#LOVE_YOU_FISABILILLAH 6
Part sebelumnya
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2796968400365033/
Sekuat mungkin aku tetap konsentrasi mengikuti kuliah meski pikiran
bercabang. Hari ini tersebar kabar bahwa pihak kampus akan melarang
penyebaran buletin ‘Takwa’. Alasannya buletin itu terindikasi
menyebarkan paham radikal.
Aku tak habis pikir, apa standar
radikal di sisi mereka? Jika semua yang berbau Islam disebut radikal,
menandakan isu radikalisme itu memang diarahkan untuk memukul Islam yang
mulai kentara kebangkitannya. Lantas siapa yang begitu hot menyemburkan
ide gila ini? Pastinya mereka yang tak suka Islam mengulang sejarah
kejayaannya.
Lepas kuliah, aku segera memanggil rekan-rekan
dakwah untuk membahas masalah ini. Kami berkumpul di ruang sekertariat
akhwat. Duduk melingkar di atas karpet marun. Tempat ini memang tak
memiliki kursi, hanya ada satu meja saja.
“Delegasi ikhwan sedang mengajukan dialog pada pihak kampus. Kita akan diajak serta.”
“Itu kalau mereka mau membuka ruang diskusi. Liat gelagatnya sih bakal gak mau,” sanggah Laila.
“Lama-lama organisasi kita dibubarkan!” seru Dian.
“Kita harus susun langkah strategis menghadapi era baru dakwah di kampus yang makin rrefresif,” tambahku.
Sebagai ketua keputrian LDK, Aku memegang kendali penuh gerakan dakwah
di kalangan putri. Karena pola aktivitas yang terpisah antara ikhwan dan
akhwat, koordinasi dengan pihak laki-laki hanya saat tertentu saja.
Sehingga pertemuan memang jarang terjadi.
Kupimpin rapat untuk
menetapkan langkah-langkah dakwah yang harus ditempuh di era baru ini.
Tekanan terhadap aktivitas dakwah di kampus makin hari makin kuat saja.
Mulai dari sulitnya perizinan menggunakan ruangan, tak diperbolehkan
membuat even besar, fitnah sana sini dan masih banyak lagi persekusi
yang dilakukan. Bahkan menyasar hingga diskriminasi nilai mata kuliah.
Kuputuskan untuk membawa Laila dan Haya saat dialog dengan kampus
nanti. Kusampaikan pada kak Salim terkait delegasi akhwat yang kan
mendampingi ikhwan.
Tak sampai seminggu, kampus mengabulkan permintaan kami. Itu pun setelah dilakukan desakan terus menerus pada mereka.
Lepas berita itu, delegasi ikhwan dan akhwat LDK melakukan rapat hari
ini. Mereka menyusun strategi sekaligus menyamakan suara agar tidak ada
celah kesalahan.
Kak Salim menunjuk lima ikhwan yang menjadi wakil delegasi. Mereka adalah Usman, Andre, Alfan dan Sidiq dan dirinya sendiri.
“Ikhwan akhwat harus mampu mengendalikan emosi, Logika dijaga,
kesantunan dipertahankan. Ingat kita membawa nama Islam, jangan sampai
justru agama tercitraburukkan oleh kesalahan pemeluknya,” pesan ketum
LDK itu.
“Saat ini, pengemban dakwah, tidak salah saja dibuly,
apalagi salah, makin digoreng saja sampe gosong,” tambah Andre, ketua
harian LDK.
“Yup, kalap mereka. Begin of the end, hah!” Usman antusias menanggapi.
“Nad, jangan sensi ngadepin Pak Leo, sadis doi,” canda Alfan. Terang saja aku mendelik pada teman satu jurusan itu.
“Gak sensi, cuman ngamuk!” balasku sewot. Alfan malah tergelak. Dia
tahu benar sifatku yang meledak-ledak. Di ruang kuliah pemuda berkulit
sawo matang itu saksi keberaniannya membabat dosen nyeleneh.
“Hasil konsolidasi dengan rekan aktivis organisasi lain cukup memuaskan.
Mereka juga gerah dengan sikap kampus yang mulai refresif,” terang kak
pSalim kembali.
“Sayap kiri pimpinan Daniel juga siap mendukung pergerakan kita,” tambahnya.
Mendengar nama itu, Haya menyikut tanganku sambil menahan senyum. Kucubit saja jari jahilnya.
“Jangan urusan ma Daniel, berabe. Berseberangan banget ma kita. Backing dia mafia,” tukas Utsman.
“Tenang, udah jinak, keknya doi!” Kulemparkan tatapan tajam pada Alfan
yang kemudian senyum-senyum. Ini lagi, Haya malah cekikikan, Laila juga
mesem-mesem begitu.
Ini semua gara-gara Kak Daniel yang terlalu
agresif. Entah sampai kapan aku harus menghadapi gangguannya. Mana sudah
viral ke mana-mana lagi. Kadang aku malas ke kampus kalau mengingat
percandaan teman-teman.
“Dek Nadia!” Aku tersentak dari lamunan saat suara kak Salim menelusup gendang telinga.
“Ehm!” Suara Alfan pun mampir sedikit keras
“Astagfirullah,” Haduh, malu banget ini ketahuan melamun di tengah rapat.
Rapat sesi satu berjalan cukup lama, menguras pikiran sekaligus tenaga.
Selanjutnya akan dilakukan pertemuan dengan ketua organisasi-organisasi
kampus yang mendukung kami.
“Cieee, yang mo ketemu,” goda Haya di tengah acara makan siang.
“Ish! Diem, deh.” Kugerakkan sikut ke arah tangannya
Sebelum Haya melanjutkan godaannya, dari kejauhan terlihat kak Daniel
berjalan bersama temannya. Ish, kenapa jadi deg-degan gini, sih? Baiknya
kupercepat makan agar bisa menghindari pria aneh itu.
Untungnya
kak Salim langsung menyambut kedatangan mereka, mengajaknya makan siang
dan berbincang. Kugeser posisi duduk agar tak terlihat pemuda itu.
Sementara aman. Haya senyum-senyum geli melihat tingkah kakak kelasnya
ini.
Aku bisa melihat keterkejutan pada diri para wakil
organisasi mahasisiwa melihat kedatangan kak Daniel. Mereka tahu betul
sepak terjang organisasi pimpinan pemuda itu. Berkali-kali berurusan
dengan pihak kampus bahkan aparat. Namun, karena backingnya kuat, mereka
tak tersentuh ranah hukum.
Dengan gaya cueknya kak Daniel
menyalami semua peserta rapat kecuali akhwat LDK. Aku makin gugup saja
kala dia makin dekat. Pemilik hidung bangir itu melengkungkan bibirnya
hingga pesona wajahnya makin kentara. Suara-suara sumbang dan dehaman
dapat tertangkap oleh telingaku. Haduh, panas banget muka ini.
Untuk mengendalikan kegugupan aku pura-pura sibuk menulis. Hanya saja
aktifitas itu gagal kala Haya mencondongkan wajah hingga bibirnya rapat
ke telinga.
“Kak, pulpennya kebalik Hihihi!”
Ya, Allah!
Lepas lima belas menit dari jadwal yang ditetapkan, rapat pun dimulai.
Kak Salim memaparkan perihal agenda pertemuan hari ini, realita tekanan
terhadap pergerakan kampus serta strategi yang telah disusun.
“Yang kami dakwahkan murni ajaran Islam. Mulai dari aturan menutup
aurat, larangan pergaulan bebas, akhlak mulia, ibadah ritual. Juga
ajakan pada mahasiswa untuk peduli pada masalah umat dan negara ini.
Jangan sampai anugerah intelektual yang Allah berikan, hanya terkuras
untuk study saja, sementara berbagai kebijakan mencekik rakyat luput
dari kritisi para agent of change!” papar kak Andre yang dipersilakan
oleh kak Salim untuk presentasi.
“Secara akal sehat tentu ini
tidak bertentangan dengan visi dan misi pendidikan. Bukankah
menginginkan mahasiswa universitas ini beriman dan berintelektual
tinggi, juga berguna bagi bangsa?” tambahnya lugas.
“Jika kritisi terhadap kebijakan dianggap kejahatan, maka layak ini disebut otoriter!” Andre berapi-api memberi pemaparan.
Lepas presentasi pihak LDK, kak Salim memberi kesempatan masing-masing
wakil organisasi dipersilahkan menyampaikan pendapatnya.
Jev,
ketua BEM menyampaikan bahwa dia pun tak suka dengan kesewenang-wenangan
pihak kampus. Menurutnya pembungkaman LDK akan berefek pada organisasi
yang juga kritis. Masih menurutnya, kalau hari ini diam terhadap
kezaliman, ke depan akan makin ganas menekan mahasiswa.
Rendra,
ketua HIMPEKA diberi kesempatan bicara sekitar sepuluh menit. Dalam
presentasinya, dia mengajak semua elemen bersatu menentang kearoganan
oknum yang berlindung dibalik topeng keamanan kampus
Di setengah
jalan rapat, Kak Daniel mendapat giliran bicara. “Saya rasa data-data
persekongkolan mereka dengan pihak penekan juga penting, bisa dijadikan
sandera saat tuntutan kita diabaikan.” Semua mata tertuju pada pemuda
radikal kiri itu.
Di sini aku seperti melihat sosok lain pada
dirinya. Tegas dan agak menakutkan. Jauh sekali dengan performa saat
mencandaiku. Apa dia berkepribadian ganda? Aku bergidik sendiri.
“Mr Leo menerima kucuran dana dua miliar untuk proyek ini. Itu baru DP,
sisanya dikucurkan jika sukses membubarkan kalian. Mr Dean disandera
kasus korupsi dana pembangunan gedung. Jadi dia gak berkutik.”
Kak Daniel melemparkan berkas yang baru saja dikeluarkan dari ranselnya.
Ketum kami mengambil dan menggerenyitkan dahi saat membacanya. Matanya
melirik pemuda slengean itu seakan meminta jawaban dari mana data-data
ini berasal.
“Itu bukan hoax. That’s true! Aku bisa meminta bantuan seseorang untuk menjatuhkan Leo dan gerombolannya.”
Sama sekali tak ada wajah tengil dan gaya slengean. Inikah sosok Daniel
Edgar sesungguhnya? Pantas saja banyak yang tak mau berurusan
dengannya.
Kak Daniel, sebenarnya kamu itu bagaimana?
NEXT? Share, dong!
-----
#LOVE_YOU_FISABILILLAH 7
#Daniel
Part sebelumnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2813110248750848
Salim menolak halus tawaranku untuk meminta bantuan seseorang. Dia
bukan orang bodoh, pastinya sadar siapa yang aku maksud. Meski cepat
hasilnya, tetapi resiko buruk yang akan ditanggung pastinya besar jika
melibatkan sindikat mafia.
Rapat memutuskan akan mnempuh jalur
dialog. Jika tidak ada hasil, akan dimobilisasi massa untuk memberi
tekanan pada pejabat zalim tersebut.
Pertemuan ini berlangsung
selama lima jam. Para pejabat organisasi saling berargumen dan memberi
masukan. Diakhiri penyusunan rencana bersama yang mengakomodir
kepentingan semua golongan.
Pukul lima sore rapat selesai, kegiatan yang sempat ditunda di waktu sholat ashar ini cukup menguras pikiran juga tenaga.
“Hhh … Akhirnya beres juga, aku mo mandi trus bobo.” Aku mendengar
jelas ucapan teman Nadia yang sedang memeluk lengannya. Mereka duduk di
bangku kayu, samping ruang pertemuan. Menunggu jemputan masing-masing
sepertinya.
Dari jarak dua meter di belakang mereka, aku sengaja
berdiri. Memperhatikan keduanya terkhusus Nadia. Sesekali angin sore
melambai-lambaikan kerudung dan bagian bawah pakaian gadis-gadis itu.
“Jiah, bobo aja yang dipikirin!” Nadia menjawil hidung lancip gadis yang senang bermanja padanya.
“Daripada Kak Nad, mikirin Kak Daniel mulu, wee!”
“Ha ...!”
“Apa ya, apa ya, namaku, kok, disebut-sebut?”Ssaat nama ini disebut,
gatal juga untuk melancarkan aksi. Kedua gadis itu berbarengan menoleh
dengan mulut terbuka dan pipi kemerahan.
“Kak Nad, aku ke toilet bentar.” Haya kabur tanpa sempat dicegah Nadia.
Aku duduk di samping gadis yang terlihat gugup kini. Dia menggeser
posisi tubuh hingga ada di ujung bangku. Melihat itu aku tak bisa
menahan senyuman. Dipikir aku mau menerkamnya apa?
Aku tak
melepas pandangan dari gadis yang tengah merapikan kerudung dan gamis
yang tertiup angin. Kegrogian tampak sekali dari getaran tangan itu.
Entah mengapa aku sangat menikmatinya.
Seorang gadis kalau
sedang gugup sulit mengendalikan diri. Benar’kan, HP yang baru dia
keluarkan dari tas selempangnya lolos ke lantai.
Kepala kami
sama menunduk karena mengambil benda pipih itu berbarengan. Jari
lentiknya menyentuh punggung tanganku sebab kalah cepat meraih HP-nya.
Detik kemudian wajah kami saling menghadap di jarak setengah meter
saja. Tak kusia-siakan untuk menikmati bola bening yang tampak makin
membulat.
Adegan sekian detik itu mampu membuat anganku melayang
jauh. Irama jantung ini seperti dentuman musik diskotik. Aku yakin
kondisi Nadia lebih parah dari ini.
Kuserahkan HP yang terjatuh
barusan. Ia mengambilnya tanpa berani menatapku. Ini adalah kesempatan
menggoda yang tak boleh disia-siakan. Kutarik benda itu saat tangannya
akan meraih.
“Kak Daniel.” Wajah yang menunduk itu terangkat. Kali ini suaranya amat parau, jauh dari kata garang.
“Iya, iya. Ini.”
Takut suasana romantis ini berubah jadi medan perang, mending langsung
disodorkan saja. Segera, ia melakukan panggilan. Dahinya mengerut kala
tak ada jawaban dari seberang telpon.
Karena hasilnya nihil unyuk tersambung, Nadia kembali memasukkan handphonenya.
“Gadis pecinta Tuhan, mengapa cinta harus terhalang keyakinan?”
Kuberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal selama ini. Jawabannya akan menentukan langkahku ke depan.
Sebelum menjawab, tampak ia tengah mengatur napasnya. “Untuk hidup
bersama, kita hanya butuh cinta dan kepercayaan, bukan? Mengapa harus
ada embel-embel kesamaan keimanan?” Kumiringkan badan, satu tangan
menempel pada pegangan bangku. Posisi ini membuatku lebih leluasa
memandangnya.
“Pernikahan itu ibadah bukan hanya penyatuan dua
rasa dan pemenuhan biologis saja. Karena itu wajib mengikuti tatacara
yang Tuhan gariskan. Itu ajaran agama kami terkait pernikahan,” tutur
Nadia dengan nada suara yang telah kembali normal.
“Berumah tangga itu membangun kehidupan baru dalam misi mencetak generasi terbaik
pewujud peradaban Islam di masa depan. Mana mungkin tujuan itu tercapai
bila pasangan berbeda visi misi dalam kehidupan?” tambahnya.
Tampak sekali perkataan itu tidak dibuat-buat. Lahir dari kebersihan
akal, juga hati. Betapa sempurnanya dirimu, Dy. Keyakinanku makin kuat
bahwa kau pendamping terbaik di sisiku kelak.
“Kami meyakini ada kehidupan lain setelah dunia ini hancur. Cinta
sepasang manusia akan dikembalikan oleh Allah di kehidupan berikutnya.
Jadi cinta sesungguhnya itu bukan hanya saling membahagiakan di dunia,
tapi juga abadi kelak di sana. Syarat persatuan cinta abadi itu adalah
keimanan yang merupakan penghulu kehidupan. Dia bukan sekedar simbol,
tapi penentu arah kehidupan seseorang."
Rangkaian kalimat
terakhir membuat anganku untuk menyandingnya terhempas. Aku mulai
menyadari bahwa dinding di antara kami terlalu menjulang. Sekuat apapun
menggapai, takkan tercapai jika penghalang itu tak disingkirkan. Namun,
perasaan yang entah kapan hadir ini membuatku resah berkepanjangan. Ada
ketidakrelaan jika tak terwujudkan.
Kupalingkan pandangan pada raja surya yang mulai menjingga. Menikmati kilau keemasan menerpa dinding-dinding bangunan.
Dy, tanpa kau sadari, di sini di dada ini sedang berkumpul ribuan jarum yang antri berbaris untuk menusuknya.
===
“Lo pindah kubu?” Steve mengempaskan tubuh di sofa panjang apartemenku.
“Jangan karena cewek, lo kehilangan jati diri. Mereka tuh
berseberangan. Lagian mana mau Nadia ma lo, selembar jenggot aja gak
punya.” Steve terkekeh.
Kuisap sebatang rokok dalam-dalam,
menikmati sensasi nikotin yang telah mencanduiku bertahun lamanya.
Perlahan diembuskan hingga membentuk gumpalan putih di ruangan. Satu
tangan tetap sibuk memainkan ponsel yang ber-wallpaper wajah Nadia
dengan senyum terkembang.
Bayangan Nadia tak mudah dibuang,
mematahkan logika, memporak-porandakan nalar. Otakku bagai kaset kusut
yang memutar ulang wajah, senyum, tawa dan kehangatan tubuh gadis itu
saat dalam gendongan.
“Shit!” Tiba-tiba melintas kembali ucapan Nadia di sore itu. Rasanya aku benci dengan situasi yang menghalangi persatuan kami.
“Cinta, oh cinta!” Steve meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.
“Klo lo butuh temen tidur, gue jejerin, tinggal pilih!”
Kulempar si mulut busuk itu dengan bantal sofa. Dipikir sama apa aku dan dirinya.
“Udah dapet datanya?” Kujentikkan ujung rokok dengan telunjuk, meluruhkan abu yang masih melekat di sana.
Steve menyodorkan berkas yang dipinta. Dahi ini mengerenyit melihat
deretan kalimat demi kalimat di tiga lembar kertas itu. Enam bulan
sebelum memutuskan keluar dari sindikat mafia, aku telah bergabung
menjadi tim pemenangan calon-calon walikota atau anggota dewan.
Meski belum utuh Raymon melepasku dari sindikat mafia, aku tak peduli.
Keinginan lepas dari sana sudah tak bisa diganggu gugat. Jika dia
macam-macam, terpaksa menggunakan pengaruh ayah.
“Lo percaya
Tuhan?” Steve menghentikan sesapan cappucino yang entah kapan dibuat
itu. Bola matanya bergerak-gerak sementara matanya menyipit.
“Leave it!”
Percuma bicara dengan lelaki yang sama-sama penganut atheisme. Aku
kembali konsentrasi pada berkas yang dipegang. Biarkan saja steve dalam
kebingungan.
“Organisasi mereka kemungkinan besar akan
dibubarkan, Leo terlalu ambisius dan rakus.” Steve rebahan di sofa dan
bicara sambil memejamkan mata.
“Kecuali, ada mobilisasi massa kolosal yang bergerak masif,” tambah pria berambut pirang kecoklatan.
“Tapi mereka bukan pecinta anarkisme. Gak mungkin melakukan pengrusakan. Gerakan mereka damai, gak pernah rusuh.”
“Salut gue, apalagi Salim, wih, karismatik banget. Nah, Nadia tuh
pastinya suka model cowok kek gitu, bukan kayak lo yang gaje!” Satu
bantal kembali menimpuk wajah blasteran itu
“Setan, lo!”
MAU NEXT KILAT???
-----
#LOVE_YOU_FISABILILLAH 8
#Daniel
Part sebelumnya
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2819223211472885/
“Hai, Nona manisku.”
Hari ini delegasi LDK akan melakukan dialog dengan pihak kampus.
Selanjutnya dialog akan dilakukan dengan seluruh perwakilan organisasi
mahasiswa lainnya.
Sebelum masuk ruangan, mulutku gatal untuk
tak menggoda dulu pujaan hati. Seperti biasa ia akan menghela napas
dalam, lalu mengelus dada. Ah, kau ini masih belum jinak juga.
“Eh, baju kita sama loh warnanya. Emang jodoh, ya. Hatiku bertaut sama hatimu. “
Nadia menengok pada pakaiannya sendiri, lalu pada kemejaku. Mulutnya
sedikit ternganga kala menyadari warna fashion kami memang sama yaitu
marun dan hitam.
Kini, pipinya mulai memerah. Detik kemudian membalikkan badan. Kuikuti langkahnya hingga jalan beriringan.
Aku tahu beberapa pasang mata sedang menatap kami intens. Ada juga yang pura-pura tak melihat padahal penasaran.
Jangan tanya hatiku. Senang pasti. Andai saja ada yang mau mengabadikan
moment ini. Kalau viral ‘kan bagus. Siapa pun akan segan mendekati
Nadia karena tentu tak mau berurusan dengan seorang Edgar.
Aku
duduk di barisan para lelaki, sedangkan Nadia masih harus berjalan
hingga ke tempat perempuan. Sepertinya model duduk begini diatur Salim.
Aku acungi jempol atas kekonsistenan pada ajarannya. Tak seperti para
politisi busuk yang memanipulator agama saat kampanye tiba.
Delapan belas aktivis sudah duduk di ruang pertemuan yang difasilitasi
kampus. Kami menunggu kedatangan para wakil kampus yang belum juga
menampakkan batang hidungnya.
Sepuluh menit dari jadwal yang
disepakati, Leo sebagai pemimpin perwakilan kampus masuk. Dia diiringi
lima anggota lainnya. Setelah pembukaan, dialog pun mengalir. Sesekali
diwarnai letupan emosi kedua belah pihak.
“Akitivitas dakwah
kami merupakan hak berserikat dan menyampaikan pendapat yang dilindungi
institusi kampus, bukan? Kenapa dipersekusi?” tanya Salim.
“Silahkan berserikat dan berpendapat, tapi kalau sudah terindikasi meresahkan, kami bisa ambil tindakan,“ jawab Leo.
“Kalau begitu, tolong tunjukkan dimana letak aktivitas kami yang meresahkan?” timpal Andre.
Pihak kampus saling pandang, berbisik-bisik di antara mereka. Aku sudah
geram sebenarnya, terlebih mendengar jawaban dari Mr Warsito.
Dia mengatakan bahwa mereka hanya mencoba melakukan tindakan preventif
agar tak tumbuh kelompok radikal garis keras di kampus ini. Untuk itu
segala hal yang terindikasi ke arah radikalisme, harus mulai dihentikan.
“Organisasi dakwah kami hanya menyebarkan ajaran Islam yang berasal
dari Al Quran dan Hadis. Mengajak mahasiswa untuk taat pada Allah
menjauhi semua hal buruk dan merusak. Membimbing mereka untuk jadi
manusia mulia dan beradab. Jika hal itu disebut radikal berarti agenda
deradikalisasi memang diarahkan pada Islam dan ditujukan untuk memukul
Islam dan umat Islam!” Akhirnya macan kampusku, Nadiaul Haq angkat
bicara. Seperti biasa ia akan meledak-ledak seperti bom hirosima, tapi
aku suka.
Nadia menambahkan bahwa menghalangi dakwah itu dosa
besar. Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kelak. Harusnya pihak
kampus menindak mereka yang jelas-jelas membawa keburukan dan kehancuran
di kalangan mahasiswa. Bukan hoax di sini beredar prostitusi, narkoba,
pemalsuan ijazah, jual beli skripsi dan seabrek kriminal lainnya. Bukan
malah mengejar yang justru ingin memperbaiki realitas sosial yang sudah
bobrok.
Suasana makin memanas. Penjelasan pihak kampus yang
terkesan tidak nyambung, berbelit-belit dan tak memiliki argumen tepat
membuat delegasi LDK dengan mudah mematahkan satu-persatu ucapan dusta
mereka.
Giliranku bicara datang juga. Tangan ini sudah terkepal menyaksikan para pejabat yang gila jabatan dan uang.
“Simple sebenarnya. Pemikiran lawan saja dengan pemikiran. Kalau
Anda-Anda tak sanggup mematahkan argumen lawan, akui saja dengan gentle
bahwa mereka benar, Anda salah. Lalu, akhiri persekusi. Biarkan saja
mereka menyampaikan pemikirannya. Toh, tidak ada pemaksaan dan kekerasan
di sana. Janganlah membangun narasi busuk radikalisme karena itu hanya
omong kosong.”
Belum puas bicara, moderator sudah menghentikan. Meski dongkol, aku tak bisa apa-apa.
Para pejabat kampus itu makin tersudut oleh serangam argumen para
aktifis. Namun, keotoriteran menutup akal pikiran. Meski kebenaran
terang benderang di hadapan mata, semua tertutup oleh napsu dunia. Daya
pikat harta dan tahta memang membius siapa saja yang rakus akan dirinya.
Dialog tak menghasilkan kesepakatan apa pun. Pihak kampus
bersikukuh untuk membatasi ruang gerak LDK. Bahkan mengancam akan
membubarkan jika tidak mematuhi rambu-rambu baru yang akan segera
diluncurkan.
Pertemuan berakhir dengan hati-hati yang diliputi
kemurkaan. Rahangku ikut mengeras. Rasanya ingin kutinju wajah-wajah
memuakkan itu.
“Dasar Zalim!” Nadia menggebrak meja setelah
delegasi kampus keluar ruangan. Dia terlalu tersulut emosi rupamya.
Wajarlah, pejabat itu memang bebal.
“Sabar, Nad.” Alfan yang kebetulan tak terlalu jauh jaraknya dengan Nadia mencoba menenangkannya.
“Kita tempuh jalan berikutnya, Insya Allah kemenangan pasti datang.”
Hanya Salim yang terlihat tetap tenang. Kadang aku bingung dengan orang
ini. Kok, bisa-bisanya tak menampakkan emosi. Hatinya seperti apa?
Kuhampiri Salim dan Jev yang berdiri di depan barisan kursi-kursi.
“Mereka itu bebal, rakus uang. Penipu kawakan. Dialog tak akan
menghasilkan apapun! Mereka harus dipukul, kalau perlu dipenggal!” Aku
langsung meluapkan emosi di hadapan keduanya.
“Sabar, Bung Daniel. Kekerasan juga takkan membawa solusi untuk masalah ini. Yang ada kita akan semakin terpojok.”
Kuserahkan data tambahan yang di dapat Steve. Di sana ada bukti bahwa
Leo, Warsito dan Suryo menerima kucuran dana dari pihak luar.
Data tersebut kudapatkan dari pejabat-pejabat yang telah kubantu proses
pemenangannya. Mereka tahu betul deradikalisme itu pesanan siapa.
“Ok, syukron atas bantuannya. Dialog seluruh wakil organisasi akan
dilakukan minggu depan. Bung Daniel dan Bung Jev bisa hadir, kan?”
“Of course. I’ll be there!”
Setelah selesai berbincang, satu per satu peserta meninggalkan ruangan. Mereka kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Salim pun pamitan lebih dulu sebab ada agenda lain katanya.
“Lo foto gue dan Nadia dari jauh. Jelek, sleding.” Ucapku pada Steve yang sudah tak betah di ruangan.
“Gak waras, lo!”
Steve mengambil ponselku sambil mulutnya mengoceh. Bagaimanapun dia tak
mungkin menolak permintaan bernada perintah ini. Terserahlah dia mau
pikir apa tentang aku sekarang. Sayanglah baju sudah couple kalau tak
dimanfaatkan.
“Sayang, bisa bicara sebentar. Penting banget. Maaf, ya, Dek, saya pinjam kakak cantiknya dulu.”
Respon kedua gadis itu seperti orang hendak melompat. Meski wajah tak serupa, tingkah lakunya banyak kemiripan.
“Ayo, Say!”
Aku melangkah lebih dulu ke arah kiri. Di sana ada taman yang lebih
kecil dari tempat ini. Satu, dua langkah dia tak juga mengikuti.
Terpaksa harus diberi sedikit tekanan.
“Mau kugendong?”
Matanya langsung membulat, bibir itu mulai mengerucut. Dengan kaki
sedikit menghentak, ia bangkit juga. Sampai Nadia sejajar denganku,
barulah kulanjutkan langkah ini.
Aku berhenti tepat di tengah taman. Mencari posisi agar pas untuk difoto.
“Kak Daniel mau bicara apa? Bentar lagi jemputan datang ini.”
“Hmmm, mau minta nomor HP kamu.”
“Hah!”
“Serius, aku mau minta nomor HP.”
“Buat apa? Gak usah, deh. “
“Aku mesti mastiin kamu tuh aman, Dy. Jadi kalau ada apa-apa ‘kan gampang menghubungi.”
“Gaklah. Udah, ya, Kak aku pulang dulu. “
Aduh, bisa gagal ini. Mataku berputar mencari sesuatu yang bisa membuat Nadia kaget. Apa, ya?
Ulat!
“Dy, diem, ya. Ada ulat di kerudungmu!”
“Hah! Kak Daniel jangan becanda, dong. Aku takut tahu.”
Kesempatan emas tidak boleh disia-siakan tentu. Kukikis jarak di antara
kami. Kurasa posisi ini sangat tepat untuk difoto. Semoga Steve paham
maksudnya. Awas saja kalau tidak.
“Eh, ternyata bukan ulat, cuma potongan daun, Say.”
“Modus!”
Aku tergelak melihat calon istriku yang bola matanya hampir keluar.
Honey, marahmu saja cantik. Wajar, dong aku kayak orang hilang akal
begini.
**
-----
#LOVE_YOU_FISABILILAH 9
Part sebelumnya
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2824719284256611/
Kak Daniel emang cowok kurang kerjaan. Haduh, kalau tak ingat adab
sudah kutampol pipinya. Enak saja mencuri kesempatan deket-deketan. Mana
belum habis emosi sama oknum pejabat itu. Ini lagi, nambah perkara.
Argh!
“Udah, kakakku yang syantek, jangan marah-marah mulu. Siapa tahu
jodoh.” Ucap Haya yang kembali bersamaku setelah kejadian tadi. Ia baru
beres cekikikan mendengar ceritaku di taman sebelah kiri.
“Iya
bener, Kak. Kalau Kak Daniel sampai jadi mualaf ’kan keren. Kalau aku
sih mau, eh.” Dian yang baru saja datang mengedip nakal.
“Apa, eh. Kamu mau?”
“Maulah aku. Kenapa emang? Kak Nad cemburu, yaa?“ Dian mundur beberapa langkah.
“Diaaan!”
“Acieee, merah tuh pipi!” Haya tak mau kalah menggodaku. Awas kalian!
“Hayaaa!”
Kedua adikku itu langsung ngacir melihatku sudah mengeluarkan asap. Mereka ini bener-benar, ya.
Kususul keduanya, bukan untuk membalas candaan, tetapi harus segera pulang. Pasalnya setrikaan tengah menunggu di kosan.
*
Aku mencari posisi duduk paling depan hari ini. Pasalnya sekarang
bagian mata kuliah Pak Willy, dosen yang tak takut mendukung
mahasiswanya untuk berpegang pada prinsip.
Saat di ruang kuliah,
aku tak hanya bertarget mencari ilmu. Namun, mengkritisi teori dan
kebijakan ekonomi yang diajarkan, juga jadi tujuan.
“Pak, efek
negatif dari swastanisasi sumber daya alam itu lebih banyak daripada
positifnya.” sanggahku pada pemaparan materi kuliah ekonomi yang
disampaikan Pak Willy.
“Begitu, silahkan jelaskan lebih jauh.”
Pak Willy termasuk dosen yang terbuka. Mau menerima masukan dan pendapat
mahasiswanya meski berseberangan pandangan.
Kujelaskan bahwa
perusahaan swasta hanya akan melihat profit bukan pelayanan sosial untuk
rakyat. Air contohnya, sebagai salah satu kebutuhan pokok. Jika profit
oriented pengelolaannya, jelas akan menyengsarakan rakyat dan
menguntungkan kelompok pengusaha air saja
Dosen ekonomi itu mendengarkan dengan seksama penjelasanku. Kadang ia manggut-manggut.
Kulanjutkan dengan menerangkan bahwa air itu harta milik umum,
kebutuhan vital. Kalau diserahkan pada swasta maka rakyat harus bayar
untuk sesuatu yang merupakan miliknya. Kusampaikan juga berapa uang yang
akan masuk ke kantong pengusaha dari pembayaran pemakai.
“Nadia, instalasi dan jasa pengelolaan air itu kan butuh modal. Bayar
itu wajar, mau siapapun yang mengelola,“ sanggah Pak Willy.
Kujawab bahwa realitanya rakyat tak hanya bayar instalasi dan jasa, tapi beli airnya juga. Betapa tak adilnya hal itu.
“Maaf, boleh saya menyanggah, Pak!” Aldo, aktivis BEM berambut kribo mengacungkan tangan.
Setelah Pak Willy mengizinkan, dia angkat bicara.
“Nad, Gue malah khawatir kalau perusahaan negara yang ngelola terjadi
banyak korupsi dan ketidakprofesionalan di sana. Makanya lebih baik
kasih swasta yang lebih profesional. Keuntungan kita dapatkan dari pajak
mereka,” ungkap Aldo.
Sebelum menjawab, aku hela dulu udara
untuk melegakan tenggorokan akibat banyak bicara. Lepas itu kuterangkan
jika masalahnya di korupsi, benahi korupsinya dengan hukum yang tegas.
Kalau soal ketidakprofesionalan, bimbing supaya profesional. Solusi itu
harus berkorelasi dengan masalahnya. Keuntungan pajak itu tidak seberapa
dibandingkan kesejahteraan sosial rakyat dari sisi terpenuhinya
kebutuhan vital secara terjangkau.
“Pak, saya boleh menambahkan?” Yonita mengacungkan tangan.
“Sebentar, hati tetap adem, ya. Oke, Yonita, kamu dulu!” seru Pak Wlly.
“Kalau kita gak ada pajak gimana pembiayaan negara ini, Nad?” tanya Yonita dengan mimik penasaran.
“Yon, kekayaan alam negeri kita itu tiada tara, coba itu dikelola
dengan baik, pasti pendapatan dari kekayaan alam akan jauh melebihi
pendapatan dari pajak. Emas di tambang Grasbergh Papua tersisa 2,1
Miliar ton. Nah kalau segram harga emas sekarang 500 ribu kaliin 2,1
Biliun gram. Lo itung berapa kekayaan negeri ini hanya dari satu item.
Yang udah digondol Freeport itu 1,7 Miliar ton. Tujuh turunan aja gak
akan habis tuh kekayaan pemilik tambang itu!” Alfan membantuku menjawab
setelah diperbolehkan menambahkan oleh pak dosen.
Perdebatan
berlangsung sengit, Pak dosen memberi kesempatan siapa pun untuk memberi
pendapat atau sanggahan hingga waktu berakhir. Lepas kuliah kami
kembali seperti semula tak ada kekesalan sebab adu argumen yang menguras
pikiran dan emosi.
“Nad, sore jadi ngumpul, kan? Ngerjain laporan praktikum.” tanya Yonita sambil menepuk lenganku.
“Yup, di kosan Amel, ya? ”
“Ok, gue cabut duluan, yok!” Gadis bercelana jeans itu menepuk pundakku dan berlalu.
Belum sempat melangkah, suara yang sangat kukenal membuat urung kaki ini bergerak. “Nad, kantin, yuk!” ajak Laila.
“Aku lom laper, La. Sorry, ya, aku duluan.” Sebelum melangkah, Laila
memegang tanganku. Kami beradu pandang untuk sekian detik. Ada yang
berdenyut di sudut hatiku. Sakit ternyata kala rindu terhalang ego, rasa
sayang terpasung benci. Setetes air jatuh di pelupuk mata lentiknya
seiring munculnya getaran hebat di dinding hatiku.
“Nad, aku rela mutusin khitbah Kak Salim, asal kamu mau jadi sahabat aku lagi."
Sungguh, aku tak menyangka itu akan diucapkan Laila.
“Kamu ngomong apa? Istigfar, La. Aku gak serendah itu tega ngerusak
hubungan orang lain. Udahlah, kasih aku waktu buat nenangin hati. Kalau
kamu mutusin hubungan itu, sama aja kamu nusuk aku dua kali, La. Kamu
akan bikin aku sakit seumur hidup. Aku cuma butuh waktu, itu aja.”
Kulepas tangan Laila dengan lembut, tanpa kata lagi, bergegas melangkah
meninggalkan sahabat yang sedang sibuk menyeka airmata. Kalau bisa
terbang, aku ingin terbang agar desakan kepedihan ini segera
tertumpahkan.
Taman samping ruangan P-8 adalah pilihanku.
Mengenyakkan tubuh di bangku semen yang berbentuk bulat. Kutelungkupkan
wajah pada meja semen kotak yang ada di depannya..
“Menangis saja, jangan ditahan begitu.”
Suara lembut dari arah samping kanan membuatku mengangkat wajah.
Kak Daniel!
Ia lantas duduk di bangku sebelahku. Menatap lurus ke depan. Sepuluh
detik, dua puluh detik pertahanan hancur sudah. Tangisanku pun pecah di
hadapan lelaki ini.
Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir yang biasa mencandaiku. Kasihan mungkin pada gadis menyedihkan ini.
Aku hanya ingin menangis itu saja. Merutuki kebodohanku selama ini,
juga keegoisan telah menghukum Laila seberat itu. Dia, sahabatku,
memikul beban bersalah yang teramat menyiksa.
Egois, ya aku egois!
Bukan salahnya jika hati kak Salim tertuju padanya. Ini soal rasa, juga
jodoh. Bukankah Allah yang berkuasa untuk meletakkan hati pasangan pada
pasangannya?
Kuraih sapu tangan yang kak Daniel sodorkan. Perlahan, menata emosi agar tak terus menggedor hati.
“Macan kampus, bisa nangis juga.” Kulirik sekilas pria setengah bule
yang entah bagaimana bisa tahu aku di sini. Menyadari kami begitu dekat,
aku segera merapikan kerudung sebab akan segera pergi dari sini.
“Sedih boleh, larut dalam duka jangan. Pada apa yang hilang dari diri
kita, akan ada penggantinya. Mungkin itu memang bukan bagian kita.”
Aku tak bisa menepis ada kehangatan menelusup ke celah-celah hati yang
pernah retak. Namun, aku jadi takut ini berkelanjutan. Baiknya pergi
saja sebelum terjerumus ke dalamnya.
Sebelum kaki ini berayun,
dia pun telah bangkit dari duduknya. Kami berhadapan pada jarak agak
dekat. Bahkan aroma tubuh itu dapat kucium.
“Kak, makasih, ya. Aku permisi. “
“Baiknya istirahat yang cukup. Kalau perlu berlibur atau pulang rumah.”
“Iya, Kak. Aku memang rencana mau pulang besok. Makasih udah perhatian.”
Mungkin ia tahu akan psikologisku saat ini hingga tak mengejar seperti
biasa. Hati ini tak seberat tadi. Ada kelegaan di dada ini. Entah karena
telah puas meluapkan emosi, atau ada faktor yang aku takut mengakuinya
terlalu dini.
**
-----
#LOVE_YOU_FISABILILAH 10
Part sebelumnya
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2853974351331104/
“Jadi pulang besok?” tanya Wiwit lepas Isya.
“Hu’um,” Jawabku tanpa menoleh padanya. Tangan ini sedang sibuk mengepak beberapa barang yang harus dibawa.
“Jan naek kereta. Katanya ada rel yang anjlok. Bis aja.
“Hadew, macetnya itu, loh.”
“Eh, hati-hati juga dikintilin Abang Bule. Entar kelen jadi bareng, deh. Hihihi!”
“Paan, seh!”
Kulempar bantal pada gadis yang masih cekikin. Ya, ampun semua teman dekat terus saja bercanda soal Kak Daniel. ‘Kan kesel.
Horor banget kalau benar Kak Daniel ngikutin. Ah, gak mungkinlah. Dia
gak segaje itu. Mending tidurlah daripada mikirin yang bikin pusing.
*
Setelah pamitan dengan teman-teman satu kos, aku bergegas ke terminal
bis. Kalau bukan karena bunda nelpon terus, males sebenarnya pulang
pergi Jakarta-Bogor. Apalagi naik bis, macetnya itu, loh.
Akhirnya sampai juga di terminal. Pagi begini lalu lalang manusia di
tempat ini sudah terlihat biasa. Deruman bis bercampur teriakan kernet
menambah riuh suasana.
Aku mengayunkan kaki menuju bis jurusan
Jakarta-Bogor yang kondisinya nyaman. Harga juga berbeda tentu. Ngeri
kalau harus naik yang kendaraannya buruk rupa ditambah supir
ugal-ugalan.
“Hai, Cantik!”
Jantungku hampir melompat di sepertiga langkah menuju bis. Aku menoleh pada arah suara yang tak asing di telinga.
“Kak Daniel, mau apa di sini?”
“Ayo ke bis!” Bukannya menjawab pertanyaan, Kak Daniel malah mendahului
berjalan menuju bis. Meski bingung, kuikuti langkahnya. Tanpa curiga
aku duduk saja di tempat yang dia tentukan.
Aku kembali berdiri saat Kak Daniel dengan cueknya duduk di sebelah.
“Kak Daniel, memang mau ke mana?”
“Nganterin kamu.”
“Haah!”
“Maksud Kak Daniel apa? Aku bukan anak kecil yang harus dianter!” Sepertinya darahku mulai memanas.
“Ssst! Jangan teriak.Tuh, diliatin, malu. Duduk lagi.” Kuikuti arah
tangan pemuda ngeselin itu. Tampak sepasang suami istri paruh baya
memperhatikan kami sambil senyum-senyum. Wajahku mulai terasa panas.
“Pengantin baru, ya? Semoga sakinah dan cepat dikasih momongan,” ucap pria berkumis tipis itu.
“Iya, terima kasih, Pak, Bu.” Kulemparkan tatapan tajam pada lelaki yang seenaknya mengiyakan ucapan itu.
“Mau ke mana adik berdua?” Giliran Ibu berkerudung biru dongker yang bertanya.
“Kami hendak berkunjung ke rumah keluarga istri. Mumpung libur, Bu. Iya kan, Sayang?”
Meski dongkol setengah mati, aku terpaksa senyum semanis mungkin pada
kedua orangtua di barisan seberang kursi. Dan, ya ampun kedua orang tua
itu terus mengajak ngobrol kami. Sesekali mereka menyisipkan nasehat
berumah tangga.
Setelah keduanya tak lagi bertanya, aku langsung bicara pada Kak Daniel.
“Aku ganti bis saja.”
“Mau loncat, emang?”
Aku baru sadar kalau bis sudah jalan. Kuarahkan netra ke jendela untuk tahu di mana posisi kami sekarang.
Ya, Allah. Ternyata sudah sampai jalan tol. Gimana ini?
“Kak Daniel tahu dari mana aku mau pulang?”
“Kepo.”
“Kak Daniel.” Kutahan suara agar tak terdengar orang-orang. Langsung
saja wajah ini dipalingkan darinya. Diam adalah senjata pamungkas.
Lama dalam diam rupanya membuat mataku ingin terpejam. Ditambah
dinginnya AC yang tepat ada di kepala. Sebelum meletakkan kepala di
antara perbatasan jendela dan kursi, ekor mataku melirik pada pemuda
sebelah.
Aman, dia tidur juga. Sekilas aku masih bisa melihat
kedamaian di wajahnya. Dalam posisi itu dia tak tampak menyebalkan,
malah ... Ish, paan sih, Nad. Udah tidur!
Kubuka mata saat kepala ini terbentur benda keras. Aih, rupanya jendela. Hhh! Sudah berapa lama aku tidur?
Aku langsung menurunkan jari dari area mata saat sadar bahwa ada Kak
Daniel di sampingku. Wajah ini langsung hangat kala netra ini menangkap
satu senyuman.
Aduh jantungku, diem, dong. Kenapa aku jadi salah tingkah gini, sih. Ah, racun ini.
Tatapan yang belum juga berkedip itu membuatku makin grogi. Untuk
menutupinya aku sibuk merapikan kerudung yang sepertinya agak
acak-acakan. Lanjut mengambil air mineral.
Sensasi dingin yang
melibas kerongkongan sedikit menetralkan degupan di dada. Setelah habis
setengahnya barulah sadar kalau Kak Daniel pasti haus juga. Untung tadi
bawa tiga.
“Makasih, Sayang.” Kembali, senyum itu terkembang saat
kusodorkan satu gelas air mineral. Selanjutnya aku kembali melihat
keluar jendela. Mataku pun mengikuti pergerakan kendaraan yang saling
kejar-kejaran.
“Gadis pecinta Tuhan. Kenapa kalian meyakini
sesuatu yang tak terlihat, tak terdengar, tak terasa, tak teraba?
Bukankah itu percaya pada yang tak pernah ada?” Keasyikanku menghitung
jumlah mobil yang menyusul bis ini terhenti kala mendengar ucapan
tersebut. Aku menoleh dan menatapnya agak lama. Pria itu menganggukkan
kepala sebagai simbol meyakinkanku bahwa ia tidak sedang bercanda.
“Menurut Kak Daniel, apakah gelas mineral ini jadi dengan sendirinya?” Kuangkat gelas bekas air mineral hingga setengah dada.
“Tidak, pasti ada yang buat.” Jawabnya serius.
“Apakah Kak Daniel pernah bertemu, melihat, mendengar, menyentuh yang membuatnya?”
Pemilik manik biru itu menggeleng. Ia mengubah posisi duduknya agak miring hingga lebib jelas melihatku.
“Mengapa Kakak percaya keberadaan pembuatnya padahal kakak tidak menginderanya?”
Pemuda itu terdiam. Inilah kesempatan menyampaikan Tauhid padanya.
Kujelaskan bahwa akal akan menyetujui keberadaan sesuatu yang tak
terindera dapat di jangkau asal ada jejaknya. Gelas adalah jejak pembuat
gelas. Sementara tanda keberadaan Tuhan adalah ciptaannya, yaitu
manusia dan alam.
Kak Daniel mengerenyitkan dahi, lalu manggut-manggut. Kemudian ia meneguk kembali sisa air digelas yang sedari tadi digenggam.
Aku melanjutkan penjelasan Gelas sederhana saja tak mungkin ada tanpa
ada yang membuat. Apalagi manusia dan alam yang begitu rumit, tak
mungkin jadi dengan sendirinya. Hanya akal tak waras nan picik yang
terus mengingkari kelogisan itu. Jadi, Tuhan tidak irasional. Dia itu
rasional, Tuhan itu benar-benar ada.
Kak Daniel terlihat makin
serius. Sesekali bola matanya diarahkan ke kanan, lalu ke kiri. Jari pun
ikut bergerak dengan diketukkan pada bibirnya.
Kubuka tas untuk mengambil keripik kentang yang sengaja dibawa. Lumayan juga untuk ngemil diperjalanan.
“Kak Daniel, tahu ini apa?” Kusodorkan satu bungkus snack pada pemuda jangkung itu.
“Keripik kentang. Emang kenapa?”
“Gak apa-apa. Enak loh. Cobain, deh. Hehehe!”
Menyadari dikerjai, ia tertawa, lalu tangannya terangkat dan mengarah pada pipi ini. Refleks aku mengelak.
“Maaf.” Kak Daniel menurunkan tangan yang baru saja akan menyentuh
pipiku. Sementara, wajahku memanas kini. Warnanya mungkin seperti tomat.
Mau NEXT kilat?
bersambung