Persaudaraan Muslimah Indonesia, mempelajari Islam Secara Menyeluruh.

Selasa, 31 Desember 2019

#LOVE_YOU_FISABILILLAH 11 - 15

#LOVE_YOU_FISABILILLAH 11

Kami terlarut kembali dalam kebisuan. Aku sepertinya dia sibuk menetralisir debar-debar halus yang menyelusup perlahan-lahan. Suara ‘krek’ gigitan keripik sesekali membuyarkan lamunan. Hingga melewati satu jam perjalanan, kami kembali terlibat perbincangan yang sempat terputus.
“Manusia dan alam ini merupakan kumpulan materi yang terbentuk dengan sendirinya. Perpaduan materi dan materi akan menghasilkan materi baru. Jadi menurutku, tak perlu Tuhan untuk mengadakan sesuatu. Contoh, terciptanya manusia hanya butuh pertemuan sperma dan sel telur. Materi dengan materi saja. Di mana peran Tuhan?” tanya Kak Daniel dengan nada serius.
“Kakak ingat pelajaran biologi sewaktu SMU tentang reproduksi manusia, tentang sperma dan sel telur?” Sebelum menjawab, aku melempar dulu pertanyaan.

“Ingatlah. Paling suka aku pembahasan itu. Hehehe!”
“Dasar!”
“Kromosom tubuh manusia berapa hayo?”
“46.”
“Simpanse?”
“48.”
“Nah, Kakak yang mana?”
“Aku yang waaks!” Kak Daniel bergaya seperti gorila yang akan menerkamku.
“Kak Daniel, serem tau!” Jelas kagetlah. Kukerucutkan bibir.
“Kromosom manusia itu 46 berasal dari 23 kromosom sperma, dan 23 kromosom sel telur. Semuanya begitu, kan? Bisakah 45, atau 47?”
“Gak lah, yang ada nanti jadinya setengah manusia,” jawabnya.
“Siapa yang menentukan 46 itu? Kromosom itu sendirikah? Kalau kromosom itu penentunya maka dia harus bisa mengubah sesukanya, toh dia penciptanya. Namun, dia tak kuasa mengubah jadi 43 atau berapapun yang diinginkan. Artinya, bukan dia yang menentukan tapi kekuatan lain diluar dirinya. Dialah Tuhan Yang telah menciptakan kromosom manusia sebanyak 46.”
Pria bermata biru itu manggut-manggut mendengar pemaparanku.
Kulanjutkan dengan menjelaskan bahwa kumpulan materi tadi tak hanya butuh materi lain untuk jadi materi baru. Mereka butuh aturan agar mewujudkan materi baru. Adanya aturan membuktikan ada pembuat aturan itu. Dialah Tuhan Sang Pencipta sekaligus Pengatur alam semesta.
Lelaki tegap itu mengarahkan pandangan searah kursi di depannya. Mungkin ia mencoba mencerna satu-persatu rangkaian penjelasan.
Untuk lebih menguatkan pemahaman, kutambahkan contoh. Air dengan bantuan suhu tertentu bisa menjadi es, juga bisa mendidih, bahkan jadi uap. Hanya saja untuk menjadi es, suhunya harus nol derajat. Untuk mendidih harus 100 derajat. Kalau tidak sampai pada batas itu, maka tak akan terjadi perubahannya.
Artinya untuk menjadi es atau uap air tak hanya butuh suhu, tapi perlu takaran suhu tertentu yang dipaksakan atas dirinya. Takaran itu adalah aturan yang tak bisa diubah oleh dirinya. Siapa yang menciptakan ketentuan tersebut? Tentu saja Tuhan Pencipta air, suhu dan menetapkan segala kadar, batas tertentu atas ciptaannya.
Terakhir kukatakan bahwa akal manusia akan lebih mudah memahami keberadaan Pencipta daripada mengingkarinya. Jiwa pun lebih tenang saat meyakini daripada menolaknya.
Di dua jam perjalanan, bis sampai tujuan. Penumpang tak sabar untuk segera keluar dari benda yang membuat tubuh kaku. Kak Daniel menarik tanganku sebagai cara melindungi saat akan turun. Setelah menjejak tanah, ia lepaskan tanpa sempat aku berontak.
Untuk sampai ke rumahku, butuh waktu setengah jam naik angkutan umum. Meski sudah dengan berbagai cara mengusir Kak Daniel, pemuda itu bergeming. Dia bersikukuh mengantar sampai rumah.
Kumajukan bibir saat naik angkot. Ingin berteriak, percuma juga, toh dia tetap mengikuti. Mana duduknya mepet lagi.
Dan, jailnya lagi dia meminta pengamen yang baru naik untuk menyanyikan lagu cinta. Katanya untukku. ‘Kan malu dilihat semua penumpang. Mana sampai dua lagu lagi.
“Ku akan menjagamu di bangun dan tidurku, di semua mimpi dan nyataku. Ku akan menjagamu di hidup dan matiku, tak ingin, tak ingin kau ragu.”
Wajahku langsung panas saat seluruh penumpang tepuk tangan. Untung saja kami sebentar lagi tiba di tujuan.
“Selamat atas pernikahannya, ya. Semoga samawa.”
Dengan polos ibu di sampingku memberi selamat. Kak Daniel buru-buru menjawab terima kasih dan aku terpaksa melengkungkan bibir.
Akhirnya situasi memalukan ini berakhir juga. Kami tiba di jalan Angkasa, tempat dimana rumahku berada.
“Aku sampai sini aja nganterinnya, ya. Kamu gak marah, kan?” Kak Daniel menghentikan langkah beberapa meter dari rumahku.
Alhamdulillah! Hadeuh dari tadi, kek!
“Ngapain bengong. Sana masuk! Nanti ada culik, loh, atau mau aku temenin lagi?”
“Eh, enggak, kok. Duluan, ya, Kak!”
Aku segera berlari menuju gerbang rumah dengan hati seringan kapas. Terbayang interogasi ayah dan bunda kalau sampai terlihat pulang bersama laki-laki. Meski bukan inginku bersama pemuda itu di perjalanan, tetap saja merasa bersalah. Berkali-kali melafazkan istigfar memohon ampun atas kejadian itu.
Entah ilusi atau nyata, seperti ada yang memanggil. Aku tengokkan kepala ke belakang sebelum membuka pintu gerbang. Satu senyuman dan lambaian tangan langsung menghentakkan dada kiri ini.
Kak Daniel jangan gitu, dong. Aku takut ....
===
“Astagfirullah!” Kali kesekian, aku beristigfar. Hari ini begitu sulit menghapus bayangan lelaki itu. Dalam posisi apapun, dia selalu hadir. Saat duduk, ada. Berdiri, ada. Makan, ada. Sampai-sampai bunda keheranan melihatku senyum-senyum sendiri.
“Kayaknya ada yang kasmaran, nih, Yah?” Bunda menyikut tangan ayah.
“Sepertinya.” Ayah menyambut candaan istrinya.
“Siapa hayoo?”
“Bunda apaan, sih!” kubuang muka takut ketahuan grogi.
“Hati-hati, loh, Bun. Anak gadis kita udah tingkat tiga. Setahun lagi lulus. Kira-kira, ijazah dulu apa ijab sah, nih?”
Waaa! Aku berlari masuk kamar. Kalau ayah dan bunda sudah berkolaborasi menggoda, alamat tak kelar-kelar. Dari dalam kamar ini, samar terdengar tawa keduanya. Ini gara-gara Kak Daniel.
Ya, Allah, aku kok jadi gini. Cowok itu racun emang. Kenapa juga sih harus baper. Nad, jangan bilang kamu beneran suka sama dia
Argh! Tidaaak!
Ternyata liburan di rumah bukan bikin tenang. Kalau sendiri kebayang terus wajah Kak Daniel. Saat bareng orang tua malah diledek. Seperti yang terjadi di dapur sekarang
“Kok, tehnya dikasih garam?”
“Hah!”
Cepat-cepat kubuang air teh yang baru saja kubuat. Tanpa berani memandang bunda, aku keluar dari dapur.
***
“Aku udah siap!” Kupeluk tangan ayah yang sudah setia menanti sedari tadi.
Karena khawatir dikuntit Kak Daniel, aku memaksa ayah mengantar pulang. Meski terheran-heran, beliau mengabulkan juga.
Kami pergi ke Jakarta dengan memakai bis. Mobil sedang di bengkel jadi tak bisa dipakai saat ini.
Di barisan ketiga ayah memilihkan tempat untuk kami. Beliau duduk di tengah, sedang aku di pojok. Sementara bangku ujung masih kosong.
Baru saja aku akan mengeluarkan HP, seseorang menyapa kami. “Maaf, apa di sini kosong?”
“Iya kosong. Silakan!” Ayah menggeser sedikit tubuhnya agar pemuda yang sedang kupelototi bisa duduk nyaman.
***

-----


#LOVE_YOU_FISABILILLAH 12
#Repost
#NovelnyaReady
Part sebelumnya
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2908616002533605/
DANIEL
Kuhempaskan tubuh di kamar hotel di pusat kota Bogor. Meski tak semewah hotel Jakarta, tempat ini cukup nyaman juga.
Sial, sulit sekali menepis bayangan Nadia. Terlebih saat aku memeluk dan mengecup kepalanya di bis tadi. Untung saja gadis galak itu tak cepat bangun. Bisa-bisa ngamuk kalau sadar aku berlaku kurang ajar.
Itu hanya untuk melindunginya dari benturan. Salah sendiri tidur begitu pulas. Untung aku masih punya daya kendali. Kalau tidak, sudah habis kau, Sayang.
Lalu semua tentangnya sukses mengganggu waktu istirahatku.
Arg! Aku bisa gila.
Dy, jika Tuhan benar ada seperti yang kau paparkan, aku akan memohon pada-Nya agar menautkan kita dalam satu ikatan.
Sekarang aku mau tidur, Dy. Jangan ganggu terus.
**
Ojol pesanan tiba di depan hotel tempatku menginap. Motor itu melesat menuju kediaman gadis lucuku. Aku harus memantau jadwal kepulangannya supaya ada kesempatan satu bis lagi.
Dari tempat makan yang berada di depan jalan masuk perumahan ‘Griya Prasasti’ aku memantau. Sudah kuperhitungkan dia pasti kembali minggu siang atau sore sebab ada kuliah besok pagi.
Karena terlalu lama menunggu, aku pindah ke tempat makan satunya lagi. Atau pura-pura belanja di mini market.
Akhirnya pukul empat Nadia dibonceng seseorang keluar dari gerbang. Aku beserta abang ojek langsung membuntuti.
Dari jarak agak jauh dapat terlihat pria yang memboncengnya agak tua. Mungkin ayahnya.
Yaelah, Dy. Segitu takutnya sama aku sampai minta dianter segala.
Jangan sebut Daniel Edgar kalau gak bisa ngalahin Nadia. Cepat-cepat aku masuk ke bis yang mereka tumpangi. Keberuntungan sedang berpihak ternyata. Bangku sebelah mereka kosong.
Yes! Camer ngizinin duduk di sebelah mereka. Terang saja mata gadisku hampir keluar dari rangkanya. Aku membalas dengan senyuman terindah.
“Eh, Nadia, kan?”
Akting dimulai. Kupasang tampang terkejut di hadapan keduanya.
“Rupanya saling kenal,” ucap camer.
“Iya, Om, saya Daniel, temen kampus Nadia. Kebetulan ada urusan di sini.” Kuulurkan tangan pada pria yang matanya mirip Nadia. Dengan hangat, dia menyambutnya.
“Kebetulan sekali. Dunia itu sempit, ya,” timpalnya.
“Iya, Pak. Saya juga gak nyangka. Eh, mau balik ke kampus, Nad?” Drama harus tetap kumainkan demi stabilitas hati.
“Iya, Kak Daniel,” jawabnya dengan nada ditekan. Sumpah, aku pengen ngakak melihat wajah ditekuk itu.
Sebagai calon mantu, aku harus pedekate sama camer. Ternyata orangnya enak diajak ngobrol, ramah pula. Jauh sama anak gadisnya, untung suka.
Kami terlibat obrolan hangat sepanjang jalan, sudah seperti teman lama saja. Sesekali tertawa renyah bahkan tergelak. Nadia kadang kupaksa terlibat dalam keseruan perbincangan.
Dalam beberapa kesempatan, aku mencuri pandang, melemparkan senyum kemenangan pada Nadia. Terkadang dibalas dengan leletan lidah. Tentu tanpa sepengetahuan ayahnya.
Di satu jam perjalanan, ayah Nadia tak kuasa menahan kantuk sampai membuatnya tertidur. Tentu saja macan betinaku mengaum.
“Kak Daniel, ngapain sih ngikutin aku lagi?” Nadia bicara dengan suara hampir tak terdengar.
“Cuman mau mastiin, calon istri dan calon mertuaku aman terkendali.”
“Narsis!”
Duh, itu bibir udah kayak keong aja.
“Camer aku baik ternyata, gak kayak anaknya, gualak.”
“Bodo! Kak Daniel, jangan ikut ke kosku, ya. Awas aja,” ancam Nadia.
“Liat entar.” Kupejamkan mata untuk menggodanya. Entah mengapa aku merasa dia memandangi wajah ini. Penasaran juga, kubuka kelopak mata. Wajah itu langsung memerah kala pandangan kami bertemu.
“Ganteng, ya.”
Gadis itu cepat-cepat menoleh ke luar jendela. Dia mencoba menyembunyikan semu merah di wajah dan debar kencang di dada sepertinya.
Melihatnya salah tingkah begitu aku makin senang saja. Kini, aku sadar bahwa ketidakwarasan sudah tingkat akut ternyata.
Lepas dua jam, bis pun berhenti di terminal tujuan. Kami turun satu per satu. Kali ini bukan aku yang memegang tangan Nadia, tapi ayahnya.
“Bagaimana kalau kita makan dulu, Om?”
“Boleh,” jawab pria paruh baya itu.
Aku mengedip pada gadis yang hendak menolak tawaran. Kubalas delikannya dengan senyuman.
Kupanggil taksi dan memintanya mengantar sampai restoran yang searah kampus. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di sana.
Ini adalah restoran besar yang biasa aku singgahi bersama Steve. Tempat kami bertemu beberapa patner bisnis. Harga makanannya hanya terjangkau oleh kaum berduit.
Sesaat kedua orang di sampingku ragu untuk masuk ke sana. Kuanggukkan kepala untuk memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.
“Nak Daniel tingkat berapa?”
Di tengah acara makan, kami melanjutkan obrolan.
“Tingkat akhir, Om. Mau nyusun skripsi.”
“Wah, semoga lancar, ya.”
“Makasih, Om.”
“Rencana udah lulus, mau kerja di mana?”
“Mau kuliah lagi sambil usaha kecil-kecilan, Om.”
“Hebat itu! Usaha biarpun kecil yang penting halal. Apalagi laki-laki, harus sudah mempersiapkan diri untuk pernafkahan keluarga nantinya. Jangan sampai istri diberi beban mencari nafkah. Khawatir anak-anak kurang terurus. Wanita itu ‘kan sekolah pertama dan utama bagi generasi,” te lelaki paruh baya yang masih tampak gagah itu.
Kulirik sekilas gadis yang tengah asyik menikmati beef terriyakinya. Tepat saat itu, matanya pun mengarah padaku. Dapat kutangkap dia menggelengkan kepala pelan. Aku tahu maksudnya.
“Saya setuju, Om. Laki-laki harusnya memegang penuh tanggung jawab nafkah. Makanya saya dari sekarang sudah terjun di dunia usaha, meski masih kecil, Om.”
Pandanganku kembali mengarah pada Nadia. Kali ini aku yang menggeleng. Seperti biasa matanya pasti dibuka lebar.
“Wah, Nak Daniel ini siap berumah tangga rupanya. Kalau sudah punya calon, saran Om segerakan saja. Menjaga pandangan juga kehormatan, loh.”
“Sayangnya, belum ada yang mau ngangkat saya jadi menantu, Om.”
“Wah, terlalu merendah. Pasti ngantri yang mau jadi mertua Nak Daniel, udah ganteng, pinter, baik lagi.”
“Uhuk!” Spontan Nadia terbatuk. Cepat-cepat kusodorkan minum. Lelaki di sampingnya ikut khawatir. Apalagi wajah gadis cantik itu memerah.
Setelah memastikan dia baik-baik saja, kulanjutkan bicara, “Om bisa aja, tapi saya gak nolak kalau Om mau mengangkat saya jadi menantu.”
“Nembak, nih?” Kami tertawa lepas. Sementara, wajah gadisku kian memerah.

-----

#LOVE_YOU_FISABILILLAH 13
Part sebelumnya
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2912008555527683/
DANIEL
Lepas mengantar ayah dan anak itu sampai kos, aku bergegas kembali ke apartemen. Steve sudah naik darah mendapatiku tak kunjung pulang. Pasalnya pukul delapan akan ada pertemuan dengan rekan bisnis baru.
“Sorry.” Sesampainya di sana kupasang wajah tanpa merasa salah.
“Lo beneran saraf, Niel. Bela-belain gini demi gadis yang belum tentu dia bakal nerima. Rese, lo!”
“Udah, udah. Gue mandi bentar, trus kita cabut. “ Tak ingin memperpanjang masalah, langsung saja lelaki muda berparas cute itu kutinggalkan.
Tak sampai lima menit, kami sudah melesatkan motor ke tempat pertemuan. Selama perjalanan kami tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Otakku hanya diisi semua hal tentang Nadia. Aku memang sudah gak waras.
Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan, kami tiba di sebuah kafe. Tempat yang atapnya berbentuk bundar ini milik calon caleg yang memintaku menjadi tim pemenangannya. Profesi ini kugeluti saat masih bekerja pada Raymon. Mantan bosku itu tak mempermasalahkannya.
Saat memasuki ruangan yang memiliki pencahayaan baik ini hatiku tak tenang. Seperti ada yang janggal dengan kondisinya. Orang-orang yang duduk-duduk, satu per-satu pergi.
Aku dan Steve saling berpandangan. Dari tatapannya aku yakin dia pun merasakan hal sama.
“Lama tak jumpa, Edgar!“
Seseorang yang suaranya amat kukenal masuk ke dalam ruangan. Di kiri dan kanan mengiringinya lelaki-lelaki tinggi besar.
Kutahan tangan Steve agar tak bangkit dari kursinya. Meski hatiku meradang akibat diperdaya, bukan berarti harus kalap.
Lelaki berjas mentereng yang selalu membawa satu tongkat kecil itu duduk di kursi yang dipersiapkan kacungnya. Tak kulihat pemilik kafe sekaligus orang yang kemarin minta ketemuan. Rupanya ini jebakan. Brengsek!
“Apa maumu?”
Raymon mengangkat alisnya mendengar lontaran pertanyaan. Di satu sisi otakku berputar cepat untuk keluar dari tempat berbahaya ini.
“Tanganku selalu terbuka menunggumu kembali.”
Sudah kuduga, ia takkan mau melepasku begitu saja. Hanya saja tekadku sudah bulat. Lagipula nyaman juga sejak tak terikat lagi. Tak harus kucing-kucingan dengan aparat.
“Kau sudah tahu jawabannya. Aku tak bisa.”
Rautnya langsung masam. Dia mengerenyitkan dahi, lalu menggembungkan kedua pipinya.
“Kalau kau bisa lolos dari tempat ini, aku takkan mengusikmu lagi. Boys, bermainlah dengan mereka!”
Aku dan Steve langsung pasang kuda-kuda kala sadar bahaya mengancam. Raymon tak main-main kali ini. Harus bisa lolos tanpa mengorbankan tenaga juga waktu.
Apa, ya?
Otak encerku mendapat ide. Lantang kupanggil nama bos mereka.
“Jika kau melepasku, aku takkan menyerahkan video dan rekaman percakapan sepak terjangmu pada siapa pun. “
Lelaki bertongkat itu membalikkan badan. Ia melangkah agak tergesa ke arahku.
“Mau menggertakku rupanya. “
“Aku hanya tak ingin pertemanan kita berakhir buruk, itu saja. Jangan usik hidupku, maka aman. Kau bisa pegang janjiku. “
Lelaki berkumis tebal itu mengerenyitkan dahi. Ia duduk kembali di kursinya.
“Lagipula, kalau kau membunuhku sekarang. David Edgar akan mengirimmu ke neraka. Dia sudah tahu sepak terjang kita. Kau pasti kenal watak lelaki yang kusebut itu.“
Raymon menggebrak kursi yang dia duduki. Mulutnya menggembung, lalu terdengar derakan di dalam sana. Sepertinya dia sedang menyesali karena pernah memelihara anak macan.
Aku memberi kode pada Steve untuk keluar dari ruangan. Bahuku dan bahu salah satu bodyguard Raymon beradu. Sekilas kulihat tangan lelaki botak itu mengepal.
Jujur, aku pun gatal untuk melayangkan tinju dan tendangan pada lawan. Sudah lama tak menguji bela diri. Hanya saja kutahan sebab posisi tak menguntungkan. Mereka bersenjata lengkap dan jumlahnya pasti banyak.
“Lain kali detili siapa klien kita.”
Sebelum Steve melesatkan motor kutepuk pundaknya. Cukuplah sekali ini kami terperangkap dalam jebakan.
***
Hari ini akan diadakan dialog kedua perwakilan seluruh organisasi mahasiwa dengan pihak kampus. Para pejabat organisasi kampus satu pe satu datang ke aula pertemuan.
Bersama Steve aku datang mewakili organisasi. Kali ini memilih kemeja biru langit dengan celana hitam.
Kulihat gadis itu sudah duduk manis di barisan pertama bagian perempuan. Kala celotehan tentang kehadiranku keluar dari bibir beberapa mahasiswa, dia melirik sekilas. Hanya sekian detik mata kami bersitatap. Nadia kembali ngobrol dengan teman di sebelahnya.
Meski sekilas, pandangan itu mampu memacu jiwa lelakiku. Ah, Dy aku benar-benar gila karenamu.
Wakil kampus di jam yang ditentukan telah hadir semua. Ketegangan meliputi wajah. Mereka tahu siapa yang sedang dihadapi, mahasiswa-mahasisiwi terpilih, yang mungkin kelak akan menjadi para pejabat negeri ini.
Setelah membuka forum, mereka mempresentasikan agenda yang akan dibahas beserta rule yang harus dipatuhi. Pihak kampus memaparkan terkait isu radikalisme yang telah memasuki dunia kampus. Hal itu menimbulkan keresahan dan upaya pembelokan orientasi mahasiswa. Untuk itu kampus mengambil upaya preventif agar isu ini tak berkembang pesat.
“Tunjukkan pada kami keresahan yang ditimbulkan di kalangan mahasiswa berkaitan dengan gerakan yang anda tuding sebagai bibit radikal,“ ucap Salim dengan nada yang belum ada tekanan.
“Iya itu, munculnya intoleransi pada penganut beda agama. Ingin memaksakan agamanya sendiri,” jawab Leo juga dengan gaya tak menggebu.
“Bisa dispesifikasi contoh aktivitas intoleransi dan memaksakan agama sendiri?” tambah Salim
Leo menyampaikan bahwa intoleransi itu tak bisa menghargai keberagaman dan perbedaan pendapat. Selain itu juga tidak mengakui pemimpin beda agama. Tak lupa menolak orientasi sex berbeda seperti gay. Pakaian muslimah pun jadi sasaran. Menurutnya memaksakan orang Indonesia dengan baju itu terlalu berlebihan.
Kuacungkan tangan untuk memberi sanggahan. Moderator mempersilahkan.
“Saya melihat alasan yang dikemukakan terlalu dibuat-buat, picik dan diskriminatif. Fakta di lapangan, kelompok pimpinan Bung Salim tak pernah memaksakan pendapatnya. Mereka hanya mengajak pada ajarannya dengan damai tanpa ada unsur pemaksaan. Diterima silahkan, tidak, tak masalah. Organisasi saya bersebrangan dengan mereka, tak sekali pun ada perilaku diskriminasi mereka pada kami. Di luar, banyak dari kami berteman baik dengan anggota mereka meski berbeda keyakinan. Malah, ada yang jatuh cinta.” Kali ini ruangan riuh rendah dengan celotehan peserta pertemuan. Sebagian melirik pada Nadia yang tengah bersemu merah. Aku biarkan saja semua itu.
“Ketika mereka menyampaikan pemahaman terkait standar kepemimpinan yang boleh dan tidak boleh menurut ajaran yang dianut, itu sah-sah saja. Bukankah berpendapat di negeri ini tidak dilarang. Justru ketika Anda menuding orang yang menyampaikan ajaran yang dianutnya adalah radikal berarti anda menganggap ajaran itu radikal. Dengan kata lain anda telah menuding bahwa Islam itu radikal.”
Hadirin tanpa dikomando bertepuk tangan. Moderatot langsung meminta kegaduhan dihentikan.
Warsito yang duduk di samping Leo memberi sanggahan. Pria berkacamata itu mengatakan bahwa tidak menuduh Islam itu radikal. Hanya mensinyalir sebagian pemeluknya telah melakukan pemaksaan terhadap ajaran mereka. Masih menurutnya keadaan itu menimbulkan berkembangnya radikalisme yang akan mengancam persatuan bangsa.
Giliran Jev yang diberi jatah bicara. Pria berambut sebahu itu berdiri untuk menyampaikan pendapatnya.
“Saya setuju dengan pendapat Bung Daniel. Sah saja sebuah pemikiran disebarkan selama tidak menggunakan jalur kekerasan. Jika ada sekelompok orang menyatakan bahwa penyimpangan orientasi sex itu bertentangan dengan ajarannya, masalahnya di mana? Toh, itu hanya pendapat. Bagi yang tak setuju, Anda lawan saja pemikiran itu dengan pemikiran lagi. Lalu, lihat mana yang diterima manusia. Bukan malah membungkam lawan main Anda secara tidak fair, apalagi membubarkan. Itu kedunguan tingkat dewa namanya!”
Suasana debat makin panas. Pihak kampus, meski sudah tersudut dan tak punya lagi argumen, tetap saja dalam otoriterismenya.
Kini, Nadia yang berdiri. Aku, jelas tak melepaskan pandangan dari gadis bermata jeli itu.
“Dalam Islam, muslimah wajib menutup aurat dari ujung rambut ke ujung kaki kecuali wajah dan telapak tangan. Sebagai orang yang sudah paham, kami hanya berkewajiban menyampaikan dan mengajak para muslimah untuk memakai jilbab dan kerudung, tidak memaksakan. Kalau mereka menerima alhamdulillah, jika menolak itu urusan mereka dengan Allah. Dalam penyampaian tidak sedikit pun memakai pemaksaan apalagi tindakan kekerasan. Pada mereka yang belum menerima ajaran ini kami sama sekali tidak memandang rendah, intoleransi apalagi diskriminasi. Bahkan kami bergaul baik dan akrab. Lantas, di mana letak meresahkannya? Di mana letak intoleransinya?”
Lepas Nadia menyampaikan narasinya, aku kembali bicara.
“Jika setelah pemaparan yang lugas ini, Anda tetap bersikukuh pada keditaktoran jangan salahkan seandainya muncul gerakan dari semua elemen yang muak akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Bersiaplah untuk menahan gelombang ketidakpuasan itu!” Kurentangkan tangan ke kanan dan kiri, lalu mengangkatnya ke atas.
“Allahu Akbar!” Andre berdiri meneriakkan takbir, disambut peserta lain. Aku pun bergetar mendengar kalimat itu bergemuruh.
Kesempatan terakhir diberikan pada Salim untuk membacakan tuntutan mereka kepada pihak kampus. Saat pemuda itu berdiri, semua mata langsung terpasung pesona wibawanya.
Salah satu tuntutannya adalah meminta kepada pihak kampus untuk menghentikan tindakan persekusi, fitnah dan black campaign kepada organisasi LDK khususnya dan organisasi mahasiswa lain umumnya. Kami juga meminta kampus untuk berlaku adil kepada seluruh mahasiswanya.
Pertemuan selesai setelah empat jam perdebatan. Pihak kampus berjanji akan mempertimbangkan semua aspirasi mahasiswa untuk kebaikan bersama.
Para aktivis tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Meski belum pasti keputusan dan tindakan kampus selanjutnya, minimal dengan janji akan meninjau ulang aspirasi itu sudah satu langkah positif.
Salim, Andre dan Nadia tak berhenti mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak. Mereka menawarkan kepada semua untuk mengadakan diskusi keislaman rutin yang difasilitasi LDK. Tawaran tersebut disambut antusias sebab mereka menyaksikan sendiri kecerdasan dan kemuliaan aktivis organisasi Islam itu.
“Bung Daniel cocok jadi orator nih, kalau kita perlu aksi suatu saat,” puji Jev sambil menyalamiku.
“Wah kalau saya yang orasi nanti kebun binatang terabsenlah.”
Semua yang mendengar ikut tertawa. Meski tak sehaluan, kurasakan mereka tak mempermasalahkan.
“Hmm, bahkan ada yang jatuh cinta itu menarik juga.” Celotehan Ivan, ketua himpunan sastra, kembali mengundang tawa semua yang sedang duduk melingkar. Aku menjengkitkan bahu dengan melengkungkan dua sudut bibir.
“Perjuangan kita belum final. Mereka belum ikhlas akan kemenangan ini. Untuk itu, kita tetap harus waspada, tidak terkecoh dengan permainan yang akan dilempar pihak kampus.” Salim kembali menarik fokus pejabat organisasi ini ke topik pergerakan.
“Itu sudah pasti. Orang-orang bebal macam itu takkan berhenti sampai mereka menghabisi kita,” timpalku.
Kami pun bersepakat untuk selalu mengadakan pertemuan rutin satu bulan sekali untuk membahas masalah kekinian dan mencari solusinya.

-----