#LOVE_YOU_FISABILILLAH 11
Kami terlarut kembali dalam kebisuan. Aku sepertinya dia sibuk
menetralisir debar-debar halus yang menyelusup perlahan-lahan. Suara
‘krek’ gigitan keripik sesekali membuyarkan lamunan. Hingga melewati
satu jam perjalanan, kami kembali terlibat perbincangan yang sempat
terputus.
“Manusia dan alam ini merupakan kumpulan materi yang
terbentuk dengan sendirinya. Perpaduan materi dan materi akan
menghasilkan materi baru. Jadi menurutku, tak perlu Tuhan untuk
mengadakan sesuatu. Contoh, terciptanya manusia hanya butuh pertemuan
sperma dan sel telur. Materi dengan materi saja. Di mana peran Tuhan?”
tanya Kak Daniel dengan nada serius.
“Kakak ingat pelajaran
biologi sewaktu SMU tentang reproduksi manusia, tentang sperma dan sel
telur?” Sebelum menjawab, aku melempar dulu pertanyaan.
“Ingatlah. Paling suka aku pembahasan itu. Hehehe!”
“Dasar!”
“Kromosom tubuh manusia berapa hayo?”
“46.”
“Simpanse?”
“48.”
“Nah, Kakak yang mana?”
“Aku yang waaks!” Kak Daniel bergaya seperti gorila yang akan menerkamku.
“Kak Daniel, serem tau!” Jelas kagetlah. Kukerucutkan bibir.
“Kromosom manusia itu 46 berasal dari 23 kromosom sperma, dan 23
kromosom sel telur. Semuanya begitu, kan? Bisakah 45, atau 47?”
“Gak lah, yang ada nanti jadinya setengah manusia,” jawabnya.
“Siapa yang menentukan 46 itu? Kromosom itu sendirikah? Kalau kromosom
itu penentunya maka dia harus bisa mengubah sesukanya, toh dia
penciptanya. Namun, dia tak kuasa mengubah jadi 43 atau berapapun yang
diinginkan. Artinya, bukan dia yang menentukan tapi kekuatan lain diluar
dirinya. Dialah Tuhan Yang telah menciptakan kromosom manusia sebanyak
46.”
Pria bermata biru itu manggut-manggut mendengar pemaparanku.
Kulanjutkan dengan menjelaskan bahwa kumpulan materi tadi tak hanya
butuh materi lain untuk jadi materi baru. Mereka butuh aturan agar
mewujudkan materi baru. Adanya aturan membuktikan ada pembuat aturan
itu. Dialah Tuhan Sang Pencipta sekaligus Pengatur alam semesta.
Lelaki tegap itu mengarahkan pandangan searah kursi di depannya. Mungkin
ia mencoba mencerna satu-persatu rangkaian penjelasan.
Untuk
lebih menguatkan pemahaman, kutambahkan contoh. Air dengan bantuan suhu
tertentu bisa menjadi es, juga bisa mendidih, bahkan jadi uap. Hanya
saja untuk menjadi es, suhunya harus nol derajat. Untuk mendidih harus
100 derajat. Kalau tidak sampai pada batas itu, maka tak akan terjadi
perubahannya.
Artinya untuk menjadi es atau uap air tak hanya
butuh suhu, tapi perlu takaran suhu tertentu yang dipaksakan atas
dirinya. Takaran itu adalah aturan yang tak bisa diubah oleh dirinya.
Siapa yang menciptakan ketentuan tersebut? Tentu saja Tuhan Pencipta
air, suhu dan menetapkan segala kadar, batas tertentu atas ciptaannya.
Terakhir kukatakan bahwa akal manusia akan lebih mudah memahami
keberadaan Pencipta daripada mengingkarinya. Jiwa pun lebih tenang saat
meyakini daripada menolaknya.
Di dua jam perjalanan, bis sampai
tujuan. Penumpang tak sabar untuk segera keluar dari benda yang membuat
tubuh kaku. Kak Daniel menarik tanganku sebagai cara melindungi saat
akan turun. Setelah menjejak tanah, ia lepaskan tanpa sempat aku
berontak.
Untuk sampai ke rumahku, butuh waktu setengah jam naik
angkutan umum. Meski sudah dengan berbagai cara mengusir Kak Daniel,
pemuda itu bergeming. Dia bersikukuh mengantar sampai rumah.
Kumajukan bibir saat naik angkot. Ingin berteriak, percuma juga, toh dia tetap mengikuti. Mana duduknya mepet lagi.
Dan, jailnya lagi dia meminta pengamen yang baru naik untuk menyanyikan
lagu cinta. Katanya untukku. ‘Kan malu dilihat semua penumpang. Mana
sampai dua lagu lagi.
“Ku akan menjagamu di bangun dan tidurku,
di semua mimpi dan nyataku. Ku akan menjagamu di hidup dan matiku, tak
ingin, tak ingin kau ragu.”
Wajahku langsung panas saat seluruh penumpang tepuk tangan. Untung saja kami sebentar lagi tiba di tujuan.
“Selamat atas pernikahannya, ya. Semoga samawa.”
Dengan polos ibu di sampingku memberi selamat. Kak Daniel buru-buru
menjawab terima kasih dan aku terpaksa melengkungkan bibir.
Akhirnya situasi memalukan ini berakhir juga. Kami tiba di jalan Angkasa, tempat dimana rumahku berada.
“Aku sampai sini aja nganterinnya, ya. Kamu gak marah, kan?” Kak Daniel menghentikan langkah beberapa meter dari rumahku.
Alhamdulillah! Hadeuh dari tadi, kek!
“Ngapain bengong. Sana masuk! Nanti ada culik, loh, atau mau aku temenin lagi?”
“Eh, enggak, kok. Duluan, ya, Kak!”
Aku segera berlari menuju gerbang rumah dengan hati seringan kapas.
Terbayang interogasi ayah dan bunda kalau sampai terlihat pulang bersama
laki-laki. Meski bukan inginku bersama pemuda itu di perjalanan, tetap
saja merasa bersalah. Berkali-kali melafazkan istigfar memohon ampun
atas kejadian itu.
Entah ilusi atau nyata, seperti ada yang
memanggil. Aku tengokkan kepala ke belakang sebelum membuka pintu
gerbang. Satu senyuman dan lambaian tangan langsung menghentakkan dada
kiri ini.
Kak Daniel jangan gitu, dong. Aku takut ....
===
“Astagfirullah!” Kali kesekian, aku beristigfar. Hari ini begitu sulit
menghapus bayangan lelaki itu. Dalam posisi apapun, dia selalu hadir.
Saat duduk, ada. Berdiri, ada. Makan, ada. Sampai-sampai bunda keheranan
melihatku senyum-senyum sendiri.
“Kayaknya ada yang kasmaran, nih, Yah?” Bunda menyikut tangan ayah.
“Sepertinya.” Ayah menyambut candaan istrinya.
“Siapa hayoo?”
“Bunda apaan, sih!” kubuang muka takut ketahuan grogi.
“Hati-hati, loh, Bun. Anak gadis kita udah tingkat tiga. Setahun lagi lulus. Kira-kira, ijazah dulu apa ijab sah, nih?”
Waaa! Aku berlari masuk kamar. Kalau ayah dan bunda sudah berkolaborasi
menggoda, alamat tak kelar-kelar. Dari dalam kamar ini, samar terdengar
tawa keduanya. Ini gara-gara Kak Daniel.
Ya, Allah, aku kok jadi gini. Cowok itu racun emang. Kenapa juga sih harus baper. Nad, jangan bilang kamu beneran suka sama dia
Argh! Tidaaak!
Ternyata liburan di rumah bukan bikin tenang. Kalau sendiri kebayang
terus wajah Kak Daniel. Saat bareng orang tua malah diledek. Seperti
yang terjadi di dapur sekarang
“Kok, tehnya dikasih garam?”
“Hah!”
Cepat-cepat kubuang air teh yang baru saja kubuat. Tanpa berani memandang bunda, aku keluar dari dapur.
***
“Aku udah siap!” Kupeluk tangan ayah yang sudah setia menanti sedari tadi.
Karena khawatir dikuntit Kak Daniel, aku memaksa ayah mengantar pulang. Meski terheran-heran, beliau mengabulkan juga.
Kami pergi ke Jakarta dengan memakai bis. Mobil sedang di bengkel jadi tak bisa dipakai saat ini.
Di barisan ketiga ayah memilihkan tempat untuk kami. Beliau duduk di
tengah, sedang aku di pojok. Sementara bangku ujung masih kosong.
Baru saja aku akan mengeluarkan HP, seseorang menyapa kami. “Maaf, apa di sini kosong?”
“Iya kosong. Silakan!” Ayah menggeser sedikit tubuhnya agar pemuda yang sedang kupelototi bisa duduk nyaman.
***
-----
#LOVE_YOU_FISABILILLAH 12
#Repost
#NovelnyaReady
Part sebelumnya
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2908616002533605/
DANIEL
Kuhempaskan tubuh di kamar hotel di pusat kota Bogor. Meski tak semewah hotel Jakarta, tempat ini cukup nyaman juga.
Sial, sulit sekali menepis bayangan Nadia. Terlebih saat aku memeluk
dan mengecup kepalanya di bis tadi. Untung saja gadis galak itu tak
cepat bangun. Bisa-bisa ngamuk kalau sadar aku berlaku kurang ajar.
Itu hanya untuk melindunginya dari benturan. Salah sendiri tidur begitu
pulas. Untung aku masih punya daya kendali. Kalau tidak, sudah habis
kau, Sayang.
Lalu semua tentangnya sukses mengganggu waktu istirahatku.
Arg! Aku bisa gila.
Dy, jika Tuhan benar ada seperti yang kau paparkan, aku akan memohon pada-Nya agar menautkan kita dalam satu ikatan.
Sekarang aku mau tidur, Dy. Jangan ganggu terus.
**
Ojol pesanan tiba di depan hotel tempatku menginap. Motor itu melesat
menuju kediaman gadis lucuku. Aku harus memantau jadwal kepulangannya
supaya ada kesempatan satu bis lagi.
Dari tempat makan yang
berada di depan jalan masuk perumahan ‘Griya Prasasti’ aku memantau.
Sudah kuperhitungkan dia pasti kembali minggu siang atau sore sebab ada
kuliah besok pagi.
Karena terlalu lama menunggu, aku pindah ke tempat makan satunya lagi. Atau pura-pura belanja di mini market.
Akhirnya pukul empat Nadia dibonceng seseorang keluar dari gerbang. Aku beserta abang ojek langsung membuntuti.
Dari jarak agak jauh dapat terlihat pria yang memboncengnya agak tua. Mungkin ayahnya.
Yaelah, Dy. Segitu takutnya sama aku sampai minta dianter segala.
Jangan sebut Daniel Edgar kalau gak bisa ngalahin Nadia. Cepat-cepat
aku masuk ke bis yang mereka tumpangi. Keberuntungan sedang berpihak
ternyata. Bangku sebelah mereka kosong.
Yes! Camer ngizinin
duduk di sebelah mereka. Terang saja mata gadisku hampir keluar dari
rangkanya. Aku membalas dengan senyuman terindah.
“Eh, Nadia, kan?”
Akting dimulai. Kupasang tampang terkejut di hadapan keduanya.
“Rupanya saling kenal,” ucap camer.
“Iya, Om, saya Daniel, temen kampus Nadia. Kebetulan ada urusan di
sini.” Kuulurkan tangan pada pria yang matanya mirip Nadia. Dengan
hangat, dia menyambutnya.
“Kebetulan sekali. Dunia itu sempit, ya,” timpalnya.
“Iya, Pak. Saya juga gak nyangka. Eh, mau balik ke kampus, Nad?” Drama harus tetap kumainkan demi stabilitas hati.
“Iya, Kak Daniel,” jawabnya dengan nada ditekan. Sumpah, aku pengen ngakak melihat wajah ditekuk itu.
Sebagai calon mantu, aku harus pedekate sama camer. Ternyata orangnya
enak diajak ngobrol, ramah pula. Jauh sama anak gadisnya, untung suka.
Kami terlibat obrolan hangat sepanjang jalan, sudah seperti teman lama
saja. Sesekali tertawa renyah bahkan tergelak. Nadia kadang kupaksa
terlibat dalam keseruan perbincangan.
Dalam beberapa kesempatan,
aku mencuri pandang, melemparkan senyum kemenangan pada Nadia.
Terkadang dibalas dengan leletan lidah. Tentu tanpa sepengetahuan
ayahnya.
Di satu jam perjalanan, ayah Nadia tak kuasa menahan kantuk sampai membuatnya tertidur. Tentu saja macan betinaku mengaum.
“Kak Daniel, ngapain sih ngikutin aku lagi?” Nadia bicara dengan suara hampir tak terdengar.
“Cuman mau mastiin, calon istri dan calon mertuaku aman terkendali.”
“Narsis!”
Duh, itu bibir udah kayak keong aja.
“Camer aku baik ternyata, gak kayak anaknya, gualak.”
“Bodo! Kak Daniel, jangan ikut ke kosku, ya. Awas aja,” ancam Nadia.
“Liat entar.” Kupejamkan mata untuk menggodanya. Entah mengapa aku
merasa dia memandangi wajah ini. Penasaran juga, kubuka kelopak mata.
Wajah itu langsung memerah kala pandangan kami bertemu.
“Ganteng, ya.”
Gadis itu cepat-cepat menoleh ke luar jendela. Dia mencoba
menyembunyikan semu merah di wajah dan debar kencang di dada sepertinya.
Melihatnya salah tingkah begitu aku makin senang saja. Kini, aku sadar bahwa ketidakwarasan sudah tingkat akut ternyata.
Lepas dua jam, bis pun berhenti di terminal tujuan. Kami turun satu per
satu. Kali ini bukan aku yang memegang tangan Nadia, tapi ayahnya.
“Bagaimana kalau kita makan dulu, Om?”
“Boleh,” jawab pria paruh baya itu.
Aku mengedip pada gadis yang hendak menolak tawaran. Kubalas delikannya dengan senyuman.
Kupanggil taksi dan memintanya mengantar sampai restoran yang searah
kampus. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di sana.
Ini adalah restoran besar yang biasa aku singgahi bersama Steve. Tempat
kami bertemu beberapa patner bisnis. Harga makanannya hanya terjangkau
oleh kaum berduit.
Sesaat kedua orang di sampingku ragu untuk masuk ke sana. Kuanggukkan kepala untuk memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.
“Nak Daniel tingkat berapa?”
Di tengah acara makan, kami melanjutkan obrolan.
“Tingkat akhir, Om. Mau nyusun skripsi.”
“Wah, semoga lancar, ya.”
“Makasih, Om.”
“Rencana udah lulus, mau kerja di mana?”
“Mau kuliah lagi sambil usaha kecil-kecilan, Om.”
“Hebat itu! Usaha biarpun kecil yang penting halal. Apalagi laki-laki,
harus sudah mempersiapkan diri untuk pernafkahan keluarga nantinya.
Jangan sampai istri diberi beban mencari nafkah. Khawatir anak-anak
kurang terurus. Wanita itu ‘kan sekolah pertama dan utama bagi
generasi,” te lelaki paruh baya yang masih tampak gagah itu.
Kulirik sekilas gadis yang tengah asyik menikmati beef terriyakinya.
Tepat saat itu, matanya pun mengarah padaku. Dapat kutangkap dia
menggelengkan kepala pelan. Aku tahu maksudnya.
“Saya setuju,
Om. Laki-laki harusnya memegang penuh tanggung jawab nafkah. Makanya
saya dari sekarang sudah terjun di dunia usaha, meski masih kecil, Om.”
Pandanganku kembali mengarah pada Nadia. Kali ini aku yang menggeleng. Seperti biasa matanya pasti dibuka lebar.
“Wah, Nak Daniel ini siap berumah tangga rupanya. Kalau sudah punya
calon, saran Om segerakan saja. Menjaga pandangan juga kehormatan, loh.”
“Sayangnya, belum ada yang mau ngangkat saya jadi menantu, Om.”
“Wah, terlalu merendah. Pasti ngantri yang mau jadi mertua Nak Daniel, udah ganteng, pinter, baik lagi.”
“Uhuk!” Spontan Nadia terbatuk. Cepat-cepat kusodorkan minum. Lelaki di
sampingnya ikut khawatir. Apalagi wajah gadis cantik itu memerah.
Setelah memastikan dia baik-baik saja, kulanjutkan bicara, “Om bisa
aja, tapi saya gak nolak kalau Om mau mengangkat saya jadi menantu.”
“Nembak, nih?” Kami tertawa lepas. Sementara, wajah gadisku kian memerah.
-----
#LOVE_YOU_FISABILILLAH 13
Part sebelumnya
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/2912008555527683/
DANIEL
Lepas mengantar ayah dan anak itu sampai kos, aku bergegas kembali ke
apartemen. Steve sudah naik darah mendapatiku tak kunjung pulang.
Pasalnya pukul delapan akan ada pertemuan dengan rekan bisnis baru.
“Sorry.” Sesampainya di sana kupasang wajah tanpa merasa salah.
“Lo beneran saraf, Niel. Bela-belain gini demi gadis yang belum tentu dia bakal nerima. Rese, lo!”
“Udah, udah. Gue mandi bentar, trus kita cabut. “ Tak ingin
memperpanjang masalah, langsung saja lelaki muda berparas cute itu
kutinggalkan.
Tak sampai lima menit, kami sudah melesatkan motor
ke tempat pertemuan. Selama perjalanan kami tak ada yang mengeluarkan
sepatah kata pun. Otakku hanya diisi semua hal tentang Nadia. Aku memang
sudah gak waras.
Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan,
kami tiba di sebuah kafe. Tempat yang atapnya berbentuk bundar ini milik
calon caleg yang memintaku menjadi tim pemenangannya. Profesi ini
kugeluti saat masih bekerja pada Raymon. Mantan bosku itu tak
mempermasalahkannya.
Saat memasuki ruangan yang memiliki
pencahayaan baik ini hatiku tak tenang. Seperti ada yang janggal dengan
kondisinya. Orang-orang yang duduk-duduk, satu per-satu pergi.
Aku dan Steve saling berpandangan. Dari tatapannya aku yakin dia pun merasakan hal sama.
“Lama tak jumpa, Edgar!“
Seseorang yang suaranya amat kukenal masuk ke dalam ruangan. Di kiri dan kanan mengiringinya lelaki-lelaki tinggi besar.
Kutahan tangan Steve agar tak bangkit dari kursinya. Meski hatiku meradang akibat diperdaya, bukan berarti harus kalap.
Lelaki berjas mentereng yang selalu membawa satu tongkat kecil itu
duduk di kursi yang dipersiapkan kacungnya. Tak kulihat pemilik kafe
sekaligus orang yang kemarin minta ketemuan. Rupanya ini jebakan.
Brengsek!
“Apa maumu?”
Raymon mengangkat alisnya
mendengar lontaran pertanyaan. Di satu sisi otakku berputar cepat untuk
keluar dari tempat berbahaya ini.
“Tanganku selalu terbuka menunggumu kembali.”
Sudah kuduga, ia takkan mau melepasku begitu saja. Hanya saja tekadku
sudah bulat. Lagipula nyaman juga sejak tak terikat lagi. Tak harus
kucing-kucingan dengan aparat.
“Kau sudah tahu jawabannya. Aku tak bisa.”
Rautnya langsung masam. Dia mengerenyitkan dahi, lalu menggembungkan kedua pipinya.
“Kalau kau bisa lolos dari tempat ini, aku takkan mengusikmu lagi. Boys, bermainlah dengan mereka!”
Aku dan Steve langsung pasang kuda-kuda kala sadar bahaya mengancam.
Raymon tak main-main kali ini. Harus bisa lolos tanpa mengorbankan
tenaga juga waktu.
Apa, ya?
Otak encerku mendapat ide. Lantang kupanggil nama bos mereka.
“Jika kau melepasku, aku takkan menyerahkan video dan rekaman percakapan sepak terjangmu pada siapa pun. “
Lelaki bertongkat itu membalikkan badan. Ia melangkah agak tergesa ke arahku.
“Mau menggertakku rupanya. “
“Aku hanya tak ingin pertemanan kita berakhir buruk, itu saja. Jangan usik hidupku, maka aman. Kau bisa pegang janjiku. “
Lelaki berkumis tebal itu mengerenyitkan dahi. Ia duduk kembali di kursinya.
“Lagipula, kalau kau membunuhku sekarang. David Edgar akan mengirimmu
ke neraka. Dia sudah tahu sepak terjang kita. Kau pasti kenal watak
lelaki yang kusebut itu.“
Raymon menggebrak kursi yang dia
duduki. Mulutnya menggembung, lalu terdengar derakan di dalam sana.
Sepertinya dia sedang menyesali karena pernah memelihara anak macan.
Aku memberi kode pada Steve untuk keluar dari ruangan. Bahuku dan bahu
salah satu bodyguard Raymon beradu. Sekilas kulihat tangan lelaki botak
itu mengepal.
Jujur, aku pun gatal untuk melayangkan tinju dan
tendangan pada lawan. Sudah lama tak menguji bela diri. Hanya saja
kutahan sebab posisi tak menguntungkan. Mereka bersenjata lengkap dan
jumlahnya pasti banyak.
“Lain kali detili siapa klien kita.”
Sebelum Steve melesatkan motor kutepuk pundaknya. Cukuplah sekali ini kami terperangkap dalam jebakan.
***
Hari ini akan diadakan dialog kedua perwakilan seluruh organisasi
mahasiwa dengan pihak kampus. Para pejabat organisasi kampus satu pe
satu datang ke aula pertemuan.
Bersama Steve aku datang mewakili organisasi. Kali ini memilih kemeja biru langit dengan celana hitam.
Kulihat gadis itu sudah duduk manis di barisan pertama bagian
perempuan. Kala celotehan tentang kehadiranku keluar dari bibir beberapa
mahasiswa, dia melirik sekilas. Hanya sekian detik mata kami
bersitatap. Nadia kembali ngobrol dengan teman di sebelahnya.
Meski sekilas, pandangan itu mampu memacu jiwa lelakiku. Ah, Dy aku benar-benar gila karenamu.
Wakil kampus di jam yang ditentukan telah hadir semua. Ketegangan
meliputi wajah. Mereka tahu siapa yang sedang dihadapi,
mahasiswa-mahasisiwi terpilih, yang mungkin kelak akan menjadi para
pejabat negeri ini.
Setelah membuka forum, mereka
mempresentasikan agenda yang akan dibahas beserta rule yang harus
dipatuhi. Pihak kampus memaparkan terkait isu radikalisme yang telah
memasuki dunia kampus. Hal itu menimbulkan keresahan dan upaya
pembelokan orientasi mahasiswa. Untuk itu kampus mengambil upaya
preventif agar isu ini tak berkembang pesat.
“Tunjukkan pada
kami keresahan yang ditimbulkan di kalangan mahasiswa berkaitan dengan
gerakan yang anda tuding sebagai bibit radikal,“ ucap Salim dengan nada
yang belum ada tekanan.
“Iya itu, munculnya intoleransi pada
penganut beda agama. Ingin memaksakan agamanya sendiri,” jawab Leo juga
dengan gaya tak menggebu.
“Bisa dispesifikasi contoh aktivitas intoleransi dan memaksakan agama sendiri?” tambah Salim
Leo menyampaikan bahwa intoleransi itu tak bisa menghargai keberagaman
dan perbedaan pendapat. Selain itu juga tidak mengakui pemimpin beda
agama. Tak lupa menolak orientasi sex berbeda seperti gay. Pakaian
muslimah pun jadi sasaran. Menurutnya memaksakan orang Indonesia dengan
baju itu terlalu berlebihan.
Kuacungkan tangan untuk memberi sanggahan. Moderator mempersilahkan.
“Saya melihat alasan yang dikemukakan terlalu dibuat-buat, picik dan
diskriminatif. Fakta di lapangan, kelompok pimpinan Bung Salim tak
pernah memaksakan pendapatnya. Mereka hanya mengajak pada ajarannya
dengan damai tanpa ada unsur pemaksaan. Diterima silahkan, tidak, tak
masalah. Organisasi saya bersebrangan dengan mereka, tak sekali pun ada
perilaku diskriminasi mereka pada kami. Di luar, banyak dari kami
berteman baik dengan anggota mereka meski berbeda keyakinan. Malah, ada
yang jatuh cinta.” Kali ini ruangan riuh rendah dengan celotehan peserta
pertemuan. Sebagian melirik pada Nadia yang tengah bersemu merah. Aku
biarkan saja semua itu.
“Ketika mereka menyampaikan pemahaman
terkait standar kepemimpinan yang boleh dan tidak boleh menurut ajaran
yang dianut, itu sah-sah saja. Bukankah berpendapat di negeri ini tidak
dilarang. Justru ketika Anda menuding orang yang menyampaikan ajaran
yang dianutnya adalah radikal berarti anda menganggap ajaran itu
radikal. Dengan kata lain anda telah menuding bahwa Islam itu radikal.”
Hadirin tanpa dikomando bertepuk tangan. Moderatot langsung meminta kegaduhan dihentikan.
Warsito yang duduk di samping Leo memberi sanggahan. Pria berkacamata
itu mengatakan bahwa tidak menuduh Islam itu radikal. Hanya mensinyalir
sebagian pemeluknya telah melakukan pemaksaan terhadap ajaran mereka.
Masih menurutnya keadaan itu menimbulkan berkembangnya radikalisme yang
akan mengancam persatuan bangsa.
Giliran Jev yang diberi jatah bicara. Pria berambut sebahu itu berdiri untuk menyampaikan pendapatnya.
“Saya setuju dengan pendapat Bung Daniel. Sah saja sebuah pemikiran
disebarkan selama tidak menggunakan jalur kekerasan. Jika ada sekelompok
orang menyatakan bahwa penyimpangan orientasi sex itu bertentangan
dengan ajarannya, masalahnya di mana? Toh, itu hanya pendapat. Bagi yang
tak setuju, Anda lawan saja pemikiran itu dengan pemikiran lagi. Lalu,
lihat mana yang diterima manusia. Bukan malah membungkam lawan main Anda
secara tidak fair, apalagi membubarkan. Itu kedunguan tingkat dewa
namanya!”
Suasana debat makin panas. Pihak kampus, meski sudah tersudut dan tak punya lagi argumen, tetap saja dalam otoriterismenya.
Kini, Nadia yang berdiri. Aku, jelas tak melepaskan pandangan dari gadis bermata jeli itu.
“Dalam Islam, muslimah wajib menutup aurat dari ujung rambut ke ujung
kaki kecuali wajah dan telapak tangan. Sebagai orang yang sudah paham,
kami hanya berkewajiban menyampaikan dan mengajak para muslimah untuk
memakai jilbab dan kerudung, tidak memaksakan. Kalau mereka menerima
alhamdulillah, jika menolak itu urusan mereka dengan Allah. Dalam
penyampaian tidak sedikit pun memakai pemaksaan apalagi tindakan
kekerasan. Pada mereka yang belum menerima ajaran ini kami sama sekali
tidak memandang rendah, intoleransi apalagi diskriminasi. Bahkan kami
bergaul baik dan akrab. Lantas, di mana letak meresahkannya? Di mana
letak intoleransinya?”
Lepas Nadia menyampaikan narasinya, aku kembali bicara.
“Jika setelah pemaparan yang lugas ini, Anda tetap bersikukuh pada
keditaktoran jangan salahkan seandainya muncul gerakan dari semua elemen
yang muak akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Bersiaplah untuk
menahan gelombang ketidakpuasan itu!” Kurentangkan tangan ke kanan dan
kiri, lalu mengangkatnya ke atas.
“Allahu Akbar!” Andre berdiri meneriakkan takbir, disambut peserta lain. Aku pun bergetar mendengar kalimat itu bergemuruh.
Kesempatan terakhir diberikan pada Salim untuk membacakan tuntutan
mereka kepada pihak kampus. Saat pemuda itu berdiri, semua mata langsung
terpasung pesona wibawanya.
Salah satu tuntutannya adalah
meminta kepada pihak kampus untuk menghentikan tindakan persekusi,
fitnah dan black campaign kepada organisasi LDK khususnya dan organisasi
mahasiswa lain umumnya. Kami juga meminta kampus untuk berlaku adil
kepada seluruh mahasiswanya.
Pertemuan selesai setelah empat jam
perdebatan. Pihak kampus berjanji akan mempertimbangkan semua aspirasi
mahasiswa untuk kebaikan bersama.
Para aktivis tak bisa
menyembunyikan kebahagiaannya. Meski belum pasti keputusan dan tindakan
kampus selanjutnya, minimal dengan janji akan meninjau ulang aspirasi
itu sudah satu langkah positif.
Salim, Andre dan Nadia tak
berhenti mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak. Mereka
menawarkan kepada semua untuk mengadakan diskusi keislaman rutin yang
difasilitasi LDK. Tawaran tersebut disambut antusias sebab mereka
menyaksikan sendiri kecerdasan dan kemuliaan aktivis organisasi Islam
itu.
“Bung Daniel cocok jadi orator nih, kalau kita perlu aksi suatu saat,” puji Jev sambil menyalamiku.
“Wah kalau saya yang orasi nanti kebun binatang terabsenlah.”
Semua yang mendengar ikut tertawa. Meski tak sehaluan, kurasakan mereka tak mempermasalahkan.
“Hmm, bahkan ada yang jatuh cinta itu menarik juga.” Celotehan Ivan,
ketua himpunan sastra, kembali mengundang tawa semua yang sedang duduk
melingkar. Aku menjengkitkan bahu dengan melengkungkan dua sudut bibir.
“Perjuangan kita belum final. Mereka belum ikhlas akan kemenangan ini.
Untuk itu, kita tetap harus waspada, tidak terkecoh dengan permainan
yang akan dilempar pihak kampus.” Salim kembali menarik fokus pejabat
organisasi ini ke topik pergerakan.
“Itu sudah pasti. Orang-orang bebal macam itu takkan berhenti sampai mereka menghabisi kita,” timpalku.
Kami pun bersepakat untuk selalu mengadakan pertemuan rutin satu bulan
sekali untuk membahas masalah kekinian dan mencari solusinya.
-----