#Part_6 by Nev Nov
#CEO's Bride.
Jovanka mengamati mendung yang menggantung dari tempatnya berdiri. Kecemasan terlihat di wajah. Dia lupa membawa jas hujan dari rumah. Saat pagi terpikir untuk mampir ke mini market dan membeli jas hujan plastik. Namun dia lupa.
“Kamu ijin pulang cepat mau kemana, Jo?” tanya Irma saat melihat Jovanka mengemasi barang-barang sebelum waktu kerja berakhir.
“Ada perlu, penting.”
Jovanka enggan mengatakan jika keperluannya adalah bertemu dengan seorang sahabat saat kuliah. Sahabatnya baru pulang dari Eropa setelah bertahun-tahun menetap di sana. Seperti yang dijanjikan, sang teman akan mentraktirnya makan di restoran hotel bintang lima.
Di sinilah dia, menatap teras lobi kantor dengan kuatir akan hujan. Handphone bergetar, terlihat nama Mika di layar. Jovanka menggeser layar terbuka dan meletakkan handphone di telinga.
“Jojo, kamu nggak akan ingkar, kan?” suara Mika yang melengking menembus pendengaran Jovanka.
“Nggaklah, ini udah mau jalan ke sana,” jawab Jovanka sambil melangkah melintasi parkiran menuju motornya.
“Baiklah, kita ketemu di sana. Jangan lupa bawa pacar, ya?”
Ucapan penutup dari Mika membuat Jovanka tertawa miris. Mika tahu jika dia sudah bertunangan dan pasti menduga dia akan membawa sang tunangan ke acara reuni. Tidak ada yang tahu jika Mahendra bukan lagi kekasihnya. Mendesah pasrah, Jovanka memacu motor menuju hotel.
Sial baginya, saat motor memasuki halaman parkir hotel, hujan mulai turun. Meski sudah berusaha secepat mungkin untuk berteduh, tetap saja kemeja dan rambutnya basah. Badannya sedikit menggigil saat memasuki lobi hotel yang berpendingin. Sambil mengibaskan rambutnya yang basah, dia memencet lift untuk menuju lantai tiga. Restoran tempat dia janjian berada di sana.
Mika mengirim pesan akan datang telat karena terjebak macet. Demi untuk mengurangi rasa dingin dan untuk menjaga penampilan agar lebih enak dilihat, Jovanka mengelap rambut dengan tisu sebelum masuk ke dalam restoran. Tersentak kaget saat sebuah suara yang dia kenal menyapanya.
“Jojo?”
Dia mendongak dan menatap mata hitam kebiruan milik Max. Selanjutnya apa yang dikatakan Max membuatnya bengong.
Masih dalam keadaan bingung, dia digandeng masuk dan dikenalkan sebagai calon istri sang CEO. Jovanka berdiri gemetar dalam rangkulan Max serta menerima tatapan membunuh dari Amarasi. Dia bahkan sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.
“Kamu berani membawa gembel ini datang?” desis Amarisa sengit.
Max memandangnya sekilas. “Jangan mengatakan hal yang buruk tentang calon istriku, Amarisa. Dia seribu kali lebih baik darimu.”
Pembelaan Max pada Jovanka membuat Amarisa melotot marah. Sementara Steve terdiam, memandang Jovanka yang berdiri di sebelah Max. Bersikap seolah tidak kaget dengan kedatangan Jovanka yang tiba-tiba.
“Ayo, duduk sini, Sayang. Kenalkan dulu, ini Pak Johanes,” ucap Max lembut, menarik bahu Jovanka dan mengenalkannya pada Pak Johanes.
“Wah-wah, kejutan manis,” ucap Pak Johanes sambil menaikkan sebelah alis saat Jovanka mencium punggung tangannya.
“Apa kabar, Pak?” sapa Jovanka gugup.
“Baik, sini duduk.”
Pak Johanes menunjuk kursi di dekatnya yang semula tempat Max. Mau nggak mau Steven menggeser duduknya dan membiarkan Max bersebelahan dengan Jovanka.
“Katakan padaku, Max. Kamu melepas Amarisa demi gadis ini?” tanya Pak Johanes terus terang.
Dengan tenang, Max meraih tangan Jovanka dan mengecupnya. “Cinta itu buta, Pak. Dan hati saya jatuh pada gadis ini dengan membabi-buta,” ucapnya pelan. Memandang Jovanka yang menunduk.
Tindakannya membuat Jovanka makin gemetar. Hangat ciuman Max di punggung tangannya makin membuatnya kehilangan konsentrasi. Dia datang ke hotel untuk reuni, bukan untuk menemani Max dan mengaku jadi calon istri. Apa yang terjadi sebenarnya? Batin Jovanka bingung.
“Siapa namamu?” tanya Pak Johanes padanya.
“Jovanka, Pak. Dipanggil Jojo,” jawab Jovanka pelan.
“Bekerja di mana?”
Jovanka menggigit bibir bawahnya, melirik sekilas pada Max sebelum menjawab, “Vendros Impersia, bagian administrasi.”
Dengkusan tidak sopan terdengar dari Amarisa. Wajahnya merah padam dan menyiratkan kekesalan teramat dalam. Tangan bersendekap memandang Jovanka dan Max bergantian.
“Wah, cinta lokasi ternyata.” Pak Johanes berkata sambil mengangguk geli. “Kapan pernikahannya, Max?”
Max terlihat berpikir sejenak lalu menjawab enteng. “Tiga minggu lagi jika tidak aral melintang.”
Jawabannya membuat Jovanka tanpa sadar terkesiap. Begitu pula Steve yang hampir menjatuhkan sendok kecil yang dia gunakan untuk mengaduk kopi.
“Pernikahan sederhana hanya dihadiri keluarga,” lanjut Max lancar, berbicara seolah pernikahan memang sudah lama dia rancang. “Maklum, Jojo bukan tipe yang suka kemewahan, Pak.”
Dengan penuh kelembutan, Max mengelus rambut Jovanka yang basah. Dia meraih tisu di atas meja dan mulai mengelap rambut gadis yang dia akui sebagai calon istri.
“Sir, aku bisa sendiri,” tolak Jovanka pelan.
“Santai, aja. Jangan kaku begitu? Mentang-mentang ada banyak orang,” timpal Max mesra, seakan sudah biasa jika rambut Jovanka basah dia yang akan mengelap.
Jovanka menelan ludah, jantungnya bertalu-talu. Tangan Max yang besar terasa lembut di rambutnya.
“Baiklah kalau begitu, saya tunggu undangan pernikahan kalian. Sekalian untuk membahas kontrak.”
Pak Johanes bangkit dari duduknya diikuti oleh yang lain termasuk Amarisa.
“Pak, bisakah dipertimbangkan kembali masalah ini?” Amarisa berkata dengan tidak senang. “Mereka berdua bermain di belakang saya dan sengaja menipu,” tunjuk Amarisa pada Jovanka dan Max.
Merasa jika dia harus membela Max, Jovanka menjawab pelan. “Kami sudah saling mengenal sebelum Anda mengajukan lamaran pertunangan. Jika memang Max ingin menipumu, tentu dia bisa menikahimu dan tetap menjalin hubungan denganku.”
“Kau!” Amarisa membentak marah. “Jangan ikut campur!”
“Suda-sudah, aku paham sekarang.” Pak Johanes menghentikan perdebatan. “Amarisa, kita bisa membahas kerja sama yang lain jika kamu juga sudah menikah.”
Pernyataan Pak Johanes bagaikan ketuk palu bagi Amarisa.
“Max, aku sungguh tidak menduga tentang calon istrimu. Jarang sekali seorang milyader memilih gadis sederhana. Kita bertemu di pernikahan kalian.”
Dengan ucapan terakhir, Pak Johanes meninggalkan meja. Di depan pintu ada dua orang berseragam safari menyambutnya dan mengiringi langkahnya menyusuri lobi hotel menuju lift.
Jovanka terperenyak di kursinya, menyambar air putih dalam gelas di depan Max dan menghabiskannya dalam tegukan besar. Tiba-tiba terdengar musik yang berasal dari permainan piano di tengah restoran dan membuat hatinya makin gundah.
“Tak kusangka, Max. Kamu menjadikan gembel ini sebagai istrimu,” ucap Amarisa sinis. Menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi.
“Itu urusan pribadi kami, orang luar sepertimu tidak berhak ikut campur,” jawab Max tenang. sambil menyeruput kopinya. Melirik Steve yang sedari tadi terdiam.
“Seleramu benar-benar payah!”
“Sekali lagi kau menghina calon istriku, kusuruh satpam mengusirmu,” sergah Max panas.
Amarisa bangkit dari kursi sambil memandang Jovanka yang menunduk. Tangannya menyambar gelas berisi air putih dan mengguyurkannya ke wajah Jovanka.
“Rasakan ini, gadis gembel!”
Tindakannya membuat Jovanka menjerit kaget karena disiram tiba-tiba. Begitu pula dengan Max dan Steve. Beberapa pengunjung restoran melihat kejadian di meja mereka dengan penasaran. Pemain piano bahkan menghentikan permainannya karena kaget mendengar jeritan Amarisa. Beberapa pelayan datang menghampiri dengan kain lap di tangan.
“Steve, amankan dia!” perintah Max pada sepupunya.
Steve mengangguk, mengintari meja dan merangkul pundak Amarisa.
“Mau apa kamu?” tanya Amarisa sengit. Memandang Max yang sibuk membantu Jovanka membersihkan air dari wajah dan rambutnya. Meronta dari rangkulan Steve.
“Kita keluar sekarang, di sini banyak pengunjung. Kamu pasti nggak mau namamu terpampang di halaman berita sebagai mantan tunangan yang mengamuk?” bisik Steve sambil menarik Amarisa keluar.
“Dua kali kalian mempermalukanku! Rasakan pembalasanku, Max Vendros!”
Meninggalkan ancaman terakhir, Amarisa diseret Steve keluar dari restoran. Dengan sigap, para pelayan datang untuk membersihkan lantai dan meja yang basah.
Max mengajak Jovanka pindah meja yang lebih kecil. Memesan teh herbal panas untuk Jovanka menghangatkan badan.
“Apa kamu mau aku pesankan baju kering untuk ganti?” tanya Max padanya.
Jovanka menggeleng. “Tidak usah, Sir. Bentar lagi juga kering.”
Saat pelayan menghidangkan teh, handphone Jovanka bergetar. Dia mengerutkan kening tatkala melihat nama Mika tertera di layar.
“Hallo?”
“Jojo, maaf! Mobilku mengalami kecelakaan kecil jadi tidak bisa datang ke retoran sekarang. Maaf, Jojo!” suara Mika yang histeris membuat Jovanka mengembuskan napas panjang.
“Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja. Kita ketemu lain kali.”
Diiringi dengan permintaan maaf yang bertubi-tubi dan janji untuk bertemu lain waktu, Mika memutuskan sambungan telepon. Jovanka menatap handphone di tangannya dengan perasaan lega. Mau tidak mau dia merasa akan lebih baik jika Mika tidak melihat Max di sini.
“Minum tehmu dan ikut aku sekarang,” perintah Max padanya.
Dengan heran Jovanka bertanya, “Mau kemana?”
“Ke rumahku, membuat kontrak pernikahan.”
“Apa? Ini seriusan, Sir?” tanya Jovanka sambil menggigit bibir bawahnya.
Max mengangguk. “Ini serius dan aku bukan hanya meminta tolong padamu tapi juga memohon untuk kamu setuju menikah denganku. Bisa kupastikan, aku tidak akan pernah menyentuhmu.”
“Tapi, Sir, ini terlalu … mendadak.”
“Terpaksa, jika tidak dilakukan secepatnya maka aku akan kehilangan proyek jutaan dollar.” Max meraih tangan Jovanka dan mengenggamnya. “Aku mohon, Jo. Tolong aku. Apa pun yang kamu mau akan aku turuti, asal masih dalam batas wajar.”
Permohonan dari Max membuat Jovanka tidak hanya bingung tapi merasa melayang di udara karena pusing. Kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan. Kejadian dengan Max yang tiba-tiba sungguh suatu pukulan yang tak terduga. Bagaimana dia bisa menolak jika yang memohon adalah sang boss besar? Lalu bagaimana menjelaskan pada keluarganya, perihal dia akan menikah dengan milyader?
Dalam kebimbangan dan kebingungan, Jovanka diam saat digiring masuk ke dalam mobil Max. Dia duduk bersebelahan dengan Max di jok belakang sementara Steve duduk di samping sopir. Mobil melajur mulus meninggalkan hotel dengan para penumpang di dalamnya hening tanpa suara.
Jovanka tidak tahu kemana dia dibawa pergi, hingga menyadari jika mobil memasuki kawasan perumahan elite di Selatan Jakarta. Mulutnya membuka, dia ternganga menatap pagar tinggi yang membuka dan mobil membawanya masuk ke halaman rumah yang sangat luas. Ada semacam kebun bunga di bagian tengah halaman yang ditata sangat rapi. Halaman ditutup oleh batu keramik yang keras dan kokoh. Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah dengan empat pilar tinggi menyangga teras yang tertutup atap putih. Ada lampu kristal besar berpendar terang dan tergantung di langit-langit teras.
“Ayo, Jo. Masuk, selamat datang di rumahku,” ucap Max sambil membuka pintu.
Jovanka turun dari mobil. Dengan langkah berat masuk melewati pintu dan dihadapkan pada pemandangan ruang tamu yang luas dan mewah. Ada banyak lampu kristal tergantung di langit-langit ruang tamu bergaya Eropa. Sofa putih dengan pinggiran dan kaki berwarna kuning madu dengan bantalan warna emas terletak persis di tengah ruangan. Panel dinding kayu berwarna keemasan, menyatu dengan dinding kaca yang menghadirkan pemandangan kolam renang di bagian belakang ruang tamu. Dari bagian dalam dinding ada semacam cahaya temaram berwarna keemasan yang membuat ruangan terasa lebih mewah.
Jovanka sedang mengamati tangga melingkar yang menuju lantai atas dengan ukiran rumit di bagian pegangan dan berjengit kaget saat Max menepuk punggungnya.
“Ayo, duduk.”
Tidak lama seorang wanita setengah baya dengan seragam biru tua datang menghampiri. Postur tubuhnya yang kecil dengan rambut yang digelung rapi mengingatkan Jovanka akan penampilan ibu-ibu PKK.
“Selamat malam, Tuan?” sapanya ramah pada Max.
“Bu Erna, ini tamu kita, Jovanka. Tolong buatkan sesuatu yang segar dan menghangatkan tubuh.”
Wanita yang disapa Bu Erna mengangguk sopan mendengar perintah Max. Segera dia membalikkan tubuh menuju bagian dalam rumah.
Saat Jovanka baru saja duduk di sofa yang empuk. Datang dua pelayan berseragam dengan teko di atas nampan. Menghidangkan minuman di dalam teko kaca . Ada satu set cangkir porselen beserta camilan di atas piring besar.
Jovanka menyadari dia hanya berdua dengan Max karena dalam keasyikannya memperhatikan rumah Max dia tidak menyadari Steve yang menghilang.
“Sir, kenapa kita ke sini?” tanya Jovanka bingung. Matanya masih belum bisa menyesuaikan dengan kemewahan yang menyergapnya.
“Seperti yang tadi kukatakan, untuk membuat kontrak,” jawab Max santai sambil melepaskan jas dan dasi dan menyampirkannya ke lengan sofa.
“Kamu santai saja, jangan tegang begitu,” goda Max sambil memandang geli ke arah Jovanka yang melirik kanan dan kiri.
Tidak lama, Steve keluar dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Dia memberikan pada Max terlebih dahulu.
Max membaca tulisan yang tertera di atas kertas lalu meletakkannya di hadapan Jovanka.
“Ini, kamu baca. Ada poin-poin tertentu untuk diterapkan pada pernikahan kita.”
Jovanka mengembuskan napas panjang dan mengambil kertas dengan tangan gemetar. Melirik Steve yang menuang teh untuk dirinya sendiri dan duduk di kursi tak jauh darinya.
“Bilang saja, kalau ada yang kamu tidak suka. Kita bisa diskusikan,” ucap Max.
Jovanka makin bingung saat membaca angka-angka di dalam kertas. Namun satu yang menarik perhatiannya, adalah pernikahan berlangsung selama satu tahun.
“Entah kenapa, aku merasa tidak cocok untuk menjadi istri, Anda,” ujar Jovanka sambil meletakkan kertas ke atas meja.
“Tepat, itulah yang ada dalam pikiranku,” sela Steve keras. “apa sih, yang kamu lihat dari dirinya, Max? Kamu bisa dapatkan wanita mana pun untuk menjadi istrimu bahkan sekalipun istri bayaran, dan kamu memilih, dia?” tunjuk Steve pada Jovanka dengan tatapan meremehkan.
Mendengar perkataan Steve, Jovanka merasa panas. “Seperti aku itu bagaimana? Miskin maksudmu?” tanyanya pada Steve.
“Nah, itu tahu,” jawab Steve sambil memutar bola mata. Seolah-olah dia merasa senang karena Jovanka mengerti perihal kebenaran di antara mereka.
“Sudah cukup!” sela Max mengatasi perdebatan.
“Steve, ini sudah keputusanku. Dan aku tidak akan mengubahnya.”
Steve yang semula membuka mulut hendak memprotes akhirnya mengangkat bahu dan menyeruput tehnya kembali.
“Jovanka, dengarkan aku,” pinta Max pada Jovanka yang terlihat gelisah di kursinya. “Aku tidak hanya meminta tolong padamu tapi juga memaksa, jika kamu tidak bisa menuruti permintaanku, maka silahkan keluar dari Vendros Impersia.”
Bukan hanya Jovanka yang kaget mendengar perkataan Max tapi juga Steve.
“Sir, apakah ini benar?” tanya Jovanka dengan perut melilit. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut dan membuatnya tidak hanya gemetar tapi juga pingin muntah.
“Iya, aku mengancammu. Tapi kalau kamu menuruti permintaanku, maka segala fasilitas dari mulai rumah, mobil dan uang belaja bulanan akan kamu dapatkan.”
Jovanka menunduk, merasa kalah telak. Dia memikirkan nasib keluarganya jika dia keluar dari pekerjaannya yang sekarang. Memang dia bisa melamar ke perusahaan lain tapi belum tentu gajinya akan sebagus di Vendros Impersia.
“Pikirkan, apa yang bisa kamu dapatkan jika kamu menandatangi surat ini, Jovanka.”
Jovanka mengusap wajah, menekan bola matanya dengan jari-jari. Kepalanya terasa lebih berdenyut-denyut sekarang. Max, pernikahan kontrak dan statusnya yang kelak menjadi istri bayaran sungguh membuat kepalanya ingin pecah.
“Baiklah, Sir. Jojo bersedia,” ucapnya pelan setelah keheningan lama.
Desah napas kelegaan terdengar dari mulut Max.
“Lusa aku akan ke luar negeri selama satu minggu. Ada Steve yang akan membantumu menyiapkan segalanya. Dia akan memberimu kartu kredit dengan nilai tak terbatas. Gunakan untuk membeli keperluanmu.”
Jovanka hanya mengangguk kecil. Tidak benar-benar menyimak perkataan bossnya.
“Soal baju pengantin dan make-up serta hal yang menyangkut detil upacara pernikahan tidak usah pusing, aku yang mengurus,” sela Steve dengan suara pelan. “Kamu tanda tangani saja kontrak ini dan selamat menjadi orang kaya dadakan.”
“Steve,” tegur Max pelan.
Dengan geram, Jovanka menandatangani kertas yang disodorkan padanya. Merasa kesal pada Steve yang meremehkannya terang-terangan.
“Di mana kita akan tinggal setelah menikah, Sir?” tanyanya tiba-tiba. Mendongak dan bertatapan dengan Max yang menaikkan sebelah alisnya.
“Di sini, tentu saja, Jovanka.”
Jovanka merutuk kebodohannya. Tentu saja ini rumah Max dan di mana dia akan tinggal jika tidak di rumah sebesar istana ini? Tanpa sadar dia melirik Steve dan mendapati laki-laki tampan dengan rambut pirang memandangnya penuh permusuhan. Jovanka merasa roda kehidupan membawanya berputar terlalu cepat hingga memusingkan.
*****
#CEO's Bride.
Jovanka mengamati mendung yang menggantung dari tempatnya berdiri. Kecemasan terlihat di wajah. Dia lupa membawa jas hujan dari rumah. Saat pagi terpikir untuk mampir ke mini market dan membeli jas hujan plastik. Namun dia lupa.
“Kamu ijin pulang cepat mau kemana, Jo?” tanya Irma saat melihat Jovanka mengemasi barang-barang sebelum waktu kerja berakhir.
“Ada perlu, penting.”
Jovanka enggan mengatakan jika keperluannya adalah bertemu dengan seorang sahabat saat kuliah. Sahabatnya baru pulang dari Eropa setelah bertahun-tahun menetap di sana. Seperti yang dijanjikan, sang teman akan mentraktirnya makan di restoran hotel bintang lima.
Di sinilah dia, menatap teras lobi kantor dengan kuatir akan hujan. Handphone bergetar, terlihat nama Mika di layar. Jovanka menggeser layar terbuka dan meletakkan handphone di telinga.
“Jojo, kamu nggak akan ingkar, kan?” suara Mika yang melengking menembus pendengaran Jovanka.
“Nggaklah, ini udah mau jalan ke sana,” jawab Jovanka sambil melangkah melintasi parkiran menuju motornya.
“Baiklah, kita ketemu di sana. Jangan lupa bawa pacar, ya?”
Ucapan penutup dari Mika membuat Jovanka tertawa miris. Mika tahu jika dia sudah bertunangan dan pasti menduga dia akan membawa sang tunangan ke acara reuni. Tidak ada yang tahu jika Mahendra bukan lagi kekasihnya. Mendesah pasrah, Jovanka memacu motor menuju hotel.
Sial baginya, saat motor memasuki halaman parkir hotel, hujan mulai turun. Meski sudah berusaha secepat mungkin untuk berteduh, tetap saja kemeja dan rambutnya basah. Badannya sedikit menggigil saat memasuki lobi hotel yang berpendingin. Sambil mengibaskan rambutnya yang basah, dia memencet lift untuk menuju lantai tiga. Restoran tempat dia janjian berada di sana.
Mika mengirim pesan akan datang telat karena terjebak macet. Demi untuk mengurangi rasa dingin dan untuk menjaga penampilan agar lebih enak dilihat, Jovanka mengelap rambut dengan tisu sebelum masuk ke dalam restoran. Tersentak kaget saat sebuah suara yang dia kenal menyapanya.
“Jojo?”
Dia mendongak dan menatap mata hitam kebiruan milik Max. Selanjutnya apa yang dikatakan Max membuatnya bengong.
Masih dalam keadaan bingung, dia digandeng masuk dan dikenalkan sebagai calon istri sang CEO. Jovanka berdiri gemetar dalam rangkulan Max serta menerima tatapan membunuh dari Amarasi. Dia bahkan sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.
“Kamu berani membawa gembel ini datang?” desis Amarisa sengit.
Max memandangnya sekilas. “Jangan mengatakan hal yang buruk tentang calon istriku, Amarisa. Dia seribu kali lebih baik darimu.”
Pembelaan Max pada Jovanka membuat Amarisa melotot marah. Sementara Steve terdiam, memandang Jovanka yang berdiri di sebelah Max. Bersikap seolah tidak kaget dengan kedatangan Jovanka yang tiba-tiba.
“Ayo, duduk sini, Sayang. Kenalkan dulu, ini Pak Johanes,” ucap Max lembut, menarik bahu Jovanka dan mengenalkannya pada Pak Johanes.
“Wah-wah, kejutan manis,” ucap Pak Johanes sambil menaikkan sebelah alis saat Jovanka mencium punggung tangannya.
“Apa kabar, Pak?” sapa Jovanka gugup.
“Baik, sini duduk.”
Pak Johanes menunjuk kursi di dekatnya yang semula tempat Max. Mau nggak mau Steven menggeser duduknya dan membiarkan Max bersebelahan dengan Jovanka.
“Katakan padaku, Max. Kamu melepas Amarisa demi gadis ini?” tanya Pak Johanes terus terang.
Dengan tenang, Max meraih tangan Jovanka dan mengecupnya. “Cinta itu buta, Pak. Dan hati saya jatuh pada gadis ini dengan membabi-buta,” ucapnya pelan. Memandang Jovanka yang menunduk.
Tindakannya membuat Jovanka makin gemetar. Hangat ciuman Max di punggung tangannya makin membuatnya kehilangan konsentrasi. Dia datang ke hotel untuk reuni, bukan untuk menemani Max dan mengaku jadi calon istri. Apa yang terjadi sebenarnya? Batin Jovanka bingung.
“Siapa namamu?” tanya Pak Johanes padanya.
“Jovanka, Pak. Dipanggil Jojo,” jawab Jovanka pelan.
“Bekerja di mana?”
Jovanka menggigit bibir bawahnya, melirik sekilas pada Max sebelum menjawab, “Vendros Impersia, bagian administrasi.”
Dengkusan tidak sopan terdengar dari Amarisa. Wajahnya merah padam dan menyiratkan kekesalan teramat dalam. Tangan bersendekap memandang Jovanka dan Max bergantian.
“Wah, cinta lokasi ternyata.” Pak Johanes berkata sambil mengangguk geli. “Kapan pernikahannya, Max?”
Max terlihat berpikir sejenak lalu menjawab enteng. “Tiga minggu lagi jika tidak aral melintang.”
Jawabannya membuat Jovanka tanpa sadar terkesiap. Begitu pula Steve yang hampir menjatuhkan sendok kecil yang dia gunakan untuk mengaduk kopi.
“Pernikahan sederhana hanya dihadiri keluarga,” lanjut Max lancar, berbicara seolah pernikahan memang sudah lama dia rancang. “Maklum, Jojo bukan tipe yang suka kemewahan, Pak.”
Dengan penuh kelembutan, Max mengelus rambut Jovanka yang basah. Dia meraih tisu di atas meja dan mulai mengelap rambut gadis yang dia akui sebagai calon istri.
“Sir, aku bisa sendiri,” tolak Jovanka pelan.
“Santai, aja. Jangan kaku begitu? Mentang-mentang ada banyak orang,” timpal Max mesra, seakan sudah biasa jika rambut Jovanka basah dia yang akan mengelap.
Jovanka menelan ludah, jantungnya bertalu-talu. Tangan Max yang besar terasa lembut di rambutnya.
“Baiklah kalau begitu, saya tunggu undangan pernikahan kalian. Sekalian untuk membahas kontrak.”
Pak Johanes bangkit dari duduknya diikuti oleh yang lain termasuk Amarisa.
“Pak, bisakah dipertimbangkan kembali masalah ini?” Amarisa berkata dengan tidak senang. “Mereka berdua bermain di belakang saya dan sengaja menipu,” tunjuk Amarisa pada Jovanka dan Max.
Merasa jika dia harus membela Max, Jovanka menjawab pelan. “Kami sudah saling mengenal sebelum Anda mengajukan lamaran pertunangan. Jika memang Max ingin menipumu, tentu dia bisa menikahimu dan tetap menjalin hubungan denganku.”
“Kau!” Amarisa membentak marah. “Jangan ikut campur!”
“Suda-sudah, aku paham sekarang.” Pak Johanes menghentikan perdebatan. “Amarisa, kita bisa membahas kerja sama yang lain jika kamu juga sudah menikah.”
Pernyataan Pak Johanes bagaikan ketuk palu bagi Amarisa.
“Max, aku sungguh tidak menduga tentang calon istrimu. Jarang sekali seorang milyader memilih gadis sederhana. Kita bertemu di pernikahan kalian.”
Dengan ucapan terakhir, Pak Johanes meninggalkan meja. Di depan pintu ada dua orang berseragam safari menyambutnya dan mengiringi langkahnya menyusuri lobi hotel menuju lift.
Jovanka terperenyak di kursinya, menyambar air putih dalam gelas di depan Max dan menghabiskannya dalam tegukan besar. Tiba-tiba terdengar musik yang berasal dari permainan piano di tengah restoran dan membuat hatinya makin gundah.
“Tak kusangka, Max. Kamu menjadikan gembel ini sebagai istrimu,” ucap Amarisa sinis. Menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi.
“Itu urusan pribadi kami, orang luar sepertimu tidak berhak ikut campur,” jawab Max tenang. sambil menyeruput kopinya. Melirik Steve yang sedari tadi terdiam.
“Seleramu benar-benar payah!”
“Sekali lagi kau menghina calon istriku, kusuruh satpam mengusirmu,” sergah Max panas.
Amarisa bangkit dari kursi sambil memandang Jovanka yang menunduk. Tangannya menyambar gelas berisi air putih dan mengguyurkannya ke wajah Jovanka.
“Rasakan ini, gadis gembel!”
Tindakannya membuat Jovanka menjerit kaget karena disiram tiba-tiba. Begitu pula dengan Max dan Steve. Beberapa pengunjung restoran melihat kejadian di meja mereka dengan penasaran. Pemain piano bahkan menghentikan permainannya karena kaget mendengar jeritan Amarisa. Beberapa pelayan datang menghampiri dengan kain lap di tangan.
“Steve, amankan dia!” perintah Max pada sepupunya.
Steve mengangguk, mengintari meja dan merangkul pundak Amarisa.
“Mau apa kamu?” tanya Amarisa sengit. Memandang Max yang sibuk membantu Jovanka membersihkan air dari wajah dan rambutnya. Meronta dari rangkulan Steve.
“Kita keluar sekarang, di sini banyak pengunjung. Kamu pasti nggak mau namamu terpampang di halaman berita sebagai mantan tunangan yang mengamuk?” bisik Steve sambil menarik Amarisa keluar.
“Dua kali kalian mempermalukanku! Rasakan pembalasanku, Max Vendros!”
Meninggalkan ancaman terakhir, Amarisa diseret Steve keluar dari restoran. Dengan sigap, para pelayan datang untuk membersihkan lantai dan meja yang basah.
Max mengajak Jovanka pindah meja yang lebih kecil. Memesan teh herbal panas untuk Jovanka menghangatkan badan.
“Apa kamu mau aku pesankan baju kering untuk ganti?” tanya Max padanya.
Jovanka menggeleng. “Tidak usah, Sir. Bentar lagi juga kering.”
Saat pelayan menghidangkan teh, handphone Jovanka bergetar. Dia mengerutkan kening tatkala melihat nama Mika tertera di layar.
“Hallo?”
“Jojo, maaf! Mobilku mengalami kecelakaan kecil jadi tidak bisa datang ke retoran sekarang. Maaf, Jojo!” suara Mika yang histeris membuat Jovanka mengembuskan napas panjang.
“Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja. Kita ketemu lain kali.”
Diiringi dengan permintaan maaf yang bertubi-tubi dan janji untuk bertemu lain waktu, Mika memutuskan sambungan telepon. Jovanka menatap handphone di tangannya dengan perasaan lega. Mau tidak mau dia merasa akan lebih baik jika Mika tidak melihat Max di sini.
“Minum tehmu dan ikut aku sekarang,” perintah Max padanya.
Dengan heran Jovanka bertanya, “Mau kemana?”
“Ke rumahku, membuat kontrak pernikahan.”
“Apa? Ini seriusan, Sir?” tanya Jovanka sambil menggigit bibir bawahnya.
Max mengangguk. “Ini serius dan aku bukan hanya meminta tolong padamu tapi juga memohon untuk kamu setuju menikah denganku. Bisa kupastikan, aku tidak akan pernah menyentuhmu.”
“Tapi, Sir, ini terlalu … mendadak.”
“Terpaksa, jika tidak dilakukan secepatnya maka aku akan kehilangan proyek jutaan dollar.” Max meraih tangan Jovanka dan mengenggamnya. “Aku mohon, Jo. Tolong aku. Apa pun yang kamu mau akan aku turuti, asal masih dalam batas wajar.”
Permohonan dari Max membuat Jovanka tidak hanya bingung tapi merasa melayang di udara karena pusing. Kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan. Kejadian dengan Max yang tiba-tiba sungguh suatu pukulan yang tak terduga. Bagaimana dia bisa menolak jika yang memohon adalah sang boss besar? Lalu bagaimana menjelaskan pada keluarganya, perihal dia akan menikah dengan milyader?
Dalam kebimbangan dan kebingungan, Jovanka diam saat digiring masuk ke dalam mobil Max. Dia duduk bersebelahan dengan Max di jok belakang sementara Steve duduk di samping sopir. Mobil melajur mulus meninggalkan hotel dengan para penumpang di dalamnya hening tanpa suara.
Jovanka tidak tahu kemana dia dibawa pergi, hingga menyadari jika mobil memasuki kawasan perumahan elite di Selatan Jakarta. Mulutnya membuka, dia ternganga menatap pagar tinggi yang membuka dan mobil membawanya masuk ke halaman rumah yang sangat luas. Ada semacam kebun bunga di bagian tengah halaman yang ditata sangat rapi. Halaman ditutup oleh batu keramik yang keras dan kokoh. Mobil berhenti tepat di depan pintu rumah dengan empat pilar tinggi menyangga teras yang tertutup atap putih. Ada lampu kristal besar berpendar terang dan tergantung di langit-langit teras.
“Ayo, Jo. Masuk, selamat datang di rumahku,” ucap Max sambil membuka pintu.
Jovanka turun dari mobil. Dengan langkah berat masuk melewati pintu dan dihadapkan pada pemandangan ruang tamu yang luas dan mewah. Ada banyak lampu kristal tergantung di langit-langit ruang tamu bergaya Eropa. Sofa putih dengan pinggiran dan kaki berwarna kuning madu dengan bantalan warna emas terletak persis di tengah ruangan. Panel dinding kayu berwarna keemasan, menyatu dengan dinding kaca yang menghadirkan pemandangan kolam renang di bagian belakang ruang tamu. Dari bagian dalam dinding ada semacam cahaya temaram berwarna keemasan yang membuat ruangan terasa lebih mewah.
Jovanka sedang mengamati tangga melingkar yang menuju lantai atas dengan ukiran rumit di bagian pegangan dan berjengit kaget saat Max menepuk punggungnya.
“Ayo, duduk.”
Tidak lama seorang wanita setengah baya dengan seragam biru tua datang menghampiri. Postur tubuhnya yang kecil dengan rambut yang digelung rapi mengingatkan Jovanka akan penampilan ibu-ibu PKK.
“Selamat malam, Tuan?” sapanya ramah pada Max.
“Bu Erna, ini tamu kita, Jovanka. Tolong buatkan sesuatu yang segar dan menghangatkan tubuh.”
Wanita yang disapa Bu Erna mengangguk sopan mendengar perintah Max. Segera dia membalikkan tubuh menuju bagian dalam rumah.
Saat Jovanka baru saja duduk di sofa yang empuk. Datang dua pelayan berseragam dengan teko di atas nampan. Menghidangkan minuman di dalam teko kaca . Ada satu set cangkir porselen beserta camilan di atas piring besar.
Jovanka menyadari dia hanya berdua dengan Max karena dalam keasyikannya memperhatikan rumah Max dia tidak menyadari Steve yang menghilang.
“Sir, kenapa kita ke sini?” tanya Jovanka bingung. Matanya masih belum bisa menyesuaikan dengan kemewahan yang menyergapnya.
“Seperti yang tadi kukatakan, untuk membuat kontrak,” jawab Max santai sambil melepaskan jas dan dasi dan menyampirkannya ke lengan sofa.
“Kamu santai saja, jangan tegang begitu,” goda Max sambil memandang geli ke arah Jovanka yang melirik kanan dan kiri.
Tidak lama, Steve keluar dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Dia memberikan pada Max terlebih dahulu.
Max membaca tulisan yang tertera di atas kertas lalu meletakkannya di hadapan Jovanka.
“Ini, kamu baca. Ada poin-poin tertentu untuk diterapkan pada pernikahan kita.”
Jovanka mengembuskan napas panjang dan mengambil kertas dengan tangan gemetar. Melirik Steve yang menuang teh untuk dirinya sendiri dan duduk di kursi tak jauh darinya.
“Bilang saja, kalau ada yang kamu tidak suka. Kita bisa diskusikan,” ucap Max.
Jovanka makin bingung saat membaca angka-angka di dalam kertas. Namun satu yang menarik perhatiannya, adalah pernikahan berlangsung selama satu tahun.
“Entah kenapa, aku merasa tidak cocok untuk menjadi istri, Anda,” ujar Jovanka sambil meletakkan kertas ke atas meja.
“Tepat, itulah yang ada dalam pikiranku,” sela Steve keras. “apa sih, yang kamu lihat dari dirinya, Max? Kamu bisa dapatkan wanita mana pun untuk menjadi istrimu bahkan sekalipun istri bayaran, dan kamu memilih, dia?” tunjuk Steve pada Jovanka dengan tatapan meremehkan.
Mendengar perkataan Steve, Jovanka merasa panas. “Seperti aku itu bagaimana? Miskin maksudmu?” tanyanya pada Steve.
“Nah, itu tahu,” jawab Steve sambil memutar bola mata. Seolah-olah dia merasa senang karena Jovanka mengerti perihal kebenaran di antara mereka.
“Sudah cukup!” sela Max mengatasi perdebatan.
“Steve, ini sudah keputusanku. Dan aku tidak akan mengubahnya.”
Steve yang semula membuka mulut hendak memprotes akhirnya mengangkat bahu dan menyeruput tehnya kembali.
“Jovanka, dengarkan aku,” pinta Max pada Jovanka yang terlihat gelisah di kursinya. “Aku tidak hanya meminta tolong padamu tapi juga memaksa, jika kamu tidak bisa menuruti permintaanku, maka silahkan keluar dari Vendros Impersia.”
Bukan hanya Jovanka yang kaget mendengar perkataan Max tapi juga Steve.
“Sir, apakah ini benar?” tanya Jovanka dengan perut melilit. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut dan membuatnya tidak hanya gemetar tapi juga pingin muntah.
“Iya, aku mengancammu. Tapi kalau kamu menuruti permintaanku, maka segala fasilitas dari mulai rumah, mobil dan uang belaja bulanan akan kamu dapatkan.”
Jovanka menunduk, merasa kalah telak. Dia memikirkan nasib keluarganya jika dia keluar dari pekerjaannya yang sekarang. Memang dia bisa melamar ke perusahaan lain tapi belum tentu gajinya akan sebagus di Vendros Impersia.
“Pikirkan, apa yang bisa kamu dapatkan jika kamu menandatangi surat ini, Jovanka.”
Jovanka mengusap wajah, menekan bola matanya dengan jari-jari. Kepalanya terasa lebih berdenyut-denyut sekarang. Max, pernikahan kontrak dan statusnya yang kelak menjadi istri bayaran sungguh membuat kepalanya ingin pecah.
“Baiklah, Sir. Jojo bersedia,” ucapnya pelan setelah keheningan lama.
Desah napas kelegaan terdengar dari mulut Max.
“Lusa aku akan ke luar negeri selama satu minggu. Ada Steve yang akan membantumu menyiapkan segalanya. Dia akan memberimu kartu kredit dengan nilai tak terbatas. Gunakan untuk membeli keperluanmu.”
Jovanka hanya mengangguk kecil. Tidak benar-benar menyimak perkataan bossnya.
“Soal baju pengantin dan make-up serta hal yang menyangkut detil upacara pernikahan tidak usah pusing, aku yang mengurus,” sela Steve dengan suara pelan. “Kamu tanda tangani saja kontrak ini dan selamat menjadi orang kaya dadakan.”
“Steve,” tegur Max pelan.
Dengan geram, Jovanka menandatangani kertas yang disodorkan padanya. Merasa kesal pada Steve yang meremehkannya terang-terangan.
“Di mana kita akan tinggal setelah menikah, Sir?” tanyanya tiba-tiba. Mendongak dan bertatapan dengan Max yang menaikkan sebelah alisnya.
“Di sini, tentu saja, Jovanka.”
Jovanka merutuk kebodohannya. Tentu saja ini rumah Max dan di mana dia akan tinggal jika tidak di rumah sebesar istana ini? Tanpa sadar dia melirik Steve dan mendapati laki-laki tampan dengan rambut pirang memandangnya penuh permusuhan. Jovanka merasa roda kehidupan membawanya berputar terlalu cepat hingga memusingkan.
*****
#Pengantin_Bayaran_sang_CEO
#Part_7
#CEO's Bride.
Sudah tiga hari Max pergi ke luar negeri, selama itu pula Jovanka merasa gelisah. Max mengatakan akan menemui orang tuanya segera setelah kembali ke tanah air dan waktu menunggu Max kembali, Jovanka harus berhadapan dengan Steve yang bersikap sinis padanya.
Di mulai dengan kedatangan Steve ke kantornya dan memanggilnya ke ruangan Max hanya untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal.
“Ini adalah kartu kredit, Upik Abu. Takutnya kamu nggak pernah pegang sebelumnya jadi gemetaran,” ejek Steve sambil menyerahkan kartu hitam mengkilat ke tangan Jovanka. “Max mengatakan memberimu dana tak terbatas untuk menyiapkan pernikahan tapi aku rasa harusnya kamu cukup tahu diri.”
Jovanka memandang kartu di tangannya dan Steve bergantian. Terus terang dia tidak tahu harus membeli apa dengan kartu ini.
“Bukannya gaun pernikahan dan segala macam sudah disiapkan? Kenapa masih memberiku kartu kredit?” tanya Jovanka bingung.
Steve yang semula berdiri di depan Jovanka, mundur tiga langkah hanya untuk mengamati gadis di depannya dari atas ke bawah.
Reflek, Jovanka menutup dadanya. “Apa?” tanyanya galak.
Steve tersenyum sinis melihat sikapnya. “Jangan sok begitu, aku nggak minat juga lihat kamu,” ucapnya sembarangan. Lalu mengalihkan pandanganya ke jendela. “Dari dulu pacar Max selalu anak orang kaya atau minimal artis, para wanita yang menghargai tubuh mereka.”
Dia kembali menoleh ke arah Jovanka yang berdiri bingung. “Lalu sekarang harus sama kamu, gadis yang cara berpakaian saja tidak tahu.”
“Emang ada yang salah sama cara pakaianku?” sergah Jovanka panas.
Steve tertawa kecil. “Baju itu baik-baik saja sebagai seorang staf admin tapi tidak untuk dikenakan istri seorang CEO,” desisnya tajam.
“Mr.Max tidak mengatakan padaku untuk berhenti kerja selama jadi istrinya atau mengubah penampilanku!”
“Memang tapi setidaknya kau tidak mempermalukan dirinya dengan penampilanmu yang acak-acakan. Sana, pergilah ke mall dan perbaiki dirimu,” usir Steve sambil melambaikan tangan.
Jovanka menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kesal. Memandang Steve dengan rasa marah dan terhina.
“Sebenarnya, apa masalahmu, sih? Kamu jelas tahu jika Mr. Max yang menginginkan aku menjadi istrinya tapi kamu bersikap seolah aku yang mengejarnya.”
Steve menaikkan sebelah alis. “Tidak ada masalah denganku, seandainya Max memilih wanita yang tepat,” ucapnya keras. “terus terang kukatakan, aku takut kau tidak bisa mengimbangi Max.”
Jovanka mendengkus. “Semua tahu aku tidak punya uang, jelas tidak bisa mengimbanginya.”
“Menikah dengan Max bukan hanya perkara uang tapi banyak hal lain. Begitu publik tahu kamu menjadi istri Max maka hidupmu tidak akan tenang seperti dulu. Semua akan mencari tahu tentang siapa istri Max dan asal usulnya. Dari mulai kawan sampai lawan bisnisnya.”
Steve terdiam sejenak, memandang Jovanka lekat-lekat. “Menjadi istri Max berarti strata pergaulanmu juga berubah.”
“Hanya istri bayaran.”
“Tetap saja, publik tahunya kamu istri Max. Mereka akan memperhatikan cara makanmu, pakaian yang kau kenakan, ke mana kau belanja. Di luar sana banyak wanita mengincar Max, kamu pikir mereka akan diam saja jika tahu Max menikahi wanita yang dianggap tidak sepadan?”
Jovanka tercengang sampai tidak bisa bicara mendengar penjelasan Steve.
“Saat itulah kamu akan menyadari, jika menikah dengan Max maka hidupmu bukan lagi milikmu. Jadi, pikirkan kembali. Apa penilaian mereka jika tahu istri Max tidak mengerti bagaimana mendandani dirinya sendiri.”
“Ini hanya pernikahan kontrak, aku bisa ingkar jika mau,” sela Jovanka.
Steve tertawa terbahak-bahak, membuat Jovanka memandangnya bingung.
“Kalau begitu, kamu harus membayar ganti rugi.”
“Apa?”
“Kamu tidak membaca kontrak halaman kedua? Jika ada salah satu pihak mengingkari perjanjian setelah kontrak ditanda tangani maka dia harus membayar ganti rugi sebesar lima ratus juta. Aku rasa, kau tidak punya sebanyak itu, Upik Abu.”
Jovanka terkesiap kaget, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Merasa dada sesak tak berkesudahan, penjelasan panjang lebar dari pria di depannya makin membuat gundah. Dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak teliti membaca kontak. Kini setelah rencana pernikahan ditetapkan, dia tidak bisa mundur.
“OK, aku akan pakai kartu ini dan membeli apa pun yang aku mau!” Dia membalikkan tubuh dan melangkah menuju pintu.
“Jangan memborong seluruh isi toko,” desis Steve cukup keras untuk didengar.
Jovanka menghentikan langkah, berbalik kembali. Dengan kepala terangkat ingin tahu, dia melangkah perlahan mendekati Steve.
Tindakannya membuat Steve bertanya heran. “Mau apa kamu?”
Jovanka tersenyum kecil, terpaut tiga langkah dari Steve. “Tahu nggak, jika wajahmu terlalu cantik untuk ukuran laki-laki. Jika tidak ingat kamu adalah saudara Max, ingin kumencakarnya,” ucap Jovanka pelan dengan posisi tangan siap mencakar.
Ancamannya membuat Steve mendengkus geli.
Meleletkan lidah, Jovanka berbalik dan berderap menuju pintu.
“Jangan lupa hari Sabtu fitting baju pengantin, kami akan menjemputmu, Upik Abu!” Teriakan Steve terdengar saat pintu membanting tertutup di belakang Jovanka.
“Dia menghinaku, sial!” gumam Jovanka kesal. Kaki melangkah cepat menyusuri lobi kantor menuju parkiran. Bermodalkan kartu kredit dengan nilai tak terbatas, dia berniat pergi ke mall dan membeli baju, sepatu atau apa pun untuk memperbaiki penampilannya. Masih terngiang hinaan Steve di kupingnya dan itu membuat hatinya panas.
Nyatanya, saat di dalam mall Jovanka justru bingung mau belanja apa. Dia terpaku memandang pada deretan baju di depannya. Semua ada sana, dari mulai gaun, tunik hingga baju dalam wanita. Dia hanya menggeleng kecil saat pramuniaga toko menyapa. Akhirnya, dengan niat untuk tidak membuat malu Max, dia membeli dua potong tunik, satu potong gaun berwarna putih yang menonjolkan lekuk tubuhnya dan satu potong celana panjang. Mengabaikan rasa bersalah karena berfoya-foya, dia membeli sepasang sepatu.
“Semoga Mr. Max tidak marah karena aku menggunakan uangnya terlalu banyak,” gumam Jovanka pada diri sendiri sambil menjinjing tas berisi barang belanjaan di tangan. Kepalanya menunduk karena karena terlalu asyik memperhatikan barang tangannya dan tanpa sengaja menubruk seseorang.
“Ups, maaf. Nggak sengaja.” Jovanka berteriak kaget. Dia mendongak dan bertatapan mata dengan seorang laki-laki tampan mengenakan jas hitam yang memandangnya tak berkedip.
“Raline?” desis laki-laki di depannya. Masih dengan tangan mendekap lengan Jovanka.
Jovanka meringis malu, meronta untuk membebaskan diri dari tangan laki-laki tak dikenalnya yang sekarang menatapnya dengan mata melotot.
“Maaf, Anda salah orang.”
“Tidak, kamu Raline. Oh Tuhan, akhirnya aku menemukanmu.” Tanpa diduga, laki-laki asing berwajah tampan memeluk Jovanka dan membuatnya berjengit kaget.
“Woi, apa-apaan ini lepasin aku!” teriak Jovanka marah dan meronta-ronta berusaha membebaskan diri.
“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu Raline. Ayo, pulang! Kamu pergi sudah terlalu lama.”
“Tuan, ingat Tuan. Ini di tempat umum dan dia bukan Raline.” Suara laki-laki lain terdengar dari belakang mereka.
“Iya, aku bukan Raline. Aku Jojo!” Meski meronta sekuat tenaga tetap saja pelukan laki-laki asing itu tidak kendur. Menarik napas panjang, Jovanka mengumpulkan tenaga di kaki kanan dan sekuat tenaga menginjak laki-laki yang memeluknya.
Seketika pelukan terlepas dan Jovanka mundur, merogoh tas dan mengeluarkan alat kejut. Dia berkata mengancam pada laki-laki yang memandangnya sambil meringis.
“Jangan coba-coba mendekat atau kusetrum!” bentak Jovanka marah.
“Tenang, Nona. Tuan kami memang khilaf.” Laki-laki setengah baya dengan tubuh kecil berdiri di depan Jovanka untuk menenangkan situasi.
Jovanka memandangnya dan berkata pelan. “Ajari Tuanmu untuk bersikap sopan pada wanita.” Dengan ancaman terakhir, Jovanka menaruh kembali alat kejut ke dalam tas dan setengah berlari meninggalkan kerumunan.
“Kamal, kenapa kamu masih diam di sini? Apa kamu tidak tahu dia itu Raline?” Laki-laki yang lebih muda membentak marah.
“Tuan Andrew, dia bukan Raline. Sadar, Tuan.”
Laki-laki yang dipanggil Andrew merenggut rambutnya dengan marah.
“Kejar dan cari tahu siapa dia, Kamal. Sekarang!”
Kamal mengangguk, meraih handphone dan melakukan panggilan., Tidak berapa lama beberapa orang berpakaian safari hitam mendatanginya. Setelah memberikan pengarahan singkat, dia kembali pada Andrew yang berdiri di tengah lobi.
“Sudah Tuan, mereka akan mendapatkan data gadis itu segera.”
Andrew mengangguk, melanjutkan langkahnya menuju mall.
“Aku akan menemukanmu, Raline,” gumamnya di antara keramaian.
*****
Selama tidak ada Max, Jovanka masih melakukan rutinitas seperti biasanya. Kerja pagi, pulang sore. Tidak ada yang istimewa meski akan menikah dua minggu lagi dengan milyader muda. Steve sudah memberitahu jadwal ke butik untuk fitting baju pengantin. Biar pun begitu, Jovanka belum ada niat untuk memberitahu orang tuanya karena dia tidak yakin, pernikahan akan tetap berlangsung.
Mudah-mudahan Max menemukan orang yang cocok di luar sana dan membatalkan pernikahan kontrak mereka, sering Jovanka membantin demikian tatkala malam sebelum tidur. Lalu sebuah pesan dari Max dia terima dan mengacaukan segala pikiran tentang pernikahan.
“Aku akan datang ke rumahmu jam sepuluh.” Jovanka membaca pesan di handphonenya dengan panik.
Sekarang hari Sabtu, jam delapan pagi. Dengan buru-buru Jovanka bangkit dari ranjang, tanpa mengganti baju setengah berlari menuju dapur.
“Pa, Ma, akan ada tamu penting. Tolong, bersihkan rumah sekarang,” pintanya dengan gugup.
“Siapa?” tanya Bu Ningrum yang sedang mencuci piring.
“Itu, Mr.Max. Bossku, dia akan datang jam sepuluh.”
Bu Ningrum berpandangan dengan suaminya yang sedang menjemur kain di samping rumah.
“Mau ngapain?” tanya Pak Rahman.
Jovanka berdehem. “Ada yang penting,” jawabnya pelan.
“Agraaaa! Bersih-bersih rumah sekarang!” teriak Bu Ningrum.
Seketika penghuni rumah sibuk bersih-bersih. Agra yang kebagian menyapu sarang laba-laba melakukannya dengan sedikit menggerutu. Dan terdiam saat melihat sang kakak melotot marah. Jovanka sendiri sibuk merapikan ruang tamu dan mengepel lantai agar mengkilat. Tak lupa dia pergi ke toko bunga dekat rumah dan membeli rangkaian bunga segar untuk di letakkan di atas meja ruang tamu. Mengganti gorden jendela dengan yang baru, serta menyemprotkan pengharum ruangan.
Tepat pukul sepuluh, terdengar ucapan salam dari luar. Jovanka yang baru selesai mandi, buru-buru mengganti baju tidurnya dengan terusan selutut berwarna hitam. Setelah menyisir dan menguncir rambut, tidak lupa mengoles wajah dengan bedak tipis, dia melangkah ke ruang tamu untuk menyambut boss-nya.
Kikuk, itu yang dirasakan Jovanka saat sosok Max yang tinggi duduk di sofa dengan santai. Ada Steve tentu saja, tidak kalah mencolok dengan setelan kuning cerah. Duduk di samping Max dan mengamati kedaan ruang tamu Jovanka yang kecil tanpa malu-malu.
“Sir, kenalkan ini, Papa, Mama dan adikku, Agra.”
Max menangguk pada anggota keluarga Jovanka yang memandangnya takjub. Berdehem sebentar, dia mulai membuka percakapan.
“Apa kabar Pak Rahman dan Bu Ningrum, perkenalkan nama saya, Max Milianus Vendros.” Dia terdiam sejenak, melihat Pak Rahman dan Bu Ningrum bertatapan tidak mengerti. “Maksud kedatangan saya untuk melamar Jovanka dan kami akan menikah dua minggu lagi.”
Hening, tidak ada yang bicara. Hanya terdengar suara desah napas tertahan dari Jovanka. Dia melirik ke arah Max yang duduk tenang menunggu jawaban orang tuanya sementara papa dan mamanya terlihat berpandangan tidak mengerti. Agra bahkan melongo di kursinya.
“Maaf, tadi bicara apa, Pak?” tanya Bu Ningrum dengan mimik bingung.
Max tersenyum dan berkata sekali lagi. “Saya ingin melamar Jovanka dan menjadikan dia istri saya.”
“Ya Tuhan, mimpi apa kami semalam,” desah Pak Rahman menyandarkan punggung pada kursi. “apa Mr.Max tidak sedang becanda?”
Max menggeleng. “Saya serius.”
“Apa-apakah ini benar, Jo?” tanya Bu Ningrum pada anak gadisnya.
Jovanka mengangguk pelan. “Iya, Pa, Ma. Ini benar. Jojo akan menikah dengan Mr.Max dua minggu lagi.”
Max mencondongkan tubuh ke depan. “Sekiranya Bapak dan Ibu mengijinkan, sudi kiranya memberi restu pada kami.”
Ucapan Max yang sopan membuat Bu Ningrum menahan napas. Dia mendekap wajah sebentar lalu meraih tangan Jovanka.
“Apa kamu yakin dengan ini, Jo? Menikah dengan Mr.Max?”
Jovanka mengangguk. “Iya, Ma. Jojo yakin.”
“Bagiamana, Pa?” Kali ini Bu Ningrum bertanya pada suaminya.
Pak Rahman tidak bicara, menatap Max yang masih duduk tenang di sofa dengan Steve di sampingnya tidak mengeluarkan satu patah kata. Dua laki-laki tampan yang kaya raya, datang ke rumahnya yang kecil untuk melamar anak gadis satu-satunya. Perasaan Pak Rahman sebagai ayah sedikit terusik.
“Jojo bukan terlahir dari keluarga kaya, dia juga tidak cantik-cantik amat. Jadi, apa yang membuat Mr. Max ini menikahinya?” tanya Pak Rahman.
“Panggil saya, Max, Pak,” jawab Max pelan. “sebelumnya perlu saya katakan jika saya sudah mengenal dan memperhatikan Jovanka jauh-jauh hari sebelum berniat melamarnya. Bisa dikatakan, jika ada jodoh di antara kami.”
Pak Rahman menggelengkan kepala untuk mengusir rasa kaget.
“Percayalah, Pak. Saya tidak akan membuat Jojo menderita,” janji Max dengan tegas.
Ruangan kembali hening. Jovanka tidak berani beranjak dari duduknya. Sementara Pak Rahman memandang sang istri lekat-lekat.
“Bagiamana, Ma?”
Bu Ningrum mengangkat bahu. “Mau gimana lagi kalau mereka sudah saling cinta. Bukankah baik untuk tidak menunda-nunda pernikahan?”
Sontak, seruan gembira terdengar dari mulut Jovanka. Dia memeluk mamanya dengan senang. Sementara Pak Rahman berdiri dan menyalami Max.
“Selamat datang di keluarga kami, tolong jaga anak gadis kami satu-satunya.”
Max menyalami sang ayah mertua dengan hormat. “Tentu, Pak. Saya akan menjaganya.”
Steve berdiri dari kursi, meraih handphone dan melakukan panggilan singkat. Tidak lama, datang dua orang membawa bingkisan untuk keluarga Jovanka. Dari mulai buah, bunga, makanan olahan, parsel kue hingga satu kotak berisi suplemen kesehatan untuk Pak Rahman. Sementara untuk Bu Ningrum, Max memberinya satu set baju batik. Seketika, ruang tamu penuh dengan parsel berbagai ukuran dengan berbagai macam isi. Membuat Pak Rahman dan istrinya ternganga bingung. Agra melonjak senang di tempatnya.
Jovanka pamit pada keluarganya untuk ke butik bersama Max yang kini dia akui sebagai calon suami. Sepanjang jalan kecil yang dia lalui, para tetangga menunggu mereka di depan pintu atau di tempat tongkrongan bambu yang berada samping perempatan jalan yang kecil. Semua menatap Max dan Steve dengan melongo. Jovanka yakin, sebentar lagi kabar dia akan menikah dengan Max akan tersiar di seluruh gang.
“Kita akan ke butik lalu ke toko perhiasan untuk memesan cincin,” ucap Max saat berada di dalam mobil.
Jovanka hanya mengangguk, dia pasrah. Apa pun yang dilakukan sang boss, dia hanya bisa menurut.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Jovanka pelan. “Apakah mereka tidak menolakku?”
Terdengar dengkusan keras dari arah depan, Steve melongok dan menatap Jovanka yang duduk persis di belakangnya.
“Orang tua Max tidak tahu dia akan menikahimu, Upik Abu. Tentu saja, mengingat bagaimana citra dirimu karena merusak pertungan Max dengan Amarisa, mereka tidak akan mau menerimamu begitu saja.”
Penjelasan dari Steve membuat Jovanka menunduk sedih. Namun dia ditepiskan, bagaimana pun juga, status istri bayaran memang tidak layak untuk dikenalkan pada keluarga besar.
“Jangan kuatir soal mereka, aku bisa mengatasi. Mereka tidak akan menganggumu, aku jamin,” ucap Max berusaha menenangkan Jovanka.
Bukankah Max sudah berjanji untuk menjaganya? Bukankah dia memberi jaminan agar pernikahan ini berjalan sempurna, tanpa saling menyakiti dan hanya berlaku untuk setahun. Jadi kenapa sekarang kakinya gemetar saat desainer baju pengantin memakaian baju pengantin padanya.
Dia berdiri dalam gaun putih off shoulder yang memperlihatkan pundaknya yang putih. Sang desainer yang merupakan seorang wanita separuh baya adalah perancang terkenal.
“Aduh, aku suka pengantin seperti ini. Tidak kurus tapi nggak gemuk juga. Pinggulmu sexy dan dadamu berbentuk sempurna. Kamu akan menjadi pengantin paling cantik, paling sexy dan elegan di hari pernikahan kalian.”
Pujian dari desainer membuat Jovanka tersipu-sipu. Selama beberapa jam, dia dikurung dalam ruang ganti di mana hanya ada dia dan desainer beserta dua wanita lainnya membantunya mencoba gaun pengantin yang ternyata jumlahnya sangat banyak.
Jovanka termangu di depan cermin, menatap bayangannya. Mata bulat, pipi yang terhitung tembam, bibir penuh dengan hidung mancung. Semua mengatakan, Jovanka terlihat imut dan menggemaskan.
Sementara Max berada di ruangan lain, sedang mencoba jasnya sendiri. Akhirnya diputuskan untuk mengenakan kebaya putih saat akad nikah dan gaun pengantin berwarna putih keemasan dengan ekor menjuntai panjang untuk resepsi.
Persiapan pernikahan dilakukan semua oleh Max dan Steve. Jovanka dan keluarganya tidak perlu melakukan apa pun. Pernikahan akan dilakukan di ballroom hotel bintang lima yang tidak jauh dari rumah Jovanka. Selama persiapan berlangsung, tidak secuil pun kabar pernikahan mereka bocor ke pegawai yang lain. Bahkan pada Irma pun, Jovanka tidak mengatakan apa-apa. Begitu pula keluarga Max, tidak satu pun yang sepertinya tahu tentang mereka.
****
“Wah, anak gadisku cantik sekali?” ucap Bu Ningrum penuh haru saat melihat Jovanka tampil anggun dengan kebaya putih. Dia mengusap air mata yang tergenang di pelupuk. Menatap anak gadisnya yang sedang berdiri di depan cermin, sementara dua orang perias sibuk merapikan kebaya yang dia pakai.
“Ma, jangan menangis?” ucap Jovanka pelan.
“Mama, bahagia. Melihatmu menikah, Jojo. Kamu cantik, Sayang.”
Bu Ningrum menangis haru dan memeluk anaknya sekejap sebelum membawa Jovanka keluar dari ruang rias.
Berjalan pelan menuju pelaminan yang sudah menunggunya. Kebaya putih dengan ekor panjang menyapu karpet. Jovanka merasakan jantungnya berdetak tak beraturan. Di ujung pintu, dia menatap Max yang terlihat tampan dalam balutan jas pengantin berwarna senada dengannya. Dalam hati, Jovanka masih tidak percaya jika laki-laki setampan dan sekaya Max akan menikahinya. Terlihat kerumanan orang di sekitar meja panjang berlapis satin keemasan yang akan menjadi tempat akad.
Jovanka menarik napas panjang, berjalan pelan dalam gandengan sang mama. Dalam hati berkata sendu. “Akulah Jojo, sang pengantin bayaran.”
---------
#Part_7
#CEO's Bride.
Sudah tiga hari Max pergi ke luar negeri, selama itu pula Jovanka merasa gelisah. Max mengatakan akan menemui orang tuanya segera setelah kembali ke tanah air dan waktu menunggu Max kembali, Jovanka harus berhadapan dengan Steve yang bersikap sinis padanya.
Di mulai dengan kedatangan Steve ke kantornya dan memanggilnya ke ruangan Max hanya untuk mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal.
“Ini adalah kartu kredit, Upik Abu. Takutnya kamu nggak pernah pegang sebelumnya jadi gemetaran,” ejek Steve sambil menyerahkan kartu hitam mengkilat ke tangan Jovanka. “Max mengatakan memberimu dana tak terbatas untuk menyiapkan pernikahan tapi aku rasa harusnya kamu cukup tahu diri.”
Jovanka memandang kartu di tangannya dan Steve bergantian. Terus terang dia tidak tahu harus membeli apa dengan kartu ini.
“Bukannya gaun pernikahan dan segala macam sudah disiapkan? Kenapa masih memberiku kartu kredit?” tanya Jovanka bingung.
Steve yang semula berdiri di depan Jovanka, mundur tiga langkah hanya untuk mengamati gadis di depannya dari atas ke bawah.
Reflek, Jovanka menutup dadanya. “Apa?” tanyanya galak.
Steve tersenyum sinis melihat sikapnya. “Jangan sok begitu, aku nggak minat juga lihat kamu,” ucapnya sembarangan. Lalu mengalihkan pandanganya ke jendela. “Dari dulu pacar Max selalu anak orang kaya atau minimal artis, para wanita yang menghargai tubuh mereka.”
Dia kembali menoleh ke arah Jovanka yang berdiri bingung. “Lalu sekarang harus sama kamu, gadis yang cara berpakaian saja tidak tahu.”
“Emang ada yang salah sama cara pakaianku?” sergah Jovanka panas.
Steve tertawa kecil. “Baju itu baik-baik saja sebagai seorang staf admin tapi tidak untuk dikenakan istri seorang CEO,” desisnya tajam.
“Mr.Max tidak mengatakan padaku untuk berhenti kerja selama jadi istrinya atau mengubah penampilanku!”
“Memang tapi setidaknya kau tidak mempermalukan dirinya dengan penampilanmu yang acak-acakan. Sana, pergilah ke mall dan perbaiki dirimu,” usir Steve sambil melambaikan tangan.
Jovanka menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kesal. Memandang Steve dengan rasa marah dan terhina.
“Sebenarnya, apa masalahmu, sih? Kamu jelas tahu jika Mr. Max yang menginginkan aku menjadi istrinya tapi kamu bersikap seolah aku yang mengejarnya.”
Steve menaikkan sebelah alis. “Tidak ada masalah denganku, seandainya Max memilih wanita yang tepat,” ucapnya keras. “terus terang kukatakan, aku takut kau tidak bisa mengimbangi Max.”
Jovanka mendengkus. “Semua tahu aku tidak punya uang, jelas tidak bisa mengimbanginya.”
“Menikah dengan Max bukan hanya perkara uang tapi banyak hal lain. Begitu publik tahu kamu menjadi istri Max maka hidupmu tidak akan tenang seperti dulu. Semua akan mencari tahu tentang siapa istri Max dan asal usulnya. Dari mulai kawan sampai lawan bisnisnya.”
Steve terdiam sejenak, memandang Jovanka lekat-lekat. “Menjadi istri Max berarti strata pergaulanmu juga berubah.”
“Hanya istri bayaran.”
“Tetap saja, publik tahunya kamu istri Max. Mereka akan memperhatikan cara makanmu, pakaian yang kau kenakan, ke mana kau belanja. Di luar sana banyak wanita mengincar Max, kamu pikir mereka akan diam saja jika tahu Max menikahi wanita yang dianggap tidak sepadan?”
Jovanka tercengang sampai tidak bisa bicara mendengar penjelasan Steve.
“Saat itulah kamu akan menyadari, jika menikah dengan Max maka hidupmu bukan lagi milikmu. Jadi, pikirkan kembali. Apa penilaian mereka jika tahu istri Max tidak mengerti bagaimana mendandani dirinya sendiri.”
“Ini hanya pernikahan kontrak, aku bisa ingkar jika mau,” sela Jovanka.
Steve tertawa terbahak-bahak, membuat Jovanka memandangnya bingung.
“Kalau begitu, kamu harus membayar ganti rugi.”
“Apa?”
“Kamu tidak membaca kontrak halaman kedua? Jika ada salah satu pihak mengingkari perjanjian setelah kontrak ditanda tangani maka dia harus membayar ganti rugi sebesar lima ratus juta. Aku rasa, kau tidak punya sebanyak itu, Upik Abu.”
Jovanka terkesiap kaget, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Merasa dada sesak tak berkesudahan, penjelasan panjang lebar dari pria di depannya makin membuat gundah. Dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak teliti membaca kontak. Kini setelah rencana pernikahan ditetapkan, dia tidak bisa mundur.
“OK, aku akan pakai kartu ini dan membeli apa pun yang aku mau!” Dia membalikkan tubuh dan melangkah menuju pintu.
“Jangan memborong seluruh isi toko,” desis Steve cukup keras untuk didengar.
Jovanka menghentikan langkah, berbalik kembali. Dengan kepala terangkat ingin tahu, dia melangkah perlahan mendekati Steve.
Tindakannya membuat Steve bertanya heran. “Mau apa kamu?”
Jovanka tersenyum kecil, terpaut tiga langkah dari Steve. “Tahu nggak, jika wajahmu terlalu cantik untuk ukuran laki-laki. Jika tidak ingat kamu adalah saudara Max, ingin kumencakarnya,” ucap Jovanka pelan dengan posisi tangan siap mencakar.
Ancamannya membuat Steve mendengkus geli.
Meleletkan lidah, Jovanka berbalik dan berderap menuju pintu.
“Jangan lupa hari Sabtu fitting baju pengantin, kami akan menjemputmu, Upik Abu!” Teriakan Steve terdengar saat pintu membanting tertutup di belakang Jovanka.
“Dia menghinaku, sial!” gumam Jovanka kesal. Kaki melangkah cepat menyusuri lobi kantor menuju parkiran. Bermodalkan kartu kredit dengan nilai tak terbatas, dia berniat pergi ke mall dan membeli baju, sepatu atau apa pun untuk memperbaiki penampilannya. Masih terngiang hinaan Steve di kupingnya dan itu membuat hatinya panas.
Nyatanya, saat di dalam mall Jovanka justru bingung mau belanja apa. Dia terpaku memandang pada deretan baju di depannya. Semua ada sana, dari mulai gaun, tunik hingga baju dalam wanita. Dia hanya menggeleng kecil saat pramuniaga toko menyapa. Akhirnya, dengan niat untuk tidak membuat malu Max, dia membeli dua potong tunik, satu potong gaun berwarna putih yang menonjolkan lekuk tubuhnya dan satu potong celana panjang. Mengabaikan rasa bersalah karena berfoya-foya, dia membeli sepasang sepatu.
“Semoga Mr. Max tidak marah karena aku menggunakan uangnya terlalu banyak,” gumam Jovanka pada diri sendiri sambil menjinjing tas berisi barang belanjaan di tangan. Kepalanya menunduk karena karena terlalu asyik memperhatikan barang tangannya dan tanpa sengaja menubruk seseorang.
“Ups, maaf. Nggak sengaja.” Jovanka berteriak kaget. Dia mendongak dan bertatapan mata dengan seorang laki-laki tampan mengenakan jas hitam yang memandangnya tak berkedip.
“Raline?” desis laki-laki di depannya. Masih dengan tangan mendekap lengan Jovanka.
Jovanka meringis malu, meronta untuk membebaskan diri dari tangan laki-laki tak dikenalnya yang sekarang menatapnya dengan mata melotot.
“Maaf, Anda salah orang.”
“Tidak, kamu Raline. Oh Tuhan, akhirnya aku menemukanmu.” Tanpa diduga, laki-laki asing berwajah tampan memeluk Jovanka dan membuatnya berjengit kaget.
“Woi, apa-apaan ini lepasin aku!” teriak Jovanka marah dan meronta-ronta berusaha membebaskan diri.
“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu Raline. Ayo, pulang! Kamu pergi sudah terlalu lama.”
“Tuan, ingat Tuan. Ini di tempat umum dan dia bukan Raline.” Suara laki-laki lain terdengar dari belakang mereka.
“Iya, aku bukan Raline. Aku Jojo!” Meski meronta sekuat tenaga tetap saja pelukan laki-laki asing itu tidak kendur. Menarik napas panjang, Jovanka mengumpulkan tenaga di kaki kanan dan sekuat tenaga menginjak laki-laki yang memeluknya.
Seketika pelukan terlepas dan Jovanka mundur, merogoh tas dan mengeluarkan alat kejut. Dia berkata mengancam pada laki-laki yang memandangnya sambil meringis.
“Jangan coba-coba mendekat atau kusetrum!” bentak Jovanka marah.
“Tenang, Nona. Tuan kami memang khilaf.” Laki-laki setengah baya dengan tubuh kecil berdiri di depan Jovanka untuk menenangkan situasi.
Jovanka memandangnya dan berkata pelan. “Ajari Tuanmu untuk bersikap sopan pada wanita.” Dengan ancaman terakhir, Jovanka menaruh kembali alat kejut ke dalam tas dan setengah berlari meninggalkan kerumunan.
“Kamal, kenapa kamu masih diam di sini? Apa kamu tidak tahu dia itu Raline?” Laki-laki yang lebih muda membentak marah.
“Tuan Andrew, dia bukan Raline. Sadar, Tuan.”
Laki-laki yang dipanggil Andrew merenggut rambutnya dengan marah.
“Kejar dan cari tahu siapa dia, Kamal. Sekarang!”
Kamal mengangguk, meraih handphone dan melakukan panggilan., Tidak berapa lama beberapa orang berpakaian safari hitam mendatanginya. Setelah memberikan pengarahan singkat, dia kembali pada Andrew yang berdiri di tengah lobi.
“Sudah Tuan, mereka akan mendapatkan data gadis itu segera.”
Andrew mengangguk, melanjutkan langkahnya menuju mall.
“Aku akan menemukanmu, Raline,” gumamnya di antara keramaian.
*****
Selama tidak ada Max, Jovanka masih melakukan rutinitas seperti biasanya. Kerja pagi, pulang sore. Tidak ada yang istimewa meski akan menikah dua minggu lagi dengan milyader muda. Steve sudah memberitahu jadwal ke butik untuk fitting baju pengantin. Biar pun begitu, Jovanka belum ada niat untuk memberitahu orang tuanya karena dia tidak yakin, pernikahan akan tetap berlangsung.
Mudah-mudahan Max menemukan orang yang cocok di luar sana dan membatalkan pernikahan kontrak mereka, sering Jovanka membantin demikian tatkala malam sebelum tidur. Lalu sebuah pesan dari Max dia terima dan mengacaukan segala pikiran tentang pernikahan.
“Aku akan datang ke rumahmu jam sepuluh.” Jovanka membaca pesan di handphonenya dengan panik.
Sekarang hari Sabtu, jam delapan pagi. Dengan buru-buru Jovanka bangkit dari ranjang, tanpa mengganti baju setengah berlari menuju dapur.
“Pa, Ma, akan ada tamu penting. Tolong, bersihkan rumah sekarang,” pintanya dengan gugup.
“Siapa?” tanya Bu Ningrum yang sedang mencuci piring.
“Itu, Mr.Max. Bossku, dia akan datang jam sepuluh.”
Bu Ningrum berpandangan dengan suaminya yang sedang menjemur kain di samping rumah.
“Mau ngapain?” tanya Pak Rahman.
Jovanka berdehem. “Ada yang penting,” jawabnya pelan.
“Agraaaa! Bersih-bersih rumah sekarang!” teriak Bu Ningrum.
Seketika penghuni rumah sibuk bersih-bersih. Agra yang kebagian menyapu sarang laba-laba melakukannya dengan sedikit menggerutu. Dan terdiam saat melihat sang kakak melotot marah. Jovanka sendiri sibuk merapikan ruang tamu dan mengepel lantai agar mengkilat. Tak lupa dia pergi ke toko bunga dekat rumah dan membeli rangkaian bunga segar untuk di letakkan di atas meja ruang tamu. Mengganti gorden jendela dengan yang baru, serta menyemprotkan pengharum ruangan.
Tepat pukul sepuluh, terdengar ucapan salam dari luar. Jovanka yang baru selesai mandi, buru-buru mengganti baju tidurnya dengan terusan selutut berwarna hitam. Setelah menyisir dan menguncir rambut, tidak lupa mengoles wajah dengan bedak tipis, dia melangkah ke ruang tamu untuk menyambut boss-nya.
Kikuk, itu yang dirasakan Jovanka saat sosok Max yang tinggi duduk di sofa dengan santai. Ada Steve tentu saja, tidak kalah mencolok dengan setelan kuning cerah. Duduk di samping Max dan mengamati kedaan ruang tamu Jovanka yang kecil tanpa malu-malu.
“Sir, kenalkan ini, Papa, Mama dan adikku, Agra.”
Max menangguk pada anggota keluarga Jovanka yang memandangnya takjub. Berdehem sebentar, dia mulai membuka percakapan.
“Apa kabar Pak Rahman dan Bu Ningrum, perkenalkan nama saya, Max Milianus Vendros.” Dia terdiam sejenak, melihat Pak Rahman dan Bu Ningrum bertatapan tidak mengerti. “Maksud kedatangan saya untuk melamar Jovanka dan kami akan menikah dua minggu lagi.”
Hening, tidak ada yang bicara. Hanya terdengar suara desah napas tertahan dari Jovanka. Dia melirik ke arah Max yang duduk tenang menunggu jawaban orang tuanya sementara papa dan mamanya terlihat berpandangan tidak mengerti. Agra bahkan melongo di kursinya.
“Maaf, tadi bicara apa, Pak?” tanya Bu Ningrum dengan mimik bingung.
Max tersenyum dan berkata sekali lagi. “Saya ingin melamar Jovanka dan menjadikan dia istri saya.”
“Ya Tuhan, mimpi apa kami semalam,” desah Pak Rahman menyandarkan punggung pada kursi. “apa Mr.Max tidak sedang becanda?”
Max menggeleng. “Saya serius.”
“Apa-apakah ini benar, Jo?” tanya Bu Ningrum pada anak gadisnya.
Jovanka mengangguk pelan. “Iya, Pa, Ma. Ini benar. Jojo akan menikah dengan Mr.Max dua minggu lagi.”
Max mencondongkan tubuh ke depan. “Sekiranya Bapak dan Ibu mengijinkan, sudi kiranya memberi restu pada kami.”
Ucapan Max yang sopan membuat Bu Ningrum menahan napas. Dia mendekap wajah sebentar lalu meraih tangan Jovanka.
“Apa kamu yakin dengan ini, Jo? Menikah dengan Mr.Max?”
Jovanka mengangguk. “Iya, Ma. Jojo yakin.”
“Bagiamana, Pa?” Kali ini Bu Ningrum bertanya pada suaminya.
Pak Rahman tidak bicara, menatap Max yang masih duduk tenang di sofa dengan Steve di sampingnya tidak mengeluarkan satu patah kata. Dua laki-laki tampan yang kaya raya, datang ke rumahnya yang kecil untuk melamar anak gadis satu-satunya. Perasaan Pak Rahman sebagai ayah sedikit terusik.
“Jojo bukan terlahir dari keluarga kaya, dia juga tidak cantik-cantik amat. Jadi, apa yang membuat Mr. Max ini menikahinya?” tanya Pak Rahman.
“Panggil saya, Max, Pak,” jawab Max pelan. “sebelumnya perlu saya katakan jika saya sudah mengenal dan memperhatikan Jovanka jauh-jauh hari sebelum berniat melamarnya. Bisa dikatakan, jika ada jodoh di antara kami.”
Pak Rahman menggelengkan kepala untuk mengusir rasa kaget.
“Percayalah, Pak. Saya tidak akan membuat Jojo menderita,” janji Max dengan tegas.
Ruangan kembali hening. Jovanka tidak berani beranjak dari duduknya. Sementara Pak Rahman memandang sang istri lekat-lekat.
“Bagiamana, Ma?”
Bu Ningrum mengangkat bahu. “Mau gimana lagi kalau mereka sudah saling cinta. Bukankah baik untuk tidak menunda-nunda pernikahan?”
Sontak, seruan gembira terdengar dari mulut Jovanka. Dia memeluk mamanya dengan senang. Sementara Pak Rahman berdiri dan menyalami Max.
“Selamat datang di keluarga kami, tolong jaga anak gadis kami satu-satunya.”
Max menyalami sang ayah mertua dengan hormat. “Tentu, Pak. Saya akan menjaganya.”
Steve berdiri dari kursi, meraih handphone dan melakukan panggilan singkat. Tidak lama, datang dua orang membawa bingkisan untuk keluarga Jovanka. Dari mulai buah, bunga, makanan olahan, parsel kue hingga satu kotak berisi suplemen kesehatan untuk Pak Rahman. Sementara untuk Bu Ningrum, Max memberinya satu set baju batik. Seketika, ruang tamu penuh dengan parsel berbagai ukuran dengan berbagai macam isi. Membuat Pak Rahman dan istrinya ternganga bingung. Agra melonjak senang di tempatnya.
Jovanka pamit pada keluarganya untuk ke butik bersama Max yang kini dia akui sebagai calon suami. Sepanjang jalan kecil yang dia lalui, para tetangga menunggu mereka di depan pintu atau di tempat tongkrongan bambu yang berada samping perempatan jalan yang kecil. Semua menatap Max dan Steve dengan melongo. Jovanka yakin, sebentar lagi kabar dia akan menikah dengan Max akan tersiar di seluruh gang.
“Kita akan ke butik lalu ke toko perhiasan untuk memesan cincin,” ucap Max saat berada di dalam mobil.
Jovanka hanya mengangguk, dia pasrah. Apa pun yang dilakukan sang boss, dia hanya bisa menurut.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Jovanka pelan. “Apakah mereka tidak menolakku?”
Terdengar dengkusan keras dari arah depan, Steve melongok dan menatap Jovanka yang duduk persis di belakangnya.
“Orang tua Max tidak tahu dia akan menikahimu, Upik Abu. Tentu saja, mengingat bagaimana citra dirimu karena merusak pertungan Max dengan Amarisa, mereka tidak akan mau menerimamu begitu saja.”
Penjelasan dari Steve membuat Jovanka menunduk sedih. Namun dia ditepiskan, bagaimana pun juga, status istri bayaran memang tidak layak untuk dikenalkan pada keluarga besar.
“Jangan kuatir soal mereka, aku bisa mengatasi. Mereka tidak akan menganggumu, aku jamin,” ucap Max berusaha menenangkan Jovanka.
Bukankah Max sudah berjanji untuk menjaganya? Bukankah dia memberi jaminan agar pernikahan ini berjalan sempurna, tanpa saling menyakiti dan hanya berlaku untuk setahun. Jadi kenapa sekarang kakinya gemetar saat desainer baju pengantin memakaian baju pengantin padanya.
Dia berdiri dalam gaun putih off shoulder yang memperlihatkan pundaknya yang putih. Sang desainer yang merupakan seorang wanita separuh baya adalah perancang terkenal.
“Aduh, aku suka pengantin seperti ini. Tidak kurus tapi nggak gemuk juga. Pinggulmu sexy dan dadamu berbentuk sempurna. Kamu akan menjadi pengantin paling cantik, paling sexy dan elegan di hari pernikahan kalian.”
Pujian dari desainer membuat Jovanka tersipu-sipu. Selama beberapa jam, dia dikurung dalam ruang ganti di mana hanya ada dia dan desainer beserta dua wanita lainnya membantunya mencoba gaun pengantin yang ternyata jumlahnya sangat banyak.
Jovanka termangu di depan cermin, menatap bayangannya. Mata bulat, pipi yang terhitung tembam, bibir penuh dengan hidung mancung. Semua mengatakan, Jovanka terlihat imut dan menggemaskan.
Sementara Max berada di ruangan lain, sedang mencoba jasnya sendiri. Akhirnya diputuskan untuk mengenakan kebaya putih saat akad nikah dan gaun pengantin berwarna putih keemasan dengan ekor menjuntai panjang untuk resepsi.
Persiapan pernikahan dilakukan semua oleh Max dan Steve. Jovanka dan keluarganya tidak perlu melakukan apa pun. Pernikahan akan dilakukan di ballroom hotel bintang lima yang tidak jauh dari rumah Jovanka. Selama persiapan berlangsung, tidak secuil pun kabar pernikahan mereka bocor ke pegawai yang lain. Bahkan pada Irma pun, Jovanka tidak mengatakan apa-apa. Begitu pula keluarga Max, tidak satu pun yang sepertinya tahu tentang mereka.
****
“Wah, anak gadisku cantik sekali?” ucap Bu Ningrum penuh haru saat melihat Jovanka tampil anggun dengan kebaya putih. Dia mengusap air mata yang tergenang di pelupuk. Menatap anak gadisnya yang sedang berdiri di depan cermin, sementara dua orang perias sibuk merapikan kebaya yang dia pakai.
“Ma, jangan menangis?” ucap Jovanka pelan.
“Mama, bahagia. Melihatmu menikah, Jojo. Kamu cantik, Sayang.”
Bu Ningrum menangis haru dan memeluk anaknya sekejap sebelum membawa Jovanka keluar dari ruang rias.
Berjalan pelan menuju pelaminan yang sudah menunggunya. Kebaya putih dengan ekor panjang menyapu karpet. Jovanka merasakan jantungnya berdetak tak beraturan. Di ujung pintu, dia menatap Max yang terlihat tampan dalam balutan jas pengantin berwarna senada dengannya. Dalam hati, Jovanka masih tidak percaya jika laki-laki setampan dan sekaya Max akan menikahinya. Terlihat kerumanan orang di sekitar meja panjang berlapis satin keemasan yang akan menjadi tempat akad.
Jovanka menarik napas panjang, berjalan pelan dalam gandengan sang mama. Dalam hati berkata sendu. “Akulah Jojo, sang pengantin bayaran.”
---------
#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_8
#CEO's Bride.
“Bagaimana jika Uncle tidak menyetujui pernikahan kalian. Meski dimaksudkan untuk bisnis?” Steve berkata dari balik kemudi. Menoleh pada Max di sampingnya.
“Memangnya aku peduli? Aku bukan meminta restu mereka tapi datang untuk memberitahu,” jawab Max lugas.
Mobil putih yang mereka tumpangi masuk ke area perumahan yang terletak di Bogor Selatan. Hunian asri di mana masih banyak pohon dan dekat dengan gunung kecil. Rumah-rumah yang berada di dalam area rata-rata berukuran besar dan mewah. Mobil melewati lapangan golf, melaju mulus ke arah jalan berbatu yang tertata rapi tepat di depan sebuah gerbang tinggi berdiri. Para penjaga gerbang, mengangguk hormat saat melihat mereka.
“Bagaimana dengan Violet? Apa kamu akan memberitahunya?” tanya Steve saat mobil meliuk di antara pohon pinus, jati dan jenis lainnya yang ditanam di kanan kiri jalan. Seakan-akan mereka sedang melaju di hutan kecil. Berbagai macam bunga tumbuh subur di antara pohon-pohon besar. Max membuka kaca mobil dan kicauan burung terdengar riuh menyenangkan.
Max mengamati pohon beringin paling besar, dia ingat dulu sewaktu masih kecil meminta pada tukang kebun untuk membuat ayunan di sana. Permintaan yang membuahkan hukuman dari papanya selama berhari-hari. Karena dia jatuh dari ayunan dan tangannya patah.
“Dia sedang menikmati karirnya sebagai artis, untuk apa menganggunya,” gumam Max pelan.
“Max, pahami posisinya. Tawaran itu sangat dia nanti-nantikan. Tentu saja dia tidak bisa menolaknya karena memang Violet sudah mengincar peran itu dari dulu.”
Max mendesah, dia tahu Steve sangat menyayangi Violet. Berdebat dengannya tidak akan membuahkan hasil.
“Dia meninggalkanku demi popularitas. Sekarang, saat aku membutuhkan wanita untuk menolongku, dia tak ada.”
“Kamu bisa menelepon, memintanya datang untuk pernikahan atau mungkin menggantikan Jovanka!”
“Tidak, aku tidak akan menggantikan Jojo dengan siapa pun.”
“Setidaknya, teleponlah dia.”
Terlalu asyik berdebat, tanpa sadar mobil berhenti di halaman berbatu dengan kolam kecil di samping pohon palem besar . Sebuah rumah besar dengan penerangan remang-remang berdiri megah di depan mereka. Di bagian teras terdapat ukiran kayu jati sebagai panel dinding. Sebuah meja besar beserta enam kursi yang semuanya terbuat dari jati asli, diletakkan persis di tengah teras. Rumah masa kecil Max, lebih mirip istana kecil di dalam hutan.
“Aku tidak akan meneleponnya, dia bisa kembali kapan pun dia mau. Dan ingat Steve, jangan ikut campur urusanku dengan Papa dan Jojo!” ancam Max saat turun dari mobil. “Aku tahu kita bersahabat dari dulu, kamu, aku dan Violet tapi kini semua tak sama lagi.”
Steve mendesah tidak puas tapi ikut turun. Berdiri mematung di dekat mobil, mengamati Max yang melangkah cepat menuju teras. Memencet bel lalu duduk di atas kayu jati. Ada tas kulit hitam tersampir di pundaknya.
Tidak lama, muncul sosok pelayan laki-laki berseragam yang mengangguk hormat pada Max dan kembali ke dalam setelah Max meminta dia memberitahukan kedatangannya.
“Kakaaak, aku kangen!” Suara yang centil dan manja terdengar dari dalam rumah. Tak lama muncul seorang gadis remaja berambut hitam pendek dengan mata bulat dan tahi lalat di dagu. Dia memeluk Max erat dari belakang.
“Apaan sih, lepas!” ucap Max sambil melepaskan pelukan si gadis.
“Nggak mau, aku kangen.”
“Evelyn, jangan manja gitu,” tegus Steve padanya. “udah besar juga.”
Gadis yang dipanggil Evelyn melepaskan rangkulannya dari leher Max. Dengan wajah cemberut duduk di depan Max.
“Kakak sudah lama nggak datang.”
“Sibuk,” jawab Max sambil melirik Evelyn.
“Aku kangen, sih?” desah Evelyn.
Belum sempat Max menjawab, dari dalam datang Pak Abraham beserta istrinya, Faranisa. Keduanya memandang Max dan Steve dengan tatapan ingin tahu.
“Ada apa kalian kemarin? Ingin meminta maaf karena sudah mempermalukan kami?” ucap Pak Abraham kasar. Duduk di seberang anak laki-lakinya.
Dua orang pelayan berseragam putih datang mendorong troli makanan. Faranisa bergegas mengambil teko, cangkir dan kue-kue. Menghidangkan sendiri dengan tangannya untuk para tamu.
Max memandang tindakan ibu tirinya dengan bosan. Melirik Steve yang sedang asyik memperhatikan ikan di kolam. Sudah bisa diduga, Steve tidak akan ikut campur urusannya.
“Steve, ayo, diminum kopinya,” tegur Faranisa pada Steve.
“Yes, Aunty. Nanti dulu, terima kasih,” jawab Steve dengan senyum tersungging. Melambaikan tangan pada Evelyn dan membuat gadis remaja berambut pendek menghampirinya dengan wajah cemberut.
“Max?” tegur Pak Abraham pada anaknya yang terdiam.
Max mengambil undangan dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.
“Aku akan menikah, Sabtu ini. Ini undangannya.”
Jika ada petir di siang bolong yang menyambar tanpa hujan, itu adalah perasaan yang dirasakan Pak Abraham sekeluarga.
“Apaa?” Terdengar jeritan heran Evelyn.
Pak Abraham membuka undangan di depannya dan membacanya lalu menyerahkan pada istrinya yang juga terlihat bingung.
“Ini bencanda, kan? Siapa gadis itu?”
Pertanyaan dari Papanya hanya diberi jawaban berupa senyum kecil dari Max.
“Namanya Jovanka, dia staf administrasi di kantorku dan kalian sudah pernah mengenalnya.”
“Kapan?” tanya Bu Faranisa pelan.
“Acara pertunanganku dengan Amarisa.”
“Hah, gadis brengsek itu? Kamu ingin menikahinya?” gelegar Pak Abraham dengan wajah kaget.
“Iya, Sabtu ini,” jawab Max tenang.
Pak Abraham menggebrak meja, membuat teko dan cangkir berantakan. Max berdiri sigap sebelum cairah kopi membasahinya. Bu Faranisa berjengit kaget, begitu pula Steve dan Evelyn.
“Kamu sengaja mempermalukan kami, ya? Menolak Amarisa yang jelas-jelas bermartabat tinggi dan menikahi gadis gembel?”
Max mengangkat bahu. “Ini tidak ada hubungannya dengan martabat. Ini tentang pilihan hidup. Aku, Max Vendros adalah laki-laki yang terbiasa memilih bukan dipilih. Jadi kalau Papa serta Amarisa berharap bisa mengendalikanku dan memilihku untuk menjadi boneka kalian, itu salah besar!” tangkis Max dengan suara tak kalah keras.
“Anak tak tahu diri, semua yang aku lakukan untuk kebaikanmu!”
Teriakan Pak Abraham hanya diberi lirikan kecil oleh Max.
“Dulu artis itu, gadis miskin yang mencoba mendekatimu demi kekayaan. Setelah kau terbebas darinya kini dengan gadis miskin yang lain. Apa maumu?”
Max berbalik. Memandang Papanya lekat-lekat. “Yang aku mau, kalian semua berhenti mencampuri hidupku. Ingat, di hari kau mengganti kedudukan Mamaku dengannya!” tunjuk Max pada Faranisa yang berdiri pucat di samping Pak Abraham . “Saat itu juga, kau tak ada hak lagi untuk mengaturku, Papa.”
Max memberi tanda pada Steve untuk mengikutinya. Meninggalkan Pak Abraham yang berdiri dengan wajah memerah karena marah dengan sang istri yang tertegun. Sementara Evelyn berdiri mematung di tempatnya. Mengawasi sang kakak yang berjalan cepat menuju mobil.
“Aku tidak akan pernah datang ke pesta itu!” teriak Pak Abraham.
Max menoleh dan membalas teriakan papanya. “Aku tidak meminta restu, hanya datang sekedar memberitahu.”
Max masuk ke mobil dengan Steve dan mulai melajukan kendaraan meninggalkan rumah besar tempat masa kecilnya.
Sementara Pak Abraham terperenyak di kursi, memegang dadanya yang mendadak sesak.
“Pak, minum obat jantung dulu.”
Dia menerima butiran obat dari istrinya. Memejamkan mata dan kembali mengingat tentang anak laki-laki satu-satunya yang sepertinya tidak lagi mengakuinya sebagai papa.
Di dalam mobil, Steve melirik Max yang termenung menatap jendela.
“Max, kalau dipikir aku juga heran.”
“Kenapa?”
“Kalau memang demi menyelamatkan bisnis, menikah dengan Amarisa tentu akan lebih baik untuk menye—,”
“Aku tidak suka dikendalikan,” tukas Max membungkam omongan Steve.
Max sudah menentukan sikap untuk menikah dengan Jovanka. Tidak ada yang bisa mengubah pendiriannya. Dia tahu akan menyakiti banyak orang tapi mereka juga tidak tahu betapa banyak yang sudah dia keluarkan demi pembuktian diri dia layak sebagai penerus Vendros.
Dia akan melakukan apa pun demi perusahaannya bahkan termasuk melakukan pernikahan palsu dengan wanita yang tidak dia cintai.
Sekarang, dia berdiri terpaku. Menatap kehadiran sesosok wanita cantik dalam balutan kebaya putih. Wajahnya yang putih dengan riasan sederhana, rambutnya digelung dan dihiasi rangkaian bunga. Melangkah pelan dalam gandengan sang bunda, menuju padanya. Max tak berkedip, memandang sang calon istri yang terlihat menawan dalam balutan kebaya pengantinnya.
Mereka duduk berdampingan di kursi perak dengan meja panjang berlapis kain satin emas. Ada rangkaian bunga disematkan di kursi dan di atas meja. Orang tua dan keluarga Jovanka duduk di kanan kiri sang pengantin. Sementara dari pihak Max hanya ada Steve dan salah satu manager yang membantunya mengurus detil pernikahan.
Ucapan syukur bergema di lobi hotel dengan desain minimalis tapi elegan, saat Max selesai mengucapkan ikrar pernikahan. Dengan mata berkaca-kaca, Jovanka meraih tangan Max dan mencium punggung tangannya. Setelah pengucapan doa, Jovanka kembali digiring masuk ke kamar ganti untuk berganti pakaian.
“Kenapa tegang begitu?” tanya Max sambil memeluk Jovanka dari belakang.
Mereka sedang berpose untuk sesi pemotretan. Bersikap layaknya pengantin yang jatuh cinta. Jantung Jovanka berdetak tak karuan, tiap kali merasakan sentuhan Max di kulitnya.
“Sir, katanya hanya pernikahan sederhana. Kenapa tamunya banyak sekali?” desah Jovanka bingung.
Pertanyaannya hanya dijawab dengan tawa kecil oleh Max. Sementara Jovanka tak hentinya memandang ruangan pernikahannya yang mewah, penuh dengan bunga, lampu kristal yang tergantung langit-langit dan hidangan lezat serta berlimpah di setiap meja berlapis taplak putih. Dekorasi pelaminan mereka ibarat pelaminan raja, di mana sebuah kursi panjang yang cantik dan kokoh berdiri di belakang mereka. Pelaminan modern nan indah didominasi warna perak dan emas dengan desain ukiran cantik tapi elegan membuat para tamu berdecak kagum. Lampu temaram berwarna putih keemasan makin membuat keduanya terlihat rupawan.
Tamu yang entah siapa dan dari mana, datang bergantian. Jovanka hanya tersenyum menyambut banyaknya ucapan. Hingga sesosok laki-laki yang dia kenal datang menghampiri.
Pak Abraham datang beserta istri dan anak perempuannya. Para petugas keamanan berpakaian safari hitam menyibak kerumunan untuk memberikan jalan bagi keluarga Max.
Max meraih tangan Jovanka dan menggenggamnya erat. Saat Pak Abraham berdiri tepat di depan mereka. Terlihat jelas ketegangan di pelaminan. Bahkan kedua orang tua Jovanka pun terlihat kebingungan.
“Kupikir kau hanya menggertak dan main-main, ternyata benar menikah,” ucap Pak Abraham pelan. Memandang anak laki-lakinya yang bergandengan tangan di pelaminan.
“Jangan membuat kerusuhan, Pa,” tegur Max pelan. “Ini hari pernikahanku.”
Pak Abraham melotot. Istrinya mencolek lengannya dan berbisik, “Pa, banyak orang.”
Jovanka berdiri bingung dalam genggaman Max. Terlihat Steve bergerak gesit mendatangi Pak Abraham dan keluarganya.
“Uncle, ada Pak Johanes dari Jakarta Development,” ucap Steve dengan nada mengingatkan.
“Apa? Dia datang?” Keterkejutan melanda wajah Pak Abraham.
Kerumunan kembali menyibak, Max mengulum senyum. Merangkul pundak Jovanka saat Pak Johanes datang menghampiri bersama sang istri.
“Wah, selamat atas pernikahan kedua mempelai.” Pak Johanes menjabat tangan Max dan Jovanka.
“Terima kasih, sudah meluangkan waktu, Pak,” sapa Max dengan wajah berseri-seri.
Istri Pak Johanes, soarang wanita berwajah ramah dengan riasan sederhana mengecup pipi Jovanka. “Cantik sekali,” pujinya dengan berseri-seri.
Jovanka tersenyum gugup. Dia hanya menunduk. Pak Johanes juga menyalami kedua orang tua Jovanka yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Pak Johanes, tentu kenal dengan saya?” Pak Abraham maju untuk menjabat tangan Pak Johanes. Mengabaikan orang tua Jovanka yang berada tidak jauh darinya.
“Ah, iya. Pak Abraham Vendros. Sungguh suatu kebahagiaan bisa bertemu di hari bahagia ini.”
“Saya senang Anda menyempatkan diri datang.”
“Harus, Pak. Karena kedua mempelai yang mengundang saya secara pribadi. Masa iya, saya nggak datang di acara pernikahan partner?”
“Partner?” tanya Pak Abraham bingung.
Pak Johanes tertawa sambil menepuk pundak Max.
“Selamat sekali lagi, selesai bulan madu, kita bahan kontrak kita,” ucap Pak Johanes pada Max.
“Baik, Pak. Terima kasih.”
“Mari kita bicara, Pak,” ajak Pak Johanes pada Pak Abraham.
Saat keduanya meninggalkan pelaminan diikuti oleh istri masing-masing, baik Jovanka mau pun Max bertukar senyum lega.
Saat melirik ke samping dan melihat kedua orang tuanya seperti kebingungan berdiri di tengah kemewahan. Dalam hati kecilnya, Jovanka merasa kasihan melihat keduanya. Tidak aneh memang, bahkan dia sendiri pun merasa tertekan. Ingin agar acara cepat berakhir.
Baju yang dipakai, orang-orang yang sibuk berbincang dan menikmati hidangan serta wajah yang memaksa untuk selalu tersenyum, membuatnya tercekik.
“Kamu lelah?” bisik Max di telingannya.
Jovank menggeleng. “Sedikit, apa acara masih lama?”
“Tidak, sejam lagi selesai. Mungkin setelah potong kue pengantin, bersabarlah.”
Jovanka tidak menjawab, dia memang lelah. Semalaman tidak bisa tidur karena grogi dengan acara ini. Kini harus berdiri berdampingan dengan Max, laki-laki paling tampan dalam ruangan ini yang sekarang resmi menjadi suaminya.
Lagu-lagu cinta nan merdu dinyanyikan oleh sepasang penyanyi terkenal. Dilanjutkan dengan acara pemberian doa dan potong kue. Terakhir, pelemparan buket bunga. Saat MC menutup acara, Pak Johanes dan Pak Abraham meninggalkan tempat resepsi lebih dulu.
Jovanka terduduk di pelaminan. Kelelahan membuat kakinya pegal. Max yang melihatnya meringis kesakitan duduk di sebelahnya dan bertanya pelan.
“Sakit kah?”
“Kaki pegal, sepatunya ketinggian.”
“Buka saja sepatumu kalau gitu.”
“Masih banyak tamu.”
“Santai saja. Ayo, sini kubantu.”
Jovanka terkesiap saat Max berlutut di depannya dan membantu membuka sepatu dengan menyibak bagian bawah gaun. Setelah sepatu terlepas, lalu mendongak dan Jovanka menatap sepasang mata Max yang hitam kebiruan.
Mereka masih dalam posisi berpandangan saat sebuah suara yang feminim memanggil Max.
“Max ….”
Max menoleh, begitu pun Jovanka. Seorang wanita amat cantik dengan rambut kecoklatan dan kulit luar biasa putih, berjalan mendekati mereka.
Max bangkit dari tempatnya berlutut, terdengar bergumam pelan. “Violet?”
Wanita cantik yang dipanggil Violet, melangkah gemulai mendekati Max. Dari tempat duduknya, Jovanka bisa melihat betapa tinggi dan langsingnya Violet. Dia juga mengenali Violet sebagai artis ternama.
“Kamu tega padaku, Max,” berucap pelan, Violet meraih tangan Max dan menggenggamnya. Tidak memedulikan jika Jovanka menatapnya dengan heran.
“Kamu menikah tanpa mengundangku dan menghancurkan hatiku.”
Max memandang Violet lekat-lekat, keterkejutan masih terbiasa di wajahnya. Setelah sadar dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Violet.
“Violet, please.”
Violet tersenyum, seakan tidak mendengar permohonan Max. Matanya menatap Max lekat-lekat. “Sayang sekali, pesawatku delay, jika tidak? Aku akan membuatmu membatalkan pernikahan ini.” Meski diucapkan dengan tersenyum dan bahasa ringan, tapi Jovanka bisa merasakan adanya ancaman terselubung di sana.
Menarik napas perlahan Max melepaskan tangannya dari genggaman Violet dan menoleh ke arah Jovanka.
“Violet, kenalkan ini istriku.”
Melirik sekejap pada Jovanka yang duduk di pelaminan, Violet menghampirinya dan mencium kedua pipi Jovanka. Sama sekali tidak ada kehangatan atau keramahan dari sikapnya.
“Aku akan merebutnya kembali.” Berbisik pelan yang hanya bisa didengar oleh Jovanka yang memucat, Violet menegakkan tubuh dan melenggang menuju tempat Steve berdiri.
Dari tempat duduknya, Jovanka bisa melihat mata Max yang mengawasi gerak-gerik Violet dengan intens. Ada semacam daya tarik kuat antara keduanya. Membuatnya merasa seperti merebut suami orang. Memejamkan mata dan berusaha menghalau perasaan gundah, Jovanka mengusir titik air mata di ujung pelupuk.
*****
#Part_8
#CEO's Bride.
“Bagaimana jika Uncle tidak menyetujui pernikahan kalian. Meski dimaksudkan untuk bisnis?” Steve berkata dari balik kemudi. Menoleh pada Max di sampingnya.
“Memangnya aku peduli? Aku bukan meminta restu mereka tapi datang untuk memberitahu,” jawab Max lugas.
Mobil putih yang mereka tumpangi masuk ke area perumahan yang terletak di Bogor Selatan. Hunian asri di mana masih banyak pohon dan dekat dengan gunung kecil. Rumah-rumah yang berada di dalam area rata-rata berukuran besar dan mewah. Mobil melewati lapangan golf, melaju mulus ke arah jalan berbatu yang tertata rapi tepat di depan sebuah gerbang tinggi berdiri. Para penjaga gerbang, mengangguk hormat saat melihat mereka.
“Bagaimana dengan Violet? Apa kamu akan memberitahunya?” tanya Steve saat mobil meliuk di antara pohon pinus, jati dan jenis lainnya yang ditanam di kanan kiri jalan. Seakan-akan mereka sedang melaju di hutan kecil. Berbagai macam bunga tumbuh subur di antara pohon-pohon besar. Max membuka kaca mobil dan kicauan burung terdengar riuh menyenangkan.
Max mengamati pohon beringin paling besar, dia ingat dulu sewaktu masih kecil meminta pada tukang kebun untuk membuat ayunan di sana. Permintaan yang membuahkan hukuman dari papanya selama berhari-hari. Karena dia jatuh dari ayunan dan tangannya patah.
“Dia sedang menikmati karirnya sebagai artis, untuk apa menganggunya,” gumam Max pelan.
“Max, pahami posisinya. Tawaran itu sangat dia nanti-nantikan. Tentu saja dia tidak bisa menolaknya karena memang Violet sudah mengincar peran itu dari dulu.”
Max mendesah, dia tahu Steve sangat menyayangi Violet. Berdebat dengannya tidak akan membuahkan hasil.
“Dia meninggalkanku demi popularitas. Sekarang, saat aku membutuhkan wanita untuk menolongku, dia tak ada.”
“Kamu bisa menelepon, memintanya datang untuk pernikahan atau mungkin menggantikan Jovanka!”
“Tidak, aku tidak akan menggantikan Jojo dengan siapa pun.”
“Setidaknya, teleponlah dia.”
Terlalu asyik berdebat, tanpa sadar mobil berhenti di halaman berbatu dengan kolam kecil di samping pohon palem besar . Sebuah rumah besar dengan penerangan remang-remang berdiri megah di depan mereka. Di bagian teras terdapat ukiran kayu jati sebagai panel dinding. Sebuah meja besar beserta enam kursi yang semuanya terbuat dari jati asli, diletakkan persis di tengah teras. Rumah masa kecil Max, lebih mirip istana kecil di dalam hutan.
“Aku tidak akan meneleponnya, dia bisa kembali kapan pun dia mau. Dan ingat Steve, jangan ikut campur urusanku dengan Papa dan Jojo!” ancam Max saat turun dari mobil. “Aku tahu kita bersahabat dari dulu, kamu, aku dan Violet tapi kini semua tak sama lagi.”
Steve mendesah tidak puas tapi ikut turun. Berdiri mematung di dekat mobil, mengamati Max yang melangkah cepat menuju teras. Memencet bel lalu duduk di atas kayu jati. Ada tas kulit hitam tersampir di pundaknya.
Tidak lama, muncul sosok pelayan laki-laki berseragam yang mengangguk hormat pada Max dan kembali ke dalam setelah Max meminta dia memberitahukan kedatangannya.
“Kakaaak, aku kangen!” Suara yang centil dan manja terdengar dari dalam rumah. Tak lama muncul seorang gadis remaja berambut hitam pendek dengan mata bulat dan tahi lalat di dagu. Dia memeluk Max erat dari belakang.
“Apaan sih, lepas!” ucap Max sambil melepaskan pelukan si gadis.
“Nggak mau, aku kangen.”
“Evelyn, jangan manja gitu,” tegus Steve padanya. “udah besar juga.”
Gadis yang dipanggil Evelyn melepaskan rangkulannya dari leher Max. Dengan wajah cemberut duduk di depan Max.
“Kakak sudah lama nggak datang.”
“Sibuk,” jawab Max sambil melirik Evelyn.
“Aku kangen, sih?” desah Evelyn.
Belum sempat Max menjawab, dari dalam datang Pak Abraham beserta istrinya, Faranisa. Keduanya memandang Max dan Steve dengan tatapan ingin tahu.
“Ada apa kalian kemarin? Ingin meminta maaf karena sudah mempermalukan kami?” ucap Pak Abraham kasar. Duduk di seberang anak laki-lakinya.
Dua orang pelayan berseragam putih datang mendorong troli makanan. Faranisa bergegas mengambil teko, cangkir dan kue-kue. Menghidangkan sendiri dengan tangannya untuk para tamu.
Max memandang tindakan ibu tirinya dengan bosan. Melirik Steve yang sedang asyik memperhatikan ikan di kolam. Sudah bisa diduga, Steve tidak akan ikut campur urusannya.
“Steve, ayo, diminum kopinya,” tegur Faranisa pada Steve.
“Yes, Aunty. Nanti dulu, terima kasih,” jawab Steve dengan senyum tersungging. Melambaikan tangan pada Evelyn dan membuat gadis remaja berambut pendek menghampirinya dengan wajah cemberut.
“Max?” tegur Pak Abraham pada anaknya yang terdiam.
Max mengambil undangan dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.
“Aku akan menikah, Sabtu ini. Ini undangannya.”
Jika ada petir di siang bolong yang menyambar tanpa hujan, itu adalah perasaan yang dirasakan Pak Abraham sekeluarga.
“Apaa?” Terdengar jeritan heran Evelyn.
Pak Abraham membuka undangan di depannya dan membacanya lalu menyerahkan pada istrinya yang juga terlihat bingung.
“Ini bencanda, kan? Siapa gadis itu?”
Pertanyaan dari Papanya hanya diberi jawaban berupa senyum kecil dari Max.
“Namanya Jovanka, dia staf administrasi di kantorku dan kalian sudah pernah mengenalnya.”
“Kapan?” tanya Bu Faranisa pelan.
“Acara pertunanganku dengan Amarisa.”
“Hah, gadis brengsek itu? Kamu ingin menikahinya?” gelegar Pak Abraham dengan wajah kaget.
“Iya, Sabtu ini,” jawab Max tenang.
Pak Abraham menggebrak meja, membuat teko dan cangkir berantakan. Max berdiri sigap sebelum cairah kopi membasahinya. Bu Faranisa berjengit kaget, begitu pula Steve dan Evelyn.
“Kamu sengaja mempermalukan kami, ya? Menolak Amarisa yang jelas-jelas bermartabat tinggi dan menikahi gadis gembel?”
Max mengangkat bahu. “Ini tidak ada hubungannya dengan martabat. Ini tentang pilihan hidup. Aku, Max Vendros adalah laki-laki yang terbiasa memilih bukan dipilih. Jadi kalau Papa serta Amarisa berharap bisa mengendalikanku dan memilihku untuk menjadi boneka kalian, itu salah besar!” tangkis Max dengan suara tak kalah keras.
“Anak tak tahu diri, semua yang aku lakukan untuk kebaikanmu!”
Teriakan Pak Abraham hanya diberi lirikan kecil oleh Max.
“Dulu artis itu, gadis miskin yang mencoba mendekatimu demi kekayaan. Setelah kau terbebas darinya kini dengan gadis miskin yang lain. Apa maumu?”
Max berbalik. Memandang Papanya lekat-lekat. “Yang aku mau, kalian semua berhenti mencampuri hidupku. Ingat, di hari kau mengganti kedudukan Mamaku dengannya!” tunjuk Max pada Faranisa yang berdiri pucat di samping Pak Abraham . “Saat itu juga, kau tak ada hak lagi untuk mengaturku, Papa.”
Max memberi tanda pada Steve untuk mengikutinya. Meninggalkan Pak Abraham yang berdiri dengan wajah memerah karena marah dengan sang istri yang tertegun. Sementara Evelyn berdiri mematung di tempatnya. Mengawasi sang kakak yang berjalan cepat menuju mobil.
“Aku tidak akan pernah datang ke pesta itu!” teriak Pak Abraham.
Max menoleh dan membalas teriakan papanya. “Aku tidak meminta restu, hanya datang sekedar memberitahu.”
Max masuk ke mobil dengan Steve dan mulai melajukan kendaraan meninggalkan rumah besar tempat masa kecilnya.
Sementara Pak Abraham terperenyak di kursi, memegang dadanya yang mendadak sesak.
“Pak, minum obat jantung dulu.”
Dia menerima butiran obat dari istrinya. Memejamkan mata dan kembali mengingat tentang anak laki-laki satu-satunya yang sepertinya tidak lagi mengakuinya sebagai papa.
Di dalam mobil, Steve melirik Max yang termenung menatap jendela.
“Max, kalau dipikir aku juga heran.”
“Kenapa?”
“Kalau memang demi menyelamatkan bisnis, menikah dengan Amarisa tentu akan lebih baik untuk menye—,”
“Aku tidak suka dikendalikan,” tukas Max membungkam omongan Steve.
Max sudah menentukan sikap untuk menikah dengan Jovanka. Tidak ada yang bisa mengubah pendiriannya. Dia tahu akan menyakiti banyak orang tapi mereka juga tidak tahu betapa banyak yang sudah dia keluarkan demi pembuktian diri dia layak sebagai penerus Vendros.
Dia akan melakukan apa pun demi perusahaannya bahkan termasuk melakukan pernikahan palsu dengan wanita yang tidak dia cintai.
Sekarang, dia berdiri terpaku. Menatap kehadiran sesosok wanita cantik dalam balutan kebaya putih. Wajahnya yang putih dengan riasan sederhana, rambutnya digelung dan dihiasi rangkaian bunga. Melangkah pelan dalam gandengan sang bunda, menuju padanya. Max tak berkedip, memandang sang calon istri yang terlihat menawan dalam balutan kebaya pengantinnya.
Mereka duduk berdampingan di kursi perak dengan meja panjang berlapis kain satin emas. Ada rangkaian bunga disematkan di kursi dan di atas meja. Orang tua dan keluarga Jovanka duduk di kanan kiri sang pengantin. Sementara dari pihak Max hanya ada Steve dan salah satu manager yang membantunya mengurus detil pernikahan.
Ucapan syukur bergema di lobi hotel dengan desain minimalis tapi elegan, saat Max selesai mengucapkan ikrar pernikahan. Dengan mata berkaca-kaca, Jovanka meraih tangan Max dan mencium punggung tangannya. Setelah pengucapan doa, Jovanka kembali digiring masuk ke kamar ganti untuk berganti pakaian.
“Kenapa tegang begitu?” tanya Max sambil memeluk Jovanka dari belakang.
Mereka sedang berpose untuk sesi pemotretan. Bersikap layaknya pengantin yang jatuh cinta. Jantung Jovanka berdetak tak karuan, tiap kali merasakan sentuhan Max di kulitnya.
“Sir, katanya hanya pernikahan sederhana. Kenapa tamunya banyak sekali?” desah Jovanka bingung.
Pertanyaannya hanya dijawab dengan tawa kecil oleh Max. Sementara Jovanka tak hentinya memandang ruangan pernikahannya yang mewah, penuh dengan bunga, lampu kristal yang tergantung langit-langit dan hidangan lezat serta berlimpah di setiap meja berlapis taplak putih. Dekorasi pelaminan mereka ibarat pelaminan raja, di mana sebuah kursi panjang yang cantik dan kokoh berdiri di belakang mereka. Pelaminan modern nan indah didominasi warna perak dan emas dengan desain ukiran cantik tapi elegan membuat para tamu berdecak kagum. Lampu temaram berwarna putih keemasan makin membuat keduanya terlihat rupawan.
Tamu yang entah siapa dan dari mana, datang bergantian. Jovanka hanya tersenyum menyambut banyaknya ucapan. Hingga sesosok laki-laki yang dia kenal datang menghampiri.
Pak Abraham datang beserta istri dan anak perempuannya. Para petugas keamanan berpakaian safari hitam menyibak kerumunan untuk memberikan jalan bagi keluarga Max.
Max meraih tangan Jovanka dan menggenggamnya erat. Saat Pak Abraham berdiri tepat di depan mereka. Terlihat jelas ketegangan di pelaminan. Bahkan kedua orang tua Jovanka pun terlihat kebingungan.
“Kupikir kau hanya menggertak dan main-main, ternyata benar menikah,” ucap Pak Abraham pelan. Memandang anak laki-lakinya yang bergandengan tangan di pelaminan.
“Jangan membuat kerusuhan, Pa,” tegur Max pelan. “Ini hari pernikahanku.”
Pak Abraham melotot. Istrinya mencolek lengannya dan berbisik, “Pa, banyak orang.”
Jovanka berdiri bingung dalam genggaman Max. Terlihat Steve bergerak gesit mendatangi Pak Abraham dan keluarganya.
“Uncle, ada Pak Johanes dari Jakarta Development,” ucap Steve dengan nada mengingatkan.
“Apa? Dia datang?” Keterkejutan melanda wajah Pak Abraham.
Kerumunan kembali menyibak, Max mengulum senyum. Merangkul pundak Jovanka saat Pak Johanes datang menghampiri bersama sang istri.
“Wah, selamat atas pernikahan kedua mempelai.” Pak Johanes menjabat tangan Max dan Jovanka.
“Terima kasih, sudah meluangkan waktu, Pak,” sapa Max dengan wajah berseri-seri.
Istri Pak Johanes, soarang wanita berwajah ramah dengan riasan sederhana mengecup pipi Jovanka. “Cantik sekali,” pujinya dengan berseri-seri.
Jovanka tersenyum gugup. Dia hanya menunduk. Pak Johanes juga menyalami kedua orang tua Jovanka yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Pak Johanes, tentu kenal dengan saya?” Pak Abraham maju untuk menjabat tangan Pak Johanes. Mengabaikan orang tua Jovanka yang berada tidak jauh darinya.
“Ah, iya. Pak Abraham Vendros. Sungguh suatu kebahagiaan bisa bertemu di hari bahagia ini.”
“Saya senang Anda menyempatkan diri datang.”
“Harus, Pak. Karena kedua mempelai yang mengundang saya secara pribadi. Masa iya, saya nggak datang di acara pernikahan partner?”
“Partner?” tanya Pak Abraham bingung.
Pak Johanes tertawa sambil menepuk pundak Max.
“Selamat sekali lagi, selesai bulan madu, kita bahan kontrak kita,” ucap Pak Johanes pada Max.
“Baik, Pak. Terima kasih.”
“Mari kita bicara, Pak,” ajak Pak Johanes pada Pak Abraham.
Saat keduanya meninggalkan pelaminan diikuti oleh istri masing-masing, baik Jovanka mau pun Max bertukar senyum lega.
Saat melirik ke samping dan melihat kedua orang tuanya seperti kebingungan berdiri di tengah kemewahan. Dalam hati kecilnya, Jovanka merasa kasihan melihat keduanya. Tidak aneh memang, bahkan dia sendiri pun merasa tertekan. Ingin agar acara cepat berakhir.
Baju yang dipakai, orang-orang yang sibuk berbincang dan menikmati hidangan serta wajah yang memaksa untuk selalu tersenyum, membuatnya tercekik.
“Kamu lelah?” bisik Max di telingannya.
Jovank menggeleng. “Sedikit, apa acara masih lama?”
“Tidak, sejam lagi selesai. Mungkin setelah potong kue pengantin, bersabarlah.”
Jovanka tidak menjawab, dia memang lelah. Semalaman tidak bisa tidur karena grogi dengan acara ini. Kini harus berdiri berdampingan dengan Max, laki-laki paling tampan dalam ruangan ini yang sekarang resmi menjadi suaminya.
Lagu-lagu cinta nan merdu dinyanyikan oleh sepasang penyanyi terkenal. Dilanjutkan dengan acara pemberian doa dan potong kue. Terakhir, pelemparan buket bunga. Saat MC menutup acara, Pak Johanes dan Pak Abraham meninggalkan tempat resepsi lebih dulu.
Jovanka terduduk di pelaminan. Kelelahan membuat kakinya pegal. Max yang melihatnya meringis kesakitan duduk di sebelahnya dan bertanya pelan.
“Sakit kah?”
“Kaki pegal, sepatunya ketinggian.”
“Buka saja sepatumu kalau gitu.”
“Masih banyak tamu.”
“Santai saja. Ayo, sini kubantu.”
Jovanka terkesiap saat Max berlutut di depannya dan membantu membuka sepatu dengan menyibak bagian bawah gaun. Setelah sepatu terlepas, lalu mendongak dan Jovanka menatap sepasang mata Max yang hitam kebiruan.
Mereka masih dalam posisi berpandangan saat sebuah suara yang feminim memanggil Max.
“Max ….”
Max menoleh, begitu pun Jovanka. Seorang wanita amat cantik dengan rambut kecoklatan dan kulit luar biasa putih, berjalan mendekati mereka.
Max bangkit dari tempatnya berlutut, terdengar bergumam pelan. “Violet?”
Wanita cantik yang dipanggil Violet, melangkah gemulai mendekati Max. Dari tempat duduknya, Jovanka bisa melihat betapa tinggi dan langsingnya Violet. Dia juga mengenali Violet sebagai artis ternama.
“Kamu tega padaku, Max,” berucap pelan, Violet meraih tangan Max dan menggenggamnya. Tidak memedulikan jika Jovanka menatapnya dengan heran.
“Kamu menikah tanpa mengundangku dan menghancurkan hatiku.”
Max memandang Violet lekat-lekat, keterkejutan masih terbiasa di wajahnya. Setelah sadar dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Violet.
“Violet, please.”
Violet tersenyum, seakan tidak mendengar permohonan Max. Matanya menatap Max lekat-lekat. “Sayang sekali, pesawatku delay, jika tidak? Aku akan membuatmu membatalkan pernikahan ini.” Meski diucapkan dengan tersenyum dan bahasa ringan, tapi Jovanka bisa merasakan adanya ancaman terselubung di sana.
Menarik napas perlahan Max melepaskan tangannya dari genggaman Violet dan menoleh ke arah Jovanka.
“Violet, kenalkan ini istriku.”
Melirik sekejap pada Jovanka yang duduk di pelaminan, Violet menghampirinya dan mencium kedua pipi Jovanka. Sama sekali tidak ada kehangatan atau keramahan dari sikapnya.
“Aku akan merebutnya kembali.” Berbisik pelan yang hanya bisa didengar oleh Jovanka yang memucat, Violet menegakkan tubuh dan melenggang menuju tempat Steve berdiri.
Dari tempat duduknya, Jovanka bisa melihat mata Max yang mengawasi gerak-gerik Violet dengan intens. Ada semacam daya tarik kuat antara keduanya. Membuatnya merasa seperti merebut suami orang. Memejamkan mata dan berusaha menghalau perasaan gundah, Jovanka mengusir titik air mata di ujung pelupuk.
*****
#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_09
#CEO's Bride.
“Kenapa kamu mengundangnya?”
Teguran pelan dari Max membuat Steve melirik tajam. Max sedang mencopot baju pengantinnya dan berganti dengan baju yang lebih santai berupa celana jin dan kaos. Steve sendiri belum mengganti bajunya. Setelan putih masih melekat di tubuhnya lengkap dengan bunga yang tersemat di dada. Tangannya menggenggam minuman dalam gelas tinggi.
“Steve ….”
Steve meletakkan gelas di meja kecil dan berjalan menuju sofa hitam yang menempel pada dinding. Mereka berdua berada dalam kamar ganti khusus pengantin laki-laki.
“Jika tidak memberitahunya masalah pernikahan ini, dia akan mengamuk,” ucapnya pelan sambil memandang Max.
“Maksudmu?”
“Dia memang berniat pulang minggu ini, Max. Dan yang dia ceritakan padaku adalah perihal hubungan kalian. Sudah beberapa bulan ini kamu susah dihubungi. Dia merasa tersiksa karena kalian putus. Dia ingin kembali dan yah … melamarmu jika perlu.”
Max terdiam mengamati bayangannya di cermin. Mengambil tisu dua lembar dari atas meja dan mengelap wajah.
“Untung dia bersikap baik, jika terjadi kekacauan. Aku akan menuntutmu!”
Steve mendongak. “Hei, bukannya ini hanya pernikahan pura-pura?”
Max berbalik. Melangkah ke arah Steve dan menudingnya.
“Ini bukan hanya soal pernikahan pura-pura tapi ada proyek jutaan dollar yang aku pertaruhkan di pernikahan ini. Bayangkan jika Violet mengacau sedangkan ada Pak Johanes di sana. Kamu pikir, aku masih punya muka untuk mengajukan proyek dengannya?”
Steve tercengang, membuka mulut untuk membantah omongan Max tapi menutupnya lagi.
“Pikirkan juga bagaimana perasaan keluarga Jojo jika tahu anaknya hanya dinikahi karena dibayar. Ingat Steve! Jangan sampai rasa sayangmu pada Violet menghancurkanku!”
Dengan ancaman terakhir, Max pergi meninggalkan Steve. Melangkah cepat menuju kamar rias Jovanka. Perasaan hati sedikit gundah, berpapasan dengan pelayan yang mondar-mandir untuk membereskan pesta yang usai. Dia hanya mengangguk ringan saat ada yang menyapanya.
Untung saja Violet pergi sebelum acara benar-benar berakhir. Meski begitu, Jovanka tidak pernah bertanya tentangnya. Dia bahkan tidak terlihat sakit hati saat mendengar ucapan Violet yang mengancam.
Di depan kamar rias pengantin perempuan yang terbuka dia tertegun saat memandang apa yang terpampang di hadapannya.
Sang istri duduk di kursi. Pakaian pengantin sudah terganti dengan baju dan tunik meski sisa-sisa riasan masih ada di wajahnya. Bukan pakaiannya yang biasa atau hal lain yang membuat dia tertegun tapi sikap Jovanka yang manja pada mamanya.
Bu Ningrum berdiri di depannya dan menyuapkan nasi perlahan ke mulut anak perempuannya. Sedangkan di sampingnya, adik Jovanka juga berebut nasi dari sendok yang sama.
“Gantian, Agra juga mau disuapi. Masa Kak Jojo terus.”
“Agra! Kamu ambil makanan sendiri sana, biar Kakakmu makan dulu.”
“Nggak, Agra juga mau disuapi.”
Sesuatu menggedor hati Max. Kelebatan banyangan tentang sang mama menyeruak dari pikirannya. Dulu, saat kecil dia juga melakukan hal yang sama hingga badai datang dan merenggut semua.
Merasa diperhatikan, Jovanka menoleh dan memandang Max yang bersandar pada pintu. Seketika, tawa yang semua ada di wajahnya, sirna. Bu Ningrum yang melihat perubahan wajah anaknya menoleh ke pintu dan tersenyum ke arah Max.
“Maaf, ini anak-anak ribut lapar. Saya suapi mereka dulu,” ucap Bu Ningrum pelan.
Max tidak menjawab, hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Masuk ke kamar dan memandang satu koper yang diletakkan di sudut ruangannya.
“Apa hanya itu barang-barangmu?” tunjuknya pada koper hitam.
Jovanka mengangguk, ada secercah rasa malu di hati. “Iya, Sir.”
“Kalau begitu, aku tunggu di lobi. Jangan buru-buru, nikmati saja.”
Dengan pandangan terakhir, Max menutup pintu di belakangnya. Melangkah perlahan menuju lobi hotel. Pernak-pernik pernikahan yang semula terpasang di ballroom sudah mulai dicopot. Di sudut lobi, dia duduk di kursi dan mengeluarkan rokok. Setelah seminggu nyaris tak menyentuhnya, kali ini dia ingin merokok.
Violet yang datang dengan wajah terluka, pertikaian dengan keluarga. Kehadiran Jovanka yang lugu membuat hati Max porak poranda. Jika bukan demi bisnis, dia tidak akan melakukan ini semua dan melukai hati orang-orang di sekitarnya.
****
“Ini kamar Anda, Miss.”
Bu Erna membuka kamar besar yang berada persis di samping kamar Max. Mau tidak mau Jovanka merasa lega. Tadinya dia berpikir akan tidur sekamar tapi ternyata tidak. Kamar bernuansa emas yang sangat mewah terbantang di mata. Lantai keramik berwarna emas dengan ukiran indah, gorden dua lapis di mana bagian dalannya juga berwarna emas. Ada dua buah vas bunga segar dan besar berada di samping kiri dan kanan jedela.
Untuk ranjangnya sendiri, sangat besar dengan seprei dan selimut yang juga berwarna kuning lembut. Ada TV besar menghadap ke arah ranjang. Lemari berpintu kaca yang menjulang tinggi di dinding samping sofa empuk dan saat itu Jovanka sadar, kenapa Max menatap kopernya dengan aneh. Bajunya hanya mengisi satu laci lemari.
“Untuk baju Anda, biarkan pelayan yang merapikannya,” ucap Bu Erna dengan tangan merapikan gorden dan membukanya. Seketika jendela kaca menanpakkan pemandangan kota yang temaram.
“Terima kasih, aku bisa sendiri,” jawab Jovanka, berdiri canggung di tengah kamar.
Bu Erna memandangnya dengan tatapan seorang guru sedang menegur muridnya.
“Miss, Anda adalah istri Tuan Max. Tentu saja, tidak diharapkan untuk melakukan semuanya sendiri. Apa gunanya kami kalau begitu?”
Jovanka ternganga lalu mengangguk pelan. “Baiklah, maaf.”
Malam itu, dia tidak bisa tidur. Meski kasurnya empuk dengan selimut hangat dan lembut dan AC yang dingin tapi dia merasa kesepian. Rasanya sunyi dan sendirian di kamar sebesar ini. Diam-diam dia merindukan kamarnya yang kecil dan sempit tapi nyaman.
Pikirannya terus menurus tertuju pada sosok wanita cantik dengan mulut ceplas ceplos yang dipanggil Violet. Terlihat jika suaminya dan Violet sangat akrab. Mereka bahkan berbicara mesra di pelaminan tak peduli meski ada Jovanka di sana. Kedatangan Steve yang menghampiri Violet dengan senyum terkembang bahagia membuat hatinya memburuk.
“Vi, Max sedang bahagia. Ayo, jangan ganggu mereka. Nanti istrinya mengamuk, dia galak.” Ucapan sinis Steve sambil menggandeng Violet pergi membuat Jovanka kesal.
Bayangan demi bayangan, dari mulai akad nikah sampai resepsi terus bercokol di kepala Jovanka. Hingga nyaris pagi, dia baru dapat memicingkan mata.
Suara ketukan pelan di pintu membuatnya terbangun. Jovanka membuka mata dan sadar jika sedang tidak ada di kamarnya sendiri. Bergegas dia merapikan pakaiannya yang berantakan dan melihat jika waktu sudah nyaris tengah hari.
“Aaah, aku tidur kelewat lama.”
Mengerjapkan mata, Jovanka melangkah gontai menuju pintu dan membukanya. Seketika dia merasa seperti gelandangan saat melihat Max berdiri dengan kemeja biru dan memandangnya dengan bingung.
“Ehm … maaf, Sir. Tidur kelamaan,” ucap Jovanka dengan tangan gemetar berusaha merapikan rambutnya yang berantakan.
“Nggak masalah, aku hanya takut kamu sakit. Makanya sengaja mengetuk untuk membangunkanmu.”
“Tidak, Jojo sehat.”
“Apa kau menyukai kamarmu?”
Mau tak mau Jovanka mengangguk. “Kamar yang mewah,” jawabnya singkat.
“Aku menunggumu di bawah untuk makan siang. Mandi dan gantilah pakaianmu.”
Jovanka menatap suaminya yang berjalan pelan menuruni tangga. Meraba dadanya yang berdebar tak karuan. Rupanya, dia harus membiasakan diri melihat sosok Max yang tinggi dan tampan berada di dekatnya. Terlebih lagi ini rumahnya.
Jovanka mandi dengan bingung. Bak mandi besar tersedia di tengah kamar mandi. Mungkin digunakan untuk berendam. Segala sesuatu yang melingkupinya, bahkan kamar mandi pun mewah dan mengkilat. Setelah membilas tubuh dengan sabun dan busa yang harum. Jovanka berganti pakaian dan turun.
Seorang pelayan memberitahunya jika Max ada di teras kolam. Jovanka berharap dia tidak tersesat saat berjalan sendirian di rumah sebesar ini. Setelah dua kali masuk ke ruangan yang salah, akhirnya di menemukan suaminya dengan sibuk dengan handphone di tangan. Duduk santai di meja bundar tepat di depan kolam. Ada payung besar yang menaungi mereka dari matahari, ditambah dengan rangkaian tumbuhan di sekitar kolam. Ada dua buah kipas angin uap yang diletakkan tidak jauh dari meja. Berfungsi sebagai penyejuk di tengah teriknya matahari.
“Sir ....”
“Ah, duduklah. Mau makan apa? Aku sengaja tidak ingin mengajakmu makan siang di ruang makan biar kamu lebih rilex.”
Jovanka duduk di seberang suaminya. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri dan bertanya, Jovanka ingin makan apa. Dengan gugup Jovanka mengatakan, makan apa pun yang dimasak di dapur.
Jawabannya membuat pelayan bingung.
“Jojo, pelayan di sini akan masak yang kita pesan. Tidak akan masakan yang ready,” ucap Max sambil tersenyum.
Mulut Jovanka membentuk huruf O dan mengatupkannya dengan malu saat melihat mata Max bersinar geli.
“Kalau gitu aku makan yang kamu makan saja,” tunjuk Jovanka pada hidangan di atas piring Max.
Max mengangguk lalu berkata pada pelayan perempuan di depan mereka. “Miss mau makan steak salmon, jangan lupa salad.”
Pelayan mengangguk dan melangkah cepat menuju dapur.
Tidak lama steak salmon dengan irisan jeruk nipis dan bumbu lada hitam terhidang di atas piring putih besar. Di atasnya juga terdapat salad dan setumpuk kentang goreng. Seketika, Jovanka merasa perutnya berbunyi. Tidak mengindahkan Max yang asyik menelepon, Jovanka makan dengan lahap. Segelas besar jus jeruk membuat makannya lengkap.
Mungkin di kemudian hari dia akan dihina, terlebih lagi dengan kedatangan mantan kekasih Max. Bisa jadi hidupnya akan penuh penderitaan meski bergelimang harta. Jovanka tidak mau memikirkannya sekarang, karena yang terpenting adalah makan.
“Jojo, perlu aku tegaskan sekali lagi,” kata Max sambil meletakkan handphone dan memandang Jovanka yang terlihat kekenyangan.
“Apa, Sir?”
Max mencondongkan tubuh. “Saat bersama dengan para relasi, teman atau keluarga dilarang memanggil dengan Sir, panggil langsung Max.”
Jovanka terkesiap. “Tapi Sir.”
“Tidak ada kata tapi, mereka akan merasa aneh jika sepasang suami istri dengan kaku memanggil Sir. Paham Jojo?”
Jovanka menelan ludah dengan gugup. Lalu mengangguk.
“Baiklah, ada yang lain?”
“Kamu kerja sebaiknya naik mobil.”
“No!” sergah Jovanka cepat. “Jojo nggak bisa setir mobil jadi lebih suka naik motor. Lagi pula Jojo nggak jika pegawai kantor tahu kalau kita sudah … menikah.” Dia mengakhiri ucapannya dengan menunduk.
Max memandangnya lekat. Rambut Jovanka yang terurai indah sepanjang bahu terlihat tebal dan lembut.
“Baiklah, naik motor kalau gitu. Nanti kusuruh Bu Erna beli motor baru untukmu.”
“Eih, Jojo ada motor sendiri, Sir.”
Max melambaikan tangan. “Biar saja di rumahmu. Di sini sebaiknya kamu memakai yang baru.”
Niat Jovanka untuk membantah terhalang dering handphone. Max kembali bicara di telepon dengan serius. Jovanka menatap kolam yang berwarna kebiruan, tidak menyadari pelayan datang untuk mengangkat piringnya dan mengganti dengan kue-kue kecil yang terlihat indah tapi enak.
Jovanka makan dengan lahap. Mencoba dari rasa strawberry sampai coklat. Tidak sadar pada Max yang tengah memperhatikannya.
“Enakkah?”
“Iyaa, banget. Aku bisa gendut di sini,” jawab Jovanka tanpa mendongak.
“Bagus, aku suka jika kamu bertubuh sintal.”
“Uhuk-uhuk!” Jovanka tersedak kue. Ucapan Max yang menggodanya membuatnya kaget.
“Makan pelan-pelan, Jo. Nggak ada yang minta.” terdengar nada geli di omongan Max yang membuat Jovanka kesal.
Setelah batuknya reda, dia meletakkan sendok dan menyingkirkan piring kue. Tindakannya membuat Max mengangkat sebelah alis.
“Kenapa berhenti? Ayo, teruskan.”
Jovanka menggeleng. “Aku masih akan tinggal di sini setahun lagi. Demi menghemat anggaran, sebaiknya aku makan pelan-pelan. Takut kamu bangkrut, Sir.”
Suara tawa menggelegar keluar dari mulut Max. Saking kerasnya dia tertawa bahkan terdengar oleh pelayan yang sedang berkerumun di dekat pintu kolam.
Hari itu, Max mengajak Jovanka keliling rumah dan mengenalkan satu per satu ruangan di dalamnya. Selain kolam renang juga ada tempat fitness dan tempat mandi sauna di lantai dasar. Ada perpustakaan besar yang membuat Jovanka melotot saat melihatnya. Untuk tempat tidur para pelayan ada bangun kecil yang terhubung dengan rumah besar. Max mengatakan ada sepuluh pelayan dan empat penjaga keamanan yang semuanya diatur oleh Bu Erna.
Jovanka menelan ludah, mendengar banyaknya anggaran yang dihabiskan Max untuk mengurus rumah. Gajinya di kantor bahkan kalah besar dengan gajinya Bu Erna, sang kepala asisten rumah tangga.
“Sir, ini rumah beli sendiri?” tanya Jovanka pelan dengan mata menatap lampu gantung luar biasa besar di atas meja makan.
Tidak ada jawaban dari Max membuatnya menoleh. Ekpresi Max yang seakan mengatakan ‘tentu saja’ membuatnya menyadari jika dia sudah menanyakan hal yang konyol.
“Ajak keluargamu ke sini, biar mereka lihat rumah ini.”
Mata Jovanka melotot. “Bolehkan?” tanyanya penuh harap.
“Tentu, rumah di mana kamu tinggal adalah rumahmu juga.”
“Ooh, rumahku juga. Kalau gitu bisa kujual harusnya,” gumam Jovanka pada diri sendiri. Dan membayangkan banyaknya uang yang bisa dia miliki kalau menjual rumah ini.
“Apa?” tanya Max bingung.
“Tidak ada, aku cuma menggumam tak penting. Hahaha ….” Malu dengan pikirannya yang terus berfokus soal uang, Jovanka tertawa terbahak-bahak.
Max berpamitan akan pergi mengurus sesuatu dan akan kembali nanti malam.
“Emang beda kalau orang kaya sama gembel biasa. Aaah … ini rumah apa istana, sih!” Jovanka berteriak dari balkon kamarnya. Memandang mobil Max yang melaju pelan meninggalkan halaman rumah. Meninggalkan Jovanka sendirian.
Puas memandangi pemandangan komplek dari balkon kamar, dia masuk dan duduk di atas ranjangnya yang besar dan empuk. Jovanka kembali merasa kesepian menyergapnya.
*****
Seorang laki-laki berdiri termangu menatap layar TV yang sedang menayangkan grafik saham. Keningnya kadang-kadang mengerut, di lain waktu terlihat tenang. Memasukkan sebelah tangannya ke saku celana dengan tangan lain menggenggam botol kaca berisi air mineral.
Suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Masuk seorang laki-laki setengah baya dengan perawakan pendek adan beruban di bagian depan. Dia mengangguk hormat sebelum meletakkan setumpuk dokumen di atas meja besar berlapis kaca.
“Apa ini, Kamal?” Lelaki yang lebih muda melangkah mendekati meja. Membiarkan layar TV tetap menyala.
“Informasi yang Tuan minta, tentang gadis yang tempo hari kita temui di mall.”
“Raline?”
“Bukan, Tuan Andrew. Namanya Jovanka,” jawab Kamal sabar.
Andrew mengamati foto-foto di dalam map. Ada banyak foto Jovanka dalam berbagai pose.
“Nama Jovanka, dipanggil Jojo oleh teman-teman sekantor. Berusia dua puluh tujuh tahun dengan pekerjaan saat ini menjadi staf administrasi di Vendros Impersia cabang Jakarta Utara.” Kamal membacakan catatan yang ada di tangannya.
“Lanjut,” perintah Andrew masih menatap foto Jovanka yang tertawa di tangannya.
“Punya satu saudara laki-laki yang sedang kuliah. Ayahnya bekerja sebagai mandor proyek bangunan. Pernah bertunangan--,”
“Pernah?” tanya Andrew heran.
Kamal mengangguk. “Sang tunangan mengkhianatinya.”
“Laki-laki brengsek!”
“Informasi paling penting Tuan.”
“Apa?” Andrew meletakkan foto Jovanka dan berbalik untuk menghadap Kamal.
“Dia menikah kemarin dengan Max Vendros!”
“Apaaa?!” Tanpa sadar Andrew menerjang Kamal dan mencengkeram krah jas-nya.
“Tuan, sabar,” ucap Kamal pelan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman boss-nya.
Andrew memejamkan mata. Melepaskan tangannya dari leher Kamal dan melangkah menuju jendela kaca dengan gorden terbuka.
“Apakah kamu yakin dia tak ada hubungan dengan Raline?” tanyanya dengan mata terpaku pada pemandangan luar.
“Tidak, Tuan. Sudah saya pastikan.”
Andrew berbalik, keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu. Terdiam cukup lama sebelum akhirnya dia bicara, “Kamal, Max Vedros sepertinya akan menjadi patner pamanku untuk menggarap proyek di Jawa Barat.”
Kamal mengangguk. “Betul dia, Tuan. Kesepakatan sepertinya sudah dibuat oleh Max Vendros dan Pak Johanes.”
Senyum merekah dari bibir Andrew. Seakan-akan dia menemukan sesuatu yang menarik hatinya.
“Atur jadwal undangan makan malam dengan Max Vendros dan istrinya, ditunggu kedatangan mereka oleh Andrew dari Jaya Raya Group. Harusnya dia tahu jika kami adalah investor utama untuk proyek itu.”
“Tuan, mereka sudah menikah,” sanggah Kamal segera.
Andrew tertawa lirih dan menepuk pundak asistennya yang terlihat kuatir.
“Aku hanya ingin mengenal Jovanka, tidak lebih. Aku janji akan menjaga sikapku. Segera kirim undangan untuk mereka!”
Kamal mengangguk singkat lalu pergi meninggalkan sang boss sendirian. Sepeninggal Kamal, Andrew kembali menatap foto Jovanka. Mengelus lembut dengan tangannya
“Jadi namamu Jovanka, bukan Raline. Kita akan bertemu, segera! Sudah tidak sabar ingin mengenalmu, Jojo.”
*****
#Part_09
#CEO's Bride.
“Kenapa kamu mengundangnya?”
Teguran pelan dari Max membuat Steve melirik tajam. Max sedang mencopot baju pengantinnya dan berganti dengan baju yang lebih santai berupa celana jin dan kaos. Steve sendiri belum mengganti bajunya. Setelan putih masih melekat di tubuhnya lengkap dengan bunga yang tersemat di dada. Tangannya menggenggam minuman dalam gelas tinggi.
“Steve ….”
Steve meletakkan gelas di meja kecil dan berjalan menuju sofa hitam yang menempel pada dinding. Mereka berdua berada dalam kamar ganti khusus pengantin laki-laki.
“Jika tidak memberitahunya masalah pernikahan ini, dia akan mengamuk,” ucapnya pelan sambil memandang Max.
“Maksudmu?”
“Dia memang berniat pulang minggu ini, Max. Dan yang dia ceritakan padaku adalah perihal hubungan kalian. Sudah beberapa bulan ini kamu susah dihubungi. Dia merasa tersiksa karena kalian putus. Dia ingin kembali dan yah … melamarmu jika perlu.”
Max terdiam mengamati bayangannya di cermin. Mengambil tisu dua lembar dari atas meja dan mengelap wajah.
“Untung dia bersikap baik, jika terjadi kekacauan. Aku akan menuntutmu!”
Steve mendongak. “Hei, bukannya ini hanya pernikahan pura-pura?”
Max berbalik. Melangkah ke arah Steve dan menudingnya.
“Ini bukan hanya soal pernikahan pura-pura tapi ada proyek jutaan dollar yang aku pertaruhkan di pernikahan ini. Bayangkan jika Violet mengacau sedangkan ada Pak Johanes di sana. Kamu pikir, aku masih punya muka untuk mengajukan proyek dengannya?”
Steve tercengang, membuka mulut untuk membantah omongan Max tapi menutupnya lagi.
“Pikirkan juga bagaimana perasaan keluarga Jojo jika tahu anaknya hanya dinikahi karena dibayar. Ingat Steve! Jangan sampai rasa sayangmu pada Violet menghancurkanku!”
Dengan ancaman terakhir, Max pergi meninggalkan Steve. Melangkah cepat menuju kamar rias Jovanka. Perasaan hati sedikit gundah, berpapasan dengan pelayan yang mondar-mandir untuk membereskan pesta yang usai. Dia hanya mengangguk ringan saat ada yang menyapanya.
Untung saja Violet pergi sebelum acara benar-benar berakhir. Meski begitu, Jovanka tidak pernah bertanya tentangnya. Dia bahkan tidak terlihat sakit hati saat mendengar ucapan Violet yang mengancam.
Di depan kamar rias pengantin perempuan yang terbuka dia tertegun saat memandang apa yang terpampang di hadapannya.
Sang istri duduk di kursi. Pakaian pengantin sudah terganti dengan baju dan tunik meski sisa-sisa riasan masih ada di wajahnya. Bukan pakaiannya yang biasa atau hal lain yang membuat dia tertegun tapi sikap Jovanka yang manja pada mamanya.
Bu Ningrum berdiri di depannya dan menyuapkan nasi perlahan ke mulut anak perempuannya. Sedangkan di sampingnya, adik Jovanka juga berebut nasi dari sendok yang sama.
“Gantian, Agra juga mau disuapi. Masa Kak Jojo terus.”
“Agra! Kamu ambil makanan sendiri sana, biar Kakakmu makan dulu.”
“Nggak, Agra juga mau disuapi.”
Sesuatu menggedor hati Max. Kelebatan banyangan tentang sang mama menyeruak dari pikirannya. Dulu, saat kecil dia juga melakukan hal yang sama hingga badai datang dan merenggut semua.
Merasa diperhatikan, Jovanka menoleh dan memandang Max yang bersandar pada pintu. Seketika, tawa yang semua ada di wajahnya, sirna. Bu Ningrum yang melihat perubahan wajah anaknya menoleh ke pintu dan tersenyum ke arah Max.
“Maaf, ini anak-anak ribut lapar. Saya suapi mereka dulu,” ucap Bu Ningrum pelan.
Max tidak menjawab, hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Masuk ke kamar dan memandang satu koper yang diletakkan di sudut ruangannya.
“Apa hanya itu barang-barangmu?” tunjuknya pada koper hitam.
Jovanka mengangguk, ada secercah rasa malu di hati. “Iya, Sir.”
“Kalau begitu, aku tunggu di lobi. Jangan buru-buru, nikmati saja.”
Dengan pandangan terakhir, Max menutup pintu di belakangnya. Melangkah perlahan menuju lobi hotel. Pernak-pernik pernikahan yang semula terpasang di ballroom sudah mulai dicopot. Di sudut lobi, dia duduk di kursi dan mengeluarkan rokok. Setelah seminggu nyaris tak menyentuhnya, kali ini dia ingin merokok.
Violet yang datang dengan wajah terluka, pertikaian dengan keluarga. Kehadiran Jovanka yang lugu membuat hati Max porak poranda. Jika bukan demi bisnis, dia tidak akan melakukan ini semua dan melukai hati orang-orang di sekitarnya.
****
“Ini kamar Anda, Miss.”
Bu Erna membuka kamar besar yang berada persis di samping kamar Max. Mau tidak mau Jovanka merasa lega. Tadinya dia berpikir akan tidur sekamar tapi ternyata tidak. Kamar bernuansa emas yang sangat mewah terbantang di mata. Lantai keramik berwarna emas dengan ukiran indah, gorden dua lapis di mana bagian dalannya juga berwarna emas. Ada dua buah vas bunga segar dan besar berada di samping kiri dan kanan jedela.
Untuk ranjangnya sendiri, sangat besar dengan seprei dan selimut yang juga berwarna kuning lembut. Ada TV besar menghadap ke arah ranjang. Lemari berpintu kaca yang menjulang tinggi di dinding samping sofa empuk dan saat itu Jovanka sadar, kenapa Max menatap kopernya dengan aneh. Bajunya hanya mengisi satu laci lemari.
“Untuk baju Anda, biarkan pelayan yang merapikannya,” ucap Bu Erna dengan tangan merapikan gorden dan membukanya. Seketika jendela kaca menanpakkan pemandangan kota yang temaram.
“Terima kasih, aku bisa sendiri,” jawab Jovanka, berdiri canggung di tengah kamar.
Bu Erna memandangnya dengan tatapan seorang guru sedang menegur muridnya.
“Miss, Anda adalah istri Tuan Max. Tentu saja, tidak diharapkan untuk melakukan semuanya sendiri. Apa gunanya kami kalau begitu?”
Jovanka ternganga lalu mengangguk pelan. “Baiklah, maaf.”
Malam itu, dia tidak bisa tidur. Meski kasurnya empuk dengan selimut hangat dan lembut dan AC yang dingin tapi dia merasa kesepian. Rasanya sunyi dan sendirian di kamar sebesar ini. Diam-diam dia merindukan kamarnya yang kecil dan sempit tapi nyaman.
Pikirannya terus menurus tertuju pada sosok wanita cantik dengan mulut ceplas ceplos yang dipanggil Violet. Terlihat jika suaminya dan Violet sangat akrab. Mereka bahkan berbicara mesra di pelaminan tak peduli meski ada Jovanka di sana. Kedatangan Steve yang menghampiri Violet dengan senyum terkembang bahagia membuat hatinya memburuk.
“Vi, Max sedang bahagia. Ayo, jangan ganggu mereka. Nanti istrinya mengamuk, dia galak.” Ucapan sinis Steve sambil menggandeng Violet pergi membuat Jovanka kesal.
Bayangan demi bayangan, dari mulai akad nikah sampai resepsi terus bercokol di kepala Jovanka. Hingga nyaris pagi, dia baru dapat memicingkan mata.
Suara ketukan pelan di pintu membuatnya terbangun. Jovanka membuka mata dan sadar jika sedang tidak ada di kamarnya sendiri. Bergegas dia merapikan pakaiannya yang berantakan dan melihat jika waktu sudah nyaris tengah hari.
“Aaah, aku tidur kelewat lama.”
Mengerjapkan mata, Jovanka melangkah gontai menuju pintu dan membukanya. Seketika dia merasa seperti gelandangan saat melihat Max berdiri dengan kemeja biru dan memandangnya dengan bingung.
“Ehm … maaf, Sir. Tidur kelamaan,” ucap Jovanka dengan tangan gemetar berusaha merapikan rambutnya yang berantakan.
“Nggak masalah, aku hanya takut kamu sakit. Makanya sengaja mengetuk untuk membangunkanmu.”
“Tidak, Jojo sehat.”
“Apa kau menyukai kamarmu?”
Mau tak mau Jovanka mengangguk. “Kamar yang mewah,” jawabnya singkat.
“Aku menunggumu di bawah untuk makan siang. Mandi dan gantilah pakaianmu.”
Jovanka menatap suaminya yang berjalan pelan menuruni tangga. Meraba dadanya yang berdebar tak karuan. Rupanya, dia harus membiasakan diri melihat sosok Max yang tinggi dan tampan berada di dekatnya. Terlebih lagi ini rumahnya.
Jovanka mandi dengan bingung. Bak mandi besar tersedia di tengah kamar mandi. Mungkin digunakan untuk berendam. Segala sesuatu yang melingkupinya, bahkan kamar mandi pun mewah dan mengkilat. Setelah membilas tubuh dengan sabun dan busa yang harum. Jovanka berganti pakaian dan turun.
Seorang pelayan memberitahunya jika Max ada di teras kolam. Jovanka berharap dia tidak tersesat saat berjalan sendirian di rumah sebesar ini. Setelah dua kali masuk ke ruangan yang salah, akhirnya di menemukan suaminya dengan sibuk dengan handphone di tangan. Duduk santai di meja bundar tepat di depan kolam. Ada payung besar yang menaungi mereka dari matahari, ditambah dengan rangkaian tumbuhan di sekitar kolam. Ada dua buah kipas angin uap yang diletakkan tidak jauh dari meja. Berfungsi sebagai penyejuk di tengah teriknya matahari.
“Sir ....”
“Ah, duduklah. Mau makan apa? Aku sengaja tidak ingin mengajakmu makan siang di ruang makan biar kamu lebih rilex.”
Jovanka duduk di seberang suaminya. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri dan bertanya, Jovanka ingin makan apa. Dengan gugup Jovanka mengatakan, makan apa pun yang dimasak di dapur.
Jawabannya membuat pelayan bingung.
“Jojo, pelayan di sini akan masak yang kita pesan. Tidak akan masakan yang ready,” ucap Max sambil tersenyum.
Mulut Jovanka membentuk huruf O dan mengatupkannya dengan malu saat melihat mata Max bersinar geli.
“Kalau gitu aku makan yang kamu makan saja,” tunjuk Jovanka pada hidangan di atas piring Max.
Max mengangguk lalu berkata pada pelayan perempuan di depan mereka. “Miss mau makan steak salmon, jangan lupa salad.”
Pelayan mengangguk dan melangkah cepat menuju dapur.
Tidak lama steak salmon dengan irisan jeruk nipis dan bumbu lada hitam terhidang di atas piring putih besar. Di atasnya juga terdapat salad dan setumpuk kentang goreng. Seketika, Jovanka merasa perutnya berbunyi. Tidak mengindahkan Max yang asyik menelepon, Jovanka makan dengan lahap. Segelas besar jus jeruk membuat makannya lengkap.
Mungkin di kemudian hari dia akan dihina, terlebih lagi dengan kedatangan mantan kekasih Max. Bisa jadi hidupnya akan penuh penderitaan meski bergelimang harta. Jovanka tidak mau memikirkannya sekarang, karena yang terpenting adalah makan.
“Jojo, perlu aku tegaskan sekali lagi,” kata Max sambil meletakkan handphone dan memandang Jovanka yang terlihat kekenyangan.
“Apa, Sir?”
Max mencondongkan tubuh. “Saat bersama dengan para relasi, teman atau keluarga dilarang memanggil dengan Sir, panggil langsung Max.”
Jovanka terkesiap. “Tapi Sir.”
“Tidak ada kata tapi, mereka akan merasa aneh jika sepasang suami istri dengan kaku memanggil Sir. Paham Jojo?”
Jovanka menelan ludah dengan gugup. Lalu mengangguk.
“Baiklah, ada yang lain?”
“Kamu kerja sebaiknya naik mobil.”
“No!” sergah Jovanka cepat. “Jojo nggak bisa setir mobil jadi lebih suka naik motor. Lagi pula Jojo nggak jika pegawai kantor tahu kalau kita sudah … menikah.” Dia mengakhiri ucapannya dengan menunduk.
Max memandangnya lekat. Rambut Jovanka yang terurai indah sepanjang bahu terlihat tebal dan lembut.
“Baiklah, naik motor kalau gitu. Nanti kusuruh Bu Erna beli motor baru untukmu.”
“Eih, Jojo ada motor sendiri, Sir.”
Max melambaikan tangan. “Biar saja di rumahmu. Di sini sebaiknya kamu memakai yang baru.”
Niat Jovanka untuk membantah terhalang dering handphone. Max kembali bicara di telepon dengan serius. Jovanka menatap kolam yang berwarna kebiruan, tidak menyadari pelayan datang untuk mengangkat piringnya dan mengganti dengan kue-kue kecil yang terlihat indah tapi enak.
Jovanka makan dengan lahap. Mencoba dari rasa strawberry sampai coklat. Tidak sadar pada Max yang tengah memperhatikannya.
“Enakkah?”
“Iyaa, banget. Aku bisa gendut di sini,” jawab Jovanka tanpa mendongak.
“Bagus, aku suka jika kamu bertubuh sintal.”
“Uhuk-uhuk!” Jovanka tersedak kue. Ucapan Max yang menggodanya membuatnya kaget.
“Makan pelan-pelan, Jo. Nggak ada yang minta.” terdengar nada geli di omongan Max yang membuat Jovanka kesal.
Setelah batuknya reda, dia meletakkan sendok dan menyingkirkan piring kue. Tindakannya membuat Max mengangkat sebelah alis.
“Kenapa berhenti? Ayo, teruskan.”
Jovanka menggeleng. “Aku masih akan tinggal di sini setahun lagi. Demi menghemat anggaran, sebaiknya aku makan pelan-pelan. Takut kamu bangkrut, Sir.”
Suara tawa menggelegar keluar dari mulut Max. Saking kerasnya dia tertawa bahkan terdengar oleh pelayan yang sedang berkerumun di dekat pintu kolam.
Hari itu, Max mengajak Jovanka keliling rumah dan mengenalkan satu per satu ruangan di dalamnya. Selain kolam renang juga ada tempat fitness dan tempat mandi sauna di lantai dasar. Ada perpustakaan besar yang membuat Jovanka melotot saat melihatnya. Untuk tempat tidur para pelayan ada bangun kecil yang terhubung dengan rumah besar. Max mengatakan ada sepuluh pelayan dan empat penjaga keamanan yang semuanya diatur oleh Bu Erna.
Jovanka menelan ludah, mendengar banyaknya anggaran yang dihabiskan Max untuk mengurus rumah. Gajinya di kantor bahkan kalah besar dengan gajinya Bu Erna, sang kepala asisten rumah tangga.
“Sir, ini rumah beli sendiri?” tanya Jovanka pelan dengan mata menatap lampu gantung luar biasa besar di atas meja makan.
Tidak ada jawaban dari Max membuatnya menoleh. Ekpresi Max yang seakan mengatakan ‘tentu saja’ membuatnya menyadari jika dia sudah menanyakan hal yang konyol.
“Ajak keluargamu ke sini, biar mereka lihat rumah ini.”
Mata Jovanka melotot. “Bolehkan?” tanyanya penuh harap.
“Tentu, rumah di mana kamu tinggal adalah rumahmu juga.”
“Ooh, rumahku juga. Kalau gitu bisa kujual harusnya,” gumam Jovanka pada diri sendiri. Dan membayangkan banyaknya uang yang bisa dia miliki kalau menjual rumah ini.
“Apa?” tanya Max bingung.
“Tidak ada, aku cuma menggumam tak penting. Hahaha ….” Malu dengan pikirannya yang terus berfokus soal uang, Jovanka tertawa terbahak-bahak.
Max berpamitan akan pergi mengurus sesuatu dan akan kembali nanti malam.
“Emang beda kalau orang kaya sama gembel biasa. Aaah … ini rumah apa istana, sih!” Jovanka berteriak dari balkon kamarnya. Memandang mobil Max yang melaju pelan meninggalkan halaman rumah. Meninggalkan Jovanka sendirian.
Puas memandangi pemandangan komplek dari balkon kamar, dia masuk dan duduk di atas ranjangnya yang besar dan empuk. Jovanka kembali merasa kesepian menyergapnya.
*****
Seorang laki-laki berdiri termangu menatap layar TV yang sedang menayangkan grafik saham. Keningnya kadang-kadang mengerut, di lain waktu terlihat tenang. Memasukkan sebelah tangannya ke saku celana dengan tangan lain menggenggam botol kaca berisi air mineral.
Suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Masuk seorang laki-laki setengah baya dengan perawakan pendek adan beruban di bagian depan. Dia mengangguk hormat sebelum meletakkan setumpuk dokumen di atas meja besar berlapis kaca.
“Apa ini, Kamal?” Lelaki yang lebih muda melangkah mendekati meja. Membiarkan layar TV tetap menyala.
“Informasi yang Tuan minta, tentang gadis yang tempo hari kita temui di mall.”
“Raline?”
“Bukan, Tuan Andrew. Namanya Jovanka,” jawab Kamal sabar.
Andrew mengamati foto-foto di dalam map. Ada banyak foto Jovanka dalam berbagai pose.
“Nama Jovanka, dipanggil Jojo oleh teman-teman sekantor. Berusia dua puluh tujuh tahun dengan pekerjaan saat ini menjadi staf administrasi di Vendros Impersia cabang Jakarta Utara.” Kamal membacakan catatan yang ada di tangannya.
“Lanjut,” perintah Andrew masih menatap foto Jovanka yang tertawa di tangannya.
“Punya satu saudara laki-laki yang sedang kuliah. Ayahnya bekerja sebagai mandor proyek bangunan. Pernah bertunangan--,”
“Pernah?” tanya Andrew heran.
Kamal mengangguk. “Sang tunangan mengkhianatinya.”
“Laki-laki brengsek!”
“Informasi paling penting Tuan.”
“Apa?” Andrew meletakkan foto Jovanka dan berbalik untuk menghadap Kamal.
“Dia menikah kemarin dengan Max Vendros!”
“Apaaa?!” Tanpa sadar Andrew menerjang Kamal dan mencengkeram krah jas-nya.
“Tuan, sabar,” ucap Kamal pelan sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman boss-nya.
Andrew memejamkan mata. Melepaskan tangannya dari leher Kamal dan melangkah menuju jendela kaca dengan gorden terbuka.
“Apakah kamu yakin dia tak ada hubungan dengan Raline?” tanyanya dengan mata terpaku pada pemandangan luar.
“Tidak, Tuan. Sudah saya pastikan.”
Andrew berbalik, keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu. Terdiam cukup lama sebelum akhirnya dia bicara, “Kamal, Max Vedros sepertinya akan menjadi patner pamanku untuk menggarap proyek di Jawa Barat.”
Kamal mengangguk. “Betul dia, Tuan. Kesepakatan sepertinya sudah dibuat oleh Max Vendros dan Pak Johanes.”
Senyum merekah dari bibir Andrew. Seakan-akan dia menemukan sesuatu yang menarik hatinya.
“Atur jadwal undangan makan malam dengan Max Vendros dan istrinya, ditunggu kedatangan mereka oleh Andrew dari Jaya Raya Group. Harusnya dia tahu jika kami adalah investor utama untuk proyek itu.”
“Tuan, mereka sudah menikah,” sanggah Kamal segera.
Andrew tertawa lirih dan menepuk pundak asistennya yang terlihat kuatir.
“Aku hanya ingin mengenal Jovanka, tidak lebih. Aku janji akan menjaga sikapku. Segera kirim undangan untuk mereka!”
Kamal mengangguk singkat lalu pergi meninggalkan sang boss sendirian. Sepeninggal Kamal, Andrew kembali menatap foto Jovanka. Mengelus lembut dengan tangannya
“Jadi namamu Jovanka, bukan Raline. Kita akan bertemu, segera! Sudah tidak sabar ingin mengenalmu, Jojo.”
*****
#Pengantin_Bayaran_Sang_CEO
#Part_10
#CEO's Bride.
Seminggu sudah Jovanka lalui menjadi istri seorang milyader. Selain gaya makan dan tidur yang ikut berubah, dia berharap gaya hidupnya tetap sama. Setiap pagi sebelum berangkat, Bu Erna akan menghidangkan sarapan yang lezat. Tidak lupa membawakan bekal makan siang untuknya karena Jovanka mengatakan, masakan di rumah lebih enak dari pada yang dia beli.
Bu Erna adalah kepala pelayan yang sangat berdedikasi menurutnya. Dia bisa mendeteksi adanya kotoran kecil di setiap sudut rumah. Para pelayan yang lain menghormatinya, begitu pun dengan Jovanka. Rasanya seperti berhadapan dengan guru yang tegas, saat Jovanka bicara dengannya.
Meski tinggal satu atap, Jovanka jarang melihat suaminya. Karena semenjak menikah, Max lebih banyak bekerja di kantor pusat. Meski merasa kesepian karena belum terbiasa tinggal rumah besar tapi Jovanka beranggapan, sudah risiko dari pekerjaan. Sebagai istri Max, dia digaji. Hampir setiap malam sebelum tidur dia menelepon mamanya, sekedar melepas rindu demi menghilangkan sepi.
“Jo, makanan yang kamu bawa kok enak-enak terus, sih?” Irma bertanya heran saat mereka makan di bawah pohon. Jovanka membuka kotak bekal tiga susun yang kesemuanya berisikan makanan bergizi dan lezat.
“Makanya, tiap hari kamu bawa nasih putih aja dari rumah. Biar aku yang bawa lauk,” jawab Jovanka dengan mulut penuh sayuran.
Irma memandang sahabatnya dengan berseri-seri. “Thanks ya, Jo. Bantu aku untuk ngirit. Maklum anak perantauan, jarang makan enak.”
Jovanka mengangguk, mengambil irisan daging dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Jo, katanya Mr. Max sudah menikah.”
Ucapan Irma membuat Jovanka menoleh cepat. “Dari mana kamu tahu?” tanyanya dengan jantung dag-dig-dug.
“Kabar angin, nggak sengaja dengar dari Bu Nina yang menyobrol dengan Pak Maulana. Menurut mereka, pesta diselenggarakan dengan privat makanya hanya pejabat eksekutif yang diundang.”
Tanpa sadar Jovanka mendesah lega. “Syukurlah.”
“Iya, Syukurlah Mr. Max menemukan jodohnya. Aku sih patah hati tapi kayaknya Amarisa itu istri yang baik.”
“Kok Amarisa?” tanya Jovanka tanpa sadar.
Irma mencubit lengannya sambil berbisik, “Rahasia nih, tenyata yang bertunangan dengan Mr. Max itu Nona Amarisa dari keluarga Lim. Tentu saja menikah pasti sama dia.”
Jovanka mengangguk, mengunyah makanan dengan pikiran menerawang. Sepertinya. sudah tiga hari ini dia tidak makan bersama Max. Suaminya sangat sibuk hingga pulang larut setiap malam. Tidak aneh juga jika orang beranggapan Max menikah dengan Amarisa, mengingat strata sosial mereka yang sederajat.
Selain soal makanan enak yang dibawa Jovanka ke kantor, Irma juga protes perihal motor barunya.
“Duuh, kamu dapat lotre, ya? Motor baru dan cantiiik,” ucap Irma sambil mengelus motor Jovanka yang berwarna pink.
“Huft, kredit ini,” dengkus Jovanka asal.
Meski tidak puas dengan jawaban Jovanka tapi Irma tidak membantah. Memandang motor baru Jovanka dengan pandangan memuja.
Sebenarnya, Max mengatakan ingin membeli motor dengan cc besar tapi Jovanka menolak. Dia lebih suka motor biasa, lebih nyaman untuk dibawa nyelip di antara kemacetan.
Pekan ke dua dia menjadi istri Max, seorang tamu yang tak disangka datang mengunjungi. Di Sabtu siang yang panas, sorang gadis umur dua puluhan dengan rambut ikal kecoklatan sebahu turun dari mobil sport merah dan melangkah penuh percaya diri ke pintu. Kebetulan, suaminya berpamitan dari pagi ingin ke luar bersama Steve dan meninggalkan dia sendiri.
Ketukan pelan di pintu kamar dari pelayan yang memberitahu Jovanka ada tamu yang mencari, membuatnya tercengang. Siapa yang datang mencarinya di rumah ini? Dengan penuh keheranan dia turun dan mendapati seorang gadis cantik berdiri angkuh di ruang tamu.
“Hallo, Kakak. Aku Evelyn, adik dari suamimu,” sapa sang gadis sambil menghampiri Jovanka dan memeluknya sekilas.
Belum sempat Jovanka bereaksi, Evely merentangkan tangannya dan menatap Jovanka dari atas ke bawah. Membuat Jovanka merasa ditelanjangi.
“Apa?” tanya Jovanka bingung. Lupa jika dia belum membalas sapaan Evelyn.
“Ini baju apa, Kak?” tanya Evelyn sambil menunjuk gaun rumahnya yang terbuat dari katun.
“Ini daster,” jawab Jovanka pelan.
Evely menggelengkan kepala tidak puas. “Kamu mau memikat Kakakku tersayang yang terkenal tampan dengan daster lusuh begini?”
Kata-kata Evelyn membuat Jovanka tersinggung. “Ini daster baru, bukan lusuh.”
“Memang tapi untuk pembantu bukan untuk pengantin baru. Mana bisa Kakakku betah di rumah kalau punya istri tampilannya begini?” ejek Evely terang-terangan.
Jovanka hendak membantah tapi sang adik ipar kurang ajar menarik tangannya ke tangga.
“Sana, naik. Ganti baju, kita pergi, Kak!” perintahnya dengan nada boss.
“Kemana?” tanya Jovanka masih dengan keadaan bingung.
“Belanja tentu saja!”
Jovanka bahkan tidak sempat bertanya basi basi dengan Evely, dia sudah digandeng masuk mobil. Dibawa ke mall mewah di jantung kota. Selanjutnya yang terjadi membuatnya makin pusing, Evelyn memaksanya mencoba semua baju yang dianggap bagus. Dia hanya perlu tetap di kamar ganti dengan adik ipar yang menyorongkan baju dengan wajah seram yang sulit dibantah.
Saat sadar, sudah ada setumpuk baju di kursi pengunjung yang selesai dia coba. Semuanya berupa tunik, celana bahkan ada gaun indah beberapa di antaranya. Sementara dua orang pelayan toko berdiri anggun di samping Evelyn.
“Eih, kok sebanyak ini diambil semua?” protes Jovanka pada saat Evelyn meminta pelayan menghitung baju.
Evelyn seakan tidak mendengar protesnya, membuka tangan di depan Jovanka yang kebingungan.
“Kartu kredit mana?”
Jovanka membuka tas dan mengambil kartu kredit yang diberikan Max untuknya. Dengan senyum tersungging, Evelyn menyerahkan kartu ke kasir. Saat melihat tagihan, mata Jovanka melotot dan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Eih, Dik. Nggak salah ini? Tagihan seharga motor baru?” bisik Jovanka panik. “Nanti kalau Max marah gimana?”
Evely berkacak pinggang. “Ngapaian takut gitu, sih? Ini semua demi mengubah penampilan Kakak biar lebih cantik. Lagian, kamu itu istri bukan pembantu. Takut amat. Yuuk, ke bagian lingere.”
Meski Jovanka menolak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Evelyn, toh dia kalah juga. Setelahnya ke toko tas, sepatu dan terakhir toko pakaian dalam. Jovanka merasa wajahnya memerah saat Evelyn sibuk berceloteh tentang warna pakaian dalam yang cocok untuk dikenakan Jovanka agar Max makin cinta.
Selesai belanja dengan kantong-kantong memenuhi bagasi mobil, mereka pulang. Jovanka menatap tumpukan kantong belanjaan dengan kuatir. Bagaimana jika Max marah dan memutuskan untuk memotong gajinya? Aduuh, gara-gara belanja dengan nona besar dia jadi banyak hutang.
Membayangkan jika uang yang habis dipakai belanja hari ini adalah gajinya selama setahun.
“Evelyn, terima kasih untuk hari ini,” ucap Jovanka pelan. Mengabaikan kekuatiran karena akan menerima tagihan hutang dari Max.
Evelyn menoleh, melirik Jovanka yang berada di sisinya. Dengan tangan di berada di atas kemudi, terlihat serius dan entah kenapa Jovanka merasa jika Evelyn terlihat lebih tua dari umurnya. Mereka sudah bersama selama berjam-jam di mall tapi tidak bicara hal lain selain soal baju, sepatu mau pun make-up.
“Kak, aku senang Kak Max menikah denganmu. Memang sih, secara strata sosial jelas kalian beda. Bahkan kedua orang tuaku pun tidak setuju dengan pernikahan kalian tapi entah kenapa aku suka padamu.”
Jawaban adik Max yang terus terang membuat Jovanka tercengang. Dia menoleh ke arah Evelyn dan berkata pelan, “Kalau sedang tidak menyetir, aku akan menciummu.”
Evelyn tertawa, Jovanka meringis kecil.
“Kak Max terbiasa sendiri dari semenjak kuliah hingga sekarang. Malah kupikir dia tidak akan menikah tapi ternyata dugaanku salah. Setidaknya, kehadiranmu di rumah itu memberiku alasan untuk sering berkunjung ke sana.”
Jovanka tersenyum, menatap lampu-lampu kota yang terbias dari balik kaca mobil.
“Itu rumah Kakakmu, datang saja kapan kamu mau. Kenapa harus ada alasan?”
Evelyn menyunggingkan senyum pahit. Matanya menatap jalanan yang padat. Banyak kendaraan berlalu lalang untuk menikmati malam minggu.
“Kak Max membenciku,” ucapnya pelan.
Jovanka menoleh cepat. “Kenapa?”
Dia menatap adik iparnya yang mengangkat bahu.
“Karena dia menganggap Mamaku sudah merebut Papa dari Mamanya.”
Jovanka ternganga dan tiba-tiba menyadari kenapa sikap Max sangat bermusuhan dengan Pak Abraham. Ternyata ada persoalan rumit di dalam keluarga mereka. Untuk sementara ini dia tidak akan banyak bertanya karena memang bukan urusannya. Bagaimana pun dia tahu posisinya hanya sebagai istri bayaran, tidak seharusnya banyak tanya.
“Datanglah kapan pun kamu mau. Kakakmu sering keluar kota. Aku senang kamu datang menemaniku.”
“Benarkah?” tanya Evelyn gembira. Seketika, Jovanka melihat kemiripan antara Evelyn dan Max, meski mata mereka berbeda warna tapi mempunyai bentuk yang sama.
Jovanka mengangguk, entah kenapa merasa terharu atas penerimaan tanpa pamrih adik tiri Max pada kehadirannya di keluarga mereka. Jika dilihat lagi, umur Evelyn dengan Agra tidak jauh beda. Meski berposisi sebagai anak orang kaya, Evelyn ternyata berkepribadian baik. Hanya saja, omongannya memang ceplas-ceplos.
Setelah semua kantong belanja dibawa masuk ke kamarnya dan Evelyn pamit pulang, Jovanka rebah di kasur. Seketika rasa mual menghinggapinya saat teringat banyaknya tagihan belanja.
“Aaah, aku dapat uang dari mana untuk membayar sebanyak ini?” teriaknya tanpa sadar. “harusnya tadi aku tegas menolak. Tapi siapa sih, yang bisa menolak keinginan nona besar?”
Puas menyesali diri, mata Jovanka tertuju pada kantong kertas merah yang menyembulkan isinya. Dengan penasaran dia mengambil barang yang ada di dalamnya dan mendapati sebuah lingere sexy berwarna merah kehitaman. Seketika, mata Jovanka membulat keheranan.
“Bagaimana ini pakainya?” gumamnya bingung. Ada garter belt lengkap dengan stocking bewarna senada. Saat dia sedang asyik memperhatikan bra di tangannya, terdengar ketukan di pintu. Mengira jika yang datang adalah pelayan, Jovanka berteriak.
“Masuk aja, nggak dikunci.”
Itu adalah momen paling memalukan dalam hidup Jovanka saat pintu terbuka dan menampakkan wujud Max. Dengan posisi dia masih memegang bra dan garter belt. Terlihat Max menatap lingere di tanganya dengan satu alis terangkat dan membuat Jovanka sadar apa yang sedang dia pegang.
“Sir, maaf,” ucapnya dengan gugup. Meletakkan tangan di belakang punggung untuk menyembunyikan lingere.
Max tidak menjawab, berdiri dengan tangan berada dalam saku. Bersandar santai di pintu. Matanya menjelajah pada kantong-kantong belanjaan yang bertebaran di lantai lalu pada Jovanka yang berdiri menunduk dengan tangan menyembunyikan lingere.
“Aku dengar Eve datang kemari?”
Jovanka mengangguk. “Iya, Sir.”
“Kalian pergi belanja?”
Sekali lagi Jovanka mengangguk. “Pakai kartu kreditmu,” ucapnya lirih.
“Ehm, Eve memang begitu. Suka memaksakan kehendak.”
“Eih, nggak gitu, Sir.Memang aku suka juga di ajak jalan-jalan, tolong jangan marahi dia. Aku akan bayar,” sahut Jovanka bertubi-tubi, “nyicil tapinya.” Suaranya mengecil.
Suara tawa terdengar dari mulut Max. Jovanka menatapnya heran. Tidak ada rasa marah terlintas di wajah meski uangnya baru saja dikeruk Jovanka.
“Jojo, kartu kredit itu memang untuk kamu gunakan. Santai saja. Selama tidak kamu pakai untuk membeli rumah atau pesawat, aku masih sanggup membayar tagihannya.”
Ucapan Max membuat Jovanka tercengang. Saking kagetnya dia bahkan tak tahu harus bicara apa. Tanpa sadar mengawasi Max yang sekarang jongkok di depan kantong belanjaan dan mengintip isinya.
“Apa kamu ada beli gaun?”
“Ada, Sir.
“Bagus, Sabtu depan kita ada jamuan makan. Ada baiknya kalau kamu pakai gaun.”
“Hah, kita berdua, Sir?” tanya Jovanka kaget.
“Iyalah, mereka tahu kita sudah menikah.”
Jovanka mengangguk, sedikit merasa lega. Jika ternyata apa yang dibelinya ternyata berguna. Max berdiri, malam ini dia terlihat luar biasa tampan dengan kemeja strip merah dan rompi abu-abu yang membungkus tubuh kekarnya dengan pas.
“Aku akan pergi, mungkin pulang larut,” pamitnya pada Jovanka. Tiga langkah dia berbalik, “itu namanya garter belt,” tunjuknya ke arah punggung Jovanka.
“Apa?” tanya Jovanka bingung.
“Itu, yang kamu pegang. Harusnya dipakai di paha dan dikaitkan dengan stoking, berlanjut ke bra.”
Penjelasan Max yang gamblang membuat Jovanka melongo tapi juga merasa malu luar biasa. Dia berdiri canggung, merasa badannya menghangat dengan Max menggodanya soal lingere.
“In-ini, Eve yang membeli,” ucapnya terbata dengan wajah merah padam.
Max tersenyum geli sambil berkata menggoda, “Pakai saja, dengan bentuk badanmu aku yakin akan terlihat sexy.”
Oke, rasanya Jovanka pingin masuk ke dasar bumi untuk menyembunyikan malu hati. Dia kepergok membeli lingere sexy oleh orang yang ingin dia hindari. Saat Max melirik sebelum meninggalkan kamar rasanya Jovanka merasa ditelanjangi. Wangi samar yang sexy menguar di udara bersamaan dengan kepergian Max.
“Aaah, jangan sampai dia mengira aku membeli ini untuk menggodanya!” Teriakan panik Jovanka bergema di kamar yang sepi. Buru-buru dia memanggil pelayan untuk membantunya merapikan barang-barang yang baru saja dia beli. Segera, lemari tinggi yang semula hanya terisi satu laci, kini mulai terlihat ada baju di sana meski penambahannya tidak banyak.
***
Musik jazz mengalun pelan dari atas panggung kecil. Seorang penyanyi wanita bersuara serak sedang melantunkan lagi berirama sendu. Lampu kristal warna merah berpendar temaran di setiap sudut bar.
Max duduk di meja nomor lima belas. Matanya menerawang menembus kaca dan menatap bayangan kota. Dari lantai lima, terlihat lebih banyak atap rumah dari pada pemandangan lain.
Dia mengalihkan pandangan, menatap lampu kristal yang kemerahan. Mendadak pikirannya tertuju pada Jovanka dengan lingere merah yang berusaha dia sembunyikan. Rona merah yang menjalari wajah Jovanka membuatnya terlihat menggemaskan. Memang lucu jika punya seseorang untuk digoda. Senyum menghilang dari wajah Max saat suara yang feminim menyapanya.
“Max ….”
Rasanya semua benda dan semua orang tersibak saat Violet melenggang masuk ke dalam bar. Alunan musik berhenti sesaat dan kembali berkumandang setelah Violet duduk di kursi. Max mengamati wanita di depannya, terlihat luar biasa cantik dalam balutan gaun putih dengan dengan lengan tali dan menampakkan pundaknya. Terdengar bisik-bisik dan pandangan mata ingin tahu dari pengunjung bar ke arah Violet.
“Violet, mau minum apa?” tanya Max pelan.
Seorang pelayan berseragam putih hitam datang menghampiri dengan menu di tangan. Violet melihat sekilas ke arah menu.
“Mocktail, please,” ucapnya pada sang pelayan. Sesaat wajah laki-laki muda yang memegang menu di tangan memerah seperti kepiting.
“Ap-apakah Anda, Violet?” tanyanya tergagap.
Violet tersenyum. “Iya, bisa dibuat lebih cepat pesanannya? Aku haus.”
Serasa diusir halus, dia mengangguk dan bergegas meninggalkan meja yang ditempati Violet dan Max.
“Masih seperti dulu, tidak ramah,” ucap Max pelan.
Violet mengangkat sedikit bahu, menunjukkan lehernya yang jenjang.
“Dia saja yang tidak tahu tempat.”
“Kamu tinggal di hotel ini?” tanya Max sambil meraih minumannya.
“Iya, untuk sementara sampai suitku selesai dibersihkan. Aku rindu sekali padamu, Max.” Violet mendesah, meraih tangan kiri Max dan meremasnya.
Max memandang sekilas ke arah tangan mereka yang bertautan. Meneguk perlahan minuman segar dan meletakkannya ke atas meja. Sang pelayan datang membawa minuman pesanan Violet. Max melepaskan tangannya perlahan.
“Aku pulang setelah hampir setahun meninggalkan tanah air, bukan sambutan penuh cinta yang aku dapat melainkan kabar buruk. Max Vendros menikah.” Violet memainkan daun mint di atas gelasnya. Memandang Max yang terdiam.
“Kamu tega, menikungku seperti ini.”
Max mendesah, mengalihkan matanya yang semula ke arah gelas di tangan kini memandang Violet lekat-lekat.
“Aku pernah melamarmu, ingat? Dan kau menolakku.”
Violet tertawa kecil. “Karena aku belum siap waktu itu, Max.”
“Lebih penting bagimu kepopuleran dari pada Max Vendros.”
“Kamu salah!” sergah Violet sedikit mengeraskan suara. “Semua tekanan yang aku terima dari keluargamu membuatku nyaris gila. Apa kamu tak tahu apa yang dikatakan Papamu padaku? Gadis miskin yang meraup kekayaan dari menjual tubuhnya ke publik. Aku sakit hati Max.” Tunjuk Violet ke dadanya. Berucap dengan suara berapi dan mata yang berkabut.
Max tidak mengubah posisi, tetap memandang wanita cantik yang selalu mengisi hatinya.
“Violet, kamu lebih memilih melarikan diri dari pada bersandar padaku?”
“Aku tidak melarikan diri, aku ingin membuktikan pada mereka jika aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri!”
“Mereka siapa? Papaku? Penggemarmu? Yang pasti bukan aku, ya, kan?”
Mulut Violet kembali menutup saat mendengar ucapan Max. Mau nggak mau dia mengakui jika apa yang dikatakan Max benar.
“Aku tetap mencintaimu, Max. Semua kulakukan untuk kita,” desah Violet.
Max tersenyum kecil. Merogoh kantong dan mengeluarkan dompet. Mengambil beberapa lembar ratusan ribu dan meletakkannya di atas meja.
“Mencintai artinya berdampingan dan tidak meninggalkan. Mempercayai orang yang kau cintai untuk membuatmu bahagia bukan dengan mengejar sesuatu yang kau kira akan membuatnya bahagia,” tegas Max sambil bangkit dari kursi.
“Max, please. Jangan pergi dulu.” Tangan Violet terulur untuk menahan Max.
“Pembicaraan kita sudah selesai, aku harus pulang. Banyak kerjaan di kantor besok.”
“Besok Minggu Max, apa salahnya kita berbagi malam ini bersama? Apa kamu takut dengan istrimu?” ejek Violet.
Max melepaskan tangan Violet, tidak mengindahkan ejekannya. “Selamat malam Vi.”
Belum sempat Max beranjak dari tempatnya, terdengar desisan dari mulut Violet yang membuat Max terdiam.
“Jangan kau kira aku tak tahu jika pernikahan itu hanya pura-pura. Kau pikir bisa menipuku, Max Vendros! Aku tahu wanita itu bukan seleramu.”
Max tidak menanggapi, melangkah perlahan meninggalkan meja.
“Aku tidak akan berhenti sampai di sini, Max Vendros.” Ancaman Violet mengiringi langkah Max menuju pintu.
“Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali, Max,” desis Violet pelan. Menatap punggung Max yang menghilang di balik pintu. Jemarinya yang lentik meraih gelas dan menandaskan minuman dalam sekali teguk.
*****
bersambung
#Part_10
#CEO's Bride.
Seminggu sudah Jovanka lalui menjadi istri seorang milyader. Selain gaya makan dan tidur yang ikut berubah, dia berharap gaya hidupnya tetap sama. Setiap pagi sebelum berangkat, Bu Erna akan menghidangkan sarapan yang lezat. Tidak lupa membawakan bekal makan siang untuknya karena Jovanka mengatakan, masakan di rumah lebih enak dari pada yang dia beli.
Bu Erna adalah kepala pelayan yang sangat berdedikasi menurutnya. Dia bisa mendeteksi adanya kotoran kecil di setiap sudut rumah. Para pelayan yang lain menghormatinya, begitu pun dengan Jovanka. Rasanya seperti berhadapan dengan guru yang tegas, saat Jovanka bicara dengannya.
Meski tinggal satu atap, Jovanka jarang melihat suaminya. Karena semenjak menikah, Max lebih banyak bekerja di kantor pusat. Meski merasa kesepian karena belum terbiasa tinggal rumah besar tapi Jovanka beranggapan, sudah risiko dari pekerjaan. Sebagai istri Max, dia digaji. Hampir setiap malam sebelum tidur dia menelepon mamanya, sekedar melepas rindu demi menghilangkan sepi.
“Jo, makanan yang kamu bawa kok enak-enak terus, sih?” Irma bertanya heran saat mereka makan di bawah pohon. Jovanka membuka kotak bekal tiga susun yang kesemuanya berisikan makanan bergizi dan lezat.
“Makanya, tiap hari kamu bawa nasih putih aja dari rumah. Biar aku yang bawa lauk,” jawab Jovanka dengan mulut penuh sayuran.
Irma memandang sahabatnya dengan berseri-seri. “Thanks ya, Jo. Bantu aku untuk ngirit. Maklum anak perantauan, jarang makan enak.”
Jovanka mengangguk, mengambil irisan daging dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Jo, katanya Mr. Max sudah menikah.”
Ucapan Irma membuat Jovanka menoleh cepat. “Dari mana kamu tahu?” tanyanya dengan jantung dag-dig-dug.
“Kabar angin, nggak sengaja dengar dari Bu Nina yang menyobrol dengan Pak Maulana. Menurut mereka, pesta diselenggarakan dengan privat makanya hanya pejabat eksekutif yang diundang.”
Tanpa sadar Jovanka mendesah lega. “Syukurlah.”
“Iya, Syukurlah Mr. Max menemukan jodohnya. Aku sih patah hati tapi kayaknya Amarisa itu istri yang baik.”
“Kok Amarisa?” tanya Jovanka tanpa sadar.
Irma mencubit lengannya sambil berbisik, “Rahasia nih, tenyata yang bertunangan dengan Mr. Max itu Nona Amarisa dari keluarga Lim. Tentu saja menikah pasti sama dia.”
Jovanka mengangguk, mengunyah makanan dengan pikiran menerawang. Sepertinya. sudah tiga hari ini dia tidak makan bersama Max. Suaminya sangat sibuk hingga pulang larut setiap malam. Tidak aneh juga jika orang beranggapan Max menikah dengan Amarisa, mengingat strata sosial mereka yang sederajat.
Selain soal makanan enak yang dibawa Jovanka ke kantor, Irma juga protes perihal motor barunya.
“Duuh, kamu dapat lotre, ya? Motor baru dan cantiiik,” ucap Irma sambil mengelus motor Jovanka yang berwarna pink.
“Huft, kredit ini,” dengkus Jovanka asal.
Meski tidak puas dengan jawaban Jovanka tapi Irma tidak membantah. Memandang motor baru Jovanka dengan pandangan memuja.
Sebenarnya, Max mengatakan ingin membeli motor dengan cc besar tapi Jovanka menolak. Dia lebih suka motor biasa, lebih nyaman untuk dibawa nyelip di antara kemacetan.
Pekan ke dua dia menjadi istri Max, seorang tamu yang tak disangka datang mengunjungi. Di Sabtu siang yang panas, sorang gadis umur dua puluhan dengan rambut ikal kecoklatan sebahu turun dari mobil sport merah dan melangkah penuh percaya diri ke pintu. Kebetulan, suaminya berpamitan dari pagi ingin ke luar bersama Steve dan meninggalkan dia sendiri.
Ketukan pelan di pintu kamar dari pelayan yang memberitahu Jovanka ada tamu yang mencari, membuatnya tercengang. Siapa yang datang mencarinya di rumah ini? Dengan penuh keheranan dia turun dan mendapati seorang gadis cantik berdiri angkuh di ruang tamu.
“Hallo, Kakak. Aku Evelyn, adik dari suamimu,” sapa sang gadis sambil menghampiri Jovanka dan memeluknya sekilas.
Belum sempat Jovanka bereaksi, Evely merentangkan tangannya dan menatap Jovanka dari atas ke bawah. Membuat Jovanka merasa ditelanjangi.
“Apa?” tanya Jovanka bingung. Lupa jika dia belum membalas sapaan Evelyn.
“Ini baju apa, Kak?” tanya Evelyn sambil menunjuk gaun rumahnya yang terbuat dari katun.
“Ini daster,” jawab Jovanka pelan.
Evely menggelengkan kepala tidak puas. “Kamu mau memikat Kakakku tersayang yang terkenal tampan dengan daster lusuh begini?”
Kata-kata Evelyn membuat Jovanka tersinggung. “Ini daster baru, bukan lusuh.”
“Memang tapi untuk pembantu bukan untuk pengantin baru. Mana bisa Kakakku betah di rumah kalau punya istri tampilannya begini?” ejek Evely terang-terangan.
Jovanka hendak membantah tapi sang adik ipar kurang ajar menarik tangannya ke tangga.
“Sana, naik. Ganti baju, kita pergi, Kak!” perintahnya dengan nada boss.
“Kemana?” tanya Jovanka masih dengan keadaan bingung.
“Belanja tentu saja!”
Jovanka bahkan tidak sempat bertanya basi basi dengan Evely, dia sudah digandeng masuk mobil. Dibawa ke mall mewah di jantung kota. Selanjutnya yang terjadi membuatnya makin pusing, Evelyn memaksanya mencoba semua baju yang dianggap bagus. Dia hanya perlu tetap di kamar ganti dengan adik ipar yang menyorongkan baju dengan wajah seram yang sulit dibantah.
Saat sadar, sudah ada setumpuk baju di kursi pengunjung yang selesai dia coba. Semuanya berupa tunik, celana bahkan ada gaun indah beberapa di antaranya. Sementara dua orang pelayan toko berdiri anggun di samping Evelyn.
“Eih, kok sebanyak ini diambil semua?” protes Jovanka pada saat Evelyn meminta pelayan menghitung baju.
Evelyn seakan tidak mendengar protesnya, membuka tangan di depan Jovanka yang kebingungan.
“Kartu kredit mana?”
Jovanka membuka tas dan mengambil kartu kredit yang diberikan Max untuknya. Dengan senyum tersungging, Evelyn menyerahkan kartu ke kasir. Saat melihat tagihan, mata Jovanka melotot dan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Eih, Dik. Nggak salah ini? Tagihan seharga motor baru?” bisik Jovanka panik. “Nanti kalau Max marah gimana?”
Evely berkacak pinggang. “Ngapaian takut gitu, sih? Ini semua demi mengubah penampilan Kakak biar lebih cantik. Lagian, kamu itu istri bukan pembantu. Takut amat. Yuuk, ke bagian lingere.”
Meski Jovanka menolak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Evelyn, toh dia kalah juga. Setelahnya ke toko tas, sepatu dan terakhir toko pakaian dalam. Jovanka merasa wajahnya memerah saat Evelyn sibuk berceloteh tentang warna pakaian dalam yang cocok untuk dikenakan Jovanka agar Max makin cinta.
Selesai belanja dengan kantong-kantong memenuhi bagasi mobil, mereka pulang. Jovanka menatap tumpukan kantong belanjaan dengan kuatir. Bagaimana jika Max marah dan memutuskan untuk memotong gajinya? Aduuh, gara-gara belanja dengan nona besar dia jadi banyak hutang.
Membayangkan jika uang yang habis dipakai belanja hari ini adalah gajinya selama setahun.
“Evelyn, terima kasih untuk hari ini,” ucap Jovanka pelan. Mengabaikan kekuatiran karena akan menerima tagihan hutang dari Max.
Evelyn menoleh, melirik Jovanka yang berada di sisinya. Dengan tangan di berada di atas kemudi, terlihat serius dan entah kenapa Jovanka merasa jika Evelyn terlihat lebih tua dari umurnya. Mereka sudah bersama selama berjam-jam di mall tapi tidak bicara hal lain selain soal baju, sepatu mau pun make-up.
“Kak, aku senang Kak Max menikah denganmu. Memang sih, secara strata sosial jelas kalian beda. Bahkan kedua orang tuaku pun tidak setuju dengan pernikahan kalian tapi entah kenapa aku suka padamu.”
Jawaban adik Max yang terus terang membuat Jovanka tercengang. Dia menoleh ke arah Evelyn dan berkata pelan, “Kalau sedang tidak menyetir, aku akan menciummu.”
Evelyn tertawa, Jovanka meringis kecil.
“Kak Max terbiasa sendiri dari semenjak kuliah hingga sekarang. Malah kupikir dia tidak akan menikah tapi ternyata dugaanku salah. Setidaknya, kehadiranmu di rumah itu memberiku alasan untuk sering berkunjung ke sana.”
Jovanka tersenyum, menatap lampu-lampu kota yang terbias dari balik kaca mobil.
“Itu rumah Kakakmu, datang saja kapan kamu mau. Kenapa harus ada alasan?”
Evelyn menyunggingkan senyum pahit. Matanya menatap jalanan yang padat. Banyak kendaraan berlalu lalang untuk menikmati malam minggu.
“Kak Max membenciku,” ucapnya pelan.
Jovanka menoleh cepat. “Kenapa?”
Dia menatap adik iparnya yang mengangkat bahu.
“Karena dia menganggap Mamaku sudah merebut Papa dari Mamanya.”
Jovanka ternganga dan tiba-tiba menyadari kenapa sikap Max sangat bermusuhan dengan Pak Abraham. Ternyata ada persoalan rumit di dalam keluarga mereka. Untuk sementara ini dia tidak akan banyak bertanya karena memang bukan urusannya. Bagaimana pun dia tahu posisinya hanya sebagai istri bayaran, tidak seharusnya banyak tanya.
“Datanglah kapan pun kamu mau. Kakakmu sering keluar kota. Aku senang kamu datang menemaniku.”
“Benarkah?” tanya Evelyn gembira. Seketika, Jovanka melihat kemiripan antara Evelyn dan Max, meski mata mereka berbeda warna tapi mempunyai bentuk yang sama.
Jovanka mengangguk, entah kenapa merasa terharu atas penerimaan tanpa pamrih adik tiri Max pada kehadirannya di keluarga mereka. Jika dilihat lagi, umur Evelyn dengan Agra tidak jauh beda. Meski berposisi sebagai anak orang kaya, Evelyn ternyata berkepribadian baik. Hanya saja, omongannya memang ceplas-ceplos.
Setelah semua kantong belanja dibawa masuk ke kamarnya dan Evelyn pamit pulang, Jovanka rebah di kasur. Seketika rasa mual menghinggapinya saat teringat banyaknya tagihan belanja.
“Aaah, aku dapat uang dari mana untuk membayar sebanyak ini?” teriaknya tanpa sadar. “harusnya tadi aku tegas menolak. Tapi siapa sih, yang bisa menolak keinginan nona besar?”
Puas menyesali diri, mata Jovanka tertuju pada kantong kertas merah yang menyembulkan isinya. Dengan penasaran dia mengambil barang yang ada di dalamnya dan mendapati sebuah lingere sexy berwarna merah kehitaman. Seketika, mata Jovanka membulat keheranan.
“Bagaimana ini pakainya?” gumamnya bingung. Ada garter belt lengkap dengan stocking bewarna senada. Saat dia sedang asyik memperhatikan bra di tangannya, terdengar ketukan di pintu. Mengira jika yang datang adalah pelayan, Jovanka berteriak.
“Masuk aja, nggak dikunci.”
Itu adalah momen paling memalukan dalam hidup Jovanka saat pintu terbuka dan menampakkan wujud Max. Dengan posisi dia masih memegang bra dan garter belt. Terlihat Max menatap lingere di tanganya dengan satu alis terangkat dan membuat Jovanka sadar apa yang sedang dia pegang.
“Sir, maaf,” ucapnya dengan gugup. Meletakkan tangan di belakang punggung untuk menyembunyikan lingere.
Max tidak menjawab, berdiri dengan tangan berada dalam saku. Bersandar santai di pintu. Matanya menjelajah pada kantong-kantong belanjaan yang bertebaran di lantai lalu pada Jovanka yang berdiri menunduk dengan tangan menyembunyikan lingere.
“Aku dengar Eve datang kemari?”
Jovanka mengangguk. “Iya, Sir.”
“Kalian pergi belanja?”
Sekali lagi Jovanka mengangguk. “Pakai kartu kreditmu,” ucapnya lirih.
“Ehm, Eve memang begitu. Suka memaksakan kehendak.”
“Eih, nggak gitu, Sir.Memang aku suka juga di ajak jalan-jalan, tolong jangan marahi dia. Aku akan bayar,” sahut Jovanka bertubi-tubi, “nyicil tapinya.” Suaranya mengecil.
Suara tawa terdengar dari mulut Max. Jovanka menatapnya heran. Tidak ada rasa marah terlintas di wajah meski uangnya baru saja dikeruk Jovanka.
“Jojo, kartu kredit itu memang untuk kamu gunakan. Santai saja. Selama tidak kamu pakai untuk membeli rumah atau pesawat, aku masih sanggup membayar tagihannya.”
Ucapan Max membuat Jovanka tercengang. Saking kagetnya dia bahkan tak tahu harus bicara apa. Tanpa sadar mengawasi Max yang sekarang jongkok di depan kantong belanjaan dan mengintip isinya.
“Apa kamu ada beli gaun?”
“Ada, Sir.
“Bagus, Sabtu depan kita ada jamuan makan. Ada baiknya kalau kamu pakai gaun.”
“Hah, kita berdua, Sir?” tanya Jovanka kaget.
“Iyalah, mereka tahu kita sudah menikah.”
Jovanka mengangguk, sedikit merasa lega. Jika ternyata apa yang dibelinya ternyata berguna. Max berdiri, malam ini dia terlihat luar biasa tampan dengan kemeja strip merah dan rompi abu-abu yang membungkus tubuh kekarnya dengan pas.
“Aku akan pergi, mungkin pulang larut,” pamitnya pada Jovanka. Tiga langkah dia berbalik, “itu namanya garter belt,” tunjuknya ke arah punggung Jovanka.
“Apa?” tanya Jovanka bingung.
“Itu, yang kamu pegang. Harusnya dipakai di paha dan dikaitkan dengan stoking, berlanjut ke bra.”
Penjelasan Max yang gamblang membuat Jovanka melongo tapi juga merasa malu luar biasa. Dia berdiri canggung, merasa badannya menghangat dengan Max menggodanya soal lingere.
“In-ini, Eve yang membeli,” ucapnya terbata dengan wajah merah padam.
Max tersenyum geli sambil berkata menggoda, “Pakai saja, dengan bentuk badanmu aku yakin akan terlihat sexy.”
Oke, rasanya Jovanka pingin masuk ke dasar bumi untuk menyembunyikan malu hati. Dia kepergok membeli lingere sexy oleh orang yang ingin dia hindari. Saat Max melirik sebelum meninggalkan kamar rasanya Jovanka merasa ditelanjangi. Wangi samar yang sexy menguar di udara bersamaan dengan kepergian Max.
“Aaah, jangan sampai dia mengira aku membeli ini untuk menggodanya!” Teriakan panik Jovanka bergema di kamar yang sepi. Buru-buru dia memanggil pelayan untuk membantunya merapikan barang-barang yang baru saja dia beli. Segera, lemari tinggi yang semula hanya terisi satu laci, kini mulai terlihat ada baju di sana meski penambahannya tidak banyak.
***
Musik jazz mengalun pelan dari atas panggung kecil. Seorang penyanyi wanita bersuara serak sedang melantunkan lagi berirama sendu. Lampu kristal warna merah berpendar temaran di setiap sudut bar.
Max duduk di meja nomor lima belas. Matanya menerawang menembus kaca dan menatap bayangan kota. Dari lantai lima, terlihat lebih banyak atap rumah dari pada pemandangan lain.
Dia mengalihkan pandangan, menatap lampu kristal yang kemerahan. Mendadak pikirannya tertuju pada Jovanka dengan lingere merah yang berusaha dia sembunyikan. Rona merah yang menjalari wajah Jovanka membuatnya terlihat menggemaskan. Memang lucu jika punya seseorang untuk digoda. Senyum menghilang dari wajah Max saat suara yang feminim menyapanya.
“Max ….”
Rasanya semua benda dan semua orang tersibak saat Violet melenggang masuk ke dalam bar. Alunan musik berhenti sesaat dan kembali berkumandang setelah Violet duduk di kursi. Max mengamati wanita di depannya, terlihat luar biasa cantik dalam balutan gaun putih dengan dengan lengan tali dan menampakkan pundaknya. Terdengar bisik-bisik dan pandangan mata ingin tahu dari pengunjung bar ke arah Violet.
“Violet, mau minum apa?” tanya Max pelan.
Seorang pelayan berseragam putih hitam datang menghampiri dengan menu di tangan. Violet melihat sekilas ke arah menu.
“Mocktail, please,” ucapnya pada sang pelayan. Sesaat wajah laki-laki muda yang memegang menu di tangan memerah seperti kepiting.
“Ap-apakah Anda, Violet?” tanyanya tergagap.
Violet tersenyum. “Iya, bisa dibuat lebih cepat pesanannya? Aku haus.”
Serasa diusir halus, dia mengangguk dan bergegas meninggalkan meja yang ditempati Violet dan Max.
“Masih seperti dulu, tidak ramah,” ucap Max pelan.
Violet mengangkat sedikit bahu, menunjukkan lehernya yang jenjang.
“Dia saja yang tidak tahu tempat.”
“Kamu tinggal di hotel ini?” tanya Max sambil meraih minumannya.
“Iya, untuk sementara sampai suitku selesai dibersihkan. Aku rindu sekali padamu, Max.” Violet mendesah, meraih tangan kiri Max dan meremasnya.
Max memandang sekilas ke arah tangan mereka yang bertautan. Meneguk perlahan minuman segar dan meletakkannya ke atas meja. Sang pelayan datang membawa minuman pesanan Violet. Max melepaskan tangannya perlahan.
“Aku pulang setelah hampir setahun meninggalkan tanah air, bukan sambutan penuh cinta yang aku dapat melainkan kabar buruk. Max Vendros menikah.” Violet memainkan daun mint di atas gelasnya. Memandang Max yang terdiam.
“Kamu tega, menikungku seperti ini.”
Max mendesah, mengalihkan matanya yang semula ke arah gelas di tangan kini memandang Violet lekat-lekat.
“Aku pernah melamarmu, ingat? Dan kau menolakku.”
Violet tertawa kecil. “Karena aku belum siap waktu itu, Max.”
“Lebih penting bagimu kepopuleran dari pada Max Vendros.”
“Kamu salah!” sergah Violet sedikit mengeraskan suara. “Semua tekanan yang aku terima dari keluargamu membuatku nyaris gila. Apa kamu tak tahu apa yang dikatakan Papamu padaku? Gadis miskin yang meraup kekayaan dari menjual tubuhnya ke publik. Aku sakit hati Max.” Tunjuk Violet ke dadanya. Berucap dengan suara berapi dan mata yang berkabut.
Max tidak mengubah posisi, tetap memandang wanita cantik yang selalu mengisi hatinya.
“Violet, kamu lebih memilih melarikan diri dari pada bersandar padaku?”
“Aku tidak melarikan diri, aku ingin membuktikan pada mereka jika aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri!”
“Mereka siapa? Papaku? Penggemarmu? Yang pasti bukan aku, ya, kan?”
Mulut Violet kembali menutup saat mendengar ucapan Max. Mau nggak mau dia mengakui jika apa yang dikatakan Max benar.
“Aku tetap mencintaimu, Max. Semua kulakukan untuk kita,” desah Violet.
Max tersenyum kecil. Merogoh kantong dan mengeluarkan dompet. Mengambil beberapa lembar ratusan ribu dan meletakkannya di atas meja.
“Mencintai artinya berdampingan dan tidak meninggalkan. Mempercayai orang yang kau cintai untuk membuatmu bahagia bukan dengan mengejar sesuatu yang kau kira akan membuatnya bahagia,” tegas Max sambil bangkit dari kursi.
“Max, please. Jangan pergi dulu.” Tangan Violet terulur untuk menahan Max.
“Pembicaraan kita sudah selesai, aku harus pulang. Banyak kerjaan di kantor besok.”
“Besok Minggu Max, apa salahnya kita berbagi malam ini bersama? Apa kamu takut dengan istrimu?” ejek Violet.
Max melepaskan tangan Violet, tidak mengindahkan ejekannya. “Selamat malam Vi.”
Belum sempat Max beranjak dari tempatnya, terdengar desisan dari mulut Violet yang membuat Max terdiam.
“Jangan kau kira aku tak tahu jika pernikahan itu hanya pura-pura. Kau pikir bisa menipuku, Max Vendros! Aku tahu wanita itu bukan seleramu.”
Max tidak menanggapi, melangkah perlahan meninggalkan meja.
“Aku tidak akan berhenti sampai di sini, Max Vendros.” Ancaman Violet mengiringi langkah Max menuju pintu.
“Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali, Max,” desis Violet pelan. Menatap punggung Max yang menghilang di balik pintu. Jemarinya yang lentik meraih gelas dan menandaskan minuman dalam sekali teguk.
*****
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar