
Kulangkahkan kaki dengan pasti. Memasuki ruanganaku sangat bersyukur, suasana sangat mendukung. Bila dan salsa mulai tampak berbaur. Sengaja kulewati saja istriku tanpa menyapa, apalagi senyum. Hufht, sebenarnya nggak tega, tapi ...
"Ini jus untukmu, kamu suka mangga 'kan?" Kuberikan jus mangga kepada Salsa sambil mencuri pandang menatap Bila.
Tak ada reaksi, sepertinya dia nggak cemburu. Berarti harus kujalankan rencana kedua. Kukeluarkan satu jus yang bersisa, lalu kuseruput dengan nikmat. Bila menoleh. Wah, sepertinya kali ini berhasil.
"Lho Mas, mana jus untuk Bila?"
Salsa ... Salsa ... harusnya tadi aku wapri dia dulu ya, mau buat kakak iparnya cemburu. Waduh...
Setengah bingung, kujawab asal pertanyaan adik tiriku itu. "Bila 'kan tadi udah minum di kantin, jadi Mas nggak beli lagi?"
Kupandangi wajah Bila untuk kesekian kalinya. Cadar itu berhasil menutupi segala kata hatinya.
"Kamu nggak haus lagi 'kan Bila?"
Ah, pasti kali ini ada sesuatu yang akan dia perlihatkan, semisal ngambek, atau apalah. Ternyata aku salah, dia justru menjawab kalau dirinya benar tidak haus.
Ya Allah, istriku ini benar-benar cuek. Aku menghela napas. Tiba-tiba...
"Mas,"
"Mas,"
Mereka menyebut namaku berbarengan. Wuih, ini langka dalam hidupku.
"Mbak dulu."
Bila menyilahkan Salsa untuk menyampaikan ucapannya terlebih dahulu.
"Ke taman yuk, Salsa bosan dari tadi di kamar terus?"
Mataku langsung menoleh ke arah Salsa. Awalnya merasa enggan, tapi kukira ini cara paling mustajab untuk membuktikan kecemburuan istriku.
Kuiyakan kemauan Salsa. Tapi seingatku tadi, Bila juga ingin menyampaikan sesuatu, apa? Kutanya padanya, tapi dia malah mengatakan nggak jadi dan setuju dengan ide Salsa.
Bila ... Bila ... Aku semakin penasaran padamu.
Dengan sigap aku meraih kursi roda, lalu membantu Salsa bangkit. Aku berniat menyangga pada lengannya yang beralaskan lengan baju, tapi Salsa justru mengambangkan tangannya.
Reflek kugenggam tangan gadis itu. Astaghfirullah, aku tersentak. Yang kulakukan ini salah, segera saja kulepas dan meletakkan kedua tanganku kembali pada lengannya.
Inilah kenapa yang bukan mahram dilarang berdekatan. Aku sudah berbuat salah, di depan istriku pula. Hukum aku jika dia tak mau memaafkanku, Allah.
Kurasa, membuat Bila cemburu adalah cara yang salah. Aku tidak akan melakukannya lagi, sampai kapanpun.
Tentu Bila benar, kami 'kan dijodohkan, mana mungkin dia langsung merasakan jatuh cinta hanya dengan melihat selembar foto. Mencintai itu butuh proses bukan?
'Maafkan Mas Bila. Setelah ini, Mas akan minta maaf ....'
Bersumbang.
----
#Istri_www.takafuljakarta.comPilihan
#Part 12
#Kita Saling Mencintai
***
Kutangkupkan kedua telapak tangan ke wajah setelah membaca doa Istighfar Rajab. Doa terbaik di bulan Rajab. Lalu kuangkat kembali kedua tangan. Kali ini doa khususku pada Rabb.
"Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hamba manusia hina penuh dosa, ampuni hamba ya Allah ... Seumur hidup, baru kali ini hamba berdekatan dengan lelaki. Lelaki yang seijinmu langsung menjadi imam bagi hidup hamba. Pemimpin rumah tangga hamba. Hamba tidak tahu bagaimana harus bersikap padanya, berbicara saja hamba malu, apalagi untuk mengeluh, menceritakan segala kecemburuan yang hamba rasakan. Apakah ini yang dimaksud menikah diibaratkan seperti berlayar di tengah samudera luas. Bukan tentang aku ratu, dan dia raja. Tapi lebih fokus pada tantangan yang menerpa. Bukankah lautan itu penuh badai dan gelombang?
Apakah ini ya Allah maksudnya? Tapi hamba yakin ya Allah, bahwa rumah tangga yang dibangun di atas pondasi keimanan dan kasih sayang, diliputi semangat saling memahami dan melayani, dan dihiasi keluasan ilmu dan budi pekerti, rumah tangga kami akan sampai ke pelabuhan terindah. Bantulah hamba untuk memahaminya ya Allah, semoga dia juga bisa memahami hamba. Kabulkan ya, Allah?"
Aku menghela napas panjang, seberapapun cemburunya aku pada Mas Wafi, tapi kelakuannya selalu membekas kuat diingatan. Sekilas bayangan kejadian tadi di taman kembali membuatku merinding, lama aku merasa-rasa kembali bagaimana detik-detik tangan Mas Wafi melingkari pinggangku.
"Astaghfirullah! Lho kok Astaghfirullah, sih? Mas Wafi 'kan suamiku?" Sisi lain hatiku berbicara.
Akhirnya, daripada terlalu lama di tempat itu, kuputuskan untuk kembali ke ruangan Mbak Salsa. Mungkin mereka sudah kembali.
Kulipat mukena lalu dengan langkah gontai berjalan keluar dari Mushalla. Tiba-tiba, kaki terasa kaku, nafasku terasa berat, apalagi jantung, selalu ikut-ikutan bertabuh. Kecoba menghela napas, di sana, beberapa langkah di depan, Mas Wafi berdiri sambil bersandar pada tembok bercat putih. Sesekali ia memperbaiki rambut tebalnya yang di tiup angin. Lengannya yang kekar menyembul di balik lengan kemeja berwarna maroon. Gagah sekali dia, pantesan banyak yang jatuh cinta.
Tapi Alhamdulillah, Mas Wafi bisa menjaga pandangannya. Mungkin hanya pada satu wanita yang sulit ia jaga, yang selalu berada di sisinya. Mbak Salsa.
"Ya Allah, Mas Wafi melihat kemari!"
Sesaat kami saling memandang, surprise sekali dia mencariku sampai kemari. Ini bukti bukan ya, bahwa dihatinya, aku lebih penting dari Mbak Salsa?
Mas Wafi melangkah mendekat.
"Kamu paling senang kabur tanpa kabar, apa udah lupa sama janji tadi, belum lewat dua jam lho?" serang Mas Wafi ketika sudah berada di dekatku. Matanya tajam menatapku. Aku yang sesaat menatapnya segera membuang wajah.
'Tukan ngambe lagi aku? Huh... Kesal sama diri sendiri, tapi ah udah Ikuti aja kemauan hati.'
"Bila udah lupa, Mas. Mas aja kemarin lupa 'kan sama nama saya, padahal belum lewat sehari?" Kuluapkan semua emosiku saat ini, bahkan kesalahannya kemarin yang sudah kulupakan, tiba-tiba teringat kembali. Huh, dasar setan!
Aku berjalan cepat menjauh, nunjukin kekesalanlah. Sementara di belakang, Mas Wafi mengekoriku sambil lanjut membela diri.
"Yah, yang itu diungkit lagi, Mas 'kan udah minta maaf Bila?"
"Yaudah, Bila juga minta maaf!" sanggahku dengan cepat sambil mulai terengah-engah.
"Lalu, jalannya kenapa cepat-cepat begitu?" Suara Mas Wafi kembali terdengar diantara derap langkahku.
"Biar cepat sampai Mas, 'kasihan 'kan Mbak Salsa Mas tinggal sendirian?"
'Asal kamu tau, Mas. Ini sindiran, bukan pembelaan!'
"Dia 'kan bukan anak kecil lagi Bila?"
Tak kujawab lagi, langkahku semakin cepat. Namun, tepat di ujung koridor, Mas Wafi berhasil meraih tanganku.
"Kamu kenapa, sih?" ucapnya sambil menghela napas. Pasti dia kelelahan mengejar langkah cepatku, tapi aku lebih capek, berjalan cepat dengan rasa cemburu yang membara-bara.
Mas Wafi membalikkan tubuhku menghadapnya. Kutundukan pandangan, genggaman tangannya membuat sesuatu mulai kembali mengambang di pelupuk mata. Mas Wafi menyentuh daguku, lalu sedikit menaikkan wajahku yang tertunduk. Secepat kilat aku menunduk kembali, malu jika dia tahu aku hampir menangis.
Tiba-tiba ...
"Ehm ...! Ehm ...! Permisi Dek, numpang lewat." Suara seorang lelaki tua yang tengah membawa sapu berhasil membuat Mas Wafi melepas tangannya.
"Monggo, Mas," ucap Mas Wafi salah tingkah.
"Kalau mau mesra-mesraan, di kamar Mas. Jangan di tempat umum, nanti bisa menimbulkan fitnah!"
Mas Wafi berdehem menyikapi sindiran lelaki itu, sementara aku, dengan segera meninggalkan koridor, kini aku memilih untuk berlari, sambil mendengar adakah suara langkah yang mengikutiku di belakang. Namun, Mas Wafi tak mengejar. Dia membiarkanku pergi.
"Ya Allah, mungkin kami memang nggak ditakdirkan bersama?" Setan kembali membisikkan kalimat mujarabnya di telingaku, dan kali ini aku mendengarnya. Astvaghfirullah!
***
Kubuka gagang pintu ruangan rawatan Mbak Salsa, ternyata di dalam sudah ada Papa mertua dan Mama mertua. Juga ada Abah dan Umi.
"Umi, Abah?" sebutku sambil melangkah mendekat. Kuraih tangan kedua orang tuaku, lalu meraih tangan Papa dan Mama. Kuciumi tangan mereka penuh takzim.
"Umi sama Abah kapan sampai?" tanyaku semringah, aku yakin, diantara kesedihan yang menghujam, pasti Engkau akan menyelipkan kebahagiaan. Dan mereka adalah kebahagiaanku.
"Baru saja, Nak. Wafi mana?" tanya Umi.
"Mas Wafi masih di Mushalla, Um?"
"Oh, jadi kalian baru selesai shalat?"
"Ya Umi."
"Kirain kenapa Mbak Salsa ditinggalkan sendiri di kamar?"
'Oh, jadi benar Mas Wafi meninggalkan Mbak Salsa demi aku? Ya Allah...'
Sesuatu membuat perasaanku luruh. Kuhela napas panjang. Umi membalikkan badannya menatap Mbak Salsa.
"Kamu adiknya Wafi, kemarin di acara pernikahan, nggak hadir 'kan?" tanya Umi pada Mbak Salsa.
"Iya, Umi. Kemarin saya nggak bisa hadir karena masih di Kuala Lumpur. Semalam, bela-belain pulang, malah musibah, diserempet sama mobil."
"Syafakillah, nggak ada yang fatal 'kan?"
"Insya Allah, nggak Um."
Detik berikutnya Papa mengajak Abah duduk di Sofa dekat dinding. Sementara Mama mertua menggandeng tangan Umi untuk duduk di kursi yang terletak di samping bed. Aku masih berdiri saat tiba-tiba Mas Wafi masuk ruangan sambil mengucap salam.
"Fi, kamu udah kembali?" Papa mertua menyapa.
Mas Wafi melempar senyuman sambil mengalami Papa, Abah. Lalu berjalan mendekati bed, menyalami Mama, Umi dan dia mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku terhenyak, Mama dan Umi menoleh. Kualihkan pandangan menatap Mbak Salsa, beliau juga menatap ke arah kami.
'Ya Allah Mas, kamu apa-apaan, sih?'
"Lho Bila, itu suamimu mau nyalamin kamu, lho. Kok dikacangin gitu, dosa lho, istri!"
Aku tersentak, "Nggih, Um."
Kuulurkan tangan pada tangan Mas Wafi, dia membawa tanganku ke wajahnya. Lalu diciuminya tanganku, geli! Segera saja kutarik. Malu juga 'kan di depan banyak orang. Tapi anehnya, nggak ada seorangpun yang merasa terganggu.
Kugigit bibir perlahan, mungkin aku terlalu berperasaan. Semua juga tahu kami sudah menikah, yang dilarang itu mesra-mesraan di depan umum. Ini 'kan cuma salaman? Haduh, maafkan aku Mas.
Sesaat suasana diantara kami terasa hening, berasa berada di ruang hampa udara.
"Fi, kok bengong? Ajak Bila jalan-jalan, sekarang sudah ada kami di sini! Kalian pergi nikmati bulan madu lah," seru Papa mertua.
'Ya Salam, Pa. Kuacungkan jempol untuk niat baik Papa!'
Mas Wafi kembali menatapku, "Mau nggak?"
Aku bergeming lalu menatap Umi. "Udah sana pergi Bila, nggak baik menolak ajakan suami?"
Kualihkan pandangan pada Mbak Salsa. "Bila pergi dulu ya, Mbak?"
Mbak Salsa terdiam sesaat, sebelum menjawab dia melempar pandangan pada Mas Wafi.
"Hati-hati, ya?" ucapnya sambil kembali menatapku.
"Bila pergi dulu Ma, Um," pamitku pada Mama dan umi. Lalu berjalan tanpa menoleh ke arah Mas Wafi. Masih terdengar apa yang dibicarakan Umi di belakangku. 'Saya harap mereka bisa segera hamil.'
'Ya Allah, mudah-mudahan Mas Wafi nggak dengar.
***
Kami sampai di parkiran. Matahari semakin condong ke Barat, teriknya tak seperti tadi. Alhamdulilah ada angin yang membarengi, sejuk, sedikit menghilangkan rasa gerah.
Mas Wafi meraih helm, lalu berjalan ke arahku.
Sebelum menyematkan helm itu ke kepalaku, Dia menatapku lama. Aku pun sudah mulai berani menatapnya sedikit lama, sebelum kemudian menunduk kembali.
'Ah, kenapa dia diam? Harusnya yang diam 'kan aku aja?'
Mas Wafi mengeluarkan motornya, lalu berhenti menungguku naik. Kulangkahkan kaki perlahan, lalu menaiki motor itu.
Jika dia diam, aku juga diam. Kalau tadi aku memeluknya, sekarang nggak mau!
Aku duduk sedikit berjauhan dengannya, tanganku memegang besi belakang motor sebagai penahan. Mas Wafi menoleh sedikit tapi tak berkata apapun. Ia justru menghidupkan motornya dan mulai berjalan meninggalkan parkiran.
Keluar pagar masih aman, jalannya masih terkontrol. Kira-kira sepuluh menit berikutnya, Mas Wafi mulai aneh. Dia tak seimbang.
Dia mulai jalan sedikit cepat, tak ada yang mesti dielak, tapi dia memiring-miringkan motornya, ke kiri Dan ke kanan. Aku mulai menguatkan pegangan. Sepertinya Mas Wafi mulai iseng.
"Mas, hati-hati dong, di belakang 'kan ada kendaraan lainnya?"
Dia tak menjawab. Aku semakin ketakutan. Tiba-tiba Mas Wafi mengerem motornya mendadak, tubuhku terdorong ke depan, tanganku reflek memeluk pinggangnya.
"Astaghfirullah, Mas. Untung nggak ada mobil di belakang?" selorohku tanpa sadar telah memeluknya.
Kutatap Wajah Mas Wafi di kaca spion. Dia tersenyum. Detik kemudian, Mas Wafi menggenggam tanganku yang melingkari pinggangnya.
'Oalah Mas, jadi ini yang kamu mau?'
Aku tersenyum merasakan kedekatan kembali dengannya. Semua yang terjadi tadi di rumah sakit bagai bumi yang tersirat hujan. Semua yang membuat luka hilang tak bersisa.
Beruntung aku mencintainya saat sudah halal. Terima kasih ya Allah, Engkau ciptakan rasa ini di dada.
***
#Istri_Pilihan
#Part12a
Patt sebelumnya https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=3022590981136106
Pov Bila
***
Temaram rona jingga masih nampak di sudut langit sebelah barat. Senja yang indah, apalagi ditemani lelaki halal. Ah, nikmat sekali rasanya. Setelah tadi sempat mengalami kejadian mendebarkan plus memalukan, suasana diantara kami benar-benar terasa lebih asyik. Mas Wafi mulai suka menggodaku.
Seperti barusan, saat kami berpas-pasan mau ke kamar mandi. Mas Wafi malah iseng ngajak ke kamar mandi bareng. So sweetnya, tapi 'kan malu. Meski sudah sah jadi istri, tetap aja masih belum leluasa. Aku yakin, semua akan indah pada saatnya, nggak perlu buru-buru.
Beruntung Mas Wafi bukan tipe lelaki pemaksa. Sepertinya Mas Wafi juga bukan tipe lelaki yang mengutamakan nafsu. Dia adalah lelaki terbaik, sekarang dan sampai kapanpun.
Magrib ini, Mas Wafi sengaja tidak ke Mesjid. Ia ingin shalat berjamaah bersamaku. Dan anehnya, aku mulai mencium bau malam pertama. Huhuhu...
Kalau ditanya siap, oh no! Aku belum siap. Tapi kalau dituntut harus siap, maka aku akan mengangguk. Tak ingin dilaknat para bidadari di surga, karena menolak keinginan suami berarti telah membuat bidadari-bidadati itu cemburu.
Lagian, di surga dan di dunia, yang boleh jadi bidadari Mas Wafi hanya aku. Boleh nggak Allah?
Usai shalat, Mas Wafi membalikkan badannya. Kuciumi tangan imamku dengan takzim. Mas Wafi membalas sikapku dengan mengelus puncak kepalaku. Sejenak kami saling memandang. Lalu dengan sedikit gemetar Mas Wafi meletakkan tangan kanannya di dahiku. Komat kamit mulutnya khusuk berdoa.
"Allahumma inni as-aluka khayraha wa hayra ma jabaltahaa 'alaihi wa a'uudzu bika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa 'alaihi. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebaikanMu dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya."
Aku tertunduk dalam-dalam menahan gejolak hati. Jantungku berdetak kencang. Harusnya doa ini dibaca setelah pernikahan ya, tapi aku memaklumi kenapa baru malam ini Mas Wafi membacanya.
Aku bisa merasakan kegugupan yang juga mendera imamku itu. Setelah selesai membaca doa, ia terlihat begitu kikuk. Sepertinya bingung harus berbuat apalagi.
"Kamu udah lapar belum?" tanyanya berusaha mencairkan suasana.
Dengan ragu kuanggukkan kepala. Belum pernah juga aku merasakan gugup seperti saat ini. Mungkin karena hari ini kami mengalami banyak kejadian menyenangkan, sehingga berdekatan berdua begini mengingatkan pada hal-hal lain yang menuntut keberanian lebih.
Mudah-mudahan Allah segera mencairkan rasa sungkan yang masih memenuhi relung hatiku dan hatinya.
"Kita makan malam, yuk?"
"Mama sama Papa?" tanyaku meyakinkan bahwa tak masalah jika kami tak menunggu mereka pulang.
"Paling, Mama sama Papa udah makan di luar," jawab Mas Wafi enteng sambil membuka mukena yang kukenakan.
Aku kembali menunduk, sudah dua kali Mas Wafi membuka mukenaku. Romantisnya dia.
Lalu dia bangkit, meletakkan kopiahnya pada nakas. Membuka sarung dan menggantinya dengan celana jogger panjang. Lalu mengganti koko dengan kaos putih polo's ngepas di badan.
Mas Wafi sekarang kelihatan seperti foto model. Ck. Ck. Ck. Tapi syukurnya, udah nggak harus tutup mata lagi ngelihat yang sekaiy begini, 'kan udah halal. Nikmat nggak pakai dosa lagi.
Setelah menyimpan perlengkapan shalat, dengan berpakaian serba lengkap, kuikuti Mas Wafi turun ke lantai bawah. Berjalan melewati ruang tengah yang begitu luas, sampai ke ruang makan.
Berbagai pilihan menu sudah tersedia di atas meja makan. Sayuran, daging, ikan, hampir memenuhi meja panjang itu.
"Mas sedang nggak pengen makanan ini," ucapnya terpotong, "Mas pengen nasi goreng?"
Aku terhenyak. Lalu makanan sebanyak ini mau dikemanain?
"Kita buat nasi goreng, yuk?"
Aku menatapnya, Mas Wafi melempar senyum dan menggandeng tanganku ke dapur. Aku ingin meminta penjelasan mengenai makanan sebanyak yang ada di meja itu, tapi Mas Wafi terlihat begitu bersemangat. Ya sudahlah.
'Emm ... kalau cuma nasi goreng doang sih, nggak usah pakai Mbah Youtube. Insya allah bisa!'
***
Kami sampai di dapur. Tiba-tiba pintu belakang terbuka. Bik Nem muncul dari tempat itu.
Sepertinyanya kedua asisten rumah tangga di rumah ini tinggal di belakang. Apa mungkin Ada kamar terpisah? Entah, aku bahkan belum habis mengetahui seluk beluk rumah ini. Yang kutahu dari balkon atas, di belakang ada taman bunga dengan sebuah kolam ikan. Pemandangannya bagus, jika sempat besok aku akan mulai menjelajah. Pikiranku saat itu.
"Lho, Mas Wafi sama Neng Bila mau masak apa tho? 'Kan Bibik sudah siapkan semuanya di atas meja?" Suara Bik Nem membuat tanganku yang hendak membuka lemari wajan sejenak terhenti.
"Saya mau nasi goreng, Bik?" Mas Wafi menimpali.
"Oh, pasti pengen dibuatin khusus sama Neng Bila, ya?" goda Bik Nem. Mas Wafi tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku pun ikut tersenyum, meski sejujurnya begitu malu digodain perihal recehan begini.
"Kalau begitu Bibik tinggal dulu, ya?" pamit Bik Nem sambil kembali keluar.
Aku menghela napas, lega. Untung Bik Nem nggak menawarkan bantuan. Hihihi
Mas Wafi berjalan membuka kulkas, mengambil sesuatu di tempat itu lalu meletakkannya di hadapanku. Sepertinya suamiku sangat familiar dengan dapur.
"Mas sering masak sendiri, ya?" tanyaku melihatnya cekatan mencuci tomat, bawang yang sudah diiris bersih, cabe merah, jahe dan serai.
Dia tersenyum tak menjawab. Ah, aku dikacangin. Detik berikutnya, Mas Wafi membawa semuanya ke hadapanku lagi. Aku tahu dia ingin aku yang mengirisnya. Sementara itu, Mas Wafi tak tinggal diam, kembali meletakkan wajan di atas kompor. Menyalakan api lalu menuang sedikit minyak.
"Masukkan bumbunya, Yang," seru Mas Wafi. Aku bergidik, sejak kapan namaku berubah jadi yang. Ini salah sebut, atau sengaja mau manggil aku dengan sebutan manja? Pertanyaan besar, tapi tentu aku nggak berani nanya.
Kuikuti perintahnya tanpa protes. Lalu tanganku mulai mengaduk-aduk bumbu yang sudah di wajan. Mas Wafi kini beralih mengambil nasi dalam rice cooker. Menyendoki beberapa kali dan memasukkan ke dalam wajan.
'Kenapa nggak sebut-sebut lagi, huum pasti yang tadi salah sebut!' Hiks.. Hiks...
Aku kembali mengaduk dengan tak semangat. Tiba-tiba, Mas Wafi berdiri persis di belakangku. Dadanya menempel pada punggungku. Sementara tangannya ikut-ikutan memegang sendok dan mengaduk nasi.
Jantungku kembali bertabuh kencang. Aku juga bisa merasakan detak jantungnya. Mas Wafi berhasil membuatku meleleh lilin plus grogi. Baru kali ini kurasakan memasak full romantis besama seorang lelaki. Alhamdulillah, nikmat sekali beraktivitas ditemani kekasih halal. Yang belum, segera yuk? Hihihi...
Nasi goreng siap di atas meja makan. Kami duduk berdampingan, hanya kami berdua. Dia makan makanan dengan lahapnya. Sesekali melirik ke arahku, lain menit dia mengelus punggung tanganku.
Ya Allah, semoga kebahagiaan ini abadi hingga akhir hayat. Doaku saat itu. Semoga Allah mengabulkan.
***
Kami kembali ke kamar, saat itu jam menunjukkan pukul sembilan malam. Papa dan Mama belum juga pulang. Tiba-tiba aku teringat Umi dan Abah di rumah sakit, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka akan menginap di Jakarta atau langsung pulang ke Bandung.
Sementara Mas Wafi masih di kamar mandi, kucoba menelpon Umi.
[Assalamualaikum, Bila.]
Terdengar Suaranya terengah-engah
[Waalaikum Salam, Um. Kok seperti kelelahan gitu Umi, apa masih di rumah sakit?]
[Masih, Sayang.]
Kata-katanya terpotong.
[Ada apa, Umi?]
[Mbak Salsa Neng ... Mbak Salsa, kejang-kejang!]
[Astaghfirullah, kejang-kejang Umi? Bila beritahu Mas Wafi ya Um, biar kami segera ke sana?]
[Iya Sayang, hati-hati dI jalan.]
'Ya Allah, apa yang terjadi dengan Mbak Salsa, kenapa bisa sampai kejang-kejang. Mana Mas Wafi lama banget lagi di kamar mandi. Apa sebaiknya aku ketuk saja?'
Berjalan perlahan mendekati pintu, tanganku mengambang hampir mengenai permukaan penutup kamar mandi itu. Tapi Mas Wafi justru keluar dengan sendirinya.
"Bila, kebelet juga?" sapanya mungkin melihat raut wajahnya yang kelihatan seperti menahan sesuatu.
"Nggak Mas, Mbak Salsa, Mas," jawabku ketakutan.
"Kenapa Salsa?"
"Tadi Bila nelpon Umi, katanya Mbak Salsa kejang-kejang?"
"Apa? Kejang-kejang?"
"Yuk Mas kita ke rumah sakit sekarang," ajakku padanya. Mas Wafi mengiyakan. Dengan cepat ia meraih kunci mobil dan ponselnya, lalu secepat kilat melajukan mobil di atas jalanan.
Aku tahu Mas Wafi pasti khawatir, sama seperti yang aku rasakan saat ini. Apapun yang terjadi di rumah sakit nanti, sebagai istri yang baik, aku tak boleh mencemburui mereka.
Hari ini, adalah bukti, Mas Wafi mencintaiku.
***
Setengah jam berselang, kami sampai di rumah sakit. Harusnya bisa lebih cepat, tapi kami kejebak macet di beberapa tempat.
Selama perjalanan, Mas Wafi hanya diam. Sepertinya suamiku benar-benar khawatir. Aku pun tak ingin memecah konsentrasinya, kubungkam mulut dengan kuat, sambil terus berzikir memohon keselamatannya bagi Mbak Salsa.
Sampai di rumah sakit, kami langsung menuju kamar rawatan. Dua orang perawat terlihat tengah sibuk mengganti cairan Infus. Mbak Salsa tampak pucat di atas bed.
"Pasiennya kenapa, Sus?" tanya Mas Wafi.
"Tadi Mbak ini kejang-kejang, Mas."
"Kok bisa?"
"Untuk sementara sedang dicari penyebabnya, Mas."
"Yang jaga pasien ini kemana?" Mas Wafi kembali melempar pertanyaan dengan gugup.
"Sedang di ruangan dokter Azzam, Mas."
Aku tersentak saat salah satu suster itu menyebut nama Mas Azzam. Umi, Abah, pasti mereka sekarang juga sedang berada di ruangan Mas Azzam.
'Ya Allah, Mas Azzam akan tahu siapa aku jika dia bertemu Abah dan Umi. Jauhi kami dari segala fitnah ya Rabb ....'
Bersumbang lagi.
#Part12a
Patt sebelumnya https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=3022590981136106
Pov Bila
***
Temaram rona jingga masih nampak di sudut langit sebelah barat. Senja yang indah, apalagi ditemani lelaki halal. Ah, nikmat sekali rasanya. Setelah tadi sempat mengalami kejadian mendebarkan plus memalukan, suasana diantara kami benar-benar terasa lebih asyik. Mas Wafi mulai suka menggodaku.
Seperti barusan, saat kami berpas-pasan mau ke kamar mandi. Mas Wafi malah iseng ngajak ke kamar mandi bareng. So sweetnya, tapi 'kan malu. Meski sudah sah jadi istri, tetap aja masih belum leluasa. Aku yakin, semua akan indah pada saatnya, nggak perlu buru-buru.
Beruntung Mas Wafi bukan tipe lelaki pemaksa. Sepertinya Mas Wafi juga bukan tipe lelaki yang mengutamakan nafsu. Dia adalah lelaki terbaik, sekarang dan sampai kapanpun.
Magrib ini, Mas Wafi sengaja tidak ke Mesjid. Ia ingin shalat berjamaah bersamaku. Dan anehnya, aku mulai mencium bau malam pertama. Huhuhu...
Kalau ditanya siap, oh no! Aku belum siap. Tapi kalau dituntut harus siap, maka aku akan mengangguk. Tak ingin dilaknat para bidadari di surga, karena menolak keinginan suami berarti telah membuat bidadari-bidadati itu cemburu.
Lagian, di surga dan di dunia, yang boleh jadi bidadari Mas Wafi hanya aku. Boleh nggak Allah?
Usai shalat, Mas Wafi membalikkan badannya. Kuciumi tangan imamku dengan takzim. Mas Wafi membalas sikapku dengan mengelus puncak kepalaku. Sejenak kami saling memandang. Lalu dengan sedikit gemetar Mas Wafi meletakkan tangan kanannya di dahiku. Komat kamit mulutnya khusuk berdoa.
"Allahumma inni as-aluka khayraha wa hayra ma jabaltahaa 'alaihi wa a'uudzu bika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa 'alaihi. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebaikanMu dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya."
Aku tertunduk dalam-dalam menahan gejolak hati. Jantungku berdetak kencang. Harusnya doa ini dibaca setelah pernikahan ya, tapi aku memaklumi kenapa baru malam ini Mas Wafi membacanya.
Aku bisa merasakan kegugupan yang juga mendera imamku itu. Setelah selesai membaca doa, ia terlihat begitu kikuk. Sepertinya bingung harus berbuat apalagi.
"Kamu udah lapar belum?" tanyanya berusaha mencairkan suasana.
Dengan ragu kuanggukkan kepala. Belum pernah juga aku merasakan gugup seperti saat ini. Mungkin karena hari ini kami mengalami banyak kejadian menyenangkan, sehingga berdekatan berdua begini mengingatkan pada hal-hal lain yang menuntut keberanian lebih.
Mudah-mudahan Allah segera mencairkan rasa sungkan yang masih memenuhi relung hatiku dan hatinya.
"Kita makan malam, yuk?"
"Mama sama Papa?" tanyaku meyakinkan bahwa tak masalah jika kami tak menunggu mereka pulang.
"Paling, Mama sama Papa udah makan di luar," jawab Mas Wafi enteng sambil membuka mukena yang kukenakan.
Aku kembali menunduk, sudah dua kali Mas Wafi membuka mukenaku. Romantisnya dia.
Lalu dia bangkit, meletakkan kopiahnya pada nakas. Membuka sarung dan menggantinya dengan celana jogger panjang. Lalu mengganti koko dengan kaos putih polo's ngepas di badan.
Mas Wafi sekarang kelihatan seperti foto model. Ck. Ck. Ck. Tapi syukurnya, udah nggak harus tutup mata lagi ngelihat yang sekaiy begini, 'kan udah halal. Nikmat nggak pakai dosa lagi.
Setelah menyimpan perlengkapan shalat, dengan berpakaian serba lengkap, kuikuti Mas Wafi turun ke lantai bawah. Berjalan melewati ruang tengah yang begitu luas, sampai ke ruang makan.
Berbagai pilihan menu sudah tersedia di atas meja makan. Sayuran, daging, ikan, hampir memenuhi meja panjang itu.
"Mas sedang nggak pengen makanan ini," ucapnya terpotong, "Mas pengen nasi goreng?"
Aku terhenyak. Lalu makanan sebanyak ini mau dikemanain?
"Kita buat nasi goreng, yuk?"
Aku menatapnya, Mas Wafi melempar senyum dan menggandeng tanganku ke dapur. Aku ingin meminta penjelasan mengenai makanan sebanyak yang ada di meja itu, tapi Mas Wafi terlihat begitu bersemangat. Ya sudahlah.
'Emm ... kalau cuma nasi goreng doang sih, nggak usah pakai Mbah Youtube. Insya allah bisa!'
***
Kami sampai di dapur. Tiba-tiba pintu belakang terbuka. Bik Nem muncul dari tempat itu.
Sepertinyanya kedua asisten rumah tangga di rumah ini tinggal di belakang. Apa mungkin Ada kamar terpisah? Entah, aku bahkan belum habis mengetahui seluk beluk rumah ini. Yang kutahu dari balkon atas, di belakang ada taman bunga dengan sebuah kolam ikan. Pemandangannya bagus, jika sempat besok aku akan mulai menjelajah. Pikiranku saat itu.
"Lho, Mas Wafi sama Neng Bila mau masak apa tho? 'Kan Bibik sudah siapkan semuanya di atas meja?" Suara Bik Nem membuat tanganku yang hendak membuka lemari wajan sejenak terhenti.
"Saya mau nasi goreng, Bik?" Mas Wafi menimpali.
"Oh, pasti pengen dibuatin khusus sama Neng Bila, ya?" goda Bik Nem. Mas Wafi tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku pun ikut tersenyum, meski sejujurnya begitu malu digodain perihal recehan begini.
"Kalau begitu Bibik tinggal dulu, ya?" pamit Bik Nem sambil kembali keluar.
Aku menghela napas, lega. Untung Bik Nem nggak menawarkan bantuan. Hihihi
Mas Wafi berjalan membuka kulkas, mengambil sesuatu di tempat itu lalu meletakkannya di hadapanku. Sepertinya suamiku sangat familiar dengan dapur.
"Mas sering masak sendiri, ya?" tanyaku melihatnya cekatan mencuci tomat, bawang yang sudah diiris bersih, cabe merah, jahe dan serai.
Dia tersenyum tak menjawab. Ah, aku dikacangin. Detik berikutnya, Mas Wafi membawa semuanya ke hadapanku lagi. Aku tahu dia ingin aku yang mengirisnya. Sementara itu, Mas Wafi tak tinggal diam, kembali meletakkan wajan di atas kompor. Menyalakan api lalu menuang sedikit minyak.
"Masukkan bumbunya, Yang," seru Mas Wafi. Aku bergidik, sejak kapan namaku berubah jadi yang. Ini salah sebut, atau sengaja mau manggil aku dengan sebutan manja? Pertanyaan besar, tapi tentu aku nggak berani nanya.
Kuikuti perintahnya tanpa protes. Lalu tanganku mulai mengaduk-aduk bumbu yang sudah di wajan. Mas Wafi kini beralih mengambil nasi dalam rice cooker. Menyendoki beberapa kali dan memasukkan ke dalam wajan.
'Kenapa nggak sebut-sebut lagi, huum pasti yang tadi salah sebut!' Hiks.. Hiks...
Aku kembali mengaduk dengan tak semangat. Tiba-tiba, Mas Wafi berdiri persis di belakangku. Dadanya menempel pada punggungku. Sementara tangannya ikut-ikutan memegang sendok dan mengaduk nasi.
Jantungku kembali bertabuh kencang. Aku juga bisa merasakan detak jantungnya. Mas Wafi berhasil membuatku meleleh lilin plus grogi. Baru kali ini kurasakan memasak full romantis besama seorang lelaki. Alhamdulillah, nikmat sekali beraktivitas ditemani kekasih halal. Yang belum, segera yuk? Hihihi...
Nasi goreng siap di atas meja makan. Kami duduk berdampingan, hanya kami berdua. Dia makan makanan dengan lahapnya. Sesekali melirik ke arahku, lain menit dia mengelus punggung tanganku.
Ya Allah, semoga kebahagiaan ini abadi hingga akhir hayat. Doaku saat itu. Semoga Allah mengabulkan.
***
Kami kembali ke kamar, saat itu jam menunjukkan pukul sembilan malam. Papa dan Mama belum juga pulang. Tiba-tiba aku teringat Umi dan Abah di rumah sakit, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka akan menginap di Jakarta atau langsung pulang ke Bandung.
Sementara Mas Wafi masih di kamar mandi, kucoba menelpon Umi.
[Assalamualaikum, Bila.]
Terdengar Suaranya terengah-engah
[Waalaikum Salam, Um. Kok seperti kelelahan gitu Umi, apa masih di rumah sakit?]
[Masih, Sayang.]
Kata-katanya terpotong.
[Ada apa, Umi?]
[Mbak Salsa Neng ... Mbak Salsa, kejang-kejang!]
[Astaghfirullah, kejang-kejang Umi? Bila beritahu Mas Wafi ya Um, biar kami segera ke sana?]
[Iya Sayang, hati-hati dI jalan.]
'Ya Allah, apa yang terjadi dengan Mbak Salsa, kenapa bisa sampai kejang-kejang. Mana Mas Wafi lama banget lagi di kamar mandi. Apa sebaiknya aku ketuk saja?'
Berjalan perlahan mendekati pintu, tanganku mengambang hampir mengenai permukaan penutup kamar mandi itu. Tapi Mas Wafi justru keluar dengan sendirinya.
"Bila, kebelet juga?" sapanya mungkin melihat raut wajahnya yang kelihatan seperti menahan sesuatu.
"Nggak Mas, Mbak Salsa, Mas," jawabku ketakutan.
"Kenapa Salsa?"
"Tadi Bila nelpon Umi, katanya Mbak Salsa kejang-kejang?"
"Apa? Kejang-kejang?"
"Yuk Mas kita ke rumah sakit sekarang," ajakku padanya. Mas Wafi mengiyakan. Dengan cepat ia meraih kunci mobil dan ponselnya, lalu secepat kilat melajukan mobil di atas jalanan.
Aku tahu Mas Wafi pasti khawatir, sama seperti yang aku rasakan saat ini. Apapun yang terjadi di rumah sakit nanti, sebagai istri yang baik, aku tak boleh mencemburui mereka.
Hari ini, adalah bukti, Mas Wafi mencintaiku.
***
Setengah jam berselang, kami sampai di rumah sakit. Harusnya bisa lebih cepat, tapi kami kejebak macet di beberapa tempat.
Selama perjalanan, Mas Wafi hanya diam. Sepertinya suamiku benar-benar khawatir. Aku pun tak ingin memecah konsentrasinya, kubungkam mulut dengan kuat, sambil terus berzikir memohon keselamatannya bagi Mbak Salsa.
Sampai di rumah sakit, kami langsung menuju kamar rawatan. Dua orang perawat terlihat tengah sibuk mengganti cairan Infus. Mbak Salsa tampak pucat di atas bed.
"Pasiennya kenapa, Sus?" tanya Mas Wafi.
"Tadi Mbak ini kejang-kejang, Mas."
"Kok bisa?"
"Untuk sementara sedang dicari penyebabnya, Mas."
"Yang jaga pasien ini kemana?" Mas Wafi kembali melempar pertanyaan dengan gugup.
"Sedang di ruangan dokter Azzam, Mas."
Aku tersentak saat salah satu suster itu menyebut nama Mas Azzam. Umi, Abah, pasti mereka sekarang juga sedang berada di ruangan Mas Azzam.
'Ya Allah, Mas Azzam akan tahu siapa aku jika dia bertemu Abah dan Umi. Jauhi kami dari segala fitnah ya Rabb ....'
Bersumbang lagi.
------
#part 12b
POV WAFI
***
Aku berjalan mendekati Salsa yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang, wajahnya tampak pucat. Buliran bening membasahi kening, ingin kuusap, tapi aku takut Bila cemburu.
"Kenapa bisa begini Sa, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?" lirihku pelan.
Tiba-tiba Bila yang berdiri lebih jauh berjalan menghampiri dan menyentuh punggung tanganku. Sepertinya ia tahu aku begitu mengkhawatirkan keadaan Salsa. Perlahan gadis itu menggerakkan tangannya, meraih tissu di atas nakas dan mengelap kening Salsa.
'Ah, istriku, pengertian sekali dia. Aku tak salah memilihnya menjadi pelengkap separuh dienku.'
"Kita ke ruang dokter, ya?" ucapku sambil menatap manik kecoklatan miliknya. Besar harapanku agar segera mengetahui keadaan Salsa saat ini juga. Bukankah tadi siang dia begitu sehat, kenapa bisa tiba-tiba kondisinya memburuk.
Anehnya, mendengar ajakanku, Bila tampak begitu terhenyak.
"Em, Bi-Bila rasa nggak perlu, Mas. Kasihan Mbak Salsa jika kita juga meninggalkannya?"
Aku menghela napas. Setelah kupikir-pikir, perkataan Bila ada benarnya juga. Di sana sudah ada Papa dan Mama, tentu mereka akan mengupayakan yang terbaik untuk Salsa, mereka juga tidak akan membiarkan Salsa menderita begini. Sebaiknya aku bersabar.
Jujur, melihat Salsa tak sadarkan diri begini, perasaanku campur aduk. Selama ini, aku dan dia memiliki hubungan yang sangat rumit. Kurasa tak ada yang lebih menyakitkan dari mencintai, tapi orang tua tak merestui.
Mungkin benar yang Salsa katakan, menjadi lelaki aku tidak gentle man. Aku tidak berani memperjuangkan kisah kami pada Papa, padahal dalam Islam saudara tiri yang tidak seribu dan seayah termasuk golongan bukan mahram. Kami boleh saja jika ingin menikah.
Tapi Papa, ia punya pandangan berbeda. Jika saja, semua manusia memiliki alur pikir yang sama. Pasti sekarang, kami sudah ... Ah, Kutepis pikiran bodoh yang tiba-tiba ingin meracuni otakku.
'Aku tak mungkin menjelaskan pada siapapun, jika suatu tempat di bagian hati ini, nama Salsa masih terukir dengan indah. Sangat sulit untuk kuhapus jejaknya. Namun, rasa takut pada Allah, menuntunku untuk sekuat tenaga menghilangkan jejak-jejak itu. Sulit. Sangat sulit. Tapi kurasa kehadiran Bila akan membantu. Cepatlah sembuh Salsa, setelah itu kamu harus menikah. Kita raih bahagia dalam rumah tangga kita, meski bersama orang lain.
"Mas ...."
Suara Bila membuat lamunanku berserakan. Ya, inilah kenyataan yang berusaha membangunkanku dari mimpi masa lalu.
"Yah?" sahutku lirih sambil kembali menatapnya. Kugigit bibir perlahan, menahan bulir-bulir mengambang yang mulai hendak membanjiri pelupuk mata.
"Mas kenapa?" tanyanya padaku. Tangan Bila tiba-tiba menyentuh lenganku. Serasa ada yang menyentak hatiku, kuelus kembali punggung tangan kekasih hatiku itu.
"Mas kasihan sama Salsa, Bila?"
Serasa ada yang aneh, kedua sudut bibirku tertarik saat menyadari dua nama yang baru saja kuucap, Salsa, Bila. Seperti menyebut nama lengkap Salsa.
"Mas kok tiba-tiba senyum, tadi padahal sendu?" tanya Bila lagi padaku.
Kubiarkan hening sejenak, lalu mengulang kembali perkataan Tadi. "Mas kasihan sama Salsabila."
Awalnya Bila masih terbengong, tapi tak lama tawanya berderai. Sekejap kunikmati indah bola matanya yang tampak menyipit.
'Cantik.'
Kugandeng tangan wanita halalku itu agar lebih merapat denganku. Aku butuh tempat bersandar, atas rasa di dada ini yang tak terjelaskan. Namun, Bila menahan tubuhnya, sepertinya ia enggan.
"Malu Mas dekat-dekat, ada Mbak Salsa?"
"Mbak Salsa 'kan tidur?"
"Kalau nanti bangun?"
Aku tersenyum menanggapi kekhawatirannya, diantara segenap usahaku mengubur nama Salsa, aku harus bekerja ekstra untuk meluluhkan benteng rasa malu pada istriku.
Sejauh ini, aku sangat yakin akan satu hal, bahwa sekuat apapun cinta yang kita miliki untuk seseorang, takkan sebanding dengan cinta kepada seseorang, yang sudah kita pinta sebagai istri di hadapan Sang Pencipta.
"Mas masih mencintai Mbak Salsa, ya?"
Aku menoleh ke arah sumber pertanyaan. Kunaikkan kedua bahu, mencari kepastian tentang apa yang baru saja kudengar.
Bila menunduk.
"Coba tanya lagi?" desakku. Ia meremas-remas jemari tangannya.
"Coba tanya lagi?" Kuhentikan aksinya meremas jemari, dia tampak mengangkat wajahnya.
"Apakah Mas masih mencintai Mbak Salsa?"
Kutanggapi pertanyaan itu dengan senyuman, sepertinya wanita memang punya insting kuat akan pasangannya.
"Kok tiba-tiba nanya begitu?"
"Bila sudah tau semuanya, Mas ... tentang perasaan Mas dulu ke Mbak Salsa. Bila hanya mau tau, apa sekarang perasaan itu masih sama?"
Sesaat aku tercekat, tapi melerai detik berikutnya. Haruskah aku jujur, takkan kecewakah kamu jika tahu yang sebenarnya?
"Em ... Mas-"
"Assalamualaikum."
Suara salam yang diucapkan Papa membuat ucapanku terhenti.
"Lho, kalian sudah ada di sini? Kapan sampai?" tanya Papa sambil melangkah masuk.
Langkah Papa diikuti oleh Mama dan kedua orang tua Bila. Aku dan Bila menyalami mereka secara bergantian.
"Baru aja Pa. Salsa Kenapa Pa?"
Papa menoleh. "Nggak kenapa-kenapa."
"Tapi kenapa kejang-kejang, Pa?"
"Itu ada benturan di kepalanya. Besok diperiksa lebih lanjut," jawab Papa singkat.
"Diperiksa bagaimana, Pa?" Kupastikan lagi jawaban Papa. Aku tahu siapa Papa, ia sedang ingin menutupi sesuatu dariku.
"Besok Salsa akan CT Scan," jawab Papa sambil merebahkan tubuhnya pada sofa.
"Kenapa harus CT Scan, Pa?"
Papa menghela napas tanpa menjawab. Perasaanku semakin kalut. Pasti terjadi sesuatu pada Salsa. Aku harus tahu. Kuamati satu-persatu wajah mereka, tak ada yang membuka suara.
"Sesuatu terjadi pada Salsa, Ma?" Kini aku beralih menyerah mama.
"Kamu tenang dulu, Fi. Dokter itu juga tidak tahu kenapa Salsa bisa kejang-kejang, secara hasil rongent kepala, tidak menunjukkan adanya memar atau retak. Makanya dokter menganjurkan di CT Scan, supaya lebih pasti."
Serasa ada sesuatu yang menusuk dadaku. Sesak!
'Ya Allah, separah itukah keadaan Salsa?'
"Kita berdoa saja Nak Wafi buat Salsa, Semoga nggak ada masalah serius."
Kini Mama mertua yang menjawab. Aku, melunak. "Iya, Umi."
Aku tahu mereka semua sedang menutupi sesuatu dariku. Tak masalah, aku kenal Azzam, akan kutanyakan padanya sesaat lagi.
***
Malam semakin larut, rumah sakit mulai lenggang dari ramainya pengunjung. Tapi rasa penasaranku tak dapat di bendung. Aku akan menemui Azzam, mudah-mudahan dokter itu belum pulang.
Kuketuk pintu ruangan sahabat karibku dulu semasa di pesantren. Sekian tahun berpisah, Azzam tak banyak berubah. Dulu, saat hampir wisuda, aku sangat terkejut kala Azzam memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di bagian kedokteran umum. Padahal selama nyantri, nilaiku dan nilainya selalu bersading di nomor urut teratas. Nyatanya, dia merelakan undangan ke Cairo dan memberinya padaku.
"Azzam ... Azzam, dulu kamu memberiku undangan ke Cairo. Sekarang, apakah rencanaku untuk mengenalkan Salsa akan gagal?" batinku berkata.
"Masuk." Suara Azzam terdengar dari dalam. Kubuka pintu sedikit lebar, muat untuk tubuhku melewati.
Azzam menghentikan kegiatan menulis-nulis pada sebuah map besar. Ia tersenyum dengan sebuah gingsul yang menyembul, saat tahu aku yang datang menemuinya.
"Awafi? Silahkan masuk, silahkan masuk," sapanya ramah.
"Apa gerangan yang membawa antum kemari, bukannya pengantin baru itu harusnya di kamar?" godanya membuatku kikuk.
Aku menggaruk-garuk kepala, haruskah aku katakan padanya bahwa malam pertamaku selalu gagal oleh banyak hal?
"Ada yang mau kutanyakan, Zam?"
"Duduk dulu, Fi. Kamu mau nanya apa, tentang adikmu?"
Aku menarik napas panjang. "Iya, Zam. Jawaban yang diberikan kedua orang tuaku terasa ada yang menggantung, makanya aku kemari. Kamu masih punya waktu 'kan untuk menjelaskan keadaan Salsa?"
Dia tersenyum menanggapi ucapanku. Membuat suasana sedikit hangat. Kuharap dia tak menutup-nutupi apa yang seharusnya.
"Diagnosa sementara tumor. Tapi, ini hanya prediksi. Untuk diagnose pasti, harus melalui CT-Scan?"
"Tumor?"
Aku tak ingin percaya akan apa yang kudengar ini. Ya Allah, Salsa, apa yang sedang menimpamu ini? Jangan sampai ya Allah, dia harus sehat. Aku ingin dia sehat. Dia tidak boleh sakit ...
"Fi ... Fi!"
"Hah, iya Zam? Maaf, aku ...."
"Ini hanya diagnose awal, karena kepala adikmu bebas dari benturan, tapi mendadak dia kejang-kejang. Dan ini baru diagnosa sementara dariku lho, spesialis penyakit dalam. Tentu diagnose lebih lanjut nanti baru bisa diambil setelah adikmu selesai dilakukan pemeriksaan CT-Scan."
Aku bergeming sejenak, separah itukah diagnosa awalnya.
"Seberapa akurat sebuah diagnose awal itu, Zam? Maksudku, apa masih ada kemungkinan salah?"
Kutatap lekat manik matanya, Azzam terdiam sejenak. Mungkin sedang berpikir cara yang tepat untuk menjawab.
"Fi, yang tidak bisa berubah itu takdir Allah. Yang lain, selama itu prediksi manusia, tentu banyak yang meleset. Prediksi manusia dulu, tahun 2012 akan terjadi kiamat, tapi Alhamdulillah Allah masih memberikan kita kesempatan untuk hidup di dunia-Nya, bahkan hingga tahun 2019 ini."
Aku masih bergeming.
"Kita berdoa saja Fi, semoga Allah memberi yang terbaik untuk adikmu."
"Aamiinn ...."
Azzam benar, tidak ada satupun di dunia ini yang takkan berubah. Bahkan Allah mampu merubah sebuah takdir hanya karena doa.
"Ya Allah, berilah kebaikan untuk Salsa."
***
Pov Bila
Aku mengantar Umi dan Abah sampai di tempat parkiran. Meski sudah larut, tapi Abah tak bisa menginap di Jakarta. Kania, satu-satunya adik perempuanku, tinggal seorang diri di rumah. Ia pasti akan mengamuk jika tahu Abah tak jadi pulang malam itu juga.
Sampai di parkiran, sebelum menutup pintu mobil, tiba-tiba Umi berbisik sesuatu di telingaku.
"Bila, kamu ingat nggak, anaknya teman Abah yang tempo hari pernah mengkhitbah kamu sebelum Awafi?"
Deg!
Jantungku sontak bertabuh kencang tak karuan.
"Memang ada apa, Umi?"
"Lelaki itu, ada di rumah sakit iniii ... Dia, dokter yang nangani Mbak Salsa itu lo, Bila. Kebetulan sekali ya? Tadi dia menyapa Umi sama Abah. Umi kirain dia marah karena kamu tolak, tapi Masya Allah, anaknya ramah sekali."
Jangan tanya gimana perasaanku kini.
"Umi bilang nggak, kalau Bila sudah menikah dengan Mas Wafi?"
Umi tak menjawab, tapi ia tersenyum. Kalau sudah begitu, aku tahu apa yang sudah terjadi.
"Namanya juga nggak jodoh, Sayang. Nggak usah merasa risih, kalau ketemu, sapa aja ya. Biar nggak putus silaturrahmi. Siapa tahu nanti Dia mau nunggu adikmu tamat pesantren, 'kan tinggal setahun lagi?"
Tawa Umi berderai di sela-sela lantunan zikir dari music record.
"Yaudah, Umi sama Abah pamit ya. Kamu baik-baik ya Sayang, jadi istri yang baik, penyejuk mata, selalu ghadul bashar. Ingat, surga seorang istri ada di bawah telapak kaki suami."
Kuciumi telapak tangan umi. Sambil memperhatikan mobil mereka berlalu keluar pagar. Kutarik napas dalam, apa yang dikatakan Umi barusan begitu mengganggu pikiranku.
'Jangankan untuk menyapa, aku bahkan sudah menutupi identitasku pada Mas Azzam. Aku harus bagaimana jika nanti bertemu lagi dengannya?'
Lunglai, kulangkahkan kaki kembali ke ruangan tempat Mbak Salsa di rawat.
Subhanallah!
Mataku membulat menangkap sosok yang baru saja diceritakan Umi berjalan menuju parkiran. Dia mengenakan jas putih, sebelah tangannya memegang smartphone, sementara tangan yang lain memapah tas ransel di punggung.
'Ya Allah, aku harus gimana?'
Langkah lebarnya semakin mendekat. Sengaja atau tidak, ketika langkah kami saling berpas-pasan, dia melirik. Tapi dengan secepat kilat kembali meluruskan pandangan.
Kuhela napas saat tubuhnya telah berlalu di belakangku. Lelaki baik, memang seharusnya begini.
'Kamu sudah tahu 'kan Mas, bahwa aku sudah menikah. Terima kasih telah menjaga pandangan."
***
-----
#Istri_Pilihan
#Part 13 Kisah Yang Sepotong-sepotong
POV BiLa
Sudah lewat tengah malam, Mbak Salsa masih belum membuka matanya. Tak ada yang membuka suara, semua masih nampak tegang, termasuk aku.
Di sofa, Papa duduk sambil menonton televisi, sementara Mama duduk pada sebuah kursi di samping tempat tidur Mbak Salsa. Mas Wafi belum juga kembali, tadi keluar sebelum aku mengantar umi dan abah ke parkiran, katanya hanya sebentar mau nemui temannya. Tapi kok lama ya?
"Duduk, Bila. Kenapa berdiri terus daritadi?" Akhirnya suara papa yang terdengar pertama kali. Aku tersentak kaget, lalu mengangguk. Kupilih duduk di sofa yang berhadapan dengan lelaki paruh baya itu.
Tiba-tiba, Mbak Salsa menggerakkan tangannya. Sebuah rintihan pelan terdengar dari mulut beliau.
"Ma ...."
Mama mertua segera bangkit dan mendekatkan wajahnya pada Mbak Salsa.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
Mbak Salsa mengangguk. Tak ingin ketinggalan, akupun bangkit dan memilih mendekati Mbak Salsa.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Mama lagi.
"Kepalaku pusing, Ma?"
"Sabar Sayang, obatnya sedang bereaksi," jawab Mama mencoba menenangkan.
Papa bangkit ikut mendekat.
"Papa panggilkan dokter dulu, ya?" ucap Papa mertua sambil melangkah keluar.
Mbak Salsa melirik ke seluruh ruangan. Seperti sedang mencari seseorang, Mas Wafikah?"
"Mas Wafi kemana, Ma?"
Ternyata dugaanku benar.
"Wafi sedang menemui temannya, sebentar lagi balik kok."
Mbak Salsa malah berpaling menatapku.
"Maafkan Mbak ya, Bila. Sudah merepotkanmu."
"Nggak papa Mbak, sama sekali nggak merepotkan kok ...."
***
"Istirahat saja dulu ya, Mbak. Jangan banyak pikiran. Besok akan kita lakukan beberapa pemeriksaan."
Seorang dokter muda dengan nametag Faiza menjelaskan dengan seksama. Mbak Salsa menganggukkan kepala, tubuhnya masih terlalu lemah, sementara suara sangat sulit untuk dikeluarkan.
Mas Wafi kembali bertepatan dengan langkah dokter muda itu keluar ruangan.
"Maaf, Wafi lama di luar," ucapnya setelah berada di dalam.
"Kamu sudah sadar, Sa?" tanya Mas Wafi sambil mendekati bed Mbak Salsa, dan ia memilih berjalan ke sisiku.
Mbak Salsa kembali mengangguk. "Maaf Mas sudah merepotkan Mas dan Bila," ucapnya lirih.
"Nggak papa, kami nggak merasa direpotkan kok," jawab Mas Wafi sambil menatapku.
Entah kenapa aku membaca tatapannya seperti sebuah pesan, Mas Wafi berharap aku tak cemburu.
"Apanya yang sakit?" tanya Mas Wafi lembut.
"Kepala, Mas?"
"Sekarang masih sakit?"
"Sedikit."
"Pasti karena kamu terlambat makan tadi 'kan?"
"Nggak, Mas?"
"Lalu, kenapa, ada yang dipikirkan?"
Mbak Salsa terdiam menanggapi pertanyaan terakhir Mas Wafi. Apa mungkin ia memikirkan kami, sampai-sampai tubuhnya pun kejang-kejang. Astaghfirullah...
"Udah Fi, Salsa itu di suruh istirahat. Sebaiknya kamu dan Bila pulang, istirahat ...."
"Pulang, Ma?" sanggah Mbak Salsa.
"Biar Mama yang nemeni kamu, Sa. Papa juga pulang aja. Papa 'kan nggak boleh begadang, nanti migrainnya kambuh lagi."
Kuperhatikan raut wajah Mbak Salsa saat Mama menyuruh kami semua pulang, ada ketidakikhlasan yang terpancar di sana. Mungkinkah ia menginginkan Mas Wafi tidak pergi? Gusti... Aku nggak boleh cemburu.
"Yaudah, Mas pulang dulu, ya. Besok Mas kemari lagi. Kamu istirahat, jangan banyak pikiran. Terbitnya bulan sudah ada yang atur, mataharipun takkan lupa jadwalnya muncul. Allah sudah mengatur semua dengan sempurna. Manusia, hanya disuruh muhasabah diri sambil memperbaiki ibadah. Ingat ya, Sa. Pesan Mas ini. "
Mas Wafi tersenyum diikuti anggukan dari wanita lemah yang terbaring di hadapan kami. Detik kemudian, Mas Wafi menarik tanganku. Aku menahannya.
"Lho, kenapa? Kamu mau tinggal di rumah sakit juga?" tegur lelaki itu padaku.
"Boleh 'kan Mas?" jawabku ragu.
Mas Wafi bergeming, menatapku penuh tanya.
"Bila mau nemenin Mama jagain Mbak Salsa, Mas. Boleh?" Kuulang kembali permintaanku.
"Lho, jangan Bila. Pulang dan istirahatlah di rumah?" Mama mertua menimpali.
"Ma?" Mbak Salsa menarik tanganku, "biar Bila di sini, Ma. Aku suka keramaian?"
Deg!
Ya Allah, genggaman ini, kenapa aku begitu terenyuh?
"Jangan, Sayang. Bila 'kan ...."
"Boleh ya, Mas?" Aku kembali merengek pada Mas Wafi, tak peduli terhadap permintaan Mama.
Mas Wafi menghela napas. "Yaudah Ma, biar aja Bila menginap di sini semalam."
Mama mertua ikut menghela napas. Tapi, Mbak Salsa tampak semringah. Aku tahu bagaimana rasanya jadi orang sakit. Pasti kita berharap semua orang datang menjenguk, kalau bisa menginap semuanya di rumah sakit. Karena dulu, aku juga pernah di opname begini.
Papa mertua telah lebih dulu pamit. Ku antar Mas Wafi sampai ke depan pintu keluar.
"Sampai disini aja, ya," ucapnya lirih.
Kuanggukkan kepala, entah kenapa tiba-tiba hatiku seperti tak ingin berjauhan darinya.
Mas Wafi bergeming sejenak. Dia menyentuh tanganku.
"Tidur, jangan bergadang. Jangan sampai, kamu ikut-ikutan dirawat?" ucapnya sambil memukul-mukul telapak tanganku ke telapak tangannya.
Aku tersenyum, entah dia bisa melihatnya di balik cadar yang kukenakan.
"Mas pergi, ya?" Mas Wafi kembali menatapku, lalu perlahan melepas pegangannya. Dia membalikkan badan. Satu, dua, tiga, kuhitung langkahnya hingga tubuh gagah itu menghilang di balik koridor.
Aku menarik napas dalam, meluruhkan sebuah rasa yang kuyakini ini bernama kangen. Sepertinya, aku mulai merindui kehadirannya.
***
Pov Wafi
Aku berhenti sejenak di balik koridor, menatap dia yang tak bergerak dari berdirinya. Harusnya tadi kucium keningnya, tapi yasudahlah.
Kulangkahkan kaki dengan gontai ke parkiran. Andai ada dia, pasti perjalanan nggak akan sepi begini...
***
Mobil papa sudah terparkir sempurna di garasi. Aku memarkirkann mobilku di sebelahnya. Lalu turun dan memasuki rumah. Malam sudah sedemikian larutnya, mataku mulai perih, minta untuk segera dipejamkan.
Sampai di kamar, setelah mencuci muka dan mengganti pakaian. Kurebahkan tubuh di atas kasur. Serasa ada yang kurang, kubalikkan badan menatap kasur di sampingku yang tampak kosong. Harusnya ada istriku di tempat itu. Ah, kenapa tiba-tiba aku begitu mengingatnya.
Kuambil ponsel, membuka galeri, mencari foto-foto hasil jepretanku tadi siang di rumah sakit.
'Alhamdulillah, untung masih ada ini. Bisa sedikit mengobati rasa rinduku padanya.'
Aku menatap foto pertama, Bila berdiri di samping Salsa yang duduk di kursi roda.
'Cantik sekali.'
Kugeser lagi, aku paling suka foto yang satu itu. Fotoku saat merangkul pinggangnya.
'Nah ini dia.'
Kedua sudut bibirku tertarik menjauh saat melihat foto itu. Ini benar-benar ekspresi tanpa dibuat-buat.
'Bagus, andai tidak ada Salsa.Astaghfirullah ....'
Apa yang sedang aku pikirkan ini. Kuhela napas panjang. Perasaan yang aneh ini, apakah aku merinduinya?
Kumatikan layar ponsel, mencoba memejamkan mata. Bolak balik, tak juga mata ini mau terpejam. Kejadian hari ini terlintas bak slide film yang diputar di bioskop. Saat-saat romantis kami di atas cable car, lalu kejadian jatuhnya Bila ketika aku hendak menciumnya, memasak romantis berdua, makan malam yang indah. Senyumku merekah mengingat kejadian itu. Tapi, tiba-tiba hatiku tersentak, perkataan Azzam tentang diagnosa sementara Salsa, membuat kebahagiaan itu padam seketika.
'Arghhh ... kenapa bisa serumit ini?'
Kuacak-acak rambutku seperti lelaki yang sedang stress berat. Kugerakkan tangan meraih kembali ponsel yang sudah tersimpan di dalam laci. Lalu mulai membuka pesan whatsapp.
[Sudah tidur]
Ah, jadi juga aku mengirimkan pesan untuknya. Rasa ini, sepertinya hanya dia yang bisa menyembuhkan.
Kutunggu lama, tak ada balasan. Ck, pasti sudah tidur. Aku mulai pasrah, mungkin malam ini akan bergadang sampai pagi. Duduk zikir dan tadarus adalah solusi yang baik. Baru saja kugerakkan tubuh hendak ke kamar mandi untuk berwudhu, tiba-tiba, tertulis di room chat, 'Bila sedang mengetik pesan'
Semangat 45 kutunggu balasan yang bakalan di kirimkan Bila. Selang lima menit, kenapa nggak sampai juga pesannya. Sebenarnya apa sih yang mau kamu ketik dan kirimkan, apa sepanjang jalan kenangan hingga harus memakan waktu sampai sepuluh menit?
Aku mulai tak sabaran.
[Belum, Mas. Mas sendiri belum tidur]
Akhirnya....
Cepat-cepat kuketik balasannya.
[Belum ... kenapa belum tidur?]
Kutarik napas dalam sambil menunggu balasannya.
[Tadi, nungguin Mbak Salsa di suntik sama perawat. Tapi sekarang Mbak Salsa udah tidur, Mas. Mama juga udah tidur. Rencana Bila juga mau tidur. Mas kenapa belum tidur?]
Aku merenung sejenak, berusaha membaca perasaan. Kenapa aku belum tidur ya, padahal tadikan aku ngantuk berat? Apa karena ...
[Mas teringat seseorang?]
Balasku kemudian. Kuhirup kembali udara dalam-dalam, tiba-tiba jantungku berdetak kencang.
[Mas tenang aja, Mbak Salsa baik-baik aja kok. Mas nggak perlu khawatir, disini ada Bila sama Mama.]
Yah, sepertinya Bila salah tangkap. Aku memang mengkhawatirkan Salsa, tapi yang kurasakan saat ini berbeda, aku bukan memikirkan Salsa, tapi ...
[Mas bukan memikirkan Salsa, tapi kamu]
Kukirim cepat-cepat, tapi, pesanku pending, hanya satu checklist. Sepertinya Bila mematikan ponselnya. Ck, kalau begini, aku bisa nggak tidur semalaman. Kenapa sih nggak baca sampai habis? Pakai acara matikan ponsel segala lagi! Menyebalkan istriku ini. Awas kalau ketemu ya, akan kujadikan permen lolipop.
Tiba-tiba senyumku kembali merekah. Ah, shalat dulu, mengaji, biar Allah meridhai niatku besok.
***
Matahari mulai menyembul di ufuk timur, gagah sinarnya membangkitkan semangatku yang memang sudah membara ini. Semalaman aku mengaduh pada-Nya, tentang perasaanku, harapanku, cita-cita membangun rumah tangga sakinah bersama kekasih hatiku Radha Zanjabila. Hari ini, aku seperti mendapat suntikan luar biasa, buah dari muhasabah diriku semalaman.
Sengaja aku berpakaian parlente, biar mata gadisku terpana melihat lelaki tampan yang sudah menjadi suaminya ini. Hihihi..
Sarapan pagipun tak kulakukan, aku akan makan pagi with my love, di tempat yang romantis tentunya.
Sebelum pergi, kupastikan rambut tebal ini sudah tersisir rapi, tak lupa semprotan minyak wangi biar semakin memikat.
Bismillah. Kukendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sengaja berhenti di salah satu rumah makan berkelas untuk membeli makanan buat mama sarapan. Karena pagi ini Papa tidak bisa ke rumah sakit, beliau ada rapat penting.
Sesampainya di tempat pelayanan kesehatan itu, kuatur napas yang tiba-tiba terasa berat. Kok rasanya kayak mau ketemu Syehk favoritku dulu, semasa kuliah. Deg-degan begini.
Setelah membaca doa penenang kegundahan, sampai doa biar lisan mudah berbicara. Kugerakkan langkah menuju ruang rawatan. Perlahan kubuka pintu kamar. Orang yang pertama kali kulihat adalah, dia. Bila.
Wajahnya berseri, dia baru keluar dari kamar mandi. Tak ada cadar yang menutupi, sepertinya dia kecolongan.
"Lho Mas, pintunya nggak terkunci tadi?" Dia tampak kaget.
"Nggak," jawabku santai.
"Itu tadi Mama yang keluar, Bila. Makanya kunci kamarnya terbuka." Salsa mencoba membenarkan kejadian.
"Untung Mas yang masuk," ujarnya tampak sedih.
"Bila, sesuatu yang sudah dijaga, insya Allah, Allah akan menjaganya."
Kudekati dia sambil meraih jemari tangannya. Dia menatapku sejenak lalu menciumi tanganku mafhum.
'Ya Rabb, gadis ini begitu terpelihara ....'
"Apa itu Mas?" tanya Salsa melerai keadaan sejenak.
"Nasi buat Mama, kamu, nggak boleh makan makanan begini. Harus makan makanan yang disediakan rumah sakit, ya?"
"Tapi Salsa mau, Mas?"
"Nanti kalau udah sehat Mas belikan, ya? Kalau mau sembuh, harus sabar."
Salsa menggeleng. Kutatap wajah Bila, ia bergerak menuju nakas.
"Ini nasi Mbak, sudah diantar tadi." Bila menyendoki sesuap nasi yang sudah dicampur kuah sup.
Salsa menggeleng. "Bila, Mbak ini udah sehat, Mbak nggak kenapa-kenapa, kok. Mbak nggak selera nasi beginian, lembek gini kayak nasi orang sakit."
Aku tertawa mendengar ocehannya. "Kamukan emang lagi sakit, ayo dimakan makanannya."
"Nggak! Salsa mau yang di tangan Mas!"
Salsa mulai ngambek, dibuangnya wajah ke arah jendela.
Tiba-tiba Bila menyodorkan nampan berisi makanan ke arahku. Aku menaikkan kedua alis ke arahnya.
"Mas yang suapin?"
Membulat mataku menanggapi permintaannya. Apa dia nggak salah bicara?
"Ayo Mas?" Bila meyakinkan keraguanku. Kuhela napas sambil mengambil nampan di tangan istriku.
'Wanita ini, luar biasa!'
"Ayo Sa, makan. Mas suapin, ya?" Kuarahkan sesendok nasi ke mulut Salsa. Dia menatapku.
"Ayo makan?"
Akhirnya satu suapan lolos, lanjut suapan kedua, ketiga. Hingga semua nasi di piring putih itu habis tak bersisa. Kuserahkan piring itu pada Bila, dia menatapku sambil tersenyum.
Tak berapa lama, Mama kembali.
"Lho, udah ada Awafi di sini. Salsa udah makan?"
"Udah, Ma. Tadi Awafi suapin. Salsa kalau sakit kayak anak kecil, minta disuapin," godaku. Dia tersipu malu. Kupalingkan wajah melihat Bila, takut guyonanku malah membuatnya marah. Merasa aku menatapnya, ia pun balik menatapku.
'Mata yang indah. Aku tambah tak sabar ingin segera pergi dengannya.'
"Ma, itu ada nasi bungkus untuk Mama. Papa nggak bisa kemari pagi ini, itu beberapa kebutuhan ganti buat Mama udah disiapin Papa, di dalam tas itu." Kutunjuk sebuah tas favorit Mama tiriku yang sudah dimasukkan barang keperluannya oleh suaminya tercinta. Hihihi..
"Sekarang, Wafi mau ajak Bila sarapan diluar ya, Ma?"
Bila tampak kaget mendengar ucapanku. 'Aku kira tadi dia pasti ngambek karena nasi bungkusnya cuma satu, tapi perasaanku terpatahkan. Ia tampak tenang, nggak seperti kemarin. Bahkan menyuruhku menyuapi Salsa sarapan. Mungkin takkan kutemui wanita begini lagi di dunia. Alhamdulillah, dia milikku.'
"Mas mau kemana?" Salsa bertanya sambil menatapku.
"Dekat-dekat sini aja, kok. Kalau bisa jalan kaki aja lah."
"Owh."
Dia menghela napas. Mungkin pingin ikut juga. Entahlah, ini sarapan kami. Harusnya nggak ada orang lain, sekalipun Salsa sehat.
"Awafi pigi ya Ma. Yok, Bila?" Niatku sudah bulat, tak ada yang boleh mengganggu.
Bila nampak tercengang. "Ayok ...."
Kugandeng tangannya keluar ruangan. Dia menurut. Semoga apa yang akan kulakukan nanti, dia tidak lagi menolak. Aamiinn...
***
Bersambung
-----
#Istri_Pilihan
#Part14
Pov WAFI
***
Kami sampai di lantai dasar Kosenda Hotel. Janji pada Salsa hanya mencari makan di restaurant terdekat terpaksa kuingkari. Aku memilih tempat ini untuk memenuhi undangan sahabatku, Fitrah, owner rumah makan mewah itu.
Setelah duduk berbincang sejenak dengan sahabatku itu, akhirnya aku dan Bila punya waktu berdua. Menikmati ragam makanan yang sudah tersedia di atas meja. Mulai dari salted egg chicken, fried seafood noodle, waha fried rice, dan banana fritter.
Ramainya pengunjung restaurant ini, tak mengacaukan suasana romantis kami berdua. Karena aku sengaja memilih posisi duduk di pojokan, dekat dengan jendela yang langsung menghadap ke taman.
"Ayo, dimakan?" Aku menyilahkan Bila menyantap semua pesanan yang sudah kami pesan bersama.
Ia tersenyum dan mulai memakan dengan lahap waha fried ricenya. Tampaknya dia benar-benar kelaparan.
"Kenapa semalam ponselmu dimatikan?"
Pertanyaanku sejenak memecah keheningan, setelah kami selesai menghabiskan seluruh pesanan.
Bila menoleh sambil memperbaiki posisi cadarnya.
"Baterainya habis, Mas."
"Owh, sekarang udah dicharge belum?"
Bila tersenyum, "belum, Mas."
'Ya Salam, berarti pesanku yang semalam belum dibaca. Berarti aku harus menyatakan perasaanku secara langsung.'
"Bila, Mas ...."
"Kamar mandinya di mana ya, Mas?"
Yaaa....
Kuhela napas panjang sambil menyandarkan punggung ke kursi duduk. Sebelah tangan kugunakan untuk menyugar rambut. Baru saja mengumpulkan segenap keberanian untuk jujur, eh udah terhalang aja dengan hal-hal remeh begini.
"Yaudah, ayo Mas kawani?" ajakku padanya.
Dia cengengesan sambil mengikuti langkahku. Ah, gadis ini, kapanlah bisa kami bersama? Tampaknya aku harus meningkatkan stok sabar.
Lima belas menit aku duduk di kursi tunggu menuju toilet wanita. Para lelaki biasanya membiarkan istrinya ke toilet sendirian, tapi aku Awafi. Aku akan melindungi istriku, sekalipun ia ke toilet.
Dua orang wanita berlalu di hadapanku, berbisik sambil tersenyum. Ah, ngapain ngurusin yang begituan. Palingan juga lagi ngomongin kenapa ada cogan nyasar ke tempat ini.
"Maaf Mas, lama menunggu ya?"
Bila keluar dengan malu-malu.
"Nggak kok. Balik yuk. Mas harus ke Fakultas sebentar, tadi ada yang nelpon minta tolong Mas buat gantiin pembimbing 2 sidang mahasiswa hari ini. Kamu mau Mas antar ke rumah, atau ke rumah sakit?"
Bila terlihat berpikir sejenak. "Ke rumah sakit aja ya, Mas?"
Kuanggukkan kepala sambil menuju parkiran. Kusimpan niat pengakuan cinta untuk nanti malam, biar sekalian buka puasa.
Ah, jadi nggak sabar nunggu malam.
***
Perjalanan ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Sepanjang perjalanan, ada sesuatu yang begitu mendesak hatiku, kenapa sih perasaan ini nggak bisa menunggu malam.
Dalam setiap tarikan napas keselingin dengan zikir, biar perasaan yang menggebu di dada sedikit menemukan ketenangan. Jujur, ini kali pertama aku akan menyatakan perasaan cintaku pada seorang gadis. Gadis yang tak lain adalah istriku sendiri.
Ternyata begini rasanya, seperti mau buang hajat tapi nggak nemu kamar mandi. Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini.
Mobil berhenti di parkiran, Bila hendak membuka sabuk pengamannya. Cekatan aku mendahului tangannya untuk membuka sabuk itu.
Saking cekatannya, tanganku hampir mengenai bagian tubuhnya yang sedikit menonjol. Oooo...
Bila melirikku cepat. Kusenyumi gadis itu sambil menjauhkan tangan dan melanjutkan usahaku. Tapi, kenapa macet. Aku menggeser sedikit tubuhku untuk mengusahakan agar sabuk itu benar-benar terlepas dari tubuh Bila.
Tetap macet.
'Aduh, ada apa dengan benda ini?'
Sedikit pegal, kuangkat kepala yang tadi hanya fokus pada sabuk berwarna abu-abu itu.
Ya Salam, seketika netra kami bersitatap begitu dekat. Entah apa yang mendorong naluriku, tangan yang tadi memegang sabuk, kini berpindah. Membuka cadar yang menutupi wajah gadis ayu di hadapanku ini.
Dia tak menolak. Kepegang kedua lengannya. Lalu.... Ehm... Ehm...
Sensorrrr! Jangan dibayangkan ya!!! Hahahaha...
Kali ini berhasil tanpa gagal.
Lama, mungkin sekitar tiga menit. Owh, begini rasanya.
Setelah cukup mengurai rasa yang menyesaki dada, mata kami terbuka perlahan. Saling
Memandang penuh malu. Lalu tubuhku rebah kembali ke sandaran kursi. Kami terdiam seribu bahasa. Memaknai rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata.
"Alhamdulillah, satu benteng tabir telah terbuka. Meski aku belum tahu kapan tabir lainnya akan terbuka. Setidaknya ini adalah kata cinta yang harusnya kusampaikan sedari tadi.
"Bila, turun ya, Mas?" ucapnya lirih sekali.
Aku menoleh, dia masih menunduk. Kuambil cadar yang masih tergeletak di atas kedua pahanya, lalu kuikat asal diluar jelbabnya.
"Hati-hati, ya. Jaga hati dan jaga mata, Mas ... mencintaimu."
Bila mengangkat wajahnya saat aku menyatakan cinta. Dia menghadiahkan sebuah pelangi di wajahnya. Sangat indah.
'Ya Allah, nikmatnya memiliki kekasih halal."
Kalian mau?
***
Yang mau menikah, saya doakan disegerakan tahun ini ya. Yang masih SMA, atau kuliah, jaga diri kalian baik-baik. Karena sesuatu yang baik akan dipasangkan Allah dengan yang baik pula.
Mau nggak dapat bekasan? Pasti nggak mau ya? Maka jangan jadikan anak gadis orang bekasan, dan jangan mau dibekasin sama cogan. Setuju ya? Hihihi..
Jangan mudah tergoda dengan kalimat, 'maukah kamu jadi pacarku?'
Ingat, jika seseorang mengajak kalian pacaran, sebenarnya secara tidak langsung mereka mau menyatakan, 'maukah kamu berzina denganku?'
So, jauhi pacaran ya, pacaran islami nanti setelah menikah. Yang laki-laki, ayo semangat, rajin belajar dan bekerja, biar kelak bisa melamar permaisuri dambaan hati.
Semnmangat!!
Hihihi.. Abaikan yang sudah menikah, takut ada yang masih jomlo ne yang baca cerita saya ini. Saya sayang kalian semua, dunia akhirat.
***
Pov Bila
Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok dan esok lusa. Yang kita ketahui hanya sesuatu yang sudah terjadi kemarin. Seperti hari ini, sebuah kecupan yang datang dari kekasih halalku, terjadi tanpa bisa kuprediksi sebelumnya.
Berdebar, tentu saja. Sangat mendebarkan, karena ini adalah kecupan pertama yang seumur hidup baru aku rasakan. Subhanallah, aku begitu menikmatinya. Semoga Mas Wafi juga merasakan apa yang aku rasakan ini.
Dengan gugup kulangkahkan kaki menuruni mobilnya. Tapi sebuah pesan yang ia sebut tadi membuat dadaku berdesir hebat.
"Hati-hati, ya. Jaga hati dan jaga mata, Mas ... mencintaimu."
'Ya Allah, benarkah yang kudengar ini? Ternyata ia mencintaiku."
Ingin kujawab, akupun mencintaimu Mas, tapi aku malu. Biarlah lain kali kubisikkan di telinganya dengan mesra, jika akupun sangat sangat mencintainya.
Kulangkahkan kaki meninggalkan mobil Mas Wafi yang tak juga pergi. Hingga aku menghilang di pintu utama, barulah kendaraan beroda empat itu perlahan menghilang dari pandangan.
***
Pagi menjelang siang, rumah sakit tampak begitu ramai. Mataku menyisir seluruh lantai satu ini, sambil terus berjalan menuju lift agar sampai ke lantai tiga, tempat Mbak Salsa dirawat.
Menunggu sejenak, tak lama lift pun terbuka. Beberapa orang terlihat keluar dari ruangan kecil itu. Entah kenapa seperti ada yang menusuk dadaku pelan, tak bisa kugambarkan ketidakenakan yang kurasakan. Bismillah semoga tidak ada masalah apa-apa.
Tidak ada orang lain yang menunggu, hanya aku. Tiba-tiba, saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menyembul diantara kedua belah pintu yang hampir merapat.
'Mas Azzam!'
Jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Mas Azzam menghentikan langkahnya, saat itu aku berharap dia tak jadi masuk. Namun, harapanku tak terkabul. Mas Azzam melirik jam yang melingkari tangannya, lalu menatapku ragu dan, dia masuk.
Sejenak hening, kami tak berbicara. Berdiri di dua sudut berbeda. Pun tanpa menoleh.
"Mau ke lantai berapa?" tanyanya memecah keheningan.
"Tiga, Mas."
Mas Azzam menekan tombol sesuai yang kusebutkan, karena memang posisinya lebih dekat. Detik berikutnya kami kembali diam. Sampai akhirnya, tanda lift telah sampai lantai tiga berbunyi. Aku bersiap keluar. Tiba-tiba lift berkuncang pelan. Terdengar bunyi tut tut berulang kali.
'Astaghfirullah, kenapa ini?'
Mas Azzam menekan tombol pembuka, tapi pintu tetap tak bergerak.
"Kenapa liftnya, Mas? Macet?"
Aku mulai panik.
Dia menekan kembali tombol pembuka, tetap pintu tak tergerak. Mas Azzam menekan tombol menuju ke lantai satu, juga tak bereaksi.
"Liftnya macet," sebutnya tenang.
"Ya Allah, Mas. Jadi gimana?" Aku semakin panik, terjebak di dalam lift dengan lelaki bukan mahrom, apa kata dunia? Bisa timbul fitnah. Bagaimana jika ketika lift terbuka, mendadak Mama mertua ada di hadapanku, bisa-bisa dipecat jadi menantunya nanti.
Hiks.. Hiks...
"Jangan panik. Mas coba minta bantuan dulu, ya?"
Mas Azzam memencet tombol pertolongan, tak ada jawaban.
'Ya Allah, cobaan apa yang sedang Kau timpakan ada hamba ini?'
"Jangan takut ya, setidaknya mereka sudah tau kalau kita sedang terjebak di lift ini. Tenang, nggak papa. Berdoa aja, biar kita bisa segera keluar."
Lelaki berjas putih itu mencoba menenangkanku. Kuhela napas panjang.
'Mas Wafi, aku kejebak dilift ini ...," lirih batinku. Akankah aku menghabiskan hidupku di dalam lift ini, kecupan tadi, setidaknya seumur hidup aku sudah merasakannya darimu Mas. Batinku terus meracau tak jelas.
Aku menoleh, saat kusadari Mas Azzam bergerak. Entah, rasanya seperti takut. Astaghfirullah, pikir apa aku ini. Mas Azzam ternyata mendudukkan tubuhnya sambil bersandar ke dinding lift. Akhirnya, aku juga ikutan duduk bersandar, sambil dalam hati terus berdoa.
"Selamat, ya," ucapnya kemudian.
Aku menoleh.
"Untuk apa?"
"Pernikahanmu dan Awafi. Dia sahabatku, satu pesantren dulu."
Aku menarik napas dalam. Percakapan ini sangat tidak ingin aku dengar.
"Terima kasih, Mas."
"Kenapa Mas ditolak waktu itu?"
'Astaghfirullah, aku harus jawab apa?'
Kupilih bergeming tanpa menanggapi pertanyaannya. Semoga Mas Azzam tidak lagi mengajakku bicara.
"Maaf Mas banyak tanya, ya. Mas hanya penasaran."
Aku masih bergeming.
"Awafi memang lebih tampan, banyak yang suka. Termasuk kamu, makanya lamarannya diterima. Hihihi ...?"
Mas Azzam tersenyum, memperlihatkan giginya yang rapi.
Haruskah aku jujur? Mungkin ada baiknya aku membuka suara.
"Maaf Mas, sesuatu yang tak berjodoh pasti ada aja cara Allah untuk menggagalkan," jawabku singkat.
"Iya, Mas tau. Wafi sangat beruntung mendapatkan istri shalehah seperti kamu," pujinya padaku.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dari luar.
"Sepetinya pertolongan sudah datang."
"Alhamdulillah."
Detik berikutnya, pintu lift perlahan terbuka. Aku dan Mas Azzam masih belum beranjak, masih saling bersandar pada dinding.
Sebuah lengkungan tercetak di wajahku, saat dua sequrity menyembul di balik dua sisi pintu lift.
Masya Allah, setelah dua sequrity itu masuk untuk membantu kami, seorang lelaki gagah tampak mematung di belakang mereka. Lelaki yang setengah jam tadi baru saja meletakkan bibirnya pada bibirku.
"Mas Wafi?"
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar